Label

Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Agustus 2023

Kristal Superman


Kristal Superman
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Saya melirik arloji.  Sekarang pukul 02.20.
     "Dua menit lagi kita sampai di kampus", gumamku.  Kami sekarang di jembatan Tello.
     Saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta bersama Andi Rian menumpang truk.  Tadi kami nonton midnight show di Cinema Paradiso.  Kami menyaksikan Compañeros yang dibintangi Franco Nero, Iris Berben serta Jack Palance.
     Sesudah nonton, kami menyusuri Karebosi sampai Masjid Raya, berjarak lebih satu kilometer.  Berharap ada mikrolet alias petepete.  Penantian kami sia-sia setelah 30 menit menunggu.  Tak dinyana, ada sopir truk tujuan Parepare berbaik hati mau mengantar kami ke Pesantren IMMIM.  Kami langsung berlompatan naik truk.
     Sesudah melewati jembatan Tello, langit mendadak bersinar terang.
     "Ada komet jatuh", seru Rian dengan wajah takjub.  Pandangan kami mengikuti komet yang muncul dari arah Timur.  Benda langit tersebut tiba-tiba mengeluarkan sinar merah.  Percik-percik cahaya pun berjatuhan laksana kembang api.
     "Mengapa komet itu pecah di langit.  Mestinya jatuh melengkung ke Barat setelah memasuki atmosfer", tanya Tirta.
     "Komet itu pasti malu-malu jatuh ke Bumi", ujar Rian
     "Sepertinya cipratan komet tersebut mengguyur pesantren", celetuk Hapip.
     "Berarti besok libur jika pecahan komet menimpa pesantren", celetukku.
     20 meter sebelum sampai di depan pesantren, truk berhenti.
     "Cocok kalau di sini kita diturunkan", puji Hapip.
     "Sopir ini pasti berpengalaman kabur saat bersekolah.  Sebab, pemali siswa yang bolos singgah tepat di depan sekolah", Tirta berkhotbah.
     "Terima kasih banyak, Pak", ucap Rian seraya menyunggingkan senyum.  Kami berempat mengangguk sebagai bentuk terima kasih,
     Tatkala kami hendak memanjak gerbang pagar kampus, sontak muncul seorang pria berbadan atletis.  Ia cuma mengenakan celana dalam.  Tubuhnya tinggi dengan tampang bule.
     "Orang gila", desis Rian.
     "Mana ada orang dengan gangguan jiwa berparas bersih", sahut Hapip.
     "Siapa kamu", tanya Tirta.
     "Superman, saya Superman".
     "Apa saya bilang.  Dia sinting.  Mengaku-aku Superman", ucap Rian.
     Saya mengajak Hapip, Tirta serta Rian untuk segera masuk ke kampus.  Saya mengantuk sekali.  Percuma menghiraukan orang gila pada dini hari ini.
     "Kamu Ogi.  Ini Hapip.  Ini Tirta.  Ini Rian".
    Kami berempat terkesiap.  Dari mana orang ini mengetahui nama kami.
     "Saya Superman alias Clark Kent.  Saya wartawan Daily Planet di Metropolis, Amerika".
     "Identitas Superman yang kau paparkan betul, tetapi, mengapa kamu telanjang", selidik Rian.
     "Tadi sewaktu terbang, saya bertabrakan dengan komet".
     "Hm, jadi empat menit lalu kau penyebab komet pecah berhamburan di langit?"  Tuduhku pada orang yang mengaku Superman.
     "Mengapa kamu tidak terbang ke Amerika untuk ganti baju", cetus Tirta.
     "Saya tidak bisa terbang".
     "Tadi mengaku Superman!  Mana ada Superman tidak bisa terbang", sindir Hapip.
     "Orang ini pasti bukan Superman, tetapi, Suparman", bisikku.
     "Kala bertabrakan, kristal hijau di sabuk celana dalamku terlempar.  Jatuh entah di mana".
     "Kristal itu pasti dari planet Krypton", celetuk Rian.
     "Betul.  Kamu banyak tahu tentang asal-usulku".
     "Kami semua penggemar Superman, namun, Superman yang dapat terbang.  Bukan Suparman", kataku sambil mengajak Hapip, Tirta dan Rian masuk ke kampus.
     Hapip mengikutiku di belakang.  Sementara Tirta serta Rian agak ragu masuk.  Keduanya merasa iba kepada Superman.
     "Ayo masuk!  Kita harus tidur.  Dua jam lagi kita shalat Shubuh", semburku dengan nada tinggi.

oooooOooooo


     Ketika kami tiba di laboratorium, tampak ada sinar hijau di sumur Selatan dekat pagar kawat berduri.
     Kami berjalan pelan ke perigi.  Khawatir itu cahaya senter garong yang jatuh atau binar hantu patah hati.
     "Jangan takut.  Apalagi, kita berempat.  Ini pesantren kita.  Kita wajib menjaganya dari pengacau", tegasku dengan lutut bergetar.  Napas Hapip terasa berat.  Di dahi Tirta, terlihat butir-butir keringat.  Sementara Rian lemas, agak berat melangkah.
     Tiada sesuatu di sekitar sumur.  Kami kemudian menengok ke dalam perigi.  Ada cahaya dari dalam air.  Benderang menyilaukan mata.
     "Apa itu yang menyala?"  Tirta bersoal.
     "Kristal hijau Krypton", seru Rian.
     "Pasti milik Superman", tegas Hapip.
     "Hapip, kamu yang turun", perintahku.
     "Enak betul menyuruhku.  Kamu saja!"
     "Tirta, kamu yang turun", kataku mendesak.
     "Air sumur ini dangkal,  Tidak sampai satu meter", ujar Rian.
     Tirta pun turun.  Air cuma sampai di perutnya.  Ia lantas menunduk untuk mengambil kristal.
     "Eureka, saya menemukannya.  Saya kini pemilik kristal Krypton", pekik Tirta.
     "Cepat naik", kataku.
     Tiba-tiba Tirta berkelebat bak puting beliung.
     "Hei, saya di sini", seru Tirta.
     "Astaga, bagaimana bisa kamu di atas atap laboratorium", kataku tidak habis pikir.  Saya mengedip-edipkan mata tanda tak percaya.
     "Tirta bisa terbang", sahut Rian dengan mulut melongo.
     Saya dengan Hapip saling berpandangan.  Ternyata orang yang mengaku Superman itu betul bila kristalnya terlepas.  Kiranya ia Superman orisinal, bukan gadungan.
     Tirta lalu turun dari atap persis burung yang mendarat di tanah.  Ia pun meletakkan kristal di bibir sumur.
     "Saya santri pertama di dunia yang bisa terbang.  Besok saya akan mengirim surat ke nenekku di Sidrap.  Mengabarkan jika saya Superman cadangan", tutur Tirta penuh kebanggaan.
     "Sebaiknya kita kembalikan krital ini ke pemiliknya", saran Hapip.
     "Jangan!  Ini sekarang kepunyaan kita", tandasku.
     "Itu namanya mencuri".
     "Di Amerika ada pepatah berbunyi "ambil apa yang kau temukan sekalipun pemiliknya mencari"  Kebetulan kristal ini barang impor dari Amerika", terangku
     "Ini bukan produksi Amerika.  Kristal ini dari planet Krypton", terang Tirta.
     "Kalau begitu, bagaimana bila kita terbang ke Minasa Te'ne.  Kita intip santriwati IMMIM yang masih terlelap", usulku penuh senyum kemenangan.
     "Itu ide paling menggairahkan, tetapi, berbahaya sekali", ujar Hapip.
     "Saya dengan Rian tidak sudi ke Minasa Te'ne untuk mengintip gadis yang sedang tidur", ujar Tirta dengan roman bergidik.
     "Tidak mengapa karena kau memang belum disunat", semburku sebal.
     Saat berdebat, tiba-tiba Supeman muncul merebut kristal hijau.
     "Inilah kristal Krypton yang terlepas dari celanaku ketika bertabrakan dengan komet.  Terima kasih santri yang baik hati telah menemukan kristal ini", ujar Superman dengan senyum khas sambil terbang.  Dalam sekejap, sosoknya hilang ditelan gelap malam.
     Saya langsung gugup.  Kristal itu belum saya sentuh, namun, sudah berpindah tangan.
     Terdengar pintu berderit.  Ustaz Syukur Baswedan yang tinggal di sisi perigi muncul dari balik pintu.
     "Mengapa kalian ada di sini!  Kalian piket malam atau latihan debat di sumur.  Ayo, ke bangsal masing-masing!"
     Kami berempat segera meninggalkan ustaz Syukur.  Saya bersungut-sungut sembari menyalahkan Tirta yang menaruh kristal di bibir sumur.  Saya juga menyalahkan Hapip serta Rian yang teledor, tidak waspada menjaga kristal.  Akibatnya, kristal Krypton enteng direbut oleh Superman.


Sabtu, 05 Agustus 2023

Hantu Gaun Merah


Hantu Gaun Merah
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Bakda Isya di malam Jumat ini, saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta dan Andi Rian berniat ke pasar tradisional di depan Pesantren IMMIM.  Kami hendak bersantai, melepas penat.  Tadi siang banyak santri pulang.  Maklum, Kamis.  Besok kami prei.  Tidak ada aktivitas belajar-mengajar.  Jumat merupakan hari Ahad di pesantren.
     Saya bersama Hapip duduk di bangku kantin yang telah tutup.  Kami menunggu Tirta serta Rian yang menggosok gigi di sumur.
     Mendadak terdengar suara melengking.  Saya dengan Hapip berpandangan.  Hapip lantas berlari ke arah suara.  Kami tiba di perigi ketika suara itu makin meraung.
     Di sumur, Tirta dan Rian tertegun.  Tidak berani beranjak.
     Suara tersebut dari 20 toilet di arah Barat.  Deretan toilet ini merupakan pembatas antara Pesantren IMMIM dengan danau Unhas.
     Saya, Hapip, Tirta bersama Rian tetap bertahan di perigi ketika santri lain mulai berdatangan.
     "Ada apa?"
     "Siapa yang berteriak?"
     Bertubi-tubi pertanyaan diarahkan entah ke siapa.  Dalam hitungan detik, sumur langsung dijejali santri.  Semua menahan napas karena suara histeris itu terus bergema.
     Ketika santri bertambah banyak, Hapip mengajakku ke sumber suara.  Kami pun ke kakus diikuti sejumlah santri.
     Remang membuat kami ragu melangkah.  Andai tiada cahaya Bulan, niscaya kami kian repot.  Sebab, cuma satu bohlam kecil di antara 20 WC.  Kami juga gentar gara-gara suara itu tak jeda bergema.
     Kami kemudian melihat seorang bocah berdiri gemetar di pintu toilet.  Wajahnya pucat.  Ketika melihat kami, ia pun berhenti meraung dengan mata melotot.
     "Ini Burhan, santri kelas I", ujar Andi Manoppo.
     "Ada apa?"
     Burhan tak mampu mengucap kata.  Bibirnya terlihat membiru akibat ketakutan.  Ia tampak lunglai.
     "Gotong ke klinik", usul Nasir.
     Dalam sepekan ini, tiga santri berteriak-teriak.  Lima malam lalu, Arman histeris karena mengaku melihat hantu.  Santri kelas II ini hendak BAB ketika di depannya berdiri wanita berbaju merah.  Dua malam berselang, giliran Sanusi yang dihadang hantu gaun merah.  Santri kelas I ini lebih fatal.  Soalnya, langsung pingsan.
     "Pasti Burhan juga melihat hantu gaun merah itu", simpul Tirta.

oooOooo


     Klinik kampus ramai didatangi santri kelas I.  Ini bentuk simpati atas musibah yang menimpa Burhan.
     Di ruang pimpinan kampus (pimkam), beberapa pengurus OSIS melaporkan insiden makhluk halus ini.  Ustaz Saepul Jamal sebagai pimkam cuma mengangkat tangan sampai dada tanda bingung menyelesaikan kasus metafisika ini.
     "Ini bahaya.  Ini bahaya", ujar Saepul, tanpa ada solusi untuk menjinakkan hantu bandel yang bergentayangan di 20 toilet.
     Sekretaris OSIS Amir Mujahidin, membisikku agar ke puang Suti.  Ia menetap di belakang pesantren, berjarak 10 menit jika berjalan kaki.
     Saya, Hapip, Amir bersama Rasmansyah lantas menemui puang Suti.  Tirta dengan Rian tidak ikut karena masih santri kelas III.
     "Kita harus secepatnya ke sana sebelum ia tidur.  Sekarang menjelang pukul 21.00", ujar Amir.
     Kediaman puang Suti berbentuk rumah panggung.  Ia tinggal bersama anak dan cucunya.
     "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh", serentak suara kami mengucap salam.
     "Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh", terdengar suata dari dalam rumah.  Pintu lantas terbuka.  Nur Aini, cucu puang Suti terlihat gugup ada empat cowok keren di hadapannya.  Nur Aini merupakan cewek yang banyak dibincangkan namanya di antara sesama santri.
     "Nenek puang, ada?"
     "Ya, ada.  Ini santri IMMIM?"
     "Betul, kami mau bertemu dengan nenek puang.  Penting sekali", jawab Amir.
     "Tunggu sebentar", ujar Nur Aini meninggalkan kami di depan pintu.
     Tidak berselang lama, puang Suti muncul dipapah Dewi, kembar Nur Aini.
     "Silakan masuk", suara Dewi begitu empuk.  Kaki kami pun berlomba melewati pintu.
     Setelah melihat kami duduk, puang Suti menatap kami.
     "Ada apa, anakku?"
     Hapip pun bercerita kalau sudah tiga santri melihat hantu bergaun merah.
     "Itu arwah Sunarti yang bunuh diri pada 1894.  Bunuh diri ini dipicu oleh perselingkuhan suaminya dengan tante Ong", papar puang Suti.
     "Tante Om?"  Saya bergumam sambil menyandarkan punggung ke kursi plastik.  Heran mendengar nama unik ini.
     "Tante Ong.  Nama lengkapnya Sidion.  Ia berasal dari Sarawak di Barat Laut Borneo.  Kala bocah, saya memanggilnya tante Ong karena cadel.  Lidah belum sempurna mengucap huruf S".
     "Bagaimana kisah perselingkuhan maut ini?"  Hapip tampak bersemangat ingin mendengar babad berujung kematian ini.
     "Saya berusia tujuh tahun tatkala peristiwa nahas ini terjadi.  Kami bertetangga.  Sunarti di sebelah kanan sedangkan Ong di seberang jalan".
     Pekerjaan suami Ong ialah tentara bayaran di angkatan perang kolonial Hindia Belanda.  Ia direkrut sebagai personel Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL).  Kerajaan Hindia Belanda kemudian mengirimnya ke Sumatera Barat.  Ini untuk menumpas sisa-sisa perjuangan pasukan Padri.
     Berbulan-bulan ditinggal suami, membuat Ong merana.  Kesepian memicunya mencari kehangatan lain.  Ia mencari pelampiasan dengan mengirim sinyal cinta ke Mustari, suami Sunarti.  Apalagi, rumah tangga Mustari-Sunarti sudah lama oleng karena tak punya anak.  Cekcok tiap hari mengakibatkan bahtera mereka di ambang karam.
     Sebelum menikah, Mustari merupakan kumbang jantan paling populer di Tamalanrea.  Gadis-gadis dari Tallo maupun Daya acap bertandang ke Tamalanrea sekedar untuk memandang paras ganteng Mustari.  Pemuda ini dianugerahi kulit bak langsat dengan rambut ikal kecil-kecil, keriting.  Rata-rata anak dara kepincut begitu melihat ketampanan Mustari.
     Ong serta Mustari yang didera asmara membara, akhirnya sering mencari kesempatan untuk melampiaskan rindu-dendam.
     Cinta terlarang ini akhirnya terendus oleh Sunarti.  Ia tahu suaminya main mata kelewat batas dengan Ong.  Mereka memadu kasih di telaga di tengah hutan lobi-lobi.
     "Telaga di hutan lobi-lobi?"  Hapip menyela hikayat puang Suti.
     "Telaga itulah yang kalian kenal sekarang dengan danau Unhas", tandas puang Suti.
     Di malam Jumat selepas Isya, Mustari menunggu Ong di telaga.  Di bawah cahaya Rembulan, kedua insan saling menggenapkan rindu dalam peluk hangat.
     Bersua pujaan hati membuat seluruh beban cair.  Keduanya memanjakan diri dalam kenikmatan.  Peluh bercucuran, napas saling memburu untuk tiba di tebing gelap yang memancarkan air kepuasan.  Meleleh menusuk inti Bumi.
     Mustari serta Ong yang mabuk kepayang tak menyadari kalau Sunarti yang memakai daster merah, berdiri satu jengkal di sisinya.  Mereka pun terperanjat lantaran aksi syahdu itu tertangkap basah oleh Sunarti.
     Mustari bersama Ong bukannya minta maaf atau lari pontang-panting tanpa sehelai kain.  Mereka justru mencerca habis-habisan Sunarti.
     "Kamu ini cuma perempuan miskin dan kolot!  Sudah miskin, mandul pula!" Sembur Ong dengan mata memicing tajam sembari menunjuk-nunjuk wajah Sunarti.  Lagak Ong persis tuan tanah yang menghardik budak pencuri satu biji mangga mengkal.
     Mustari kemudian menggenggam tangan Ong untuk pergi dari TKP seronok.  Meninggalkkan Sunarti yang terpaku akibat cemooh kasar.
     Esok hari pada siang, warga Tamalanrea geger bertubi-tubi.  Mayat Sunarti ditemukan mengapung di telaga.  Ia bunuh diri atas perlakuan suami serta penghinaan Ong.
     Setahun setelah kepergian Sunarti, seorang pemuda meraung-raung di telaga.  Ia mengaku melihat sosok pucat dengan gaun merah.
     Tahun-tahun selanjutnya, beberapa pemuda didatangi hantu berbaju merah di telaga.
     Semua remaja putra yang didatangi hantu Sunarti punya kesamaan.  Mereka pasti berambut keriting.
     "Jadi yang dicari Sunarti adalah orang yang berambut keriting?"  Desis Amir mencoba menarik kesimpulan.
     "Ya, sepertinya ia mengira orang berambut keriting itu adalah Mustari, suaminya", tandas puang Suti.
     "Burhan, Arman serta Sanusi memang santri berambut keriting", urai Rasmansyah seraya manggut-manggut.
     Saya berpandangan dengan Hapip.  Ia tersenyum.  Sementara hatiku melonjak girang.  Ini karena Tirta dan Rian berambut keriting.  Berarti dua bocah ini kelak didatangi Sunarti, hantu gaun merah.


Jumat, 28 April 2023

Mana Mataku


Mana Mataku
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Pukul 17.43, saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta dan Andi Rian, tiba di kampus Pesantren IMMIM.  Tadi kami nonton Gremlins di bioskop Cinema Paradiso.  Di bioskop baru ini, kami bertemu dengan Siti Susan, Sukmawati, Siskawati Rahma serta Andi Dian.  Empat santriwati Miss Teen ini bakal meramaikan perayaan 1 Muharram 1406 di Karebosi.  Selepas nonton, kami berpisah arah.
     Suasana pondok menjelang Magrib, tampak sepi.  Santri-santri pasti tengah mandi.  Apalagi, banyak santri pulang.  Maklum, hari ini Kamis.
     Saat mendekati asrama Panglima Polem, sekonyong-konyong muncul Fuady.
     "Tadi Burnam kesurupan".
     "Kenapa bisa?"  Hapip bersoal dengan nada cemas.
     "Tadi kami ke belakang kampus mencari lobi-lobi".
     "Apa hubungannya lobi-lobi dengan kesurupan", gumam Tirta sambil termangu.
     "Pohon lobi-lobi yang dipanjat Burnam ternyata berpenghuni.  Angker.  Tadi sewaktu kesurupan, Burnam berteriak-teriak.  Mana mataku!  Mana mataku!"
     "Di mana sekarang Burnam", Rian bertanya.
     "Dibawa ke rumah sakit Faisal", jawab Fuady dengan mimik sendu.
     Fuady dengan Burnam merupakan kawan akrab.  Sekalipun berpostur kecil, namun, mereka terkenal badung.  Selama sebulan ini seusai santap siang, keduanya rajin ke belakang pondok untuk memetik lobi-lobi.  Kalau sudah mengunyah buah yang rasanya masam tersebut, mereka suka memamerkan giginya yang coklat.

*****


     Bakda Isya, saya, Hapip, Tirta dan Rian ke rumah Uak Biring Kanaya.  Berjarak lebih 300 meter dari Pesantren IMMIM.  Ia tinggal bersama tiga cucunya di belakang kompleks Kavaleri.  Usia Uak tergolong sepuh, mungkin di atas 90 tahun.
     Hikayat seputar Uak cukup menggetarkan.  Ia pendekar dari Sungai Tello yang berjuluk Macan Kumbang.  Pukulannya terlihat lembut laksana sepoi bayu, tetapi, mematikan bak puting beliung.  Uak tersohor sebagai petarung tangguh di kawasan Panaikang, Daya sampai Mandai.  Menurut bisik-bisik, kakeknya dulu pengawal pribadi Arung Palakka.
     "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh", ucapku sembari mengetuk pintu.
     "Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh".
     "Saya Ogi, Uak".
     "Santri IMMIM?"
     "Ya, Uak".
     Pintu kemudian terbuka.  Aroma dupa tercium sebagaimana di pedalaman yang membakar luban di malam Jumat.
     "Ayo masuk", terdengar suara Uak begitu lembut.
     Tirta bersama Rian tampak ragu masuk.  Cahaya remang-remang di ruang tamu sempit turut menambah segan kakinya menjejak lantai rumah.  Apalagi, ini malam Jumat Kliwon yang penuh energi magis.
     "Tidak pantas santri sultan gentar.  Ayo masuk", bisikku pada Tirta serta Rian.
     Tatkala kami duduk di tikar yang dihamparkan Uak, saya langsung memulai pembicaraan.
     "Uak, tadi ada santri yang kesurupan di hutan lobi-lobi dekat danau Unhas.  Ia berteriak-teriak; mana mataku, mana mataku".
     "Itu ulah arwah Lotong, jawara Tamalanrea yang mati mengenaskan 134 tahun silam".
     "Bagaimana kisah Lotong, Uak?"  Hapip mencoba mengorek informasi.
     "Simaklah babad yang kututurkan ini, anak muda", timpal Uak seraya duduk bersila.  Ia menerawang sebelum bibirnya bertitah dengan rangkaian kalimat.

*****


     Apa sesungguhnya yang terjadi dengan Lotong?  Bagaimana riwayat hakiki di malam jahanam tersebut?  Cerita ini bermula dari sebatang flora lobi-lobi setinggi 70 kaki, 200 meter dari kediaman Uak.  Terjadi di malam Jumat Kliwon pada 1851.
     Syahdan, Lotong mengasah kerisnya supaya kekuatan supranatural memancar di Kamis senja ini.  Ketika cahaya Mentari sirna oleh selubung malam, ia menuju ke belantara lobi-lobi.  Tangan kanannya menenteng keris.  Sementara tangan kiri mengepit Strigiformes, burung hantu.
     Di bawah sebatang pohon lobi-lobi nan rimbun, Lotong duduk berlutut sambil merapal jampi.  Ia berkonsentrasi.  Fokus untuk merebut kesaktian di malam Jumat keramat ini.
     Makin lama, kian kencang Lotong mendengungkan mantra.  Butir-butir keringat bercucuran dari raganya.  Ia tak peduli dengan suara jangkrik dari balik dedaunan atau embus angin yang kadang menggoyang ranting-ranting.
     Kala terdengar lolongan anjing, Lotong menengadah.  Bulan terlihat anggun dengan sinar benderang.  Senyum sekilas menghias bibir Lotong.  "Inilah momennya".
     Lotong mengusap-usap kepala burung hantu.  Burung ini dicurinya tadi siang di Fort Rotterdam.  Telah lama ia mendengar burung hantu bernama Strigiformes ini.  Hewan ini milik Sylvia Noordeinde, putri Laksamana Pieter van Leeuw, penguasa kolonial Belanda di Sulawesi.
     La Bekku, guru spiritual Lotong di dusun Lawawoi distrik Sidenreng pernah bersabda.  "Kelak, di sebuah benteng ada burung hantu kepunyaan anak dara bule.  Bila kau menukar matamu dengan mata burung itu, niscaya kau dapat mengamati musuhmu dari jarak seribu meter.  Dari puncak gunung tinggi, kau bisa memandang gadis-gadis dengan buah dada sebesar telur angsa yang sedang mandi di sungai.  Ini ilmu Pakkita Dongi, visi burung.  Belum pernah ada yang memiliki Pakkita Dongi selain leluhurku dari generasi ketiga".
     Lotong terobsesi dengan Pakkita Dongi.  Hatta, suatu hari, ia mendengar ada burung hantu di Fort Rotterdam.
     Kini, burung tersebut ada di tangannya.  Sejurus berikutnya, Lotong meraih keris yang berkilau memantulkan pijar bintang-gemintang.  Ia segera menebas leher burung hantu itu sampai putus.  Lotong lantas mencungkil kedua mata burung tersebut.  Lotong lalu meletakkannya di atas daun kering agar tidak bercampur dengan kerikil atau lobi-lobi masak yang berguguran.
     Lotong kemudian berdiri, menatap langit yang berhias kerlap-kerlip bintang.  Sebelum tengah malam, ia akan menjelma sebagai manusia digdaya dengan pandangan burung.  Ia bakal melihat semut berkeliaran sejauh jarak ringkik kuda terdengar.
     Lotong lantas menusukkan keris ke ujung pelipis untuk mengeluarkan biji matanya.  Perih seolah mencambuk pusat otaknya saat Lotong menarik keluar matanya.  "Tak pantas lelaki sejati mengeluh oleh rasa sakit", bisik Lotong menguatkan tekad.  Darah menyembur dari rongga mata, membasahi muka sampai leher.
     Perlahan, Lotong menunduk menaruh biji matanya di dekat mata burung hantu.  Ia lalu mencungkil lagi matanya yang sebelah.  Kali ini rasa sakit tidak sanggup ditahan.  Lotong mengerang seiring darah yang terus mengucur dari lubang matanya.
     Rintihan kesakitan Lotong rupanya terdengar oleh satu peleton prajurit Belanda.  Mereka ditugaskan untuk menangkap Lotong yang mencoleng Strigiformes.
     Tentara pilihan ini pun bergerak ke arah sumber suara.  Obor dinyalakan sembari bedil dikokang.  Maling itu harus ditangkap malam ini.
     Ketika Lotong meraba-raba mencari mata burung hantu yang tadi diletakkannya di atas daun kering, terdengar derap langkah terburu-buru.  Sedetik berselang, keheningan disentak oleh letusan bedil yang terdengar mirip kentut kerbau.
     "Jangan bergerak!"  Seru seorang serdadu yang memantau pergerakan Lotong.
     Lotong panik.  Musababnya, ritual sakral ini belum rampung saat mereka memergokinya.
     Lotong spontan mengendap-endap untuk mencari mata burung hantu.  Ia kemudian menemukan yang dicari.  Lotong pun bergegas memasang di rongga matanya.  Dengan tubuh berlumur darah, ia membusungkan dada seraya menghadap ke arah satuan elite Belanda.  Lotong menyunggingkan senyum sinis tanda mengejek.
     Satu peleton laskar VOC tersebut lantas membombardir Lotong dari balik pepohonan.  Jagoan Tamalanrea itu tak ciut.  Soalnya, punya ilmu kucing dengan tujuh nyawa cadangan.
     Tiba-tiba Lotong merasa aneh.  Pasalnya, ia tetap tidak dapat melihat kendati mata tersebut sudah terpasang.  Lotong akhirnya tersadar.  Kiranya bulatan yang dimasukkan ke lubang matanya bukan mata burung hantu, namun, lobi-lobi!
     "Bangsat, lobi-lobi sialan!", umpat Lotong geram.
     Di tengah desing peluru yang murka, Lotong merangkak sambil mengais tanah mencari mata burung hantu sekaligus matanya.  Napasnya tersengal-sengal.  Jerit histeris Lotong terdengar bagai raung binatang jalang yang terluka di ujung maut.  "Mana mataku!  Mana mataku!"


Rabu, 29 Maret 2023

Kafan Petir


Kafan Petir
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Satu per satu santri yang menonton televisi di teras masjid ath-Thalabah, berlari menerobos hujan.  Sekarang sudah lewat tengah malam.  Program di TVRI telah tandas.
     Saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta dan Andi Rian, tetap bertahan di beranda masjid.  Saya berbaring bersama Rian.  Hapip bermain gitar.  Sementara Tirta duduk melamun.  Arah matanya sekali-sekala menengok ke lapangan yang rumputnya dipatuk percik hujan.
     Kami malas ke kamar untuk beristirahat.  Apalagi, besok kami vakansi selama sepekan.  Jadi, menggunakan momen ini untuk bergadang sambil menanti hujan surut.
     Angkasa tiba-tiba melontarkan halilintar.  Diiringi guruh yang terdengar bagai benturan dua kaca raksasa.  Sinar terang pun berkedip dari langit.  Menerangi Bumi sekitar tiga detik.  Kami berlarian masuk ke masjid.  Takut disambar geledek susulan.
     "Cemeti dewa itu menyambar tanah lapang", ujar Tirta seraya menunjuk ke tengah lapangan Pesantren IMMIM.
     Saya mengintip ke lapangan.  Tiada apa pun kecuali hujan berderai-derai makin deras.
     "Mestinya tadi kita ke kamar untuk tidur", terdengar suara lirih Rian.
     Kami kemudian membisu di dalam masjid.  Hapip melongok dari jendela memandang gitarnya di emper.  Ia tak sempat membawa gitar tersebut ketika tadi kami berhamburan masuk ke masjid.
     Mendekati pukul 02.00, hujan pun reda.  Mendung yang kehabisan air berarak meninggalkan Tamalanrea.
     "Di mana posisi persis terjangan halilintar tadi, Tirta", tanya Hapip.
     Saya langsung menduga jika Hapip punya ide gila untuk memeriksa bekas paparan petir.
     "Kau mau ke sana melihatnya?"  Tirta bertanya rada-rada ragu.
     "Hujan sudah berhenti.  Langit tampak bertabur bintang.  Muskil ada kilat.  Awan Comonolimbous yang tadi menaungi kampus, sesungguhnya pabrik petir.  Pasalnya, mengandung partikel bermuatan listrik positif serta negatif.  Kalau medan listrik positif dan negatif saling bergesek, niscaya menghasilkan petir sekaligus guntur", urai Hapip.
     Kami berempat akhirnya ke tengah alun-alun dituntun Tirta.
     "Jangan khawatir, induksi gelombang elektromagnetik kilat ini yang mungkin mencapai dua kilometer dari sumber petir, telah aman", sambung Hapip saat kami beriringan.
     "Ini ceruk yang tadi dirajam sambaran halilintar", ujar Tirta.
     Tekstur tanah di lapangan yang ditunjuk Tirta, terlihat berubah.  Ada lubang berdiameter 20 sentimeter dengan kedalaman 10 sentimeter.
     "Energi sambaran petir ini kira-kira mencapai 55 kilowatt per jam.  Pengaruh intensitas paparan halilintar dapat memberikan efek pada peningkatan kandungan nitrogen dalam tanah", gumam Hapip.
     Saya mengerling Tirta serta Rian.  Tidak habis pikir, dari mana ilmu petir ini diperoleh Hapip.  Bukan apa-apa, Hapip ini anak IPS, bukan IPA!
     "Ada sesuatu di dalam celah itu?"  Rian bersoal sembari memperhatikan lubang sambaran kilat.
     Hapip jongkok sambil mengais.
     "Barangkali kayu lapuk yang sudah puluhan tahun mengendap", ujarku.
     Jemari Hapip lantas merogoh ke dalam tanah.  Perlahan, tangan kanannya menarik sesuatu.
     "Apa itu?"  Tirta terkesiap mengamati benda yang dipegang Hapip.
     "Sarung", cetus Rian.
     "Ayo memeriksanya di selasar rayon Panglima Polem.  Ini pasti peta harta karun.  Besok pagi kita menjelma sebagai santri miliuner, bertabur duit", bisik Tirta penuh semangat dengan mata berbinar.
     Kami lalu melepas simpul artefak tersebut yang berbahan rotan.  Pelan-pelan kami membentangkan kain lusuh itu.  Harus berhati-hati.  Soalnya, benda antik ini gampang koyak.  Warna kain tampak coklat.
     "Mengamati komposisinya, kain ini dulu putih.  Berubah coklat akibat terkubur bertahun-tahun", ungkap Tirta.
     "Panjang sekali", seru Rian.
     "Tak ada tulisan atau gambar.  Motifnya nihil.  Kain apa ini!"  Hapip terlihat gusar campur kecewa.
     Saya spontan lemas.  Sebab, mengira ini petunjuk menuju ke harta karun yang tertimbun di pinggir danau Unhas atau di bawah jembatan Tello.  Ini namanya batal jadi santri tajir.  Batal pula mempersunting Brooke Shields dan Emma Samms, dua selebritas Hollywood.
     "Ini di ujung ada aksara Hijaiah", desis Rian.  Kami langsung bergairah.  Impian menjadi crazy rich Tamalanrea sontak berpijar lagi.
     "Saya segera meminangmu, Honey", batinku bergemuruh membayangkan tubuh molek Brooke Shileds serta Emma Samms.
     "Tertera alfabet mim dan sin, cuma dua huruf", imbuh Tirta.
     "Apa maksudnya", tanya Hapip penasaran.
     "Bagaimana membaca mim serta sin ini?  Mas, mis atau mus", timpal Tirta.
     "Bila "mus", mungkin singkatan dari mustajab.  Maksudnya, kain ini mujarab", tukas Rian.
     "Mustari", celetuk Hapip.
     "Mustahil", ketus Tirta.
     "Tunggu dulu, hieroglif ini masih ada sambungannya", kataku.
     "Tidak bisa terbaca lagi, Ogi.  Tintanya terkelupas, tergerus zaman", sahut Rian.
     "Ini tentu manuskrip dengan sistem abjad Pegon (ابجد ڤيڮون atau أبجاْد ڤَيڬْو).  Dulu Arab Pegon mengakar di kerajaan-kerajaan Jawa, Madura dan Sunda.  Arab Pegon merupakan akulturasi dengan budaya lokal kala Islam menyebar ke Nusantara pada abad kesebelas.  Bahkan, Babad Diponegoro dalam Keraton Jogja dicatat dengan Arab Pegon.  Soekarno kemudian melarang pemakaian Arab Pegon pada 1960", ucap Hapip dengan suara bergelora.
     "Berapa panjang kain ini", imbuhku dengan suara serak.
     Tirta serta Rian pun mengukurnya.
     "Lebar 150 sentimeter.  Panjang delapan meter", ujar Tirta.
     Saya terhenyak.  Ini ukuran standar kafan.  Laki-laki butuh delapan meter.  Sedangkan wanita sembilan meter.
     "Ini pasti kafan pria!"  Suaraku terdengar tinggi.
     Hapip, Tirta dan Rian saling bertatap.  Sinar mata mereka berangsur redup laksana senja yang ditinggal Mentari.
     "Kita dikibuli geledek.  Ternyata bukan peta harta karun", sergah Hapip dengan roman muka cemberut.
     Tirta serta Rian melengos.  Keduanya pun meninggalkan koridor Panglima Polem menuju ke bilik masing-masing.  Hapip juga beringsut pergi ke asrama Pangeran Diponegoro.  Saya lantas memungut kafan kumal tersebut sebelum beranjak ke bilikku di rayon Imam Bonjol.

*****


     Bakda shalat Shubuh, saya, Hapip dan Tirta ke bangsal Rian.  Beberapa santri tampak mengemas tas.  Pukul 07.00 nanti, pimpinan kampus akan membagikan surat izin libur.
     Begitu kami memasuki asrama Sultan Hasanuddin, terdengar suara radio milik Rian.  Di ranjang, Rian berselonjor seraya mendengar ceramah subuh Dr AJ Muslim.  Intelektual muda ini punya sertifikat interdisipliner dalam studi Islam dari Universitas Yale di New Haven, Amerika Serikat.
     Saya, Hapip serta Tirta lalu duduk di sisi ranjang.  Rian melirik sekilas tatkala mengetahui keberadaan kami.  Ia kemudian ikut duduk di tepi ranjang.  Kami mendengar dengan takzim kalimat demi kalimat yang dituturkan oleh ustaz AJ Muslim.
     "Dalam ilustrasi sejarah, dideskripsikan bahwa mahkota para sultan dinasti Ottoman, agak aneh.  Mereka tak mengenakan mahkota yang terbuat dari emas, tetapi, gulungan kain yang disebut tughra (طغراء).  Ini bukan kain biasa.  Ini kafan.  Tughra yang menjadi lambang negara ini ditaruh di kepala untuk mengingatkan para sultan bahwa mereka bakal mati.  Jasadnya akan dibungkus dengan kafan yang menempel di kepalanya.  Sultan wajib berjiwa mujahid, rela mati di jalan Allah.  Dalam perang, sultan mutlak berada di garis terdepan menyongsong musuh.  Dengan mahkota kafan, maka, sultan Ustmaniyah tidak boleh sewenang-wenang menerapkan kewenangannya sebagai penguasa.  Ingat yang melilit di kepalamu!  Ingat bahwa itu pula yang bakal membungkus jasadmu jika mati.  Tughra yang melekat di kepala selama memerintah, menjadi simbol kematian yang datang kapan saja.  200 tahun silam, di Nusantara ada panglima perang maupun martir-martir Islam yang berjiwa mujahid menggunakan serban besar.  Kita menyakini bahwa serban tersebut tiada lain kafan.  Sebagai contoh, Bendara Raden Mas Mustahar yang masyhur sebagai Pangeran Diponegoro".
     Ulasan cendekiawan AJ Muslim sekonyong-konyong mengguncang jiwa kami.
     "Astaga...!"  Hapip berseru dengan mata membelalak.  Saya, Tirta dan Rian juga hampir terpekik.  Mulut kami melongo bersamaan tanpa dikomando.  Rupanya nama asli Pangeran Diponegoro adalah Mustahar.  Kami langsung merinding mengenang mim serta sin, dua aksara Hijaiah yang tertoreh di kafan petir dini hari tadi.


Sabtu, 11 Maret 2023

Balas Dendam Buku Harian


Balas Dendam Buku Harian
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Di sore nan sejuk ini, kami delapan mantan santriwan-santriwati Pesantren IMMIM, berjalan beriringan.  Saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta, Andi Rian, Siti Susan, Sukmawati, Siskawati Rahma dan Andi Dian melangkah ke kafetaria di area Klinik Bella.  Wajah kami tergores pilu.  Kami baru saja menjenguk Muammar Dinar, alumnus Pesantren IMMIM.  Tadi pagi ia dilarikan ke Klinik Bella.  Kondisinya belum menentu kendati bukan fase kritis.
     "Siapa pelaku penganiayaan itu", tanya Dian saat kami duduk di sofa kafetaria.
     "Dalam sepekan, lima alumni dihajar sampai bonyok", ujar Rian.
     "Ada yang janggal di kasus penganiayaan ini", gumam Tirta.
     "Apa yang janggal?"  Susan buka suara sembari menatap tajam Tirta.
     "Kelima korban merupakan satu angkatan", jawab Tirta.
     "Semua 5.000 alumni Pesantren IMMIM sudah tahu itu", tukas Hapip secepat kilat.
     "Jangan dulu menyela.  Ini intinya.  Kelima korban ketika kelas V di pesantren merupakan anggota qismul amni yang doyan mengadili secara keras".
     "Saya dulu sering ditempeleng algojo qismul amni.  Seksi keamanan ini tiada lain mimpi buruk di siang bolong", aku Rian dengan mimik sedih.
     "Apalah makna menjadi qismul amni, tetapi, membiarkan tinju menghantam santri", tukas Sukma.
     "Rasanya ini aneh.  Di TKP tidak ada saksi atas penganiayaan yang menimpa Muammar", gumam Siska.
     "Lebih aneh lagi, pelaku bertindak di tempat yang jauh dari pantauan CCTV", kata Susan.
     "Pelaku pasti cerdik sekaligus kuat", ujarku.
     "Jadi motif penganiayaan ini, apa!  Balas dendam?"  Sukma bersoal diiringi gerak tubuh yang gundah.
     Dari delapan anggota geng kami yang anak IMMIM era 80-an, Sukma yang pertama kali menikah.  Sekarang ia hidup dengan suami kedua.
     "Saya tak menyimpulkan ini balas dendam, namun, ini bukan kebetulan.  Mereka satu angkatan di pesantren.  Kelimanya juga anggota qismul amni yang terkenal keji di masanya", ungkap Tirta sambil memandang Sukma.
     "Orang yang menganiaya kelima bekas anggota qismul amni ini pasti kuat secara fisik.  Ia tangguh, terlatih memukul.  Akibatnya, lima eks qismul amni tersebut kini tergolek lunglai di rumah sakit", cibir Rian.
     "Ini namanya, di atas langit masih ada langit.  35 tahun silam mereka petantang-petenteng sebagai gerombolan qismul amni.  Seenaknya mengadili menggunakan kekerasan.  Sekarang di usia lebih 50 tahun, mereka keok dihajar sesosok bayangan misterius", ujar Hapip tanpa mampu menyembunyikan seringai sinis di wajahnya.
     "Saya kira ini balas dendam.  Eksekutornya menanti selama 35 tahun untuk melampiaskan dendam kesumat", tutur Rian.
     "Pertanyaannya, mengapa harus menunggu 35 tahun", cetus Siska dengan paras takjub.  Kerling matanya yang sekilas ke Rian menambah pesona roman mukanya.
     "Di Pesantren IMMIM diajarkan agar jangan terlalu membenci orang.  Sebab, mungkin besok ia menjadi mitra yang menyenangkan.  Hadis bernasehat pula supaya tidak membenci orang lebih tiga hari", urai Dian.
     "Ini 35 tahun dendamnya terpendam.  Begitu turun gunung dari pedepokan, ia langsung menghajar musuh-musuhnya", ujar Rian seraya menggeleng-gelengkan kepala.
     Tatkala saya menyesap minuman Lawoi choco hazelnut, ponselku berdering.
     "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh", terdengar salam.
     "Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh".
     "Ini Ogi?"
     "Ya".
     "Ada sesuatu yang ingin saya utarakan".
     Gelagatnya ini penting.  Saya pun bangkit sembari berjalan ke koridor yang menghubungkan kafetaria dengan apotek.  Sengaja menjauh agar tak ada yang menguping.
     "Saya dulu karateka Black Panther saat di Pesantren IMMIM.  Saya pemegang sabuk biru.  Saya juga punya buku harian sewaktu berguru di pesantren".
     Saya bersemangat mendengar pengakuan ini.  Ia anggota Black Panther.  Ia memiliki pula diari.
     "Tahun berapa tamat di pesantren", saya bertanya.
     "Saya tidak selesai".
     "Oh...".
     "Di sinilah masalahnya.  Saya tak finis gara-gara sering dihukum oleh qismul amni.  Saya cuma sampai kelas II.  Tidak tahan lantaran dipukuli saban malam oleh qismul amni".
     "Saya mulai mafhum arah pembicaraan ini.  Tiap malam kamu pasti mencatat atraksi pemukulan itu di buku harianmu", paparku.
     "Tepat sekali.  Saya menulis berapa kali saya dihardik, ditampar, dipukul, disepak maupun dibanting.  Saya catat nama-nama algojo qismul amni yang menistaiku bak binatang buruan yang mesti ditombak.  Saya mengenal tampang mereka sebagaimana mengenal garis-garis di telapak tanganku!"
     Tiba-tiba saya merasa ada bahaya.  Nada suara orang ini seolah menyimpan amarah besar.  Mulutku langsung terkatup.  Merinding.
     "Ketika keluar dari pesantren, diariku tercecer entah di mana.  Sebulan lalu setelah 35 tahun, saya menemukan buku harian tersebut di tumpukan berkas di loteng".
     "Sebulan sesudah penemuan diari itu, hasilnya lima alumni tergeletak lemas di rumah sakit", celetukku.
     "Saya melukai lima bajingan tengik yang pernah menerorku secara fisik.  Saya cinta Pesantren IMMIM, tetapi, lima santri berbadan besar serupa kerbau bunting tersebut yang memupus impianku untuk tamat di pesantren.  Mereka menyakitiku saban malam.  Mereka wajar dihukum secara setimpal".
     "Kenapa menghubungi saya.  Bukan pengacara supaya kau tak dipenjarakan atau menyerahkan diri ke polisi sebagai bentuk tanggung jawab".
     "Kau punya buku harian.  Kau bisa mengerti mengapa balas dendam ini terjadi".  Ia terdengar menghela napas sebelum menutup telepon.
     Saya paham jalan pikiran orang ini.  Kala ia membaca diari yang dicatatnya 35 tahun lampau, sontak nostalgia pahit menyelubungi pikiran serta hatinya.
     Rangkaian kalimat di buku harian yang ditulisnya 35 tahun lalu, terasa baru terjadi tadi malam.  Dadanya masih sesak oleh penghinaan awak qismul amni.  Ia masih merasakan nyeri di raganya akibat bogem mentah.  Ia serasa dicabik-cabik secuil demi secuil sebagaimana kijang malang yang dikerubuti hyena lapar.  Rasa marah pun bergolak kencang di kalbunya.  Menumbuk-numbuk sanubari.
     Perlahan namun pasti, dendamnya terkumpul.  Menggumpal kemudian berkobar bagai semburan lahar panas gunung berapi.
     Ia tidak dapat menerima perlakuan staf qismul amni yang keterlaluan sekali.  Ini harus dibalas.  Utang tempeleng dibayar tempeleng.  Tendangan dibalas tendangan.  Diari itu seolah menuntun untuk membalas orang-orang yang pernah menzaliminya.  Mereka mutlak dieksekusi karena menghancurkan masa depannya di pesantren.  Qismul amni menghanguskan cita-citanya untuk khatam di Pesantren IMMIM.
     Saya sedih merenungkan kisah insan misterius ini.  Sebuah tunas layu sebelum berkembang lantaran keganasan qismul amni.
     Santri dan qismul amni sesungguhnya wajib menjelma sebagai harmoni apik sebagaimana langit serta bumi yang bersenyawa.  Bukan dua elemen yang saling bertentangan dalam meniti kehidupan di pondok.

Glosarium
Qismul amni merupakan seksi keamanan di OSIS pesantren.  Anggota qismul amni biasanya berbadan besar, kampungan dan buruk rupa.  Mereka terdiri dari kelas IV serta V yang sederajat kelas I dan II SMA.  Remaja dengan mental labil inilah yang mengadili santri kelas I, II, III serta IV.  Anehnya, kekerasan qismul amni terkesan didiamkan oleh pimpinan kampus.  Ada semacam pembiaran.  Bahkan, seolah direstui.


Minggu, 12 Februari 2023

Kunci Surga Hilang


Kunci Surga Hilang
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Hari ini, kami vakansi.  Santri Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, libur selama dua pekan.  Saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta serta Andi Rian punya rencana eksklusif.  Kami akan ke Bone, ke kediaman Rian.
     Rumah Rian terletak di Tanjung Pallette.  Bila berdiri di pesisir pantai Bone, acap terlihat tujuh kapal nelayan milik keluarga Rian.  Dari tujuh kapal, dua terbesar.  Panjangnya 32 meter dengan lebar tujuh meter.  Kedua kapal penangkap ikan tersebut masing-masing bernama Joget Ombak dan Penjelajah Gelombang.  Ayahanda Rian terkenal di Bone sebagai pengekspor komoditas udang ke Amerika Serikat, Uni Eropa serta Jepang.
     Kini, kami kuartet santri IMMIM hendak menuju ke Tanjung Pallette.  Kami sedang menunggu mobil Rian yang dalam perjalanan ke Tamalanrea.
     Bakda Zhuhur, kami berempat menanti di kamar Hapip di asrama Datuk Ribandang.  Di atas ranjang, kami saling beraktivitas santai.  Saya dengan Rian menikmati dendang Michael Jackson.  Hapip bermain gitar.  Sementara Tirta membaca komik serial Viking.
     "Sebelum Ashar mobil sudah sampai di sini", ungkap Rian.  Hapip menoleh memandang Rian sambil tetap bermain gitar.  Sedangkan Tirta tampak asyik menyimak komik.
     Tiba-tiba dari komik yang dibaca Tirta, menyembul cahaya.  Tirta mendorong mundur kepalanya karena heran.  Saya, Hapip dan Rian takjub campur kaget.  Tubuh Tirta kemudian seolah ditarik masuk ke dalam komik.  Saya langsung loncat merangkul Tirta agar tidak terisap ke lorong cahaya yang terpantul dari komik.  Hapip serta Rian memegangku supaya dapat mempertahankan raga Tirta.
     "Pegang besi ranjang!"  Pekik Hapip ke Rian ketika kepala Tirta telah masuk ke buku.  Upaya kami sia-sia.  Sebab, terowongan cahaya dari komik terus menyerap kami.
     Semua akhirnya terasa aneh.  Sekonyong-konyong, kami berdiri di sisi danau.  Di sekeliling telaga, terhampar hutan.
     "Kita sudah tiba di Tanjung Pallette", gumam Tirta.
     "Bukan!" timpal Rian sambil menggeleng.
     "Ini danau Bone?"  bisik Hapip tak yakin.
     "Bukan", sahut Rian.
     "Astaga, pelangi itu mirip di komik Viking yang tadi kubaca.  Kuil berundak tersebut juga tergambar di komik", pekik Tirta.
     "Kita terdampar di dunia dongeng Nordik kuno", sahutku.
     "Di mana kita?" Suara Hapip melemah.
     "Di kerajaan Midgard.  Pelangi itu adalah Bifrost, jembatan yang menghubungkan Midgard dengan Asgard.  Kerajaan Asgard yang terletak di langit merupakan puri para dewa.  Di sana bertahta mahadewa Odin bersama Frigg, sang permaisuri", jawabku.
     Tahu-tahu terdengar bunyi melengking.  Anak panah melesat di dekat kami.  Saya, Hapip, Tirta dan Rian, bertukar pandang.  Ini alamat buruk.  Terserempak sebuah tombak nyaris mengenai kakiku.  Mengapa ada orang mau mencelakakan kami.
     "Ayo lari", ajak Tirta.
     Kami pun berlari menyusuri pinggir danau.
     "Kita ke rimba", pekik Hapip sembari melompati sebatang kongeegen, pohon ek masyhur di Denmark.  Di momen tersebut, serombongan prajurit terlihat mengejar.
     "Lari terus, jangan menoleh", sembur Rian.
     Setelah berlari sekitar 100 meter, Hapip mengarahkan kami menyerong ke kiri.  
Tirta serta Rian melirikku.  Saya mafhum maksud Hapip.  Ia menuju ke tempat asal serangan anak panah dan lembing.  Pengejar niscaya kehilangan jejak kami.  Menyangka kami berlari terus menerobos ke jantung jenggala belantara.
     "Sepertinya di sini tadi mereka menyerang kita.  Sayang, kita tidak leluasa menengok Bifrost serta griya berundak karena pohon-pohon di sini lebat", ucap Hapip.
     "Kenapa mereka ingin membunuh kita", tanya Rian cemas.
     "Entahlah, mereka pasti salah orang.  Menduga kita penjahat.  Padahal, kita remaja baik-baik.  Kita santri IMMIM", timpal Hapip.
     "Jadi Bifrost dan graha berundak itu serupa di komik yang tadi kamu baca?"  Rian bertanya ke Tirta.
     "Persis sekali", jawab Tirta.
     "Apa judul komik itu", tanyaku.
     "Kunci Surga Hilang".
     "Pantas kita diuber.  Mereka pasti mengira kita pencurinya", kataku lesu.
     Silih berganti Hapip, Tirta serta Rian saling menatap.
     "Kita dalam bahaya besar", aku Rian.
     "Tirta, coba ingat bagaimana cerita di komik tersebut sampai kunci Surga bisa hilang.  Siapa pencurinya.  Disembunyikan di mana kunci itu", ujar Hapip.
     "Ada kekacauan di Valgrind, gerbang suci Valhalla akibat pintu tergembok.  Kunci lenyap dicoleng maling", cetus Tirta.
     "Valhalla itu sebuah area pelesir dengan 540 pintu", timpalku.
     Valhalla dideskripsikan indah berkat beratap perisai emas.  Di atap Valhalla bermukim Eikþyrnir, rusa raksasa.  Ada pula Heiðrún, kambing betina sakti.
     Gerbang Valhalla dijaga serigala dan elang.  Di pintu utama Valhalla, tumbuh pohon Glasir dengan daun berwarna emas kemerahan.
     Viking beranggapan bahwa kematian terindah serta agung ialah mati dalam perang.  Tatkala terbunuh, maka, mereka dituntun oleh Valkyrie ke Valhalla.  Kesatria yang tewas tersebut dinamakan einherjar atau pejuang tunggal.  Sementara Valkyrie merupakan dewi bersayap dengan paras cantik.  Kendati ayu, ia terkadang ganas.  Valkyrie ibarat paduan bidadari dan malaikat maut.
     Di Valhalla, para einherjar tetap beraktivitas duniawi.  Siang, mereka belajar bertempur.  Kala malam, einherjar berfoya-foya dengan makan maupun minum sepuasnya.  Di Valhalla, berjejer sofa berlapis mantel dengan hiasan pelat logam.
     Einherjar wajib latihan perang untuk menyongsong Ragnarok.  Ragnarok yang bermakna senja kala para dewa merupakan pertempuran apokaliptik antara dewa-dewi dengan raksasa.  Di Ragnarok, perang melibatkan makhluk supranatural serta kosmologi.
     "Nyawa kita di ujung tanduk.  Hikayat di komik itu jalan keluar kita dari masalah ini", ujarku dengan dada berdebar-debar.
     "Siapa yang curi kunci Valhalla", desak Hapip pada Tirta.
     "Loki Laufeyjarson", tukas Tirta.
     "Di mana Loki menaruh kunci tersebut", tanyaku.
     "Ia membuangnya".
     "Di mana?"
     "Di Arresø di tengah hutan Nordsjælland".
     "Apa itu Arresø?"  Rian bersoal.
     "Loki melemparkan kunci Valhalla ke Arresø di rimba Nordsjælland.  Hingga, airnya menyembur laksana cendawan raksasa.  Begitu tertulis di komik".
     "Apa itu Arresø?"  Rian mengulang pertanyaannya.
     "Barangkali perigi atau sungai", celetuk Hapip.
     "Cobalah ingat saat Loki mencampakkan kunci Valhalla.  Di mana ia berpijak.  Apa yang ada di dekat Loki ketika ia melontarkan kunci ke Arresø", pintaku pada Tirta.
     "Ada bunga nikkende kobjaelde warna ungu", jelas Tirta.
     "Nikkende kobjaelde merupakan flora langka di Denmark.  Nama ilmiah kembang ini yakni pulsatilla pratensis", sahutku.
     "Sekarang kita sudah punya bukti sahih jika kunci Valhalla dibuang ke sumur atau sungai yang di dekatnya ada nikkende kobjaelde di hutan Nordsjælland", papar Hapip.
     "Ssst!  Ada bunyi langkah kaki", bisik Rian.
     Kami segera mengumpet di balik dedaunan dan rumput liar.  Tak berselang lama, lewat pasukan Viking.  Mereka tampak kekar dengan kumis serta janggut lebat.  Rata-rata warna janggutnya seperti rambut jagung.
     Seorang laskar membisik rekannya sambil tertawa.  Ia lantas berhenti seraya mengangkat kain di bagian perutnya.
     Ia rupanya buang air kecil tepat di tempat persembunyian kami.  Air seninya terasa hangat saat terpercik di kulit.  Bau pesing sontak mengusik hidung.  Kami bergeming, tidak berani bergerak walau dikencingi.
     Wajah tentara tersebut lega usai pipis.  Ia lalu berlari ke barisannya.  Sedangkan kami tepekur di balik ranting rimbun dan semak.  Sumpah serapah berdentum-dentum di hati.
     Secara perlahan, kami mengendap-endap ke telaga.  Kami berempat tak saling bercakap.  Pikiran serta batin rasanya terhina gara-gara dikencingi.
     Di bibir danau, kami membasuh muka.  Kami mencedok air ke tubuh.  Terasa segar.  Bau pesing pun sirna.
     "Tadi saya hampir muntah", kata Rian.
     "Saya juga.  Air seninya pekat betul", desis Tirta sembari bergidik.
     Ketika berjalan di samping telaga, mataku tertuju pada sebuah bunga ungu.
     "Tirta!  Ini nikkende kobjaelde.  Apakah ini yang ada di komik?"
     "Ya, ini dia", sahut Tirta dengan rupa berbinar.
     "Berarti Arresø itu nama empang.  Sementara Nordsjælland adalah rimba yang kini melingkupi kita", ujar Hapip sambil manggut-manggut.
     "Di sini Loki melemparkannya", kata Tirta seraya menunjuk ke belukar dekat nikkende kobjaelde.
     "Ogi, cuma kau yang mahir berenang.  Waktu dan tempat dipersilakan", kilah Hapip.
     Tiba-tiba dari arah hutan Nordsjælland, terdengar gemuruh membahana.  Kiranya peleton yang tadi mengejar, balik lagi.  Kali ini dengan legiun, berjumlah ribuan.  Saya, Hapip, Tirta serta Rian, mundur ke tepi danau.  Air telaga terasa dingin, menusuk pori-pori kaki.  Mustahil lari.  Soalnya, di sekeliling Nordsjælland, bermunculan prajurit Viking.
     "Hvor er Valhallas nøgle!"  Terdengar seruan dari seorang yang memegang godam.  Itu pasti Thor dengan mjolnir, palu pemusnah sekaligus jimat kedewaan.
     Hapip, Tirta dan Rian, termangu.
     "Apa yang ia bilang", tanya Hapip.
     "Ia bertanya mana kunci Valhalla", terangku.
     "Vente!"  Pekikku yang membuat angkatan bersenjata tersebut hening terpaku.
     Saya menyuruhnya menunggu.  Saya hendak menyelam mencari kunci Valhalla.
     "Bagaimana bentuk kunci itu", tanyaku pada Tirta.
     Suara Tirta bak desing bayu lantaran gentar dikepung legiun Viking.
     Saya mencebur ke danau.  Menyelam mencari kunci sesuai petunjuk Tirta.
     Mataku tertuju pada sebuah benda semacam batu bata.  Warnanya hitam.  Saya mengelusnya untuk memastikan apakah ini kunci Valhalla.
     Mengamati teksturnya, kunci ini terbuat dari meteorit, benda langit.  Modelnya persegi panjang.  Berarti kunci ini harus diletakkan di sebuah wadah untuk membuka pintu.  Bentuk serta berat mutlak selaras demi menguak gerbang.
     Saya muncul di permukaan telaga.  Menghirup udara sebanyak-banyaknya karena dada terasa sakit.  Saya kemudian berjalan ke ujung dangkal danau.
     "Hvor er Valhallas nøgle", terdengar suara penuh wibawa.  Saya mencari sumber suara.  Dari sesosok individu tua berjanggut putih.  Ia pasti Odin, kaisar Asgard yang merupakan ayahanda Thor, dewa petir.
     Saya meraih kunci Valhalla yang terikat di punggungku.
     "Valhallas nøgle", saya memekik dengan mengacungkan ke atas kunci Valhalla.
     Segenap serdadu Viking langsung terduduk bertopang lutut.
     "Thor, vi er ikke disse nøgletyve.  Loki er synderen", saya sampaikan ke Thor bahwa kami bukan pencuri kunci Valhalla.  Loki pelakunya.
     "Vi ved det allerede", seru Thor.  Ternyata Thor tahu siapa pencurinya.
     Saya lantas melontarkan kunci tersebut ke Thor yang berjalan ke arahku.  Di momen yang sama, menyembul cahaya dari kunci Valhalla.  Sinar itu mencipratkan seberkas kilau terang sebesar tali.  Makin lama, kerlap kemilau tersebut kian membesar.  Berpusing mengelilingi kunci Valhalla yang tengah melayang di udara.
     "Itu lorong cahaya seperti yang tadi keluar dari komik", seru Tirta.  Kami berempat lalu tersedot saat terdengar gemuruh dari para laskar Viking; "mange tak", terima kasih.

*****


     Kami tersungkur di atas ranjang Hapip.  Berimpitan karena tiba bersamaan dari alam fiktif berlatar babad Viking.
     "Kita sampai lagi di rayon Datuk Ribandang setelah terlontar ke dunia dongeng", tandas Hapip sembari berdiri.  Ia meraih gitarnya yang ada di sisi ranjang.
     "Saya mau ke sumur kibar (senior).  Ingin mandi.  Badanku masih berbau kencing Viking", tukas Tirta.
     Dari arah pintu, muncul Iwan, sopir yang bakal membawa kami ke Bone.
     "Saya sudah 10 menit menantimu.  Kamu dari mana saja", tanya Iwan ke Rian.
     "Berpetualang di Skandinavia mencari kunci Surga", sahut Rian dengan senyum tipis.


Rabu, 01 Februari 2023

Pergi Satu demi Satu


Pergi Satu demi Satu
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Hari ini Rabu, 1 Februari 2023, cakrawala tampak indah tanpa mendung di momen fajar merekah.  Angkasa nan cerah seolah menyemangatiku menyongsong pagi yang cemerlang.  Saya tiba di rumah setelah joging tepat pada pukul 06.05.  Tiap pukul 05.30, saya berlari empat kilometer.  Sesampai di rumah, saya push up antara 130-150 kali.
     Saat hendak mandi, telepon berdering.  Dari Ahmad Tirta.  Warta apa gerangan yang membuatnya menelepon sepagi ini?
     "Amrullah meninggal", terdengar suara lirih Tirta.
     Saya terkesiap.  Tak berdaya mengeluarkan sepatah kata.
     "Ia wafat tadi subuh", lanjut Tirta.  Saya tetap tidak sanggup mengucap kata-kata.  Tirta kemudian menutup telepon.
     Saya terpaku.  Dalam sepekan ini, tiga rekanku tutup usia.  Pada Jumat, Suhaib meninggal akibat serangan jantung.  Ahad, Gunadi menyusul.  Hari ini Rabu, giliran Amrullah.
     Suhaib, Gunadi dan Amrullah merupakan teman seangkatan di Pesantren IMMIM.  Ketika masih tercatat sebagai santri pada 1980-1986, saya, Hapip Berru, Suhaib, Gunadi serta Amrullah sering lari pagi saban Jumat.  Kami berlari sampai jembatan sungai Tello.
     Memori bersama Suhaib, Gunadi dan Amrullah buyar saat telepon kembali berdering.  Kali ini dari Andi Rian.
     "Amrullah tadi subuh wafat di Kalimantan".
     "Ya, saya sudah dengar dari Tirta tiga menit lalu.  Coba beri tahu Hapip.  Barangkali ia belum dengar kabar duka ini".
     "Saya sudah sampaikan", tandas Rian.
     Enam hari lalu ketika Suhaib meninggal, Rian yang pertama kali memberitahuku.  Kematian Suhaib teramat tragis.
     Kamis sore Suhaib ke Jakarta untuk menandatangi kesepakatan penyelenggaraan proyek pada Jumat pagi.  Tatkala bersiap ke Jakarta, Suhaib membisik istrinya yang tergolek di rumah sakit.  "Besok sore saya sudah di sini lagi", ucapnya sambil membelai wajah sang istri.  Di Jakarta saat sarapan di hotel, Suhaib kena serangan jantung.
     Istri Suhaib tak kuat mendengar berita memilukan mengenai kematian suaminya.  Akibatnya, ia pun menghembuskan napas terakhir.  Masalah tidak habis, justru melahirkan kesedihan baru.  Soalnya, tiga hari setelah Suhaib bersama bininya wafat, putri tunggalnya menikah.
     Ketika resepsi dilangsungkan, mempelai wanita tak kuasa menahan air mata.  Banyak undangan terharu dengan mata sembap.  Pesta menjelma teater duka-cita.
     Kematian Gunadi juga mengiris perasaan.  Ia kena kanker tenggorokan.  Lehernya bolong di bagian depan gara-gara mutasi gen pada sel-sel tenggorokan.  Di hari-hari akhir hidupnya, dengus napasnya seperti hewan yang digorok.  Suaranya mirip rekaman di kaset rusak.
     Beberapa menit sebelum Gunadi berpulang, saya, Hapip, Tirta serta Rian membesuknya di Klinik Bella.  Kami datang pada Ahad sore selepas hujan lebat.  Kondisi Gunadi sangat parah.  Ia bisa bernapas berkat alat bantu pernapasan.  Maklum, kadar oksigennya rendah dalam aliran darah.  Gunadi dikitari selang dan alat-alat medis.
     Gunadi yang mukanya dipasangi kanula hidung yang terhubung ke konsentrator oksigen, dikelilingi lima putra-putrinya yang masih lajang.  Gunadi menghadapi cobaan berat.  Sebab, sebulan lalu istrinya mati disambar truk.
     Tahun lalu, saat bertemu Gunadi, raganya terlihat ringkih.
     "Ogi, kau satu-satunya sahabatku yang tidak pernah merokok ketika di pesantren", desis Gunadi hampir tak terdengar.  Tangannya erat menggenggam lenganku.
     "Kau lihat sekarang keadaanku.  Sakit-sakitan.  Dulu saya perokok berat, kini saya didera kanker tenggorokan.  Paru-paruku pun rusak.  Hingga, membuat tubuhku memproduksi lendir secara berlebih", sambung Gunadi.  Tutur bernada keluhan yang meluncur dari mulut Gunadi, ibarat penyesalan yang tiada berampun.
     "Saya masih ingat saat kita joging di Jumat pagi.  Tanpa aba-aba, kau kencing di atas jembatan sungai Tello", Gunadi berusaha menghangatkan suasana dengan nostalgia selama di Pesantren IMMIM.  Matanya tampak sebening mata gadis kasmaran begitu terkenang masa-masa di pondok.  Saya cekikikan membayangkan peristiwa pipis di jembatan.  Kami tidak pernah mampu terlepas dari kenangan tentang kebandelan atau ketololan selama berstatus santri.
     37 tahun sesudah tamat di pesantren, kini Gunadi terbujur lunglai di rumah sakit.  Hatinya pasti hening setelah ditinggal mati oleh istrinya.  Pikiran Gunadi niscaya kalut pula, terombang-ambing tak menentu.  Lima anaknya belum ada yang berkeluarga.  Ini beban berat di ujung hayat.
     Sewaktu Gunadi yang terbaring mengetahui kedatangan saya, Hapip, Tirta serta Rian, bola matanya membesar.  Ia mau berbicara, tetapi, dadanya bak ditumbuk godam.  Setetes air mata meleleh, mengalir ke dekat telinganya.  Putri bungsunya menyeka dengan tisu.
     Kala meninggalkan Klinik Bella, saya, Hapip, Tirta dan Rian, cuma membisu di tengah terpaan angin senja.  Kami mafhum, durasi hidup Gunadi tersisa sedikit.  Pencabut nyawa tinggal menanti detik penentu sebelum beraksi.  Gunadi mustahil bersembunyi dari maut.  Kematian bakal menghampiri siapa saja.  Semua dapat giliran!
     Ketika menjejakkan kaki di koridor, mendadak kami diminta balik lagi oleh Ramli, putra sulung Gunadi.  
     "Ajal Bapak sudah dekat".
     Saya, Hapip, Tirta serta Rian bergegas ke kamar Gunadi.  Kami masih menyaksikan Gunadi bernapas tiga kali dengan jeda panjang.  Napasnya lantas hilang.  Matanya sayu tidak bercahaya sebelum terkatup selamanya.  Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

*****


     Kematian Suhaib, Gunadi maupun Amrullah, kian menyusutkan jumlah Angkatan 8086.  Saat tamat, kami berjumlah 102 alumni.  Sekarang tersisa 78.  Ini berarti, 24 yang telah almarhum.  Mereka pergi satu demi satu.
     Saya, Hapip, Tirta dan Rian, tak bisa ke Kalimantan Timur untuk melayat Amrullah.  Kami hanya mendoakannya memperoleh Firdaus, tempat termewah serta termegah di Negeri Akhirat.
     Bakda shalat Magrib, saya terus terkenang perjalanan terakhir Amrullah menuju ke Tuhannya.  Saya tepekur di antara jemaah yang shalat sunat, mengaji dan mengobrol.
     Saya memandang sajadah.  Melamunkan keberadaanku di dunia.  Apakah selama ini saya sudah berbuat bajik demi kebahagiaanku di Akhirat atau memperlakukan dunia sebagai berhala?  Mungkinkah saya hamba Allah atau penganut hedonisme yang menjadi tuan karena berduit?
     Apakah selama ini sepak-terjangku tidak merugikan orang-orang di sekitarku.  Apakah kehidupanku luhur sekaligus tegak lurus serupa abjad alif (ا).  Apakah saya merunduk laksana aksara wau (و) di depan hukum.  Apakah saya mengayomi siapa pun tanpa pandang bulu.  Menopang yang besar atau kecil sebagaimana huruf tsa (ث).
     Kalau saya punya pahala berkat kebaikan yang kukerjakan, sebesar apa pahalaku?  Apakah pahalaku masih sekantong atau berkarung-karung?  Jumlah pahala merupakan rahasia Ilahi laiknya misteri sejumlah kasus di Indonesia.  Dewasa ini, muncul teka-teki tak terpecahkan perihal asal-usul Wali Songo, kisah asmara Ken Dedes-Ken Arok serta ijazah palsu.
     Tiada seorang pun paham seberapa besar pahala di sisinya.  Pahala yang menjadi bekal di Alam Hakiki tidak pernah dikalkulasi.  Sebab, berwujud nonmateri.  Apalagi, pahala cuma bisa ditransfer untuk dikonversi ketika tiba di kuburan.
     Kini, siapkah saya dipanggil?  Apakah rukuk dan sujudku telah maksimal sebagai tameng dari jilatan api Neraka?  Apakah pahalaku sudah genap sebagai tiket menuju Surga?


Kamis, 26 Januari 2023

Sentuhan Nabi Khidir


Sentuhan Nabi Khidir
Cerpen Abdul Haris Booegies


     "Nabi Khidir merupakan sosok yang masih berjalan-jalan di muka Bumi", tutur cendekiawan muda AJ Muslim saat tampil sebagai penceramah.
     Malam ini, saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta, Andi Rian bersama sekitar 30 santri ke Gedung IMMIM.  Bahkan, ada 20 santriwati IMMIM dari Minasa Te'ne, turut hadir.  Kami merayakan Maulid Nabi Muhammad.  Gedung IMMIM terasa sempit sekaligus pengap di antara undangan yang berkisar 400.
     Ketika acara bubar, saya mendekati AJ Muslim.  Intelektual ini memiliki sertifikat interdisipliner dalam studi Islam dari Universitas Yale di New Haven, Amerika Serikat.
     "Mengapa Nabi Khidir masih hidup?"  Saya meminta konfirmasi.
     AJ Muslim tersenyum mendengar pertanyaanku.  Tiba-tiba ustaz Sabir menepuk-nepuk bahuku dari belakang.
     "Ini Ogi, santri IMMIM.  Ia pengasuh majalah dinding Superpower", terang ustaz Sabir sambil berlalu usai melempar senyum ke AJ Muslim.
     "Kita tentu masih butuh Nabi Khidir.  Eksistensi Nabi Khidir merupakan wujud kasih sayang Allah kepada hambanya.  Tidak mustahil Nabi Khidir mendatangi saya atau siapa saja untuk menghindarkan seseorang dari musibah besar.  Misalnya, kecelakaan yang berskala mematikan", papar AJ Muslim.
     "Hukum alam senantiasa terpaut dengan sebab-akibat.  Dalam kehidupan, kita dihadapkan pada perkara riil.  Solusi yang kita lakukan selalu visibel, bisa diurai kendati bergumpal-gumpal seperti benang.  Sedangkan Nabi Khidir menampilkan hal gaib, sesuatu yang di luar nalar.  Tak terbaca akal, tidak tersimak pikiran.  Nabi Khidir menawarkan solusi nonfisik, metafisika".
     "Contohnya?"  Terdengar suara Hapip yang tahu-tahu berdiri di samping kiriku.  Saya menoleh ke kanan, melihat Tirta serta Rian yang tengah menyimak deskripsi AJ Muslim.
     "Dalam surah al-Kahfi, terceritakan saga Nabi Khidir.  Ia melubangi perahu yang ditumpanginya bersama Nabi Musa.  Nabi Khidir malahan membunuh seorang pemuda", ungkap AJ Muslim.
     "Nabi Khidir membolongi bahtera karena sebentar lagi tiba seorang raja serakah, yang tak menghiraukan nasib rakyat miskin.  Diktator picik nan licik ini merampas semua perahu yang tidak rusak.  Di lain momen, Nabi Khidir membunuh remaja gara-gara anak itu kelak melukai orangtuanya secara fisik maupun psikis.  Ia bakal memaksa ayah-ibunya yang mukmin menjadi kafir sebagaimana dirinya.  Jadi, Nabi Khidir memotong mata rantai yang dapat menimbulkan kerugian lebih besar.  Ini solusi metafisika yang kini sekali-sekala kita perlukan di tengah dominasi teknologi dan sains".

*****


     Rian bersungut-sungut saat saya, Hapip serta Tirta meninggalkan Gedung IMMIM.  Santri lain sedari awal pulang ke pondok.  Rian menggerutu karena kami harus berjalan kaki lebih 500 meter ke pojok Timur Laut Karebosi.  Kami berniat menunggu mikrolet (petepete) di ujung Jalan HOS Cokroaminoto dengan Jalan Jenderal M Yusuf.
     "Sekarang pukul 22.35", ujar Tirta tatkala kami menjejakkan kaki di sudut Karebosi.
     Tak berselang lama, muncul mikrolet yang menuju ke Daya.  Kami pun senang.  Akhirnya terangkut ke Pesantren IMMIM di Tamalanrea.
     Ketika kami hendak naik ke mobil, seseorang merebut majalah Lektura yang saya kepit.  Ia kemudian berlari menjauh.  Saya segera mengejarnya dibuntuti Hapip, Tirta dan Rian.  Kami memburu lelaki iseng tersebut serupa dikomando oleh panglima dalam pertempuran berdarah-darah melawan kebatilan.
     Pencuri itu tampak tua, berjanggut putih panjang, mengenakan serban serta gamis.  Ia lantas membuang Lektura ke trotoar.  Sementara orang tua tersebut meloncat ke mobil pick up yang kebetulan lewat.  Ia sempat melambai dengan wajah tanpa ekspresi.
     "Siapa itu?" Desis Hapip saat saya memungut Lektura.
     "Entahlah, ia mendadak muncul merebut majalahku laksana datang dari keterasingan malam".
     "Sudah uzur, berjanggut nyaris sampai di pusar, memakai serban dan berkemeja Arab, tetapi, kelakuan persis preman pasar.  Kau boleh tidak percaya, mungkin hatinya terbuat dari kerikil Neraka", dengus Tirta sembari mendongak menyaksikan malam yang tanpa Bulan.
     "Barangkali ODGJ", bisik Rian.
     "Kalau ODGJ, kenapa ia rapi.  Janggutnya juga terawat, tak acak-acakan mirip janggut kambing", jawabku setelah sibuk serta riuh menjelang tengah malam.  Benak terasa keruh, hela napas agak kacau.

*****


     Kami kembali ke penjuru Timur Laut Karebosi.  Menapak malam dingin yang makin lengang.  Kami melanjutkan menanti kendaraan.  Mikrolet yang ingin kami tumpangi tadi, sudah pergi.
     Rian terlihat mengomel.  Ia dongkol lantaran lelah dan mengantuk.  Saya, Hapip serta Tirta tidak hirau dengan sikap uring-iringan Rian.  
     Mikrolet lain akhirnya singgah di depan kami dari arah Jalan Jenderal Sudirman.  Kami bergegas naik berbareng.
     Tak ada penumpang lain selain kami berempat.  Tirta bersandar seraya berselonjor.  Sedangkan Rian merebahkan diri.  Boleh jadi ia mau kentut demi menenteramkan diri setelah puas menggerundel.  Kami berempat memilih diam.  Mulut seolah malas berbicara.
     Selepas melewati jembatan Sungai Tello, mikrolet melambat.
     "Ada kecelakaan", terdengar suara sopir di keheningan.
     Kami empat santri IMMIM sontak terpaku, bagai terkenang mimpi yang belum tuntas.  Kami berusaha mengintip dari balik kaca depan mobil.  Mata kami menyiratkan resah.  Tidak ada suara di antara kami, kecuali napas berat.  Sekitar 20 meter di depan, tampak puluhan orang sedang menolong korban.
     "Ini kecelakaan maut.  Pasti ada yang mati", cetus sopir kala jarak kian mendekat ke TKP.
     "Mikrolet bertumbukan dengan truk dari arah berlawanan", seseorang berseru di pinggir jalan.
     Mikrolet yang kami tumpangi bergerak pelan melewati bangkai mobil yang bertabrakan.  Mikrolet remuk, sementara truk peok di bagian depan.  Ada genangan darah di aspal.  Percik-percik darah terciprat pula di kendaraan nahas itu.  Sayup-sayup, berdengung lolongan halus.  Korban pasti kesakitan.  Rasa sakit tersebut jelas tak kunjung sembuh sampai fajar merona di ufuk Timur.
     "Mikrolet itu yang tadi hampir kita tumpangi", celetuk Rian memecah kesunyian di dalam mikrolet.
     "Betul, itu mikrolet yang tadi", tegas Hapip ibarat tersentak dari tidur pulas.
     "Untung kita tidak menumpang di mikrolet tersebut.  Kita nyaris diblender truk", timpal Tirta yang merasa lega terhindar dari maut.
     "Andai tak diusik orang tua berjanggut putih, niscaya kita sudah wassalam dari dunia", tandasku.
     Begitu ucapanku menggema tentang "orang tua berjanggut putih", kami terkesiap.  Sekonyong-konyong, kami saling berpandangan.  Melongo oleh sebuah peristiwa yang tadi dialami di pojok Timur Laut Karebosi.  Pikiran kami saling terkait pada figur abadi dengan solusi metafisika.  Serempak kami bergumam; "Nabi Khidir".


Minggu, 22 Januari 2023

Cinta Rembulan


Cinta Rembulan
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Sabtu malam pada 19 Januari 1985 ini, saya, Hapip Berru bersama lima rekan bertugas sebagai piket malam.  Kami meronda di dalam kampus agar Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM nihil dari kejahatan.
     Tugas piket yaitu berpatroli tiap jam di seputar pondok.  Kami berputar mengamati seluruh asrama seraya menyorotkan cahaya senter.  Maling tentu takut dengan sorot lampu, tetapi, kami lebih gentar dengan mereka.
     Selepas pukul 00.00, saya bersama Hapip duduk di serambi rayon Panglima Polem.
     "Ke mana Amri, Budi, Ali, Mustari dan Mustafa?"  Saya bergumam sembari menoleh ke kanan-kiri.
     "Barangkali mereka ke bilik masing-masing.  Tidak kuat bergadang", desis Hapip yang katup matanya mulai berat oleh kantuk.  Ia pun bersandar di dinding.
     "Kita dua orang saja yang terjaga sekaligus berjaga di pondok", timpalku sambil berdiri.  Saya melangkahkan kaki ke dekat Superpower.  Majalah dinding ini tertempel di dinding Barat asrama Panglima Polem.
     "Kapan edisi majalah dinding ini diganti", tanya Hapip seraya berdiri.
     Saat mau menjawab, langit sekonyong-konyong benderang.  Saya bersama Hapip langsung mendongak.  Pemandangan aneh terlihat.  Bulan bergerak turun.  Saya melangkah maju ke tengah lapangan di depan masjid.  Ingin memastikan, benarkah Bulan jatuh?
     Bulan terus turun seolah hendak menimpa pesantren.  Pohon-pohon akasia di sekeliling lapangan merona elok ditimpa cahaya Bulan yang terus merapat ke Bumi.  Saya memilih mundur ke tempat semula.  Sementara Hapip tampak bingung serta cemas.
     Tatkala Bulan menyentuh rumput lapangan, mendadak berkamuflase.  Menjelma seorang wanita.
     Saya mengawasi perempuan itu sembari sekilas menengadah ke angkasa yang buram dan suram.  Ribuan bintang tak sanggup menerangi malam yang gelap pekat.  Ini lantaran Bulan sekarang terdampar di Pesantren IMMIM.
     "Ayo kita ke kamar saja untuk tidur", pinta Hapip yang mulai tidak nyaman dengan situasi.
     "Kita bertahan di sini!  Kita ini piket!  Ini tugas kita menghalau penyusup yang masuk ke pesantren!"
     Wanita yang raganya dililit kain putih tersebut kemudian menatap kami.  Tenggorokanku terasa kering ketika ia berjalan ke arah kami.
     Terbersit kegundahan di pikiranku.  Bagaimana kalau dewi ayu ini sesungguhnya monster.  Jotosannya mampu membuat kami tergeletak menjadi bangkai.  Ini mengerikan.  Akibatnya, meregangkan segala macam bulu di badan.  Untung tak pipis di celana.
     "Mestinya tadi saya mendengar usulmu supaya ke bilik saja untuk tidur", bisikku pada Hapip.
     "Terlambat", sesal Hapip.
     Perempuan itu makin dekat.  Wajahnya memancarkan pesona.  Ia tersenyum.  Tanpa disadari, wanita tersebut telah berdiri di depan kami.  Aroma wangi menyembur dari tubuhnya.
     "Mana Ahmad Tirta serta Andi Rian?"  Terdengar suaranya begitu lembut, sedikit manja.
     Saya dengan Hapip saling berpandangan.  Mengapa perempuan jadi-jadian ini mengenal Tirta dan Rian.
     "Biasanya mereka bersamamu", sambungnya bagai mendesah.
     "Keduanya masih tidur di bangsal", Hapip memberi jawaban.
     "Kalian mau membantuku untuk memanggilkannya?"
     "Tugas kami sebagai piket ialah membantu tamu.  Kami akan memanggilnya bila kamu memberi tahu identitasmu?"  Suara Hapip terdengar menelisik serupa menginterogasi pelaku kejahatan.
     "Saya Rembulan, lampu Bumi di malam hari.  Rotasiku juga menjadi sumber penanggalan Qamariah".
     "Ada keperluan apa mencari Tirta serta Rian", tanyaku.
     "Saban malam keduanya membuat pikiranku berkecamuk, kalbuku berdenyut, jantungku berdegup dan jiwaku bergetar.  Detak nadiku senantiasa mengikuti alur hidupnya yang terentang luas", tutur wanita itu dengan paras yang gemerlap oleh aura cinta nan murni.
     Saya cekikikan mendengar omongan perempuan ini.  Saya menoleh ke Hapip yang tersipu sambil menunduk sejenak.
     "Kenapa merindukan dua anak ingusan yang belum disunat.  Mengapa bukan saya atau Ogi", Hapip berimprovisasi seraya menunjukku.
     "Kalian bukan tipeku!"
     Saya menggelegak menyimak celoteh wanita ini.  "Kalian bukan tipeku", terdengar melecehkan harga diri.  Mirip tusukan lembing ke ulu hati.  Apakah makhluk titisan ini tidak mengenal siapa saya di Pesantren IMMIM.  Merasa tersinggung, saya mundur selangkah.
     "Kau datang saja nanti siang.  Ada piket harian yang dapat membantumu bertemu Tirta serta Rian", ujar Hapip.
     "Saya tak bisa jika siang".
     "Matamu rabun kalau siang", timpalku sembari menyeringai.  Perempuan tersebut spontan memandangku.
     "Kau tidak becus melihat bila siang.  Sinar Surya mengurangi ketajaman pandanganmu.  Kau tak dapat pula turun ke Bumi jika siang.  Kesempurnaanmu hanya ada pada malam, itu pun sekali sebulan, pada purnama", sergahku.
     "Kata-katamu melukai hatiku", cerocos wanita jelmaan Bulan tersebut.  Mukanya sontak layu, bak dedaunan kering yang dipermainkan sang bayu.
     "Terima kasih atas keramahanmu.  Saya pamit undur diri.  Meninggalkan Bumi menuju ke Matahari", kata perempuan itu sambil berlalu.
     Kala berjalan ke tengah lapangan, wujud wanita tersebut perlahan beralih rupa menjadi Bulan.  Ia lantas melesat, membubung ke langit.  Cakrawala yang kelam pekat berangsur terang oleh sinar Bulan.
     "Apa yang baru saja terjadi?"  Hapip bertanya seolah tersadar dari hipnotis pesulap jalanan.
     "Bulan mendarat di Pesantren IMMIM", jawabku enteng.
     "Perempuan itu mengancam kita.  Mengintimidasi untuk memperburuk keadaan.  Ia meneror kelangsungan hidup di jagat raya", tutur Hapip.
     "Maksudmu?"
     "Wanita tersebut mengatakan; saya pamit undur diri.  Meninggalkan Bumi menuju ke Matahari".
     "Tentu saja Bulan terus bergerak ke arah Matahari.  Tiap tahun Bulan menjauh 3,7 cm dari Bumi.  Saat Bumi diciptakan, Bulan cuma berjarak 22.500 km dari Bumi.  Dewasa ini jaraknya mencapai 402.336 kilometer.  Ini berarti Bulan terus mendekat ke Matahari", ungkapku.
     "Apakah kamu pernah membaca ayat kesembilan surah al-Qiyamah?"  Hapip bersoal.
     "Tentu saja.  وَجُمِعَ الشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُۙ (Matahari dan Bulan dikumpulkan)", tandasku.
     "Makna dikumpulkan di ayat itu yakni Bulan tersedot oleh gravitasi Matahari.  Bulan laksana cadas yang dilontarkan ke Matahari.  Bulan terus menjauh dari Bumi sampai cahayanya tidak terlihat.  Kian dekat ke Matahari, makin cepat laju Bulan.  Bulan kemudian hancur ketika menabrak permukaan Matahari.  Inilah maksud al-Qiyamah ayat kesembilan; Matahari serta Bulan dikumpulkan.  Kalau ini terjadi, niscaya Kiamat sudah di ambang pintu", Hapip berkhotbah di tengah malam.  Saya tiba-tiba merinding.  Ini adegan beku di sepotong malam yang resah.

*****


     Pukul 10.00, saya dibangunkan piket rayon.  Piket malam harus masuk kelas untuk pelajaran ketiga dan keempat.
     "Ogi, tadi pagi seluruh 550 santri dikumpulkan oleh pimpinan kampus di lapangan.  Ada warta yang teramat mendebarkan", kata Syahrul yang datang menemuiku.
     "Kabar apa", tanyaku.
     "VOA, BBC, Deutsche Welle maupun Radio Australia terus menyiarkan informasi dari NASA serta astronom amatir terkait fenomena ganjil ini", lanjut Syahrul yang merupakan reporter majalah dinding Superpower.
     "Apa beritanya?"
     "Bulan kian dekat ke Matahar
i".


Amazing People