Sabtu, 25 Juni 2022

Surat dari Masa Silam


Surat dari Masa Silam
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di akhir tarikh 1980, seorang santri kelas I Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, dilanda rindu.  Dalam kerisauan gelora kalbu, ia menulis sepucuk surat di suatu malam yang pekat.  Keesokan hari, santri ini melafalkan jampi-jampi supaya niatnya berjalan mulus tanpa aral.  Dengan wajah pilu, ia menghadap ke pimpinan kampus (pimkam).
     Santri ini melapor bahwa ia menerima surat jika ayahnya meninggal.  Santri tersebut lantas menyodorkan selembar surat ke pimkam.  Tentu saja pimkam kaget.  Belum pudar keterkejutannya, ia sontak bingung dengan secarik surat yang ada di tangannya.  Pimkam yang orang Jawa tidak bisa membaca surat itu lantaran ditulis dengan abjad Lontara.
     "Kamu harus cepat pulang!  Kamu harus cepat pulang!", seru pimkam dengan suara panik kepada santri bersangkutan.
     Santri tersebut terus mempertahankan roman mukanya agar tetap terlihat sendu.  Padahal, hatinya melonjak girang.  Akal bulusnya mampu mengibuli pimkam dengan mengabarkan berita bohong kalau bapaknya mati!
     Menurut sahibul gosip, santri durhaka yang bikin malu sejagat ini melenggang kembali ke pondok sesudah puas di rumahnya selama tiga hari tiga malam.  Semua berkat surat sakti beraksara Lontara.
     Santri dari pedalaman selalu akrab dengan surat.  Soalnya, ini primadona komunikasi pada kurun 80-an.  Hampir separuh santri Pesantren IMMIM pernah mengirim surat di periode itu.
     Keunggulan surat ialah ditulis tangan.  Alhasil, untaian huruf terasa mewakili curahan hati.  Orang yang membaca surat pun kerap bergemuruh nuraninya.  Makin jauh jarak geografis suatu surat ditulis, kian terasa hidup di sanubari.  Apalagi, di akhir surat ada tanda tangan.  Ini menunjukkan bila surat menjadi personifikasi pribadi si pengirim.

Bukti Historis
     Surat merupakan sarana komunikasi.  Kertas berisi teks informasi tersebut dikirim dari satu pihak ke pihak lain.  Surat sebagai komunikasi tulis menjadi duta yang membawa pesan.
     Surat sesungguhnya merupakan dokumentasi suatu peristiwa dalam skala minimal.  Surat berbeda dengan surat kabar yang ditujukan untuk publik.  Surat cuma menyangkut satu golongan ke golongan lain.  Isi surat tentu tergantung pengirim serta penerima.  Hatta, khalayak tak antusias menelisik.
     Sebuah surat dapat bercerita mengenai zaman lampau karena merupakan bukti historis.  Isi surat akan mewartakan maksud pengirim yang berasal dari kelompok perorangan atau institusi.
     Penghalang pokok surat yakni jarak.  Apalagi jika transportasi tidak memadai.  Akibatnya, surat mengendap, terbengkalai sampai akhirnya dibuang ke tong sampah.
     "Saya tak pernah mengirim surat ke orangtua.  Musababnya, kampungku di Kalimbua, Enrekang.  Ini teramat jauh.  Selain itu, minim transportasi.  Sempat menulis surat, namun, batal mengirim.  Surat tersebut akhirnya tercecer.  Hilang entah di mana", papar Saidin Mansyur (Angkatan 8591).
     "Saya tidak pernah mengirim surat ke orangtua.  Tatkala kelas I dan II, saya terkadang menangis ketika mencuci.  Orangtua pasti mafhum kalau saya sekarang sedang merindukannya", kenang Musytari Randa (Armada 7985).
     "Saya tak mengirim surat berkat jadwal besuk yang normal.  Orangtua dari Bulukumba rutin berkunjung.  Setelah berlangsung dua tahun, saya melarang untuk dijenguk.  Pasalnya, sudah mandiri serta percaya diri", tandas Andi Fausih Rahman (Divisi 8086).
     "Mengirim surat ke orangtua tidak pernah saya lakukan.  Bila jenuh di pesantren, saya main bulu tangkis", urai Sabri Suddin (Angkatan 8490).

Laksana Lilin
     Sebagian pelajar Islam yang menuntut ilmu di Pesantren IMMIM, merasa perlu menulis surat untuk berkirim kabar.  Rindu yang menumpuk di dada, memaksa santri berupaya mengirim surat.
     "Saya beberapa kali mengirim telegram ke orangtua.  Saya ke kantor pos mengisi berita.  Saya sampaikan jika butuh uang sekaligus rindu.  Telegram memerlukan waktu tujuh hari untuk tiba di kampungku di Ohilahin, Kecamatan Buru Utara Timur (Golong Guba), Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku", tutur Mutalib Besan (Armada 8086).
     "Kalau menulis surat, saya minta dikirimkan duit dan kue.  Ibu di Palopo repot membesuk karena faktor jarak.  Saya memaklumi kendala maupun kesibukan ibu", cetus Andi Syamsul Rijal Nur (Divisi 8389).
     Andi Syamsul mengirim surat dengan menitip di bus Piposs trayek Makassar-Palopo.  Tak ada ongkos kirim karena langganan.  Sopir juga mengerti kondisi santri yang jauh dari keluarga.
     "Sewaktu kelas I serta II, saya tidak pulang kampung kecuali libur.  Saya biasa mengirim surat bila rindu atau ada kepentingan.  Jika mendesak, saya minta izin ke pimkam untuk mengirim surat.  Saya ke Asrama Mamuju di Jalan Beruang, Makassar.  Di sana mencari mahasiswa yang mau pulang kampung untuk menitip surat", ungkap Kurniawan A (Angkatan 8389).
     Perjalanan surat Kurniawan cukup berliku.  Dari Pesantren IMMIM ke Asrama Mamuju kemudian menuju ke Mamuju.  Setiba di kota, dibawa ke Pelabuhan Kasiwa.  Surat itu lalu naik kapal selama lima jam untuk sampai di Budong Budong.  Perjalanan surat pun berakhir saat diterima ayah-ibu.
     Setelah mengirim surat, santri pun lega.  Kini, mereka menunggu balasan dengan penuh harap dan cemas.  Menanti balasan surat butuh waktu berhari-hari.
     Menyampaikan sepucuk surat kepada orangtua ibarat mengirim separuh jiwa.  Kalau ayah-ibu membalas, niscaya kebahagiaan mendadak bergema.  Orangtua bagai membagikan peluk hangat.  Ini menjadi energi untuk tekun belajar supaya memiliki perspektif santri progresif.  Tekad suci berkobar demi membalas jasa-jasa ayah-ibu.
     Siapa pun yang belajar di pesantren pasti tahu pengorbanan orangtua dalam menafkahi putra-putrinya.  Santri paham bila ayah-ibu berdoa dengan air mata berlinang di malam nan sepi.  Santri mengerti bahwa orangtua bercucur peluh mengumpulkan uang.  Santri tahu jika ayah-ibu tak mengharap harta dari anak-anak yang dibesarkannya.  Orangtua terus berjuang sampai kulitnya melepuh, sampai telapaknya kapalan, sampai kakinya tidak kuat berdiri.  Mereka tiada jeda serta tanpa lelah membimbing putra-putrinya menggapai cahaya kehidupan.  Ayah-ibu seperti lilin yang hancur demi menerangi kegelapan.

Narasumber secara alfabetis
Andi Fausih Rahman
Andi Syamsul Rijal Nur
Kurniawan A
Musytari Randa
Mutalib Besan
Sabri Suddin
Saidin Mansyur


Rabu, 22 Juni 2022

Telepon Iapim


Telepon Iapim
Oleh Abdul Haris Booegies


     Telepon umum koin hadir di Indonesia pada 1981.  Sementara telepon umum kartu diperkenalkan di tarikh 1988.  Telepon umum merupakan fasilitas layanan telepon publik yang dikelola PT Indosat.
     Sebelum masuk pada 1990, telepon umum koin yang terpasang sekitar 5.800 unit di seluruh pelosok Tanah Air.  Pada 2011, mencapai 30 ribu unit.
     Alat komunikasi yang menjadi fasilitas umum ini tersebar di wilayah publik.  Telepon umum koin merupakan primadona jaka-dara di periode 90-an.  Anak-anak muda leluasa terhubung dengan percakapan jarak jauh di suatu daerah.
     Telepon umum ditemukan oleh William Gray pada 1889.  Awalnya diletakkan di sebuah bank di Hartford, Connecticut, Amerika Serikat.  Pada 1960-an di Amrik, terpasang lebih satu juta unit telepon umum.
     Tanpa disadari, riwayat telepon umum sebenarnya mulai dicabut pelan-pelan dari peradaban pada Selasa, 29 Shafar 1393 Hijriah (3 April 1973).  Saat itu, Martin Cooper dari Motorola menghubungi Joel S Engel dari Bell System.  Perangkat yang dioperasikan Martin Cooper yakni telepon portabel.  Ini merupakan penetrasi layanan seluler yang pertama.  Jaringan konvensional tinggal menanti kematian.

Segepok Koin
     Di awal 90-an, ada telepon umum koin di Gedung IMMIM.  Letaknya tepat di dinding luar kantor Fadeli Luran.  Banyak yang datang memakai jasa Indosat yang murah-meriah ini.  Dengan koin nominal Rp 50, pengguna dapat berkomunikasi dengan durasi tiga menit.
     Kehadiran telepon umum di Islamic Centre, turut menopang kegiatan Iapim.  Pengurus serta panitia tidak perlu lagi bersusah-payah mencari telepon umum.
     Telepon umum mudah dioperasikan.  Pertama, mengangkat gagang.  Kedua, memasukkan koin Rp 50 di lubang bagian atas.  Koin yang dicemplungkan pasti terdengar.  Kalau ada bunyi koin seperti terantuk, berarti hubungan tersambung.  Bila gagal, koin keluar ke wadah bagian bawah.  Ketiga, jika koin diterima, maka, pengguna dipersilakan menekan tombol nomor tujuan.  Tersedia tiga menit untuk berbicara.
     Pembicaraan yang panjang bisa disambung dengan memasukkan kembali koin.  Ada sinyal berdenging kalau waktu tiga menit tersisa 10 detik.
     Telepon umum di Gedung IMMIM, mulai padat menjelang pukul 22.00.  Penggunanya remaja.  Patut diduga tanpa ragu, mereka sedang menelepon kekasih.  Biasanya, remaja membawa stok koin.
     Pengguna yang mengobrol lama, acap menaruh tumpukan koin di sisi atas telepon.  Ini semacam aksi gertak.  Orang antre pun mafhum, bila mereka bakal lama menunggu.
     Di suatu malam nan khidmat, Mustafa Irate antre di telepon umum Islamic Centre.  Ketika giliran tiba, ia mempersilakan wanita di belakangnya untuk menelepon lebih dahulu.
     "Pembicaraan saya lama", ujar Mustafa sembari memamerkan lima koin di jemarinya.  Mustafa sontak terhenyak saat perempuan muda tersebut membuka kepalan tangannya.  Puluhan koin bercecer dalam genggamannya.  Gadis itu kemudian tersenyum, seolah baru saja memenangkan pertarungan.  Di masa tersebut, cewek-cewek jika hendak menelepon, niscaya membopong sekantung koin.

Kegilaan Alumni
     Di sekretariat Iapim, meja ketua terletak di sudut Barat Daya menghadap ke Utara.  Pintu sekretariat di sudut Barat Laut. sejajar meja majikan Iapim.
     Di belakang kursi ketua, ada pintu.  Di balik pintu itu, terhampar kamar karyawati Gedung IMMIM.  Pintu ini mustahil dibuka.  Sebab, dipaku sampai tembus ke kosen.  Ini untuk menghindari alumni binal bin genit yang sewaktu-waktu khilaf secara sengaja dengan masuk ke bilik karyawati.  Perawan mana tak ngeri dengan alumni yang rata-rata berada di puncak puber.  Mereka bisa saja salah masuk kamar untuk melakukan keonaran asmara.
     Dari balik pintu, karyawati enteng mengamati ruang sekretariat lewat lubang kunci.  Sedangkan awak Iapim tidak dapat mengintip ke bilik karyawati.  Pasalnya, karyawati menutup lubang kunci tersebut dengan kayu.
     Di suatu hari, sejumlah warga Iapim, resah.  Ini gara-gara telepon umum di Islamic Centre, dicabut.  Indosat mencabut akibat ada laporan dari pegawai Gedung IMMIM.  Sejak telepon umum dipasang, banyak muda-mudi masuk ke area Islamic Centre.  Mereka antre untuk menelepon pacar.  Tak elok rasanya kalau lokasi IMMIM menjelma altar cinta bagi remaja yang mabuk berahi.
     Anggota Iapim tentu risau pascapencabutan telepon umum.  Soalnya, untuk menelepon harus menyeberang ke lapangan tenis di sudut Lapangan Hasanuddin.  Ini menyulitkan lantaran lapangan tenis hanya terbuka pada siang sampai sore.
     Untuk menghibur diri, ada aktivis Iapim menaruh pesawat telepon rusak di meja ketua Iapim.  Kendati tidak berfungsi, namun, pesawat telepon bergagang itu bisa mengobati rasa kecewa.
     Sejak ada pesawat telepon di meja juragan Iapim, banyak awak Iapim terkecoh.  Mereka mengira telepon tersebut dapat mengirim dan menerima panggilan.
     Syahdan di suatu siang, Khaeruddin Muchtar duduk mengaso di kursi khusus bos Iapim.  Khaeruddin yang merupakan alumnus 84, akrab disapa Udin Gila sejak masih di Pesantren Modern Pendidian al-Qur'an IMMIM.
     Tatkala Khaeruddin berselonjor, di luar seorang pria mondar-mandir.  Ia tampak gelisah.  Lelaki itu lantas berdiri di depan pintu seraya menatap Khaeruddin.
     "Boleh saya pinjam telepon?"
     Khaeruddin lalu berdiri sambil mengangkat pesawat telepon Iapim sejajar dada, tanpa mengucap sepatah kata.  Kabel putusnya yang cuma sejengkal terjuntai serupa ekor tikus.
     Pria tersebut seolah tersedak.  Ia terkesima memandang pesawat telepon berdebu itu.  Benda di sekretariat Iapim tersebut sudah pantas digolongkan sebuah artefak yang layak masuk museum.
     Laki-laki itu tak habis pikir.  Mengapa ada kantor alumni pesantren punya telepon rongsokan.  Barangkali kembara khayalnya berceloteh persis emak judes; untuk apa memajang telepon tanpa saluran bila tidak bisa dipakai.
     Orang tersebut sesungguhnya tak sadar jika berhadapan dengan Udin Gila.  Pria itu tidak tahu kalau kegilaan adalah bagian dari dinamika Iapim di awal era 90-an.
     "Banyak yang menganggap saya gila.  Pada akhirnya mereka melihat kesuksesanku berkat kegilaanku" (Bob Sadino).


Kamis, 16 Juni 2022

Iapim Zaman Old


Iapim Zaman Old
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada 1987, sejumlah pengurus Iapim mengangkut barang-barang dari sekretariat.  Iapim pindah kantor.  Sekretariat di Jalan Jenderal Sudirman No 33, digeser ke Jalan Sungai Lariang.
     Kantor baru ini berlantai dua.  Ruang di atas dihuni karyawan Gedung IMMIM.  Panjang sekretariat tujuh meter dengan lebar empat meter.  Pintu dicat putih.  Di atas pintu serta jendela, tertera aksara putih dengan dasar hijau; "Sekretariat Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM)".
     Peralatan sekretariat antara lain lemari.  Pada 1988 atas inisiatif Syamsulbahri Salihima, Iapim membeli lagi almari demi transformasi inovasi.  Apalagi, berkas kian bertumpuk.  Perlengkapan lain di sekretariat yakni dua meja panjang dengan dua bangku panjang.  Ada pula meja khusus untuk Iapim 1 yang terletak berhadapan dengan pintu.  Penempatan perlengkapan di sekretariat senantiasa berubah sesuai selera alumni yang sering datang.
     Di sudut Timur Laut dekat jendela, ada cermin setinggi satu meter dan sisir.  Rata-rata alumni putri yang baru tiba di sekretariat, pasti bergegas ke depan cermin.  Mereka menata busana atau kosmetik agar tampil wangi sekaligus menawan.
     Di dinding sebelah Barat dipajang foto para mantan ketua Iapim.  Sementara dinding Timur dipasangi whiteboard.
     Tatkala Syambulbahri Salihima menjabat ketua Iapim, ia selalu menyediakan kopi maupun gula.  Terkadang, kopi serta gula ini ditaruh di lemari yang berisi berkas dan surat-surat penting.  Iapim belum sanggup membeli almari khusus makanan.  Alumni yang mampir leluasa menyeduh kopi dengan meminta air panas di pelayan Gedung IMMIM.
     Kapan sekretariat terbuka?  Mengingat di masa sebelum tarikh 90-an itu, rata-rata pengurus masih mahasiswa.  Iapim sesungguhnya terbuka 24 jam.  Kapan pun dipersilakan bertandang.  Maklum, kunci sekretariat ditaruh di bawah keset kaki depan pintu.
     Siapa pun alumni yang pernah ke sekretariat niscaya terkenang sesuatu yang terletak di samping dinding luar bagian Timur.  Benda besar tersebut senantiasa terlihat jika alumni ke toilet.  Biarpun "makhluk besi" itu mencolok mata, namun, dapat dipastikan alumni ogah menyentuhnya.  Soalnya, benda besar tersebut tiada lain ambulans.

Video Cabul
     Sekretariat di era Ahmad Fathanah, tampil memukau guna menunjang etos program Iapim.  Di tengah ruang sekretariat, ada lemari baru setinggi 150 sentimeter dengan lebar 50 sentimeter.  Almari ini memanjang dari dinding Timur ke Barat.  Lemari sebelah Timur panjangnya dua meter.  Sedangkan almari sisi Barat mencapai satu meter.  Antara kedua lemari, ada pintu koboi.  Untuk bertemu ketua Iapim, tamu mutlak melewati dua pintu.
     Di zaman Ahmad Fathanah, sekretariat Iapim dilengkapi televisi.  Di masa itu, stasiun televisi yang bisa dinikmati cuma TPI pada siang serta TVRI kala malam.  Beberapa bulan berselang, muncul RCTI dan SCTV.
     Televisi di Iapim acap hilang.  Sesudah diusut dengan penelusuran berliku, rupanya dibawa ke rumah teman untuk nonton video porno.  Alumni menikmati film eksperimen unscientific berupa silaturrahmi bibir serta kelamin.
     Makin lama, televisi di Iapim kian amburadul.  Remote control pun hilang.  Setelah diselidiki secara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, ternyata pencurinya anggota Iapim.  Tidak dikira tak disangka, diduga pun tidak.  Kiranya di sekretariat Iapim ada maling berstatus alumnus Pesantren IMMIM.  Untung Nusakambangan tak menjadi akhir tragis kasus ini.
     Aktivis Iapim pura-pura tidak tahu-menahu perkara remote control yang raib.  Saling memaklumi.  Seperti kalau ada yang kentut, pura-pura tak mencium baunya walau bulu hidung terasa rontok gara-gara busuk.

Juru Parkir
     Menjelang pertengahan 90-an, Iapim makin gemuk oleh alumni baru.  Kesibukan di sekretariat kian riuh.  Bahkan, sekretariat menjadi tempat kos kedua bagi sebagian aktivis Iapim.  Banyak yang menginap di sekretariat.
     Persoalan mulai muncul.  Alumni yang menginap berhari-hari akhirnya kehabisan uang.  Sementara kebutuhan perut mustahil dihindari.  Aktivitas wajib ditopang makanan.
     Area di depan sekretariat Iapim merupakan lahan parkir.  Mampu menampung sekitar 40 motor.  Hampir saban malam, Gedung IMMIM terisi acara pernikahan.
     Segelintir alumni lantas bertekad jadi tukang parkir.  Mereka berdiri di gerbang Jalan Sungai Lariang untuk menuntun kendaraan supaya parkir di depan sekretariat Iapim.  Alumni lapar yang separuh nekat, tentu enteng berbuat apa saja.  Ini merupakan tragedi terkelam perilaku awak Iapim.
     Di awal 90-an, warga Iapim ibarat tuan besar di Islamic Centre.  Tindak-tanduk alumni jarang digubris DPP IMMIM.  Iapim seolah anak kandung badung dari rahim IMMIM.
     Aksi sekumpulan kecil alumni yang menjadi juru parkir, berlangsung beberapa pekan.  Perbuatan ini akhirnya terendus sesudah tukang parkir asli mengeluh bila pendapatannya menurun drastis.  Seorang putri ayahanda tercinta Haji Fadeli Luran kemudian turun tangan.  "Alumni tidak diperkenankan menjadi juru parkir!"


Minggu, 12 Juni 2022

Gerbang Rindu


Gerbang Rindu
Oleh Abdul Haris Booegies


     "Hati senantiasa mencari telaga untuk melepas rindu, tanpa kita izinkan pun" (Abdul Haris Booegies).
     Di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, rata-rata santri kelas I dan II pernah dilanda rindu.  Mereka kangen kepada orangtua, kerabat, rumah serta kampung.
     Kenangan tentang orang-orang yang dicintai selalu memicu pikiran untuk mengembara.  Santri merindukan suara, senyum sekaligus pelukan orangtua dan keluarga.  Pasalnya, mereka merupakan insan istimewa dalam kehidupan.
     Rindu timbul berkat hasrat untuk berkomunikasi dengan orang yang selama ini hadir dalam kehidupan.  Santri merindukan segala hal mengenai kerabat.  Bayangan orangtua serta saudara berkecamuk di pelupuk mata.  Semua muncul di mana-mana, kecuali di pondok, di Pesantren IMMIM.
     Seonggok gelisah tiada lelah mengeruhkan batin.  Bayang-bayang rumah bersama para penghuni terus menari di depan mata.  Santri memikirkan tanpa jeda.  Mereka malahan memimpikan dalam tiap bunga tidur.
     "Saya acap ke depan aula bila terkenang orangtua dan kampung.  Kalau rindu merayap di kalbu, saya menghubungi orangtua via telepon pesantren.  Jika mendesak, saya meminjam ponsel satpam.  Menjelang tidur, kadang air mata berurai karena rindu", ungkap Ahmad Fauzi (1622), Generasi Zamrud dari Moncongloe.

Saksi Bintang
     "Bila rindu laksana taman bunga, maka, penantian adalah taman makam" (Abdul Haris Booegies).
     Santri tak kuasa menghapus wajah ayah-ibu, sanak saudara serta rumah dari pikiran.  Berkali-kali mencoba melupakan dengan tawa, senda-gurau atau bermain.  Segenap upaya tersebut cuma berbuah kegagalan.  Rindu terus memanggil.  Pikiran tetap tertuju ke orangtua, famili dan rumah.  Mereka seolah terlalu jauh dari Pesantren IMMIM.  Padahal, tidak terpisah tujuh benua maupun tujuh samudera.
     Santri berkeinginan, angin membawa rindu yang terpendam untuk disampaikan.  Santri berhasrat, bintang-gemintang menjadi saksi perihal rindu yang berharap.
     "Tahun pertama sampai kedua merupakan masa-masa kritis.  Banyak yang tak tahan berrpisah dengan keluarga.  Tidak sedikit yang kabur dari pondok.  Bahkan, ada yang tak balik lagi ke pesantren.  Menjelang tidur, air mata bercucuran.  Saya sering ketahuan tersedu-sedu.  Rekan-rekan ternyata tidak berempati.  Mereka justru mengompori saya agar makin terisak-isak.  Saya jadi tontonan", cetus Muzakkir Muannas Tovago (8187).

Membujuk Tuhan
     "Neraka ialah menanti orang-orang terkasih" (Abdul Haris Booegies).
     Santri merindukan beberapa kenangan tatkala mengingat ayah, ibu, kakak atau adik di rumah.  Saban hari di tiap doa dalam shalat, santri merayu Tuhan dengan puja-puji.  Santri membujuk Tuhan supaya hari ini rindu tuntas oleh pertemuan.
     Menunggu orangtua membuat santri merasa terasing di tengah kebisingan suara sahabat yang bercanda serta bermain.  Untuk memupus rindu, santri kerap menengok ke gerbang kampus.  Berharap ada keajaiban.  Berkhayal yang dinanti mendadak hadir.  Sebab, orangtua atau kerabat yang datang menjenguk senantiasa membawa kehangatan.  Resah pun musnah.
     "Namanya orang kampung pasti teringat dengan orangtua dan keluarga.  Dalam setahun, tamu terkadang tak datang.  Apalagi, transportasi serta komunikasi masih sangat susah.  Untuk mengobati kerinduan, saya bersama Muhammad Arfah (8086) duduk-duduk di depan aula kalau sore.  Saya menunggu bis dari Sengkang yang lewat.  Jika sudah melihatnya, sontak rasa rindu terhadap orangtua dan kampung sedikit terobati.  Waktu itu terminal mobil antardaerah masih di Panaikang.  Jadi pasti lewat di depan pesantren", papar Lukman Sanusi (8086).

Menimang di Hati
     "Untaian kata tidak mampu melukiskan rinduku.  Kata-kata malalan tak mengerti bagaimana rindu di hatiku" (Abdul Haris Booegies).
     Sejumlah santri bertekad menghabiskan sisa petang dengan menanti tamu.  Tatapan mereka tertuju ke gerbang.  Senja secara perlahan kemudian beranjak ke dekapan gulita malam.  Suara azan terdengar, kaki melangkah gontai mengarah ke masjid.  Sesak di dada terasa mengiris.  Hari ini tamu yang ditunggu belum tiba.  Asa pudar bagai kilatan meteor yang melemah sebelum sirna.  Sementara rindu di hati terus menyala.  Merongrong dada bak serbuan prajurit beringas.  Perasaan terburuk menimpuk sanubari lantaran yang dinanti tidak kunjung datang.
     "Bakda Magrib, saya ke belakang masjid di dekat dinding luar mihrab.  Di situ air mata meleleh.  Rindu tak terbendung kala mentari tenggelam.  Bila rindu bergolak pada siang, saya bergegas ke kantin untuk belanja", tutur Mahmuddin Achmad Akil (8288).
     Kalau tamu tiba, niscaya rindu terobati.  Santri pun tidak tahan menunggu perjumpaan tersebut terjadi.  Betapa berharga orangtua, kerabat serta rumah yang kini jauh di mata.
     Santri merindukan rangkulan hangat orangtua, kangen dengan kakak yang menemani ke suatu tempat.  Rindu dengan kejahilan adik yang membuat tertawa.
     Dampak persuaan dengan orangtua, saudara, orang-orang tercinta, selalu menggelorakan ikhwal baru.  Terasa ada perbedaan.
     Pertemuan orangtua dengan anak yang menuntut ilmu di Pesantren IMMIM, pasti mengharukan.  Santri berbinar ceria menyambut orangtua.  Pelukan bagai menjelma hujan deras di tengah gurun nan panas terik.
     "Bagaimana keadaanmu?  Kamu baik-baik saja?"
     "Iya", santri malu-malu menyahut.
     "Kamu tahu, kami juga merindukanmu".
     Jawaban ini membuat santri merasa berharga.  Membuat santri bangga.  Membuat semangat kembali menyala garang.  Santri seolah insan spesial di dunia berkat dirindukan.  Di mana pun berada, orangtua senantiasa menimang sang anak dalam rindu, dalam impian dan dalam jiwa.
     "Jika ibu datang membesuk, saya selalu minta kiriman susu serta kue.  Saya berkali-kali minta sandal.  Dalam hati, ibu bisa marah bila begini terus karena sandal acap hilang.  Di situ baru sedih rasanya", kenang Andi Asri Lolo (8086).
     Santri berkehendak agar orangtua dan saudara tiada putus hadir di dekat, seperti orang yang berboncengan.  Mata pun tak mau terpejam kalau mereka tidak hadir di dalam mimpi.
     Selama jiwa terkandung di badan, selama itu pula rindu terus bergemuruh persis topan.  Rindu niscaya bergelora sampai nafas terputus.
     "Rindu mengikat seluruh nada, segala kata serta semua impian di relung kalbu" (Abdul Haris Booegies).

Video milik Lukman Sanusi

Narasumber secara abjadiah
Ahmad Fauzi
Andi Asri Lolo
Lukman Sanusi
Mahmuddin Achmad Akil
Muzakkir Muannas Tovago


Rabu, 08 Juni 2022

Komunikasi Iapim


Komunikasi Iapim
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada kurun 80-an, pertumbuhan sains serta teknologi masih minim.  Generasi X yang lahir pada 1966-1979, belum tersentuh inovasi-inovasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi.  Sebagai contoh, penggunaan satelit dalam komunikasi masih taraf embrio.  Aktivitas manusia banyak terjadi lewat tatap muka.  Semua bergerak dinamis dalam proses interaksi demi menuntaskan pekerjaan.
     Di era 80-an, telepon seluler (ponsel) belum hadir di Indonesia.  Setelah tamat di Pesantren IMMIM, saya menonton Black Moon Rising.  Di film thriller aksi fiksi ilmiah itu ada adegan ketika Tommy Lee Jones menghubungi seseorang dengan ponsel.  Prototipe ponselnya segede batu bata merah.  Ada antenanya sebagai penguat sinyal.  Revolusi komunikasi banyak menghias film-film produksi Hollywood.  Sineas begitu enteng menyuguhkan wacana sains.
     Dunia terus bergerak membentuk definisi futuristis yang berevolusi dari waktu ke waktu dalam hitungan hari.  Tahapan dalam transformasi inovasi makin lama kian membentuk dunia bergemuruh kencang.  Ciri perkakas masa depan yakni kecil serta cepat.  Alat yang diciptakan tergolong mini, namun, gesit dalam memproses.
     Iapim tampil bersahaja di ujung akhir 80-an.  Walau belum terjamah teknologi komunikasi, tetapi, spirit terus bergelora dalam mendesain program kerja.  Eksplorasi gagasan tidak bertumpu pada teknologi komunikasi yang minim.  Anggota Iapim punya taktik level master untuk terampil berkreasi sekaligus cekatan berkriya.  Alhasil, Iapim tak terseok-seok menggagas kegiatan kendati dibatasi oleh faktor dana, jarak dan waktu.  Awak Iapim bersatu-padu memobilisasi optimisme.  Mereka memacu diri dalam gairah inspirasi.  Hingga, kokoh kala bergandeng dalam ikhtiar.

Whiteboard
     Bagaimana warga Iapim yang sedang merancang hajatan bisa saling terkoneksi tanpa ponsel?  Ada dua cara yang dipakai.  Pertama, mengabarkan di kampus tempat kuliah.  Kedua, mengumumkan di media whiteboard.
     Menebar informasi di kampus-kampus terkadang remeh, tidak sedikit pula yang rumit.  Menyiarkan informasi di UIN Alauddin, terbilang sangat mudah.  Maklum, hampir 30 persen anggota Iapim kuliah di kampus Islami tersebut.  Apalagi, luas lahan UIN Alauddin di Gunung Sari nyaris sebesar area Pesantren IMMIM di Tamalanrea.
     Awak Iapim yang kuliah di Universitas Hasanuddin (Unhas), agak repot dihubungi.  Soalnya, jarak antarfakultas saling berjauhan.  Angkatan 8086, sebagai umpama.  Saya (Fakultas Sastra) dengan Muhammad Ilham Suang (Fakultas Ekonomi), senantiasa bertemu berkat satu atap di FIS IV.  Saya jarang bersua Saifuddin Ahmad (Fisipol) lantaran terpisah puluhan meter.  Selama kuliah, saya cuma satu kali berjumpa Andi Asri Lolo (Fakultas MIPA) di kampus.  Sedangkan dengan Suharkimin (Fakultas Kedokteran), sama sekali tak pernah bertemu.  Ruang kuliah kedokteran cukup jauh dari FIS IV.
     Kendala berupa jarak, menjadikan penyebaran informasi tidak efektif.  Akibatnya, warga Iapim yang kuliah di Unhas jarang ke sekretariat.
     Cara kedua anggota Iapim berkomunikasi untuk menggagas aktivitas ialah mengumumkan di whiteboard.  Di sekretariat Iapim di Jalan Sungai Lariang, ada whiteboard ukuran 150 x 90 sentimeter.  Tergantung di dinding Timur.  Whiteboard ini mencolok pandangan karena pintu terletak di sudut Barat Laut.
     Teks yang tertera di whiteboard langsung terserap oleh kuriositas.  Hatta, awak Iapim langsung mafhum perihal jadwal acara.  Informasi di whiteboard terasa mantap di kalbu serasi di jiwa.
     Sesungguhnya ada satu lagi alat komunikasi di Iapim, yaitu buku tulis ukuran folio.  Di buku besar itu, warga Iapim atau tamu yang berkunjung ke sekretariat disunahkan mencatat nama, jam kedatangan, kesan maupun pesan.
     Dari buku ini, dapat diketahui siapa yang bertandang ke sekretariat.  Ada juga yang menggunakan buku ini untuk bersepakat bersua di suatu tempat.

Telepon Manual
     Kalau Iapim hendak menyelenggarakan kegiatan, niscaya pengurus serta panitia wajib siap lahir-batin.  Sebab, komunikasi payah.  Transportasi tersendat pula.  Pasalnya, hanya segelintir anggota Iapim yang memiliki motor.
     Terkadang, awak Iapim meminta izin untuk memakai telepon Islamic Centre yang bernomor (041) 322955.  Saya biasa menggunakan telepon statis ini untuk wawancara dengan narasumber.
     Telepon manual di Gedung IMMIM dicabut oleh pegawai usai jam kantor.  Dikhawatirkan ada yang memakainya di luar agenda Islamic Centre.
     Bukan alumni Pesantren IMMIM jika tak kreatif.  Ada sahabat membawa pesawat telepon dari rumah bila malam.  Ia bersama sekumpulan kecil alumni kemudian menyelinap ke ruang tempat memasang kabel ke saluran telepon.  Mereka lantas menghubungi layanan telepon dewasa.  Sampai tengah malam, oknum Iapim ini puas melakukan obrolan hot dengan operator wanita.  Mereka ketagihan mengulang terus karena adrenalinnya memuncak.  Siapa gerangan tidak terangsang mendengar desah nafas perempuan yang seolah minta dinodai.
     Aksi telepon genit ini berlangsung beberapa kali sampai ketahuan.  Ini gara-gara mereka tak memikirkan kemungkinan yang tidak terbayangkan.
     Saya heran, gerombolan ini alumni Pesantren IMMIM, namun, masih badung.  Status sebagai alumni tak membuatnya menebar kebajikan, justru pamer bandel.  Sebuah kenakalan dari masa silam yang tidak patut ditiru.  Kalau mengenang ini, ane cuma geleng-geleng kepala sambil tak lupa ngakak so hard, Coi.


Senin, 06 Juni 2022

Santri Moonraker


Santri Moonraker
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada 1981 kala kelas II di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, saya nonton Moonraker di New Artis Theatre.  Ini film James Bond yang dibintangi Roger Moore.  Hikayatnya tentang Drax Industries yang meminjamkan pesawat ulang-alik bernama Moonraker ke Kerajaan Inggris.
     Ada satu tokoh antagonis yang melekat erat dalam kenangan di serial 007 ini.  Namanya Jaws (Richard Kiel).  Figur raksasa bergigi besi ini merupakan pembunuh bayaran yang diupah oleh Hugo Drax (Michael Lonsdale).  Adegan ikonis ialah ketika Jaws menggigit putus kabel baja sebesar pergelangan tangan.
     Dari sekitar 350 santri pada 1981, ada beberapa di antaranya yang menyaksikan film ini di bioskop.  Moonraker merupakan film James Bond pertama yang saya lihat setelah tercatat sebagai santri.

Saktah
     Pada 1981, ustaz Hasnawi Marjuni mulai mengajar di Pesantren IMMIM.  Ia bukan guru sembarang.  Ustaz Hasnawi penghafal al-Qur'an.  Selain mengajar, ia juga didapuk sebagai staf keuangan.
     Saban hari ustaz Hasnawi memimpin shalat.  Alunan suaranya begitu indah.  Di suatu waktu, saya tinggal di kampus saat vakansi.
     "Tadi ustaz Hasnawi seorang diri shalat Shubuh.  Ia yang azan, iqamat sekaligus imam.  Tidak ada makmumnya", tutur Nasrullah (7985).  Saya cuma cekikikan mendengarnya.
     Harap diingat bahwa santri yang tinggal di pondok selama libur, maka, libur pula aktivitas kepesantrenan.  Termasuk libur ke masjid.  Kami bebas tanpa aturan.  Tiap hari bersenda-gurau bersama sekitar 10 santri yang bertahan tinggal.  Tugas pokok kami bila malam yakni berseteguh menjaga kampus dari garong.  Kami menjelma laskar tanpa bedil yang sebenarnya takut bertindak jika melihat bayangan.
     Di awal kedatangannya di Pesantren IMMIM, ustaz Hasnawi suka sekali membaca surah al-Qiyamah di waktu shalat Shubuh.  Ayat ke 27 dibaca oleh ustaz Hasnawi begitu elok dan syahdu; "waqiila man, raa...qe".  Ayat وَقِيۡلَ مَن ۜ رَاقٍۙ ini kalau dibaca insan awam pasti berbunyi "waqiila man-raaq".  Man (مَن) dengan raaqin (رَاقٍۙ) langsung disambung.  Sedangkan ustaz Hasnawi membacanya secara kompatibel dengan standar tajwid.  Sesudah melafalkan "man", ia berhenti sejenak kemudian melanjutkan dengan "raaqe" yang disuarakan panjang.  Awalnya saya sangka ini sekedar gaya-gayaan dari penghafal al-Qur'an.  Butuh durasi panjang untuk mengakui kebenaran pembacaan ustaz Hasnawi.
     Di ayat 27 al-Qiyamah, ada tanda baca saktah (سَكْتَةٌ) dengan simbol (س).  Saktah dapat bermakna "menahan" (لْمَنْعُ).  Saktah berasal dari akar kata sakata (سَكَتَ) yang artinya diam atau berhenti.  Saktah berbeda dengan wakaf yang bermakna berhenti sejenak sembari bernafas.
     Saktah merupakan bacaan yang tertahan.  Qari berhenti dalam formasi dua harakat (diakritik) tanpa bernafas untuk kembali melanjutkan.
     Saktah di al-Qiyamah berfungsi memisah kata "siapa" (مَنْ) serta "menyembuhkan" (رَاقٍ).  Tanpa saktah, dua kata ini terbaca satu kata.  Hingga, menimbulkan salah arti secara fatal.
     Al-Qur'an memuat empat saktah.  Pertama, ayat 1 di al-Kahfi.  Kedua, ayat 52 di Yaasiin.  Ketiga, ayat 27 di al-Qiyamah.  Keempat, ayat 14 di al-Muthaffifin.

Sakratulmaut
     Tatkala ustaz Hasnawi membaca ayat ke 27 dalam shalat, ada yang iseng.  Begitu mengucap "waqiila man...", maka, terdengar santri di shaf belakang menyahut; "raa...qe!"
     Lambat-laun, namun, pasti.  Makin banyak santri yang latah.  Seruan "raa...qe!" malahan lebih nyaring dibandingkan "aamiin".  Terlebih di sayap masjid, sisi kanan maupun kiri.  Di situ biangnya!
     Keisengan santri terus berlanjut.  Sementara ustaz Hasnawi bergeming.  Ia seolah tak terusik dengan ulah latah santri.  Akibatnya, kelakuan santri kian edan.  Musababnya, "waqiila man, raa...qe" mulai dipelesetkan menjadi "waqiila moonraker".  Persis titel film James Bond.
     Di suatu subuh, ustaz Hasnawi kembali membaca al-Qiyamah.  Ketika sampai pada "waqiila man...", nyaris satu masjid berseru; "RAA...QE!"
     Selepas shalat, ustaz Hasnawi murka bukan kepalang.  Rupa mukanya memerah.  Suaranya bergetar.  Tangannya menuding-nuding tanda gusar.  Hafiz ini 100 persen bisa dipastikan marah sekali.
     Ia mempertanyakan mengapa santri tega mempermainkan Kalam Ilahi.  Santri seolah tidak mengerti deskripsi ayat bersangkutan.  Firman Allah tersebut berkisah perihal sekelompok manusia yang terlihat heboh di dekat orang yang dilanda sakratulmaut.  Di ujung kematian itu, hadirin saling bertanya: "Siapa yang kuasa menyelamatkan orang sekarat ini?"
     Kasus "waqiila man, raa...qe" mengandung dua unsur.  Pertama, bacaan tartil yang dibawakan oleh ustaz Hasnawi tak sepenuhnya dipahami santri.  Jadi ini murni dilandasi keisengan, bukan gara-gara santri bersekutu dengan iblis!  Kedua, pengaruh James Bond mulai melanda Pesantren IMMIM.  Alhasil, memicu santri untuk berdimensi progresif.  Siapa tidak mau jadi spion flamboyan sebagaimana agen 007.  Cewek bahenolnya berlimpah sampai dirindukan oleh santri yang puber level dahsyat.


Kamis, 02 Juni 2022

Kamis Sendu


Kamis Sendu
Oleh Abdul Haris Booegies


     Alkisah di suatu siang di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, Tamalanrea.  Kala itu menjelang Zhuhur di suatu Kamis.  Berseru ketua kamar 1 Rayon Datuk Ribandang (Fadeli Luran); "siapa yang ingin pulang, tulis nama di kertas ini?"
     Kami penghuni bilik yang kelas II bergegas mengerubuti ketua kamar.  Nama santri yang mau pulang dicatat untuk diserahkan ke pimpinan kampus (pimkam).
     Saya berdebar-debar.  Beberapa menit ke depan, saya pasti memperoleh surat izin.  Terbayang perasaan lega bila sudah di atas mikrolet (petepete).  Pulang ke rumah ibarat cas baterai.  Sebulan di kampus membuat lesu, bosan sekaligus meredupkan semangat.  Rumah akan mengobati kelesuan, kejenuhan sembari menyegarkan spirit.  Bahkan, menstimulasi imajinasi.
     Terdengar azan Zhuhur.  Saya melangkah gontai ke masjid.  Konsentrasi tidak ada lagi di masjid.  Terbayang terus rumah.
     Di dapur, lidah kelu serta tenggorokan begitu berat menelan makanan.  Nasi susah dikunyah.  Ikan terasa tawar, tiada rasanya.  Tak ada nafsu makan karena kalbu merindukan rumah laksana tarian ombak hendak merangkul langit ketika senja.
     Dari dapur, saya bergegas ke asrama.  Siapa tahu surat izin telah dibagikan.  Saya sesungguhnya mafhum bahwa pukul 14.00, surat izin lazim dibagikan.  Semangat untuk pulang membuatku berkhayal.  Andai dibagikan sekarang saat jam satu, pasti elok.
     Saya duduk-duduk di tepi ranjang.  Gelisah menanti surat izin.  Saya berdiri, namun, terasa berat.  Akhirnya duduk lagi.
     Jam dua siang makin dekat, gelisah kian mengoyak batin.  Saya duduk sambil menggoyang-goyangkan tubuh agar debar jantung tidak terasa.
     Saya melirik ke pintu.  Berharap ketua kamar nongol dengan segepok surat izin.  Kiranya ia belum keluar dari kantor pimkam.
     Saya menata jadwal di pikiran kalau nanti pulang.  Pertama, menghapus dahaga dengan es.  Kedua, ke Sentral beli majalah dan koran.  Ketiga, ke bioskop New Artis Theatre.  Keempat, ke kolam renang Mattoanging.
     Terdengar kasak-kusuk di pintu.  Teman-teman berlarian menyambut riang ketua kamar.  Saya pun melompat ikut ke dalam kerumunan.
     Sahabat yang memperoleh surat izin, langsung melonjak-lonjak gembira.  Saya menahan nafas.  Sedetik lagi, saya pasti meloncat-loncat pula.
     Surat izin di tangan ketua kamar tinggal satu, itu pasti milikku.  Tangan tak sabar hendak meraih.  Ternyata bukan.  Saya tertegun.  Mata terbelalak.  Lutut bergetar.
     Ketua kamar menatapku dengan mata sayu.
     "Kamu tidak diberi izin karena pelanggaranmu banyak", ujar ketua kamar seraya mendengus meninggalkanku.  Takdir buruk tak terhindarkan menimpaku.
     Saya terpana.  Kaki begitu berat melangkah.  Rasanya seperti seorang diri di tengah rekan-rekan yang riuh berkemas untuk pulang.  Saya marah, juga malu.  Pasalnya, ditindas dengan cara tidak diizinkan pulang.  Bergemuruh niat agresif untuk menentang pimkam.  Sebab, rasa keadilannya absen untuk saya di Kamis kala mentari tergelincir ke Barat.  Saya merasa terjepit, tetapi, sia-sia untuk menjerit.
     Kawan-kawan yang diberi izin sontak berpakaian.  Senyumnya merekah bak pengantin yang baru menghabiskan malam pertama.  Langkahnya ringan.  Ada pula yang berlarian secara ritmis.  Mereka bergandeng dalam suka-cita.  Euforia membuatnya ekstase.
     Saya menatap mereka meninggalkan pondok.  Saya pilu tak bisa pulang.  Beginilah nasib sebagai santri terkucil.  Semua lantaran saya menuruti pola-pola ekstrem berupa nekat bermanuver mengakali aturan.  Saya memilih hidup ganjil di tengah santri yang tekun menaati ketertiban.
     Berniat memanggil orangtua supaya ke pesantren meminta izin, bagaimana caranya?  Ingin bolos meninggalkan kampus, saya selalu diintai, dimata-matai.  Entah siapa yang senaniasa melaporkanku.  Akibatnya, selalu hadir di qismul amni (seksi keamanan) untuk dirajam sampai kapok.
     Malam ketika berada di dapur, saya tidak bernafsu makan.  Semua impian buyar gara-gara tak diberi izin pulang.  Saya benci pimkam yang kini membuatku merana di Kamis sendu.
     Usai Isya, saya cuma tepekur di ranjang.  Ke mana mata memandang, rasanya seolah menatap sesuatu yang kosong.  Sampai jauh malam, saya tidak mampu tidur.
     Saya heran.  Soalnya, pelanggaranku hanya secuil di kampus.  Saya cuma berkali-kali tak masuk kelas.  Jarang ke masjid, namun, rajin bolos ke kota untuk nonton di bioskop.  Bagi saya, ini pelanggaran sepele.  Tidak perlu dihukum.
     Bandingkan dengan sejawat yang ke toilet.  Mereka tak menyiram kotoran yang dikeluarkan dari perut.  Akibatnya, bau busuk merayap ke beranda asrama.  Lalat pun berseliweran.  Ini baru namanya pelanggaran berat.
     Jumat pagi, saya masih lemas.  Belum rela menerima perlakuan pimkam yang tidak memberiku izin pulang.
     Bertahun-tahun baru saya menyadari.  Santri digilir untuk pulang sebagai penggemblengan.  Pimkam mengajar kami untuk bermental baja.  Tak rapuh, tidak gampang terkulai sampai luruh.  Santri dididik untuk tak mengerti apa itu "menyerah".  Semua mutlak di level geledek demi memacu tekad.
     Apa yang diidamkan sekarang, belum tentu digapai hari ini.  Ada perjuangan berupa persiapan, kesabaran, ketegaran maupun keuletan.  Siapa kuat dalam proses pencarian makna hidup, bakal mereguk kemenangan manis.


Amazing People