Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2011

Theory of Everything dan Stephen Hawking

Stephen Hawking Mencari
Theory of Everything
 Oleh Abdul Haris Booegies 
     Pada 9 September 2010, Stephen William Hawking meluncurkan The Grand Design.  Buku kontroversial tersebut menuding jika tak ada campur tangan Ilahi dalam penciptaan alam semesta.  “God did not create the universe”, tegas Hawking.
     Menurut profesor Lucasian dalam bidang matematika itu, konstruksi semacam gravitasi membuat Tata Surya dapat membentuk dirinya dari ketiadaan.  Gravitasi adalah bagian dari skenario karena membantu keseimbangan kosmis berada di garis edar.  Hukum gaya tarik-menarik tersebut merancang ruang dan waktu.  Gravitasi lalu membuatnya stabil secara lokal, tidak secara global.  Dalam skala komprehensif, energi positif bisa diselaraskan dengan energi gravitasional negatif.  Arkian, tak ada batasan dalam penciptaan jagat raya.
     Penciptaan spontan merupakan dalih bila ada sesuatu, bukannya kehampaan.  Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya.  Hawking menambahkan bahwa fisika dapat membeberkan sesuatu tanpa membutuhkan Tuhan sebagai perakit alam semesta bagi manusia.   Hawking memaparkan bahwa M-Theory (proposal solusi Theory of Everything) sebagai sebuah wujud dari String Theory (teori kuantum gravitasi) bisa menerangkan penciptaan jagat raya.  Pasalnya, ada hukum gravitasi.  Tak usah membawa-bawa Tuhan seolah Ia pemicu terciptanya alam semesta.
     The Grand Design yang ditulis Hawking bersama fisikawan dari Caltech, Leonard Mlodinow, sebetulnya menambah referensi astronomi.  Kendati memperkaya wawasan, namun, tidak dapat ditampik kalau orang menuding miring Hawking.  Sirkuit otak anggota Gonville and Caius College, Cambridge itu dianggap ada yang error.  Tak mustahil ada serangkaian chip yang rusak dalam kesatuan jasad Hawking.
     Pada hakikatnya, dialektika tiap insan berbeda.  Ada yang memiliki tingkat wacana dengan hasil akhir berupa ironi memilukan.  Di sisi lain, ada yang dipandu pengetahuan kritis (hard science) yang sarat data empiris.  Dengan demikian, lahir aneka perspektif baru dalam mengoptimalisasi keunggulan.  Alhasil, menempa manusia menjadi makhluk agung.
     Adikarya fenomenal secara global di awal peluncuran belum tentu abadi.  Inovasi yang dikandungnya boleh jadi rekayasa destruktif.  Sementara karya sejati senantiasa lestari.  Sebagai contoh yaitu pandangan Bapak Fisika Isaac Newton.  Ia berfatwa bahwa jagat raya muskil muncul dari kekacauan, tetapi, diciptakan Tuhan.

Hijaz Awalnya
     Hawking barangkali penasaran di ambang senja kala usianya.  Dengan fisik yang menderita tetraplegia (kelumpuhan) gara-gara sklerosis lateral amiotrofik, ia pasti lelah mencari Theory of Everything (Teori Paripurna).  Pada Juni 2010 dalam wawancara dengan stasiun televisi Inggris Channel 4 di program Genius of Britain, Hawking menampik konsep Tuhan dalam mengemukakan teorinya.  Ia mengaku tidak percaya bahwa ada Tuhan secara personal.  Ahli fisika teoretis tersebut lebih yakin dengan dalil ilmiah ketimbang Tuhan secara personal yang bisa ditemui atau ditanya.
     Sejak lama, Hawking telah berupaya memadukan dua landasan fisika modern.  Keduanya yakni teori relativitas karya Albert Einstein dengan Teori Kuantum.  Pada 1998, Hawking memperoleh penghargaan atas buku A Brief History of Time.  Kala itu, ia berargumentasi bahwa andai kita menemukan Theory of Everything, niscaya menjadi kemenangan besar bagi nalar manusia.
     Theory of Everything alias teori super simetri merupakan obsesi para datuk fisika.  Teori tersebut dipercaya sebagai metode pamungkas dalam menjabarkan seluk-beluk alam semesta.  Theory of Everything menggabungkan empat gaya dasar jagat raya.  Interaksi kuat, interaksi lemah, interaksi elektromagnetik serta interaksi gravitasi dinilai sebagai penanggung jawab terhadap seluruh gaya yang diamati di alam semesta.  Dengan menemukan Theory of Everything, maka, manusia enteng mengetahui peristiwa sebelum detik pertama berdetak sampai akhir dunia (kiamat).
     Pada intinya, Theory of Everything sejak dulu sudah muncul.  Theory of Everything berasas rumus Kaf + Nun = Ain (Alam).  Teori ini membahana pertama kali di Distrik Hijaz sekitar 1395 tahun silam.  Di era tersebut, Theory of Everything tak populer sebagai struktur ilmu.  Soalnya, tidak dibungkus dengan metode ilmiah.  Apalagi, kecerdasan manusia di zaman itu masih sangat minim.  Bahkan, mereka menyangka langit ditopang dengan tiang.  Ilmu falak belum cemerlang.
     Tiga dekade lampau justru masih ada yang mengira Planet Pluto (kini resmi bernama 134340) berada di lapis langit ketujuh.  Padahal, planet katai (dwarf planet) dalam Tata Surya yang berjarak 5.900,1 juta kilometer dari matahari tersebut ibarat debu di Galaksi Bimasakti.  Sebagaimana dipahami, pesawat jet yang berhasrat mengelilingi Bimasakti memerlukan waktu 100 miliar tahun.
     Jagat raya bukan cuma Bimasakti.  Dengan peralatan yang ada sekarang, diprediksi galaksi berjumlah 300 miliar.  Angka ini terdeteksi berkat teleskop abad ke-21 pada dasawarsa pertama milenium ketiga.  Teleskop dekade mendatang jelas lebih canggih lagi dalam menghitung bilangan galaksi seiring dinamika sains maupun teknologi.

Jadilah Engkau
     Sejumlah pakar fisika berstatus empu bingung merumuskan Theory of Everything.  Big Bang (Dentuman Besar) malahan diutak-atik sebagai teori kuno.  Maklum, model kosmologi ilmiah itu tak mampu merangkai narasi mengenai kondisi sebelum proses pengembangan alam semesta terjadi.
     Theory of Everything merupakan kristalisasi aneka ilmu dalam sepasang aksara.  Kaf + Nun = Ain (Alam) sebagai Theory of Everything sesungguhnya keynote (intisari kekuasaan) Allah perihal penciptaan.  Kaf  + Nun ialah “Kun” (Jadilah engkau!).  Sedangkan Ain (Alam) adalah segenap semesta raya berikut isinya sebagai ciptaan Allah.
     “Perintah-Ku kepada sesuatu jika Aku berkehendak hanya titah “Jadilah engkau!”.  Kemudian tercipta apa yang Aku inginkan.  Huruf Nun tidak akan dapat mendahului aksara Kaf” (Hadis Qudsi).
     Kaf  + Nun menguraikan proses penciptaan di sisi Allah.  Pertama, prosedur sebab-akibat.  Sebagai umpama yaitu penciptaan langit dan bumi yang tak sekoyong-konyong.  Ada durasi waktu selama enam periode.  “Allah menciptakan langit serta bumi.  Lantas semua yang ada di antara keduanya dalam enam masa” (as-Sajdah: 4).
     Kedua, penciptaan dengan prosedur langsung.  Bidadari merupakan hasil daya cipta langsung.  Tidak ada proses biologis sebagaimana manusia.  “Kami menciptakan hauri secara langsung” (al-Waqiah: 35).
     Di sisi Allah, sistem perancangan langit sekaligus bumi cuma dengan mengucap “Kun”.  Langit lalu tersusun dalam tujuh lapis.  Tujuh tingkat langit terus mengembang dari hari ke hari.  Di bawah langit pertama kemudian bertebar beragam bintang yang menghias cakrawala.  Tatkala Allah mendesain sesuatu, Ia tak capek.  “Kami tiada secuil ditimpa keletihan” (Qaaf: 38).
     Hawking repot menemukan Theory of Everything lantaran dialektika fisika belum menyentuh rahasia anatomi alfabet Hijayyah.  Abjad yang dipakai fisika sebatas menjelaskan kemungkinan.  Rangkaian huruf dalam fisika belum sanggup melontarkan kepastian.  Hawking akhirnya terjerumus oleh logika gravitasi.  Hingga, kitab The Grand Design mengeliminasi Tuhan sebagai pencipta.

Sabtu, 16 Juli 2011

Mengklon Yesus Kristus

Kloning Yesus Kristus
Puncak Kesintingan Manusia
Oleh Abdul Haris Booegies
Hamba Allah, Penyimak Alkitab dan Sejarah Yesus Kristus

     Bumi serasa terbelah serta langit laksana runtuh tatkala terbentik secuil kabar perihal rencana mengklon Yesus Kristus.  Semua bermula dari mazhab Second Coming Project yang berniat menghadirkan wujud Yesus di abad ke-21.  Kini, aliran yang beranggotakan 14 orang tersebut, giat bergerilya mencari sampel DNA Sang Mesias.  Mereka berusaha menemukan barang-barang yang pernah bersentuhan dengan Yesus, terutama Kain Kafan Turin.
     Di dekade budaya SMS (short message service) ini, tiada lagi yang muskil dikerjakan.  Apalagi, sesudah ditemukan bahwa manusia terbentuk oleh tiga miliar nukleotida (satuan asam nukleat yang terdiri dari sebutir molekul gula).  Nukleotida tersusun atas 100 ribu gen.  DNA (deoxyribonucleic acid) merupakan sekuens dari genom yang menjadi suatu makhluk hidup dengan fungsi sebagai blue print.
     Skema yang memuat gen itu berperan menginstruksikan pembuahan protein-protein tertentu dalam membangun struktur makhluk hidup.  Gen tersebut secara keseluruhan mampu pula berfungsi dalam merespons lingkungan.   
     Himpunan pengetahuan yang meneropong anatomi kemudian berani bermain-main dengan penduplikasian makhluk hidup.  Pada Februari 2004, Dr. Woo Suk Hwang bersama Dr. Moon Shin-yong sukses mengkloning embrio manusia.
     Puncak segenap berita kloning yakni kabar dari Second Coming Project yang siap menggandakan Kristus.  Dilandasi habba besyem adoney (dia yang datang dengan Tuhan), sekte itu lantas memperalat biotek DNA guna menghadirkan Mesias pada periode the Passion of Christ.
     Begitulah konsenkuesi peradaban. Teknologi yang menjulang menawarkan kemudahan menggapai hadirat Allah.  Di sisi lain, high tech pun membawa jebakan.  Kristalisasi sains membuat manusia tak ubahnya mainan. Masyarakat planet bumi yang terkurung zaman mabuk teknologi (technologically intoxicated zone), akhirnya menjadi makhluk tanpa makna.

Yesus Era Nanobacteria
     Niat Second Coming Project jelas tergolong mulia dalam menghadirkan kembali wujud Putra Maria.  Kelahiran massal Yesus bisa dibagi-bagi.  “Satu Kristus satu kota” di pelbagai pelosok dunia di bawah kolong langit.  Walau dilatarbelakangi keinginan luhur, namun, hasrat memunculkan kembali Yesus menyimpan begitu banyak kontroversi.  Persengketaan tersebut antara lain mengenai keutuhan DNA Yesus serta rahim siapa yang kelak mengandung Hosanna (keturunan Raja Daud) itu?
     Second Coming Project boleh berandai-andai bahwa sebuah benda arkeologis Kristus memiliki noda darah atau rambut Yesus.  Diperkirakan gumpalan darah atau rambut tersebut masih mengandung DNA alias penyusun materi genetik.
     Skenario penciptaan Mesias lalu dimulai.  Metode kloning yang diterapkan ialah mengambil satu sel awal berupa stem cell dari noda darah atau rambut Yesus.  Kemudian inti sel (nucleus) diangkat dari sel stem (sel dasar dari seluruh jaringan organ-organ tubuh).  Mekanisme selanjutnya yaitu menyiapkan sel telur dari sukarelawan wanita.
     Nukleus sebagai pusat tubuh sel telur yang berisi kromosom Yesus lantas disisipkan ke dalam sel telur.  Rangsangan elektris lalu mengaktifkan inti sel yang merupakan sumber materi genetik agar masuk ke sel telur.
     Pada hari kedua, percampuran nukleus dengan sel telur memungkinkan terjadinya embrio.  Di hari keempat, embrio mencapai tahap blastocyst.  Struktur non-prokreasi tanpa penetrasi alat kelamin itu yang bakal memunculkan bayi Yesus di zaman Nanobacteria.

Tiada Serupa Maria
     Pemilihan perempuan donator rahim juga mutlak memperoleh prioritas utama.  Sebab, proses uji coba dunia medis terhadap Kristus akan mewarnai rentetan peristiwa yang dilakoni umat manusia.  Second Coming Project menerangkan bahwa wanita yang melahirkan Yesus tidak wajib perawan.  Kalau itu yang dikehendaki, berarti banyak perempuan sehat jasmasi yang antre untuk mengandung bayi Yesus.
     Perkara yang menyeruak ialah, Bunda Maria (Maryam Aulia al-Bijzah binti Imran) yang melahirkan Yesus di masa Kaisar Tiberias bukan wanita sembarang.  Imran yang merupakan kakek Yesus adalah pemimpin ibadah bani Israil di Yerusalem.  Kemudian sejak masa kanak-kanak, Maria diasuh oleh Imam Agung Zakharia bin Berekhya (Nabi Zakariya), ayahanda Yohanes Sang Pembaptis (Nabi Yahya).
     Sebelum mengandung Yesus, maka, seluruh hidup Maria dipersembahkan buat keagungan Yang Ilahi. “Jiwaku memuliakan Tuhan, serta hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku” (Lukas 1: 46-47).  Bahkan, makanan dan minuman Maria juga didatangkan khusus dari langit.  Dari track record yang bertabur kuasa kasih tulus itulah, Kristus lahir di pinggir kota antik Nazareth.
     Curriculum vitae Bunda Maria sesungguhnya menjadi saksi, bahwa Isa Almasih merupakan keturunan suci.  Ia dilahirkan dari rahim perempuan yang mendapat perlindungan Tuhan Allah.  Apalagi, pengetahuan telah membuktikan bahwa buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
     Seorang ibu sangat menentukan alur kehidupan sang anak sejak dari konsepsinya.  Faktor genetika ibu teramat berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak.  Sebab, parameter kemahiran seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu.  Ada 23 kromosom dari ibu yang dinamakan kromosom XX.  Lantas tiap sel yang normal punya sekitar 40 ribu gen yang bakal menentukan spesifikasi seseorang.
     Menghadirkan Yesus lewat kloning, pada hakikatnya merupakan puncak kesintingan manusia di era semarak Alkitabiah.  Soalnya, kloning patut diduga memuat ratusan gen yang abnormal.  Jika DNA Putra Maria yang diambil ternyata rusak, lalu wanita yang melahirkan Sang Juru Selamat berperilaku mirip Ohola serta Oholiba (gadis maniak seks penjaja cinta di Mesir versi Yehezkiel 23: 4), maka, cuma kehancuran dunia yang akan terjadi.  Alhasil, kehidupan ribuan bayi Yesus hasil teknologi klon tidak mustahil bernasib tragis seperti Dolly.
     Domba hasil kreasi Ian Wilmut dan Keith Campbell tersebut, mengalami penuaan prematur, menderita kegemukan serta mengidap arthtritis. Padahal, Dolly lahir sesudah mengalami 247 kali percobaan.
     Diari kehidupan Dolly yang naas, diikuti pula oleh tikus klon.  Dari penelitian 12 tikus klon, rupanya sepuluh di antaranya mati muda lantaran tumor, pneumonia dan liver.

Makhluk Fotokopi
     Mengklon manusia, khususnya Kristus, bukan jawaban tepat demi tercapainya kedamaian di bumi.  Pasalnya, reproduksi insan lewat kloning pada dasarnya adalah sumber kerusakan.  Bencana yang ditimbulkan pun bakal mengganyang etika kebangunan rohani Kristiani.
     Implikasi etis teknologi kloning manusia justru membuat kehidupan kacau berantakan.  Apalagi, kalau DNA serta rahim donator mengalami gangguan, kerusakan atau salah perhitungan.
     Kelainan genetik bisa melecut terjadinya retardasi mental yang dikenal dengan istilah XLMR (X Link Mental Retardation).  Sisi negatif tersebut menimbulkan gangguan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.  Di samping itu, manusia klon juga tergolong makhluk tanpa orisinalitas.  Akibatnya, manusia fotokopi tersebut leluasa memantik konflik internal maupun antar-personal alias anti-sosial. Hingga, bukan Yesus yang datang, tetapi, makhluk serupa ciptaan Frankenstein yang tercabik asa serta aura imannya.
     Kehidupan yang normal, tenang dan mengarah ke peraduan anugerah kasih, akhirnya akan terkulai-lunglai oleh ulah sembrono Second Coming Project.  Mereka bernafsu besar menggandakan Yesus tanpa memikirkan efek negetif berskala gigantik yang mengintai kejam.
     Perkembangan biologi DNA serta high tech tanpa moral bakal mengeliminasi, mengisolasi, mendistorsi sekaligus memorak-porandakan manusia dan peradaban.  Maklum, Mesias-Mesias yang akan dilahirkan lewat proses kloning tidak bakal setara dengan kemuliaan Isa Almasih. “Sebab, orang-orang itu merupakan rasul-rasul palsu.  Pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus” (II Korintus 11:13).

(Gloria, edisi 209 Minggu ke IV Juli 2004)

Sabtu, 02 Juli 2011

Pria Hamil

Pria Hamil
Oleh Abdul Haris Booegies
     Arnold Schwarzenegger datang lagi. Sesudah melecehkan orang Arab lewat True Lies, kini peraih enam predikat Mr. Olympia itu kembali menggemparkan dalam Junior. Di film produksi Universal Pictures tersebut, dikisahkan kalau dr. Alex Hesse yang diperankan Arnold, bisa hamil. la mengandung benih manusia dari pasangan sehat setelah perutnya diganjal obat anti keguguran kandungan.
     Hikayat di layar perak itu mungkin sekadar lelucon Hollywood demi menghibur dunia yang beriklim pahit. Masalahnya, cerita fiksi tersebut dilengkapi fakta dari kesintingan rekayasa genetika. Dunia kedokteran membuktikan bahwa, untuk hamil sekaligus bersalin, orang tidak wajib punya rahim. Sebagai contoh, Margaret Martin dari Auckland bisa melahirkan bayi montok pada Mei 1979.  Padahal, delapan bulan sebelumnya, rahim wanita asal Selandia Baru itu sudah diangkat lewat operasi hysterectomy.
     Perkembangan sains dan teknologi, telah menuntun kreativitas manusia untuk bercanda dengan kenyataan pahit. Misalnya, Arlene Schweitzer, yang menggegerkan gara-gara melahirkan cucu kembarnya, Chad serta Chelsea. Nenek yang juga menyediakan rahimnya buat melahirkan benih anak dan menantunya ialah Patricia Anthony. Sebelumnya, kasus kontrak sewa rahim Mary Beth Whitehead yang dipinjamkan kepada pasangan Elizabeth serta William Stern, sempat mengguncang debat etika kehidupan. .
     Selain bayi tabung dan surrogate mother, sekarang muncul pula penciptaan embrio yang spesifik. Di Univesitas George Washington, telah ditemukan teknik melahirkan anak kembar yang lahir dalam tahun berbeda. Embrio mereka digandakan sebagai organisme baru yang secara genetik identik. Sebelah gumpalan sel prajanin tersebut ditanam dalam rahim untuk dilahirkan. Sedangkan duplikatnya disimpan dalam tabung berpendingin nitrogen cair.
     Belum senyap giang mengenai embrio yang dapat dibelah, tiba-tiba tersembul rekayasa embrio berdasarkan tingkat molekul untuk menentukan gender (jenis kelamin).  Peneliti di Universitas Chicago berhasi memisahkan suatu perubahan genetis dalam embrio dari kode XX (perempuan) menjadi struktur XY (laki-laki).  Transformasi jenis kelamin itu berlangsung ketika usia kehamilan berkisar antara 30 sampai 40 hari.
     Gemuruh dinamika teknologi rekayasa embrio, menegaskan bila era global dilanda pembusukan moral.  Sebab, pengembaraan rasio dalam menelusuri lorong-lorong semesta sains serta teknologi telah mengabaikan moralitas, humanitas dan spritualitas. Kelancangan manusia dalam mengutak-atik janin, sebenarnya merupakan episode horor yang merendahkan nilai-nilai kehidupan.
     Amerika yang dilandasi semangat kapitalisme berikut liberalisme, tertoreh sebagai kawasan yang sering diserbu eksperimen perihal janin manusia. Namun, percobaan abnormal tersebut, selalu dipatahkan kebijakan-kebijakan yang mengharamkan bibit manusia sebagai penelitian ilmiah. Awal Desember 1994, Presiden Bill Clinton malahan menolak beberapa aktivitas ilmiah terhadap embrio manusia setelah Komisi Penasehat Kesehatan Amerika merekomendasikan pendanaan untuk riset embrio manusia di luar rahim. Karena, berpotensi mencuatkan pertanyaan moral serta etika.  Presiden Emeritus Universitas John Hopkins, Dr. Steven Muller justru kebanjiran 50.000 surat yang sebagian mengecam dukungan pemerintah atas riset embrio manusia.
     Pada dasarnya, Arnold dalam Junior merupakan simbol sains dan teknologi yang memungkinkan manusia leluasa membongkar molekul janin sekaligus meracik mekanisme perubahan gender embrio.  Arnold pun memaklumkan bahwa di “Abad Setan” masa kini, manusia bebas bermain-main dengan laju daya nalar untuk melakukan manipulasi ilmiah atas karakteristik kehidupan. Fenomena itu, mengingatkan bahwa superioritas rasio, pada intinya membutuhkan partner berupa energi spiritual.  Sebab, banyak aspek etika moral maupun ajaran Ilahi yang gampang dilanggar oleh perkembangan sains serta teknologi.
     Pria pada hakekatnya adalah makhluk perkasa yang diciptakan untuk melindungi. Sementara wanita merupakan suatu anatomi lembut yang menebar romantisme kasih sayang. Kombinasi agung antara keperkasaan laki-laki dengan kelembutan perempuan itulah yang menghangatkan dunia dengan canda ria.  Hingga, jika kejantanan pria dikunci dengan rekayasa genetika (cangkok gen) guna melahirkan, maka peran laki-laki kehilangan elemen derajat dan intisari martabat. Karena, eksistensinya hangus sebagai pemimpin keluarga yang memberikan nafkah hidup. Sedangkan wanita dengan segala keluhuran serta kesuciannya, merupakan warga dunia yang diciptakan oleh al-Khalik sebagai makhluk dengan fungsi untuk melahirkan bayi-bayi sehat. Firman Allah: “Ia yang menjadikan kamu dari seorang saja. Dan menciptakan daripadanya istrinya, agar ia merasa senang bersama-sama. Sesudah mencampuri, maka, istrinya mengandung kandungan yang ringan. Dan berjalan dengannya ke mana-mana” (al-Araaf: 189).

(PANJI MASYARAKAT NO. 814 TAHUN XXXV, 28 RAJAB-9 SYA'BAN 1415, 1-10 JANUARI 1995)

Rabu, 08 Juni 2011

Agama dalam Arus Modernisasi

Agama dalam Arus Modernisasi


Oleh Abdul Haris Booegies

      Di masa kini, manusia berpijak pada era modernisasi. Sebuah tempo yang mengusung proses pergeseran hidup yang selaras dengan tuntutan zaman. Modernisasi menawarkan sejumlah peluang buat dicicipi dalam kehidupan.
      Hasil karya di segenap bidang kemudian melahirkan kemudahan. Sains dan teknologi, misalnya, mendorong munculnya banyak sarana serta modifikasi kehidupan. Hingga, manusia terjalin-berkelindan dalam komunitas global.
      Ruang lingkup modernisasi sebenarnya mencakup banyak aspek. Istilah modernisasi awalnya bergema di Barat. Kala itu, jemaat Kristen merespons pertentangan antara ilmu dengan agama.
      Tafsir modernisasi akhirnya selalu dipertautkan dengan adanya perubahan-perubahan besar di bidang ideologi, budaya, sosial, ekonomi atau seni. Di masa sekarang, terjadinya pergeseran visi banyak ditentukan oleh revolusi sains dan teknologi. Akibatnya, batas negara seolah sirna. Lompatan modal, umpamanya, lincah bergerak ke tiap mandala buana. Sebab, ekonomi tak punya negara.
      Di era telematika ini, terhampar rupa-rupa kemajuan nan pesat. Elektron yang dikembangkan oleh James Clerk Maxwell pada 1897, kini menjadi dasar seluruh peradaban berbasis teknologi.
      Deru saintifikasi akan memuncak dengan kehadiran robot yang dinamakan humanoid. Robot itu bakal merajalela lantaran corak berpikirnya yang otonom.
      Senjakala sains maupun teknologi kelak ditandai oleh sinergi antara mekanika kuantum dengan teori relativitas umum. Stephen Hawking berteori bahwa paduan tersebut menghasilkan Theory of Everything (TOE). Hatta, manusia bisa membaca pikiran tuhan.
      Segala teori diprediksi berakhir dengan kemunculan TOE. Modernisasi pun sontak wafat. Karena, itulah masa yang disebut the end of science.
      Zaman humanoid belum tiba. Sementara gagasan linglung TOE justru memekakkan akal budi.
      Di era multi-touch ini, sains serta teknologi sesungguhnya berpeluang mendorong semarak nilai-nilai ilahi dalam diri manusia. Sebab, dekade digital di alam modernisasi mampu menyediakan aneka sarana bagi ibadah.
      Di awal masa Islam, kaum Muslim kesulitan menentukan waktu shalat. Sekarang, tersedia gadget (piranti krusial produktivitas dan komunikasi) yang dapat mengingatkan jadwal sembahyang di mana saja kaki berpijak. Semua serba praktis berkat multi-touch di zaman information superhighway.
      Fenomena yang kini membuncah menunjukkan bahwa modernisasi sejalan dengan proses ibadah. Kesibukan diimbangi kecepatan. Sedangkan kecepatan melahirkan banyak kesempatan. Walhasil, tersedia waktu sekaligus sarana guna berkomunikasi transendental dengan Allah, pemilik segenap ilmu.


Abdul Haris Booegies, Peminat Masalah Agama

(Majalah Expose edisi perdana)

Amazing People