Senin, 31 Juli 2023

40 Tahun Angkatan 8086 Pesantren IMMIM


40 Tahun Angkatan 8086 Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Angkatan keenam Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM merupakan lichting pelengkap dari Generasi Berlian Pesantren IMMIM.  Dalam artikel Klasifikasi Iapim, saya membagi alumni dalam empat kelompok.  Pertama, Generasi Berlian (1981-1986).  Kedua, Generasi Mirah atau merah delima (1987-1991).  Ketiga, Generasi Safir (1992-2017).  Keempat, Generasi Zamrud yang bermula di tarikh 2018 sampai sekarang.  Lapis terakhir ini merupakan alumni Moncongloe.
     Angkatan pertama sampai keenam merupakan sebuah kesatuan utuh.  Tidak terpisahkan sebagai perintis.  Tanpa tim keenam, mustahil ada santri kelas VI pada tahun ajaran 1980/1981.  Pesantren yang belum memiliki kelas VI, tentu tidak sempurna sebagai institusi pendidikan agama dan umum.
     Front keenam atau 8086 termasuk terbesar secara kuantitas selama kurun 80-an serta 90-an.  Pada pertengahan 1980, angkatan 8086 putra berjumlah 155.  Angka ini lantas susut menjadi 78 pada 1986.  Sementara alumni putri berjumlah 50.
     Jumlah 78 alumni putra tergolong gigantik selama 20 tahun.  Divisi 8086 sempat merajai Iapim sebelum memasuki tahun 2000.  Sisa-sisa kebesaran 8086 masih terlihat saat Mubes 2022.  Personel 8086 menjadi ketua steering committe.
     Selama 2010 sampai 2023, skuad 8086 tampak kewalahan.  Ibarat kata, nafsu besar tenaga lemas.  Kini, kaisar Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim) yang berprestasi tiada batas sekaligus tak terkalahkan yakni Angkatan 7985 dan 8288.  Kedua divisi punya kualitas karakter yang dapat mengubah perspektif.
     Kondisi 8086 yang payah, terus diupayakan agar kembali menjadi angkatan elite.  Bergelegak kerinduan warga 8086 untuk berpartisipasi secara selektif dalam aktivitas optimal.  Api segera dinyalakan supaya bisa menjadi penerang di tengah umat.  Tokoh-tokoh 8086 terus berembuk untuk tampil di penghujung sisa-sisa hegemoni.  Ini semacam sinyal agar orang mafhum bila Angkatan 8086 masih bertaji, tidak karam dalam kesendirian.
     Angkatan 8086 ingin melaju ke seberang yang sarat prestasi.  Berkehendak menorehkan momen-momen indah.  Ada gemuruh dorongan optimis di sisa hidup yang makin singkat.  Dewasa ini, mutlak menggaungkan ekstravaganza sebelum ada personel 8086 yang memakai tongkat, walker (alat bantu jalan) serta kursi roda.
     Dari desas-desus yang berembus, unit khusus 8086, agak bingung.  Apakah memilih Kamis, 24 April 1986 (15 Sya'ban 1406) atau Ahad, 22 Juni 1986 (15 Syawal 1406) sebagai tonggak empat dasawarsa 8086.
     Kamis, 24 April 1986 merupakan momen tatkala santriwan-santriwati 8086 khatam Ujian Nasional.  Sedangkan Ahad, 22 Juni 1986, termaktub sebagai hari penamatan 8086.  Kedua tanggal sangat bersejarah.
     Secara pribadi, saya memilih 22 Juni 1986.  Musababnya, tanggal ini merangkum secara komplet perjalanan 8086 sampai tamat.  Jika ini disepakati, maka, perayaan empat dekade 8086 jatuh pada Senin, 22 Juni 2026 (7 Muharram 1448).
     Komite reuni akbar 40 tahun perjalanan romantis Angkatan 8086 menyiapkan lokasi di Tamalanrea, Moncongloe maupun Barru, kediaman al-mukarram al-mahbub Hapip Berru.  Sementara tema yang diusung ialah "Sahabat Selamanya, Selamanya Sahabat".
     Berikut daftar alumni 1986 Pesantren IMMIM Putra Tamalanrea yang disusun secara abjadiah.
Abdul Aziz Yusuf
Abdul Hafid
Abdul Haris Booegies
Abdul Malik
Abdul Muiz Muin
Abdul Muqit
Abidin Husain
Agus Adnan
Agus Ambo
Agus Ramadan
Agus Salim
Ahbaruddin
Ahmad Afifi
Ahmad Hidayat
Ahmad Kuri Kilat
Ahmad Natser
Ali Yusuf
Ambo Siknun
Andi Arman
Andi Asri Lolo
Andi Fausih Rahman
Andi Muhammad Yusuf
Andi Martan Aries
Andi Syamsir Patunru
Ansyarif
Arfandi Dulhaji
Arifin Rahman
Armansyah
As'ad Ismail
Atmal Ariadi Djaenal
Awaluddin HK
Awaluddin Mustafa
Burhan Hamid
Chalid Lageranna
Daswar Muhammad
Fuad Mahfud Azuz
Hamid Seltit
Hesdy Wahyuddin (Oge)
Ikbal Said
Imam Setiawan
Irsyad Dahri
Irwan Thahir Manggala
Iskandar
Lukman Sanusi
Muaz Yahya
Muhammad
Muhammad Akbar Samad
Muhammad Arfah
Muhammad Ilham Suang
Muhammad Khuzaifah
Muhammad Thantawi
Muhammad Yunus
Muhammad Zaenal Hasyim
Muhammad Zubair Andy
Mutalib Besan
Ridwan
Rusman
Sabri Rata
Sahabuddin
Saifuddin Ahmad
Saifullah Nurdin
Saiful Latief
Shalahuddin Ahmad
Sirajuddin Omsa
Suharkimin
Syafaruddin
Tahir Mana
Wahyuddin Naro
Wahyu Muhammad
     Alumni 1986 Pesantren IMMIM Putri Minasa Te'ne alias Miss Teen.
Aisyah
Amriani Amin
Andi Tenri Ajrana
Darmawati
Darwiyanah N
Fakhriah Mumtihani
H Jumriah
Hariani
Harmawati
Hasnawati
Humaedah Kamal
Janiah
Julianti
Jumariah
Khaerani
Khaeriyah
Mardiah A
Mardianah
Marhani Jamil
Mulianah M
Muslika S
Najmiah
Nur Hayana
Nur Jamil
Nur Saida Beta
Nurhaedah
Nurhidayah
Nursaidah N
Nursyamsu
Nurul Fuada
Pahmiati
Rahma Afiah Agustiati
Rahmatiah B
Rasnah
Rosmiati C
Rosmiati T
Rostiah HL
Ruqayah
Siti Habibah
Siti Hasrawati HS
Siti Syahri Nur
Sukhriani S
Suriani B
Sutriani
Syamsidar
Syarifa Jama


Rabu, 19 Juli 2023

Hajar al-Magrib


Hajar al-Magrib
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dalam narasi umat Muslim, Hajar al-Magrib bukan tokoh utama dalam Islam.  Di kalangan orientalis, Hajar adalah sumber Islam.  Pembenci Islam punya versi cerita berdasarkan kitab sucinya.  Sementara kaum Muslim punya pula argumen.
     Orientalis bersama komplotan munafik dari kalangan Muslim menuduh kalau Hajar merupakan induk Islam.  Mengapa mereka membidik Hajar sebagai sumber Islam?  Sebab, orientalis ingin mengemukakan bahwa Islam itu agama dari budak.  Hajar tercatat sebagai budak Nabi Ibrahim menurut Tanakh serta Alkitab.  Padahal, tak ada bukti sejarah kalau Hajar merupakan budak.  Hajar tiada lain putri raja Magrib.  Tatkala Nabi Ibrahim ke Mesir, ia meminang sang putri.
     Dari mana tudingan ini jika Hajar adalah budak?  Ini serupa tuduhan bahwa penganut awal Islam cuma sekumpulan budak.  Padahal, fakta seterang Mentari menunjukkan bila orang Islam pertama yakni Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar ash-Shiddiq.  Trio ini diakui sebagai keturunan mulia suku Quraisy.  Ibnu Mas'ud yang penggembala kambing tertera sebagai penganut keenam Islam.  Orientalis, munafik maupun pembenci Maharasul Muhammad memang tidak bisa tidur nyenyak dengan Islam yang begitu indah akar, batang, ranting, daun dan buahnya.


Senin, 17 Juli 2023

Libur di Pesantren IMMIM


Libur di Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Libur sekolah merupakan momen paling menyenangkan.  Pasalnya, ada banyak waktu untuk beristirahat dan bercengkerama.  Vakansi acap diisi dengan bertamasya.  Ke pantai, ke gunung atau sekedar berjalan-jalan keliling kota.
     Di Pesantren IMMIM, libur merupakan berkah besar.  Sepekan sebelum libur, perlahan suasana mulai gaduh.  Dada bergemuruh karena bakal berjumpa dengan orangtua, saudara, keluarga atau kekasih.
     Malam sebelum pembagian surat izin, tas maupun ransel telah siap diangkut naik kendaraan.  Kerinduan untuk segera pulang ke rumah membuat sulit tidur.  Terbayang rumah, terbayang ayah serta ibu yang berlari menyambut dengan pelukan hangat.  Kakak atau adik turut berlari dengan pekik gembira.  Tetangga-tetangga pun ikut riang.  Sebuah panorama syahdu yang membuat hati berbunga-bunga.
     Sampai tengah malam, sebagian santri masih susah memejamkan mata.  Sebagian memeluk tasnya karena sudah tak tahan hendak pulang.

Bertahan di Kampus
     Usai sarapan, surat izin libur pun dibagikan.  Santri bergembira karena hari yang dinanti akhirnya tiba.  Roman muka tampak ceria penuh antusias.  Langkah kaki begitu ritmis ibarat menapak rindu demi rindu.
     30 menit selepas pembagian surat izin, kampus mulai lengang.  500 santri berlomba naik mikrolet (petepete).  Selama 30 menit, sopir-sopir mikrolet ketiban rezeki.  Musababnya, penumpang membeludak.
     Ketika masih kelas I dan II, saya menunggu mikrolet dari arah Daya di Kavaleri.  Ini agar cepat naik mobil.  Jarak rumahku dengan pesantren sekitar 15 km, dua kali naik mikrolet.
     Pukul 09.00, kampus makin sepi.  Santri yang tersisa terkadang berjumlah 50.  Beberapa di antaranya belum berkemas.  Bahkan, belum mandi.  Sebab, memilih pulang pada sore atau malam.  Mereka akan menumpang bus malam ke kampung masing-masing.
     Santri-santri yang tinggal, acap berkeliling kamar.  Berjalan dari pintu ke pintu mengisi waktu.  Jika bersua dengan santri di sebuah bilik, tanya pun berkumandang. "Mengapa belum pulang" atau "kapan pulang".
     Saat shalat Zhuhur, masjid nyaris kosong.  Tradisi santri di pesantren kalau libur ialah semua pause, termasuk istirahat ke masjid.  Sebuah tingkah-polah yang tidak logis untuk ukuran santri.
     Bakda Zhuhur, suasana pesantren kian sunyi.  Kalau ada santri tampak dari jauh, ada tanya di hati.  "Siapa gerangan itu yang belum pulang?"
     Bakda Ashar, santri makin susut jumlahnya.  Mereka seolah menghilang secara perlahan akibat dikejar kerinduan untuk mendekap kampung halaman.  Kini, yang tersisa sekitar 20 santri.  Sulit menghitung secara tepat karena kami berlainan tempat di antara 10 asrama.

Teri Menjelma Telur
     Bila libur sepekan atau 15 hari, biasanya koki banyak yang tinggal.  Di hari-hari biasa, koki tidak pernah keluar dari dapur.  Saat libur, mereka acap duduk-duduk di koridor kantor pimpinan kampus (pimkam) atau pos piket.
     Pukul 16.00, sejumlah koki menuju ke lapangan main voli bersama santri.  Tiap tim tentu campuran, gabungan santri dengan koki.
     Saya lebih memilih bergosip dengan koki di selasar dapur jika petang mulai merayap.  Pernah pula bermain hujan dengan dua koki cantik di suatu senja.  Persis adegan di film-film romantis.  Asyiknya tiada terkira.
     Setelah makan malam, mulai diketahui siapa saja yang tinggal di kampus.  Biasanya sekitar 10-15 santri yang bertahan.  Kami pun saling membuat rencana untuk bersama-sama menginap di kamar tertentu.  Ini semacam tindakan kepedulian terkecil.  Sebab, ada santri yang takut tidur sendiri.
     Rayon favorit yakni Imam Bonjol.  Ini memang asrama santri bandel.  Tempat berhimpun para jawara.  Di sini kerap menginap lima atau lebih santri.
     Saya senantiasa memilih tinggal sendiri di bilik.  Malas mengungsi ke kamar lain.  Selain itu, menghindari asap rokok.  Sohib yang berkumpul di satu ruangan, pasti merokok seraya main domino.  Repotnya, saya tak merokok serta tidak mahir domino.  Walau sendiri, tetapi, tak kesepian.  Pasalnya, punya banyak majalah sekaligus kaset lagu Barat.
     Tatkala kelas V, santri yang tinggal saat libur diperintahkan pulang.  Tidak boleh tinggal di kampus.  Maklum, tak disiapkan makan.
     Kami sesama santri yang tinggal pun melakukan protes senyap.  Bagaimana mungkin kami tidak diberi makan.  Sementara SPP bulan ini dibayar penuh.
     Pimpinan kemudian melunak.  Segelintir santri yang tinggal wajib memiliki kupon makan.  Kupon ini diambil di pimkam.  Diserahkan ke koki untuk ditukar ransum.
     Kami yang tinggal tidak puas.  Sebab, cuma diberi lauk berupa ikan kering serta teri.  Senpai Indra Jaya kemudian menghubungi bagian keuangan.  Jatah ikan kering pun berubah telur.  Ini baru lezat.

Mendadak Berbinar
     Libur di pesantren membuat kami lesu.  Sebab, tak ada aktivitas belajar.  Selain itu, sepi sekali.  Di hari biasa, kami berinteraksi dengan 500 santri.  Di masa libur, kami cuma bertemu 10 atau 15 santri yang berwajah lesu.
     Kesunyian di pesantren membuat kami mencari pertualangan baru.  Kami mengekspresikan agresivitas.  Menciptakan ketegangan serta sensasi.  Sebagai contoh, melempari ayam tetangga yang masuk ke pesantren.  Kami juga terjun ke sumur untuk menyelam.  Terkadang, kami menatap pohon mangga di depan aula.  Berkhayal ada buahnya supaya kami dapat melemparnya.
     Masa libur habis.  Rekan-rekan pun mulai berdatangan.  Di masa tersebut, ada transisi dalam jiwa.  Soalnya, sepi mendadak berbinar, bergemuruh-riuh.  15 santri berubah jumlahnya dalam hitungan jam menjadi 500.  Rekan-rekan bermunculan bagai gelombang cinta yang kembali ke akar.
     Saya biasanya pulang ke rumah kala sahabat-sahabat tiba di pesantren.  Inilah momentum bagiku untuk pulang berlibur ke rumah.  Tinggal di kampus selama vakansi merupakan bentuk tanggung jawab demi keamanan Pesantren IMMIM.  Saya puas pernah mengukir sejarah dengan menjaga pondok selama libur.


Jumat, 07 Juli 2023

Bumbu Cerita Umar bin Khattab


Bumbu Cerita Umar bin Khattab
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ketika Umar bin Khattab menyadari kalau pengikut Islam makin banyak, ia pun sangat murka.  Pada Zulhijjah tarikh keenam kenabian, Umar bergegas meraih pedang untuk menghukum mati Maharasul Muhammad.  Musababnya, Umar menilai bahwa figur sentral Islam tersebut yang menyebabkan penduduk Mekah terbelah.  Ada yang beriman kepada Allah, ada pula tetap beriman kepada Lata, Uzza serta Hubal.
     Umar yang menenteng golok panjang seraya berlalu-lalang di lorong-lorong Mekah, membuat beberapa orang heran.  Bahkan, takut bakal ada petaka besar yang ditimbulkan oleh Umar.
     Di sudut jalan, seseorang kemudian memberi tahu Umar kalau adiknya maupun Said bin Zaid, sepupunya, justru sudah masuk Islam.  Ini membuat Umar kian marah sekaligus panik.  Ia segera mengarah ke rumah Fatimah binti al-Khattab, saudarinya.  Dari balik dinding rumah terdengar Khabbab bin al-Arat melantunkan surah Tha Ha.
     Umar lantas merangsek masuk.  Menghajar Fatimah sampai hidungnya berdarah.  Ketika ia merampas mushaf al-Qur'an yang dipegang Fatimah, hati Umar tergetar.  Ia pun takluk seraya menyatakan diri masuk Islam
     Kisah ini begitu populer dalam sejarah Islam.  Hikayat ini seolah realitas suci yang begitu gemilang.
     Ada yang luput dari cerita ini.  Benarkah Umar secara terang-terangan membawa pedang berkeliling Mekah mencari Rasulullah?  Benarkah ia hendak membunuh Rasulullah?
     Bila betul Umar membawa pedang, maka, ini kasus maut.  Sama artinya Umar mendaftar ke Neraka jika mengusik keselamatan nabi utusan Allah.  Kalau cerita ini dikonversi ke masa sekarang, mungkin alurnya begini.  Mantan Presiden Amerika Donald Trump marah kepada Nancy Pelosi, ketua DPR Amerika.  Trump pun membawa senapan mesin bergaya bak Rambo.  Ia berkeliling Washington mencari Pelosi.
     Babad ini pasti antiklimaks.  Sebab, mustahil Trump bisa seenaknya bergentayangan di Washington membawa senapan mesin untuk membunuh.  Pasti polisi membekuknya sebelum ada korban.
     Umar membawa pedang berkeliling Mekah terasa kurang masuk akal.  Apalagi mau membunuh Rasulullah.  Perlu dipahami bahwa kasta Rasulullah berada di posisi tertinggi.  Sementara kasta Umar berada dua tingkat di bawah bani Hasyim.
     Kalau Umar yang kastanya rendah ingin membunuh Rasulullah, apakah keturunan Hasyim diam tanpa perlawanan?  Tentu mereka memberontak!  Utang darah dibayar darah.  Nyawa dibayar nyawa.  Pasalnya,  Rasulullah merupakan cicit Hasyim, Menteri Luar Negeri Quraisy.  Rasulullah adalah cucu Abdul Muthalib, Wali Kota Mekah.  Tidak semudah memindahkan gunung untuk melukai Rasulullah.
     Kisah Umar masuk Islam yang mendunia ini, sesungguhnya versi Medinah.  Penduduk asli Medinah yang tidak paham situasi Mekah, merasa nyaman dengan secuil hikayat Umar.  Padahal, cerita ini kurang lengkap dengan fakta lain.
     Kisah keislaman Umar versi Mekah, tidak instan.  Kala itu, Umar mengalami pergolakan batin.  Sejumlah sejawatnya memilih memeluk Islam.
     Umar makin terguncang saat sahabat-sahabatnya eksodus ke Abisinia (Habasyah) pada tahun 613-615.  Ia dengan wajah sendu sempat mendekati seorang rekannya yang bersiap mengungsi ke Abisinia.
     Di suatu malam, Umar kehabisan arak.  Sementara di rumah, tak seorang pun yang ada untuk disuruh.  Ia akhirnya keluar menuju kedai.
     Di sebuah tikungan, Umar melihat Rasulullah menuju ke Kabah untuk shalat.  Umar menguntit.  Memperhatikan gerak-gerik Rasulullah yang shalat.
     Umar berkali-kali mengintai Rasulullah yang sedang shalat.  Di suatu malam tatkala Rasulullah pulang, Umar kembali mengikutinya dari belakang.  Di lorong sebelum tiba di rumah, Rasulullah berhenti.  Ia menegur Umar.  "Rupanya kamu, Umar.  Tidak henti-hentinya kau membuntutiku".
     Umar yang tidak menyangka aksinya tepergok, cuma berdiri terpaku dengan muka malu.
     Cerita ini merupakan versi Mekah.  Apakah versi Medinah, salah?  Tentu tidak.  Kisah dalam versi Medinah merupakan klimaks pencarian Islam bagi Umar.  Versi Mekah dengan versi Medinah merupakan sebuah kesatuan yang mempertontonkan heroisme Umar demi memperoleh hidayah.  Tidak bisa dipungkiri kalau versi Medinah diberi bumbu berupa pedang terhunus ketika Umar mencari Rasulullah.


Selasa, 04 Juli 2023

Raga Sehat Jiwa Sehat


Raga Sehat Jiwa Sehat
Oleh Abdul Haris Booegies


     Kebugaran jasmani merupakan impian semua insan.  Tubuh prima membuat seluruh aktivitas berjalan maksimal.  Kondisi fisik optimal senantiasa menjadi syarat mutlak rutinitas sehari-hari.
     Olahraga menjadi tiket meraih raga nan sehat.  Olahraga murah meriah yakni berjalan kaki serta lari.  Walau terlihat mudah, tetapi, olahraga ternyata repot dilakukan.  Butuh dorongan khusus agar bisa berolahraga saban hari.
     Ada pesan yang terdengar dari orang ternama.  Kalau tak meluangkan waktu untuk berolahraga, maka, bersiaplah meluangkan waktu untuk sakit.
     Saat saya di SD, seorang guru berpetuah.  Dalam tubuh sehat terdapat jiwa sehat.
     Ketika belajar di Pesantren IMMIM pada 1980-1986, saya acap lari pagi sampai di jembatan Tello.  Berjarak sekitar dua kilometer.  Ini membuat badan atletis.  Seolah saya simbol seks pesantren.
     Di sisi lain, saya agak risih dengan kalimat "dalam raga sehat bersemayam jiwa sehat".  Sepertinya kalimat ini menyimpan kejanggalan.  Soalnya, banyak orang sehat berperangai sakit.  Tidak sedikit pula yang sakit, namun, berperilaku bijak.  Sampai sekarang di tarikh 2023, masih ada yang berceloteh bahwa "dalam tubuh sehat tersimpan jiwa sehat".
     Pada 1994, saya membeli kitab berjudul Vademecum.  Ini kamus Latin-Indonesia yang disusun oleh RS Hardjapamekas.
     Di halaman 77-78, diterangkan tentang mens sana in corpore sano.  Menurut penulis kamus Latin-Indonesia ini, kalimat mens sana in corpore sano adalah penggalan kutipan milik Juvenal (Decimus Iunius Juvenalis).  Ahli satir Romawi ini hidup pada tahun 80-140.
     Nukilan tidak lengkap mens sana in corpore sano akhirnya menimbulkan salah maksud.  Pasalnya, diartikan bahwa dalam jasmani sehat berdiam jiwa sehat.
     Di masa hidup Juvenal, masyarakat Romawi sering memohon hal-hal aneh kepada dewa-dewi.  Akibatnya, Juvenal jengkel.  Ia pun berseru:  "Orandum est, ut sit mens sana in corpore sano (sekalian minta saja kepada para dewa supaya kalian sehat lahir batin)".
     Jadi, mens sana in corpore sano sesungguhnya potongan kalimat sinisme Juvenal.  Ajaibnya, sindiran pedas ini diinterpretasikan lain oleh warga modern.  Di zaman kini, mens sana in corpore sano dianggap kata mutiara perihal hidup sehat.  Astaga, pusying pala Barbie.
     Kasus ini senada dengan minal aidin wal faizin yang bermakna "kembali ke kesucian seraya meraih kemenangan".  Minal aidin wal faizin merupakan potongan dari doa panjang seorang ulama.  Tatkala doa ini masuk ke Indonesia, rupanya terpenggal.  Doa panjang ini hanya menyisakan minal aidin wal faizin.  Lebih celaka lagi, minal aidin wal faizin diterjemahkan "mohon maaf lahir batin".  Astaga, tambah pusying pala Barbie.


Memilih Kata


Memilih Kata
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada 1990, ketika artikel-artikelku dimuat di majalah serta surat kabar terbitan Jakarta dan Surabaya, saya sering ditanya sahabat.  "Kapan punya waktu agar saya dapat ke rumahmu untuk belajar menulis".
     Saya senantiasa tersenyum bila mendengar pertanyaan begini.  Tidak mau menjawab secara lisan.  Soalnya, menulis tidak bisa ditularkan dalam satu jam atau satu hari.
     Terakhir saya melihat pertanyaan serupa di Messenger pada 2020.  Seorang alumnus Pesantren IMMIM ingin menemuiku untuk belajar menulis.  Entah siapa.  Saya pun setuju kapan saja boleh datang.
     Saat orang terpesona membaca makalah nan indah, ia pasti bertekad hendak menjadi penulis.  Padahal, ada yang alpa dipahaminya.  Penulis-penulis tangguh tidak belajar satu jam, satu hari atau satu tahun kepada empu jurnalistik atau dewa pers.  Para penulis ulung belajar merangkai kata selama bertahun-tahun.  Mengeluarkan dana, energi serta waktu.
     Ketika mahasiswa, saya lebih suka ke kios koran ketimbang ke kantin.  Saya lebih memilih ke toko buku daripada membeli aksesori untuk bergaya.  Saya menghabiskan puluhan juta untuk membeli buku, majalah dan surat kabar.
     Pengorbanan dalam menulis seolah disepelekan oleh kawan-kawan.  Mereka berniat belajar menulis dalam waktu sesingkat-singkatnya tanpa jerih-payah.  Tidak berhasrat melewati lorong berliku sebagai jalan menuju kebesaran.
     Saya membatin, barangkali mereka mengira menulis itu seperti mengikat hewan kurban.  Dalam beberapa menit, sanggup mempelajari tip serta trik mengikat domba untuk disembelih.
     Satu hal yang juga dilupa ialah bakat.  Banyak orang pintar nekat menulis.  Biasanya golongan model ini muncul setelah berusia 40 tahun kala punya karier mentereng.  Tatkala kariernya rontok sebagai batu loncatan untuk menulis, pudar pula seleranya menulis.  Sebab, ia memang tidak berbakat!  Sekedar aji mumpung!
     Ciri artikel orang pandai yang tidak berbakat yakni monoton.  Tulisan hanya fokus pada satu genre.  Mereka juga menggunakan bahasa pasaran, bukan ilmiah-populer yang segendang-sepenarian dengan media cetak.  Lebih parah lagi kalau cuma menulis di media sosial dan blog.  Di situ gerombolan "penulis gadungan" bebas mempublikasikan opini apa saja.  Semua makalahnya 100 persen lolos tanpa saringan, tanpa sensor dan tanpa seleksi.  Maklum, mereka pemilik akun.  Berbeda dengan media cetak profesional yang punya redaktur opini sekaligus redaktur bahasa.
     Di sisi berbeda, insan berbakat memiliki ciri bahasa.  Selain itu, tiap goresan intelektualitas yang diproduksi selalu menawarkan gagasan.  Bukan laporan pandangan mata dengan bahasa sekenanya.

Namun Tetapi
     Saya berkali-kali ikut pelatihan jurnalistik maupun seminar pers.  Pemakalah menjejali peserta dengan beragam teori.  Pembahasan metode demi metode digaungkan supaya peserta tangkas menulis.
     Dari pengalaman sehari-hari, ada sejumlah aspek menulis yang sering mengganjal hati.  Sebagai umpama, menempatkan "tetapi" di awal kalimat.  Saya langsung kehilangan respek kalau membaca tulisan akademisi yang menaruh "tetapi" di awal kalimat.  "Tetapi" merupakan kata sambung intrakalimat.  Hingga, mutlak berada di tengah.  Contohnya, "ada uang, tetapi, lupa dibawa".  Bukan "tetapi uang yang ada lupa dibawa".
     Kalau ada yang meletakkan "tetapi" di awal kalimat, berarti ia mengalami kekacauan berpikir.  Penulis-penulis besar turut terusik bila menyimaknya.
     Ada penulis mengakali problem ini dengan mencantumkan "akan tetapi".  Ini dibolehkan sebagai penghubung antarkalimat.  Ada pula yang membubuhkan "namun".  "Namun" memang kata sambung antarkalimat.  Penempatannya mesti di awal kalimat.
     Dari pengalaman menulis, saya tidak membedakan "tetapi" dengan "namun".  Ini sinonim.  Bagi saya, "tetapi" serta "namun", sama-sama penghubung intrakalimat.  Saya malahan lebih ekstrem.  Musababnya, "tetapi" dan "namun" harus diapit koma.  Sebagai misal, "bukan ini, tetapi, itu" atau "bukan dia, namun, kamu".

Orang Tua
     Dalam KBBI Daring, tidak ada entri "orangtua".  Kamus cuma menampilkan "orang tua", terpisah antara "orang" dengan "tua".  Kata ini punya dua arti.  Pertama, ayah-ibu kandung.  Kedua, orang berumur, baik ahli atau tetua.
     Dalam meracik naskah, saya menerapkan "orangtua" untuk ayah-ibu.  Sedangkan "orang tua" untuk individu yang berusia lama.  Alhasil, asosiasi pembaca langsung mafhum tanpa harus mengerti konteks kalimat.
     Alasan saya sederhana.  Jika ada "orang tua", niscaya ada "orang muda".  Sementara "orangtua" tidak punya antonim "orangmuda".  Ini senada dengan ayah-ibu yang tak tergantikan.

Bulan Tahun
     Dalam beberapa artikel, acap ditemukan kata "tahun" dirangkai "bilangan".  Contohnya, "pada tahun 1966".  Dalam penulisan, sebaiknya menghapus kata "tahun".  Arkian, menjadi "pada 1966".  Ini agar tidak rancu.  Pasalnya, "1966" sudah menunjukkan tahun tanpa perlu ada penegasan "tahun" di depannya.  Tidak masalah ada "tahun" kalau penanggalan yang dimaksud kurang familier.  Umpamanya, "Fir'aun lahir pada tahun 23 Masehi" atau "Fir'aun lahir pada tahun 707".  Tambahan Masehi untuk memperjelas penanggalan.  Huruf pertama Masehi mesti kapital.
     Penulisan bulan yang menerangkan untaian hari, juga terkadang mubazir.  Sebagai contoh; "ia lahir pada bulan Januari".  Elok ditulis saja; "ia lahir pada Januari".  Sebab, Januari sudah mengindikasikan bulan dalam almanak.  Seluruh nama bulan harus diawali huruf besar.
     Karya penulis pemula atau wartawan magang biasa membingungkan.  Soalnya, tidak jeli membedakan "bulan" dengan "Bulan".  Kalau "bulan" yang diawali huruf kecil pasti merujuk ke bulan kalender.  Sedangkan "Bulan" dengan huruf besar mengisyaratkan benda langit.  Huruf pertama Bulan, Bumi, Matahari serta nama planet mesti kapital.  Hatta, bila tertera kata "Bulan", asosiasi langsung mengarah ke satelit alam yang mengitari Bumi.  Sementara "bulan" mengekspresikan rangkaian waktu berdurasi 28, 29, 30 atau 31 hari.


Keajaiban Pesantren IMMIM


Keajaiban Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM Putra terletak di Tamalanrea.  Kampus seluas dua hektare ini dulu merupakan hamparan sawah.  Sawah di bagian belakang atau di Barat malahan menjadi rawa-rawa.
     Pada 1983, hujan deras membuat rawa di pesantren menjelma danau instan.  Air mencapai satu meter.
     Di musim kemarau, di rawa terdapat tumbuhan air (hidrofit).  Ada eceng gondok, papyrus payung, lili air maupun cyperus
     Sekalipun rawa-rawa di Pesantren IMMIM berair tenang, namun, dijamin tidak ada buaya.  Apalagi, buaya darat!
     Rawa termasuk habitat nyamuk.  Serangga yang tergolong dalam ordo Diptera dari famili Culicidae ini menyukai iklim tropis dengan suhu lembap.  Nyamuk menjadi penyebab pelbagai penyakit tropis seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, chikungunya, Japanese encephalitis serta filariasis limfatik.

Anti Kelambu
     Di Pesantren IMMIM, rata-rata santri tidak memakai kelambu.  Apalagi, yang ranjangnya di bagian atas.  Pengait untuk menggantung kelambu tak tersedia kecuali plafon.
     Tatkala menjadi santri Aliyah, saya menggunakan kelambu.  Ini agar privasi tidak terganggu.  Ada dua atau tiga sahabat sering ke ranjangku untuk membaca majalah.  Dengan adanya kelambu, teman agak sungkan duduk di ranjangku untuk menyimak majalah menjelang tidur.  Kelambu juga membantu saya cepat tidur.  Pasalnya, meminimalisasi cahaya lampu ke mata.  Sampai sekarang, saya tak bisa tidur jika ada cahaya lampu.
     Ketika saya santri pada 1980-1986, pengguna kelambu mungkin dapat dihitung dengan jari satu tangan.
     Mengapa santri IMMIM yang lebih 500 tidak memakai kelambu?  Soalnya, tak ada nyamuk!  Nyamuk yang berkembang biak di rawa, tidak kuasa terbang menerobos asrama.  Ada semacam perisai yang membentengi seluruh kamar.  Boleh jadi juga darah santri IMMIM tidak disuka oleh nyamuk.  Barangkali pahit di tenggorokan nyamuk karena santri cuma mengkonsumsi teri dan tempe.
     Cerita nyamuk yang ogah menggigit santri IMMIM, mungkin hanya kebetulan.  Ada tamsil yang sedikit parah.  Di dapur saat siang, ratusan lalat beterbatangan hinggap di ompreng-ompreng santri.  Anehnya, tiada seorang pun santri pernah sakit gara-gara hidangannya diinjak-injak lalat.  Padahal, lalat membawa bakteri E coli, salmonella typhosa serta shigella dysenteriae.  Bakteri ini bisa mengakibatkan disentri, tifus, diare, muntaber, virus hepatitis, cacingan, sinus, infeksi usus, kolera, virus polio, scarlatina, infeksi lambung dan flu burung.
     Hikmah berkat tidak ada santri yang sakit yakni mantri lebih banyak bersenda-gurau dengan bini mudanya.
     Hikayat ini kebetulan?  Saya paparkan satu contoh ekstrem.  Setahun sebelum saya menjadi santri, penduduk sekitar pesantren kekurangan air di musim kemarau.  Sumur mereka kering.  Hingga, warga pun berbondong-bondong masuk ke pesantren mengambil air.  Maklum, sumur di Pesantren IMMIM berlimpah air.
     Ini kebetulan?  Bukan!  Inilah keajaiban Pesantren IMMIM.


Buaya Darat


Buaya Darat
Oleh Abdul Haris Booegies


     Sekitar 2010, ada kerupuk anak-anak bernama Buaya Darat.  Penggemarnya lumayan banyak.
     Di suatu pagi, saya ke grosir hendak membeli keperluan.  Saat antre, mendadak seorang wanita muda masuk sembari berseru.  "Saya juga pesan Buaya Darat!"
     Kasak-kusuk mendadak memecah keheningan.  Beberapa pengunjung menoleh ke arah perempuan tersebut.  Saya dengan lelaki di samping cuma cekikikan sambil menunduk.
     Wanita bersangkutan tiba-tiba memahami situasi yang seolah menyentilnya.  Ia pun berkata.  "Ada apa?  Memang begitu namanya.  Buaya Darat!"
     Saya bersama sejumlah pengunjung pria makin tak kuasa menahan tawa.  Tawa kami tertahan agar tidak menyinggung perempuan itu.
     Saya sempat berpikir.  Tega-teganya perusahaan tersebut menamakan produknya Buaya Darat.  Apakah tidak ada nama lain?

Ragam Hikayat
     Ada beberapa versi perihal muasal istilah buaya darat.  Seperti dimaklumi, buaya berburu dalam senyap.  Diam-diam, namun, penuh perhitungan.  Sekali sergap, mangsa sulit meloloskan diri.
     Legenda buaya Baltazur di Riau dikisahkan doyan memangsa gadis-gadis.  Tidak seperti buaya lain yang memakan ludes buruannya.  Ini buaya genit.  Musababnya, buaya Baltazur hanya merenggut keperawanan korban.
     Ada lagi buaya versi Jember.  Di sebuah penangkaran, seekor buaya jantan hilang.  Setelah tiga bulan, hewan tersebut ditemukan bersama buaya betina muda.  Warga pun mengumpat; "dasar buaya".
     Buaya Jember inilah yang mengilhami istilah buaya darat.  Kalau seorang bandot ditemukan bersama gadis muda, ia pun dituding "buaya darat".

Babu Pribumi
     Buaya darat maknanya seirama dengan "mata keranjang" serta "hidung belang".
     Istilah "mata keranjang" bermula di Batavia di zaman Belanda.  Jongos pribumi yang bekerja di kediaman Belanda acap melirik ke kamar tidur wanita.  Matanya tertuju ke ranjang, khususnya tempat tidur putri-putri Belanda yang mulus menggiurkan.  Babu ini akhirnya disebut "mata keranjang" karena matanya melotot ke ranjang.
     Jongos yang ketahuan suka mengintip ke kamar putri, akhirnya dihukum.  Ia disuruh berdiri di sisi jalan dengan hidung dilumuri arang.
     Warga yang lalu-lalang akhirnya mafhum jika babu ini nakal.  Ia pun dinamakan "hidung belang".  Soalnya, hidungnya berbelang-belang dicoreti arang.

Mata Sapi
     Penamaan buaya darat ke pria bermental mata keranjang atau hidung belang, sesungguhnya menyalahi fakta.  Buaya itu antiselingkuh.  Ia setia dengan pasangan yang sah.
     Andai buaya bisa berkomunikasi dengan manusia, tentu mereka memprotes.  Bahkan, menuntut ganti rugi triliunan.  Pasalnya, reptil tersebut difitnah habis-habisan sebagai buaya darat.  Istilah ini berkonotasi sebagai pebinor (perebut bini orang) maupun peraga (perebut anak gadis orang).
     Ini serupa yang dialami sapi.  Bertahun-tahun ternak ini kena fitnah.  Sejak kapan sapi bertelur sampai muncul istilah "telur mata sapi".  Memang menyedihkan menjadi hewan.  Sebab, manusia suka mendiskreditkan keberadaannya.


Banjir Nabi Nuh


Banjir Nabi Nuh
Oleh Abdul Haris Booegies


     Kisah paling fenomenal sepanjang masa ialah banjir di zaman Nabi Nuh.  Hikayat ini sampai sekarang menyisakan kehebohan besar.  Sebagai umpama, Nabi Nuh mampu merancang kapal raksasa tanpa bantuan arsitek angkatan laut maupun insinyur kelautan.  Bahtera kreasi Nabi Nuh pasti besar, minimal setara kapal induk USS Gerald R. Ford.
     Sampai hari ini, bah di era Nabi Nuh menjadi polemik paling menguras pikiran.  "Secara geologi, banjir global tidak pernah terjadi", papar pakar geomorfologi David Montgomery pada Senin, 15 Mei 2023.
     Pengakuan penulis kitab The Rocks Don't Lie: A Geologist Investigates Noah's Flood ini menandaskan bahwa, banjir Nabi Nuh cuma berskala lokal.  Alasannya, air di Bumi tidak cukup untuk menenggelamkan gunung-gunung di seluruh dunia.
     Pada 2016, sehimpun ilmuwan Rusia menemukan lubang terdalam dunia.  Di Kola Borehole, Rusia, terdapat celah curam dengan kedalaman 12.262 meter (12 km).  Di palung ini tertampung air yang diduga berasal dari banjir Nabi Nuh.  Penemuan ini menunjukkan bahwa lapisan Bumi terdiri dari air, kerak, mantel serta inti Bumi.

Asal Air
     Air di Bumi merupakan kiriman dari benda langit.  Ini mirip dengan keberadaan besi.  Belum ada air tatkala Bumi berstatus embrio.
     Bumi di awal pembentukannya teramat panas.  Ini memaparkan bahwa tidak ada air.  Sejumlah asteroid yang melayang di antara 100 miliar planet di Galaksi Bima Sakti, lantas menabrak Bumi.  Ada asteroid mengandung es yang berasal dari nebula terjauh dari Matahari.  Ada pula asteroid berwujud besi.
     Migrasi ratusan asteroid akhirnya membuat Bumi dibanjiri air.  Efek tumbukan aneka asteroid mengakibatkan permukaan Bumi tidak rata.

Narasi Dunia
     Benarkah banjir Nabi Nuh sekedar peristiwa regional yang diperkirakan berlangsung pada tarikh 2348 sebelum Masehi?  Ada dua hipotesis untuk menganalisis kasus besar yang terjadi di Mesopotamia pada periode primitif.  Pertama, Allah memerintahkan mendesain bahtera.  Kedua, Allah menegaskan untuk menyelamatkan hewan secara berpasangan.
     Kalau ini banjir lokal di Mesopatamia yang meliputi Turki, Iran dan Rusia, mengapa mesti ada kapal?  Bila bah bakal melanda titik A, maka, Nabi Nuh berpeluang hijrah dengan berjalan kaki ke titik B.  Tidak perlu merakit kapal.  Model ini dipraktikkan oleh Nabi Musa.  Ia bersama umatnya berkelana di gurun selama 40 tahun pascamangkat Fir'aun.
     Kalau ada perintah untuk membuat kapal, berarti banjir menggenangi segenap titik, dari A sampai Z alias banjir global.  Hatta, luas area banjir ini bukan empat juta hektare dengan panjang lingkup banjir 560 km.  Banjir ini justru menutup Bumi dengan gelombang sebesar gunung.
     Jika ini bukan banjir global, buat apa menyelamatkan spesies secara berpasangan.  Di negeri lain ada binatang serupa atau di pulau lain banyak hewan yang sama.  Penyelamatan satwa secara berpasangan memaklumatkan bahwa banjir Nabi Nuh bukan berskala domestik.  Banjir ini menutup Bumi selama beberapa bulan.  Tiada kehidupan di Bumi selain di bahtera Nuh alaihis-salam.
     Andai banjir ini hanya menggenangi Mesopotamia, kenapa Nabi Nuh sebagai kapten tidak mencari penghidupan di bentala lain.  Sebagai misal, berlayar ke benua Amerika.  Boleh juga nakhoda bersama para penumpang berlabuh di pulau Sulawesi agar leluasa eksodus ke Sidrap.
     Patut direnungkan, jika banjir tersebut bersifat domestik, maka, untuk apa al-Qur'an menukilkan bah berskala receh.  Sementara di mandala lain, banjir Nabi Nuh menjadi narasi gigantik dalam mitologi Akkadia, Babilonia, Cina, India, Lithuania, Sumeria serta Wales.


Sejarah yang Hilang


Sejarah yang Hilang
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dalam pengertian umum, sejarah merupakan teks tentang tokoh atau peristiwa.  Sejarah memuat kisah para figur maupun untaian kejadian untuk disebar dalam wujud aksara.  Warisan dalam bentuk sejarah ini terkadang memuat pesan serta inspirasi.
     Bisakah sejarah seseorang dihilangkan?  Tentu saja bisa!  Inilah yang memacu munculnya jargon "sejarah ditulis oleh pemenang".
     Sebagai orang yang senang mengoleksi catatan, saya meyakini bahwa "sejarah dibuat pemenang" tidak berlebihan.  "Pemenang" tentu bukan cuma pemegang tampuk pemerintahan, tetapi, orang yang superior menyimpan arsip.
     Saya membedakan antara "pemilik informasi" dengan "penguasa informasi".  "Pemilik informasi" jelas punya data, namun, tidak terlibat dalam fragmen.  Berbeda dengan "penguasa informasi".  Ia ada dalam data sebagai figuran atau pemeran utama.  Di sinilah bahayanya.  Pasalnya, orang yang menguasai informasi sangat mudah mendistorsi sejarah.  Ini karena ia pernah terlibat sekaligus memiliki catatan primer.
     Dalam realitas, "A pergi ke kanan", tetapi, penguasa informasi mengubah menjadi "A pergi ke kiri".  Siapa yang bisa membantahnya?  Tidak ada!  Soalnya, tak ada catatan selain kepunyaan penguasa informasi.  Lebih apes lagi lantaran pelaku lain sudah mati.
     Saya pernah menemukan sebuah artikel di Internet.  Penulisnya berkebangsaan Inggris.  Orang ini begitu lincah mendiskreditkan Denmark.  Rupaya ia marah atas ulah Viking yang menyerang biara di Lindisfarne pada tarikh 793.  Era tersebut masyhur sebagai masa awal Viking di Notrumbria, Inggris bagian Utara.  Tidak terbayang bahwa dendam orang ini telah berkarat-karat gara-gara berasal dari peristiwa 12 abad silam.
     Ini menandaskan bahwa rasa marah, frustrasi dan dendam dapat mengakibatkan sejarah tergerus kesuciannya.
     Pembengkokan sejarah juga bisa menimpa organisasi medioker.  Penguasa informasi, misalnya, mencincang data.  Sejumlah nama dicoret atau dicopot.  Bahkan, foto dipotong atau diblur agar orang yang tidak disenangi hilang dari peristiwa.
     Penguasa informasi semacam ini, bukan sekedar menghilangkan tokoh atau peristiwa dari sejarah.  Ia juga merusak kesucian fakta.  Sebab, alur sejarah terpenggal akibat sebuah kemarahan atau dendam yang membara di hati penguasa informasi.


Amazing People