Jumat, 20 November 2020

Membela Kehormatan Pesantren IMMIM


Membela Kehormatan Pesantren IMMIM
(Bagian kesebelas dari 21 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Kala asyik membombardir alumni durhaka tukang ikut campur, seorang teman mengirim pesan.  "IMMIM tak punya tokoh kiai.  IMMIM berjalan sebagai sebuah sistem.  Kalau sistem diserang, ini berbahaya.  Sebab, tidak ada figur sentral yang meredam serangan".
     Saya termangu, bagaimana jika ada orang luar menyerang.  Ia tangguh merangkai narasi guna memanipulasi persepsi.  Urat takutnya juga sudah putus.  Ia leluasa main seruduk persis banteng terluka.  Ditambah memiliki tim yang sanggup menghantam secara sistematis di tiap lini.  Adakah warga IMMIM, khususnya alumni yang rela berdarah-darah menghadapinya di medan laga terdepan.
     John Naisbitt bersama Patricia Aburdene dalam Megatrends 2000 meramal sepuluh arah baru untuk 1990-an.  Satu di antaranya yakni Kejayaan Individu.  Ini menarik bila dikaitkan dengan IMMIM (Yasdic, Gedung IMMIM, Pesantren dan IAPIM).
     Sepeninggal ayahanda tercinta Haji Fadeli Luran pada 1992. IMMIM tak punya sosok sentral sebagai pemersatu sekaligus mediator.  IMMIM tidak memiliki tokoh yang dapat mengubah serta menyatukan aspirasi secara menyeluruh.  Dinamika yang ada selama ini bisa berjalan karena dimotori organisasi.
     Figur sentral acap lebih kokoh dibandingkan sistem.  Musababnya, individu tangguh lebih efektif melakukan perubahan ketimbang organisasi.  Sosok sentral andal menggerakkan massa untuk berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain.  Ayatollah Ruhollah Khomeini dan al-Mukarram Imam Besar Umat Islam Habib Rizieq Shihab, sebagai contoh.  Keduanya mampu membuat orang datang berduyun-duyun berkat kharisma, bukan iming-iming materi.  Tak ada CEO dari korporasi global yang dapat membuat orang rela berjalan kaki untuk menyambut kedatangannya.  Mark Zuckerberg saja cuma disambut ala kadarnya di Indonesia.  Padahal, bos Facebook tersebut menyimpan lebih satu miliar data pribadi penduduk bumi.
     Tokoh sentral IMMIM mustahil muncul dari alumni dalam beberapa tahun mendatang.  Pasalnya, secara sepintas, program utama alumni ialah reuni.  Kalau reuni, mereka jagonya.  Kegiatan sebelum serta setelah reuni bakal bergema berhari-hari di media sosial.  Ahlu ar-reuni ini terus-menerus menggorengnya sampai gosong siang malam.  Apalagi ada sugesti dari santri pelarian alias tidak tamat.  Santri DO (drop out) turut menambah seru kisah reuni sampai terdengar di cakrawala.  Motto alumni kekinian: "Jalan ninjaku adalah reuni".  Lebay bangets bagi mantan calon ulama intelek.
     Figur sentral merupakan fondasi maupun unit dasar perubahan.  Kita merindukan sosok sentral supaya tak terjadi kemelut internal yang radikal.  Ketiadaan insan super elite akan merepotkan IMMIM jika terjadi kisruh.  Apalagi bila muncul begundal minus filosofi etika yang loncat pagar mencampuri urusan yang bukan wewenangnya.
     Tidak ada yang menginginkan Republik Dendam di IMMIM, terutama sesama alumni.  Semua berharap muncul Dinasti Silaturrahmi yang memegang teguh keharmonisan.  Visi tetap suci demi membela kehormatan IMMIM.

 

Senin, 16 November 2020

Kiamat Sugra Pesantren IMMIM


Kiamat Sugra Pesantren IMMIM
(Bagian kesepuluh dari 21 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


      Mimpi-mimpi buruk sejak akhir Agustus sampai menjelang ujung 2020, terus berkecamuk dalam kasus penjualan lahan Tamalanrea.  Ini perjuangan panjang yang bakal menguras pikiran serta tenaga.  "IAPIM Perjuangan" tetap fokus untuk melakukan perlawanan demi kegemilangan Kampus Moncongloe.
     "IAPIM Perjuangan" merupakan forum komunikasi alumni yang 100 persen berbakti kepada ayahanda tercinta Haji Fadeli Luran.  "IAPIM Perjuangan" akan "mendengar dan taat" apa saja titah Yasdic sebagai warisan impresif Fadeli Luran.  "IAPIM Perjuangan" bukan alumni tukang ikut campur.  Bukan alumni minus etika yang seenaknya mengintervensi Yasdic.
     Hari ini, wajib ada revolusi lokasi agar Pesantren IMMIM tidak terbenam dalam kompetisi.  Paradigma baru di Moncongloe mutlak disambut penuh optimisme mengingat Tamalanrea telah keropos sekaligus mengalami krisis lingkungan.  Tamalanrea sudah uzur sebagai cakrawala cemerlang guna melahirkan ulama intelek nan brilian.  Tamalanrea menjelma cita-cita cacat, bukan lagi struktur sentral Pesantren IMMIM di abad 21.  Kampus Moncongloe bakal muncul secara eksklusif serta elegan di tengah kompetisi sekolah agama semacam pesantren.
     Agenda "IAPIM Perjuangan" yang paling mendasar yaitu mendesakkan perubahan lahan secara agresif supaya Pesantren IMMIM enteng bersaing di dekade berikut.  Revolusi lokasi merupakan antisipasi radikal terhadap persaingan sekolah agama.
     "IAPIM Perjuangan" tak mengakomodasi nostalgia-nostalgia sontoloyo dari alumni durhaka tukang ikut campur.  Dunia berubah cepat, jangan berjalan gontai demi artefak-artefak masa silam Tamalanrea.  Dasar cengeng.
     Tergelitik rasa usil melihat perangai alumni tukang ikut campur. Apakah kalau kas Yasdic kosong, kau mau membantu secara sukarela?  Seperti saja punya uang!  Kenang yang dulu saat memiliki jabatan, tetapi, tidak pernah mengulurkan bantuan finansial untuk pesantren.  Apalagi sekarang di zaman peceklik ekonomi.  Makan saja kau susah!
     Ihwal yang membuat saya heran, mengapa alumni begitu gatal mencampuri urusan Yasdic.  Siapa yang merekomendasikan hawa nafsunya untuk mengusik Yasdic.  Apakah mereka memang gerombolan kesurupan atau dilanda kemelut keuangan.  Kawanan ini mungkin mencari lahan penghidupan baru.  Hingga, aksi norak ini semacam langkah kecil untuk secara perlahan merebut Yasdic.  Siapa tahu.  Hanya setan di kepalanya yang paham.  Bagi saya, biarkan Yasdic berkreasi.  Bukan urusanmu jika Yasdic berkehendak menjual Tamalanrea.  Sederhana sekali ini masalah.  Silakan alumni menuntaskan persoalannya.  Yasdic pun menata programnya.  Selesai perkara.  Kasus ditutup.
     Golongan yang andal bernalar pasti ternganga oleh ulah gatal alumni tukang ikut campur.  Bagi saya, ini percik huru-hara di akhir zaman.  Ini kiamat kecil yang menimpa Pesantren IMMIM.
     Teramat disayangkan ketika Pesantren IMMIM dikelilingi saingan, terjadi kemelut intern.  Bila kasus ini berisik tanpa jeda di media sosial maupun blog, maka, persepsi masyarakat terbentuk.  Ada perselisihan akut di Pesantren IMMIM yang dihembuskan pertama kali oleh alumni tukang ikut campur.  Almamater tercinta pasti diasingkan dan terasing dari masyarakat.  Biangnya tentu saja alumni kepala batu yang menghalangi penjualan Tamalanrea.
     Lahan Tamalanrea boleh jadi ingin dijual untuk menghadapi kompetisi di bidang pendidikan.  Sebab, saingan makin banyak.  Pesantren IMMIM akan repot kalau tak punya sumber dana baru dalam mengembangkan Kampus Moncongloe.  Tanpa anggaran segar, segalanya bisa musnah.  Dewasa ini, dunia bergemuruh dalam gelora kehidupan karena ada rangkaian kompetisi.
     Tidak terbayang dalam imajinasi paling liar bahwa ada alumni bermerek generasi abnormal dengan mental illness yang di ujung usianya menantang Yasdic.  Sudah bau tanah, masih juga berlagak.  Padahal, seyogianya mereka bergandeng tangan dengan Yasdic demi mengembangkan Pesantren IMMIM yang berada di tikungan tajam persaingan.
     Wajib dipahami agar jangan bergerak ke arah masa depan tunggal.  Saya yakin Yasdic berikhtiar mencari masa depan alternatif dengan fokus membangun Kampus Moncongloe.  Besar harapan saya supaya begundal penghalang Yasdic secepatnya mati bergelimpangan dirajam corona.
     Alumni tukang ikut campur barangkali menganggap monografi ini menyakitkan.  Begitu pula ulahmu yang menghalangi Yasdic menjual Tamalanrea.  Menyakitkan bagi "IAPIM Perjuangan".  Bahkan, secara vulgar mengancam mau mengambil alih pesantren.  Tidak segampang itu kau rebut!  Saya wakafkan semua darahku demi mempertahankan Pesantren IMMIM!
"AYO KITA PERANG!"


Rabu, 11 November 2020

Pesantren IMMIM Mencari Alien


Pesantren IMMIM Mencari Alien
(Bagian kesembilan dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pasca penjualan lokasi Pesantren IMMIM di Tamalanrea, mendadak pembangunan bergulir siang-malam di Moncongloe.  Tidak dapat dipungkiri kalau Griya Ulumul Quran dan Laboratorium Antarplanet merupakan primadona Pesantren IMMIM Moncongloe.
     Griya Ulumul Quran adalah wadah guna meneliti makna sekaligus maksud al-Quran.  Misalnya, tahun berapa nama Fir'aun disematkan ke Raja Mesir.  Seperti diketahui, Fir'aun awalnya nama istana penguasa Mesir.  Ini serupa dengan White House atau Kremlin.  Menyebut White House, langsung terbayang Presiden Joe Biden.  Menyebut Kremlin, sontak terbersit Presiden Vladimir Putin.
     Di Mesir setelah era emas pemerintahan Nabi Yusuf, istana dinamakan Fir'aun.  Secara perlahan, raja yang tinggal di istana akhirnya disebut Fir'aun.  Secuil kabar dari secarik prasasti ukhrawi menegaskan jika Fir'aun luar biasa kurang ajar.  Ia pembangkang risalah Nabi Musa.
     Griya Ulumul Quran Kampus Moncongloe menjadi otak bagi Laboratorium Antraplanet Pesantren IMMIM.  Laboratorium ini merupakan ruang yang multidimensi, realistis serta fleksibel.  Griya Ulumul Quran akan memasok data ke Laboratorium Antarplanet.  Umpamanya, teks Ilahi menandaskan bahwa:  "Kami padamkan tanda malam" (al-Isra: 12).
     Dulu, bulan menyala laksana matahari.  Tatkala kehidupan segera dimulai di bumi, maka, Allah memadamkan lautan api di bulan.  Bukti ilmiahnya yakni di bulan terdapat dataran-dataran tinggi, lubang-lubang besar dan kawah-kawah gunung berapi.
     Dalam Surah Fushshilat ayat 37, tersembul kata khalaqahunna (menciptakannya).  Kata ini mengacu bahwa "Allah menciptakan matahari-matahari serta bulan-bulan".
     Bisa dipastikan ilmuwan Muslim awal kebingungan dengan teks al-Qur;an.  Sebab, matahari dan bulan cuma satu.  Seiring perjalanan waktu dengan ditemukannya teleskop canggih, akhirnya misteri ayat-ayat Ilahi terungkap.  Jamaah astronom menemukan lebih 200 juta matahari di alam semesta.  Jumlah ini terus bertambah selaras eksplorasi angkasa.  Sementara astronom repot menghitung jumlah bulan saking banyaknya.
     "Bulan kehilangan cahaya.  Kemudian matahari serta bulan dikumpulkan" (al-Qiyamah: 8-9).
     Analisis sains menuturkan bahwa tiap tahun bulan menjauh tiga centimeter dari bumi.  Makin jauh bulan berarti cahayanya terlihat kian pudar di bumi.  Kelak, bulan masuk medan gravitasi matahari.  Bulan terseret lantas membentur seraya meledak di permukaan matahari.  Inilah yang dimaksud oleh al-Qur'an.  "Bulan kehilangan cahaya.  Lalu matahari dan bulan disatukan".
     "Allah menciptakan tujuh langit, seperti itu pula jumlah bumi" (ath-Thalaq: 12).  Di alam semesta ada tujuh bumi sebagaimana pemaparan al-Qur'an.  Ini berarti tugas Laboratorium Antarplanet Pesantren IMMIM untuk mencari enam bumi yang berada entah di mana.
     Ada kekeliruan dalam menerjemahkan al-Qur'an.  Musababnya, ada yang mengira "langit bersusun tujuh serta bumi berlapis tujuh".  Padahal, ada tujuh langit, begitu pun bilangan bumi.  Jadi, jumlah langit tujuh, jumlah bumi tujuh.
     Ilmuwan di Badan Antariksa Amerika (NASA) pernah tertegun.  Pasalnya, sekeping meteoroid yang jatuh di Australia mengandung zat asam amino.  Ini mineral utama pembentuk kehidupan.
     Selama ini lewat teleskop radio, ditemukan uap air, karbon monoksida dan zat amonia di sejumlah bintang.  Ini unsur utama bagi makhluk hidup.
     "Allah menebar makhluk-makhluk melata di langit serta bumi" (asy-Syura: 29).  Makhluk melata dalam ayat ini dinamakan dabbah yang berjalan dengan kaki, dua atau lebih.  Unsur utama pembentuk tubuh makhluk biologis ini yaitu air.  Dabbah juga berakal.  Andal merekonstruksi kehidupan.  Dr Nadiah Thayyarah menegaskan bahwa malaikat bukan dabbah.  Maklum, malaikat terbuat dari cahaya.
     Dabbah dalam bahasa populer Hollywood dinamakan Alien.  Ia tertera sebagai makhluk asing yang berasal dari luar angkasa.  Tidak diketahui apakah raga Alien tersusun dari karbon dan nitrogen layaknya manusia.  Di sini fungsi Laboratorium Antarplanet Pesantren IMMIM.  Ekspektasi digelorakan supaya santri sanggup mendeteksi molekul misterius Alien yang tersebar di beberapa planet maupun benda langit.
     Hollywood teramat subur menghasilkan prototipe Alien.  Di antara seluruh Alien produksi Hollywood, jelas Alien di film Predator sulit terlupa.  Wujudnya mirip ksatria samurai.  Berambut gimbal serupa rambut Ruud Gullit dengan wajah mirip bulldog.  Walau definisi ototnya terlihat gagah-perkasa, tetapi, kurang ajarnya minta ampun.  Alien ini doyan mengoleksi tengkorak korbannya.  Arnold Schwarzenegger sampai setengah mati menumpasnya.
     Maharasul Muhammad bersabda: "Allah penguasa tujuh langit dengan segenap yang dinaunginya.  Allah penguasa tujuh bumi dengan segala yang dinaunginya".
     Dalam Hadis yang diriwayatkan Bukhari bersama Muslim, disebutkan pula tujuh bumi.  "Siapa berbuat lalim sepanjang satu jengkal tanah, niscaya ditimpa beban seberat tujuh bumi".
     Saya berharap, suatu hari nanti, ada Alien mendaftar sebagai santri di Pesantren IMMIM Moncongloe.  Imajinasi saya bukan spekulasi.  Sebab, Allah bertitah: "Allah Mahakuasa mempertemukan semua bila Ia berkehendak" (asy-Syura: 29).
     Fir'aun kurang ajar.  Alien versi Predator kurang ajar.  Adakah lagi yang kurang ajar?  Tentu ada!  Siapa lagi kalau bukan alumni tukang ikut campur.  Mereka merupakan gerombolan akhlakless (minus etika) yang sok menghalangi Yasdic menjual Tamalanrea.
     Kawanan ini tak lebih dari rangkaian watak negatif.  Bukan urusannya, namun, bernafsu turut terlibat.  Memalukan sekali perangainya.  Manusia diciptakan dari sari pati tanah.  Saya curiga, alumni tukang ikut campur lahir dari tanah sengketa.

Sabtu, 07 November 2020

Potret Masa Depan Pesantren IMMIM Moncongloe


Potret Masa Depan Pesantren IMMIM Moncongloe
(Bagian kedelepan dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Penampakan Pesantren IMMIM di Moncongloe pasca penjualan Tamalanrea begitu mempesona berkat konsep unik.  Pondok modern pendidikan al-Qur'an tersebut berdiri di lahan seluas 12 hektare.
     Masjid pesantren ditahbiskan sebagai penentu waktu rutinitas keseharian.  Sebagai misal, usai shalat Dhuhur, maka, santri diarahkan ke dapur untuk makan siang.  Contoh lain, bakda Isya pada pukul 20-22, santri wajib ke kelas untuk belajar.
     Bangunan utama setelah masjid ialah Auditorium Fadeli Luran.  Segenap bangunan menggunakan nama-nama figur legendaris yang pernah berjasa di Pesantren IMMIM.  Umpamanya, Kuttab Nasruddin.  Nasruddin tertera sebagai santri pertama Pesantren IMMIM yang sukses menghafal 30 juz.  Al-kuttab merupakan sistem pendidikan klasik di zaman Maharasul Muhammad.  Kuttab Nasruddin merupakan aula hafiz, terletak di sisi danau buatan yang dikelilingi hutan pesantren.
     Hutan didesain di pesantren karena tumbuhan membutuhkan CO2 untuk fotosintesis.  CO2 kemudian disimpan dalam kayu, daun dan tanah.  Pohon yang menyerap CO2 lantas menyejukkan suasana.  Fungsi lain hutan ialah bisa menggunakan fitoremediasi demi membersihkan polutan.  Ketiadaan hutan mengakibatkan suhu panas.  Sebab, awan terdorong ke kutub.
     Kuttab Nasruddin bersebelahan dengan Griya Ulumul Quran.  Bangunan ini merupakan wadah buat mempelajari ilmu-ilmu al-Qur'an.  Aneka tafsir klasik sekaligus modern berjejer di rak.  Terjemah al-Qur'an pun tersedia lebih 300 bahasa, termasuk bahasa Bugis.
     Bangunan tertinggi di Kampus Moncongloe yakni perpustakaan.  Berlantai lima dengan sebuah food court bermenu masakan Amerika serta sajian penganan Timur Tengah.  Di lantai atas terletak perpustakaan bahasa lengkap dengan laboratorium bahasa.
     Bangunan penting lain ialah laboratorium.  Ada tiga laboratorium futuristik di Kampus Moncongloe.  Pertama, Laboratorium Nanosains guna menerawang manipulasi material pada skala makromolekuler.  Kedua, Laboratorium Nanoteknologi untuk menelisik manipulasi benda pada dimensi atomik.  Ketiga, Laboratorium Antarplanet untuk melakukan penginderaan jauh dan penelitian lingkungan antariksa yang sarat misteri.
     Bangunan populer yang ramai usai shalat Shubuh serta Ashar yaitu Gelanggang Olahraga Indra Jaya Mansyur.  Gelanggang ini dilengkapi kolam renang dan lapangan bola.  Selain itu, ada dojo untuk karateka Black Panther.  Di sisi gelanggang, ada Pusat Kegiatan Seni Santri (PKSS).  Ini untuk merangkum ide serta kreasi santri.
     Dulu di Tamalanrea, nama asrama antara lain Datuk Ribandang, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Raja Khalik atau Ibnu Khladun.  Di Moncongloe, seluruh asrama memakai nama alumni yang pernah tertoreh sebagai pembina.  Ada Asrama Amir Machmud, Asrama Daswar Muhammad, Asrama Lukman Sanusi atau Asrama Muis Muin.
     Dari semua bangunan di Kampus Moncongloe, maka, Kuttab Nasruddin, Griya Ulumul Quran maupun tiga laboratorium menjadi primadona.  Dari Griya Ulumul Quran, kita berharap muncul tafsir mutakhir al-Qur'an.
     Ekspektasi dipanjatkan agar Griya Ulumul Quran ikut meramaikan keajaiban al-Qur'an.  Dalam Surah al-Hadid (Besi), Allah bertitah: "Kami menurunkan besi".  Sains dan teknologi akhirnya membuktikan kalau besi bukan benda bumi.  Besi kiriman dari ledakan bintang.  Menurut Majalah Dinding SUPER POWER di Pesantren IMMIM, hanya satu besi yang tidak diturunkan dari langit, namanya Iron Mike Tyson.
     Surah al-Hadid menghebohkan karena menyentak nalar.  Ini berkat Tabel Periodik karya pakar kimia Rusia Dmitri Mendeleev.  Tabel ini dipublikasikan untuk kedua kalinya di jurnal Jerman Zeitschrift für Chemie pada 1869.  Dalam tabel tersebut, besi atau Ferrum (Fe) ditandai dengan nomor atom 26.  Maksudnya, jumlah proton dalam atom Fe (besi) ada 26.  Di luar dugaan, rupanya Surah al-Hadid memuat 26 nama Allah.
     "Urusan itu naik kepada Allah yang lamanya 1000 tahun menurut hitunganmu" (as-Sajdah: 5).  Adakah keajaiban ayat ini?  Firman Allah ini adalah konstanta fisika universal.  As-Sajdah ayat 5 dalam bahasa fisika berbunyi "laju cahaya 299,792,5 kilometer per detik".  Kecepatan cahaya yang disimbolakan c ini merupakan kesepakatan tegas para astronom.
     Dr Nadiah Thayyarah menjabarkan bahwa jarak yang ditempuh bulan selama 1000 tahun setara jarak yang ditempuh cahaya dalam sehari.  Perhitungannya, 1000 tahun dalam kalender Qamariah dibagi 24 jam.  Lalu dibagi 60 menit.  Kemudian dibagi 60 detik.  Hasilnya yakni 299,792,5 (kira-kira 3,00×108 m/s).
     Selama berinteraksi dengan al-Qur'an, saya kadang perlu teori baru untuk memahami ayat-ayat Allah.  Sebagai contoh, kala menyimak Surah Yusuf ayat 101, saya penasaran.  Nabi Yusuf mengaku "ataetanii minal mulk".  HB Jassin menerjemahkan "Kau berikan padaku sedikit kekuasaan".  Mahmud Junus "menganugerahkan kerajaan".  M Quraish Shihab "sebagian kerajaan".  A Yusuf Ali "bestowed on me some power"The Noble Quran "granted me authority".  Al-Qur'an Bahasa Melayu "mengurniakan daku sebahagian dari kekuasaan (pemerintahan)".  Le Saint Coran (al-Qur'an bahasa Perancis) "donné du pouvoir".
     Sesudah merenung, saya berimajinasi.  Maksud "diberi kerajaan, kekuasaan, pemerintahan atau otoritas" adalah Nabi Yusuf diangkat sebagai Wakil Raja.  Mustahil dalam sebuah kerajaan ada dua raja.  Pepatah Arab menerangkan: "Tak ada dua pedang dalam satu sarung".
     Bagaimana nasib para pecundang alias alumni kepala batu yang sok menghalangi penjualan Tamalanrea?  Nasibnya apes di Moncongloe.  Gerombolan tersebut diharamkan masuk area Pesantren IMMIM Moncongloe yang suci tanpa noda.  Ada pegawasan elektronik demi mengusir alumni tukang ikut campur.
     Makhluk-makhluk goblok senantiasa merongrong jika ada inisiatif perubahan.  Mereka merupakan najis dalam peradaban.  Kita cuma mengelus dada melihat lagak banal alumni kepala batu.  Tidak malu mencampuri agenda Yasdic gara-gara minus etika.  Begitulah jadinya bila dulu di pesantren selalu bolos ke kamar untuk merokok saat pelajaran Aqidah dan Akhlak.  Akibatnya, hanya jadi ampas setelah tamat dari pesantren.
     Kalau kawanan alumni tukang ikut campur itu nekat masuk Kampus Moncongloe, niscaya ditempeleng sampai rahangnya bergeser.  Murasanitu la beleng benna' (rasakan itu si idiot bebal).


Minggu, 01 November 2020

Peringatan dari IAPIM Perjuangan

 

Peringatan dari IAPIM Perjuangan
(Bagian ketujuh dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Santri Moncongloe ibarat mahar bagi Haji Fadeli Luran agar di Firdaus kelak ayahanda tercinta bisa bertetangga dengan para nabi serta rasul.  Santri Moncongloe wajib menjadi mata air pengetahuan di planet biru ini.  Kehadirannya mesti memberi banyak kemaslahatan bagi umat di tiap lini.  Ini berarti mereka harus dididik supaya andal berpikir guna membumikan konsep-konsep canggih.  Apalagi, mereka nanti hidup di zaman yang sarat gelora pertumbuhan ekonomi, revolusi teknologi, dinamika sosial dan reformasi politik.  Santri Moncongloe diyakini bakal akrab dengan rekayasa genetika, robot-robot nano, kecerdasan artifisial serta eksplorasi angkasa.
     Di tangan santri Moncongloe tergenggam cetak biru imperium galaktika masa depan.  Tidak mustahil mereka mengolonisasi planet-planet Alien.  Ini selaras program terperinci al-Qur'an perihal eksistensi enam bumi yang belum terdeteksi di jagat raya.  "Allah menciptakan tujuh langit, seperti itu pula jumlah bumi" (ath-Thalaq: 12).
     Tatkala membahas sains dan teknologi ala Pesantren IMMIM, semua berdegup, cemas, penuh haru, bangga sekaligus ekspektasi setinggi bintang.  Di pundak santri Moncongloe akan hadir program-program bervisi angkasa berasas wahyu dari langit.  Cita-cita ini mesti diwujudkan secepatnya, hari ini juga.
     Masalah besar muncul.  Pendidikan mutakhir butuh anggaran gigantik.  Dana minim jelas muskil untuk membangun laboratorium yang layak mendesain teknologi nano.  Celaka 13, penghambat mengalirnya anggaran berasal dari segerombolan alumni kolot.  Mereka merintangi penjualan Tamalanrea.
     Menjual lahan Tamalanrea esensial karena menjadi syarat bagi kenyamanan belajar.  Kalau fasilitas komplet, berarti enteng mencetak santri-santri brilian.
     Kawanan alumni berpikir jika Tamalanrea merupakan monumen nostalgia.  Betapa idiot gerombolan ini.  Mereka lebih mementingkan nostalgia dibandingkan prestasi agung santri Moncongloe di masa depan.
     Saya curiga, alumni yang menolak menjual lokasi Tamalanrea mungkin dulu tergolong santri minus.  Mereka kurang gizi di tengah fasilitas minim.  Mau ke kantin, tak ada uang.  Ingin dekati bibi (koki) dengan harapan diberi makanan ekstra, tetapi, tampang lumayan jelek.  Dekil lagi, seperti tidak pernah mandi pakai sabun.  Kasihan betul.
     Bila ada alumni yang tak sudi melihat pengembangan Moncongloe, berarti mereka didera derita psikis.  Gelombang listrik ragawi mengalami error saat mengirim stimulus elektrik pada biokimia otaknya.  Ini membuat baut otak pecah.  Hingga, terjadi korsleting.  Akibatnya, alumni tidak mampu bereaksi terhadap perkembangan dunia.  Kalau ini terjadi, jangan khawatir.  Ada banyak psikiater yang siap mengobati atau boleh pula diruqyah (exorcism).
     Gagasan mutakhir alumni sebenarnya harus ditujukan demi kenyamanan santri dalam belajar.  Adik-adik di Moncongloe merupakan kuncup yang bakal mekar menjadi ulama intelek.  Tak hirau terhadap almamater sesungguhnya pelanggaran elementer.  Ke mana tanggung jawab moral alumni?  Mengapa tidak memperhatikan hak masa depan santri.  Kalian ini siapa sampai tak tahu diri dengan cara mencampuri agenda Yasdic.
     Sikap tertutup terhadap perubahan merupakan fondasi bagi ideologi totaliter.  Ini tentu membahayakan kebebasan yang dianut penduduk bumi.  Teori falsifikasi Karl Popper ini dipraktekkan secara piawai oleh alumni kepala batu.  Mereka merintangi penjualan Tamalanrea dengan alasan nostalgia.  Padahal, perubahan adalah kepastian bagi makhluk hidup.  Ini berarti alumni yang mempertahankan Tamalanrea tidak lebih cuma benda mati.
     Mengamati lagak memalukan alumni, maka, "IAPIM Perjuangan" akan mendukung arah utama sejarah Kampus Moncongloe yang dirintis Yasdic.  Pesan saya, IAPIM tradisional jangan pernah melakukan acara di Moncongloe tanpa persetujuan "IAPIM Perjuangan".  Jangan ada "massa vs massa".  Mumpung kalian masih di bumi.  Tobatlah.  Ingat, waktu terus berdetak.  Kau pasti mati.  Nyawamu kelak direnggut paksa malaikat maut.  Satu yang penting, "JANGAN CAMPURI URUSAN YASDIC!  JANGAN!"


Amazing People