Label

Tampilkan postingan dengan label Ramadan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Maret 2023

DHT


DHT
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ramadan selalu disambut meriah.  Menjelang bulan suci, semua keperluan makan-minum sudah disiagakan.  Kelas menengah ke atas menyerbu pasar dan toko.  Mereka membeli seluruh keperluan makan-minum untuk menyongsong Ramadan.
     Pasar serta toko mendadak riuh oleh ibu-ibu.  Pemandangan ini ibarat akan ada perang nuklir selama sebulan.  Hingga, mereka memborong bahan makanan.  Jangankan kulkas, bunker bawah tanah pun wajib diisi penuh.
     Belanjaan ibu-ibu berwarna-warni kemasan dan botolnya.  Dari seluruh belanjaan, pasti ada sirop.  Sirop inilah yang menjadi primadona selama Ramadan.
     Di bulan suci, iklan sirop bergentayangan di media digital, media elektronik, media cetak serta baliho yang dipasang di jalan-jalan utama.
     Aneka merek sirop tersedia.  Tinggal pilih sesuai selera.  Harga bukan masalah demi menikmati sirop kesayangan.

Olahan Tangan
     Di Sulawesi Selatan, sirop yang berpuluh tahun menemani berbuka puasa ialah DHT.  Sirop dengan rasa pisang Ambon ini begitu khas.  Aromanya sedap.  DHT merupakan sirop favorit di tiap rumah di negeri-negeri Bugis-Makassar selama Ramadan.
     DHT mulai diproduksi pada 1949.  Tidak ada ketegasan data, apa kepanjangan DHT.  Bisik-bisik beredar jika DHT merupakan singkatan "dari hasil tangan".  Soalnya, sirop ini merupakan olahan rumah tangga.  Ada pula isu bila DHT itu "dari hasil tenaga".
     Di pabrik sirop ini di PT DHT yang terletak di Jalan Macanda, Tamarunang, Kabupaten Gowa, terpampang logo DHT.  Di situ tertera "Duta Harapan Tunggal".
     Sirop legenda ini berbahan dasar ekstrak pisang Ambon segar.  Es buah, es poteng (tape singkong), pisang ijo maupun pallubutung merupakan pasangan serasi DHT.  Sirop masyhur ini tetap sedap tanpa campuran lain.  Apalagi kalau ditambah susu.
     Sirop yang hanya diproduksi di perbatasan Makassar ini, kerap menjadi oleh-oleh khas Sulsel.  DHT menjadi buah tangan istiwewa untuk keluarga atau sahabat yang tinggal di luar Sulsel.

Senabib Buras
     Selama Ramadan, DHT tak tergantikan oleh sirop lain.  Sekalipun sangat nikmat menyesapnya kala berbuka puasa, kiranya DHT kehilangan sensasi di luar Ramadan.  Di hari-hari biasa, DHT tidak lagi luar biasa.  Sirop ini kehilangan kesaktian saat Idul Fitri.  Posisinya digantikan oleh sirup lain yang berbahan jeruk, sirsak (nangka Belanda alias durian Belanda), lici (Litchi chinensis), coco pandan, lemon, karamel, moka, markisa, vanila, blueberry, melon atau mangga.  Bahkan, di Indonesia ada sirop dengan label syrup with milk.  Selain itu, muncul sirop dengan bahasa Perancis; pomme verte (apel hijau).
     Serba-serbi sirup bermerek mentereng tersebut, menenggelamkan DHT yang sukses berkuasa selama 30 hari.  Pasca-Idul Fitri, DHT menjelma minuman seadanya yang tidak lagi dilirik dengan mata berbinar cerah-ceria.
     Nasib DHT serupa buras.  Sepekan setelah Idul Fitri, buras tidak lagi menjadi santapan lezat.  Takdirnya nelangsa bakda Lebaran.  Kita cuma berharap, di Ramadan berikut masih dapat menyeruput DHT sekaligus mengunyah buras di momen Idul Fitri.


Sabtu, 04 Juni 2011

James Bond Memburu Lailatul Qadar

James Bond Memburu Lailatul Qadar

(Menyambut Nuzulul-Quran 10 Oktober 2006)

Oleh Abdul Haris Booegies
Peminat Masalah Sosial

   Lailatul Qadar pertama muncul pada 21 Ramadan tarikh 41 Fiel (10 Agustus 610 Masehi).  Malam itu dipahami sebagai penetapan Allah terhadap perjalanan manusia.  Sebab, di malam tersebut, Jibril melantik Muhammad sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta).
     Lailatul Qadar juga bermakna sempit.  Karena, banyak malaikat yang menjejakkan diri ke sudut-sudut dunia.  “Turun malam itu, para malaikat dan Jibril” (al-Qadr: 4).  Alhasil, planet ini seolah tak mampu menampung aneka jenis malaikat.
     Secara lazim, lailatul qadar berarti malam kemuliaan.  Apalagi, Tuhan sendiri menegaskan kalau lailatul qadar lebih baik dibandingkan seribu bulan.
     Lailatul qadar merupakan curahan waktu yang dahsyat-fantastis.  Kala Lailatul Qadar menaungi jagat, maka, kegelapan malam ibarat tersaput oleh tiga cahaya purnama.  Kerlap-kerlip bintang berpijar terang.  Keelokan belahan langit tak dinodai meteor.  Udara terasa sejuk serta semerbak wewangian menyebar bersama bayu yang sepoi-sepoi.  Warna dedaunan terlihat hijau mencolok.  Hening di sekeliling ketika sanubari mereguk sepercik kenikmatan surgawi.  Kalbu pun tiba-tiba dibuai optimisme prima, kebahagiaan dan rasa syukur.
     Orang-orang yang di otaknya tertera aksara Allah serta sel hatinya membentuk nama Muhammad, seolah sanggup menatap pucuk langit ketujuh.  Ia bagai mampu memandang tahta suci Zat Absolut Tunggal di zona Sidratul Muntaha yang menjadi tujuan segala harapan.  Sebab, di malam tersebut, gerbang utama langit terbuka lebar.  Sementara pintu neraka ditutup rapat dengan gembok berlapis-lapis.
     Di pagi hari sesudah Lailatul Qadar muncul, maka, matahari terbit berwarna putih laksana tembaga.  Surya tak diliputi pancaran cahaya.
     Setelah zaman nabi, maka, tidak ada ketentuan kapan Lailatul Qadar terjadi lagi.  Secara matematis, KH Masyhuri Baedlowi MA pernah menuangkan secarik teori.  Menurutnya, ada ulama mengotak-atik kata Lailatul Qadar yang dalam bahasa Arab berjumlah sembilan (lam, ya’, lam, ta’, alif, lam, qaf, da’, ra’).  Sedangkan dalam surah al-Qadr, istilah Lailatul Qadar disebutkan tiga kali.  Hingga, 9 x 3 = 27.  Jumlah itu menunjukkan bila Lailatul Qadar terjadi pada 27 Ramadan.
     Surah al-Qadr memuat 30 kata.  Elemen tersebut selaras dengan jumlah hari dalam sebulan.  Morfem di nomor urut 27 pada surah al-Qadr, ialah hiya (dia).  Hiya merujuk pada Lailatul Qadar.  Aspek itu kembali menunjukkan jika Lailatul Qadar terjadi pada 27 Ramadan.
     Secara matematis, Lailatul Qadar turun pada 27 Ramadan.  Sekalipun sudah jelas, namun, ada kesan kalau Lailatul Qadar tidak selamanya muncul.  Bahkan, golongan pesimistis haqqul yaqin bila Lailatul Qadar cuma sekali terjadi pada Senin, 10 Agustus 610.
     Di dunia ini, susah menemukan orang yang bisa bersua dengan Lailatul Qadar.  Karena, ilmu manusia sangat primitif dibandingkan kode-kode Arasy.  Alhasil, para petualang jenius bakal bingung menerka kedatangan Lailatul Qadar.  James Bond pun akan linglung dalam mendeteksi misteri Lailatul Qadar.
 
Skandal
     Pasca Ramadan pada 17 November 2006, kembali muncul film James Bond ke-21 berjudul Casino Royale.  Film aksi dengan sutradara Martin Campbell tersebut, dibintangi Daniel Wroughton Craig yang berwajah pucat dengan tampang tak begitu ramah.  Ia didampingi gadis Perancis Eva Gaelle Green yang berperan sebagai Vesper Lynd.  Aktris jelita dan bahenol itu, pernah bugil total sambil menggelepar penuh nafsu kala bercinta dalam The Dreamers besutan Bernardo Bertolucci.
     Bond merupakan lambang kejantanan serta ketangguhan.  Sosoknya yang flamboyan pernah diperankan oleh Sir Sean Connery, George Lazenby, Sir Roger Moore, Timothy Dalton dan Pierce Brosnan.
     Semua misi yang diemban Bond selalu sukses.  Dunia boleh berubah, tetapi, 007 belum rela mati di tengah cairnya Perang Dingin.  Agen Inggris tersebut belum jua sanggup dieksekusi kala AS makin sangar menghancurkan kekuatan Islam pasca 9/11.
     Petualangan Mr Kiss Kiss Bang Bang itu, terus mencekam dengan senjata serba mutakhir.  Hingga, planet bumi selalu selamat berkat kepiawaian Bond menghalau kejahatan.  Agen terbaik M16 tersebut, bak punya tujuh nyawa dalam pergulatan kekuatan internasional.
     Bond adalah ciptaan Ian Lancaster Fleming (1908-1964).  Agen-agen Inggris yang berkode angka nol ganda (001 atau 009), merupakan simbol jika mereka memiliki izin membunuh siapa saja yang menghadang misinya.
     Bond lahir saat terjadi suasana muram antara AS dengan Uni Soviet.  Apalagi, ketika Soviet menginvasi Hungaria pada 1956.  Akibatnya, Perang Dingin kian mendebarkan di area Blok Timur serta Blok Barat.  Pertarungan ideologi antara kapitalisme dengan komunis, sekonyong-konyong makin meruncing.
     Situasi yang kurang waras itu, akhirnya menggugah Ian menciptakan hero bagi Blok Barat.  Ian adalah mantan anggota intel Angkatan Laut Inggris.  Ia menghendaki figur pahlawan fiktifnya sesakti agen spionase elit Inggris semacam Kim Philby, Guy Burgess atau Donald MacLean.
     Hasrat Ian beralasan berkat koneksinya dengan William “Wild Bill” Donovan, bos CIA.  Ia punya pula akses untuk berhubungan dengan Direktur FBI John Edgar Hoover maupun spymaster Sir William Stephenson.
     Setelah pensiun dari dunia spionase, Ian menetap di Jamaika.  Di negeri eksotis tersebut, ia terlibat skandal dengan Lady Anne Rothermere.  Di tengah puncak asmaranya yang menggebu, Ian meracik dongeng Bond.  Alhasil, terbit novel perdananya bertajuk Casino Royale pada 13 April 1953.

Anugerah
     Bond boleh saja ditugaskan dalam petualangan bertajuk Mission Impossible untuk memburu Lailatul Qadar.  Apalagi, 007 memiliki banyak akal sekaligus akrab dengan teknologi modern.  Hingga, memudahkannya menelisik awan-gemawan dan fenomena di balik kabut.  Kendati Bond selalu berhasil menyelesaikan aneka misi muskil, namun, kekuatan manusia punya batas.  Dalam mengungkap Lailatul Qadar, jagoan dari dunia intelijen itu bakal berhadapan beragam kendala yang rumit dinalar akal sehat.
     Lailatul Qadar sukar dideteksi lantaran rahmat Tuhan yang tidak pilih kasih.  Mukmin, muslim, santri atau Islam KTP, sama di hadapan Allah dalam pembagian rezeki.  Takaran berbeda kalau berbicara perihal ketakwaan.  Walau sersan, bila sujudnya ikhlas, maka, keberadaannya teramat dekat dengan Sang Pencipta.  Biarpun jenderal, jika shalatnya riya’ (pamer ibadah), maka, Tuhan tak merekennya sebagai bentuk ketakwaan.
     Skema tersebut yang membuat Bond kesulitan melacak lailatul qadar di malam 27 Ramadan.  Kalkulasinya sudah sesuai tuntutan matematis.  Ia malahan ditopang sabda suci profetik bahwa songsonglah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir.  Asyrul awakhir dimulai pada 21, 23, 25, 27 serta 29 Ramadan.  Masalah timbul akibat ritual religius bukan sekedar area rasio.  Sebab, doktrin langit bertutur soal abstrak yang susah diterawang dengan peralatan canggih.
     Robert Fleming, pernah menasehati Ian, cucunya.  Ia menuturkan bahwa respek dan kehormatan tak pernah datang dari uang.
      Nasehat Robert kepada pencipta 007 itu, juga berlaku di tiap pelosok negeri yang berbasis peradaban positif.  Dalam Islam, pundi-pundi fulus yang diangkut puluhan pedati, bukan cara untuk mereguk kemuliaan.  Keagungan di sisi Allah, mustahil pula diperoleh dengan limpahan materi.  Kehormatan selalu lahir dari kerja keras serta sifat tunduk pada hukum Tuhan.  Alhasil, terbuka akses untuk menerima anugerah atau rezeki berupa wibawa, ilmu maupun harta.
     Dalam menggapai Lailatul Qadar, tidak dibutuhkan kekayaan yang bertumpuk.  Sikap yang wajib digaungkan hanya fokus pada ibadah.  Saat konsentrasi telah maksimal, maka, kesabaran dan keikhlasan mutlak dikedepankan.  Kesabaran diperlukan dalam menanti anugerah berupa Lailatul Qadar.  Kemudian rela kalau Lailatul Qadar tak hinggap dalam kehidupan yang dilakoni.
     Formula tersebut menandaskan bila Lailatul Qadar butuh konsentrasi, kesabaran serta keikhlasan.  Garis tangan tiap manusia berbeda, tetapi, rezeki dan anugerah Sang Khaliq selalu hadir tanpa pilih kasih.  Karena: “Allah memberi rezeki tiada batas kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (al-Baqarah: 212).


(Tribun Timur, Senin, 9 Oktober 2006)

Marhaban Ya Ramadan


Marhaban Ya Ramadan
(Menyambut Ramadan 24 September 2006)
Oleh Abdul Haris Booegies
Peminat Masalah Sosial

     “Wahai insan-insan beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.  Mudah-mudahan kalian menjadi manusia yang bertaqwa” (al-Baqarah: 183).

     RAMADAN merupakan bulan yang paling krusial dalam kalender Islam.  Di bulan itu, umat Islam menahan lapar serta dahaga sekitar 14 jam sebelum fajar menyingsing sampai senja turun ke peraduannya, selama 29 atau 30 hari.
     Secara etimologis, puasa bermakna menghindari makan maupun minum.  Sementara dari sudut pandang terminologi, berarti menahan diri dari ragam perbuatan yang membatalkan niat puasa. 
     Di tiap milenium, Ramadan laksana liga mondial.  Pengikut Rasulullah yang tergolong Muslim atau yang telah berpredikat Mukmin, berlomba merebut Tropi Ketakwaan.  Piala tersebut jelas menjadi milik mutlak pribadi seperti tertera dalam kitab monoteisme terakhir bahwa la ‘allakum tattaqun (semoga kalian menjadi individu yang bertakwa).
     Dalam merebut klasemen puncak (capotalista) Liga Global Ramadan, maka, diperlukan kondisi fisik dan rohani yang prima.  Sebab, tantangan serta godaan yang dihadapi tidak sedikit di tengah penurunan status gizi.  Selain tidak makan-minum, peserta liga Ramadan pun mesti bertarung melawan diri sendiri. 
     Iblis bersama pasukan setan (the forces of evil) memang dibelenggu dalam neraka selama syahr ash-shabr (bulan kesabaran).  Sekalipun dirantai-erat, namun, angkara murka manusia tetap berkobar menggelegak dalam aliran darah.  Keturunan Nabi Adam enteng terjerumus ke kubangan noda dan terjerembab ke liang dosa.  Karena, mimpi-mimpi jahanam selalu menyesatkan langkah-langkah kaki dan hirupan nafas.  Hingga, tubuh serasa didorong ke arah hal-hal destruktif.
     Manusia yang sukses melakukan inner struggle (perjuangan batin) terhadap hawa nafsu, langsung mendapat pahala dari Allah.  Berkah itu tidak diperoleh lewat beleid profetis, tetapi, dari Arasy yang Agung.  Tuhan mempersembahkan pahala khusus kepada para hamba yang sukses menjalankan ibadah puasa.
     Tetesan rahmat Allah yang digapai acap terlihat pasca-Ramadan.  Sebab, manusia sebagai maha karya monumental Tuhan, tiba-tiba memperagakan kasih sayang terhadap sesama maupun kepada lingkungan. 
     Pemenang Tropi Ramadan kontan bertambah energi imannya.  Warna hidup mereka berubah berkat komposisi komunikasi transendental kepada The Truth and The Absolute Being, kian terkonsentrasi.  Koloni dosa dalam sanubarinya sirna menjadi lahan subur ketakwaan.  Alhasil, perilaku mereka sontak bergerak ke arah marhamah (kelemah-lembutan) guna mencairkan kebekuan, kekeluan dan kekakuan.

Panjang Umur
     Orang-orang yang ikhlas menjalankan ibadah puasa, tidak gampang terusik kesehatannya.  Kendati jadwal makan berubah serta terjadi pengurangan frekuensi makan, namun, puasa ditilik dari segi kesehatan sangat cocok bagi jasmani.
     Dalam kondisi normal, termaktub jika zat gizi yang dibutuhkan tubuh mencapai 45 macam.  Zat tersebut antara lain mineral, asam amino esensial, asam lemak esensial, karbohidrat atau vitamin.  Pria lazimnya memerlukan sebesar 2.100 kalori.  Sedangkan wanita berkisar 1.900.  Kalori sebanyak itu membuat aktivitas mampu berjalan lancar.
     Puasa sesungguhnya mengistirahatkan organ-organ badan sesudah sebelas bulan bekerja tanpa henti.  Di bulan Ramadan, raga berkesempatan membersihkan zat-zat beracun berlabel kronis.  Puasa juga memperlancar proses metabolisme tubuh.
     Puasa menggiring jasmani ke tingkat kebugaran optimal.  Karena, tercapai adaptasi terhadap efisiensi penggunaan energi.  Survei membuktikan bila pengurangan makanan pada dasarnya memompa daya tahan jasmani.
     Puasa bagi manusia berfaedah guna meningkatkan kesegaran.  Bahkan, menghalangi pelbagai penyakit degeneratif.
     Pada 1982, Reihm S dalam penelitiannya menggarisbawahi bahwa puasa mempengaruhi penurunan insiden tumor semacam paru-paru, limpa dan payudara. Dengan puasa, niscaya konsumsi lemak tinggi yang menjadi sebuah faktor tumbuhnya tumor bisa ditekan.  Puasa malahan memotivasi tercapainya usia yang lebih panjang.
     Aspek positif pengurangan konsumsi energi alias puasa tersebut, membuktikan kalau ajaran Islam tidak bertentangan dengan kesehatan.  Apalagi, struktur raga manusia dirancang untuk bertahan selama dua pekan, dengan catatan tetap minum.  Sementara bila tidak makan serta minum, tubuh sanggup bertahan sekitar tujuh hari.
     Pola hidup sehat dengan berpuasa makin mantap jika menaati perintah-perintah yang menyelubungi Ramadan.  Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad menyuruh supaya melambatkan sahur sembari menyegerakan berbuka (ifthar).  Hikmah di balik sabda Rasulullah yakni agar masa defisit kalori tidak berlarut-larut.
     Catatan sejarah menukilkan bila Nabi Muhammad berbuka dengan tiga butir kurma.  Rasulullah makan yang manis-manis seperti kurma, lantaran memberi jasmani energi instan.  Sebab, hidangan yang manis (glukosa maupun fruktosa), cepat disintesis oleh badan menjadi daya motorik.

Puasa Laba-laba
     Pada hakikatnya, puasa sudah dikenal dalam agama Yahudi dan Nasrani.  Bahkan, puasa ditemukan pula jejak historisnya pada bangsa purbakala semacam Persia, Mesir, Cina serta India.  Sedangkan di ranah Hollywood yang liberal dan individualistik, para artis kaliber Oscar mengenal istilah diet (pola makan ketat).
     Di samping dijumpai dalam kebudayaan manusia, puasa pun terlihat secara jelas dipraktikkan oleh hewan atau serangga.  Ayam, contohnya, ketika mengerami telurnya tetap bergeming.  Pandangannya tetap nanar sekalipun disodorkan makanan berupa kacang-kacangan.  Ayam tak punya selera makan kendati seharian duduk tepekur di atas telurnya.
     Ihwal serupa terlihat pada laba-laba.  Dengan kepompong yang lebih besar dibandingkan perutnya, laba-laba setia melekat di dinding yang jauh dari keramaian dalam rumah.  Serangga itu tak memiliki nafsu makan kendati telah beberapa hari bergelantungan.
     Orang berpuasa supaya bisa bermetamorfosis menjadi insan takwa.  Karena, dengan meraih Piala Liga Ramadan, niscaya manusia berada dalam naungan nilai-nilai yang berasal dari pancaran Ilahi (futuhat rabbaniyyah).  Fase yang sama terjadi pada binatang.  Ayam serta laba-laba, misalnya, tidak makan-minum selama mengerami telur, demi memperoleh hidup baru berupa kelahiran anak.  Mereka mengalami transitio a minore a majorem perfectionem (peralihan dari kondisi yang tidak baik ke arah yang sempurna).  Hingga, tercapai tingkat prestasi tinggi dengan berton-ton kharisma yang mahmudah (terpuji).
     Pasca-puasa, tiap individu dengan Tropi Ketakwaannya dituntut kian bertanggung-jawab sebagai khalifatun fil ardhy (master of the universe).  Para pemenang liga ritualisme ubudiyah wajib memperlihatkan dawai nurani yang menyejukkan dengan kerja sama harmonis buat kepentingan bersama.
     Umat Islam yang sudah memboyong Piala Ramadan dipastikan berjalan di atas bumi dengan perilaku Qur’anik yang finalitas paripurna.  Sebab, mereka telah lolos seleksi iman yang pengumumannya terdengar sampai lapis langit ketujuh.  Mereka sudah bergulat dan bergelut dalam proses pengendalian diri serta introspeksi diri (muhasabah).  Mereka telah berikhtiar dan menjauhi maksiat far’i (durhaka dari hukum-hukum Islam).  Kemudian memperbanyak sujud sekaligus menghargai waktu lewat totalitas akhlak.  Bahkan, menyemburkan sensasi hidup baru seperti berempati dengan nilai insaniah secara tulus dan mengasah kepekaan sosial.  Karena, homo homini socius (manusia adalah sahabat bagi sesamanya).
     Aneka keunggulan Ramadan tersebut yang membuat umat Islam selalu merindukan datangnya bulan suci.  Selain sebagai hari-hari penuh rezeki berkat makanan serta minuman melimpah melebihi takaran, juga Ramadan dirindukan berkat gemuruh tarawih.
     Kini, Ramadan akhirnya tiba.  Hati bergetar khidmat dan wajah berbinar ceria menyambut bulan kemuliaan itu.  Selamat datang bulan bertabur maghfirah (ampunan).  Marhaban ya Ramadhan.

(Tribun Timur)

Kamis, 02 Juni 2011

Marhaban Ya Ramadan

Marhaban Ya Ramadan

Oleh Abdul Haris Booegies

Peminat Masalah Keagamaan


“Wahai insan-insan beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kalian menjadi manusia yang bertaqwa” (al-Baqarah: 183).
Ramadan merupakan bulan yang paling krusial dalam kalender Islam. Di bulan itu umat Islam menahan lapar serta dahaga sekitar 14 jam sebelum fajar menyingsing sampai senja turun ke peraduannya, selama 29 atau 30 hari.
Secara etimologis, puasa bermakna menghindari makan maupun minum. Sementara dari sudut pandang terminologi, berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan niat puasa.
Di tiap milenium, Ramadan laksana Liga Mondial. Pengikut Rasulullah yang tergolong Muslim atau yang telah berpredikat Mukmin, berlomba merebut Tropi Ketakwaan. Piala tersebut jelas menjadi milik mutlak pribadi seperti tertera dalam kitab monoteisme terakhir bahwa la ‘allakum tattaqun (semoga kalian menjadi individu yang bertakwa).
Dalam merebut klasemen puncak (capotalista) Liga Global Ramadan, maka, diperlukan kondisi fisik dan rohani yang prima. Karena, tantangan serta godaan yang dihadapi tidak sedikit di tengah penurunan status gizi. Selain tidak makan dan minum, peserta Liga Ramadan pun mesti bertarung melawan diri sendiri. Iblis bersama pasukan setannya memang dibelenggu di neraka selama syahr ash-shabr (bulan kesabaran), namun, nafsu manusia tetap menyala-nyala berkobar menggelegak dalam aliran darah.
Manusia yang sukses melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu langsung mendapat pahala dari Allah. Berkah itu tidak diperoleh lewat prosedur langit, tetapi, dari Arasy yang Agung. Di Singgasana Mulia tersebut, Allah mempersembahkan pahala khusus kepada hamba-hamba yang bertakwa.
Tetesan rahmat Allah yang digapai acapkali terlihat pasca-Ramadan. Sebab, manusia sebagai maha karya monumental Tuhan, tiba-tiba memperagakan kasih sayang terhadap sesama maupun kepada lingkungan. Pemenang Tropi Ramadan kontan bertambah energi keimanannya. Perilakunya sontak bergerak ke arah marhamah (kelemahlembutan).

Memperpanjang Umur

Transformasi sikap pemenang Piala Liga Universal Ramadan, diikuti pula perubahan kesehatan. Kendati jadwal makan berubah serta terjadi pengurangan frekuensi makan, namun, puasa ditilik dari segi kesehatan sangat cocok bagi jasmani.
Zat gizi yang mutlak dibutuhkan tubuh mencapai 45 macam seperti mineral, asam amino esensial, asam lemak esensial, karbohidrat dan vitamin. Pria lazimnya memerlukan sebesar 2.100 kalori. Sedangkan wanita berkisar 1.900. Kalori sebanyak itu membuat aktivitas mampu berjalan lancar.
Puasa sesungguhnya mengistirahatkan organ-organ badan sesudah sebelas bulan bekerja tanpa henti. Di bulan Ramadan, raga berkesempatan membersihkan zat-zat beracun. Puasa juga memperlancar proses metabolisme tubuh.
Puasa menggiring jasmani ke tingkat kebugaran optimal. Karena, tercapai adaptasi terhadap efisiensi penggunaan energi. Survei membuktikan kalau pengurangan makanan pada dasarnya memompa daya tahan jasmani.
Puasa bagi manusia berfaedah guna meningkatkan kesegaran. Bahkan, menghalangi pelbagai penyakit degeneratif.
Pada 1982, Reihm S dalam penelitiannya menggarisbawahi bahwa puasa mempegaruhi penurunan insiden tumor semacam paru-paru, limpa serta payudara. Dengan puasa, niscaya konsumsi lemak tinggi yang menjadi sebuah faktor tumbuhnya tumor dapat ditekan. Puasa malahan memotivasi tercapainya usia yang lebih panjang.
Fenomena positif pengurangan konsumsi energi alias puasa tersebut, membuktikan bila ajaran Islam tidak bertentangan dengan kesehatan. Apalagi, struktur raga manusia dirancang untuk bertahan selama dua pekan, dengan catatan tetap minum. Sementara jika tidak makan dan minum, tubuh sanggup bertahan sekitar tujuh hari.
Pola hidup sehat dengan berpuasa makin indah kalau menaati perintah-perintah yang menyelubungi Ramadan. Umpamanya, dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad menyuruh supaya melambatkan sahur sembari menyegerakan berbuka (ifthar). Hikmah dibalik sabda Rasulullah itu yakni agar masa defisit kalori tidak berlarut-larut.
Nabi Muhamad buka puasa dengan tiga butir kurma. Rahasia perilaku berbuka Rasulullah ialah dengan mempercepat makan serta minum yang manis-manis semisal kurma, berarti memberi jasmani energi instan. Sebab, hidangan yang terasa manis (glukosa dan fruktosa), cepat disintesa oleh badan menjadi daya motorik.

Laba-laba pun Puasa

Puasa pada hakikatnya telah dikenal dalam agama Yahudi serta Nasrani. Bahkan, puasa ditemukan pula jejak historisnya pada bangsa kuno semacam Persia, Mesir, Cina dan India. Sedangkan di Negeri Hollywood yang liberal, hedonis serta nudis, artis kaliber Oscar mengenal istilah diet.
Di samping dijumpai dalam kebudayaan manusia, juga puasa terlihat secara jelas dipraktekkan oleh hewan atau serangga. Ayam, contohnya, ketika mengerami telurnya tetap bergeming. Lehernya terpaku terus walau disodorkan makanan berupa kacang-kacangan. Ayam tak punya selera makan kendati berhari-hari duduk tepekur di atas telurnya.
Ihwal serupa terlihat pada laba-laba. Dengan kepompong yang lebih besar dibandingkan perutnya, laba-laba setia melekat di dinding yang jauh dari keramaian dalam rumah. Serangga tersebut tak bernafsu makan sekalipun sudah beberapa hari bergelantungan.
Orang berpuasa supaya bisa bermetamorfosis menjadi insan takwa. Dengan Piala Keimanan dari Liga Ramadan, manusia hidup dalam nilai-nilai Ilahiah dan kesehatan sempurna. Sementara ayam bersama laba-laba tidak makan serta minum selama mengerami telur, demi memperoleh hidup baru berupa kelahiran anak yang banyak.
Pasca-puasa, tiap individu dengan Tropi Ketakwaannya dituntut kian bertanggung-jawab sebagai khalifatun fil ardhy (pemimpin di atas dunia). Para pemenang liga ritualisme ubudiyah wajib memperlihatkan dawai nurani yang menyejukkan ruang lingkup hidupnya.
Umat Islam yang telah memboyong Piala Ramadan mutlak berperilaku Qur’anik yang finalitas paripurna. Karena, mereka sudah lolos seleksi iman. Mereka telah bergulat dan bergelut dalam proses introspeksi serta pengendalian diri. Mereka sudah berikhtiar mengasah kepekaan sosial, bersyukur dengan memperbanyak sujud, berempati dengan nilai insaniah secara tulus sekaligus menghargai waktu lewat totalitas akhlak.
Aneka keunggulan Ramadan itu yang membuat umat Islam selalu merindukan datangnya bulan suci. Selain sebagai hari-hari penuh rezeki berkat makanan dan minuman melimpah melebihi takaran, juga Ramadan dirindukan berkat gemuruh tarawih.
Kini, Ramadan akhirnya tiba. Hati bergetar khidmat serta wajah berbinar ceria menyambut bulan kemuliaan tersebut. Selamat datang wahai bulan bertabur maghfirah (ampunan). Marhaban ya Ramadhan.

Amazing People