Senin, 31 Januari 2022

Antariksa Pesantren IMMIM


Antariksa Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Bertahun-tahun kita terkecoh menerjemahkan prolog ayat 12 surah ath-Thalaq.  "Allahul-laziy khalaqa sab'a samaawaatin wa minal-ardhi mitslahunna".
     Ayat ini diinterpretasikan "Allah menciptakan langit bertingkat tujuh dan bumi berlapis tujuh".  Padahal, makna kalam Ilahi itu yakni "Allah menciptakan tujuh langit, begitu pula jumlah bumi" (ath-Thalaq: 12).
     Al-Qur"an menegaskan bahwa ada tujuh Bumi di alam semesta, bukan satu.  Al-Qur'an juga memaparkan adanya dabbah (makhluk melata).  Dabbah bukan malaikat atau jin.  Dabbah tiada lain makhluk berakal yang berjalan.
     Dabbah dalam narasi populer Hollywood dinamakan extra terrestrial (ET) atau makhluk dari luar Bumi.  ET biasa pula disebut alien.  Istilah ini dapat diartikan sebagai makhluk planet lain, orang asing atau bukan manusia.  ET identik sebagai awak piring terbang alias unidentified flying object (UFO).
     ET tertera secara eksplisit dalam al-Qur'an.  "Di antara tanda kebesaran Allah.  Ia mendesain langit serta Bumi.  Allah menciptakan makhluk melata yang ditebar di langit dan di Bumi" (asy-Syura: 29).
     ET disebar di eksoplanet, galaksi di luar Milky Way.  Alien mendiami enam Bumi yang mengorbit sistem bintang di luar Tata Surya.

Marsian
     Pengembangan pendidikan merupakan proses untuk mengantisipasi Abad Angkasa.  Dewasa ini, eksplorasi antariksa menjadi impian menggiurkan.  Manusia berhasrat menaklukkan planet-planet, khususnya Mars.  Mereka tergiur menjadi Marsian, warga Planet Mars.
     Kini, pendidikan terus digalakkan demi menyongsong kehidupan multiplanet.  Melanglang buana antarbenua berubah menjadi menjelajah planet demi planet.
     Pesantren IMMIM yang memadukan pendidikan agama dengan umum tergolong institusi pendidikan dengan sistem pembelajaran yang bernas serta relevan.  Pada tarikh 2030, ada Dar at-Tarbiyah IMMIM yang menggodok pengajaran baru dengan metode inovatif.  Education House IMMIM ini mendorong model pendidikan dengan orientasi untuk membangkitkan kuriositas dan akselerasi mental.  Hingga, santri punya kekuatan spiritual keagamaan maupun karakter ilmiah.
     Santri sebagai peserta didik memiliki otonomi dalam rangka pengembangan kualitas pendidikan.  Mereka dipacu memperoleh akses pendidikan di bidang lain di luar pranata pendidikan.  Ini model pedagogis yang menyenangkan guna meningkatkan pemikiran ilmiah.
     Sinergi lintas bidang aneka disiplin pengetahuan agama dengan umum menjadi solusi apik era mendatang.  Apalagi, pesantren mengemban tugas untuk mendidik santri bertanggung jawab atas kemaslahatan manusia, bukan sekedar meningkatkan prestasi akademik.
     Memasuki dekade keempat milenium ketiga, Pesantren IMMIM punya Badan Riset Angkasa.  Ini untuk pengembangan astronomi berbasis interpretasi al-Qur'an.  Teknologi ruang angkasa yang mengadopsi tafsir akan berkembang pesat.  Firman-firman Allah bakal menuntun manusia berkelana di kosmos.

Tol Buraq
     Pada tahun 2030, ada tiga primadona di Pesantren IMMIM.  Ketiganya yaitu Badan Riset Antariksa, Kompleks Kuantum serta Auditorium Metaverse.  Tiga serangkai ini merupakan program high tech, high cost sekaligus high risk.
     Tugas Badan Riset Antariksa ialah melacak posisi enam Bumi lain.  Santri bukan sekedar menyingkap simpul-simpul ukiran gas dan debu di gugusan bintang, planet serta asteroid.  Tujuan utama adalah mencari ET.  Enam Bumi tersebut bercokol di enam galaksi di antara 10 triliun galaksi.
     Ekspedisi ke planet lain menjadi tonggak baru peradaban.  Hidup dari satu galaksi ke galaksi lain merupakan sensasi baru sebagai penghuni planet biru.  Ini selaras deskripsi Elon Musk, pemilik SpaceX.  "Menjadikan manusia spesies multiplanet", ujarnya di Kongres Astronaut Internasional di Guadalajara pada Selasa, 23 September 2016.
     Melacak jejak ET bukan perkara gampang.  Apalagi mereka berdiam di galaksi nun jauh.  Perjalanan teramat panjang.  Untuk mengelilingi pinggir galaksi Bima Sakti saja dengan jet mutakhir butuh 300 tahun.  Apalagi melintas antargalaksi.
     Kosmos yang mahaluas tak perlu sulap atau sihir.  Menembus cakrawala mencari galaksi kelak enteng dilakukan.  Santri tinggal masuk ke Lubang Cacing (Worm Hole
), sebuah terowongan intergalaktik.  Saya menamakan Lubang Cacing dengan Tol Buraq, wahana di Isra Miraj.  Objek ini merupakan suatu struktur dalam ruang-waktu (spacetime).  Ruang dan waktu menjelma suatu  kontinum tunggal yang disebut ruang-waktu.
     Tol Buraq mampu melengkungkan ruang-waktu untuk menghubungkan secara dekat dua lokasi berjauhan di jagat raya.  Tol Buraq berfungsi sebagai jalan pintas menuju satu dimensi ke dimensi lain.  Ini terjadi berkat Tol Buraq memanipulasi ruang-waktu.
     Kembara ilmu falak di Pesantren IMMIM akan mengerucut pada satu pertanyaan besar.  Sanggupkah proyek ambisius luar angkasa kampus Islami (Tamalanrea, Moncongloe serta Minasa Te'ne) membuahkan hasil berupa pertemuan dengan ET?  Tentu saja tiada yang mustahil sebagaimana terekam dalam teks al-Qur'an.  "Allah Mahakuasa mengumpulkan segenap makhluk yang bertebar di langit dan di Bumi bila Ia berkehendak" (asy-Syura: 29).


Selasa, 25 Januari 2022

Pesantren IMMIM di Era Metaverse


Pesantren IMMIM di Era Metaverse
Oleh Abdul Haris Booegies


     Teknologi mengubah segalanya.  Sejak Facebook merancang Metaverse, dunia maya seolah dunia utama manusia.  Kita tidak butuh lagi tubuh untuk ke suatu tempat.
     "Manusia dapat hidup di bilik virtual menggunakan avatar tanpa perlu raga", urai futuris Gerd Leonhard.
     Dengan memasang Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR) dan Mixed Reality (MR) di badan, kita sontak terlontar ke Metaverse, dunia bertabur imajinasi.  Komposisi Metaverse terdiri empat kategori yaitu VR, AR, Life Logging serta Mirror Worlds.
     Metaverse merupakan kanal media sosial 3D berbasis Artificial Intelligence (AI).  Metaverse menggabungkan unsur media sosial, live-streaming, konferensi video, surel, game online, Fifth Generation (5G), AI, VR, AR dan cryptocurrency.  Metaverse dibuat dalam sistem Blockchain serta Web 3.0.  Blockchain memungkinkan barang dan identitas virtual dibeli serta ditransfer ke Metaverse.
     Metaverse terkait dengan aset kripto semacam Delentraland dan Sandbox.  Hubungan ini terpaut sebagai alat pembayaran jual-beli di Metaverse.  Non-Fungible Token (NFT) termaktub pula sebagai teknologi yang berperan besar dalam Metaverse.
     Metaverse merupakan 3D virtual worlds yang imersif.  Konsep Metaverse ialah mengaburkan batas antara dunia nyata dengan dunia maya.  Ini dinamakan dunia simulasi.  Arkian, pengguna merasa seolah di dunia nyata.
     Metaverse membuat orang yang tersebar secara global bisa menyatu. Terjalin kolaborasi tanpa batas geografis sekaligus tanpa akhir.  Mereka terkoneksi sebagai kumpulan komunitas virtual.  Penduduk maya ini berinteraksi bagai bertemu secara fisik di dunia nyata.
     Metaverse ibarat versi terbaru video call.  Di Metaverse, manusia berada di lokasi dalam wujud avatar, bukan lagi menatap layar gawai.

Akar Asal
     Metaverse terdiri atas dua kata.  Meta berarti melampaui.  Sedangkan verse bermakna jagat raya.  Jadi, Metaverse adalah ruang yang melampaui alam semesta.
     Istililah Metaverse diperkenalkan oleh Neal Town Stephenson di novel Snow Crash.  Novel bergenre distopia ini diterbitkan Bantam Books pada 1992.  Metaverse dalam novel dideskripsikan sebagai struktur fiksi yang terdiri atas serangkaian kode.  Dikisahkan jika manusia sebagai avatar sanggup berinteraksi dalam ruang virtual 3D dengan menggunakan metafora dunia nyata.
     Facebook yang alih citra perusahaan menjadi Meta Platforms Inc. di konferensi Connect pada Kamis, 28 Oktober 2021, merupakan awal gegap-gempita Metaverse.  Facebook yang menguasai seluruh saluran komunikasi virtual berada di balik eksodus manusia ke lingkungan digital.  Kehidupan hakiki hijrah ke dunia masa depan ala Facebook.
     Pada 2021, pengguna internet mencapai 4,6 miliar dari 7,8 miliar penduduk Bumi.  Dewasa ini, tertoreh tiga miliar pengguna Facebook tiap bulan.  Elemen ini memaparkan penetrasi internet yang masif.  Melihat ceruk emas ini, Mark Zuckerberg merancang Metaverse.  Ini fase Internet Web 3.0 yang lebih seru.  YouTube, Instagram, Twitter, TikTok, Facebook serta platform lain yang berbasis Web 2.0 dengan layar 2D, kini sudah usang.
     Metaverse menjadikan manusia berinteraksi secara 3D dengan sudut pandang 360 derajat.  Di Metaverse, suasana begitu nyata karena manusia bertransformasi sebagai avatar atau hologram.  Avatar merupakan representasi grafis dari figur pengguna yang menyelinap ke dunia virtual.  Metaverse menjelma ruang virtual yang dapat dimasuki, bukan sekedar dipelototi via monitor gadget.
     Metaverse memukau lantaran bersifat individual ownership.  Pengguna punya hak kepemilikan secara permanen.  Berbeda dengan community ownership.  Di platform ini, pengguna wajib mematuhi aturan komunitas.  Facebook, misalnya, akan memblokir akun bandel.

Avatar di Asqelon
     Definisi Pesantren IMMIM tetap stabil di era konvergensi digital.  Sekolah asrama bervisi religius ini tetap jaya memaksimalkan santri di zaman Metaverse.
     Ada dua persoalan pokok yang lazim dihadapi santri.  Pertama, rindu dengan orangtua, saudara dan suasana rumah.  Kedua, minim hiburan.  Dua masalah ini gampang dituntaskan oleh Metaverse.
     Di pesantren, waktu setelah Ashar kerap dihabiskan untuk nongkrong atau berolahraga.  Terkadang di waktu ini juga dipakai untuk belajar di kelas bila ada pelajaran esensial yang dibimbing guru.
     Ada durasi selama dua jam antara bakda Ashar serta menjelang Magrib.  Di tempo berkapasitas 120 menit itu, santri berkesempatan ke dunia maya.
     Pada tahun 2030, Pesantren IMMIM punya fasilitas Halaqah al-Qur'an (griya tahfiz), Laboratorium Bahasa, Badan Riset Angkasa, Dojo Black Panther dan Auditorium Metaverse.
     Di Auditorium Metaverse ini bergerombol santri untuk menunaikan hasrat.  Mereka saling antre untuk masuk ke ruang digital demi berkomunikasi dengan ayah, ibu atau saudara.  Sebelum memasang peranti Metaverse, santri melapor ke operator.  Sang operator lantas menghubungi orangtua santri bersangkutan.  Mengabarkan bahwa anaknya sedang menyematkan perangkat hologram.  Orangtua santri yang berada di suatu lokasi, kemudian memasang pula perkakas digital di tubuhnya.  Dalam hitungan detik, mereka pun bersua secara real-time di Metaverse.  Alam digital serta fisik saling berbaur.
     Tersedia 100 pasang peranti digital di Auditorium Metaverse demi mengakomodasi santri.  Mulai dari VR, AR, Smart Glasses, Google Glass, headset Oculus, headset Apple, Portal maupun sarung tangan untuk kontrol.
     Di Metaverse, santri leluasa menghibur diri dengan bertamasya ke mana saja, termasuk ke asteroid Psyche 16.  Obyek antariksa ini mengandung berton-ton emas dan aneka logam.  Nilainya mencapai USD 10 ribu kuadriliun.  USD 1 kuadriliun sebanding Rp 14,1 juta triliun dengan kurs satu dolar AS setara Rp 14.126.
     Santri tangkas menavigasikan Metaverse.  Mereka jeli mengadakan wisata religi ke Asqelon, wilayah antara Ashdad dengan Gaza.  Di lembah ini ratu semut pernah berseru kepada rakyatnya supaya menyingkir agar tak terinjak oleh balatentara Nabi Sulaiman.
     Santri dapat berteleportasi secara instan sebagai avatar untuk hadir di sejumlah arena tanpa meninggalkan tempat.  Santri berteleportasi dari petualangan ke petualangan.

Miss Teen
     Metaverse mampu mendayagunakan santri lebih fokus.  Ketika mata pelajaran Informatika (Teknologi Informasi Komunikasi), para santri belajar di Auditorium Metaverse.  Efek belajar di ekosistem digital bakal memacu imajinasi secara terstruktur serta intensif.  Ini mengarahkan santri andal berpikir komputasional dengan mempelajari aneka disiplin ilmu.  Konstruksi ini mampu memicu santri berpikir kritis dengan klasifikasi ide futuristis guna menciptakan aplikasi.  Hatta, saat tamat di Pesantren IMMIM, mereka bisa melamar di Google, Facebook, Twitter, Microsoft, Apple, Samsung atau Nvidia.
     Auditorium Metaverse di Tamalanrea, Moncongloe dan Minasa Tene membuat santri tidak perlu pulang kala libur.  Rindu dapat terlampiaskan di Metaverse berkat kondisi kehadiran yang realistis (realistic presence), begitu nyata kendati abstrak.  Sebagai contoh, santri asal Sidrap tak perlu lagi pulang kampung ketika libur.  Pasalnya, panorama desa Lawawoi dengan cawiwi (belibis) goreng bisa dirasakan di Metaverse yang menjadi simulasi area manusia di Internet.  Di perangkat ini terpampang persepsi secara fisik di dunia non-fisik.
     Santri mengubah libur dengan tetap tinggal di kampus untuk belajar di Metaverse.  Waktu dijadikan titian untuk tekun menganalisis fenomena-fenomena baru di zaman berikut.  Apalagi di Metaverse tersedia infrastruktur yang menunjang mobilitas.  Alhasil, aktivitas beralih secara fundamental dari offline ke online.  Ini membuktikan bahwa Metaverse tiada lain koloni masa depan untuk berkarya serta bersosialisasi.
     Warga global secara takzim berikrar bahwa Metaverse memiliki otonomi dan kebebasan.  Di Pesantren IMMIM pada tarikh 2030, ada satu akses Metaverse yang ditutup dengan gembok berlapis-lapis.  Segenap pembina mencemaskan terowongan digital tersebut dibobol santri peretas (hacker).  Sebab, dapat berakibat fatal bagi limitasi privasi.  Komponen yang haram dijamah itu yakni gerbang interaksi antara Pesantren IMMIM putra dengan Pesantren IMMIM putri.
     Di dunia nyata saja, santri rela berjalan kaki menemui santriwati di Miss Teen (Minasa Tene).  Apalagi di Metaverse yang no human touch, namun, enteng menghadirkan kehidupan digital secara holistik.  Tidak mustahil pimpinan kampus pesantren putri pusing 13 putaran tiap menit.  Semua gara-gara ada penyusup realitas virtual dari Tamalanrea atau Moncongloe.  Mana tahan...


Rabu, 19 Januari 2022

Tradisi dari Pesantren IMMIM


Tradisi dari Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pesantren IMMIM merupakan koloni mukjizat.  Di hamparan tanah seluas 1,3 hektare tersebut, berdiam rupa-rupa karakter remaja.  Pada pertengahan 80-an, ada sekitar 600 santri.  Mereka ditempa untuk berikhtiar agar rute nasibnya cemerlang laksana pijar meteor.
     Di Pesantren IMMIM, program dicanangkan guna mengerek kualitas belajar-mengajar.  Santri dibimbing untuk membentuk identitas supaya bermetamorfosis sebagai ulama.  Selain itu, menyelami keajaiban-keajaiban modernitas demi menjelma cendekiawan high skill.
     Dewasa ini, alumni Pesantren IMMIM tersebar di pelbagai lintasan karier.  Tidak mustahil besok ada alumnus dibaiat sebagai Hadratussyaikh (mahaguru) organisasi kemasyarakatan.  Mencermati profesionalitas serta orisinalitas karya alumni, maka, di dekade berikut bakal muncul ulama intelek Pesantren IMMIM yang menerima Nobel.

Santri Yakuza
     Hidup di pesantren acap serupa film horor-thriller.  Ini bagi santri bandel.  Terkadang pula mirip film percintaan romantis.  Hendak bertahan di kampus Islami kendati 1000 tahun.  Kehidupan teramat berwarna-warni.  Ramai rasanya bak permen Nano-nano.
     Di pesantren sewaktu saya kelas III, ada sejumlah teman memiliki rasa persaudaraan nan erat.  Mereka bagai Yakuza ala Jepang.  Tindak-tanduknya seolah bermoto "one for all, all for one".  Sebagai umpama, satu rokok biasa diestafet lima santri.  Ini manifestasi one for all.
     Kelompok santri ini juga teguh dalam pendirian sebagaimana watak Don Vito Corleone (Marlon Brando) di film The Godfather.  Kumpulan santri ini saling memproteksi, khususnya jika dipanggil qismul amni (seksi keamanan) maupun pimpinan kampus.

Rezeki Lenyap
     Ada tiga tradisi warisan pesantren yang sampai hari ini mewarnai saya.  Adat istiadat pertama ialah bangun subuh.  Sampai kini, saya rata-rata bangun sebelum pukul 04.00.
     Pada 1981 ketika kelas II, saya bersama kawan senantiasa tidur usai shalat Shubuh.  Segenap santri tak punya kegiatan kecuali kelas I yang belajar bahasa Arab di masjid.
     Syahdan di suatu vakansi, saya beritahu ibu di rumah bahwa sekarang hidupku nyaman di pesantren.  Kami leluasa tidur setelah shalat Shubuh.  Ibu kaget.  Ia pun berpetuah agar jangan tidur sesudah shalat.  Pasalnya, rezeki enggan bersilaturrahim saat orang tidur.
     Saya patuh dengan nasehat.  Tidak tidur lagi usai shalat Shubuh.  Masalah muncul karena dulu saya bangun sebelum jam lima untuk ikut berjamaah di masjid.  Kini saya bangun lewat pukul 06.00.
     Satu persoalan kelar karena tak tidur setelah shalat Shubuh.  Di sisi lain, satu problem timbul lantaran saya bangun jam enam pagi.  Tidak diragukan lagi saya tak tidur sesudah shalat, tetapi, ketinggalan berjamaah.  Akibatnya, saya selalu masuk qismul amni.  Ini divisi algojo, semacam tim peremuk bagi santri badung.
     Ketika kelas III, saya tinggal di bilik 2 rayon Pangeran Diponegoro.  Armin Mustamin sempat menebar isu.  "Haris tidak shalat Shubuh.  Ia sembunyi di atas pohon".  Padahal, saya tak mengumpet di akasia depan Panglima Polem.  Hikayat tersebut sekedar informasi oral yang jauh dari kebenaran.
     Di suatu subuh, saya ke beranda kamar untuk berwudhu.  Armin sempat melirikku menenteng gelas mug kaleng besi dan tempat air.  Pagi beredar gosip.  "Haris yatawaddha' wahid kuubun" (bersuci dengan satu mug air).
     Saya tidak berwudhu dengan air satu mug ukuran 10 cm.  Soalnya, saya menjinjing pula wadah air.  Armin yang bertanggung jawab atas beredarnya secara membahana dongeng "yatawaddha' wahid kuubun".

Kultur BAB
     Budaya kedua dari pesantren yang melekat pada saya yakni tiap pagi buang air besar (BAB).  Saban pagi saya ke 20 toilet sebelum sarapan.
     Saya memilih awal hari untuk membersihkan perut dari kotoran karena WC tak ramai.  Kultur BAB di pesantren mencapai puncak usai makan siang.  Pukul 13.00-14.00, 20 kakus penuh sesak.  Semua antre menanti giliran secepatnya.  Maklum, tidak ada yang bisa menahan berak.
     Menjelang tahun 2000, tiap hari saya masuk peturasan selepas pukul 04.00.  Tak ada aktivitas fisik sebelum BAB kecuali olah otak.

Salumdos
     Budaya ketiga dari pesantren yang saya lakoni yaitu tidur tanpa bantal kepala.  Bantal kepala serta bantal guling secara perlahan akan kempis dikikis waktu.  Dari serat kain pembungkus keluar sedikit demi sedikit kapuk.
     Menjelang tamat di pesantren, bantalku makin tipis.  Sepertinya tinggal berisi dua genggam randu.  Tidak proporsional lagi sebagai alas tidur.  Walau tipis, namun, empuk di kepala.  Terlebih bantal guling.  Saya kerap memeluk erat-erat.  Saya bayangkan Brooke Shields, idolaku.  Mengangan-angankan artis Hollywood merupakan ikhwal lumrah sekaligus normal bagi remaja.  Namanya juga salumdos, santri berlumur dosa.
     Pernah seorang sahabat bocor bantal gulingnya.  Kapuknya berhamburan di ranjang.  Saya terkesiap campur heran, dia apakan itu bantal tadi malam.  Saya berdeham, membayangkan aksi ekstrem spektakulernya yang hot.  Begitulah kalau perilaku puber meledak-ledak level bareccung (petasan).  Tiada rotan, akar pun jadi.  Ini baru namanya the real salumdos.
     Tatkala berusia 40 tahun, saya pensiun memakai bantal kepala.  Saya tak dapat tidur bila ada sandaran kepala.  Jika bantal guling, saya sekali-sekala membutuhkan wujudnya dalam dekapan kala sepoi bayu merenyukkan tulang-belulang.


Jumat, 14 Januari 2022

Terkenang Qismul Amni


Terkenang Qismul Amni
Oleh Abdul Haris Booegies


     Hari pertama sebagai santri di Pesantren IMMIM bakal tergiang-giang dalam kenangan.  Tatkala sang kala merangkak ke senja pada pertengahan 1980, segenap santri baru sudah masuk kampus.  Saya ditempatkan di bilik 2 rayon Datuk Ribandang, kini bernama asrama Fadeli Luran.
     Pagi di hari kedua, terdengar nasehat dari Rusdi (IV), pembina kamar.  "Jangan nakal.  Nanti kalian masuk qismul amni".
     Qismul amni (seksi keamanan) merupakan unit administrasi pesantren.  Korps ini menjadi tulang punggung ketertiban di kampus.  Qismul amni termaktub sebagai penyangga pimpinan kampus (pimkam).
     Awalnya, saya mengira qismul amni semacam nenek yang berpetuah bijak.  Kami pasti dinasehati secara lembut agar tidak bandel.  Di luar dugaan, qismul amni kiranya algojo di ruang penyiksaan.  Kesalahan ringan saja, santri bisa babak-belur, remuk-redam.
     Saya bertambah kaget karena yang menyiksa ternyata santri senior.  Mengapa kami harus dipukul, ditendang, dicambuk serta dibanting?  Ini perlakuan kejam.  Saat genting begini, ke mana pimkam?  Mengapa ia membiarkan kami digebuk?
     Santri yang diumumkan namanya di masjid setelah Isya sebagai pelanggar, dijamin 100 persen gentar bertalu-talu.  Pikiran sontak kalut akibat otak oleng.  Batin meronta-ronta mirip pedosa yang dicabut nyawanya oleh malaikat maut.  Ngeri bangets, guys.  Akhirnya, voodoo medicines alias mantra mustajab dirapal tiap detik.  Ada juga yang mengenakan sarung sebagai kamuflase.  Padahal, di balik sarung, ia memakai celana jeans dobel.  Ini untuk meredam efek pedis cambukan.
     Qismul amni seyogianya tak menerapkan kebijakan antisantri.  Apalagi, tiap santri punya otonomi untuk berkembang secara intelektual agar tercipta visi ilahiah maupun ilmiah.  Santri memiliki wewenang untuk berkreasi.  Santri punya hak guna membangun kultur teduh dalam belajar-mengajar.
     Secara kodrati, santri cenderung bertingkah badung.  Manuver-manuver liar acap dilakoni.  Biarpun demikian, hukuman fisik bukan solusi.  Sebab, اَلْاِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَاءِ وَالنِّسْيَانِ (al-insaanu mahallul khathaai' wan nis-yaan).  Pepatah Arab ini menekankan jika manusia normal niscaya berbuat salah sekaligus pelupa.

Terkenang Palopo
     Di Divisi 8086, saya tergolong pelanggan paling setia qismul amni.  Rata-rata dua kali sepekan saya diadili.  Pada Selasa, 1 Februari 1983, saya bermimpi.  Dalam mimpi tersebut, saya diadili oleh ayahanda Haji Fadeli Luran gara-gara nakal.
     Hari demi hari datang dan pergi.  Malam-malam mengerikan di qismul amni terus pula berjalan.  Di sektor pemukul ini, mudabbir (pengurus) produktif memproduksi kekerasan.  Seksi ini sepatutnya tidak mendedikasikan diri pada kezaliman.  Qismul amni semestinya menjadi rujukan ideal dalam membina santri, bukan membinasakan.  Apalagi, Pesantren IMMIM itu made for akhlaqul karimah.  Jangan sampai qismul amni merusak cita-cita tersebut dengan membombardir santri pelanggar.
     Kekejian yang dipraktikkan seksi keamanan pernah berujung tragis.  Di suatu sore pada Kamis, 2 September 1982, pesantren didatangi serombongan pemuda Palopo.  Mereka mencari personel qismul amni yang memukul santri asal Palopo.  Kelompok ini sempat mendamprat mudabbir ISPM/OSIS.
     Kengerian bertambah karena nanti malam akan tiba tiga truk kontingen Palopo.  Anggota qismul amni mendadak terbirit-birit sembunyi.  Tak berani keluar kamar.  Pengecut!

Terkenang IIIA
     Pada Rabu, 2 Februari 1983, qismul amni murka.  Ini lantaran Shl (III) menyurat tadi sore ke mudabbir keamanan.  Ia ingin bermusyawarah dengan tim peremuk nyali ini.
     "Apa yang hendak dimusyawarahkan!"  Terdengar pekik geram awak qismul amni.
     Seksi keamanan lantas mendatangi kelas IIIA karena Shl mengatasnamakan kelas ini.  Kala berdialog, Shl gugup.  Ia sekenanya menjawab pertanyaan qismul amni.  Santri lain di kelas IIIA ikut terpojok oleh korps keamanan yang berang.  Semua kemudian marah ke Shl.  Soalnya, tanpa persetujuan mengatasnamakan IIIA.  Mereka menilai aksi solo run Shl terlalu mengada-ada, sekedar bualan belaka yang kosong-melompong.
     Situasi di kelas berubah kacau bak ada genderang perang bergemuruh.  Santri mengumpat Shl sembari berteriak-teriak bagai sirene pemadam kebakaran karena sebal tiada terkira.  Shl nyaris ditonjok beramai-ramai akibat ulahnya.  Shl lupa kalau qismul amni itu antikritik.  Menentangnya ibarat melawan Kingkong.
     Pada Selasa, 5 April 1983, namaku disebut di masjid sebagai pelanggar.  Pukul 20.00, listrik mati.  Tidak ada aktivitas di pondok lantaran lampu padam.  Saya tertawa-tawa, selamat dari amuk qismul amni.
     Kegembiraanku musnah.  Malam berikutnya, namaku kembali diumumkan di masjid.  Kali ini saya menghadapi petaka besar.  Qismul amni berkolaborasi dengan keamanan rayon Pangeran Diponegoro untuk mengadiliku.  Begitu berharganya saya sampai qismul amni bersinergi dengan keamanan rayon.  Saya menghadapi 2 in 1.  Ini operasi gabungan untuk merontokkan mental.  Bomber-bomber qismul amni menjelma armada terminator yang mematikan.  Nyaliku ciut juga.  Bisa saja saya dibantai secara santai.  Saya akhirnya diancam diberi surat pernyataan untuk dibaca nanti subuh.

Terkenang Mantang
     Malam ini Selasa, 8 Februari 1983, saya masuk lagi qismul amni.  Seksi keamanan kian garang.  Kemarin malam mereka rapat.  Hasilnya, bakda Isya ada tiga pelanggar membaca surat pengakuan untuk tak mengulang pelanggaran.  Mereka adalah Arham (II), Mahmuddin (II) serta Ilham (III).
     Pelanggaranku malam ini persis sebelumnya yakni gaib di kelas dan terlambat ke dapur.  Saya diberi pula surat pengakuan untuk dibaca besok malam di masjid.
     Dari qismul amni, saya ke kamar.  Saya beritahu Akmal Hasan (IV) yang ketua rayon Pangeran Diponegoro bahwa malam ini saya berhenti jadi ketua kamar.
     "Kenapa?  Ada apa?", tanya Kurnia Makkawaru (VI), pembina kamar.
     "Saya sering melanggar.  Jadi tidak mau lagi jadi ketua kamar".
     Usai Magrib pada Rabu, 9 Februari 1983, saya ke pasar Bharata.  Makan sup dengan minum limun orange di kedai.  Saya lama di pasar karena tak sudi membaca surat pengakuan.
     Ketika balik ke kampus, saya diberitahu teman-teman bila dicari keamanan.  Saya berstatus buronan.  Terkenang film koboi saat sherif berseru: "Wanted dead or alive".  Sadis betul.  Malang nian nasibku.
     "Tadi Sukwan (III) lucu waktu baca surat pengakuan.  Ia tidak menyebut namanya Sukwan, tetapi, Ucok", papar seorang kawan.
     Pada Sabtu, 12 Februari 1983, Muhammad Thanthawi (III) bersama Muhammad Yunus (III) menemuiku usai bolos.  Keduanya dengan wajah tegang menyampaikan bahwa "kamu gawat sekali".  Selain dibenci sekali qismul amni, istri pimkam juga marah.  Musababnya, pelanggaranku terus bertumpuk.  Biasnya memakan korban baru.
     Kamis malam pada 10 Februari 1983, Bibi Mantang dipanggil ke pimkam.  Mantang selama ini yang menyiapkan saya hidangan spesial.  Ikhwal inilah yang membuatku malas ke dapur.  Hingga, sering masuk qismul amni.


Minggu, 09 Januari 2022

Hukuman Perokok


Hukuman Perokok
Oleh Abdul Haris Booegies


     Hidup di pesantren ibarat merangkum peristiwa.  Sepotong demi sepotong momentum menjelma sejarah.  Terkadang narasi historis tersebut laksana prasasti untuk diteruskan ke generasi berikut.  Ikhwal ini terjadi karena masa silam seolah belum selesai hari ini.
     Di Kampus Islami, santri termaktub sebagai pewaris ilmu-ilmu langit.  Mereka calon masyarakat agamis dan ilmiah.  Dewasa ini, santri dalam hitungan hari segera berpijak di Era Society 5.0.  Mereka bakal bersua secara mesra dengan firdaus teknologi semacam Web3, NFT2.0 serta Metaverse.
     Di era 80-an, santri Pesantren IMMIM bergerak selaras parameter spiritualitas modern.  Staf ustaz pembina menerapkan penetrasi moral secara dominan yang intensif.  Hingga, santri tampak bermartabat di masjid, berprestasi di kelas, berkepribadian di kamar, berdikari di dapur dan bertenaga di lapangan.
     Di tengah dinamika santri, selalu ada percik gelap yang mengusik.  Ada kenakalan karena ada kejanggalan sudut pandang.  Santri suka mencoba eksperimen ekstrem demi memuaskan kuriositas.  Akibatnya, mereka biasa berlaku ugal-ugalan bak wildlines, kaum liar.  Di sisi lain, roh institusi jelas menegaskan bahwa santri haram melanggar aturan.
     Ada dua pelanggaran berat di pesantren yang rumit dikikis.  Bolos meninggalkan kampus (farra) serta merokok (dukhaan).  Ini pelanggaran teramat berat.  Kalau ketahuan dan bernasib sial, maka, digiring ke sel khusus atau digundul.
     Di pesantren, saya tergolong santri taat dengan watak yang tekun.  Maklum, tidak merokok.  Bahkan, sampai sekarang.  Problem mahaberat yang saya alami yakni doyan melarikan diri meninggalkan kampus.  Tentu tanpa izin.
     Saya beratus kali bolos dari kelas serta bolos dari kampus.  Anehnya, pimpinan kampus (pimkam) dan qismul amni (seksi keamanan) tak kuasa melacaknya.  Alhasil, saya tidak pernah dimasukkan sel atau digundul.  Lemari serta kasurku saja yang celaka.  Kala bolos, pimkam menyandera lemari dan kasur tersebut dalam sel pada Selasa, 18 Oktober 1983.
     Pimkam serta qismul amni kesulitan mencidukku karena saya tergolong a die-hard optimist.  Senantiasa yakin seyakin-yakinnya saat bolos dengan berpegang teguh pada khitah "farra-yafirru".  Hatta, selalu selamat sentosa.  Begitulah bila santri limited edition dengan potensi bolos yang unlimited.

Pindahkan Gunung
     Sebagaimana siswa SMP atau SMA di luar, santri juga tangguh merokok.  Dari 78 awak Angkatan 8086, hanya segelintir yang tak merokok.  Bisa dihitung dengan jari-jemari satu tangan.  Seingat saya, sahabat nonperokok yaitu Andi Arman dan Rusman.  Kami the golden trio antirokok.
     Di pondok, jika berkunjung ke kamar teman, saya spontan menyingkir kalau mereka merokok.  Saya tidak pernah menegur rekan perokok.  Saya bersikap toleran.  Abdul Hafid (Havid de Berru) malahan sempat saya beri rokok satu pak (10 bungkus).
     Pasti mengherankan bagi insan nonperokok.  Apa manfaatnya bila cuma asap dimasukkan ke mulut terus disemburkan lewat hidung.  Di sini letak istimewanya bagi perokok.  Soalnya, ada varian gen yang memacu rasa nikmat secara optimal.
     Santri alim di Pesantren IMMIM, acap bernasehat.  "Jangan merokok.  Ingat, yang kamu isap itu adalah hasil jerih payah orangtuamu".
     Perokok level raksasa membalas:  "Saya lebih memilih memindahkan gunung daripada berhenti merokok!"

Rokok Estafet
     Pada Senin, 28 Februari 1983, Muhammad Bubu (III), Zainal Akbar (II) bersama Ali Sulaiman (II), kena penalti.  Ketiganya disuruh berdiri di depan koperasi yang terletak di belakang aula.  Mereka lantas diperintahkan mengisap 10 batang rokok tradisional tanpa filter secara estafet.  Rokok diisap dalam-dalam kemudian digilir secara cepat.  Habis sebatang disambung lagi dengan sebatang.
     Pesakitan tentu kewalahan.  Air liur menetes, meleleh di dagu.  Lidah kelu.  Mata berair gara-gara asap.  Santri lain hanya terpingkal-pingkal terkekeh-kekeh menyaksikan adegan sengsara ini.
     Tatkala santri perokok dijatuhi hukuman, saya merasa kurang nyaman.  Ada rasa marah di sanubari.  Nurani serasa dirajam tirani.  Saya memahat aksara di diari pada momen tersebut bahwa: "Ketika malam hari ada yang membuatku sakit hati dengan keamanan".
     Saya tak tega melirik perokok yang diganjar siksa sewenang-wenang.  Saya terdiam untuk memahami makna penghakiman ini.  Saya mengukur taksir jika qismul amni berlaku zalim.  Tidak bijak sekaligus tak adil lantaran mengaplikasikan kekejian.  Qismul amni tidak sanggup menempatkan diri pada posisi wasit.  Tiada netralitas maupun independensi.  Apalagi, personel qismul amni rata-rata perokok berat.
     Substansi qismul amni ialah wasit yang memberi hukuman setimpal berbasis keadilan.  Mereka jawatan pimkam untuk mengatur pelanggar pada prinsip pembelajaran serta kebersamaan.
     Hukuman dengan metode merokok secara estafet pasti tak mendidik, di luar nalar.  Santri lain tidak punya kuasa mengoreksi kebijakan sungsang ini.  Apalagi, qismul amni merupakan santri pilihan pimkam.
     Apakah qismul amni secara santun bersedia melepas kekerasan yang diproduksinya?  Only time will tell.


Minggu, 02 Januari 2022

Golok Maut di Pesantren


Golok Maut di Pesantren
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada 1983, Pesantren IMMIM dihuni sekitar 500 santri.  Tiap santri memiliki karakter khas.  Ada yang patuh, tak sedikit pula bandel.
     Di era 80-an, pesantren identik dengan anak nakal.  Kalau badung, maka, orangtua memasukkan ke pesantren agar alim.  Di Kampus Islami, santri bangga menyebut pesantren sebagai "penjara suci".
     500 santri Pesantren IMMIM dididik oleh enam pembina yang tinggal di kampus.  Mereka adalah Saifullah Mangun Suwito, Syukri Basondeng, Hasnawi Marjuni, Abdul Kadir Massoweang, Abdul Kadir Kasim serta Hamir Hamid Aly.  Enam pembina tetap ini yang siang-malam memantau dinamika santri.
     "Menjadi pembina dengan hidup bersama santri selama 24 jam merupakan ibadah yang tiada bertepi nilainya.  Senang-susah, lucu dan marah menjadi irama hidup sehari-hari di pondok.  Segenap santri merupakan titipan orangtua sekaligus amanah Allah.  Kami para pembina terus-menerus melakukan koordinasi serta inspeksi kontrol kualitas supaya kelak muncul generasi santri level top.  Pembina menyusun formula agar santri kuat lahir-batin dalam menyibak misteri masa depan.  Hingga, tidak tumbang oleh zaman", papar Lukman Sanusi, tokoh gigantik Iapim.
     Enam pembina pada 1983, merupakan komposisi yang tak seimbang.  Jauh dari sempurna, tidak ideal.  Sebab, satu pembina seolah menangani 80 santri dengan 80 tabiat.
     Sesungguhnya, pembina diuntungkan oleh anggota qismul amni (seksi keamanan) maupun kelas V dan VI.  Tiga pilar ini secara tak langsung turut menjaga mobilitas pesantren.
     Tentu saja ada ongkos yang mesti dibayar pembina.  Caranya, ada perbedaan perlakuan.  Kelas V serta VI, umpamanya, bebas nonton TVRI dari pukul 22 sampai siaran habis.  Selain itu, kelas VI sejak awal tahun mulai bebas.  Ada yang ikut bimbingan tes atau urusan kelanjutan pendidikan.  Ini masa-masa indah santri kelas VI sebelum meninggalkan pesantren.  Ini kenangan tiada terlupa sebelum mengakhiri pengabdian sebagai santri.  Ini momen paling syahdu dalam kehidupan sebagai santri.

Perseteruan Raksasa
     500 santri dibimbing enam pembina pasti merepotkan.  Ulah santri bandel selalu menggemaskan.  Pada Rabu, 2 Februari 1983, saya dibangunkan.
     "Hei bangun!  Ustaz Saifullah sudah masuk kelas", sembur Muhammad Thanthawi (Iapim 8086).
     Saya tetap terlelap dibekap clinomania, ingin terus rebah-rebahan di kasur.  Tiba-tiba teman-teman berhamburan kabur.  Seolah ada bom nuklir jatuh ketika rekan berseru: "Ustaz Saifullah menuju kamar".  Tidak main-main, sang ustaz memukul siapa pun yang tak masuk kelas.
     Saya, Rusman (III), Syarifuddin (IV), Sapri (V) dan Umar Bauw (V) terbirit-birit kocar-kacir bagai dilempar ular.  Kami mati-matian menerobos pagar kawat berduri di sisi Selatan, sudut belakang rumah ustaz Syukri.  Kami pontang-panting ke panggung serbaguna yang terletak di samping pesantren.  Nafas kami tersengal-sengal, namun, bangga dapat lolos.  Kami semua ketawa pahit dalam kebingungan.  Mitra badung lain entah ke mana bersembunyi, barangkali lompat ke danau Unhas.
     Enam pembina bertambah pusing bak gasing jika menangani cekcok antarangkatan.  Pada Selasa, 7 September 1982, ada clash of the titans, perang para raksasa.  Kelas V versus VI sama-sama panas laksana semburan gunung berapi.  Setelah menempuh jalur berkelok, mereka akhirnya berdamai atas inisiatif pembina.
     Pada Sabtu, 3 September 1983, qismul amni pecah.  Sebagian berkehendak tetap mengadili pelanggar.  Sisanya bubar.  Ini gara-gara terjadi penempelengan.  Oknum qismul amni menampar santri pelanggar dari kelas III.  Korban akhirnya melapor ke kakaknya yang kelas VI.  Si abang lantas menempeleng personel qismul amni yang kelas V.
     Awak qismul amni melaporkan insiden ini ke pimpinan kampus (pimkam).  Tentu saja pimkam berkelit.  Ini persoalan besar.  Siapa memang yang suruh menerapkan represi berlapis di qismul amni.  Baru tahu rasa sekarang itu qismul amni!
     Korps qismul amni kecewa atas sikap pimkam.  Akibatnya, terjadi perpecahan di tubuh qismul amni.  Sebagian tetap berkeras hati mengadili.  Sisanya angkat tangan, mengundurkan diri.

Mengancam Pimkam
     Andi Asri Lolo (Iapim 8086) bernafas lega.  Hari ini, Selasa, 8 Maret 1983, pencuri uangnya sudah teridentifikasi secara saksama dalam tempo singkat.  Ia kehilangan pada Kamis, lima hari lalu.
     Pencurinya berinisial AS.  Ia berkomplot dengan AB yang mengharap cinta NA, cewek BTN Wesabbe.
     Pada Rabu, 9 Maret 1983, pesantren geger bin gempar dalam kengerian.  Semua gara-gara ayahanda AS ke pesantren membawa parang panjang usai Zhuhur.  Ia memarkir motornya dekat kantin di depan dapur.  Orang yang sedang murka ini datang bersama bininya.  Dengan wajah sangar sembari menenteng golok, ia mencari ustaz Saifullah yang tinggal di rumah panggung dekat 20 toilet.  Suami-istri ini menuntut balas dendam lantaran ada sekelompok santri memukul AS tadi malam.
     Para santri bergerombol di sisi masjid, samping Rayon Sultan Hasanuddin serta depan dapur.  Santri tidak mampu memperkirakan apa yang bakal terjadi selanjutnya.  Apakah parang yang telah diasah tersebut akan menuntaskan perkara atau ada opsi lain.
     Santri serba salah, antara menunggu kelanjutan pertunjukan maut dengan harga diri pesantren.  Tiada konsolidasi solid dalam menghadapi kasus ini.  Seluruh santri cuma melongo.  Takut ditebas.  Ini hari mencekam yang melampaui imajinasi.
     Entah ilmu apa yang dipakai ustaz Saifullah, semua akhirnya tenang.  Kami kembali ke kamar masing-masing dengan segumpal kebimbangan.
     Mengapa pimkam diancam golok?  Mengapa tak introspeksi diri bahwa ini pencurian?  Hina sekali cara hidup bila disandarkan pada parang.
     Harga diri diukur dari keberanian mengakui kesalahan.  Martabat dinilai dari sifat bijak memilah masalah.  Golok bukan solusi, tetapi, musibah.  Tragedi ini merupakan hari suram bagi sejarah Pesantren IMMIM.


Amazing People