Minggu, 07 Mei 2023

Problem Menulis


Problem Menulis
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di tiap belahan dunia, orang tergiur untuk menorehkan nama di media cetak semacam surat kabar, majalah dan jurnal berkala.  Beberapa mencoba peruntungan dengan mengirim naskah.  Setelah menunggu sehari, sepekan, sebulan, kiranya tulisan tak kunjung terpublikasi.
     Nasib buruk berupa penolakan pemuatan artikel, banyak terjadi.  Semua akhirnya termangu dilanda tanya, mengapa naskah ditolak?  Padahal, itulah tulisan terbaik yang pernah dibikin di negeri ini.
     Sejak menulis pertama kali di koran pada 1988, saya belum pernah menemukan buku jitu menulis di media cetak.  Misalnya, kitab yang berisi panduan agar tiap menulis langsung dimuat.
     Menulis sesungguhnya tergantung dari pengetahuan yang dimiliki.  Segenap penulis tangguh pasti cerdas, kreatif serta teliti.  Hingga, enteng mengolah informasi yang bergerombol di kepala.
     Makin banyak pengetahuan yang diserap, kian gampang menguraikan lewat artikel, cerpen, puisi atau frasa-frasa unik.  Aneka informasi yang dipandu kreativitas dan ketelitian, niscaya menghasilkan makalah bernas.
     Di suatu sore, saya singgah di sebuah warnet yang terpencil.  Saya mengedit artikel sebelum mengirim ke surat kabar.
     Saat membayar, operator bertanya.
     "Dosen di mana?"
     "Saya bukan dosen", jawabku sambil tercenung.
     "Saya tadi membaca tulisan yang kau revisi".
     Rupanya operator warnet ini mengintip tulisanku di komputer sentral.  Usai menyimak artikelku, ia menduga saya dosen.
     Pada 2009, saya kaget.  Opiniku yang dimuat di harian Fajar mencantumkan jika saya dosen.  Padahal, di naskah asli tertulis "penulis adalah peminat masalah agama".  Redaktur opini mengubahnya menjadi "penulis adalah dosen".
     Saya kemudian menghubungi redaktur opini. Meluruskan identitas diri.  Saya sempat ketakutan, khawatir teman-teman mengira saya sengaja memalsukan data diri.  Reputasi bisa tercoreng kalau dituduh menggelapkan jati diri sebagai dosen.

Pasca
     Pada 1986 tatkala menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Unhas, kami diajar bagaimana membaca "pasca".  Dalam bahasa Indonesia, "c" selalu dibaca "c".  Bukan "k" atau "s" sebagaimana sejumlah kosakata dalam bahasa Inggris.  Bagaimana rasanya bila "coto" dibaca "koto" atau "soto".  Apakah penjualnya tidak terbahak-bahak atas ketololan cara membaca.
     Penggunaan "pasca" juga tak sembarang.  Seorang ibu guru pernah diwawancarai di TV.  Ia mengatakan "paska makan".  Ada dua kesalahan fatal.  Salah baca sekaligus salah penempatan.  "Pasca" biasanya diikuti peristiwa besar.  Pasca-Lebaran, Pasca-Piala Dunia atau pascamodernisme.  Tidak ada pascaminum, apalagi pascakencing.

Alumni
     Kata yang terbiasa didengar ialah "alumni".  "Alumni" mengekspresikan jamak, sekumpulan tamatan sebuah perguruan.  Sementara "alumnus" merujuk ke satu orang, tunggal.
     Dalam bahasa Inggris dengan kosakata Latin kuno, tersua "alumna", bentuk tunggal feminin.  Ada pula "alumnae", bentuk jamak feminin.  "Alumnus" serta "alumni" berciri maskulin.  Dewasa ini di Indonesia, "alumni" menandakan sehimpunan lulusan dengan gender campuran.

Anda
     Apa kata terpanjang dalam bahasa Indonesia?  Jawabnya, "mempertanggungjawabkannya".  Apa kata yang istimewa dalam bahasa Indonesia?
     Ada satu kata yang unik dalam bahasa Indonesia.  Sebab, fonem awalnya mutlak huruf besar.  Kata tersebut yakni "Anda", kata ganti orang kedua tunggal.  Morfem ini merupakan sapaan.  Pemakaian "Anda" tak membedakan jenis kelamin, usia dan derajat orang yang diajak berkomunikasi.
     "Anda" diusulkan oleh Sabirin, kapten TNI AU asal Bukittinggi.  Pada 1957, koran Pedoman yang dimotori Rosihan Anwar lantas mempopulerkan "Anda".
     Kata "Anda" tergolong istimewa karena mirip dengan "I" (saya) dalam bahasa Inggris. "I" wajib ditulis kapital.  Jika "I" ditulis dengan huruf kecil "i", maka, pembaca menganggapnya nomor urut dalam sebuah makalah.

Di mana
     Kata "di mana", sering muncul di tulisan dalam bentuk keliru.  Sebagai umpama, "saya bertemu seorang pemuda, di mana ia ternyata santri".  Tentu kalimat yang luwes ialah "saya bertemu seorang pemuda, ia ternyata santri".
     Contoh lain penggunaan "di mana" yang mubazir.  "Pemerintah segera membangun sebuah gedung, di mana gedung itu untuk menampung anak-anak terlantar".  Kalimat ini lebih ringkas kalau dideskripsikan sebagai berikut.  "Pemerintah segera membangun sebuah gedung untuk menampung anak-anak terlantar".  Dengan mendepak kata "di mana", otomatis kalimat tampak ramping.
     Dalam bahasa Indonesia, tidak dikenal "di mana" sebagai penghubung kata dalam dua kalimat berbeda.  Pemakaiannya mesti dihindari.  Haram muncul di naskah-naskah karya penulis berpengalaman.


Amazing People