Label

Tampilkan postingan dengan label Isra Mi'raj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isra Mi'raj. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2011

Bidadari Sebagai Miss Surga

Bidadari Sebagai Miss Surga

Refleksi Hikmah Isra Mi’raj Nabi Muhammad 11 Agustus 2007

Oleh Abdul Haris Booegies

     Isra’ Mi’raj yang dilakoni Nabi Muhammad tidak hanya membawa perintah shalat.  Perjalanan singkat menembus tujuh lapis langit itu, juga menghamparkan ragam romantisme spektakuler.  Di Surga, umpamanya, bertebar hauri.  “Mereka laksana permata yakut serta merjan” (ar-Rahman: 58).
     Bidadari (istilah dari bahasa Sansekerta, vidyadari) atau hauri (kosakata dari bahasa Arab), merupakan makhluk dengan paras yang elok.  Tubuhnya sensual dengan senyum manis yang menawan hati.  Matanya yang sebening air telaga terlihat bulat besar bagai mata boneka Barbie.  Mereka digambarkan al-Quran bahwa: “sopan menundukkan pandangannya” (ar-Rahman: 56).
     Allah menamakan bidadari dengan istilah hurun-iyn (makhluk bermata besar dan indah).  Penegasan yang diwahyukan di tahun 621 kepada Rasulullah tersebut, lalu mendapat pembenaran.  Pada medio Maret 1994, sejumlah pakar psikologi Inggris serta Jepang merilis data bahwa mata besar merupakan sebuah kategori kecantikan.  Di ajang pemilihan ratu ayu sejagat, terlihat kalau rata-rata pemenangnya bermata besar.  Sedangkan di dunia anak-anak, film kartun semacam Sailor Moon, divisualkan dengan mata jumbo.
     Mata hauri ada yang berwarna icy blue (biru), soft green (hijau) dan amethyst (ungu).  Sementara rambutnya pirang atau merah bak rambut jagung.  Bibir bidadari merah merekah seperti mawar.  Bahkan, selalu basah serta bercahaya ibarat tetes-tetes embun pagi.  Sedangkan keringat yang jatuh dari badannya berdentang dalam bentuk mutiara sebesar biji-biji delima.
     Bayangan hauri tidak berwujud bayang-bayang hitam.  Bayangannya justru laksana foto warna potret dirinya.  Citra itu malahan bisa menyenandungkan rupa-rupa nasyid yang bagai buluh perindu.
     Bayangan bidadari bak paduan artis tenar.  Raganya langsing seperti Jennifer Lopez yang pernah mengasuransikan kesintalan tubuhnya satu miliar dolar AS.  Kemudian lincah ibarat Britney Spears.  Anggun laksana Brooke Shields dan manis bagai Heather Graham.  Bayang-bayang juwita Eden tersebut secantik pula gadis kosmos digital Star Wars Natalie Portman serta seseksi Madonna.  Bahkan, dadanya sintal, lancip dan licin bak milik si biang pesta Lindsay Lohan.  Langkah hauri yang dipantulkan bayangannya, terkesan luwes seperti ayunan kaki super model Cindy Crawford.  Anatomi serta aura widodari yang ekspresif nian, membuatnya pantas ditahbiskan sebagai Princess Moslem dari ranah Surga.

Pakaian Irit
     Kaum Adam yang tercatat sebagai warga Surga, merupakan pemilik sah beberapa hauri.  Perjuangan insan-insan takwa yang maksiyatur-rijal (tidak mendatangi arena maksiat), senantiasa berbuah manis.  Sebab, dibalas dengan kenikmatan Surga.  Sementara tidak sedikit pria yang terpental ke jurang neraka.  Karena, semasa hidupnya menjadi sponsor sekaligus suporter kontes kecantikan.
     Ajangh pamer aurat selalu digembar-gemborkan jika penilaiannya mencakup 3-B.  Unsur itu meliputi brain (kecerdasan), behaviour (perilaku) dan beauty (kecantikan).  Sedangkan penilaian keindahan tubuh mengacu pada pakaian-pakaian smart casual, tradisional serta gaun malam.
     Panitia tak pernah terbuka bila peserta wajib memakai bikini.  Apalagi, tiap kontes semacam Miss World atau Miss Universe, selalu ada pengukuran badan secara horizontal semisal lingkar pinggul dan ukuran dada.
     Kontes-kontes kecantikan umumnya selalu dekat dengan konsumtivisme.  Syahdan, bisnis di balik ajang pemilihan putri ayu tergolong besar.  Sebab, punya dana raksasa dari perusahaan gigantik.
     Para pemilik modal yang sesungguhnya selalu menghendaki adanya pemilihan ratu sejagat.  Karena, sosok putri ayu dianggap sanggup menciptakan citra indah, cantik serta anggun sebagaimana tertancap pada hasrat pemilik produk.
     Figur ratu kecantikan yang mendukung kepentingan industri dimulai setengah abad silam.  Penciptaan citra keayuan disokong oleh perusahaan pembuat baju pantai Catalina Swimwear di Long Beach, California.
     Pada 20 November 2002, kota Kaduna di Negeria diamuk kerusuhan.  Sekitar 105 tewas setelah terjadi aksi massa yang anarkis.  Tragedi tragis tersebut dipicu oleh artikel Isioma Daniels di surat kabar lokal This Day.  “Apa yang terlintas di hati Nabi Muhammad andai ia masih hidup?  Dia pasti memilih istri di antara peserta Miss World”.
     Opini nista itu lantas menyulut emosi umat Islam.  Apalagi, Muslim Nigeria memang menolak penyelenggaraan Miss World Pageant yang akan digelar pada 7 Desember 2002.
     Kalangan Islam Nigeria menuduh kalau pergelaran Miss World sekedar mempertontonkan seksualitas.  Padahal, properti pribadi merupakan kesucian yang wajib dihalangi dari pandangan orang lain.  “Hendaklah mereka mengulurkan jilbab (kain kerudung) ke segenap tubuhnya” (al-Ahzab: 59).    
   
Selalu Perawan
     Pada 16 Agustus 2006, pejabat tinggi Kementerian Kebudayaan Kamboja mencabut izin penyelenggaraan kontes kecantikan.  Masyarakat Kamboja mempertanyakan soal ukuran kesopanan dan selera yang dipakai di ajang tersebut.  Pemerintah Phnom Penh berdalih jika hajatan pemilihan putri ayu tiada lain penghamburan uang.
     Di Kamboja, umat Islam cuma segelintir.  Kendati hanya secuil, namun, mereka justru mengharamkan kontes kecantikan.  Sementara di Indonesia, kaum Muslim berjubel tak terhitung.  Biarpun umat Islam tidak terkira banyaknya, tetapi, pemilihan ratu kecantikan ternyata leluasa digelar.
     Bidadari yang teramat jelita serta montok, diharamkan mengobral raga.  Mereka dipingit di rumah-rumah peranginan yang terbuat dari emas dan berlian.  Di dalam istana-istana yang terletak di Hadhiratul-Qudsi, “mereka bertelekan pada bantal-bantal hijau serta permadani-permadani indah” (ar-Rahman: 76). 
     Komunitas Qurratul ‘Aini bersenda-gurau di atas flying carpet.  Ummah yang acap duduk di dekat semburat sejuk mata air yang memancar di taman-taman rimbun yang teduh oleh pohon kurma dan delima itu, senantiasa mengenakan libasut taqwa (busana muslimah) yang chic.  Pakaian tersebut terbuat dari sutra halus tipis yang tidak mengenal trend alias up to date terus.  Mereka pun terkadang menggunakan sutera tebal yang fashionable.  Adibusana (haute couture) yang mutakhir (avant-garde) itu, dihias 70 warna ceria.  Warna-warninya antara lain elegan red, masteng yellow, midnight blue, chromic gray, light titanium, moonlight silver, turquoise, naked lace, wine with everything, blushed, toast to shine atau burgundy.
     Kepala hauri tak pernah berpisah dengan khimar (kerudung) yang luxury.  Sedangkan burqah (penutup wajah) melindungi parasnya yang rupawan.  Telapak tangan mereka saja yang leluasa terlihat.  Hatta, the Creator of All Things yang bersemayam di Arasy Rahman menjamin bila bidadari belum pernah dijamah oleh jin atau komunitas langit lainnya.  “Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia.  Tidak pula oleh jin” (ar-Rahman: 74).
      Laki-laki yang menjaga pandangannya, bakal dianugerahi karunia Surga.  Pria yang menentang aneka konsep pornografi (sexually explicit material) akan memperoleh hidup selamanya bersama hauri.
     Alkisah, tiap malam pertama Ramadan, maka, Surga dihias secara megah serta mewah.  Sementara seluruh widodari bersolek dalam gaya romantis nan elegan.  Mereka berdiri di pucuk menara yang menjulang tak kunjung terjangkau.  Para dara molek taman Eden menengok ke sana kemari sembari berpandangan.  “Di mana orang yang mau memiliki kami?  Di mana mereka yang ingin melamar kami kepada Allah?”
     J-Lo, Britney Spears, Brooke Shields, Heather Graham, Natalie Portman, Madonna, Lindsay Lohan maupun Cindy Crawford, cuma manusia biasa.  Di samping itu, ketiaknya bau dan kentutnya busuk.  Sedangkan hauri tak punya cacat-cela atau aib.  Bahkan, tiap usai bercinta, maka, Miss Surga tersebut kembali menjadi perawan.
     Hikayat perihal bidadari, merupakan oleh-oleh dari Rasulullah yang bertandang ke Sidratul Muntaha lewat Isra’ Mi’raj.  Pada hakikatnya, eksistensi hauri merupakan sebuah pelecut iman.  La takrabuzzina (jangan dekati zinah), supaya kelak didampingi bershaf-shaf bidadari yang bersandar pada peterana hijau berkilau cemerlang.
     “Dan Kami jodohkan mereka dengan hauri-hauri cantik lagi bermata jeli” (ath-Thur: 20).

(Pedoman Rakyat) 


Sabtu, 04 Juni 2011

Hedonisme Isra' Mi'raj

Hedonisme Isra’ Mi’raj
(Peringatan Isra’ Mi’raj 21 Agustus 2006)

Oleh Abdul Haris Booegies

     Mekkah al-Mukarramah di suatu pagi, geger tak terkira.  Masyarakat metropolis purba itu dilanda kabar menyengat.  Berita yang menjalar di antara penduduk Mekkah tersebut mewartakan bila Nabi Muhammad telah mampir di Surga.
     Akal siapa rela menerima jika suatu perjalanan singkat bisa menembus tujuh tingkat langit.  Di masa sekarang, sains serta teknologi saja masih tergagap-gagap untuk menembus angkasa yang teramat pekat.  Apalagi, anatomi manusia terdiri atas bahan kasar.  Tubuh tersusun dari 60 triliun sel.  Lebih 50 persen adalah cairan yang mengandung elektrolit (ion positif dan negatif) 
     Rasulullah sendiri bingung saat ditanya wujud serta ornamen Masjidil Aqsa di Palestina.  Andai tak ada malaikat Jibril menghamparkan miniatur Masjidil Aqsa, tentu Nabi Muhammad gelagapan menjawab pertanyaan para punggawa Quraisy.
     Kisah paling spektakuler di seputar Isra’ Mi’raj tiada lain mengenai Surga.  Apalagi, di Surga ada bidadari yang dianugerahi fisik sensual.  Walau matanya bulat besar, tetapi, pandangannya selalu tertunduk.  Kulitnya yang putih mulus sehalus sutra, belum pernah dicolek oleh jin atau penghuni semesta lain.  Para bidadari yang berbusana dengan 70 warna gemerlap, selalu duduk penuh takzim di atas sofa hijau.
     Selain bidadari jelita yang membuat pria jantan mabuk kepayang membayangkannya, juga Surga dijejali bangunan dari emas dan berlian.  Plaza atau supermarket yang terletak di bawah Arasy, punya material dari logam mulia serta batu permata.  Pusat-pusat perbelanjaan di bawah Tahta Suci Allah itu, merupakan pasar meriah bagi penduduk Surga.
     Di negeri akhirat, emas dan berlian terhampar di mana-mana.  Beberapa gunung emas malahan menjulang tinggi menyapa cakrawala.  Dasar sungai serta lautan bukan lumpur, namun, berlian yang kerlap-kerlip laksana bintang.
     Hikayat seputar Surga yang terdiri dari emas dan berlian, jelas menimbulkan rumor kalau Islam ternyata agama para hedonis (mementingkan perut sekaligus penikmat materi).  Karena, amal ibadah di dunia dibayar dengan kesenangan hidup di Surga.

Pencegah Paranoid
     Dalam Islam, laki-laki dilarang memakai perhiasan emas.  Larangan tersebut tidak diiringi beleid yang diparaf Rasulullah.  Beberapa abad berselang, menyeruak fakta bila emas berseberangan dengan anatomi kaum Adam.  Emas bisa menutup susunan atom dalam molekul tubuh.  Bahkan, memiliki reaksi negatif kimia terhadap raga laki-laki.  Sekalipun ada larangan, tetapi, tetap dibolehkan jika berhubungan dengan kesehatan.  Nabi Muhammad pernah menganjurkan Ajrafah bin As’ad memakai emas sebagai bahan dasar hidung palsunya.  Ajrafah kehilangan batang hidungnya gara-gara ditebas dalam suatu pertempuran.
     Emas sebagai unsur kimia punya ciri lembut, gampang ditempa, mengkilap, logam peralihan (trivalen serta univalen), kuning berkilau, stabil dan berat.  Di samping itu, tidak luntur.  Benda berharga tersebut malahan dapat ditempa tanpa pecah, bisa diubah bentuknya tanpa kehilangan kekokohan serta tidak berkarat.
     Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lain, namun, larut oleh klorin, fluorin dan aqua regia.  Emas banyak terdapat pada serbuk di bebatuan.
     Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menerangkan kalau emas dapat dijadikan obat.  Emas bisa memperkuat jantung serta menenangkan badan yang gemetar lantaran ketidakseimbangan kelenjar melancholy.  Emas mengurangi pula dampak tekanan kejiwaan sekaligus menghilangkan rasa gelisah.  Lalu mencegah paranoid dan menenteramkan kekacauan pikiran (delirium).  Emas pun mengobati gangguan jiwa, gangguan saraf, ketakutan serta melancholia (kesedihan yang mendalam).  Kemudian merangsang peningkatan berat tubuh, memperkuat otot dan mengurangi mual.  Lantas mengatasi pucat di wajah sekaligus menyembuhkan leprosis. 
     Emas juga tercatat mengobati kebotakan abnormal serta rambut rontok.  Selain itu, emas menjernihkan mata sekaligus memperkuat penglihatan.  Bahkan, menghilangkan bau mulut.
     Orang yang demam asmara bisa pula dinetralkan dengan emas.  Masalahnya, tak ada insan yang mau sembuh bila dilanda mabuk cinta.  Pujangga bertutur bahwa tiada seorang pun keturunan Adam yang ingin terbebas dari penyakit asmara!
     Di luar atmosfir bumi, banyak emas yang melekat pada pesawat-pesawat ruang angkasa atau satelit.  Wahana antariksa tersebut dipolesi fitur dari emas sebagai bahan yang cocok dalam mengeksplorasi galaksi.

Star of African One
     Di Surga yang tanahnya bersuara, bertebaran bangunan dari emas.  Di samping logam mulia, Surga bercahaya elok pula oleh rumah dan gedung yang terdiri atas berlian.  Hingga, kilau cemerlang berlian menghadirkan pelangi 1001 warna.
     Di dunia, berlian adalah bahasa cinta.  Status sosial bakal menanjak ke puncak tertinggi jika leher dikalungi berlian.  Apalagi, kalau Star of Africa One senilai 530 karat dengan 74 irisan menggelantung di atas dada.
     Berlian yang dinilai lewat carat (karat), clarity (kejernihan), color (warna) serta cut (asahan), banyak ditambang di negara-negara Afrika.  Selain di benua hitam, juga dijumpai di Australia, Kanada, Brasil dan Rusia.  Berlian yang ditambang tiap tahun mencapai 130 juta karat (26.000 kg).
     Berlian merupakan mineral yang secara kimia merupakan wujud kristal dari karbon allotrop.  Karbon allotrop termasuk grafit serta fullerena.  Kini. berlian berjasa besar bagi aplikasi teknologi berkat kekerasannya yang mutlak (absolute hardress) dan kemampuannya mendispersikan cahaya.  Ciri-ciri fisiknya yang mengagumkan membuat berlian menjadi pilihan utama dalam penelitian perut bumi
     Berlian sanggup menebak volume panas di dasar bumi.  Ketika berlian dilontarkan ke magma, maka, monitor komputer segera menelisik grafik kondisi yang dikirim oleh berlian.  Sinyal itu lalu menjelaskan aneka hal seperti kedalaman, suhu atau temperatur lainnya.
     Berlian yang tersusun atas atom karbon ikatan tetrahedron, bukan hanya membuat pemakainya terkesan berkarakter serta eksplosif.  Sebab, bumi yang memancarkan emosi dan energi, mampu membuat pengguna berlian ikut dalam pusaran kekuatan.  Bila daya alam cocok dengan anatomi berlian, niscaya pemakainya tampil apik dengan determinasi tinggi.

Theory of Everything
     Di abad ke-20 dan sebelumnya, emas serta berlian merupakan simbol hedonis.  Di milenium ketiga tahun keenam ini, persepsi terhadap emas dan berlian sudah berubah.  Karena, emas serta berlian bukan sekedar simbol kemewahan.  Emas dan berlian merupakan unsur penting dalam sains maupun teknologi.
     Di era mendatang, bukan fase muskil jika cincin emas bertatahkan berlian yang dipakai di jari manis adalah ultramobile super computer yang dikendalikan dengan identifikasi tuturan.  Cincin tersebut menjadi miniaturisasi teknologi komunikasi informasi, gudang data digital dan akses multimedia.
     Tiga dasawarsa silam, orang masih sulit membayangkan kalau arloji dapat berfungsi sebagai telepon.  Sekarang, imajinasi itu bukan lagi isapan jempol.
     Isra’ Mi’raj dalam al-Quran dinukilkan lewat porsi yang sangat minim. Sekalipun cuma secuil, tetapi, mengandung hamparan maha luas perihal sains serta teknologi.
     Isra’ Mi’raj yang menvisualisasikan Surga, merupakan tonggak keimanan sekaligus menjadi inspirasi insan global dalam merangkai pengetahuan.  Emas dan berlian yang terpampang di Surga bukan bentuk hedonisme.  Dua unsur tersebut justru menjadi bahan renungan demi meracik rumus baru masa depan yang masih gelap serta belum terdeteksi secara mendetail. 
     Pada esensinya, Isra’ Mi’raj ibarat sebuah sirkuit proses guna menyingkap theory of everything yang selama ini dicari-cari para pakar tingkat empu.  Apalagi, Isra’ Mi’raj merupakan kode tentang kebesaran Sang Khaliq.
     “Maha suci Allah yang telah membawa hamba-Nya di suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang diberkahi sekelilingnya.  Hal itu agar Kami memperlihatkan kepadanya beberapa tanda (kebesaran) Kami” (al-Isra’: 1).


Kamis, 02 Juni 2011

Sang Kala dalam Isra' Mi'raj

Refleksi Hikmah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad

(11 Agustus 2007)

Sang Kala dalam Isra’ Mi’raj
Oleh Abdul Haris Booegies

     Selama 63 tahun kehidupan Nabi Muhammad, tertera dua mukjizatnya yang teramat monumental dan fenomenal. Kedua mukjizat itu yakni al-Quran serta Isra’ Mi’raj.
     Al-Quran merupakan setumpuk undang-undang hakiki yang bercerita tentang zaman lampau, masa kini dan era mendatang. Sedangkan Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan mengarungi kosmos yang berlangsung sekitar sembilan jam. Walau durasinya singkat nian, namun, efeknya terasa sampai sekarang. Sebab, dari Isra’ Mi’raj muncul perintah shalat.
     Di masa kini, Isra’ Mi’raj acap dianggap mitos relijius. Karena, akal tak mampu mencernanya. Syahdan, banyak yang tidak yakin seratus persen dengan Isra’ Mi’raj. Ketidakpercayaan orang terhadap epos epik Isra’ Mi’raj lantaran perjalanan maraton rute Bumi-Mars pergi pulang menghabiskan waktu sekitar tiga tahun. Alhasil, untuk sampai di batas galaksi, butuh waktu ratusan tahun. Kalau galaksi menghabiskan beratus tahun, berarti ribuan tahun diperlukankan agar tiba di pinggir langit.
     Fase yang sangat rumit dikalkulasi akal tersebut, yang membuat penduduk dunia takjub dengan Isra’ Mi’raj. Apalagi, orang yang menembus angkasa akan mengalami beberapa gangguan fisik. Tulang-tulang, misalnya, mengecil secara permanen. Kemudian irama jantung berubah. Zat kimia dalam darah juga menjadi kacau. Selain itu, keseimbangan tubuh terusik. Bahkan, sistem kekebalan badan melemah.
     Beban fisik yang rata-rata menimpa astronot ialah mual, stres, takut dan telapak tangan berkeringat dingin. Di samping itu, kandungan kalsium menurun. Sementara nitrogen serta fosfor dalam urine meningkat 10 sampai 30 persen. Aspek tersebut terjadi akibat jasad berada dalam keadaan gravitasi nol (tanpa bobot).
     Sebagian ulama dan cendekiawan muslim menilai bila Rasulullah tidak secara ragawi ke langit. Isra’ Mi’raj cuma mengangkat roh Nabi Muhammad melanglang kosmos sampai tiba di Arasy Rahman (Tahta Suci Mulia milik Allah yang teramat besar).
     Jika pikiran kuno itu dianut, berarti sains serta teknologi tidak seyogyanya dikorelasikan dengan Isra’ Mi’raj. Padahal, insan planet bumi selalu merangkai ilmu demi kemudahan hidup sejak zaman dinosaurus sampai era predator.

Konsep Waktu

     Episode Isra’ Mi’raj kental dengan urusan waktu. Sedangkan prasasti agamis tidak mencantumkan secara jelas kapan sang kala mulai berdetak sebagai awal tempo.
     Ketika langit dan bumi belum diciptakan, maka, Tuhan bersemayam di ghamam (awan). Sebagian ulama mengartikan ghamam sebagai kabut. Di masa tersebut, udara serta air telah terbentuk. Di tengah keheningan jagat raya, Allah lantas menciptakan Qalam (tetes pengetahuan) yang terbuat dari cahaya. Lalu menciptakan Lauh Mahfuzh (lembaran segala informasi semesta). Sesudah itu, Arasy diciptakan. Singgasana Penguasa Tunggal Sejagat tersebut, kemudian mengapung di atas air.
     Kronologi purba itu memperlihatkan bahwa waktu telah muncul saat Qalam diciptakan. Sebab, Qalam merupakan kumpulan data. Seluruh perkara yang terjadi pasti tersimpan dalam Lauh Mahfuzh.
Peristiwa tersebut menegaskan kalau Qalam dan Lauh Mahfuzh terkena waktu. Karena, benda sakti itu menduduki ruang. Semua yang menempati ruang tentu terlibat dalam konsep sang kala. Sebab, waktu adalah konstruksi mutlak sekaligus menjadi sifat jagat raya.
     Ketika langit diciptakan sekitar 13,7 miliar tahun yang silam, maka, Arasy dipindahkan ke pucuk langit ketujuh. Sejak itu, persoalan waktu menjadi bagian krusial. Para resi sains modern lantas mendefinisikan waktu dalam aneka teori. Hingga, terjalin kehidupan yang energik dari segi visi, aspirasi, estetika, harmonisasi, orisinalitas, feng shui dan filosofi.
     Informasi paling otentik lalu menandaskan bahwa 50 ribu tahun di bumi setara 24 jam di sisi Allah. “Malaikat-malaikat bersama Jibril menghadap Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (al-Ma’arij: 4).

Mukmin Milenium

     Isra’ Mi’raj sebetulnya menawarkan kepada manusia saripati waktu. Inti Isra’ Mi’raj yaitu nihilisme waktu. Perjalanan yang mutlak ditempuh 50 ribu tahun, ternyata hanya butuh tempo secuil bagi Rasulullah.
     Fenomena yang dialami Nabi Muhammad, sekarang jamak terjadi. Bermiliar manusia sudah mempraktikkan Mi’raj dalam kehidupan sehari-hari. Hingga, percik cahaya Ilahi tumbuh pesat dalam tubuh komunitas mukmin.
     Tiap umat Islam yang berakal dan bertakwa, minimal lima kali beranjangsana ke Arasy. Kendaraan yang dipakai bukan Buraq, tetapi, komunikasi nirkabel antar-langit berupa sembahyang.
Dengan shalat, maka, batas kosmos enteng dilewati. Tak ada konsep waktu yang bisa menghalangi orang guna menghadap Sang Khaliq lewat sujud khusyuk yang khidmat.
Isra’ Mi’raj merupakan berkah tak terkira. Karena, keistimewaannya kini dinikmati segenap kaum Muslim. Sisi tersebut menunjukkan bahwa sembahyang yang diterima langsung Rasulullah dari Tuhan, merupakan simbol utama umat Islam. Apalagi, inti Islam tiada lain sujud tanpa syarat sebagai hamba kepada Sang Khaliq.
Waktu dalam Isra’ Mi’raj dipendekkan dari 50 ribu tahun menjadi kira-kira sembilan jam. Struktur itu memaparkan bahwa durasi waktu yang secuil bisa setara dengan kumpulan dasawarsa dalam mengejar kebaikan.
     Usia Nabi Muhammad cuma 63 tahun. Biarpun hanya enam dekade, namun, ia sanggup memimpin penduduk jazirah Arab untuk taat kepada The Creator of All Things. Bahkan, bukan hanya orang Arab. Sebab, aneka rumpun ikut menyembah satu Tuhan yang tak pernah beranak-pinak. Sementara umur Nabi Nuh mencapai 950 tahun. Dengan usia yang sangat panjang, Nuh Alaihissalam justru cuma didengar oleh segelintir manusia. Anaknya sendiri malahan tak mampu disadarkan.
      Kan’an, putra Nabi Nuh, akhirnya terhempas oleh amuk gelombang tsunami pertama pada tahun 3393 sebelum Masehi. Kan’an memperpanjang daftar dosanya dengan mengingkari Allah seraya mendustakan petuah sang ayah. Sebab, God spot (titik Tuhan) di batok kepalanya mengalami the lowest point (titik terendah). Hatta, sang anak susah menerima seruan sejati lewat getaran nuraninya.
     Deretan sang kala nan panjang bukan jaminan buat mencapai kebaikan. Beberapa detik setelah tertimpa apel, mendadak Sir Isaac Newton (1642-1727) melahirkan kaidah ilmiah hukum gaya berat universal.
     “Eureka! Eureka! Eureka!” (I found the answer!), pekik Archimedes (287-212 sebelum Masehi). Ia langsung mengetahui berat per volume unit sebuah mahkota seorang raja sesudah dicelupkan ke bak air.
     Newton bersama Archimedes tak perlu banyak waktu untuk melahirkan teori bagi kemaslahatan bersama. Isra’ Mi’raj pun tidak butuh rentang waktu ribuan tahun untuk sampai di Arasy. Alhasil, umat Islam tak perlu umur panjang untuk menjadi muslim sempurna. Karena, predikat insan kamil efektif digapai tanpa tempo yang bershaf-shaf.
     Menghargai waktu dengan ikhtiar gigih serta sifat tunduk di hadapan Tuhan merupakan tangga menuju zona mukmin milenium yang diridai Allah. Sebab: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” (al-Ashr: 1-3).

(Tribun Timur, 11 Agustus 2007)











 

Semalam Bersama Buraq


Refleksi Hikmah Isra’ Mikraj Nabi Muhammad
(11 Agustus 2007)

Semalam Bersama Buraq

Oleh Abdul Haris Booegies


     Di suatu malam di tengah semilir bayu, Jibril menemui Rasulullah. Nabi Muhammad dipanggil menghadap kepada Allah untuk suatu urusan maha-penting.
     Peristiwa tersebut terjadi saat Rasulullah menjalani ammul huzni (tahun kesedihan). Abi Thalib yang menjadi pelindung utamanya, tutup usia. Selang beberapa waktu, Siti Khadijah menyusul ke Rahmatullah.
     27 Rajab tahun 10 Nubuwwah (621 Masehi), sesungguhnya bukan tanggal Isra’ Mikraj. Sebab, data itu kurang akurat. Dalam beberapa tahun ke depan, Isra’ Mikraj masih akan rumit ditentukan tarikh otentiknya. Semua lantaran kurangnya aksara sejarah yang mendukung.
     Di malam Isra’ Mikraj, Nabi Muhammad terlelap di sisi Kakbah. Sebuah sumber juga meriwayatkan kalau Rasulullah tidur di rumah Hindun, putri Abi Thalib. Hindun yang dipanggil Ummu Hani merupakan orang pertama yang nantinya diberitahu tentang night journey dalam epos religius Isra’ Mikraj.
     Tatkala Nabi Muhammad bersiap berangkat bersama Jibril, ia melihat jasad asmaradanta bersayap yang berpendar diterpa cahaya rembulan serta kerlap-kerlip bintang-gemintang. Anatomi tubuhnya bagai blasteran antara unta dengan keledai. Rasulullah memandang heran hewan aneh itu. Sementara Buraq pun menatap tajam Nabi Muhammad.
     Ketika Rasulullah dipersilahkan oleh Jibril menunggangi Buraq, sontak fauna Nirwana tersebut mendengus, meronta sembari menjauh. Ia ogah dinaiki makhluk bumi.
     Jibril mendekat sambil mengelus Buraq. “Tidakkah kau mengetahui siapa dia? Inilah Muhammad! Pemimpin para Nabi dan Rasul”, jelas Jibril.
     Buraq langsung jinak, tersipu malu seraya membungkuk penuh takzim. Rasulullah lalu menaiki Buraq yang energinya melebihi Boeing plus Concorde. Satwa dari Taman Firdaus itu lantas melesat ke arah utara menuju al-Quds alias Yerusalem, sacred place of worship.
     Buraq yang ditumpangi Nabi Muhammad merupakan spesies langit. Saat membelah cakrawala, organisme yang berisi zat kimia lusiferin maupun enzim lusiferase tersebut, mendadak mengeluarkan sinar. Buraq memang diciptakan dari cahaya. Dari sudut linguistik, Buraq yang asal katanya barqun bermakna “kilat”. Ditinjau dari bahan serta terminologiya, bisa dimaklumi bila Buraq adalah wahana super cepat nan gesit. Ia efektif bergerak sejauh mata memandang hanya dengan mengepakkan sekali sayapnya. Struktur itu selaras dengan halilintar yang menggelegar menapak jarak sejauh 300 km per detik.
     Buraq yang didatangkan khusus buat Rasulullah, berwarna putih cemerlang dengan sayap yang mampu berubah-ubah (interchangeable). Sayapnya yang berkilau indah, dapat berpindah posisi sesuai beban yang diangkutnya. Ketika membelah langit malam, wujud Buraq terlihat seperti salju yang diterpa cahaya mentari. Kecepatannya melintasi angkasa menimbulkan jejak sinar bak meteor berekor.
     Mekah-Yerusalem ditempuh Buraq cuma beberapa detik. Nabi Muhammad bersama Jibril kemudian tiba di Mesjid al-Aqsa di ranah Baitul Maqdis (House of the Holiness). Buraq lalu diikat dengan seutas tali pada shakhrah (sebongkah batu besar) sembari menunggu prosesi Rasulullah tuntas.

Starship
     Kecepatan Buraq yang efisien menembus cakrawala, kini menjadi obsesi. Pada pusaran periode ini, bergemuruh hasrat sekelompok pakar buat menciptakan pesawat cahaya (starship). Brain power mereka tergiur merancang sebuah mission impossible ke dalam wacana riset.
     Dengan pesawat cahaya, niscaya banyak aspek enteng dimodifikasi bagi peradaban. Selama ini diuraikan bahwa satu detik cahaya bisa melanglang sepanjang 299.795.711 km. Parameter tersebut menegaskan jika pesawat cahaya gampang mengembara ke pusat Bima Sakti yang letaknya sejauh 216.000.000.000.000.000 km dari bumi.
     Pesawat cahaya memudahkan orang berkelana di antara satu galaksi ke galaksi lain yang berjumlah 300 miliar. Jenis dasar galaksi yang biasanya eliptikal, spiral dan iregular, terkadang memuat miliaran bintang serta planet. Milky Way, galaksi tempat bumi bergantung disemarakkan 400 miliar bintang dan 100 miliar planet. Sementara Tata Surya mengorbit pusat Bima Sakti dengan kecepatan berkisar 900 ribu km per jam.
     Romantika pesawat cahaya yang mengitari jagat raya sambil mendeteksi molekul organik, memudahkan pula orang merajut energi matahari di luar angkasa. Energi itu pada akhirnya leluasa dipancarkan ke bumi dalam bentuk gelombang mikro (microwave). Apalagi, matahari yang beratnya 2.000 triliun-triliun ton, tetap bersinar berkat keampuhannya menukar zat hidrogen dengan zat helium. Pertukaran itu terjadi via reaksi fusi nuklir pada kadar 600 juta ton.
     Alam semesta memang diakui maha kaya dengan beragam komponen. Sedangkan gas serta minyak di perut bumi makin menipis persediaannya. Merenda energi surya merupakan solusi demi menekan efek negatif lingkungan yang dibekap deretan prahara. Fenomena bertambah runyam gara-gara bahan bakar fosil terus-menerus dieksploitasi secara semena-mena oleh komunitas bisnis. Bumi akhirnya didera global warming (pemanasan global) yang mengacaukan iklim secara ekstrem.
     Segala bentangan jarak di ruang kosmos, bakal terasa sempit dengan kehadiran pesawat cahaya. Keberadaan starship, otomatis merangsang manusia untuk terus mencari planet mirip bumi dalam sistem seluruh galaksi.
     Di masa sekarang, gairah yang tiada henti berkecamuk ialah mencari habitat baru di antara sistem perbintangan berotasi (berputar). Dengan pesawat cahaya, kiranya orang dapat menemukan koloni impian di antara gugusan galaksi. Planet yang cocok dengan komposisi kimiawi manusia yakni memiliki oksigen sebagai gas vital makhluk hidup. Apalagi, orang bernafas 26 ribu kali sehari-semalam. Komponen krusial lain yaitu air yang menjadi medium dasar kehidupan.
     Pada 24 April 2007, tim astronom Eropa di Genewa, Swiss, mengumumkan kalau mereka menemukan sebuah planet di luar sistem Tata Surya. Kondisinya serupa dengan bumi. Planet tersebut berdiameter 50 persen lebih besar dari dunia sekaligus bermassa lima kali lipat bumi.
     Planet itu terletak di seputar bintang Gliese 581 yang berjarak 20,5 tahun cahaya dari sistem Tata Surya. Gliese 581 alias Kurcaci Merah, tergolong 100 bintang terdekat dari matahari.

Warp Speed
     Buraq merupakan sebuah sisi signifikan dalam Isra’ Mikraj. Kehadirannya mendorong fantasi demi merancang pesawat cahaya. Dengan Buraq, Nabi Muhammad sanggup melewati makam Masyitah di Mesir. Wanita mulia tersebut tergolong penentang Fir’aun di zaman Nabi Musa.
     Alkisah, Masyitah hanya juru rias putri Fir’aun. Pasca-kiamat, ia tercantum sebagai seorang menteri di Super Imperium Nirwana. Ratu Surga nantinya adalah Siti Fatimah az-Zahra al-Batul, putri Rasulullah.
     Bila Buraq membuat Nabi Muhammad enteng mengembara dalam hitungan detik, maka, starship akan memobilisasi manusia untuk terus bergemuruh melacak kehidupan lewat sifat fisik dan geologi alam semesta.
     Fakta perihal Buraq teramat minim, tetapi, posisinya sebagai sumber inspirasi di bidang kedirgantaraan terkesan jumbo. Sebab, menggairahkan kalangan ilmuwan supaya gigih mengasah mind set (pola pikir) buat merakit sarana transportasi antar-galaksi. Kelak, metode operasi dengan prinsip aksi-reaksi yang memadukan formula Albert Einstein (E = mc 2) dengan Sir Isaac Newton (F = ma), menjadi khatam berkat struktur Buraq yang dahsyat.
     Buraq ibarat sebuah chip yang berisi informasi mengenai aerodinamika ultra-mutakhir. Spesies dari Taman Eden itu, seolah menjadi simbol penerbangan masa depan dalam beranjangsana pada sistem planet di luar Tata Surya. Karena, meninggalkan jejak berupa desain kendaraan cahaya (warp speed). Syahdan, pesawat cahaya dapat direalisasikan dengan merekayasa dimensi massa serta waktu. Selama ini, teori relativitas Einstein menjadi sumber pesimisme. Sebab, mendengungkan tesis bahwa di dunia tak ada benda mampu bergerak sebagaimana kecepatan cahaya. Fase tersebut terkendala oleh dimensi massa dan sang kala.
     Pada prinsipnya, teori relativitas bukan penghalang guna menciptakan kendaraan antariksa (space drive) yang kecepatannya melebihi cahaya. Kendala utama tiada lain pengetahuan yang belum mencapai kasta hi-touch. Padahal, konsep hakiki sudah ada berupa Buraq yang punya sistem pendorong (propulsi) yang canggih nian. Bahkan, tidak terkena shock gelombang udara saat melayang di cakrawala. Selain itu, makhluk ajaib tersebut termasuk wahana ruang angkasa yang memakai energi ramah lingkungan. Tidak sama pesawat terbang terkini yang mencipratkan emisi perusak ozon.
     Buraq tidak mencemari atmosfir sekaligus andal melindungi Rasulullah dari radiasi. Arkian, sepatutnya manusia memproduksi pesawat berbahan bakar sel (fuel cell). Elemen fuel cell gampang menghasilkan energi listrik ketika berlangsung proses konversi hidrogen serta oksigen menjadi air. Pada dasawarsa pertama abad ke-21 ini, fuel cell ditahbiskan sebagai future energy dengan densitas power yang sakti.
     Di tengah detak jam yang berputar, penduduk buana ditantang untuk senantiasa menelisik sains dan teknologi sebagai kekuatan milenium di dekade mendatang. Hatta, dengan rupa-rupa ilmu, berarti starship bertenaga fuel cell bukan lagi imajinasi science-fiction.
     “Wahai kumpulan jin serta manusia! Jika kamu sanggup mengarungi penjuru langit maupun bumi, maka, melesatlah. Kamu tiada dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan” (ar-Rahman: 33).

(Fajar, 11 Agustus 2007)











































\

Rabu, 01 Juni 2011

Semalam Bersama Allah

Semalam
Bersama
Allah
(Refleksi Hikmah Isra’ Mi’raj
Nabi Muhammad 30 Juli 2008) 
Oleh Abdul Haris Booegies

     Di pagi hari, Mahanabi Muhammad duduk menyendiri di sisi Ka’bah.  Abu Jahal, ikon Quraisy era Jahiliah bertanya: “Apakah engkau ada masalah”. Rasulullah bersabda: “Tadi malam saya ke Baitul Maqdis seraya bertandang ke Surga”.
     Abu Jahal sontak berseru lantang: “Wahai keturunan Ka’ab bin Lu’ay! Berkumpullah ke mari!” Publik Mekah langsung berduyun-duyun mengelilingi Mahanabi Muhammad.  Mereka pun terkesiap mendengar epos paling menakjubkan yang pernah diutarakan oleh seorang bani Adam.  Banyak yang berdecak kagum.  Di pihak lain, tidak sedikit yang melecehkan kisah sensasional itu.
      Abu Jahal bersama preman-preman Mekah hanya terpingkal-pingkal mendengar babad Rasulullah. “Luar biasa dustanya”.  Seorang cecunguk Gangs of Mecca memekik: “Lihatlah anak Abu Kabsyah! Ia mengaku kalau tadi malam pergi ke Yerusalem”. Gerombolan kafir padang pasir yang lain kontan terbahak-bahak.
     Isra’ Mi’raj memang peristiwa yang muskil dinalar akal sehat.  Di zaman sekarang saja, hi-tech belum sanggup merealisasikan starship (pesawat cahaya).  Alhasil, bisa dimaklumi bila ada penduduk lembah Bakkah yang memegang kepala sebagai tanda ruwet mencerna kisah spektakuler tersebut.
      Isra’ Mi’raj makin fantastik lantaran Nabi Muhammad bersua dengan beberapa Rasul.  Bahkan, berpesiar ke Taman Firdaus yang air sungainya dapat bersuara.  Kala berada di Sidratul Muntaha, ia tiba di suatu area tertinggi yang berbalut mysterium fascinans (misteri yang mempesona).  Di sana, Rasulullah melihat cahaya nan agung ke mana pun mata memandang.
      “Apakah Nabi Muhammad melihat Allah”. Inilah pertanyaan paling dahsyat tentang mysterium tremendum (misteri yang menggetarkan).  Bulu kuduk Siti Aisyah mendadak bergidik ketika ihwal itu dikonfirmasikan.

Biografi Tuhan
     Al-Qayyum adalah sifat Allah yang bermakna qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri).  Tuhan merupakan Zat dengan Shifatul Ulya (Sifat-sifat Sempurna).  Ia menghimpun semua tabiat berikut perbuatan.  Allah mengerjakan segala elemen sembari mengatur dengan hukum.  Ia merupakan Wujud Perkasa yang berkreasi dari ketiadaan absolut (creatio ex nihilo).  Sebab, di sisi Tuhan bergemuruh al-ilm al-muhith (pengetahuan yang mencakup seluruh aspek).
      “Jika Allah menghendaki sesuatu.  Allah cuma bertitah: Jadilah, maka, ia pun jadi” (Yasin: 82). “Kami tiada secuil ditimpa keletihan” (Qaf: 38).
      Dalam bahasa Arab, kata Allah tak punya bentuk jamak maupun ma’rifat mutsanna (feminin).  Ungkapan Allah dikategorikan ghairu musytaq (tidak ada asal katanya sekaligus bukan pecahan dari kata lain).  Arkian, nama Allah tidak tepat diterjemahkan sebagai God (Tuhan).  Soalnya, God dalam bahasa Inggris memiliki bentuk jamak berupa Gods.  Saat merujuk ke feminin, maka, tertoreh morfem Goddes (Dewi).  Louis Ma’luf al-Yasu’i, penulis kamus al-Munjid, menjabarkan kalau lafzul jalalah (lafaz Allah) termasuk ismun zati (nama yang tak tergantikan oleh apa saja).
      Dalam Islam, istilah Allah berarti Tuhan.  Secara literal bermakna “Ia yang patut disembah”.  Kata Allah juga menyiratkan satu Tuhan.  Allah memang tidak melahirkan sekaligus tak diperanakkan. Allah merupakan nama khusus Tuhan.  Ia tergolong Zat yang kekal tanpa batas waktu serta Mahaunik (laisa kamitsluhu asy-syai).
      Pada periode purbakala, Allah berdiam di ghamam (awan).  Di atas dan di bawah ghamam berkitar komposisi hawa (udara).  Di masa tersebut, Tuhan merupakan Kanzan Makhfiyan (Khazanah Tersembunyi).  Allah lalu menciptakan Qalam dari cahaya.  Sesudah itu, Tuhan mendesain Arasy.  Kemudian Allah menghamparkan Lauh Mahfuz dari khazanah ilmuNya.
      Arasy merupakan Tahta Suci Tuhan.  Sebagai karya agung, Arasy punya kekhususan, keluasan serta kebesaran yang tiada tara.  Hatta, Allah menisbatkan Arasy kepada diriNya.  Di dalam Arasy tertatah al-Kursi yang meliputi kekuasaan paripurna berikut kekuatan sejati yang menjadi identitas wajib Sang Khaliq.
      Di era silam, Arasy mengapung di atas air.  Setelah Allah membaca surah Yasin dan Thaha, maka, langit pun diciptakan.  Pada momen itulah, Arasy diangkut ke pucuk langit ketujuh yang tiada bertepi. Singgasana Mulia tersebut dijunjung delapan malaikat.  Bila Allah murka, niscaya Arasy terasa berat bagi delapan malaikat pemikulnya.
      Di Arasy yang terhampar di atas Sidratul Muntaha, terletak pusat komando jagat raya dengan segenap isinya. “Ingat! Menciptakan serta memerintah hanya hak mahasuci Allah, Tuhan semesta alam” (al-A’raaf: 54).
      Di atas al-Kursi, Allah yang memiliki al-Qudrah asy-Syamilah (Kekuasaan Total), mengatur semua hal.  Ia menjadi pula Wadah Cinta (Hubb) dan sumber Kasih Sayang yang melimpah-ruah bagi semesta.  Tuhan yang tiada pernah mengantuk maupun tertidur menjaga keselarasan jagat raya.  “Tiap waktu Ia dalam kesibukan” (a-Rahman: 29).
      Di atas Arasy, tertera kalimat thayyibah dari sinar cemerlang: La Ilaha Illalah (tiada Tuhan kecuali Allah).  Al-Khaliq yang bersemayam di Arasy diliputi tabir berupa nur.  Hijab yang tercurah di sisi Tuhan terdiri atas 70 ribu nur.  Jibril berkomentar: “Di antara diriku dengan Allah terdapat 70 ribu pembatas dari cahaya”.  Andai Ia singkapkan mahacahaya itu, otomatis sinar wajah Tuhan membakar apa saja yang terkena.

Tabir Tuhan
     Tatkala Rasulullah berada di Sidratul Muntaha, maka, Allah menemuinya pada jarak yang dekat.  Abu Zar bertanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu”.  Mahanabi Muhammad menjawab: “Saya melihat cahaya”.  Masruq sekali waktu mencari tahu kepada Siti Aisyah perihal diskursus ru’yah (menatap Allah).
     Aisyah mendadak merinding dalam kengerian.  Pasalnya, selama hayat dikandung badan, pasti tak seorang pun pernah memandang Allah.  Aisyah berfatwa: “Siapa mengemukakan Nabi Musa al-Qawwiy al-Amin menatap Tuhannya, ia berbohong. Siapa bertutur bahwa Nabi Isa al-Masih melihat Tuhannya, ia kizib. Siapa yang berujar Rasulullah memandang Tuhannya, ia berdusta”.
      Di dunia, umat Islam dianjurkan patuh terhadap amanah Allah.  Hingga, menjadi keluarga Tuhan di planet biru ini (ahlullah fi al-ard).  Kadar iman tidak diukur oleh keandalan mata menatap Omnipresence (Zat yang Mahahadir).  Iman dalam sanubari yakni percaya bahwa cuma satu Tuhan tempat jiwa-raga bersimpuh menyembah.
      Jawaban Mahanabi Muhammad bahwa saya melihat cahaya, terpola seiring-sepadan dengan ayat al-Qur’an.  “Mustahil bagi manusia bahwa Allah akan berdialog kepadanya.  Kecuali lewat perantaraan wahyu atau dari balik tabir” (asy-Syuura: 51).
     Teks asy-Syuura: 51, menandaskan adanya tirai.  Ketika Nabi Musa berkomunikasi dengan Tuhan, ia hanya menemui seberkas api pada sebatang pohon duri (ausajah) yang bersinar putih di lembah suci Wadi Thua (Thur Sina).  Saat Rasulullah berbicara dengan Allah, ia cuma berhadapan cahaya benderang di Sidratul Muntaha.
      Api serta cahaya dalam peristiwa Nabi Musa bersama Mahanabi Muhammad merupakan hijab antara hamba dengan Tuhan. Api dan cahaya ibarat matahari. Sang surya punya api dengan suhu permukaan 6.000 derajat Celcius. Mentari pun memancarkan sinar ke galaksi Milky Way.
      Matahari hanya materi mikro di sisi Allah.  Walau termasuk formula renik, tetapi, tak seorang pun bisa menatapnya dengan mata telanjang.  Jika surya tak dapat dijangkau pandangan, labuda pencipta api serta cahaya mustahil terekam lewat penglihatan.  Maklum, kualitas Zat Tuhan sudah menegaskan penolakan atas tatapan mata.
      “Ia tiada mungkin dicapai oleh pandangan mata. Sementara Ia kuasa melihat segala yang tampak” (al-An’aam: 103).
(Tribun Timur, Selasa 29 Juli 2008)



























Amazing People