Label

Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2023

Bioskop Paramount


Bioskop Paramount
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada awal 1983, moviegoer di Ujung Pandang pantas lega sekaligus tersenyum puas.  Ada bioskop baru bernama Paramount Theatre.
     Bioskop ini cukup unik.  Sebab, berada di lantai dua.  Lantai bawah berfungsi tempat parkir.  Paramount yang terletak di Jalan Gunung Bulusaraung (Jalan Jenderal M Jusuf), memiliki dua tangga.  Di depan melintang tangga utama selebar tiga meter.  Di sisi Barat dinding lahan parkir, menempel pula tangga selebar satu meter.  Tangga ini jarang diketahui, kecuali penonton yang sering ke Paramount.  Apalagi, juru parkir kerap mengarahkan untuk menggunakan tangga utama di depan.
     Paramount bersaudara dengan bioskop Dewi, sama-sama ditangani oleh pengusaha berdarah India.  Dewi merupakan bioskop spesialis Bollywood.  Sekitar awal 90-an, Dewi-Paramount membeli bioskop Jaya.  Sejak itu, Jaya tidak lagi memutar film silat Mandarin.  Film yang main di Jaya didominasi Barat.  Secara perlahan, wajah Jaya berubah.  Sekilas, bukan lagi bioskop kelas bawah, tetapi, menengah ke atas.  Baliho di depan Jaya senantiasa tampil dengan wanita berpenampilan hot.
     Ciri khas Paramount ialah film Barat.  Di bioskop inilah saya menonton Star Wars.  Film box office yang seru ini memble di Indonesia.  Musababnya, dianggap film anak-anak.
     Di awal keberadaan Paramount, banyak film bermutu diputar.  Pada Kamis, 2 Juni 1983, saya nonton First Blood.  Pada Jumat, 29 Juli 1983, menyaksikan The Gods Must be Crazy.
     Lambat-laun, Paramount jeli menjaring penonton.  Bioskop ini menayangkan film-film yang dibintangi Edwige Fenech.  Rata-rata film Edwige Fenech tidak memakai BH (bustehouder) serta CD (celana dalam).  Di era 80-an, Edwige Fenech bersama Gloria Guida begitu populer di Ujung Pandang.  Keduanya artis Italia yang doyan berlakon mesum di pita seluloid.
     Pada 1 Januari 1984, saya nonton Angel Face Killer di Paramount.  Film ini menampilkan banyak adegan buka dada.  Ada tokoh bernama Lady White yang seolah alergi memakai kutang.  Ia juga tak mengenakan cawat.  Untung mulus sekali, berkilau.
     Di tarikh 2022 kala meracik artikel Santri Sultan, saya sempat mencari data Angel Face Killer di Google.  Tidak tersua.  Berarti judul film ini bukan asli, namun, jadi-jadian.  Sepertinya judul film tersebut buatan importir yang memasukkan film ke Indonesia.  Saya sengaja mengutak-atik Internet karena penasaran dengan pemeran Lady White.  Menurut seorang rekan moviegoer yang masih kelas II SMP, payudaranya seronok.  38 tahun silam, bocah tersebut tidak bisa tidur membayangkan tetek sensual Lady White.
     Di malam Ahad saat midnight show, Paramount selalu banjir penonton.  Maklum, film yang diputar senantiasa merangsang naluri kebinatangan.  Banyak adegan ranjang yang membuat lelaki binal ngos-ngosan.  Gairah erotisisme memuncak.
     Pernah Paramount penuh, sementara calon penonton masih tersisa lebih 100.  Akhirnya, calon penonton itu digiring ke bioskop Dewi.  Tiap 15 menit, rol film di Paramount dibawa ke Dewi untuk diputar demi kepuasan lebih 100 penonton bermental genit.  Paramount panen rezeki.
     Bioskop di Ujung Pandang akhirnya mengalami sakratulmaut menjelang tahun 2000.  DVD bajakan leluasa diperjualbelikan.  Akibatnya, orang malas ke bioskop.  Kini, Paramount lenyap dari perabadan baru, tetapi, kenangannya tak musnah.  Paramount tetap lestari dalam nostalgia.


Bioskop Jaya


Bioskop Jaya
Oleh Abdul Haris Booegies

     Bioskop Jaya merupakan bioskop favorit santri IMMIM era 80-an.  Letak bioskop ini sangat strategis bagi santri.  Sebab, Jaya berada di Jalan Gunung Bulusaraung (kini Jalan Jenderal M Yusuf).  Begitu keluar bioskop, bisa langsung menunggu mikrolet (petepete) untuk balik ke kampus.
     Di sisi Timur bioskop, ada penjual coto maupun sop saudara sejak siang sampai malam.  Santri dengan kelebihan duit, terkadang singgah sebelum pulang ke pondok.
     Bioskop Jaya sering memutar film silat.  Film yang dibintangi Jacky Chan kerap diputar di sini.
     Keistimewaan Jaya yakni punya jadwal pemutaran empat kali.  Pukul 14.30, 17.00, 19.30 dan 22.00.
     Keunggulan lain yaitu tempat duduk dari kayu dengan anyaman rotan.  Lumayan, duduk dua jam menyaksikan film.  Begitu keluar bioskop, pantat rasanya tepos.
     Ada lagi keutamaan Jaya.  Film jeda di pertengahan.  Paling apes bila protagonis serta antagonis sedang bertarung, tiba-tiba lampu menyala dalam gedung.  Di layar tertulis "intermeso", waktu untuk istirahat.
     Sebagian penonton bergegas ke arah dua pintu samping di sebelah Timur.  Ada yang pipis, ada pula jajan.  Di kios mini yang terbuat dari papan, tersedia rokok, es lilin (es manis sebesar ibu jari yang dibungkus plastik), jalangkote serta kacang (langkose).  Sementara penonton lain tetap di tempat duduk.  Tidak jarang ada yang menggerutu.  Tengah asyik nonton, mendadak istirahat.
     Keluhan senyap penonton tentu saja pengap.  Bioskop ini tak punya kipas, apalagi AC.  Namanya juga bioskop kelas bawah.  Sirkulasi udara yang minim, makin parah karena asap rokok.  Penonton bebas merokok.  Akibatnya, ruang dalam gedung, berasap.  Sumpek sekali.  Saya pernah membuka baju sepanjang film diputar.  Untung tidak membuka celana.
     Kendati Jaya berstandar pas-pasan, namun, penonton acap berjubel.  Tentu dari kalangan menengah ke bawah.  Semua berkat karcis yang termasuk murah.  HTM (harga tanda masuk) dibanderol Rp 350.
     Jangan kaget, penonton di bioskop ini mirip di pedalaman.  Jika jagoan datang, penonton pun bergemuruh, bersorak-sorai.  "Datang mi tolo'na!  Eya...!  Eya...!  (hore, jagoan sudah muncul)"  Sebagian penonton bertepuk tangan.  Biking malu-malu sekali biasa kalau begitu ki.  I de e...


Amazing People