Label

Tampilkan postingan dengan label Hijrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hijrah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Mei 2014

Hijrah ala Star Trek




Refleksi Hikmah
Hijrah Nabi Muhammad
27 November 2011

Hijrah ala
Star Trek
Oleh Abdul Haris Booegies
     Di malam bertabur bintang-gemintang, Nabi Muhammad bersama Abu Bakar meninggalkan Mekah.  Sejarah menukilkan kalau perpindahan itu terjadi pada Senin, 16 September 622 Masehi (1 Rabiul-Awwal tarikh ke-14 Nubuwwah).  Kepergian  Rasulullah kemudian mashur sebagai hijrah.

     Nabi Muhammad meninggalkan Mekah lantaran gangguan punggawa-punggawa etnis Quraisy makin brutal.  Perniagaan umat Islam diboikot.  Ekonomi di kalangan kaum Muslim akhirnya lumpuh.  Sebagian umat Islam akhirnya menyingkir ke lereng-lereng gunung cadas.  Derita kian tak terperi akibat tiada pasokan makanan.

     Kebiadaban pemuka Quraisy sudah teramat keterlaluan.  Bukan cuma kaum Muslim yang terancam nyawanya.  Rasulullah saja telah direkomendasikan untuk dibunuh.

     Eksodus menuju ke bandar lain dipilih sebagai solusi oleh Nabi Muhammad.  Ia bergerak ke Yastrib, kota sejuk dengan pohon-pohon kurma nan rindang.  Penghidupan serta suasana baru lebih menjanjikan di Yastrib.

     Pada esensinya, hijrah Rasulullah ialah untuk pengembangan syiar Islam.  Di Mekah, Islam repot berkembang.  Sebab, Ummul Qura direcoki berhala.  Ka’bah bukan lagi wadah ibadah suci, tetapi, altar arca.

     Hijrah juga berdimensi eksplorasi koloni baru.  Di Mekah, bisnis umat Islam dimatikan.  Kini, sistem baru hendak digaungkan di Yastrib.  Pranata sosial dan politik segera diberlakukan sesuai ikon-ikon agama terakhir Allah.

     Pembukaan kawasan baru di Yastrib berjalan lancar berkat sinergi antara Muhajirin dengan Anshar.  Yastrib pun berubah nama menjadi Medinah.  Kota di tengah gurun tersebut akhirnya bersinar benderang.  Di Medinah tidak ada istana atau armada perang.  Kota itu bercahaya justru oleh kesederhanaan serta kesetiakawanan.  Kaum Muslim bahu-membahu membangun peradaban baru.

     Hijrah yang dilakoni oleh Nabi Muhammad bakal menjadi trend di dekade mendatang (2010-2020).  Kampanye mencari dunia baru akan bergiang-nyaring.  Pasalnya, pemanasan global sudah merusak ekosistem di bumi.  Huru-hara bencana alam gara-gara keserakahan manusia telah banyak menelan korban.



An-Naml 40

     Hijrah menunjukkan jika bumi Allah sangat luas.  Bila seseorang merasa sumpek di suatu wilayah, maka, ia dipersilakan mencari daerah lain.  Apalagi, bukan hanya bumi yang membentang luas.  Angkasa pun menjulur ke mana-mana tak bertepi.

     Dewasa ini, teleskop mutakhir menengarai kalau langit dihuni 300 miliar galaksi.  Satu dasawarsa ke depan, teleskop tarikh 2021 pasti memperlihatkan jumlah galaksi yang lebih banyak lagi.  Maklum, teleskop makin canggih sekaligus sensitif menangkap sinyal.

     Mengapa Allah menciptakan begitu banyak galaksi?  Mengelilingi galaksi Bima Sakti saja repotnya setengah mati.  Pesawat jet sekarang perlu 100 miliar tahun buat mengelilingi pinggiran Bima Sakti.  Jutaan generasi dilahirkan untuk sampai kembali ke titik awal perjalanan.

     Hikmah perihal langit yang sarat miliaran galaksi yakni tantangan bagi sains dan teknologi.  Bukan hal mustahil jika kelak manusia bakal berada di galaksi lain.  Dalam al-Quran, ada ayat yang memaparkan bila benda tidak terhambat oleh jarak.  Ruang serta waktu bukan halangan.

     “Bersabda seorang yang punya pengetahuan dari Kitab Allah: Saya akan membawa singgasana tersebut kepada kamu sebelum matamu berkedip” (an-Naml: 40).

     Pemilik ilmu Taurat serta Zabur itu cuma butuh 250 milidetik untuk membawa takhta Ratu Bulqis ke istana Nabi Sulaiman.  Padahal, jarak negeri Saba dengan Baitul Maqdis mencapai 2.000 km.  Di periode Google-Yahoo ini, teks “an-Naml 40”, sejalan dengan spirit fisika quantum.  Kini, sejumlah resi fisika mencurahkan tenaga guna merealisasikan teleport.

     Istilah “teleport” pertama kali diperkenalkan oleh penulis Amerika Serikat Charles Fort pada 1931.  Teleport merupakan gabungan dua kata.  Tele (jauh) dari bahasa Yunani.  Sementara portare (membawa) dari bahasa Latin.

     Sebagaimana dimaklumi, teleport adalah alat pemindah manusia dan benda di Star Trek versi klasik the original series.  Serial televisi tersebut tayang di AS pada 1966-1969.  Dalam fisika, teleport diklaim menciptakan replika suatu objek asli untuk dipindahkan.  Cara kerjanya yaitu mengurai objek menjadi partikel terkecil.  Energinya lalu diarahkan ke lokasi yang ingin dituju.  Ketika tiba, partikel terkecil itu disusun ulang.

     Dalam Star Trek versi televisi atau film, teleport dapat memindahkan awak USS Enterprise ke mana saja.  Secara teori, aspek tersebut muskil dipraktikkan.  Tidak mungkin teleport bisa menghancurkan tubuh manusia lantas merakit kembali di tempat tujuan.  Soalnya, struktur raga manusia berbeda dengan konstruksi benda.  Apalagi, manusia punya jiwa.  Walau demikian, orang tetap dapat ke galaksi mana saja.  Obsesi itu tak lepas dari film-film Star Trek yang sekarang sudah mencapai 11 sekuel.



Warp Drive Engine

     Di film Star Trek, terlihat kalau kapal Enterprise memiliki daya dorong Warp.  Pesawat tersebut menggunakan Warp Bubble yang dihasilkan oleh Warp Engine.  Warp Bubble merupakan sebuah medan di sekitar pesawat yang mengurung ruang maupun waktu.  Warp Bubble membuat void di depan pesawat.  Kemudian menumpuk space di belakang pesawat.  Alhasil, pesawat dengan sendirinya bergerak ke depan berkat tersedot oleh void di depan.  Sedangkan tumpukan space di belakang mendorongnya maju.  Pesawat akhirnya melaju kencang melebihi kecepatan cahaya.

     Suatu waktu nanti, NASA bisa merancang Starship (pesawat cahaya) dengan Warp 9,9.   Hal itu berarti bahwa pesawat dapat melesat empat miliar mil (6,44 miliar km) per detik.  Hingga, orang bisa melanglang antar-galaksi.  Dewasa ini, NASA tengah merancang metode baru pendorong pesawat ruang angkasa.  Sistem pendorong yang diyakini 10 kali kecepatan pesawat luar angkasa tersebut dinamakan M2P2 (Mini-Magnetospheric Plasma Propulsion).

     Star Trek jelas science fiction gubahan Gene Roddenberry.   Biarpun fiksi ilmiah, namun, imajinasi itu dapat menjadi fakta dalam kehidupan.  Pada 1994, saintis Miguel Alcubierre bertitah jika kecepatan di atas cahaya dimungkinkan secara teoritis.  Fase tersebut bisa terjadi dengan memakai Warp Drive Engine.  Mesin itu andal melengkungkan ruang serta waktu.

     Energi yang diserap Warp Drive Engine pasti teramat besar.  Bumi dengan kekayaan alamnya tentu tidak memadai.  Jumlah energi yang diperlukan dapat mencapai massa sebuah bintang yang dikonversikan menjadi daya dorong.  Kendati Warp Drive Engine lahap energi, tetapi, semua bisa diatur.  Sebab, teleport memudahkan pengangkutan massa sebuah bintang yang telah diolah menjadi bahan bakar Starship.

     Pada 21 April 2008, astrofisikawan Stephen Hawking menyerukan era baru penaklukan antariksa.  Ia menegaskan bahwa menyebar ke cakrawala bakal membawa dampak besar.  Bahkan, mengubah sama sekali masa depan manusia.  Penjelajahan tersebut akan memberikan perspektif baru tentang benda-benda langit.   Ia berharap pengembaraan itu berpeluang mempersatukan penduduk bumi dalam menghadapi tantangan bersama.

     Hijrah ke galaksi tetangga kelak bukan khayalan.  Pada tahun 2033, teleport dan Starship bakal memungkinkan manusia menjajaki galaksi lain demi mencari penghidupan serta suasana baru.
      “Pada penciptaan langit dan bumi.  Pergantian malam dengan siang.  Pada bahtera yang berlayar di laut sembari memuat barang bermanfaat bagi manusia.  Kemudian hujan yang diturunkan Allah dari langit.  Tuhan menghidupkan bumi dengan air sesudah kering-kerontang.  Ia membiakkan di bumi segala jenis hewan.  Lantas terjadi perkisaran angin serta awan yang dikendalikan langit dengan bumi.  Semua itu mengandung kode-kode kekuasaan Allah bagi kalangan berpikir” (al-Baqarah:164).















Rabu, 06 November 2013

Hijrah dalam Konteks Indonesia

Hijrah dalam Konteks Indonesia

Oleh Abdul Haris Booegies

     Hijrah Nabi Muhammad ialah mencari tanah subur untuk tanaman bernama Islam.  Struktur Islam bukan sekedar aturan antara Tuhan dengan manusia.  Islam mencakup aspek sosial, politik, ekonomi, militer dan pengetahuan.

     Dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah tidak membuahkan hasil maksimal di Mekah.  Apalagi, Kakbah sudah begitu parah oleh bermacam sesembahan nista.  Sekitar 360 patung bersemayam di Kakbah, termasuk lukisan tentang malaikat.  Elemen itu pula yang membuat puak Yahudi ogah menetap di Mekah.  Bani Israil yang percaya the One True God repot menerima kultur Arab yang meyakini banyak tuhan.  Yahudi yang doyan menyiksa seraya membunuh nabi tetap mengakui Tuhan yang disembah Nabi Ibrahim, Nabi Yakub atau Nabi Musa.
     Nabi Muhammad akhirnya hijrah menuju ke Medinah.  Eksodus tersebut menjadi tonggak kegemilangan Islam.  Kaum Muslim yang semula lemah sontak bermetamorfosis kuat.
     Kode etik tata sosial diberlakukan.  Masyarakat baru itu saling mengisi.  Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.
     Ada dua faktor yang menentukan keberhasilan Islam dalam membangun peradaban baru di Medinah.  Pertama, sosok Rasulullah sebagai pemimpin.  Kedua, masyarakat yang mampu mengaplikasikan kehendak pemimpin.  Mereka melandasi diri dengan asas “sami’na wa atha’na” (kami mendengar sambil menaati).
     Saling mengerti posisi masing-masing membuat Islam punya ruang untuk berkarya.  Figur Nabi Muhammad sebagai pemimpin sanggup mewarnai segenap sendi kehidupan.  Dengan watak kepemimpinan yang tegas, maka, peradaban Islam pun menggema ke seluruh kolong langit.
     Medinah menjadi cahaya benderang bagi aneka budaya.  Bangsa yang ditaklukkan tak dihancurkan.  Mereka justru diberi peluang hidup sejajar dengan warga lain.  Ekspedisi serta eksplorasi Islam tidak menghukum, namun, membangun.

Atensi Intensi
     Spirit hijrah merupakan saripati yang layak digulirkan di Indonesia.  Petaka yang merajam negeri ini seyogianya menyadarkan kita untuk segera hijrah.  Rakyat Indonesia harus bersatu untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.
     Modal untuk menata diri yakni mematuhi pemimpin.  Seorang pemimpin diikuti jika ia memiliki semangat pendorong.
     Pada 4 Desember 2010, di acara Asia 21 Young Leaders Summit, Veronica Colondam membahas karakter pemimpin.  CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa tersebut memaparkan bila pemimpin butuh dua kategori yaitu atensi dan intensi.
     Pemimpin mesti peduli pekerjaan yang dilakukannya serta lingkungan sekitarnya atau punya atensi.  Kemudian pemimpin harus berkomitmen dan konsisten menangani problem alias memiliki intensi.
     Pemimpin yang baik mesti mampu menciptakan serta mengimplementasikan program dan regulasi.  Dengan demikian, negara ini memerlukan pemimpin cerdas untuk merekonstruksi nilai, norma sekaligus perilaku budaya.  Pasalnya, selama ini masyarakat terpukau tradisi, budaya dan sistem sosial dari luar.
     Pemimpin tidak sepatutnya berupaya mempertahankan dominasi kekuasaannya dengan mengabaikan rakyat.  Tak pantas penguasa sibuk terus dengan persoalan politik, koalisi, pemilu serta pilkada.  Akibatnya, kemiskinan dan kesehatan masyarakat terabaikan.  Di sisi lain, pemberantasan korupsi makin susut energinya.  Pemerintah dianggap tidak serius menghajar koruptor yang kian terkonsolidasi.
     Pejabat  publik ogah kapok mencoleng uang negara.  Mentalitas aparatur negara sungguh memprihatinkan.  Komisi Pemberantasan Korupsi berulang kali menangkap tangan pejabat eksekutif, legislatif maupun yudikatif.  Mereka rupanya tiada sudi jera.  Begitulah kondisi pejabat yang berjiwa tikus minus malu.
     Dewasa ini, masalah paling gawat tiada lain lumpur panas Lapindo.  Ribuan orang menderita di Sidoarjo, tetapi, elite politik sepertinya menutup mata, menutup telinga.  Di mana tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya yang dizalimi sekelompok pengusaha?
     Pemimpin yang tak punya komitmen kemanusiaan seolah mempertegas tabiat bangsa ini.  Kepekaan terhadap sesama manusia terasa makin luntur.  Aksi massa beringas nyaris terjadi saban waktu.  Bentrok antar-kelompok kerap menimbulkan korban jiwa.  Masyarakat kecanduan melakukan tindak brutal demi menuntaskan persoalan.  Kebangsaan Indonesia kian mencemaskan karena berkembang ke arah masyarakat yang rentan retak.  DPR, umpamanya, merancang pelbagai program.  Di sisi lain, masyarakat justru menanggapinya secara negatif.  Di tengah bangsa yang resah ini, berkembang rasa tidak percaya terhadap pemerintah, antar-instansi atau antar-warga.
     Semua seolah lupa kalau negeri ini dilandasi empat pilar kebangsaan.  Asas ideal guna menjaga kemajemukan bangsa adalah Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Nakhoda Teladan
     Pemimpin yang tak memiliki komitmen terhadap nilai kebangsaan pasti terus dirundung nestapa.  Apalagi, perubahan cepat nian berlangsung.  Tuntutan situasi yang tidak segera ditangani akan menenggelamkan popularitas pemimpin.  Bahkan, dianggap mati dalam arti sesungguhnya.
     Pemimpin kharismatik di masa sekarang harus punya visi kuat.  Ia mesti memiliki komitmen terhadap keadilan transisi, peran masyarakat sipil, pemberantasan korupsi, ekonomi hijau, ekologi, kebebasan berkomunikasi, pemberdayaan wanita, kesenian dan kebudayaan.  Oligarki politik Orba yang menggurita di segala bidang kekuasaan harus selekasnya didegradasi
     Negara ini butuh nakhoda yang bisa memberi teladan.  Pemimpin yang tak segan turun ke tengah rakyatnya untuk bahu-membahu membangun negeri.  Pemegang tampuk kekuasaan yang rela berdampingan dengan rakyatnya di lintasan kehidupan sarat pergolakan.  Fenomena yang terpampang justru solidaritas antar-elite politik yudikatif, legislatif serta eksekutif makin terkikis
     Pemimpin yang baik sebenarnya merupakan guru keluhuran.  Ia bukan sekedar peretas jalan yang penuh pahit-getir kehidupan.  Ia juga pendorong dan penolong dalam merintis lorong gelap menuju kejayaan.
     Rasulullah tidak langsung hijrah meninggalkan Mekah.  Ia tetap menetap sembari mendorong umat Islam ke Medinah.  Tatkala pengikutnya telah menghuni Medinah, maka, Nabi Muhammad segera hijrah.
     Di Medinah, Rasulullah menjadi pusat program serta regulasi.  Ia membangun masjid tak berlaku mandor, namun, turut sebagai kuli.  Hamzah, paman beliau, sampai geleng-geleng kepala.  Batu yang diangkat oleh Nabi Muhammad diraihnya.  Ia meminta sang Maha Rasul itu istirahat.
     Konfigurasi watak yang ditunjukkan Nabi Muhammad ialah pemimpin dan pengikut mesti saling mengisi.  Pemimpin tidak selayaknya ongkang-ongkang kaki sesudah merilis aturan.  Pemimpin merupakan refleksi dari program serta regulasi yang ditekennya.  Dengan demikian, figur tokoh bersangkutan enteng memotivasi menggapai kejayaan.







Sabtu, 04 Juni 2011

Hijrah Melahirkan Insan Indonesia Baru


Hijrah Melahirkan Insan Indonesia Baru

(Refleksi Historis Hijrah Nabi Muhammad SAW 10 Januari 2008)

Oleh Abdul Haris Booegies

     Sekitar tahun 4300 sebelum Masehi, berderak hijrah pertama yang dipimpin Nabi Idris AS.  Pada periode itu, deru peradaban awal sedang bergemuruh.  Nabi Idris sebagai intelektual jenius merupakan tokoh di balik pembangunan 188 kota.  Selain pakar tata kota, ia juga tertoreh sebagai ahli sosiologi pertama.
     Di suatu hari, Nabi Idris menakhodai seribu orang meninggalkan Babilonia menuju ke sebuah kawasan bernama Mesir.  Wilayah tersebut subur nian berkat adanya sungai Nil.  Dengan change management skills, Nabi Idris andal mengelola perubahan di Mesir antik.
     Pada tahun 1447 sebelum Masehi, Nabi Musa AS meninggalkan Mesir.  Ia hijrah bersama bani Israil untuk mencari tanah yang dijanjikan.  Nabi Musa sangat kewalahan memimpin orang Yahudi.  Sebab, keturunan Yehuza bin Nabi Yaqub AS itu teramat bebal, keras kepala dan penakut.
     Saat Nabi Musa hendak membawanya masuk ke negeri Bait al-Maqdis (Jerusalem), maka, mereka merinding.  Karena, penduduk Jabbariyin (individu kuat sekaligus kejam) yang penyembah berhala terlihat berpostur ala Goliath.  Mereka merupakan sisa etnis Hithith.
     “Hai Musa, sebetulnya Fir’aun lebih ringan bagi kami ketimbang Jabbariyin”, bentak kaum Yahudi.  Nabi Musa akhirnya masuk ke Bait al-Maqdis hanya diiringi beberapa insan beriman.  Mereka lalu berhasil mengusir Jabbariyin.  Segelintir umat Nabi Musa yang tabah tersebut kemudian hidup makmur.  Sementara mayoritas yang menolak mengikuti Nabi Musa justru tersesat.
     “Sungguh, negeri itu diharamkan atas mereka selama 40 tahun.  Dengan demikian, mereka bakal berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tih).  Jangan kamu bersedih hati memikirkan nasib komunitas durhaka tersebut” (al-Maidah: 26).
     Pada Senin, 16 September 622 Masehi (1 Rabiul-Awal tarikh ke-14 nubuwwah), hijrah paling fantastis, agung serta terakhir dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.  Andai eksodus itu gagal, maka, penyembahan terhadap Allah akan stagnan.  Ruwetnya hijrah tersebut lantaran suku Quraisy menginginkan kematian Rasulullah.  Apalagi, musuh utama Nabi Muhammad tiada lain Abu Lahab, pamannya sendiri.  Lawan tangguh lainnya yaitu Abu Jahal.  Pribadi gangster Mecca itu ditengarai berwatak kasar.  Ia memiliki pula mata setajam elang dengan mulut yang cerewet mencaci-maki.
     Sejarah akhirnya mencatat jika hijrah yang dilakoni Rasulullah mendulang sukses spektakuler.  Pasca-hijrah, publik Arabia yang dibekap era Jahiliah kontan bersepuh kejayaan.  Semangat mandiri menggelegak guna merestrukturisasi kondisi hampa menjadi bernas.  Identitas klan bersalin rupa sebagai umat.  Tiada lagi hukum kafilah yang tidak menghargai modal sosial (social capital) berupa visi dan praktik bermasyarakat.  Semua tunduk di bawah naungan sinar Ilahi.

Kondom Ilegal
     Hijrah melahirkan masyarakat baru di Medinah.  Aturan Tuhan pun turun-beruntun dari langit.  Di sisi lain, komunitas Muhajirin bersama Anshar bertekad menyongsong masa depan gemilang.  Tekad umat Islam yakni hidup damai sejahtera.
     Kini, sukma suci hijrah seyogianya dihembuskan di bumi Pertiwi ini.  Sebab, Indonesia didiami oleh manusia yang sangat memprihatinkan.  Figur mereka teramat kritis di tengah lilitan keterbelakangan, kemiskinan serta kebodohan.  Emosi mudah tersulut.  Tangan gampang menggampar.  Kaki seenaknya menendang.  Mulut enteng mengolok-olok.  Sedangkan hati senantiasa berdusta.
     Pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, budayawan-jurnalis Mochtar Lubis memaparkan enam identitas manusia Indonesia.  Ciri orang Indonesia ialah munafik.  Lain di mulut lain di hati.  Lantas enggan bertanggung jawab atas perbuatannya.  Lalu berwatak feodal.  Sosok selanjutnya adalah doyan takhyul, mistik atau klenik.  Alhasil, ajaran kebatinan laku keras di era cyberspace ini.
     Potret buram manusia Indonesia yang lain yaitu artistik.  Bangsa Indonesia hidup berasas perasaan.  Sementara jati diri terakhir tiada lain berwatak lemah.  Semangat kompetitif mereka di pasar bebas terlihat melempem.  Begitu rapuhnya posisi Indonesia, sampai tak berkutik kala dikirimi kondom bekas satu kontainer dari Jerman pada pertengahan Desember 2007.  Di pengujung 2007, kembali zamrud khatulistiwa ini mendapat kiriman kondom ilegal seberat 26 ton yang mengandung limbah beracun B-3. 
     Sebelum kondom, Indonesia kewalahan menghadapi Malaysia.  Pasalnya, mereka mengklaim kalau lagu Rasa Sayange, reog, sate, jamu, layang-layang dan batik sebagai warisan asli Malaysia.  Bahkan, astronot pertama Malaysia berpetualang di angkasa dengan tema: “Batik in Space”.
     Carut-marut identitas orang Indonesia kemudian ditambah oleh Budiarto Shambazy.  Alkisah, pada 2 dan 5 Juli 2005, wartawan senior sebuah koran nasional tersebut menegaskan sifat tercela manusia Indonesia.  Pertama, senang bernostalgia.  Orang suka membandingkan sebuah zaman dengan era yang lain.  Kedua, cepat marah.  Gampang meledak oleh hal yang remeh.  Hati insan Indonesia seolah berpijak pada premis: “Please don’t make me kill you!”  Ketiga, tukang lego alias doyan menjual barang.  Hatta, jangan heran bila arca peninggalan Mataram kuno abad ke-7, bisa raib dari Museum Radya Pustaka di Surakarta.  Pulau malahan dijual juga ke warga negara asing.
     Di bidang politik, perilaku manusia Indonesia lebih bopeng lagi.  Pada 10 Februari 2007, Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Ma’arif bertutur jika politisi Indonesia berwajah buruk.  Di samping melakukan politik uang, perilakunya berbeda pula dengan yang dikatakan.  Moral etika politik nasional masih rendah.  Mereka cuma pintar beretorika.

Fundamen Moral
     Stigma masyarakat Indonesia makin parah lantaran mereka kehilangan nasionalisme.  Perasaan kebangsaan telah lenyap seiring maraknya petaka yang melaknat.  Max Lang, Indonesianis dari Universitas Sydney Australia menyayangkan nasionalisme Indonesia yang lemah.  Akibatnya, aset Indonesia banyak dikuasai pihak asing.  Rakyat tak punya apa-apa lantaran segelintir pihak yang memiliki jabatan penting leluasa menjual rupa-rupa aset Indonesia.
     Tak ada beleid yang diparaf nurani untuk hidup rukun sebagai sebuah bangsa majemuk terbesar di dunia.  Negara bangsa yang menghimpun sekitar 400 puak ini, tak punya cita-cita serta dorongan buat maju guna menjaga keseimbangan homogenitas sekaligus pluralistik.  Apalagi, fundamen moral sudah terkikis.
     Indoktrinasi yang pernah dipaksakan oleh Orde Baru seperti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) maupun upacara bendera tiap Senin, rupanya gagal total.  Warisan Orde Baru hanya sejarah kelam.  Sekarang, beban kian berat.  Karena, bayang-bayang maut di ranah gemah ripah loh jinawi ini, begitu menciutkan nyali.  Ibarat kata, tak ada lagi mandala aman.  Apalagi, rakyat selalu menjadi korban dari kekuasaan.  Pembangunan memaksa warga terpental dari arena kesejahteraan.  Mereka cuma menjadi sasaran empuk yang tak berdaya diinjak-injak oleh birokrasi pemerintah.
     Negara tak mampu melindungi serta menghidupi rakyat.  Dewasa ini, tercantum 2,8 juta anak usia sekolah terpaksa putus sekolah.  Ironisnya, mereka menjadi pekerja anak.  Bahkan, Bank Dunia mencatat bahwa 49,5 persen penduduk Indonesia hidup dalam kondisi miskin.  Akibatnya, tidak sedikit yang kabur ke negeri jiran mencari peruntungan.  Sebagai tenaga kerja, mereka terpaksa memendam perasaan minderwaardig (rendah diri) sembari rela dipukuli di Malaysia.  Wajah boleh lebam dan bonyok, yang penting ringgit bisa dikirim ke sanak saudara di Indonesia.

Figur Visioner
     Insan Indonesia yang terhempas dalam ragam kesialan, sebetulnya butuh sosok kuat.  Kehadiran tokoh berkharisma itu yang bakal mendorong bangsa ini untuk hijrah.  Rakyat Indonesia wajib bereksodus meninggalkan segenap tabiat negatif.  Sebab, telah lama perilaku tidak terpuji menghambat Indonesia dalam berkompetisi di era neokapitalisme global.  Bangsa ini terbelenggu kepicikan sampai tak sanggup menjadi gergasi Asia semacam Tiongkok maupun India.  Simpul-simpul perekat keindonesiaan seolah hanya mitos yang muskil dirajut.
     Dalam Islam, individu bersangkutan yang mutlak mereformasi diri.  Tidak patut menanti uluran tangan orang lain untuk memberdayakan potensi.  Amerika Serikat tak mungkin mengubah Indonesia menjadi negara mandiri.  Paman Sam justru menghisap kekayaan negeri ini.  Adidaya tersebut malahan menjadikan Indonesia pasar bagi produk-produknya.
     Demonstran, misalnya, memekik mengutuk George Walker Bush.  Saat haus, para pendemo ternyata menenggak coca-cola.  Lantas makan di gerai Kentucky Fried Chicken.  Sampai di rumah, mereka menonton MTV sambil mengepit majalah Playboy. Sorenya, kelompok itu ke bioskop menikmati film Hollywood.  Di malam hari, mereka mengakses situs XXX-action yang menawarkan gadis muda Amerika yang seliar kuda-kuda binal.
     Selama ini, Indonesia masih terjajah oleh hegemoni penguasa ekonomi, budaya serta informasi.  Di sisi lain. Indonesia pun dihuni manusia yang kehilangan prinsip spiritual.  Apalagi di negeri ini, penyelesaian masalah senantiasa berlarut-larut.  Empati akhirnya sirna.  Sebagai contoh yakni korban lumpur panas.  Warta perihal lumpur Lapindo sudah tidak menyentak.  Nurani tak lagi merintih mendengar derita berkepanjangan saudara-saudara di Sidoarjo yang hak-haknya ditindas. 
     Informasi tentang lumpur panas menjemukan gara-gara tidak ada ketegasan dari pemerintah terhadap Lapindo Brantas Inc.  Ke mana figur yang telah diberi mandat lewat pemilu oleh rakyat?  Mungkinkah ia sibuk berlatih vokal sesudah merilis album?
     Kita telah lelah menderita oleh buruknya kondisi sosial ekonomi.  Janji-janji tak lagi bermakna di tengah social breakdown yang terjadi.  Orang tidak bisa hidup cuma dengan bualan omong kosong dari toxic leader yang memancarkan aura negatif sampai menimbulkan bencana di mana-mana.  Kini, pemimpin yang kuat mutlak selekasnya ditemukan.  Dengan kehadiran agent of change brilian, berarti negeri ini dapat segera hijrah menggapai masa depan gemilang.
     Hijrah hanya efektif terlaksana oleh sosok visioner sebagaimana Nabi Idris, Nabi Musa atau Nabi Muhammad.  Tanpa pemimpin yang piawai mengantisipasi perubahan, niscaya negeri ini makin berantakan oleh aneka karakteristik heterodoks.
     “Sungguh, Kami sudah meluluhlantakkan kota-kota di sekitarmu.  Dan Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami secara berulang-ulang supaya mereka bertaubat” (al-Ahqaf: 27)

(Fajar) 

Amazing People