Rabu, 29 November 2023

Kasino Pesantren


Kasino Pesantren
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dalam pandangan orang luar, pesantren identik aturan spartan.  Mereka beranggapan bahwa kehidupan santri berdisiplin tinggi mirip militer.  Songkok serta sarung mutlak dikenakan saban waktu.  Hati wajib suci seraya kepala menunduk untuk berdoa.
     Bagi santri, hidup di pesantren bukan kutukan, tetapi, keberuntungan.  Ada secercah tekad untuk bebas menentukan nasib.  Sebagai umpama, ada santri IMMIM memiliki kebebasan yang penuh gairah ketimbang siswa sekolah umum.  Misalnya saja, serombongan santri Tsanawiyah kerap nonton midnight show di malam Ahad.  Mereka kabur dari kampus bakda Magrib untuk bergentayangan di bioskop.  Usai pertunjukan selepas pukul 01.00, jemaah ini pun balik ke pesantren.  Kalau beruntung, ada mikrolet (petepete) yang bisa ditumpangi.  Jika peruntungan muram, maka, berjalan kaki adalah pilihan.
     Apa sesungguhnya yang dilakukan santri IMMIM, khususnya santri nakal kalau malam pada 1982?  Di tahun ajaran 82/83, saya terdaftar sebagai santri kelas III.  Ditempatkan di kamar II rayon Pangeran Diponegoro.  Pembina kamar yakni Kurnia Makkawaru (kelas VI), dan Taufik Bahar (kelas V).
     Pukul 22.00, para santri ke kamar setelah belajar, cerita atau bermain di kelas.  Ada pula ke beranda masjid nonton Dunia Dalam Berita.  Usai Dunia Dalam Berita, santri diimbau ke kamar masing-masing bila tak mau dapat resiko berupa hukuman.  Santri kelas V serta VI menjadi pengecualian.  Mereka bebas nonton sampai acara TVRI khatam sekitar jam satu tengah malam.
     Sesudah belajar di kelas atau bergosip, ada pula rombongan santri ke warung di pasar tradisional.  Pasar terletak di depan Pesantren IMMIM.  Santri melewati jalan setapak sekitar 20 meter untuk masuk ke area pasar yang berada di belakang Bharata.  Ada tiga warung yang masih buka, termasuk milik Tante Om, makhluk pelangi.
     Santri yang ke pasar rata-rata anak Aliyah.  Ada juga santri Tsanawiyah yang berstatus bandel.  Di warung, santri menikmati minuman soda atau limun.  Harga per botol Rp 150.  Tersedia pula sarabba yang dibanderol Rp 100.  Sedangkan aneka kue yang mulai basi berharga Rp 25.  Minuman lain yang terhidang yaitu kopi susu.  Saya tidak tahu berapa harga kopi susu.  Ini luput saya catat di buku harian.
     Setelah mengaso di warung sekitar 30 menit atau satu jam, santri pun pulang.  Santri yang tiba di kamar, ada yang langsung tidur.  Ada pula main kartu.
     Permainan kartu yang sering dilakukan di kamar II asrama Diponegoro yakni "jenderal".  Permainan ini mirip domino, kartu besar memakan kartu kecil.  Jangan kaget, kamar II senantiasa riuh di tengah malam.  Bahkan, santri badung dari kamar lain ikut nimbrung.  Ada empat grup yang main secara bersamaan.  Tiap grup terdiri empat orang.
     Saya sempat berseloroh bahwa kamar II rayon Diponegoro adalah kasino terbesar di Pesantren IMMIM.  Kami pernah main jenderal dari pukul 22.00 sampai pukul 04.00.  Letih sekaligus lemas membuatku tidur di kolong ranjang Taufik, pembina kamar.  Berharap tidak dibangunkan untuk ke masjid oleh piket malam maupun anggota qismul amni (seksi keamanan).  Piket tidak berani membangunkan kelas V dan VI.  Malang nian nasibku, Akmal Hasan yang ketua rayon mengendus tempat persembunyianku.  Sudah enak tidur pakai kolor.  Tak dinyana Jaka Sembung datang bawa golok.
     Kami senang main jenderal karena taruhannya berupa hukuman.  Terkadang yang kalah harus rela karena di kepalanya ditaruh bantal.  Ada pula hukuman berupa menjentik jari.  Hukuman paling ringan yakni kocok kartu.
     Pada Selasa, 4 Januari 1983, saya kewalahan main jenderal.  Pukul 00.00, saya tidur karena capek mengocok kartu.  Saya kalah terus.  Akibatnya, tanganku pegal.  Begitulah kehidupan primitif santri yang belum mengenal gadget.


Gaya Gemoy Santri IMMIM


Gaya Gemoy Santri IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di mana ada remaja, di situ ada tren.  Orang-orang muda suka menciptakan gaya baru.  Ini semacam pemberontakan atas tradisi sebelumnya.  Model yang paling banyak berganti ialah gaya rambut.
     Bagaimana gaya rambut santriwan IMMIM di zaman doeloe?  Anak IMMIM era kuno tidak ketinggalan gaya!  Maklum, beberapa majalah beredar dalam kampus, termasuk Gadis.  Santri leluasa mengendus gaya dari majalah.  Selain itu, banyak santri pergi ke bioskop nonton film.  Dari film, santri kerap meniru gaya rambut.
     Pada 1983, nama Rano Karno bersama Herman Felani teramat populer di kalangan santri IMMIM.  Mereka bukan sekedar mengagumi ketampanan aktor papan atas tersebut, tetapi, sebagian berusaha meniru gaya rambutnya.  Memang ada satu santri dari Angkatan 7985 yang habis-habisan merias wajahnya agar mirip Rano.  Ia menorehkan tinta hitam di dagu kirinya sebagaimana tahi lalat Rano.  Santri dari pedalaman ini terkadang pula memakai gincu agar bibirnya merah persis Rano di film.  Ia doyan tersenyum kalau berpapasan dengan santri lain.  Dikiranya kita ini menyukai gaya jiplaknya yang menor.  Amit-amit.
     Gaya yang paling banyak ditiru dari Rano dan Herman ialah rambut.  Kala itu, gaya rambut belah dua (beldu) sangat populer.  Di Pesantren IMMIM, Rano menjadi imam mazhab rambut beldu.  Rata-rata santri puber berupaya meniru.  Apakah rambutnya lembut jika disisir atau lurus seperti paku.  Santri berambut landak menggunakan Tancho, minyak rambut berwarna hijau.  Rambut sekasar apa pun atau sekeras apa saja bisa bengkok kalau kena Tancho.  Akibatnya, rambut santri tidak elite seperti Rano.  Modelnya justru mirip al-mukarram Adolf Hitler, imam besar Nazi.
     Selama sekitar lima tahun, gaya beldu menghipnotis santri IMMIM.  Selain model rambut, anak IMMIM juga ketagihan memakai dompet panjang.
     Dompet standar kalau dimasukkan ke saku belakang celana tidak terlihat.  Ukuran pas untuk tersembunyi di kantong.  Mendadak muncul dompet panjang di kalangan cowok.  Ukurannya dua kali lipat.  Kalau disimpan di saku, maka separuhnya nongol.
     Santri dengan dompet panjang acap berkeliling kamar jika hendak pulang pada Kamis-Jumat.  Biasalah, memamerkan dompet barunya yang panjang.  Santri lain terkagum-kagum.  Sebagian cekikikan memandangnya.  Dalam hati tertimbun tanya; "bisanya ada dompet pria begitu?  Serupa dompet emak-emak".
     Tidak masalah santri menggunakan dompet panjang.  Apesnya, isi rupanya cuma pas untuk makan satu kali di warung pinggir jalan.  Dompetnya saja yang panjang, namun, di dalam hanya selembar uang Rp 500.  Namanya juga santri IMMIM, "tak norak, tak gemoy".  Chuaks...


Sabtu, 25 November 2023

Milenial IMMIM 2023


Milenial IMMIM 2023
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada 2018, santri Aliyah Pesantren IMMIM Putra hijrah ke kampus II di Moncongloe.  Sementara santri Tsanawiyah tetap di Tamalanrea.  Moncongloe merupakan kampus dengan lahan yang lebih luas.  Selain itu, fasilitas lebih lengkap.
     Di kampus II Moncongloe, santri milenial ditempa secara spartan.  Mereka repot kabur meninggalkan kampus karena ada satpam.  CCTV ikut pula mempersulit pergerakan negatif santri.  Di samping itu, pembina ditemani satpam acap berkeliling di seputar kampus.  Mereka mencari santri bandel yang nekat meloncati tembok belakang asrama.
     Santri badung yang sukses lolos melompati tembok, biasanya pergi beli rokok.  Untuk mengelabui pembina, mereka mencari toko terjauh dari kampus.  Ini agar tidak gampang terendus.  Hukuman bagi perokok ialah digundul, pemanggilan orangtua, surat peringatan (SP) I atau sanksi sosial berupa membersihkan masjid, dapur serta toilet selama sepekan.
     Santri primitif era 80-an, bila malam biasanya ke sudut kampus arah Barat Laut.  Mereka bergerombol makan di warung Sanabo.  Tersedia mi kuah maupun mi goreng.  Ada pula coto Dewi tidak jauh dari Sanabo.
     Santri nakal versi 80-an lebih memilih ke pasar tradisional yang berjarak 70 meter dari Pesantren IMMIM.  Di sini mereka bebas merokok.  Pembina gentar ke pasar.  Mungkin takut dengan Lotong, bang jago Tamalanrea.  Satu-satunya pembina yang berani ke pasar melakukan sidak (inspeksi mendadak) hanya senpai Indra Jaya.
     Santri milenial IMMIM sekarang nyaman dengan hidangan.  Mereka dimanjakan dengan santapan ala restoran.  Makanan yang disediakan antara lain nasi kuning, nasi goreng, bakwan, pecel, perkedel teri, perkedel jagung, ikan teri, ikan layang, ikan bandeng, ayam kari, ayam kecap, sayur bayam, sayur kangkung, bakso, tahu, tempe, telur dadar, telur ceplok, telur rebus serta telur puyuh.
     Pada Sabtu 16 Syawal 1444 (6 Mei 2023), angkatan ke 43 Pesantren IMMIM diwisuda di Gedung IMMIM.
     "Selama di Pesantren IMMIM, saya merasakan kenangan indah bila makan bersama.  Ada sensasi berupa kebersamaan dan tidak berlebih-lebihan", cetus Muhammad Fadikholilah Kahfi, alumnus 2023 yang kuliah di FEBI Jurusan Ekonomi Islam, UIN Alauddin.
     "Di Pesantren IMMIM, saya mengagumi solidaritas tinggi sesama santri atau santri dengan alumni.  Ini tidak pernah saya temukan selama ini", ungkap Muhammad Nur Ahmadi, alumnus 2023 yang lulus seleksi Bintara Polri.  Ahmadi akan ikut pendidikan pada gelombang II 2024.
     "Selama tercatat sebagai santri, saya merasakan semua kenangan di Pesantren IMMIM sangat berkesan.  Makan bersama, belajar bersama, shalat bersama", tutur Arial Uswat, alumnus 2023 yang kuliah di Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
     Kini, 112 alumni 2023 tercatat sebagai anggota baru Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim).  Mereka bergabung bersama 42 angkatan sebelumnya.  Tentu, alumni edisi 2023 merasa minder, segan sekaligus malu-malu berhadapan dengan senior Iapim.  Apalagi, pandangan Iapim ke angkatan baru seperti menatap sungai.  Terlihat kecil, berkelok serta permai.  Sementara pandangan alumni baru ke Iapim ibarat menatap samudera.  Iapim laksana lautan tanpa batas yang membentur cakrawala.  Bahkan, menelan sang Surya kala senja.
     Berikut lampiran alumni Pesantren IMMIM Putra 2023.
Gilang Ramadhan
Muhammad Alif Anshari Salaluddin
Muhammad Fadikholilah Kahfi
Muhammad Ananda Hudzefy
Abdillah Nur Azhim
Muhammad Nur Ahmadi
Ahmad Faidhillah
Andi Zainal Abidin
Sardy Ardiansyah
Muhammad Khalil Gibran
Muhammad Alif Sakti
Muhammad Zahrul Nur Saharuddin
Muhammad Zayyat
Sultan Adibrata Naimullah
Andi Muhammad Riangga Bahrul Ulum
Zaki Raihan Saidin
Dzaki Fauzan Ramadhani
Muhammad Rafli Rahim
Maulana
A Ahmad Algazali A Agussalim
Ahsan Syafi'i Rusdin
Samudera Sudiro
Ahmad Muslih
Ananta Waskita Gisda
Ahmad Rivai Ibnu
Muhammad Ardan Saleh
Muhammad ar-Raqib M
Muhammad Afzal Riyadi
Abdul Salam Maulana Jaya S
Muhammad Aidil Fitriyadi
Rizq Khalad
Muhammad Faiq Faqih
Nabhan Tasselang
A Muhammad Javiar Fathul P
Muhammad Ansar
Muhammad Tachyatul Anugrah
Muhammad Afif Naufal
Raihan al-Faridzi Pababari
Muhammad Fail Alfatih
Muhammad Alif Fahreza
Muhammad Ahsyad Arsyad Arifin
Nurhidayat N
Muhammad Ikhsan
A Nabil Faiz Pratama
Marwan Adam
Muhammad Arham Hajir
Muhammad Luthfy Syafiq
Fachri Wahab
Pranedya Ahmad
Muhammad al-Fauzan Bobihu
Ilhamuddin
Muhammad Tri Muamar
Syaiful
Andi Shofwan Syafiq
Achmad Amin Ridwan Tasa
Muhammad Taufiqqurrahman
Muhammad Syaiful Haq
Fadhlil Azim
Andi Muhammad Naufal Afif Erza
A Ahmad Syathir
AM Maulana Aryaduta
Naldi Ramadhan
Muhammad Afief Hamdi Idris
Muhammad Amirul Mu'min
Kivlan al-Islamy
Nur Ahmad Kamal
Mahmud Ramadhanu A Rahman
Yusuf Taufiqurrahman
Muammar Azmi Arif
Muhammad Gilbran Nur
Syahrul Sahabuddin
Achmad Fatwa Alqosali
Yusril Yunus
Muhammad Khalil Rafi Anggara
Muflih Nurtami
Aksa Febriansyah
Arial Uswat
Uqbah Rohullah Syahputra
Mohamad Fahri Zaki
Muhammad Hidayatullah
Muhammad Israjab Navazain
Muhammad Zhidiq Nurfauzan
Muhammad Alif Fairuzsyah
Rahmat Alfito
Muhammad Fawwaz Putra Iskandar
Mochamad Syech Yusuf M
Rifhal Firnanda Arsandy
Andi Surya Fatih
Bagus Ahsanur Rifqi
Muhammad Umar
Muhammad Zubair
Adryan Fachri Gay
Muhammad Danar Abinayah Dhiaz 'Aiman
Nabil Tsany Abiyyu
Taufiq
Muhammad Yusuf Arsyak
Rafi Aditya Pratama
Muhammad Ilham Ridwan
Ahmad Zaky Guntur
Muhammad Anugrah Ramadhan
Andi Muhammad Nasril Ilham Najamuddin
Muhammad Sandi Afrisal
Fiqri at-Thaurahman Ilyas
Muhammad Ichsan
Muhammad Faiz Abdullah AY
Muhammad Cholish Said Al Baasith
Muhammad Fhadil Fajar
Ivan Irawan Daeng Masalle
Muhammad Mufarridun
Dwi Andhika Aprianto
Izzul Muslimin Hasanuddin
Rahmat Akbar Mastura

Narasumber
Arial Uswat
Muhammad Fadikholilah Kahfi
Muhammad Nur Ahmadi

Terima kasih kepada Ahmad Fauzi (alumni 2022 Pesantren IMMIM) yang banyak memberi masukan


Minggu, 19 November 2023

Santri M/M 2022


Santri M/M 2022
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dunia berkembang menembus zaman serta generasi.  Dari hari ke hari, waktu terus melesat kencang.  Rongsokan peradaban ditinggalkan seraya menyongsong kultur baru.  Kini, manusia berada di dekade ketiga milenium ketiga.  Muncul aneka budaya sekaligus interaksi sosial berasas teknologi.  Mobilitas manusia kian trengginas berkat produk terbaru yang kecil, namun, cepat.
     Pesantren IMMIM tidak luput dari invasi kultur baru.  Sekolah berbasis agama ini ikut membuang rongsokan budaya yang banyak menyengsarakan santri.  Sebagai umpama, Pesantren IMMIM tidak lagi diperkuat qismul amni (gerombolan keamanan).  Qismul amni merupakan santri berbadan besar dengan wajah yang kurang sedap dipandang.  Mereka dipilih dari kelas IV dan V.  Tugasnya yaitu mengadili santri kelas I, II, III serta IV yang melakukan pelanggaran.  Algojo yang rata-rata kampungan ini mempraktekkan kekerasan verbal sekaligus fisik yang direstui oleh direktur pesantren maupun pimpinan kampus.  Banyak korban yang ditimbulkan oleh kebiadaban kawanan brutal ini.  Akibatnya, sejumlah santri keluar dari Pesantren IMMIM gara-gara kebejatan qismul amni.
     Tidak berlebihan kalau qismul amni merupakan sisi paling kelam di Pesantren IMMIM era 80-an.  Kini, komplotan najis tersebut sudah tak ada.  Perilaku sadisnya menjadi kenangan yang sulit dilupakan oleh para korban yang sebagian justru dendam.  Waspadalah!
     Bukan cuma qismul amni yang dimatikan di Pesantren IMMIM.  Kualitas makanan pun terus ditingkatkan.  Dewasa ini, asupan santri makin beragam.  Sebagai contoh, sarapan tiap Rabu dengan telur.  Saban Jumat, santri sarapan dengan bubur.  Tiap Ahad, sarapan dengan nasi goreng.  Pada Kamis dan Ahad pagi, santri minum teh susu.  Makanan mutlak diperhatikan karena jika perut lapar, maka, pikiran kacau, liar serta tidak keruan.
     Di masa 80-an, santri tak pernah makan ikan bandeng.  Kini, ikan bandeng menjadi lauk lumrah di Pesantren IMMIM.  Telur pertama kali menjadi hidangan di Pesantren IMMIM pada 1984.
     Bukan hanya santapan yang berubah.  Santri pun diarahkan menjadi orator ulung.  Di rentang waktu 80-an, muhadarah (latihan pidato) diadakan satu kali sepekan.  Kini, ditambah menjadi dua kali pada malam Kamis serta Ahad.  Penambahan ini bertujuan agar santri menjelma dari anak manis menjadi pemuda kritis.
     Santri yang duduk di Aliyah (kelas IV, V dan VI), wajib memiliki laptop.  Sekali sepekan, santri diberi kesempatan menggunakan laptop masing-masing di laboratorium komputer.  Kelas IV di malam Sabtu.  Kelas V di malam Senin serta kelas VI di malam Rabu.  Laptop wajib disimpan kembali di loker supaya tidak dibawa ke kamar untuk nonton film hot.
     Dalam hal hiburan, santri milenial Moncongloe alias M/M, punya fasilitas proyektor.  Di malam Jumat, mereka leluasa nonton film sampai puas di kamar masing-masing.  Ini berbeda dengan santri kedaluwarsa periode 80-an.  Kala itu, santri kabur dengan cara lompat pagar untuk ke bioskop yang berjarak 10 km.
     Santri klasik IMMIM di era 80-an banyak yang ke bioskop nonton midnight show.  Film yang diputar tentu saja tidak mengenakan kutang dan cawat.  Bintang paling digemari ialah Edwige Fenech yang berkulit bening.  Desahan aktris Italia ini membuat santri bandel mendadak poso-poso (sesak nafas).  Adakah sisa-sisa kenakalan itu sekarang?
     Tak diduga tak dikira tak dinyana, disangka pun tidak.  Rupanya segelintir santri M/M pada kurun 2020, cukup badung.  Proyektor yang telah digunakan secara resmi di malam Jumat, tidak dikembalikan ke pembina kampus.  Mereka justru menggunakannya untuk nonton film 17 tahun ke samping yang tersimpan di flashdisk.  Namanya anak muda, mereka tahan nonton sampai subuh.
     Sejak 1983, santri nakal yang doyan ke bioskop menggunakan istilah "lame-lame" (ubi-ubian) untuk film panas.  Ini karena tekstur ubi mirip perkakas pria.  Sementara santri milenial memakai istilah "muraja'ah" yang berarti meninjau ulang atau memeriksa kembali.  Mungkin maksudnya menonton lagi film porno.
     Berikut lampiran nama alumni Pesantren IMMIM yang tamat pada 2022.
Muhammad Ihsan Ramadhana
Nur Ikhlasul Amal
Muhammad Aqsal Amin Latuconsina
Muhammad Arsyal Rahman
Muhammad Hanif
Raihan Nur Abdillah
Yusuf al-Qardhawi al-Mandar
Andi Aiman al-Ghifary
Andi Fahim Hasan Putrata
Andi Mohamad Riyadh
Muhammad Zhaky Aprilla
Muhammad Dzikra Thamisyah Putra
Mochamad Darul Fhaiz
Andi Muhammad Ashabul Qahfi
Muhammad Awal Rif'at
Muhammad Faiq Fauzan
Ahmaddin Palamba
Muhammad Syafa'at Muis
Muhammad Alif Nur
Syahrul Mubarak
Ahmad Syaguni Majdi
Muhammad Fajrin Ramadhan
Muhammad Fiqran Apriansyah
Muhammad Ichsan
Harisakti Baihaqi
Muhammad Adam al-Ghazali
Raevan Faiz Kautsar Amku
A Muhammad Rif'at Syauki Arifin
Muhammad Ghulam Fayiz Huwaidi
Muhammad Inal Samali
Muhammad Afrizal Pulubuhu
Achmad Madika Muchsin
Imtiaz Muhammad Syihab
Muhammad Musvy Fadlan
Muhammad Aqil Azhzhahir Subair
Zulfikar Fahmi
Adit Rachmat Raehal
Mohammad Azwansyah Darwis
Syahreza Pratama A
Muhammad Alwan Khairullah
Muhammad Haekal Sunarto
Yusran Dwi Ramadhana
Ahmad Mujahid
Ahmad Ramadhan
Hairulfikri Kasim
Agung Muhammad Fathil
Muhammad Faqih Rumbaroa
Andi Asyru Ramadhan Arif
Umar M Hamzah
Ahmad Dzhaqi Farhan
Muhammad Rangga Baasalem
Muhammad Ashabul Kahfi
Muhammad Riza Aditya
Muhammad Dirga Daffa Zulkifli
Rahmat Sobirin Matdoan
Ajwad Haeqal Munarqa
Muhammad Rifky Bidarishandy
Muhammad Raffi Hidayat
Muhammad Ali Husain Ridwan
Mohammad Ilham
Muhammad Rafi Shidiq Nurlette
Abdul Aziz Aminullah
Muhammad Fadil Basri
Ahmad Zubair Mu'allimuddin
Muhammad Syawal
Muhammad Iqra Ramadhani Jamal
Yusuf Risaldi
A Adriansyah
Ahmad Fauzi
Alim Zahal
Rochmat Ziyadatulkhair
Muhammad Arya Syahran
Muhammad Rifai Maulana S
Raihan Islami Rasya
Muhammad Akram AR
Muhammad Fadhel Basri
Abdillah Abulkhair
Ahmad Wildan Rahim
Muhammad Ian Raehansyah Enre
Abdullah Hatami
Ahmad Dzaky
Alwy Shiyam Daud
Andi Ahmad Adam Kenni
Andi Fahmi Husein Putrata
Chikal Aditya Budiman
Fahmi Firman Syeh
Fatwa Kelian
Hardiman
Khairul Rajul
Kurniawan Mursalim
Muhammad Yusuf Zahir
Muhammad Adriansyah Ansar
Muhammad Aliy Faiz al-Giffari
Muhammad Anis Khairy Sutopo
Muhammad Jusuf al-Munawara Abustan
Muhammad Zaki M Amir Syam
Muhammad Adithya Madhani Saifuddin
Muhammad Agung Syaifullah
Muhammad Ali Karim
Muhammad Bintang Ramadani
Muhammad Faiz Baso Saleh
Muhammad Fadhil
Muhammad Fathi Farhan
Muhammad Furqaan
Muhammad Iqra Tantu
Muhammad King Defano Arfah
Muhammad Nur Bashirah
Nur Faiq
Nur Ilham Hidayat
Quwais Ridho
Tholib Ariansa Sabir
Muhammad Zahran ath-Toyyib
Dava Maulana Dzaky
Aljilani Septia
Andi Muhammad Adzani Gibran
A Ahmad Faris Fyabyaq Ashar
A Muhammad Rizwaan Rusdy
Hilalulya
Alief Muhammad Rafi'i
Muhammad Padil
Halid Lutfi
Muhammad Nurfan Sahti M
Muhammad Ryan Ilham
Awal Furqan
Muhammad Fikri Fais Zikra
Ryan Rezki Firmansyah
Hadiid ar-Raad
Lutfi Fathurrachman
Muhammad Fathi Fawwaz Aras
Akhmad Mastori
A Wahyu Amir Pallampa
Ahmad Mulyadi
Mohammad Aqsa
Muhammad Fadil
Iskandar Agung

Narasumber
Ahmad Fauzi


Rabu, 08 November 2023

Kamar Pertama Pesantren IMMIM


Kamar Pertama Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada pertengahan 1980, Pesantren IMMIM menerima 155 santri baru. Asrama Datuk Ribandang serta Sultan Hasanuddin yang punya empat kamar, ternyata tak mampu menampung 155 santri baru.  Saat itu, pesantren cuma punya lima rayon, tiga lainnya ialah asrama Pangeran Diponegoro, Panglima Polem serta Imam Bonjol.  Sekitar 20 santri baru akhirnya diinapkan di aula.  Dari 20 santri itu, sebagian berstatus santri utusan seperti Ambo Siknun, Hamid Seltit dan Muthalib Besan.  Sempat muncul isu bahwa santri yang diinapkan di aula adalah santri letjen, lewat jendela.
     Penempatan di aula kiranya mengganggu kondisi aula.  20 santri kemudian digiring ke asrama Ayatollah Khomeini.  Pada 1982, asrama berupa rumah kayu bertiang ini dihuni ustaz Saifullah MS sebagai pimpinan kampus.  Apes nasibnya gara-gara rumah ini selama tiga malam berturut-turut dilempari batu oleh segelintir santri.  Ini dipicu desas-desus bahwa SPP akan dinaikkan.  Nahas bagi ustaz Saifullah.  Sebab, ia jadi sasaran kemarahan santri.  Setelah ustaz Saifullah meninggalkan rumah tersebut, maka, fungsinya menjadi mes guru.
     Ketika duduk di kelas IV pada 1984, saya memasang papan nama bertulis Jalan Bugis di depan mes guru.  Ini lorong setapak menuju 20 toilet, satu-satunya akses kalau berniat berak.
     Kembali ke inti cerita.  Dari asrama Khomeini, 20 santri akhirnya berlabuh di bilik Anwar Sadat, sisi sebelah Barat asrama Hasanuddin.  Muhammadiyah Yunus ditunjuk sebagai pembina kamar.
     Pada pertengahan 1980, saya bersama sejumlah rekan yang berfisik jangkung, ditempatkan di kamar II asrama Datuk Ribandang.  Rayon ini merupakan asrama yang pertama kali dibangun di Pesantren IMMIM.  Kini, namanya menjadi rayon Fadeli Luran.
     Di kamar II, penghuni bukan sekedar berbadan besar, tetapi, juga nakal level bareccung (petasan).  Tiga bulan sesudah menjadi santri, saya berkelahi.  Sialnya, saya kalah.  Di masa itu pula, ada rekan yang nyaris adu jotos karena memperebutkan stensilan Yolanda.  Stensilan lusuh tersebut memuat cerita porno yang andal membuat santri pusing lima putaran kalau sudah membacanya.
     Kemasyhuran asrama Datuk Ribandang kian menggila berkat legenda yang sampai kini senantiasa memantik tawa.  Alkisah di suatu pagi, AS bertugas membersihkan kamar.  Ia tercenung lantaran tak ada alat pembersih.  Dengan suara menggerutu, ia melafalkan unek-unek dalam bahasa Ararea (Arab Tamalanrea).  "Uridu miknasah gairu maujud uknus" (saya mau sapu tidak ada menyapu).  Kata benda (مكنسة) tertukar dengan kata kerja (أكتسح).  Bahkan, ia menggunakan kata perintah, fi'il amri (uknus) untuk kata "menyapu".  Maksud yang hendak diutarakan yakni "saya mau menyapu, namun, tak ada sapu".
     Angkatan keenam Pesantren IMMIM yang menghuni pertama kali bangsal II rayon Datuk Ribandang tertera mencapai 40 santri.  Berikut nama masing-masing yang disusun sesuai abjad.
Ketua kamar ialah Rusdi, kelas V.
Abdul Haris Booegies
Abdul Hafid
Abdul Khalik
Abdul Salam
Ahmad Hidayat
Ahmad Natser
Agus Ambo
Agus Nawawi
Heriyanto
Irsyad Dahri
Ma'ruf
Mochtar Goval
Nasir
Nur Alim
Nur Lezy
Rusman
Sofyan


Amazing People