Minggu, 29 Mei 2022

Oligarki 80


Oligarki 80
Oleh Abdul Haris Booegies


     Tatkala Ahmad Fathanah terpilih sebagai ketua Iapim, ia menempatkan individu sesuai potensi.  Ini untuk menunjang efektivitas kinerja.  Setelah melewati proses diskusi antarjenjang, maka, Ahmad Fathanah menyusun strategi guna mencapai target.  Alhasil, lahir divisi khusus Iapim bernama Penelitian dan Pengembangan (Litbang).  Saya memperoleh kehormatan sebagai pengurus Litbang.
     Berderet malam pada 1993, diisi dengan main domino di area parkir sekretariat Iapim.  Malam-malam panjang begitu riuh.  Akibat tidak tahu main domino, saya pun kerap diimbau oleh Ahmad Fathanah menyiapkan konsumsi.  Saya ke kedai di Jalan Sungai Cerekang membeli ubi serta pisang goreng.  Di era tersebut, molen dan tahu isi belum ada.
     Sesudah menjauh selama 24 tahun sejak 1996 sampai 2020, saya kembali mendengar sepak-terjang Iapim.  Pertama, sekawanan begundal di Iapim marah ketika Yasdic hendak menjual Tamalanrea.  Mengherankan sekali, Iapim mencampuri urusan Yasdic.  Apakah jika kas Yasdic habis, Iapim rela menombok?  Manusia minus malu saja yang mau mencampuri urusan orang!
     Persoalan kedua yang terdengar, Iapim tetap dikuasai dinasti 1981-1986.  Hampir 40 tahun, Iapim dinakhodai Generasi Berlian (enam angkatan awal).
     "Tak ada yang ingin jadi ketua Iapim", sahut seorang sahabat.  Tentu saja anggota Iapim ogah maju sebagai kandidat karena tidak ada pengaderan.  Kader tak ada gara-gara pengurus tidak memikirkan regenerasi.  Kendati tak ada tradisi pengaderan, namun, berlimpah acara reuni sebagai budaya dominan.
     Pada esensinya, dengan menyiapkan kader berarti Iapim mengedepankan norma perilaku organisasi.  Kader merupakan harapan serta masa depan yang bakal meneruskan filosofi Iapim.

Awal Oligarki
     Sulit memungkiri bila di Angkatan 80-an ada oligarki.  Mafia ini mulai tumbuh saat sekretariat Iapim pindah ke Jalan Sungai Lariang.
     Di ujung akhir tarikh 80-an, oligarki mulai bergentayangan.  Mereka menyusun siapa yang mesti menjadi ketua Iapim.  Syaratnya tentu saja tamatan 1981 sampai 1986.
     Wujud oligarki di Iapim terlihat kabur sekaligus kentara.  Samar modelnya lantaran tidak memiliki administrasi.  Jelas penampakannya karena sanggup mempengaruhi opini di Iapim.
     Syahdan di suatu momen, saya dibisik oleh seorang personel oligarki.  Ia kecewa akibat ketua Iapim pilihan oligarki melakukan pembangkangan.  Sang ketua menunjuk sekretaris dari angkatan yang satu tingkat di bawahnya.  Padahal, oligarki telah menyiapkan nama yang layak sebagai sekretaris.
     Pembangkangan ini tak didiamkan.  Oligarki membalas dengan memboikot kegiatan-kegiatan Iapim.  Di periode itu, Iapim mengalami hari-hari kelabu nan suram.
     Di pertengahan 2022 ini, berembus info A1 di internal oligarki.  Ketua Iapim tetap dipegang Angkatan 1981-1986.  Untuk mengelabui pandangan publik agar Iapim terlihat demokratis, maka, keberadaan musyawarah besar (mubes) tetap dilaksanakan.  Padahal, ini cuma kedok.  Mubes sekedar kamuflase.  Kelak, struktur juga berubah di Iapim.  Ada ketua umum, ada pula ketua pelaksana harian.
     Informasi crystal clear ini memaklumatkan bahwa oligarki sudah melakukan agregasi mufakat.  Hingga, tidak terjadi perebutan supremasi di Iapim.

Dua Skenario
     Selama empat dasawarsa, alumni 80-an, terutama Generasi Berlian, menguasai Iapim.  Kubu 80-an dengan oligarkinya punya otoritas penuh terhadap siapa yang akan menjadi ketua Iapim.  Mereka mengaplikasikan proteksionisme maupun egosentrisme.
     Apa yang diperbuat oleh oligarki, sesungguhnya memicu bom waktu.  Ada dua skenario yang bakal terjadi kalau alumni 80-an terus-menerus mengendalikan Iapim.  Pertama, lahir aliansi antara alumni milenial (2000-2017) dengan alumni Moncongloe.  Kedua, lulusan Moncongloe mendirikan organisasi tandingan.
     Alumni milenial dengan alumni Moncongloe merupakan partner strategis untuk mengenyahkan hegemoni 80-an.  Jika sinergi ini terjadi, niscaya alumni jompo yang kecut bau badannya, kaget sampai terlempar ke rawa-rawa dekat 20 WC.
     Operasi gabungan antara milenial dengan Moncongloe sebenarnya elok dan elegan.  Pasalnya, menjadi penyelamat Iapim dari cengkeraman oligarki.  Sangat parah bila alumni Moncongloe menggebrak dengan membentuk organisasi tandingan.  "Konflik senyap" dengan bumbu proteksionisme serta egosentrisme akan memantik kemunculan organisasi saingan Iapim.  Kita menamakan saja tandingan tersebut Serikat Alumni Pesantren IMMIM Moncongloe (Sapim).  Tentu Sapim berdiri untuk merespons Iapim kolonial.
     Generasi Moncongloe mutlak diwaspadai.  Soalnya, mereka tak memiliki akar sejarah sebagai alumni Tamalanrea.  Mereka punya konsep sendiri.  Memiliki narasi-narasi untuk digaungkan.  Punya paradigma yang selaras dengan masa depan.  Berhati-hatilah dengan orang yang tidak seakar dengan kita.
     Saran saya kepada rekan alumni 80-an yang nalurinya mati rasa, khususnya Generasi Berlian (1981-1986).  Berhentilah merampas hak alumni terbaru yang berpotensi sebagai Iapim 1.  Lebih agung menyatukan energi guna mendesain alumni Moncongloe sebagai pemimpin baru Iapim.  Memberikan mereka peluang berarti alumni 80-an telah melakukan proses pembentukan manusia seutuhnya di Iapim.  Apalagi, jati diri otentik Iapim ialah bergandeng dalam ikhtiar demi menata perubahan pada dunia.
     Merampok kewenangan alumni Moncongloe memaparkan kalau alumni 80-an tak memahami tantangan kompetitif.  Iapim dihadapkan pada perubahan besar yang terus-menerus datang silih berganti.  Dibutuhkan karakter superior yang berfungsi paripurna untuk mengantisipasi tantangan.
     Profesionalisme harus diutamakan lantaran warga Iapim kian banyak, majemuk.  Mesti ada konsolidasi untuk mengakomodasi segala tantangan.  Dewasa ini, bukan waktunya memaksakan figur lapuk yang pikun untuk bertakhta di singgasana Iapim 1.  Apa mau diharap dari alumnus tua bangka yang sakit-sakitan, inferior.
     Mencuat bertalu-talu tanya.  Apakah jika alumni Moncongloe menjadi ketua, maka, Iapim langsung berkilau cemerlang dan gemilang?  Jawabannya spekulatif.  Bisa "ya" atau "tidak".  Menangani organisasi yang selama empat dekade tak memiliki kader, pasti "ruwet, ruwet, ruwet".  Merevitalisasi Iapim niscaya butuh waktu.  Tidak instan.  Kita hanya berharap bahwa ketua Iapim dari trah Moncongloe, efektif memobilisasi segenap struktur untuk bergerak dinamis.

Sambal Ingus
     Patut diduga dalam kebimbangan.  Oligarki yang sampai sekarang masih kokoh tiada lain alumni yang dulu main domino pada 1993.  Kini, mereka leluasa melegitimasi siapa yang pantas menjadi Iapim 1.
     Saya menyesal, mengapa dulu waktu disuruh pergi beli singkong goreng di Jalan Sungai Cerekang, tak bereksperimen ekstrem.  Seharusnya sambal ingus ubi goreng saya ganti dengan saus olahan pabrik.  Saus ini tinggi kalori serta rendah nutrisi.  Akibatnya, mempunyai efek negatif pada kesehatan otak.  Struktur sistem sinyal otak yang mengontrol ingatan bakal terganggu.  Arkian, menyebabkan pikun.
     Andai saya mengganti sambal ingus dengan saus pabrik, niscaya oligarki tidak ada di Iapim.  Sebab, mereka semua sudah pikun!


Kamis, 26 Mei 2022

Rindu Berbuah Iapim


Rindu Berbuah Iapim
Oleh Abdul Haris Booegies


     Angkatan pertama (1975-1981) Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM merupakan alumni dengan simpul persaudaraan yang teramat kental.  Di pondok, mereka tak punya kakak kelas.  Tidak aneh jika Armada 7581 menyebut pimpinan kampus dengan istilah "akhunaa" (kakak kita).
     Angkatan pertama hidup dalam suasana sangat sederhana.  Asrama hanya satu yakni Rayon Datuk Ribandang.  Ranjang mereka cuma dipan dari potongan papan.
     Ilalang dan tumbuhan liar berkembang di sekeliling area kampus.  Suara jangkrik serta kepak sayap burung di malam hari, acap terdengar.  Di musim hujan, katak jantan di rawa-rawa di belakang asrama Datuk Ribandang, turut berdendang.  Hewan amfibi tersebut bersenandung untuk menarik perhatian kodok betina.  Musim hujan merupakan musim kawin bagi katak.  Maklum, banyak serangga keluar sarang.  Cacing-cacing pun muncul ke permukaan.  Ini santapan sedap bagi kodok.
     Sore kala hujan, santri berbaring menyembunyikan diri di balik sarung.  Bau apek sarung terasa lantaran sudah sebulan belum dicuci.  Seprai kotor ikut menambah runyam.  Pasalnya, membuat kulit gatal.  Mencuci gampang, namun, sabun tak ada.  Ini gara-gara kiriman uang telat.
     Serba terbatas di pondok memantik rasa persaudaraan yang erat.  Dalam keterbatasan, santri menyatukan tekad.  Setelah terkurung selama enam tahun, mereka pun terbebas.  Rantai aturan terlepas.
     Beberapa hari seusai tamat, ada rindu merayap di sanubari angkatan pertama.  Segenap alumni yang terpisah, rindu untuk berkumpul bersama.
     Di tarikh 1981, transportasi minim.  Menunggu mikrolet (petepete) di Sentral untuk ke Daya bisa mencapai setengah jam.  Di masa itu, juga belum ada alat komunikasi semacam ponsel.  Pesantren IMMIM saja baru memiliki jaringan telepon pada 1984.  Antenanya menjulang setinggi 20 meter di belakang aula.
     Di tengah keterbatasan komunikasi dan transportasi, mencuat tekad.  Alumni Pesantren IMMIM wajib mempunyai wadah berhimpun.  Amir Mahmud, Ansar Ilyas, Indra Jaya Mansyur, Khairuddin SB bersama Muhammad Nur Anugrawan, akhirnya bersepakat dalam kesepahaman.  Mereka menggodok konsep awal untuk mendirikan serikat alumni.
     Pada Rabu, 9 September 1981, lima penggagas ini menghadap ke Fadeli Luran, pendiri Pesantren IMMIM.  Mereka berkonsultasi mengenai pembentukan perhimpunan.  Alumni perintis ini merasa perlu ada forum komunikasi serta pertukaran informasi antarlulusan.
     Pada Kamis, 10 September 1981, sejumlah angkatan pertama bersua di kediaman Ansar Ilyas di Jalan Cendrawasih.  Mereka bersiap melahirkan himpunan alumni.
     Sebenarnya, seluruh 32 alumni pertama Tamalanrea dan Minasa Te'ne, diundang untuk hadir.  Kendala komunikasi serta transportasi, tidak dapat dihindari.
     "Ketika kami datang ke rumah Ansar Ilyas, hampir semua naik mikrolet.  Tak ada yang naik motor.  Sebagian belum ada yang memiliki motor, lainnya tidak tahu naik motor", kenang Zainal Abidin, hadratussyaikh alumni.
     Dalam pertemuan, disepakati mendirikan organisasi sosial kemasyarakatan bernama Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim).
     Khairuddin SB secara aklamasi lantas dibaiat sebagai ketua Iapim.  Inilah awal narasi-narasi besar Iapim.  Pada Kamis, 10 September 1981 ini pula, gagasan-gagasan besar kerap tercetus dari Iapim.

Duo Sakti
     Setahun sesudah pendirian Iapim, organisasi ini makin kokoh berkat kehadiran alumni kedua yang dimotori oleh Andi Nurzaman Razaq bersama Syamsulbahri Salihima.  Kedua alumni bukan orang sembarang.  Mereka tertoreh sebagai aktivis di UIN Alauddin.  Duo sakti ini sering bertandang ke rektor untuk pengembangan mahasiswa dan pramuka.
     Pada 1987, Nurzaman yang disapa kak Maman terpilih sebagai ketua Senat Fakultas Adab.  Ia juga dua kali terpilih sekretaris umum Iapim di periode Anshar Ilyas serta Mappinawang.  Pada 1987, Syamsulbahri yang akrab dipanggil kak Sambas terpilih ketua Iapim.
     Berikut susunan ketua Iapim periode pertama sampai sekarang.
     Khairuddin SB
     Muhammad Nur Anugrawan
     Ansar Ilyas
     Mappinawang
     Syamsulbahri Salihima
     Indra Jaya Mansyur
     Ahmad Fathanah
     Mustafa Irate
     Muhammad Imran Yusuf
     Mappinawang
     "Secara resmi, Iapim berdiri pada 1984.  Program pertama antara lain meregistrasi alumni.  Sosialisasi Iapim ke Pesantren IMMIM Putra-Putri.  Diadakan pula Program basic pascawisuda di pesantren.  Ini semacam orientasi untuk diterima sebagai warga Iapim", ungkap Nurzaman.
     Sekretariat pertama Iapim berada di samping kantor Fadeli Luran di Gedung IMMIM di Jalan Jenderal Sudirman.  Tatkala Syamsulbahri terpilih ketua, sekretariat pindah ke sisi Gedung IMMIM di Jalan Sungai Lariang.  Jarak antara sekretariat pertama dengan kedua sekitar 15 meter.  Dengan berjalan kaki, bisa ditempuh 10 detik.
     Pada pertengahan 1986 saat saya mengikuti program basic, terlintas seberkas info.  Pernah ada pakaian pelopor Iapim dipajang di dinding sekretariat.  Busana lusuh penuh debu dan bercak cat tersebut dikenakan ketika merancang serta memoles sekretariat.  Kalau ada yang merasa mengambil, mohon dikembalikan.  Soalnya, itu adalah inventaris Iapim yang kini tergolong artefak purbakala.  Bernilai tinggi!

Fanatisme Angkatan
     Memasuki 1990, Iapim secara perlahan terus menunjukkan kegiatan-kegiatan positif.  Anggota Iapim menancapkan citra sebagai sekelompok anak muda bermutu.
     "Iapim menjadi wadah pemenuhan kebutuhan bagi alumni.  Iapim merupakan sistem nilai dari sumber daya insani untuk mendesain totalitas karya di tengah umat", tutur Mahmuddin Achmad Akil dari Divisi 8288.
     Memasuki milenium ketiga, Iapim tetap mempertahankan dominasi dinasti 80-an sebagai pucuk pimpinan organisasi.  Tak ada angkatan 90-an maupun alumni milenial yang pernah menjadi Grand Syaikh Iapim.
     "Perlu ada kaderisasi sebagai regenerasi.  Ini untuk melanjutkan estafet perjuangan Iapim.  Jangan monoton.  Akibatnya, terkesan stagnan", ujar Nur Miati Aminuddin dari Korps 7985.
     Dewasa ini, Iapim menghadapi setumpuk tantangan, termasuk internal.  Iapim harus realistis, jangan ada fanatisme angkatan atau kelompok.  Memaksakan alumnus lapuk rasa rongsokan sebagai ketua, tentu tidak realistis.  Sebab, kesibukan di luar aktivitas organisasi mempengaruhi keseriusan mengelola Iapim.
     Di era metaverse, Iapim sudah usang bila hanya mau kumpul kangen demi bernostalgia.  Aplikasi video call di ponsel dan video conference mampu menjadi solusi jika cuma cuap-cuap tentang zaman old di almamater.
     Kita berharap ada peremajaan, terutama memunculkan alumni Moncongloe sebagai Iapim 1.  Tenaga segar sanggup menjadi lokomotif untuk mendorong 42 gerbong Iapim.  Figur milenial akan menata struktur organisasi demi mengoptimalkan efektivitas komunikasi, koordinasi serta kolaborasi antaralumni.  Hatta, awak Iapim leluasa bergandeng dalam ikhtiar.
     Di tangan alumni milenial, ekspektasi digaungkan agar visi bisnis Iapim turut terpacu.  Hingga, ada Departemen Pengembangan Karier (Career Center) dalam jenjang Iapim.  Lembaga ini untuk menyalurkan minat alumni yang tertarik mengembangkan bisnis.  Selain itu, menggagas Departemen Co-Branding untuk konsolidasi dalam kemitraan guna memaksimalkan ekuitas merek.
     Career Center dan Co-Branding bakal memicu program-program bisnis, khususnya niaga ukhrawi.  Alhasil, dua tahun mendatang ada "Pertemuan Saudagar Iapim".  Keren bangets...!

Narasumber
Andi Nurzaman Razak
Mahmuddin Achmad Akil
Muhammad Imran Yusuf
Nur Miati Aminuddin
Zainal Abidin


Senin, 16 Mei 2022

Reformasi Alumni Moncongloe


Reformasi Alumni Moncongloe
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ada slogan dari hati ke hati bahwa persatuan sesama warga Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim), teramat kental.  Tak ada rasa marah maupun dendam di hati para alumni Pesantren IMMIM.  Bahkan, ketika mereka dibinatang-binatangkan secara verbal.
     Syahdan, seorang alumnus Pesantren IMMIM merancang sebuah eksperimen mutakhir yang belum pernah ada sejak manusia pertama.  Ia berteori bahwa orang yang merapatkan gigi atas dengan bawah kemudian membuka lebar bibir.  Setelah itu mengeluarkan tawa "ha ha ha", niscaya tidak bisa melihat tangannya yang dijulurkan di depan.  Cobalah.
     Kalau sudah mempraktikkan, berarti Anda mirip kuda yang meringkik akibat digetik biji pelirnya.  Tak usah marah.  Ini sekedar guyon sesama alumni.  Silakan balas dendam dengan teman atau tetangga.  Sebab, kalian pasti sebal lantaran dikerjai secara vulgar karena dituding persis kuda meringis.
     Alumni yang berkolaborasi di Iapim, dari hari ke hari terus menggeliat dalam kreasi.  Mereka bergandeng dalam ikhtiar demi mengekspresikan diri.
     Sejak berdiri pada Kamis, 10 September 1981 (12 Zulqaidah 1401), Iapim rupanya kelabakan dari sisi kader.  Ketua Iapim cuma berasal dari angkatan 80-an.  Ada malahan kicau burung yang ditebar angin bahwa Iapim 1 wajib berasal dari angkatan pertama sampai keenam.  Di luar angkatan ini, mereka dianggap masih di bawah umur.  Anak bawang yang bau kencur.  Ibarat nonton di bioskop, mereka tidak diperkenankan menyaksikan film hot akibat usia di bawah 17 tahun.

Pesimisme Megalomaniak
     Begitu memilukan bahwa Iapim dengan anggota sekitar 5.000 alumni yang tamat di pesantren, tak punya kader.  Apakah tokoh lapuk dari era 80-an tidak merasa malu mengincar terus posisi Iapim 1?  Milikilah secuil malu agar tak merampas hak angkatan muda Iapim.
     Jangan merampok kewenangan alumni milenial, khususnya generasi Moncongloe.  Kelak, sejarawan bersama peneliti akan heran.  Mereka tidak habis pikir.  Mengapa alumni 80-an, khususnya generasi berlian (1975-1981 sampai 1980-1986) tak sudi melakukan estafet kepemimpinan di Iapim?  Mengapa mereka keras kepala!  Mengapa mereka kepala batu!
     Alumni milenial rumit berkembang gara-gara pengaderan macet.  Pengaderan yang pampat pasti tanggung jawab ketua-ketua sebelumnya yang berasal dari dinasti 80-an.
     Alumni Moncongloe (2018-2022) merupakan generasi baru yang berhak tanpa syarat menjadi Iapim 1.  Anehnya, mereka hanya memandang kosong tanpa rasa prihatin kala haknya dikangkangi oleh alumni terdahulu.  Sangat mengherankan bahwa alumni milenial justru apatis.  Alumni 80-an bermental megalomaniak, sementara alumni milenial dibekap pesimisme.  Sebuah kombinasi sempurna untuk kehancuran organisasi.

Entitas Kreatif
     Bila nanti Iapim 1 masih direbut wangsa 80-an, saya mendukung 100 persen alumni Moncongloe untuk membuat wadah berhimpun lain.  Hegemoni Moncongloe mutlak tampil di lembaga berbeda guna mengekspresikan diri.  Mereka layak membuat organisasi tandingan dengan nama Serikat Alumni Pesantren IMMIM Moncongloe (SAPIM).
     Suara azan telah berkumandang.  Kini, momen bagi alumni Moncongloe untuk bergerak mendesain Iapim milenial sebagai tandingan Iapim kolonial.  Gaungkan sekarang reformasi demi menata pergerakan lulusan Pesantren IMMIM di masa depan.
     Tanpa SAPIM, niscaya alumni milenial bakal terus berada di bawah bayang-bayang generasi berlian (1981-1986).  Tamatan milenial tidak akan berkembang sebagai sebuah entitas mandiri yang kreatif.  Sia-sia seluruh potensi alumni milenial jika tak merancang organisasi tersendiri.
     Kehadiran SAPIM bakal menambah amunisi perjuangan untuk membangun Indonesia lebih maju.  SAPIM akan membuat figur-figur tua Iapim meringis persis kuda yang dijentik biji pelirnya.


Rabu, 11 Mei 2022

Imam 86


Imam 86
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada Kamis, 24 April 1986 (15 Sya'ban 1406), Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM menamatkan 128 santri.  Di Tamalanrea ada 78 alumni.  Di Minasa Te'ne tercatat 50 alumni.
     Menyelesaikan pendidikan di pesantren laksana menyusun batu di dasar jurang curam.  Dari hari ke hari onggokan cadas meninggi.  Santriwan-santriwati harus tabah, ulet dan kreatif supaya sampai ke puncak tebing.
     Sesudah enam tahun menumpuk batu, para santri tiba di pucuk jurang terjal.  Mereka pun terbebas usai ditempa di kawah para resi.  Kini, Angkatan 8086 leluasa memandang matahari.  Mereka bergemuruh untuk menentukan masa depannya.
     Di tarikh 1986, Armada 86 menghias sejarah.  Shalahuddin Ahmad serta Suharkimin bebas tes masuk Universitas Hasanuddin.  Disusul Imam Setiawan turut mempertebal kehebohan Divisi 86.  Ia santri pertama Pesantren IMMIM yang lolos di Akademi Kepolisian.
     Karier Imam di kepolisian cukup cemerlang.  Ini menimbulkan coattail effect, pengaruh tokoh tersohor terhadap organisasi ikut terkatrol.  Imam menjadi penggerak kesaktian Korps 86.
     Hikayat Armada 86 pun berseliweran semerbak.  Drama Korea kalah syahdu.  Pasalnya, narasi-narasi seputar Divisi 86 bak dongeng keraton.  Terdengar indah dan mempesona.  Arkian, Korps 86 begitu dominan seraya lihai menggerakkan gagasan.  Armada 86 seolah berbalut egosentrisme di Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim).
     Setelah penduduk Bumi menjelajah milenium ketiga, mulai terasa kalau Divisi 86, oleng.  Ibarat mobil yang kempis bannya.  Habis pula bensinnya.
     Saya teringat kisah kapten Lafang Anang yang menerbangkan pesawat Royal Iapim 8086 Airlines.  Seluruh penumpang adalah alumni putra-putri 8086.
     Di ketinggian 35.000 kaki, Lafang Anang menghubungi menara kontrol.  Sang pilot mengirim kode darurat ke Air Traffic Control (ATC).
     "Mayday Mayday Mayday".
     Seorang alumnus milenial bernama Miss Teen segera merespons.  Ia sudah tiga tahun bertugas di ATC sebagai pemandu lalu lintas udara.
     "Apa yang terjadi Royal Iapim 8086 Airlines?"
     "Pesawat oleng gara-gara baling-baling sebelah kiri terlepas.  Sayap kanan patah.  Kemudi macet.  Tangki bahan bakar bocor!  Apa yang mesti saya lakukan!"  Pekik Lafang Anang di tengah pramugari-pramugari jelita yang panik.
     "Oke kapten Lafang Anang, sekarang ulangi ucapan saya.  Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun".

Superiority Complex
     Korps 86 nyaris kehabisan nafas di kurun 2020.  Bukan cuma stasioner, namun, eksil.  Armada 86 terpinggirkan di tengah alumni milenial yang segar dalam menebar ide-ide baru.  Kemalangan bagai membiak di pangkuan Divisi 86.  Beruntung ada Wahyuddin Naro menorehkan prestasi menjulang sebagai profesor di akhir 2021.  Inilah profesor pertama Korps 86 setelah disalip oleh adik-adik angkatan.  Sebelumnya, Iapim 8187 maupun Iapim 8288 lebih dulu memiliki profesor.
     Selama dua dekade sejak 1986, hegemoni Armada 86 tak tergoyahkan.  Bahkan, cenderung megalomania, terobsesi sebagai terbesar serta terbaik.  Klaim arogansi karena mengidap superiority complex, kini pudar.  Apa yang dipunyai Divisi 86, juga dimiliki angkatan lain.  Sementara yang dipunyai angkatan lain, tidak dimiliki Korps 86.
     Pascatragedi Royal Iapim 8086 Airlines, kapten Lafang Anang diopname.  Selama dirawat di rumah sakit, ia saban hari didatangi sosok misterius.  Makhluk tersebut menyodorkan brosur-brosur jika kehidupan di Neraka teramat menyenangkan.  Ia mengumbar janji semanis madu.  Tiap penghuni Neraka memperoleh sebuah pulau, lengkap dengan kapal pesiar dan vila.  Selain itu, dilayani lima gundik tanpa busana dari Hollywood.  Siapa pula pria tak tergiur dengan cewek-cewek bugil.  Hm...sedap!
     Lafang Anang yang mengidap superiority complex, akhirnya tergoda.  Hatinya luluh, mencair serupa salju yang kena sinar mentari.  Ia membisik makhluk tersebut bila terpikat secara libido dengan Alexandra Daddario, Selena Gomez, Natalie Portman, Emma Watson serta Alexis Bledel.
     Beberapa hari berselang, elektrokardiogram menampilkan grafik lurus di layar monitor.  Lafang Anang wassalam dari dunia fana dengan senyum manis.  Sang megalomaniak ini diarak menuju barzakh.  Sesudah menuntaskan administrasi sekaligus identitas divalidasi di alam kubur, Lafang Anang digiring ke Neraka, destinasi pemungkas.
     Lafang Anang terpana tatkala melihat Neraka.  Semua serba api.  Jerit memilukan tiada henti terdengar dari lubang-lubang api.
     "Inilah Jahanam, tempatmu!"  Hardik pengawal berwajah angker dengan mata merah melotot.
     "Bulan lalu saya dijanjikan kalau Neraka berlimpah kenikmatan", sergah Lafang Anang.
     "Bulan lalu kami memang mengadakan promosi".

Spirit Mistik
     Dewasa ini, alumni Pesantren IMMIM terus bergerak.  Mereka menata kehidupan dengan aneka cara dan gaya.  Lulusan yang tergabung di Iapim, terus berkiprah.
     Di tengah hiruk-pikuk kegiatan Iapim, Armada 86 tiada jeda berupaya menyalakan suasana pesantren di hati.  Ini menjadi energi guna merajut kebersamaan dalam menggapai cita-cita.  Bergandeng dalam ikhtiar demi kejayaan almamater merupakan spirit mistik di dada warga Iapim.
     Sirah Divisi 86 tidak boleh lenyap tanpa bukti yang tersisa dari zeigeist, semangat zaman.  Angkatan 8086 mutlak tetap berada di jalur tepat untuk mewarnai Iapim, IMMIM serta umat.  Korps 86 tak pantas terlupa dari lembaran-lembaran emas Pesantren IMMIM.
     Kendati Armada 86 redup dan oleng, tetapi, ada bocoran dari big data.  Divisi 86 bakal membangun masjid di sebuah lokasi di wilayah Republik Indonesia.  Masjid al-Imam 86 akan menjadi markas Angkatan 8086.  Di petak lain di area masjid, juga disediakan sekretariat Iapim.  Ini agar terjalin interaksi mesra antara Koprs 86 dengan warga Iapim, Uraa!
     Inilah alumni 1986 Pesantren IMMIM Putra Tamalanrea yang disusun secara abjadiah:
IPA 8086
Abdul Haris Booegies
Abidin Husain
Agus Ramadan
Agus Salim
Ahmad Afifi
Ahmad Hidayat
Ahmad Natser
Ahmad Ridha
Andi Arman
Andi Asri Lolo
Andi Fauzih Rahman
Andi Martan Aries
Andi Rustam
Andi Syamsir Patunru
Ansyarif
Arfandi Dulhaji
Arifin Rahman
Armansyah
Armin Mustamin
As'ad Ismail
Atmal Ariadi Djaenal
Burhan Hamid
Hesdy Wahyuddin (Oge)
Ikbal Said
Khuzaifah BM
Muaz Yahya
Muhammad Ilham Suang
Muhammad Thantawi
Muhammad Yunus
Muhammad Zaenal Hasyim
Ridwan
Rusman
Sabri Rata
Saifuddin Ahmad
Saiful Latief
Shalahuddin Ahmad
Suharkimin
Syafaruddin
Tahir Mana
Wahyu Muhammad
IPS 8086
Abdul Aziz Yusuf
Abdul Hafid (Havid de Berru)
Abdul Malik
Abdul Muiz Muin
Abdul Muqit
Agus Adnan
Agus Ambo
Ahbaruddin
Ahmad Kuri Kilat
Ali Yusuf
Ambo Siknun
Andi Muhammad Yusuf
Awaluddin HK
Awaluddin Mustafa
Chalid Lageranna
Daswar M Rewo
Fuad Mahfud Azuz
Hamid Seltit
Imam Setiawan
Irsyad Dahri
Irwan Thahir Manggala
Iskandar
Lukman Sanusi
Muhammad
Muhammad Akbar Samad
Muhammad Arfah
Muhammad Takdir
Muhammad Zubair Andy
Mutalib Besan
Sahabuddin
Saifullah Nurdin
Sirajuddin Omsa
Wahyuddin Naro
     Alumni 1986 Pesantren IMMIM Putri MinasaTe'ne:
Aisyah
Amriani Amin
Andi Tenri Ajrana
Darmawati
Darwiyanah N
Fakhriah Mumtihani
H Jumriah
Hariani
Harmawati
Hasnawati
Humaedah Kamal
Janiah
Julianti
Jumariah
Khaerani
Khariyah
Mardiah A
Mardianah
Marhani Jamil
Mulianah M
Muslika S
Najmiah
Nur Hayana
Nur Jamil
Nur Saida Beta
Nurhaedah
Nurhidayah
Nursaidah N
Nursyamsu
Nurul Fuada
Pahmiati
Rahma Afiah Agustiati
Rahmatiah B
Rasnah
Rosmiati C
Rosmiati T
Rostiah HL
Ruqayah
Siti Habibah
Siti Hasrawati HS
Siti Syahri Nur
Sukhriani S
Suriani B
Sutriani
Syamsidar
Syarifa Jama


Rabu, 04 Mei 2022

Der Kaiser D5


Der Kaiser D5
Oleh Abdul Haris Booegies


     Franz Anton Beckenbauer merupakan legenda sepak bola dunia.  Ia pemain apik dengan penampilan indah di atas lapangan hijau.  Dominasi serta determinasinya begitu memukau di tim nasional Jerman, Bayern Muenchen maupun Cosmos.  Walau posisinya libero, namun, Beckenbauer sanggup melesatkan 109 gol.  Pemain bernomor 5 ini bergelar der Kaiser (sang Kaisar).
     Julukan Beckenbauer setara dengan keunggulannya yang andal membangun orkestrasi permainan.  Ia bersama rekan-rekannya ulet bergerak.  Tenaganya seperti tidak habis dipakai berlari dari pagi sampai petang.  Tak heran jika tim Jerman disebut der panzer yang bermesin diesel.
     Di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, tersua sejumlah santri dengan kepribadian kuat.  Mereka berperilaku santun dengan kecerdasan menonjol.  Satu di antaranya yakni Mulyadi.  Ini tokoh krusial Angkatan 1979-1985.  Sebagaimana dimaklumi, Armada 85 mengidentifikasi diri dengan D5 alias Delima (delapan lima).  Divisi D5 merupakan persekutuan santri populer.  Nama dan wajah mereka nyaris tidak terlupa dalam selaksa kenangan.
     Sosok Mulyadi selalu populer di hati sahabat-sahabatnya.  Ia figur sentral dalam Revolusi Pukul 23.30 pada Rabu, 6 Februari 1985.  Kala itu, Mulyadi murka melihat tiga teman seangkatannya digasak sampai bonyok oleh pembina muda.  Ia pun mengomandani pemberontakan untuk menghajar imperialisme-kolonialisme skala minimum ala Pesantren IMMIM.  Aksi heroik D5 bagai renaisans skala lokal yang menjelma fajar harapan santri.
     Kehadiran Mulyadi senantiasa relevan dengan nilai-nilai perjuangan santri.  Sebab, mampu memahami kondisi psikologis serta emosional.  Mulyadi merupakan der Kaiser era 80-an Pesantren IMMIM.

Santri Kesatria
     Hari ini, Ahad, 21 April 1985, santri sedang bertanding dan berlomba.  Ini hari kedua acara olahraga untuk memperingati Isra Miraj (Rabu, 27 Rajab 1405).
     Tatkala santri mengikuti lomba serta tanding, satu demi satu kelas VI meninggalkan ruang tes.  Ini hari terakhir Ujian Pesantren.
     Kelas VI kemudian saling berkumpul dengan tawa renyah.  Paras mereka cerah-ceria.  Hari yang ditunggu akhirnya tiba.  Ini detik-detik terakhir bagi mereka mengenakan seragam putih abu-abu.
     Terkenang pada pertengahan 1979.  Selepas tamat dari SD, sekitar 100 murid mendaftar di Pesantren IMMIM Putra.  Saat Angkatan 1979-1985 diterima, total jumlah santri di kampus mencapai lebih kurang 400.  Sampai habis seluruh hari pada 1979, belum ada kelas VI.
     Santri baru edisi 1979 tertantang membayangkan durasi enam tahun.  Dengan berbekal mimpi dan impian, mereka bertekad berlaga di pedepokan Tamalanrea sampai ujung tahun keenam.
     Satu bulan berlalu.  Mulai terasa ada kebosanan di pesantren.  Mental mulai goyah.  Padahal, sebelumnya mengeras laksana karang di laut.  Aturan ketat, makanan sederhana, orangtua jauh sekaligus lokasi pondok terpencil, merupakan momok bagi santri bermental kerupuk.  Satu per satu akhirnya terjungkal sebagai santri murtad.
     Santri dengan semangat petarung, niscaya tak retak oleh waktu.  Mereka tetap tegar pada pendirian awal.  Tidak surut sebelum diwisuda sebagai alumni.  Jiwa mereka seirama frasa bijak bahwa tak lapuk oleh hujan tidak lekang oleh panas.  Bagi santri kesatria, enam tahun terlalu sepele.  1000 tahun saja mereka tak sudi mundur selangkah.  Nyala nyali berkobar.  Mereka bukan pecundang yang nyalinya gampang rontok.
     Santri yang punya kecintaan terhadap pesantren akhirnya merasakan manisnya menyelesaikan pendidikan.  Mereka mengukir prestasi besar dengan menorehkan nama sebagai alumni Pesantren IMMIM.  Mereka akan dikenang dalam sejarah.  Namanya masyhur dalam teks bertinta emas.  Rona keindahan alumni terpercik bak kembang wangi di pergantian zaman serta generasi.  Nama mereka kekal, abadi selamanya.

Skala Mondial
     Bakda Isya pada Ahad, 1 Sya'ban 1405 ini, Korps D5 berkumpul merentang kegiatan.  Di program khusus mantan santri dan bekas kelas VI ini, terlihat wajah-wajah bersaput senyum saling merekatkan hati.  Ada atraksi breakdance.  Mulyadi sempat menyuruhku memperagakan breakdance.  Saya menolak, takut leher patah karena ini tari patah-patah.
     Acara lantas berganti dengan menampilkan kehebatan Panca Sakti.  Saya tidak berkedip menyaksikan segenap jurus yang dipertontonkan.  Ini memikat, tetapi, saya tetap kukuh di Black Panther.
     Di malam ini, Armada D5 memfokuskan pikiran serta imajinasi demi memobilisasi cita-cita.  Mereka meneguhkan konsensus pokok untuk merestrukturisasi kehidupan dengan pemikiran dan perjuangan.
     Penataan kembali agar struktur membaik wajib digelorakan karena D5 merupakan himpunan kaisar.  Dominasi serta determinasi mereka bakal mewarnai habibat yang didiaminya.
     Pasca-Ebtanas, der Kaiser D5 bertanggung jawab untuk mengarahkan kehidupan menjadi ramah, nyaman dan aman.  Apalagi, citra D5 terkenal santun serta sarat perhitungan.  Mereka memiliki performa untuk memamerkan prestasi gigantik.
     "Sampai sekarang di tarikh 2022, D5 adalah alumni paling keren.  Di angkatan ini semua ada dari A sampai Z", tutur Fitriannisa Abubakar, aktivis Iapim 1985-1990.
     Malam ini setelah tadi siang awak D5 menuntaskan Ebtanas, mereka duduk bersama di bawah sinar bintang-gemintang.  Berserikat di tengah sepoi angin malam seolah tradisi mistik sebelum meninggalkan kampus Islami.  Di momen ini, para kaisar 7985 bersimpuh takzim berkat Pesantren IMMIM membentuk karakter mereka untuk pantang menyerah.
     Divisi D5 bergandeng dalam ikhtiar di sepetak tanah Biring Kanaya.  Mereka bertekad menggaungkan aktualisasi humanisme religius dalam membangun peradaban.  Renaisans dalam skala mondial mesti digemakan.  Sisa-sisa rongsokan imperialisme-kolonialisme yang menodai kemanusiaan mutlak dikubur.  Dunia baru yang terentang di masa mendatang merupakan kepunyaan Korps D5.  Milik para kaisar yang pernah ditempa di Pesantren IMMIM selama periode 1979-1985.
     Inilah susunan Armada D5 yang dirangkai secara alfabetis.
Alumni putra:
Ahmad Mujahidin
Akmal Hasan
Anwar Makkulau
Arsyad Nasir
Askar Azhari
Benedix Walangadi
Fachruni Patahuddin
Hamzah el-Majshal
Hiyar Hijaz
Ikbal Bakry
Ikhsan BM
Ikhsan
Irfan Idris
Irwanuddin Abbas
Lukman Mubar
Muflih Bachyt Fattah
Muhammad Ardis
Mulkam
Mulyadi
Munatzir Fachri
Mustari
Mustari Aras
Musytari Randa
Nasrullah
Syarifuddin Abdullah
Syukur Syah
Alumni putri:
A Rabiatun
Asmara Jaya
Dahliah
Fatimah
Fatma Salim
Fatmah Suryana
Fatmawati K
Fitriannisa Abubakar
Harlina
Husnawati Hayat
Jannatul Ma'wa
Justiah
Kauliah AR
Mahwati
Misbah Jamhur
Muspida
Nazwati
Nuraini HS
Nurhawati
Nurhayani
Nurhayati M
Nurjannah
Nurmawang
Nur Miati Aminuddin
Nur Ramlah B
Nursyamsiah
Nuryani Has
Rosnawati B
Salmah R
Salmiah Mallu
Siti Harbiah B
Siti Hasmiah H
Siti Khairani
Siti Masyhadiah D
Siti Nakwati
Siti Rabasiah
Siti Syahri Bulan
Sri al-Anshariyah
Sukriah
Sulfiah
Salmiah M
Syamsul Huda N
Yuliati Rahmatiah
Zaenab

Narasumber
Fitriannisa Abubakar
Kurnia Makkawaru
Nur Hudayah


Amazing People