Kamis, 28 Desember 2023

Santri di Bioskop


Santri di Bioskop
Oleh Abdul Haris Booegies


    Santri IMMIM cukup terbuka dengan istilah dari luar.  Kalau ada terma yang populer, biasanya santri Pesantren IMMIM langsung mempraktekkannya dalam pergaulan di kampus.
     Pada 1983, ada istilah "karas juga".  Entah siapa yang membawa celoteh ini masuk ke Pesantren IMMIM.  Istilah ini biasanya didegungkan jika ada sesuatu yang menakjubkan atau di luar nalar.
     Bila ada santri yang bergerombol saling berebut kue, maka, teman pun berujar "karas juga".  Makan di pondok tidak mengenal waktu.  Ini karena perut santri bisa diisi kapan saja.  Prinsip santri ialah makan sepuasnya selama ada yang bisa dikunyah.  Sebab, "tena battang ke'ke" (tidak ada perut robek karena diisi makanan).  "Karas juga, ya".
     Kalau ada cewek bahenol lewat di depan kampus, niscaya santri memelototinya.  Sesudah mempertimbangkan secara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya gaya mutakhir maupun keelokan paras cewek bersangkutan, maka, santri pun berceloteh; "karas juga".
     Secara pribadi, saya kurang paham apa sesungguhnya arti "karas juga".  Apakah "karas" dari kata "keras" yang diaksentuasi menjadi "karas".  Di awal 1983, senarai ini sering diucapkan oleh santri kelas V (1978-1984).  Di antara rekan kelas III (1980-1986), Hesdy Wahyuddin alias Oge acap melantunkannya.
     Vokabuler "karas juga", muncul di buku harianku pada Selasa, 26 April 1983 (13 Rajab 1403).  Berikut lampirannya.

     Hari ini, kami kelas III ujian bahasa Inggris.  Saya bersepakat dengan Andi Syamsir untuk nonton di bioskop.  Setelah ujian, Syamsir terlihat ragu mengikutiku.
     Pukul 14.00, saya nekat kabur seorang diri ke kota.  Tujuanku ke bioskop Artis II.  Saya nonton film pembunuhan.  Entah apa judulnya.  Kisahnya menarik karena inspektur Tang kesulitan melacak sang pembunuh.  Rupanya pembunuh tersebut orang sakit jiwa.
     Setelah nonton misteri pembunuhan, saya bergegas ke bioskop Jumpandang.  Di sini pada pukul 17.00, nonton Gundala Putra Petir.  Dibintangi Teddy Purba, WD Mochtar, Farida Pasha, Agus Melaz serta Anna Tairas.
     Film Gundala Putra Petir yang kaku dalam akting dengan cerita ala kadarnya, mengisahkan Gundala memberantas gembong penjahat 84.
     Sekitar pukul 19.00, saya makan malam.  Kakiku kemudian melangkah ke bioskop Makassar.
     Pukul 20.00, nonton Bila Hati Perempuan Menjerit.  Dibintangi oleh Roy Marten, Dana Christina, Astri Ivo, Zainal Abidin, Teddy Purba dan Nani Wijaya.  Film ini diadaptasi dari Insaf Ka Tarazu.  Film India ini sudah pernah saya saksikan di bioskop Dewi.  Bagus filmnya.  Dibintangi Zeenat Aman.  Satu cewek di Insaf Ka Tarazu yang membuatku susah memejamkan mata menjelang tidur ialah Padmini Kolhapure.  Cantik, muda sekaligus ranum menggairahkan.
     Tatkala keluar dari bioskop Makassar, ternyata ada tujuh santri IMMIM yang juga nonton Bila Hati Perempuan Menjerit.  Sementara dua santri lagi nonton Massacre at High School di bioskop DKM.
     10 santri IMMIM ini yakni Arva Chaidar (V), Adnan Alwi (V), Munawwar (IV), Darwis (IV), Hesdy Wahyuddin (III), Haris Bugis (III), Arham (II) serta Muhammad Syibli (II).  Ada dua lagi anak kelas II yang saya tidak tahu namanya.  Hingga, tidak tercatat di buku harian.
     Kami sepakat pulang bersama.  Di atas mikrolet (petepete), kami riuh saling bertukar cerita.  Tidak ada penumpang lain kecuali 10 santri IMMIM.  "Karas juga, ya".


Selasa, 19 Desember 2023

Hari Pertama Buku Harian


Hari Pertama Buku Harian
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pesantren IMMIM di era 80-an, dihuni sejumlah santri berkarakter.  Saya ingat Heriyanto, rekan seangkatan pada Juni 1980.  Ia termasuk santri berkelas.  Ayahnya pejabat militer.  Sementara Heriyato juara bulu tangkis tingkat SD.  Beberapa kali Heriyanto dijenguk ayahnya mengendarai sedan dengan sopir pribadi.  Sebuah pemandangan langka di Pesantren IMMIM di kurun 1980.
     Di awal masuk, saya sekamar dengan Heriyanto di bilik II asrama Datuk Ribandang.  Saya di ranjang bawah, ia di atasku.  Saya akrab dengan Heriyanto.  Saya juga dekat dengan Muhammad Nasir.  Ini bukan bocah sembarang.  Ia termasuk santri sultan.
     Pompa bensin yang terletak di segitiga emas (RRI, Hoya dan Pelabuhan Soekarno Hatta), merupakan milik orangtua Nasir.  Bahkan, kakaknya tercatat sebagai pemain inti klub Makassar Utama.
     Saya, Heriyanto serta Nasir merupakan tiga serangkai saat masih kelas I.  Kami senantiasa bersama.  Apalagi, kami anak kota.  Rumah kami pun tergolong berdekatan.  Saya di Jalan Veteran Selatan.  Heriyanto di kompleks militer di Jalan Mappaoddang.  Sedangkan Nasir di Jalan Baji Pa'Mai.
     Tatkala naik kelas II, Heriyanto keluar dari pesantren.  Saya bersama Nasir juga jarang bertemu.  Ini karena saya digiring ke kamar I rayon Datuk Ribandang.  Ini bangsal khusus santri bandel.  Selain badung, penghuninya berbadan besar.  Di sini dihimpun kelas II, III serta IV yang memang sangar.
     Ketika naik kelas III, Nasir kerap menemuiku di asrama Pangeran Diponegoro.  Rupanya, saya dengan Nasir mulai jenuh di pesantren.  Semua serba terbatas.  Apalagi, tak ada cewek.
     Awal Agustus 1982, saya nekat menemui ibuku.  Saya tidak mau lagi ke pesantren.  Berniat keras keluar.  Ingin berhenti sekarang juga.
     Ayah tentu saja marah.  Akhirnya saya ditumbuk berkali-kali.  Saya diancam akan dikirim ke pesantren terjauh di kampung terpencil.
     Setelah digebuk sampai lebam, saya pun dibujuk untuk kembali ke Pesantren IMMIM.  Saya akhirnya luluh berkat insentif perbaikan yang dibisikkan.  Saya mutlak kembali ke habitat semula yang penuh cobaan maupun derita.
     Kembali ke Pesantren IMMIM ternyata menjadi awal sejarah besar.  Pasalnya, saya bertekad menulis buku harian.  Hasrat mencatat kejadian sehari-hari muncul sejak kelas II.
     Selama kelas III sampai VI, saya tiap hari mengisi diari.  Selama sekitar empat tahun, tak ada satu pun hari yang tidak tercatat di buku harianku.  Ada momen ketika mengkhayalkan anak gadis orang.  Ada masa saat ketakutan gara-gara melakukan pelanggaran berat.  Ada kenangan tatkala mau berkelahi.  Ada tempo kala ketar-ketir setelah bertengkar dengan koki bernama Hata.  Siapa tidak ngeri, mengusik koki sama artinya minta dipecat dari pesantren.  Ini pelanggaran paling berbahaya berskala maut.
     Berikut catatan di hari pertama buku harianku.

Selasa, 3 Agustus 1982
     Perasaanku agak lega setelah tiba di pesantren.  Walau saya bersikeras tidak mau lagi sekolah di pesantren.  Ada sedikit perasaan bahagia karena saya bawa lemari baru, arloji baru dan kasur busa.  Saya menaruh kasur kapuk di bawah untuk mengalas kasur busa.
     Saya tiba di Pesantren IMMIM sekitar jam 12 siang.  Diantar oleh ayah, ibu, sepupu serta keponakan.
     Di kamar II rayon Pangeran Diponegoro, teman-teman riuh.  Mereka bertanya, mengapa saya masih ke pesantren?
     "Saya kira kau sudah berhenti di sini".
     "Barangkali nanti di lain hari saya keluar", jawabku.
     Muhammad Akhyar Ahmad (V) sempat menemuiku.  Ia menasehatiku untuk sadar, tidak lagi nakal.
     "Haris, jangan lagi kau coba-coba seperti dulu, suka pulang.  Kabur dari kampus atau berbuat kenakalan lain".
     Saya sempat ke Mahmuddin Achmad Akil (I).  Saya memberinya konsep inspiratif agar memegang teguh kebaikan di pesantren.  Sebab, sekarang saya sudah tobat.  Tidak mau lagi mengulang kenakalan.


Senin, 04 Desember 2023

Santri dan Artis


Santri dan Artis
Oleh Abdul Haris Booegies


     Cerita di bawah merupakan penggalan sepotong hari dari diari.  Ini momen syahdu yang dialami lima santri IMMIM kelas IV.  Peristiwa terjadi pada Rabu, 5 Oktober 1983 (28 Zulhijah 1403).  TKP di bioskop New Artis dan sekitarnya.
     Pukul 15.00, saya bersama Zulkifli ke Artis II.  Kami naik Vespa milik pak mantri.  Zulkifli nonton Maju Kena Mundur Kena.  Saya tak ikut nonton karena malas terkekeh-kekeh dalam bioskop menyaksikan kekonyolan Dono cs.
     Saya lalu ke New Artis karena bosan menunggu Zulkifli yang asyik nonton.  Tidak berselang lama, Wati muncul.  Ia karyawati New Artis.
     Wati kemudian berkisah kalau tadi malam Roy Marten hadir di New Artis.  Ia mempromosikan film Tapak-tapak Kaki Walter Mongisidi.  Tadi malam memang film ini diputar perdana di New Artis.  Harga karcis Rp 7.500 untuk pertunjukan pukul 20.00 serta 22.00 selama dua hari pada 4 dan 5 Oktober.
     Setelah bertukar cerita dengan Wati, saya memintanya memasukkanku ke bioskop.  Saya pun diselundupkan ke dalam gedung untuk nonton.  Ini namanya santri mujur karena nonton gratis.
     Pukul 17.00, pertunjukan selesai.  Saya segera ke Artis II menemui Zulkifli.  Kami akhirnya berboncengan untuk pulang ke Pesantren IMMIM.
     Di perjalanan, saya melihat Ahmad Hidayat, Ahmad Natser bersama Hesdy Wahyuddin.  Ketiganya berjalan kaki.
     "Mau ke mana?"  Saya
bertanya.
     "Pulang ke kampus", ujar mereka serentak.
     "Pukul 22.00 nanti, ada film hot di Artis II", ujarku berpromosi sambil mengacungkan jempol.
     "Betul?"
     "Ya".
     "Kalau begitu, kita ke Artis".
     Saya dengan Zulkifli lalu melaju ke pesantren.  Sementara Hidayat, Natser serta Hesdy yang dipanggil Oge, balik badan menuju ke Artis.
     Di pesantren, saya bergegas mandi lantas bertukar busana.  Satu jam berikutnya, kami sudah di New Artis.  Suasana di bioskop terlihat ramai.
     Pukul 20.00, film Mongisidi diputar.  Kami lima santri IMMIM cuma mengobrol di halaman bioskop.  Kami menunggu waktu.  Berharap jam 10 malam selekasnya tiba.
     Di lobi New Artis, mendadak muncul Roy Marten.  Ia duduk di sofa menghadap ke Timur.  Kami lima santri IMMIM lantas menengok ke dalam lobi.  Ternyata ini orangnya Roy Marten.
     Baru kali ini saya lihat bintang film.  Kami lima santri IMMIM cuma berjarak dua meter.  Sayangnya, ia di dalam lobi.  Sementara kami di luar.  Terhalang dinding kaca.
     Kami lima santri IMMIM bangga memandang Roy Marten.  Ini aktor populer yang setara Robby Sugara maupun Rano Karno.
     Pukul 22.00, saya nonton film Mongisidi di New Artis.  Zulkifli ke bioskop Makassar.  Sedangkan Hidayat, Natser serta Hesdy ke Artis II untuk nonton The Lady Tenant Next Door.
     The Lady Tenant Next Door dibintangi oleh Edwige Fenech, aktris Italia yang doyan bugil.  Tidak terbayang di kepala, tiga santri IMMIM sekarang sedang menahan nafas menyaksikan kemulusan tubuh Edwige Fenech.  Sudah mulus, bening pula kulitnya.  Air liur mereka pasti meleleh kala Edwige Fenech melepas  kutang.  Mana tahan...


Minggu, 03 Desember 2023

Definisi Santri Nakal


Definisi Santri Nakal
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ada sejumlah santri nakal di Pesantren IMMIM pada era 80-an.  Jemaah badung ini tentu saja dihindari.  Kelompok santri cerdas, bergabung dengan santri pintar.  Kelompok santri saleh, bergabung dengan santri alim.  Begitu pun santri bandel.  Mereka bergabung dengan rekan senasib yang doyan melawan sistem.
     Adakah yang dapat menggabungkan tiga golongan ini?  Tentu saja, ada.  Kalau di masjid, semua sama.  Begitu pun jika di dapur.  Tidak ada perbedaan.  Kekompakan santri cerdas, saleh serta badung acap terjadi bila merokok.  Tidak ada namanya santri cerdas atau santri saleh kalau merokok.  Apalagi, jika sebatang rokok diisap tiga atau lima santri.  Semua menyatu sebagai pelanggar berat di pesantren.
     Saya termasuk paling dihindari di pesantren.  Ini karena sering bolos dari kelas maupun kabur ke kota.  Sekalipun badung, namun, saya tidak merokok atau minum kopi.  Tidak seorang pun santri pernah melihatku merokok.  Bukan karena saya sembunyi-sembunyi merokok, tetapi, saya memang jijik dengan rokok sampai sekarang.
     Tatkala tercatat sebagai mahasiswa, saya masih merasakan bagaimana teman menghindar.  Mereka tetap menganggap saya perlu dijauhi.
     Pada 1992, saya protes seorang rektor di Lektura.  Di majalah terbitan Fakultas Sastra Unhas ini, saya menjadi pemimpin redaksi.  Rupanya ada perlawanan atas protes yang saya gaungkan.  Sejumlah alumni IMMIM secara diam-diam merapatkan barisan untuk melawan saya.
     "Memang dia nakal.  Masih di pesantren dia nakal sekali", sembur alumnus 1988 ke khalayak.
     Saya hanya menanggapi bahwa alumnus itu cuma cari muka.  Dugaanku betul.  Ia punya jabatan atas jasanya melakukan perlawanan terhadap saya.  Bahkan, kini menjadi ketua alumni untuk fakultasnya.
     Sesudah bertahun-tahun menyandang predikat sebagai santri nakal, dewasa ini di era media sosial terjadi pergeseran persepsi.  Bila ada pertemuan sesama alumni IMMIM, berseliweran pengakuan gombal.  Sebagai contoh, "saya dulu juga nakal", "saya dengan Haris Bugis dulu sama-sama nakal" atau "saya dengan Haris Bugis memiliki banyak cerita mengenai pesantren karena dulu nakal".
     Segenap pengakuan ini diucapkan dengan mimik bangga.  Matanya berbinar karena merasa pernah nakal di pesantren.  Ia merasa nyaman untuk diakui badung.  Merasa hebat karena pernah berinovasi untuk mengelabui pembina kampus seraya mengakali aturan pesantren.
     Kalau mendengar ini, saya heran.  Sejak kapan orang ini nakal di pesantren?  Namaku pun dicatut.  Menurutnya, ia dulu nakal dengan saya.  Ia memang pernah masuk satu kali ke bioskop dengan saya.  Ini tidak berarti orang bersangkutan mendadak bisa disebut nakal hanya karena pernah masuk bioskop dengan saya.  Tiba-tiba saya merasa aneh dengan definisi santri nakal.


Al-Qur'an Menjiplak


Al-Qur'an Menjiplak
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ada seorang yang berpenampilan cewek, bersuara cewek, meminta ke Kementerian Agama agar al-Qur'an direvisi.  Menurutnya, al-Qur'an menjiplak Bibel.
Harap ingat penemuan Bart D Ehrman yang pakar Alkitab. Penelitiannya mengungkap jika Bibel baru ada sebagai sebuah kitab suci pada abad ke 9.  Ini setelah aneka naskah atau buku dikumpulkan untuk dipilih menjadi Bibel.
Menurut Ahmad Deedat, asal kata Bibel dari biblos yang artinya kumpulan buku.  Jadi, Bibel bukan Injil sebagaimana pemahaman Muslim.
Al-Qur'an sudah ada sebagai kitab suci utuh sejak abad ke 6.  Bagaimana mungkin al-Qur'an menjiplak?  Terpisah waktu sekitar 300 tahun sebagai kitab suci.  Satu tentang trinitas (tiga tuhan), satu mengenai tauhid (Allah itu tunggal).  Kalau hasil jiplak, pasti al-Qur'an berisi ajakan untuk mengikuti trinitas.


Amazing People