Rabu, 28 Juli 2021

Alumnus Anjing


Alumnus Anjing
Oleh Abdul Haris Booegies


     Mengapa ada orang tidak malu mengaku alumnus Pesantren IMMIM?  Ada beberapa jawaban.  Pertama, mungkin sekolahnya bukan favorit.  Hingga, ia tak sudi mengakui.  Kedua, almamaternya tidak memiliki wadah silaturrahim alumni.  Ketiga, tak punya malu!
     Hari ini, mengaku sebagai alumnus Pesantren IMMIM begitu indah, mengasyikkan.  Inilah magnet yang membuat banyak santri pelarian alias santri buronan yang tidak tamat, berbondong-bondong mengaku alumni.  Mereka tak malu mengaku alumni pesantren.  Bahkan, lagaknya mirip jika dua kali tamat di pesantren.  Di grup-grup media sosial, jangan dikata lagi.  Cincongnya bagai gonggongan anjing.  Pokoknya mereka tidak dilengkapi malu!
     Mengapa antek-antek gadungan tersebut tak memiliki malu?  Ternyata ada kelainan di otaknya.  Rasa malu yang nihil menandakan kondisi otak sedang buyar.  Pregenual anterior cingulate cortex merupakan penyebab rasa malu yang terisolasi di otak sisi kanan depan.  Makin kecil bagian otak ini, berarti kian minim rasa malu.  Alhasil, mereka tidak dapat merespons hal-hal memalukan.  Mereka pun berperangai abnormal, jauh dari standar normal.
     Kalau volume pregenual anterior cingulate cortex kecil, otomatis otak tidak berfungsi merespons malu.  Akibatnya, ia seenaknya mengambil barang yang bukan miliknya.  Mengakui sesuatu yang bukan haknya.
     Gara-gara tak punya malu membuat kawanan gadungan terus menempel di IAPIM, persis benalu atau kucing garong yang mau mencuri ikan.  Mereka tak bisa lagi menalar perilaku sungsangnya.  Komplotan gadungan ini merasa nyaman dengan mengakui almamater pihak lain.  Mereka tidak sanggup memahami kebenaran atas dirinya bila ia bukan alumnus pesantren.  Namanya juga tak punya malu.  Disentil pura-pura tidak mendengar, diusir pura-pura tak tahu.  Begitulah jika otak telah rusak.  Parah betul hidupmu gadungan!  Paham kau!

Menjulurkan Lidah
     Dalam istilah agama, orang yang mengingkari kebenaran disebut kafir.  Mereka kafir lantaran tidak berinisiatif memahami kebenaran yang terhampar.
     Al-Qur'an menyamakan orang yang cenderung pada hawa nafsunya dengan anjing.  "Kalau kamu menghalaunya.  Ia menjulurkan lidah.  Bila kamu membiarkannya.  Ia menjulurkan pula lidah" (al-A'raaf: 176).
     Anjing senantiasa menjulurkan lidah seolah kepayahan.  Berjalan menjulurkan lidah, duduk menjulurkan lidah.  Masuk ke domain tertentu, lidah juga tetap terjulur.
     Orang dengan tabiat negatif jelas sama dengan sifat buruk anjing.  Binatang ini galib mengganggu pejalan dengan gonggongan.  Hewan najis ini malahan mencoleng, mengambil yang bukan miliknya.  Merampas hak orang lain.

Menggonggong Terus
     Alumni imitasi gampang ditelusuri aksi vulgarnya di media sosial, khususnya grup WA.  Jika doyan mengoceh, bisa dipastikan ia alumnus palsu.  Mereka lantas bersahut-sahutan menyalak sesama gadungan.  Tak kenal pagi, siang, sore atau malam.  Gonggongannya terus bergema.
     Di Angkatan 86, ada oknum yang sampai sekarang identitasnya tidak terdeteksi.  Santri ini meninggalkan Pesantren IMMIM saat naik kelas VI.  Ia kemudian tertoreh sebagai alumnus SMA 1.  Tanpa secuil rasa malu, bertahun-tahun mengaku tamat di pesantren.  Saya berharap gadungan ini segera mengklarifikasi identitasnya sebelum diusir paksa dari organisasi alumni.
     Kini, sudah terang bak purnama bahwa penyebab gerombolan gadungan tak malu lantaran otaknya rusak parah.  Otak yang mengendalikan rasa malu tidak berfungsi.  Akibatnya fatal.  Mereka mengira dirinya alumnus pesantren sembari menyalak pada pagi, siang, sore serta malam di media sosial.  Paham kau alumnus gadungan!  Paham kau lancang mulut!  Paham kau sok jagoan!


Kamis, 22 Juli 2021

Alumnus Kucing Garong


Alumnus Kucing Garong
Oleh Abdul Haris Booegies


     Mengapa harus menulis mengenai oknum yang mengaku alumnus Pesantren IMMIM?  Jawabnya, demi ketenangan adik alumni di masa depan.  Mari berpikir tentang masa 20 atau 30 tahun mendatang.
     Selama menjadi warga IAPIM pada 1986-1994, tak terbayang di kepala jika kelak ada alumni palsu.  Tidak tamat, namun, tak malu mengaku alumnus.
     Tatkala mempublikasikan Kau Bukan Alumnus, ada yang mencak-mencak.  Ia merasa memiliki ikatan emosional dengan IAPIM.  Ia mengaku selama ini menghambakan diri ikut terlibat dalam kegiatan.
     Bocah ini siapa?  Tidak tamat!  Keberadaannya tak diakui secara organisasi.  Tidak punya legal standing untuk memiliki hak di IAPIM.  Ini contoh menarik untuk memetakan alumni di masa depan.
     Ada hikayat bahwa sertifikat izin masuk Shimon Peres ke Palestina hanya sebagai cleaning service.  Apa yang terjadi setelah kekuatan Yahudi terkumpul masif.  Mereka mengusir warga Palestina, penduduk asli.
     Sebuah negara di perbatasan Eropa mengizinkan sebuah ras kuning masuk sebagai tukang sapu jalan.  Apa jadinya kala mereka kuat.  Ras tersebut menyapu bersih kekuatan ekonomi, politik serta militer penduduk asli.
     "Jangan lebay, terlalu berlebihan.  Ini cuma organisasi".  Begitu mungkin nasehat teman.  Pasti masih segar dalam ingatan drama tegang Partai Demokrat pada 2021.  Partai ini nyaris berpindah tangan.  Awalnya senyap, kemudian gaduh bertalu-talu.

Pencuri Ikan
     Kalau sekarang alumni gadungan hanya jongos.  Jangan kaget di masa depan mereka menjadikan alumni tulen sebagai babu.  Inilah alasan pokok mengapa saya menulis Kau Bukan Alumnus.
     Alumni asli terkadang senyum sinis menyaksikan ulah gerombolan gadungan.  "Mereka betul-betul tak punya malu berbaur dalam acara alumni sejati".  Bagi saya, tidak cukup berbisik-bisik bahwa mereka tak memiliki malu.  Sebab, mereka memang tidak punya malu mengaku alumni pesantren.  Saatnya mereka diusir agar alumni masa depan dapat bebas berkreasi secara tenang dan nyaman.
     Bila gerombolan gadungan mendominasi organisasi, berarti alamat celaka.  Bayangkan, tak tahu menjadi imam shalat, tetapi, mengaku alumnus pesantren.  Hilang wibawa Pesantren IMMIM jika begini.  Coba.
     Heran, oknum begini bisa masuk ke Rumah Alumni.  Tingkahnya mirip kucing garong pencuri ikan yang lompat ke rumah orang.  Sangat memprihatinkan bahwa mereka tidak punya malu memasuki domain IAPIM.
     Mereka memang tancap gas kalau disuruh dalam suatu kegiatan.  Ini sesungguhnya kamuflase.  Mereka rajin sebagai hasrat untuk diakui.  Mereka menghendaki pengakuan bahwa ia juga alumnus.  Di media sosial pun begitu, jago berkoar-koar.
     Satu yang wajib disyukuri.  Beruntunglah Pesantren IMMIM tak menamatkan makhluk minus malu seperti ini.  Paham kau alumnus gadungan!


Selasa, 13 Juli 2021

Arasy Allah

 


Arasy Allah
Oleh Abdul Haris Booegies


     الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى  (arrahmanu alal arsystawa).  "Allah bertakhta di Singgasana" (Thaha: 5).  Ayat ini begitu indah, menyejukkan bak embun pagi yang menetes dari dedaunan hijau.  Ayat ini secara lugas mewartakan kepada manusia dan makhluk lain bahwa Allah merupakan Maharaja Semesta.  Ia memerintah, mengayomi maupun menafkahi segenap ciptaanNya dari Arasy.
     Ada dua pertanyaan krusial yang senantiasa aktual dibincangkan terkait arrahmanu alal arsystawa.  Pertama, mengapa Allah yang nonmateri butuh singgasana.  Kedua, apakah Arasy benda fisik atau bukan.
     Tiada seorang pun di dunia pernah memandang Allah, termasuk Nabi Musa al-Qawiyyu.  Ketika Maharasul Muhammad ke pucuk langit ketujuh dalam saga spektakuler Isra Miraj, ia juga tak melihat Allah.  Ia cuma menatap tirai benderang.  Di belakang gorden tersebut menggumpal cahaya permai.
     Terbuat dari Zat apakah Allah?  Al-Qur'an menerangkan bahwa لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ (laysa kamislihi syaiun).  "tidak ada sesuatu yang serupa dengan Allah" (asy-Syura:11).  Ini dipertegas lagi bahwa وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ (walam yakun lahu kufuwan ahad).  "Tiada yang setara dengan Allah" (al-Ikhlas: 4).
     Dua ayat ini mengemukakan kalau Allah itu Mahaunik.  Tak ada samanya di alam raya.  Imajinasi kreatif paling dahsyat pun tidak mampu membayangkan Wujud Allah.
     Manusia pengelana ilmu mengira Allah itu roh.  Teori ini pupus berkat teks arrahmanu alal arsystawa.  Bila Wujud Allah betul roh, maka, Ia tak perlu wadah berbentuk singgasana.  Dari sini timbul secercah pencerahan.  Allah bukan roh, bukan pula materi.  Ini bermakna Zat Tuhan secara absolut beda dengan seluruh ciptaanNya.  Laysa kamislihi syaiunWalam yakun lahu kufuwan ahad.  Ia Mahaunik.

Takhta Tunawujud
     Dari sejumlah tumpukan informasi yang terpublikasi, ada seuntai perspektif bahwa Arasy itu nonmateri.  Paradigma tersebut menandaskan jika Arasy tiada lain manifestasi kekuasaan Allah.  Arasy sekedar definisi majaz (metaforis) perihal posisi tertinggi.  Keberadaannya hanya simbolis, semacam preferensi metafisika.  Bukan mendeskripsikan desain fisik suatu singgasana.
     Persepsi esensial ala sufistik ini disangkal al-Qur'an.  Tiga ayat berikut menampilkan kalau Arasy itu benda.  "Arasy nan besar" (al-Mu’minun: 86).  "Arasy di atas air" (Hud:7).  "Delapan malaikat menjunjung Arasy di atas kepala" (al-Haqqah: 17).
     Al-Qur'an menjelaskan bila Arasy sangat besar.  Ini menandakan bahwa Arasy merupakan benda.  Memiliki susunan sebagaimana bangunan.  Arkian, Arasy sepenuhnya bersifat fisik, bukan nonmateri.  Jadi, Arasy tidak tepat disebut sebagai posisi transendental, cahaya kekuasaan atau maqam (level terpuji) kesucian yang tunawujud.  Apalagi, di sekeliling Arasy berjubel saf malaikat.  Mereka mengitari bentang luas Arasy sambil memuji Allah.
     Dalam al-Qur'an tak pernah dimaklumatkan bahwa ada benda yang menopang Wujud Allah.  Patut juga digarisbawahi bahwa tidak berarti jika ada Arasy, maka, itu untuk menyokong eksistensi Allah.  Rumus kehidupan melampirkan bahwa Allah tak butuh secuil hal, namun, segala sesuatu memerlukan Allah.

Dari Air ke Langit
     Al-Qur'an secara gamblang menukilkan bahwa Arasy mengapung di air.  Ini menguraikan secara terang bahwa Arasy laksana bahtera di samudera.  Arasy yang berlayar di air menyuguhkan selaksa keyakinan kalau Singgasana tersebut merupakan benda fisik.
     Sebuah hasil penelitian sempat mencengangkan.  Survei itu membuktikan bahwa air yang diminum ternyata lebih tua dari Tata Surya.  Tidak mustahil bila air yang diminum pernah bersentuhan dengan Arasy.
     Tatkala langit diciptakan, Arasy diangkut ke puncak langit.  Delapan malaikat pilihan ditunjuk menjunjung Arasy.  Jika Allah murka, niscaya Arasy terasa berat bagi delapan malaikat pemikulnya.  Mengusung Arasy memaparkan kalau Singgasana tersebut terbuat dari materi yang dapat disentuh.
     Letak terkini Arasy berada di atas Firdaus.  Taman Eden ini merupakan Surga peringkat pertama serta utama di negeri Akhirat.  Di Arasy yang menjadi pusat komando jagat raya, Allah terus-menerus sibuk demi menjaga volatilitas di tengah dinamika interaksi narasi konspirasi dengan Kalam Ilahi.  Allah melindungi makhlukNya, menghamparkan ekspektasi sekaligus mengabulkan doa sederet hamba.  كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِىۡ شَاۡنٍ‌ۚ "tiap waktu Allah dalam kesibukan" (ar-Rahman: 29).


Amazing People