Kamis, 02 Juni 2011

Sang Kala dalam Isra' Mi'raj

Refleksi Hikmah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad

(11 Agustus 2007)

Sang Kala dalam Isra’ Mi’raj
Oleh Abdul Haris Booegies

     Selama 63 tahun kehidupan Nabi Muhammad, tertera dua mukjizatnya yang teramat monumental dan fenomenal. Kedua mukjizat itu yakni al-Quran serta Isra’ Mi’raj.
     Al-Quran merupakan setumpuk undang-undang hakiki yang bercerita tentang zaman lampau, masa kini dan era mendatang. Sedangkan Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan mengarungi kosmos yang berlangsung sekitar sembilan jam. Walau durasinya singkat nian, namun, efeknya terasa sampai sekarang. Sebab, dari Isra’ Mi’raj muncul perintah shalat.
     Di masa kini, Isra’ Mi’raj acap dianggap mitos relijius. Karena, akal tak mampu mencernanya. Syahdan, banyak yang tidak yakin seratus persen dengan Isra’ Mi’raj. Ketidakpercayaan orang terhadap epos epik Isra’ Mi’raj lantaran perjalanan maraton rute Bumi-Mars pergi pulang menghabiskan waktu sekitar tiga tahun. Alhasil, untuk sampai di batas galaksi, butuh waktu ratusan tahun. Kalau galaksi menghabiskan beratus tahun, berarti ribuan tahun diperlukankan agar tiba di pinggir langit.
     Fase yang sangat rumit dikalkulasi akal tersebut, yang membuat penduduk dunia takjub dengan Isra’ Mi’raj. Apalagi, orang yang menembus angkasa akan mengalami beberapa gangguan fisik. Tulang-tulang, misalnya, mengecil secara permanen. Kemudian irama jantung berubah. Zat kimia dalam darah juga menjadi kacau. Selain itu, keseimbangan tubuh terusik. Bahkan, sistem kekebalan badan melemah.
     Beban fisik yang rata-rata menimpa astronot ialah mual, stres, takut dan telapak tangan berkeringat dingin. Di samping itu, kandungan kalsium menurun. Sementara nitrogen serta fosfor dalam urine meningkat 10 sampai 30 persen. Aspek tersebut terjadi akibat jasad berada dalam keadaan gravitasi nol (tanpa bobot).
     Sebagian ulama dan cendekiawan muslim menilai bila Rasulullah tidak secara ragawi ke langit. Isra’ Mi’raj cuma mengangkat roh Nabi Muhammad melanglang kosmos sampai tiba di Arasy Rahman (Tahta Suci Mulia milik Allah yang teramat besar).
     Jika pikiran kuno itu dianut, berarti sains serta teknologi tidak seyogyanya dikorelasikan dengan Isra’ Mi’raj. Padahal, insan planet bumi selalu merangkai ilmu demi kemudahan hidup sejak zaman dinosaurus sampai era predator.

Konsep Waktu

     Episode Isra’ Mi’raj kental dengan urusan waktu. Sedangkan prasasti agamis tidak mencantumkan secara jelas kapan sang kala mulai berdetak sebagai awal tempo.
     Ketika langit dan bumi belum diciptakan, maka, Tuhan bersemayam di ghamam (awan). Sebagian ulama mengartikan ghamam sebagai kabut. Di masa tersebut, udara serta air telah terbentuk. Di tengah keheningan jagat raya, Allah lantas menciptakan Qalam (tetes pengetahuan) yang terbuat dari cahaya. Lalu menciptakan Lauh Mahfuzh (lembaran segala informasi semesta). Sesudah itu, Arasy diciptakan. Singgasana Penguasa Tunggal Sejagat tersebut, kemudian mengapung di atas air.
     Kronologi purba itu memperlihatkan bahwa waktu telah muncul saat Qalam diciptakan. Sebab, Qalam merupakan kumpulan data. Seluruh perkara yang terjadi pasti tersimpan dalam Lauh Mahfuzh.
Peristiwa tersebut menegaskan kalau Qalam dan Lauh Mahfuzh terkena waktu. Karena, benda sakti itu menduduki ruang. Semua yang menempati ruang tentu terlibat dalam konsep sang kala. Sebab, waktu adalah konstruksi mutlak sekaligus menjadi sifat jagat raya.
     Ketika langit diciptakan sekitar 13,7 miliar tahun yang silam, maka, Arasy dipindahkan ke pucuk langit ketujuh. Sejak itu, persoalan waktu menjadi bagian krusial. Para resi sains modern lantas mendefinisikan waktu dalam aneka teori. Hingga, terjalin kehidupan yang energik dari segi visi, aspirasi, estetika, harmonisasi, orisinalitas, feng shui dan filosofi.
     Informasi paling otentik lalu menandaskan bahwa 50 ribu tahun di bumi setara 24 jam di sisi Allah. “Malaikat-malaikat bersama Jibril menghadap Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (al-Ma’arij: 4).

Mukmin Milenium

     Isra’ Mi’raj sebetulnya menawarkan kepada manusia saripati waktu. Inti Isra’ Mi’raj yaitu nihilisme waktu. Perjalanan yang mutlak ditempuh 50 ribu tahun, ternyata hanya butuh tempo secuil bagi Rasulullah.
     Fenomena yang dialami Nabi Muhammad, sekarang jamak terjadi. Bermiliar manusia sudah mempraktikkan Mi’raj dalam kehidupan sehari-hari. Hingga, percik cahaya Ilahi tumbuh pesat dalam tubuh komunitas mukmin.
     Tiap umat Islam yang berakal dan bertakwa, minimal lima kali beranjangsana ke Arasy. Kendaraan yang dipakai bukan Buraq, tetapi, komunikasi nirkabel antar-langit berupa sembahyang.
Dengan shalat, maka, batas kosmos enteng dilewati. Tak ada konsep waktu yang bisa menghalangi orang guna menghadap Sang Khaliq lewat sujud khusyuk yang khidmat.
Isra’ Mi’raj merupakan berkah tak terkira. Karena, keistimewaannya kini dinikmati segenap kaum Muslim. Sisi tersebut menunjukkan bahwa sembahyang yang diterima langsung Rasulullah dari Tuhan, merupakan simbol utama umat Islam. Apalagi, inti Islam tiada lain sujud tanpa syarat sebagai hamba kepada Sang Khaliq.
Waktu dalam Isra’ Mi’raj dipendekkan dari 50 ribu tahun menjadi kira-kira sembilan jam. Struktur itu memaparkan bahwa durasi waktu yang secuil bisa setara dengan kumpulan dasawarsa dalam mengejar kebaikan.
     Usia Nabi Muhammad cuma 63 tahun. Biarpun hanya enam dekade, namun, ia sanggup memimpin penduduk jazirah Arab untuk taat kepada The Creator of All Things. Bahkan, bukan hanya orang Arab. Sebab, aneka rumpun ikut menyembah satu Tuhan yang tak pernah beranak-pinak. Sementara umur Nabi Nuh mencapai 950 tahun. Dengan usia yang sangat panjang, Nuh Alaihissalam justru cuma didengar oleh segelintir manusia. Anaknya sendiri malahan tak mampu disadarkan.
      Kan’an, putra Nabi Nuh, akhirnya terhempas oleh amuk gelombang tsunami pertama pada tahun 3393 sebelum Masehi. Kan’an memperpanjang daftar dosanya dengan mengingkari Allah seraya mendustakan petuah sang ayah. Sebab, God spot (titik Tuhan) di batok kepalanya mengalami the lowest point (titik terendah). Hatta, sang anak susah menerima seruan sejati lewat getaran nuraninya.
     Deretan sang kala nan panjang bukan jaminan buat mencapai kebaikan. Beberapa detik setelah tertimpa apel, mendadak Sir Isaac Newton (1642-1727) melahirkan kaidah ilmiah hukum gaya berat universal.
     “Eureka! Eureka! Eureka!” (I found the answer!), pekik Archimedes (287-212 sebelum Masehi). Ia langsung mengetahui berat per volume unit sebuah mahkota seorang raja sesudah dicelupkan ke bak air.
     Newton bersama Archimedes tak perlu banyak waktu untuk melahirkan teori bagi kemaslahatan bersama. Isra’ Mi’raj pun tidak butuh rentang waktu ribuan tahun untuk sampai di Arasy. Alhasil, umat Islam tak perlu umur panjang untuk menjadi muslim sempurna. Karena, predikat insan kamil efektif digapai tanpa tempo yang bershaf-shaf.
     Menghargai waktu dengan ikhtiar gigih serta sifat tunduk di hadapan Tuhan merupakan tangga menuju zona mukmin milenium yang diridai Allah. Sebab: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” (al-Ashr: 1-3).

(Tribun Timur, 11 Agustus 2007)











 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People