Jumat, 30 April 2021

Petualangan ala Santri


Petualangan ala Santri
Oleh Abdul Haris Booegies


     Saya mengalami kejutan demi kejutan selama bulan pertama di Pesantren IMMIM pada 1980.  Saat berjejak pertama kali, saya menganggap santri sebagai insan agamis.  Menilai mereka andal berperilaku santun, jujur dan rapi.
     Tersembul rasa galau ketika terpampang ada santri repot diatur.  Mereka malahan jorok.  Ke toilet tanpa membawa air.  Akibatnya, bau kakus menusuk hidung.
     Saya terkadang takut ke peturasan di sisi asrama.  Sebab, menyengat.  Lalat beterbangan seolah berpesta-pora.
     Umpatan kotor yang dikemas halus pun terdengar.  Untuk mendeskripsikan perbuatan negatif atau kejengkelan, mereka mengumpat dengan kata "sariqun" (pencuri).  Tidak dipakai istilah qalilul adab (kurang ajar).
     Santri baru bisa kaget kalau dicemooh dengan sariqun.  Ia bukan pencuri, tetapi, dicerca dengan kata sariqun.  Awalnya saya kira istilah ini kreativitas santri tsanawiyah.  Ternyata bukan, kata sariqun juga lazim digunakan santri aliyah.
     Seluk-beluk pesantren yang jauh dari bayangan saya, tentu menimbulkan rasa dongkol.  Beginilah jadinya Kampus Tamalanrea.  Orangtua memasukkan ke pesantren anaknya gara-gara nakal.  Hingga, anasir buruk tersebut menjadi tantangan bagi para ustaz.  Mereka akhirnya dicas dengan energi mulia nan terpuji.
     Secara perlahan, warna-warni rutinitas model pesantren makin terpatri dalam diri.  Saya beradaptasi agar dapat bergaul bersama.  Tanpa disadari, saya justru dituding menimbulkan sejumlah keonaran.  Korban berjatuhan sekalipun tidak KO.  Soalnya, saya sering mengajak teman bolos.  Bolos dari kelas maupun bolos meninggalkan pondok.
     Di suatu malam saat kelas I SMA pada Sabtu, 15 Oktober 1983.  Saya, Ahmad Natser, Muhammad, Irsyad Dahri, Zulkifli serta Sadoruddin, bersepakat.  Selepas Isya, kami lompat pagar menuju kota.  Saya bersama Zulkifli menunggang vespa.  Mitra lain naik bis tingkat.
     Zulkifli tancap gas.  meliuk-liuk di Jalan Urip Sumoharjo.  Tak jauh dari jembatan penyeberangan dekat Jalan Pongtiku, kami disambar mobil.  Kakiku terserempet, terasa nyeri.  "Kakiku putus!", saya berseru dengan mimik kecut lantaran tersimpan gundah di hati.  Zulkifli hanya menoleh sekejap lantas membalap kembali.  Saya pincang ketika tiba di New Artis.
     Di bioskop, bertemu Amiruddin (Angkatan 85).  Menjelang tengah malam, kami tujuh santri meramaikan midnite show.  Film yang ditonton ialah Terminal Island.  Film drama-thriller produksi 1973 ini dibintangi Marta Kristen, Ena Hartman, Barbara Leigh dan Tom Selleck.  Film ini dilengkapi adegan gadis-gadis yang melepas kutang.

Es Teler
     Pukul 02.00 pada Ahad, 16 Oktober 1983, kami keluar bioskop.  Zulkifli, Irsyad serta Amiruddin pulang naik vespa.  Saya, Natser, Muhammad dan Sadoruddin memilih berjalan karena tidak ada mikrolet (petepete).  Jalan sepi, sunyi tanpa deru kendaraan.  Seolah di ujung kegelapan ada sesosok prajurit al-maut yang hendak menghadang.
     Langkah kaki diayun untuk menempuh jarak sekitar 10 km.  Terdengar gemerisik dedaunan di sisi jalan serta gemeletak kerikil yang ditendang.  Tatkala asyik berjalan, Muhammad menawarkan usul yang memacu riak getaran di kalbu.
     "Bagaimana kalau kita ke Pantai Losari.  Minum es teler".
     "Ide bagus.  Ayo ke sana", sahut Natser sambil menghentikan langkah.
     Kami memutar arah menghadap ke barat.  Jarak pantai dari tempat kami berjalan lebih dua kilometer.  Terbayang panorama pantai dengan bayu sepoi-sepoi.  Terbayang es teler dengan aroma wangi.  Menikmati es teler di pantai pasti mencairkan hati yang sedang beku.
     Di pantai, yang kami temukan cuma suasana lengang.  Keramaian telah bubar, tak tersisa sama sekali.  Tiada lagi penjual es teler.  Ini sudah lewat pukul 03.00.  Kami hanya menikmati kesialan di tengah desir ombak.  Perut lapar.  Rasa kantuk menyerang.  Bahan obrolan juga habis sejak di perjalanan.
     Sebagai nomad dadakan, kami menanti fajar mengusir gelap malam.  Berharap ada penjaja kue.  Kala segaris merah tampak di ufuk timur, kami naik becak ke Jalan Tinumbu, rumah misanku.
     Belum berapa meter roda becak berputar, sekumpulan cewek-cewek yang joging di pantai, terpana tidak percaya.  Mereka kasak-kusuk cekikikan.  Tawanya terdengar mirip sorak-sorai yang meremehkan.  Bahkan, meneriaki kami seperti maling yang mau dibawa ke pos ronda.  Maklum, satu becak empat penumpang.  Kami tumpang-tindih saling desak-mendesak.  Persis teri di lapak penjual ikan.  Kami pura-pura tak mendengar pekik-riuh mereka, kendati malu mencabik-cabik sanubari.

Bebas Lepas
     Bolos ke bioskop merupakan petualangan yang dilandasi hasrat untuk menghibur diri.  Tidak seperti James Bond yang bergerak dari bentala ke bentala demi menuntaskan misi spionase.  Kami pun tak melanglang buana layaknya Indiana Jones yang andal menemukan situs angker tempo doeloe.  Kami cuma berjalan, tertawa dan saling berbagi hikayat.  Semua lepas dalam suasana bebas.
     Di Jalan Tinumbu, kami beli sokko (nasi ketan).  Di lantai dua rumah sepupu, kami tidur pulas.  Pukul 11.00, dibangunkan untuk makan.  Sehabis mandi, kami kembali terlelap.  Tidur membuat beban berat di pikiran terhapus.  Kami terjaga pada pukul 15.00.
     Sebelum Ashar, kami menuju Pasar Sentral.  Kemudian pulang ke Kampus Tamalanrea naik bis tingkat.  Kami tidak langsung masuk ke pondok.  Kaki melangkah ke Pasar Barata.  Di sana makan ubi goreng.


Selasa, 27 April 2021

Dekap Semilir 1986/2021



     Foto koleksi Drs H Muhammad Ardis (D5)

 

Dekap Semilir 1986/2021
Oleh Abdul Haris Booegies


     Rabu malam pada 21 April 2021, Lukman Sanusi mengirim pesan.  IAPIM akan mengadakan buka bersama di Kampus Tamalanrea pada Ahad nanti.  Ini undangan yang menggoda.  Sudah berkali-kali Lukman mengajak untuk kumpul-kumpul, tetapi, saya selalu mangkir.
     Pada Ahad, 13 Ramadan 1442, saya ke Pesantren IMMIM.  Saya terakhir ke pondok pada 2018.  Kala itu, saya cuma sampai di sisi aula.  Petang ini petualangan pasti seru menderu-deru.  Semua teratur berkat ada rencana, terpola secara apik.
     Ketika sampai di jembatan Tallo, saya terkenang sering joging di sini.  Saya acap lari pagi sampai di jembatan saat masih di pesantren.  Sebulan sebelum Black Panther long march ke Parepare pada Jumat, 17 Januari 1986, hampir saban sore joging seorang diri dengan batas jembatan.  Dewasa ini di puber kelima yang sarat gairah.  Saya tiap hari berlari sepanjang empat kilometer plus push up 100 kali.
     Saya tiba di pesantren tatkala azan Maghrib berkumandang.  Dulu, ketika berstatus santri, azan merupakan pijakan seluruh aktivitas.  Kini, azan yang terdengar seolah kidung riang.  Seperti telaga cita yang riuh ritmis kosmis.
     Selepas Maghrib, saya berdiri di lapangan pondok.  Berharap selekasnya berjumpa rekan seangkatan.  Pasti ada dinamika dialektika kasual.  Perlahan, asa terwujud.  Saya bertemu Awaluddin Mustafa, Arfandi Dulhadji, Andi Asri Lolo, Andi Arman dan Lukman.
     Ini reuni syahdu.  Emosi meronta, mengguncang persendirian.  Kami enam mantan santri kemudian mengkonkretkan pernik kerinduan.  Menggabung aneka serpihan suka-duka selama di pesantren.  Terbenam dalam keceriaan di almamater tercinta.  Kami menjelma formasi kompak, kokoh dalam persatuan.
     Saya serta Arfandi sama-sama terkesiap.  Kami langsung berangkulan setelah terpisah selama 35 tahun.  Kami lengket tanpa dipelet.  Peluk semilir Arfandi membuahkan gemuruh hangat.
     Arfandi merupakan sahabat karib sejak kelas satu.  Alkisah, di suatu pagi nan sejuk, kami bersua di Bantimurung pada 1981.  Di area wisata tersebut, ia menuntun saya ke air terjun.  Sekelebat Arfandi lenyap.  Ke mana gerangan bocah itu yang tadi di depanku.  Saya menengok kanan-kiri mencarinya.  Rupanya ia terperosok ke liang cadas yang tertutup genangan air.  Kepalanya lantas nongol dengan wajah megap-megap.
     Hari ini segala kenangan masa kecil berlalu.   Kami pun berjumpa sebagai sebuah komunitas berlabel Angkatan 86.  Dulu di lapangan ini, Angkatan 86 saling berlekap pada Kamis, 24 April 1986.  Di Ahad, 25 April 2021, saya bersama Arfandi kembali saling mendekap.
     35 tahun silam, sesudah berangkulan di tengah keharuan, Angkatan 86 shalat sunat pada pukul 04.00.  Di momen khidmat sebelum fajar tersingkap, kami berdoa setulus hati semurni harapan.  Menggoda Tuhan dengan puja-puji.  Membujuk Tuhan agar kami diberi jalan lempang menggapai cita-cita.  Bersimpuh penuh takzim supaya mendekatkan kami dengan masa depan cemerlang.  Menjauhkan pula kami dari aral bersimpul virus ganas.
     Pertemuan hari ini pada buka bersama alumni merupakan anugerah.  Efek signifikannya yakni kesetiakawanan.  Dulu sepiring sekamar dalam memupuk tekad kebersamaan.  Dulu sebuku sepengetahuan, seustaz seiman dalam merespons mantra futuristis.  Sekarang, kami se-Facebook se-WhatsApp.  Terhubung secara online selama 24 jam sehari.
     Reuni secara fisik enam personel Angkatan 86 membuat kami tertawa lepas.  Saling menuding siapa yang di era lawas lugas mengajak melanggar aturan.  Kami juga merasa muda kembali kendati gurat wajah kian keriput.
     Hati yang bahagia membuat kami tak hendak tercerai.  Kami ingin besok pertemuan terulang lagi sebagaimana siang tiada lelah mengganti malam.  Di fase akhir, semangat kami terus garang mengalir.  Alur tetap fokus.  Tidak tersisih atau berkelok sebagai sebuah kesatuan bertajuk Angkatan 86.


Sabtu, 24 April 2021

Peturasan Angker



Peturasan Angker
Oleh Abdul Haris Booegies


     Tiap asrama di Pesantren IMMIM dilengkapi satu kamar mandi dan dua toilet.  Tandas yang cuma dua jelas tidak memadai.  Sebab, sebuah asrama terbagi dalam dua bilik.  Tiap kamar menampung 30 santri.  Alhasil, satu kakus digilir 30 orang.
     Menjelang akhir 1981 saat saya kelas II, mulai digunakan 20 water closet (WC).  Jamban ini terletak di belakang.  Bangunannya berfungsi pula sebagai tembok pembatas dengan danau Universitas Hasanuddin.
     20 WC ini dilengkapi sebuah sumur.  Santri enteng mengambil air di perigi kemudian menaiki lima anak tangga.  Air di sumur gampang diciduk karena berlimpah.
     Suasana di sekeliling 20 WC teramat sejuk.  Di depan terpampang rawa yang ditumbuhi kangkung serta rumput liar.  Sejak 20 WC ini berfungsi, seluruh peturasan di asrama dijadikan kamar.  Satu-satunya toilet yang dipertahankan ialah tandas Rayon Raja Faisal.
     Santri yang hendak buang hajat di 20 WC harus melewati jalan setapak.  Ketika tinggal di Wisma Guru pada 1984, perlintasan setapak itu saya pasangi papan nama bertulis Jalan Bugis.
     Pada 1981-1982, di Jalan Bugis yang panjangnya sekitar 20 meter, terletak dua bangunan kayu.  Dua griya tersebut ditempati oleh ustaz Hamir Hamid Aly dan ustaz Saifullah.  Rumah ustaz Saifullah inilah yang kelak menjadi Wisma Guru.
     Ustaz Saifullah yang tinggal di Jalan Bugis rupanya menjadi kendala bagi sebagian santri.  Mereka takut lewat di depan rumah ustaz Saifullah yang merupakan pimpinan kampus.
     Jadi bagaimana cara santri buang air besar (BAB)?  Solusinya ke kakus Raja Faisal.  Ini pun khusus bagi santri senior yang repot digertak.
     Masalah lain muncul, tak semua santri yang mau BAB punya ember.  Kalau ingin ke jamban Raja Faisal, mesti membawa ember untuk menyiram.  Jika tidak, pembina Raja Faisal pasti mengomel diiringi umpatan.
     Bukan santri bila tak cerdik.  Mereka menunggu malam untuk BAB.  Di kegelapan malam itu, satu per satu santri ke sawah.  Di sana mereka mengeluarkan barang yang sejak siang menggedor perut.  Di situ mereka mengerang dengan gumam supaya usus melepas feses.
     Sawah yang menjadi peturasan massal tersebut terletak di belakang laboratorium serta depan Rayon Raja Khalik.  Di hamparan tanah berhias ilalang ini, tidak dikenal istilah jorok maupun jijik.  Dari Tamalanrea sampai Tamangapa.  Dari Sidrap sampai Sydney.  Dari Jeneponto sampai Jenne-jeno di Delta Niger, Afrika Barat, susah menemukan toilet natural serupa ini.
     Sehabis buang hajat, mereka pun berjalan bak peragawati ke perigi untuk cebok.  Ada dua sumur yang menjadi tujuan santri usai BAB.  Perigi kibar (senior) yang legendaris dan sumur dekat kediaman ustaz Syukri Basondeng.

Jaga Jarak
     Santri yang hendak BAB di sawah, harus hati-hati.  Tingkat kewaspadaan mesti tinggi karena gelap.  Perlu memperhatikan betul di mana harus jongkok.  Mata mesti dipicingkan agar pandangan lebih jeli.  Telinga harus dipertajam supaya teliti mendengar.  Jangan sampai teman yang asyik bercangkung ditubruk.
     Santri yang minim pengalaman di sawah acap main seruduk.  Ia tak tahu kalau di sekitarnya banyak yang buang hajat.  Arkian, diingatkan dengan suara lirih "ana maujud huna" (saya di sini jangan mendekat) atau "intaqil hunak" (menyingkir dari situ).
     Alkisah di suatu malam nan pekat, ada santri langsung jongkok karena tidak tahan lagi.  Barangnya ambrol diiringi kentut berkepanjangan.  Ia baru sadar ada orang di sampingnya saat terdengar suara: "mahlan-mahlan sahibun" (pelan-pelan, Sob).
     Jadi, bukan hanya di jalan raya ada peringatan: "Jaga jarak Anda".  Di sawah khusus ini pun berlaku aturan begitu, jaga jarak agar tak dempet.
     Sawah yang dijadikan tandas memang luas, namun, ada tempat praktis yang juga sering digunakan.  Lokasinya di bawah bangunan kelas yang bertiang.  Jika BAB di sini, dijamin lebih mudah bila bercebok.  Soalnya, bersebelahan dengan perigi kibar.
     Tempat steril tanpa tinja cuma di bawah bangunan laboratorium yang juga bertiang.  Santri pasti berpikir dua kali kalau nekat bertinggung di situ.  Maklum, tanahnya lunak, terkadang becek.  Selain itu, di depan laboratorium ada jalan setapak yang ramai, terang pula oleh lampu kelas.  Ini akses ke sumur dekat rumah ustaz Syukri.

Invasi Siluet

     Selama akhir 1981 sampai 1982, kakus massal di sawah lebih populer dibandingkan 20 WC.  Kala ustaz Saifullah pindah ke sisi kantor pimpinan kampus, secara bergerombol santri pun mengalir ke 20 WC.
     Masalah BAB sepertinya beres.  Santri berbondong-bondong ke 20 WC lewat Jalan Bugis.  Tak dikira tak disangka, ternyata ada lagi rintangan.
     Di suatu malam, seorang santri kebelet mau menabung di 20 WC.  Mendadak terlihat siluet.  Bayangan tersebut menggantung, tanpa menjejakkan kaki.  Santri sial itu terpana dengan mulut menganga.  Lututnya sekonyong-konyong nyeri, tidak kuasa menopang berat badan.  Ia tak sanggup menggeliat karena dikepruk rasa takut.  Jantung serasa copot.  Suaranya lantas membahana.  Menjerit-jetit minta tolong.
     Para santri yang mendengar raung tersebut sontak berdegup dalam kengerian.  Seisi pondok dilanda takut yang akut.  Siluet itu seolah menyobek-nyobek sukma.  Di malam bersaput kabut tersebut, pesantren diinvasi makhluk halus.  Akibatnya, 20 WC yang tanpa penerangan itu kembali sepi peminat.  Jalan Bugis lengang.
     Dari hikayat penduduk setempat, area pesantren dulu merupakan ladang pembantaian.  Di belantara rimbun tersebut, Belanda mengeksekusi ekstremis.  Jika itu betul, pantas qismul aman (seksi keamanan) doyan membantai santri pelanggar aturan.


Teh Sedap



Teh Sedap
Oleh Abdul Haris Booegies


     Nostalgia selalu indah dikenang.  Peristiwa-peristiwa masa lampau acap menjadi renungan atau sekedar perekat obrolan.  Tidak sedikit kejadian tragis menjelma bahan canda.  Dari tragedi berubah komedi.
     Di Pesantren IMMIM, banyak berseliweran riwayat bertabur gelak tawa.  Ada santri melepas seluruh busana saat mati lampu.  Dalam keadaan bugil, ia memeluk satu per satu teman di kamar.  Ada pula yang mengendap-endap mengintip koki molek sedang mandi.
     Selama enam tahun di pesantren, ada satu peristiwa yang tak aus dari memori.  Beberapa kejadian penting punah dalam kenangan, namun, yang ini tetap abadi.
     Kisah bermula di suatu malam pada pukul 21.00 di tarikh 1981.  Kala itu, saya tergolong pelanggan setia mahkamah lugha (lembaga penghukum bagi santri yang tidak berbahasa Arab).  Malam itu, banyak santri diadili di ruang majelis guru, termasuk saya serta Imran Setiadi.
     Saya bersama Imran memilih diadili terakhir.  Akhirnya giliran tiba.  Kami diadili oleh Buni Muni, santri kelas V.  Orangnya pendiam, tetapi, jenaka.
     "Kenapa kau?", tanya Buni Muni.
     Saya dengan Imran menjawab kalau menggunakan bahasa Indonesia.  Buni Muni kelihatan kurang bersemangat mengadili.  Mungkin letih karena banyak pelanggar bahasa.
     "Jadi kau berbahasa Indonesia".
     "Iya, Kak".
     Buni Muni kemudian mengumpulkan gelas berisi sisa teh yang tadi siang diminum oleh guru dan pembina.  Sisa teh lantas disatukan dalam sebuah gelas.  Terkumpul hampir setengah gelas.
     Buni Muni menatap saya serta Imran.
     "Minum ini", desaknya seraya menyodorkan gelas berisi teh.
     Saya dan Imran bergeming, mengira perintah Buni Muni sekedar canda.
     "Haris! Minum ini!", seru Buni Muni dengan mata terbelalak.
     Tiba-tiba saya merasa ini bukan guyon.  Buni Muni tak bergurau, ini perintah serius.  Saya serta Imran saling memandang, wajah kami menegang.  Rasa takut mulai menjalar, menggerogoti segenap persendian.  Jantung gedebak-gedebuk.  Nafas terasa berat.
     "Imran!  Minum ini!"
     Imran menggeleng.
     "Betul kau berdua tidak mau minum!", bentak Buni Muni sembari menggebrak meja.
     Rasa takut membuat mulut terkatup.  Saya dengan Imran tetap menggeleng.
     "Kalau kau tak ingin meminumnya!  Saya yang minum!", suara Buni Muni meninggi.  Saya dengan Imran tetap bertahan, tidak sudi minum teh sisa.  Apalagi sudah basi.  Baunya apak karena dibikin tadi pagi.
     "Jadi betul kau tak mau minum!"
     Begitu melihat saya dengan Imran menggeleng, Buni Muni mendadak meneguk teh tersebut.  Saya dan Imran melongo.  Setelah menenggak, Buni Muni mengusap mulutnya dengan telapak tangan pertanda puas.
     "Laziz (sedap)" ujarnya sambil memegang jakun.
     Imran tidak mampu menahan tawa.  Saya pun ikut tertawa.  Rasa takut sekonyong-konyong sirna seiring tawa keras yang kami lepas.
     "Ukhruj! (keluar!).  Kau sudah diadili", seru Buni Muni seraya mengibaskan tangan.  Menyuruh kami secepatnya meninggalkan ruang majelis guru.
     Saya serta Imran bergegas pergi sembari terbahak-bahak.  Aneh bin ajaib, bagaimana bisa ada adegan begini?


Rabu, 21 April 2021

Jihad ala Santri



Jihad ala Santri
Oleh Abdul Haris Booegies


     Bocah-bocah optimis berbondong-bondong masuk ke pesantren.  Menjadi santri adalah pilihan.  Di pondok yang ditapak tersebut terpatri selaksa harapan.  Semangat serta tekad saling terpacu.
     Santri merupakan sejenis batu tulis tertutup.  Tidak sembarang orang bisa menorehkan teks.  Pasalnya, interaksi santri terbatas.  Keluar kampus tanpa izin merupakan pelanggaran berat, dosa besar.
     Santri tertutup dari dunia luar.  Akses informasi, minim.  Arus berita sangat terbatas.  Pelajar di luar gampang menadah kabar.  Sementara santri tertatih-tatih menerawang peristiwa yang terjadi.
     Informasi yang kurang memadai di kalangan santri pernah menjadi ladang subur penipuan di Pesantren IMMIM.  Hari-hari pasca Tragedi Tanjung Priok, umat Islam diliputi luka mendalam.  Orde Baru membantai kaum Muslim pada Rabu, 12 September 1984.  Bisik-bisik yang berhembus menegaskan jika korban jiwa mencapai 2.000.
     Alkisah, sesosok santri bernama Mittuana dari Angkatan 85.  Dengan diksi memikat, ia memulai aksi terkait Tragedi Tanjung Priok.
     Di suatu hari nan sejuk, narasi besar dikumandangkan Mittuana.  "Di luar terjadi huru-hara, keadaan kacau-balau.  Umat Islam dibunuh".  Santri perlahan terhipnotis untuk melakukan serangan balik.  Dari hari ke hari, santri terpukau mendengar rencana Mittuana.  Mereka tersihir akrobatik kata-kata.
     Informasi demi informasi dijejalkan Mittuana ke santri.  Tiada lelah ia mengobarkan semangat juang ke pengikutnya.  Rezim Soeharto wajib dilawan!
     Mittuana tak bergerak sendiri.  Ia bukan pelakon yang andal ber-solo run.  Ia cuma kaki-tangan Didin, ustaz gadungan yang ditahbiskan sebagai sang guru dari pertapaan Cenderawasih.
     Santri mulai panas.  Tergoda untuk berjihad demi menuntaskan dendam.  Didin bergerak senyap seraya mencengkeramkan cakar.  Ia menyuruh Mittuana untuk mengutip dana revolusi ke santri.  Sebab, tak ada perjuangan tanpa pengorbanan.
     Dana yang terkumpul bakal dibelikan amunisi.  Beberapa santri lantas dipilih dengan tugas khusus.  Mereka diiming-imingi pula untuk mengoperasikan persenjataan yang kelak dibeli.  Bahkan, dijanjikan pangkat kemiliteran.  Hati siapa tidak kepincut.
     Santri berlomba-lomba mengumpulkan dana revolusi.  Seluruh uang tumpah-ruah ke pundi-pundi Mittuana.  Seorang santri malahan merelakan tanpa syarat emasnya sampai ludes tidak tersisa.
     Tak semua santri, bodoh.  Mau dikibuli Mittuana.  Saya menentangnya.  Saya mencari kesempatan untuk berdiskusi empat mata dengan Mittuana.  Hasrat itu tidak pernah terwujud.  Saya kemudian tantang figur kedua setelah Mittuana.  Ia menghindar.  "Ini memang sulit dijelaskan", akunya pada Senin, 26 November 1984.
     Bukan hanya saya penentang Mittuana.  Ikbal Bakry dan Syarifuddin Abdullah yang merupakan resi 85 juga gigih melakukan perlawanan.  Kami saling mendukung guna mengikis pengaruh Mittuana.
     Saya sempat sakit hati tatkala sahabat membisik.  "Tadi malam mereka rapat.  Kau halal dibunuh karena antek Amerika".  Kasar betul bacotnya hendak membunuh.  Siapa dia!

Puasa Tobat
     Koar-koar Mittuana makin diamini.  Diterima tanpa pertimbangan.  Ia menghasut penganutnya untuk berpuasa tobat selama tiga hari.  Menurutnya, perintah puasa tobat langsung dari tuhan ke Didin.
     Pada Senin, 12 November 1984, dapur nyaris kosong.  Ini gara-gara sebagian besar santri ikut puasa tobat.  Menurut ahlul-gosip, puasa ini berfungsi sebagai thaharah (membersihkan diri) sebelum terjun ke medan laga.
     Haji Fadeli Luran sangat marah ketika ke pesantren pada Kamis, 15 November 1984.  Ia murka akibat santri berpuasa gombal.  Mana ada yang dinamakan puasa tobat.
     Syahdan, Mittuana bersama seorang pentolan gengnya lalu dipecat dari pesantren pada Jumat, 16 November 1984.  Keduanya dituding mengacaukan lingkungan pesantren dengan ulah puasa tobat.
     Sepeninggal Mittuana dari kampus, pengikutnya masih percaya ada perang suci.  Mereka beralasan bahwa pemecatan Mittuana merupakan bagian dari perjuangan.  Santri-santri yang terpapar virus Didin masih solid berkomunikasi.
     Dari luar pondok, Mittuana terus berikhtiar secara intens membisik hasut.  Segelintir pesertanya masih rajin ke Jalan Cenderawasih guna mengais segenggam dusta.  Hatta, beredar berita genting.  Ada gejolak besar pada 12 Desember nanti.
     Pada Senin, 3 Desember 1984, para penentang Mittuana berkumpul.  Semua berasal dari kelas VI.  Saya satu-satunya kelas V.  Kami heran lantaran santri enteng terpengaruh kebohongan Mittuana.  Sebagai misal, "jenderal ini sudah mati batin".  Apa yang dimaksud mati batin?
     Pendukung Mittuana tak kapok dikibuli.  Sekarang mereka berharap pada tanggal yang dijanjikan; 12 Desember.  Untuk menghalau simpang-siur yang mencemaskan, Syarifuddin menulis sebuah kata di pamflet: "Impossible".
     Hari yang dijanjikan akhirnya tiba, Rabu 12 Desember 1984.  Hari ini sehabis semester, saya bolos bersama Ahmad Kuri Kilat.  Di kota ada isu besar bagi moviegoer (pecandu film).  Malam ini Makassar Theatre diresmikan oleh walikota.  Film perdana yang diputar yakni Indiana Jones and the Temple of Doom.
     Bioskop ini sebenarnya selesai direnovasi.  Dulu selalu memutar film Indonesia.  Kini beralih ke film Barat.  Saya dengan Kuri Kilat memilih ke Mitra nonton Vigilante Force dengan bintang Kris Kristofferson, Jan-Michael Vincent serta Victoria Principal.
     Tidak ada peristiwa besar pada 12 Desember kecuali saya kesal nonton Vigilante Force.  Hikayat film produksi 1976 ini, kurang gereget.  Saya bersama Kuri Kilat berjalan gontai dalam kebisuan akibat kecewa tingkat dewa.
     Di pondok, kawanan Mittuana lebih parah deritanya.  Nyaris sinting semua.  Mereka depresi karena janji yang digembar-gemborkan kembali berbuah dusta laknat.
     Gerombolan ini putus asa.  Muskil ada jihad seperti yang dijanjikan.  Santri yang berakal waras mulai mengendus kalau ini sesungguhnya modus penipuan.  Apa daya drama vulgar ini telat dihentikan.  Duit yang digelontorkan telah berpindah ke genggaman Didin, ustaz jadi-jadian.  Maksud hati ingin berjuang di jalan kudus, apa daya terperosok di jalan kudis.
     Santri tersentak sadar dari kebohongan kala Kepala Keuangan ustaz Hasnawi Marjuni BA, mengeluh.  Banyak santri belum membayar SPP.  Bahkan, ada yang menunggak tiga bulan.  Astaga...


Hikayat Lonceng dan Azan

Hikayat Lonceng dan Azan
(Penamatan Angkatan 86)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Saya terkenang masa pertengahan 1980.  Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Pesanren IMMIM.  Saya datang dengan kekaguman.  Semua terasa indah.  Tekad berteguh di hati untuk tamat di sini.  Di sebuah institusi pendidikan yang unik.  Paduan pendidikan umum serta khusus.
     Ada pendapat bahwa alumni pesantren paling banter jadi imam masjid, ustaz atau kyai.  Pelik membayangkan alumni  menjadi ilmuwan, apalagi berkiprah di militer atau kepolisian.
     Pendiri Pesantren IMMIM Haji Fadeli Luran pernah membesarkan hati kami pada 1980.  "Kelak anakda akan bertebar di mana-mana sebagai dokter, polisi, hakim atau pegawai".
     Saat itu, saya kira ini sekedar ilusi atau halusinasi Fadeli Luran.  Sebab, ia mahir memainkan suasana hati agar semangat tetap berkobar menyala.  Argumennya bernas, bukan kelas rumput liar.  Apalagi, riwayat Fadeli Luran memang bertabur sukses.  Arkian, enteng mengucap formula optimistis.
     Kondisi di pesantren seolah tidak mendukung tesis Fadeli Luran.  Pesannya mungkin sekedar angin surga semata.  Apalagi kami bocah serba terbatas.  Terkurung tembok, pagar berjeruji, piket bermata waspada dan qismul aman (seksi keamanan) yang fasih menggertak.

Indoktrinasi
     Selama 24 jam di pesantren, kami dimobilisasi oleh lonceng (al-jaras).  Pukul 04.00, lonceng berdenting sebagai awal hari untuk beraktivitas.  Pukul 07.30, lonceng terdengar penanda masuk ke kelas.  Pukul 12.30, pekik lonceng menandakan pelajaran sekolah usai.  Pukul 14.00, lonceng untuk tidur siang.  Pukul 15.00, bangun sesudah mengistiratkan otot serta otak.
     Lonceng menjadi sirkulasi rutinitas santri.  Selain lonceng, tentu azan menjadi pijakan dalam menata segala kegiatan.  Tak boleh ada aktivitas selepas azan.  Seluruh santri wajib ke masjid.
     Lonceng dan azan silih berganti mengindoktrinasi.  Santri laksana robot yang digerakkan oleh dua remote control tersebut.  Proses penggemblengan tanpa kritik ini teramat efektif mengendalikan pikiran serta naluri.
     Lonceng dan azan yang tidak aus oleh zaman menyimpan energi besar.  Ia berputar selama enam tahun di tiap angkatan.  Tatkala santri menjelma alumni, roda dua penanda ini tetap berpusing.  Tak ada interval.  Keduanya terus bergulir untuk mengorganisasi segenap aspek kegiatan.
     Lonceng serta azan inilah yang membuat ilusi Fadeli Luran berubah realitas.  Sabdanya pada 1980 berbuah nyata.  Banyak santrinya bergelar profesor maupun jenderal.  Maklum, banyak jalan menuju Roma.  Banyak pula lorong untuk dijelajah.

Ahad, 22 Juni 1986
     Lonceng dan azan terus bergemuruh.  Bunyi lonceng tidak pernah terlambat, begitu juga azan.  Terkadang kerja belum kelar, tiba-tiba sebuah penanda berbunyi.
     Setelah enam tahun ditempa stimulus lonceng serta azan, saya pun tamat.  Saya bahagia, namun, tetap merindukan pesantren.  Rindu mendengar lonceng, kangen menyimak azan yang dilantunkan teman.  Bahkan, rindu oksigen pesantren.  Pada Rabu, 14 Mei 1986, kala bangun, saya merindukan udara sejuk pagi hari di pesantren.  Sudah tiga pekan pesantren menjadi almamater bagiku.
     Pada Sabtu malam, 21 Juni 1986, saya mengatur kursi di aula.  Besok Angkatan 86 merayakan penamatan sekaligus penerimaan santri baru.  Malam ini, suasana terasa gersang.  Hati seolah kikuk, namun, tak ada yang error.  Penamatan ini merupakan formalitas demi mengukuhkan alumni.
     Saya terduduk di tepi ranjang.  Ini terakhir saya menginap sebelum atribut santri terlucut.  Pesantren bukan lagi domain saya.  Elemen kokoh yang saya peroleh dari pesantren ialah terus bergerak secara santun, di medan apa pun.  Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.  When in Rome, do as the Romans do.
     Bergerak merupakan kristalisasi dari lonceng dan azan.  Bergerak berarti maju terus pantang mundur di tengah perubahan.  "Orang biasanya takut pada perubahan karena takut tidak tahu", ujar Yuval Noah Harari.
     Ahad, 22 Juni 1986, menjadi hari bersejarah.  Angkatan 86 resmi sebagai alumni.  Berdenting secuil gundah di kalbu di tengah kegembiraan.  Konsentrasi buyar selama acara tersuguh.  Saya mondar-mandir.  Langkah-langkah yang diayun merupakan kenangan yang berlimpah.  Hari ini peristiwa yang ditorehkan mengendap oleh sang waktu.
     Dulu, saya datang dengan kekaguman.  Enam tahun berselang, Angkatan 86 berpisah sebagai sebuah komunitas.  Saya pun pulang dengan kebanggaan sebagai alumnus Pesantren IMMIM.


Senin, 19 April 2021

Asrama Para Legenda

 


Asrama Para Legenda
Oleh Abdul Haris Booegies


     Kala mengikuti test masuk Pesantren IMMIM pada 1980, saya berharap ditempatkan di asrama terdepan.  Saya suka tempat tersebut karena pandangan bisa langsung terhubung ke dunia luar.  Di jalan raya, bangunan itu terlihat dengan jeruji besi.
     Setelah beberapa lama tercatat sebagai santri, saya pun mafhum bila itu Rayon Pangeran Diponegoro.  Asrama tersebut tidak diperuntukkan untuk santri baru.  Saya harus puas ditempatkan di kamar 2 Datuk Ribandang.  Rayon ini dihuni santri baru berbadan besar.
     Hasrat saya terpenuhi saat kelas III.  Saya ditempatkan di kamar 1 Rayon Pangeran Diponegoro.  Ajaibnya, saya ketua kamar.  Sahabat bermental mafioso geleng-geleng kepala.  Kamar dipimpin tukang bolos.  Apa kata dunia.
     Usai Isya, saya biasa naik ke atap dengar radio.  Saya seorang diri.  Terkadang pula bersama kawan untuk menyusun strategi bolos.  Di atap asrama, saya sering berselonjor sambil minum Milo-Dancow yang dicampur es.  Saya pernah ketiduran di atap dengan berselimut sepoi angin ditemani bintang-gemintang.
     Penanggung jawab Rayon Pangeran Diponegoro yakni ustaz Hasnawi Marjuni BA.  Berikut daftar pengurus serta penghuni kamar 1 pada Januari 1983.
Haris Bugis (ketua kamar)
Kurnia Makkawaru (penasehat)
Hamzah H (penasehat)
Akmal Hasan (wakil ketua rayon)
Hazairin (wakil sekretaris)
Muhammad Faisal (bendahara)
Nasaruddin M (keamanan)
Adnan Nurdin (keamanan)
Masdar (keamanan)
Munatzir Fachri (seksi olahraga)
Muhtazar (seksi kesenian)
Suhardi S (seksi kesehatan)
Yusuf Tandiara (seksi kesehatan)
Ahmad Nurdinah
Muhammad Yunus
Yusri B
Makmur AB
Awaluddin
Arva
Saifullah Yusrie
Saifuddin
Andi Muhammad Yusuf
Haeruddin
Agus Adnan
Agus Salim
Fuad Mahfud Azuz
Haji Sahabuddin
Rahimullah
Muhammad Thantawi
Atmal Ariyadi


Kamis, 15 April 2021

Protes Santri Kota



Protes Santri Kota
Oleh Abdul Haris Booegies


     Penentangan atas sejumlah kebijakan rektor sering saya gelontorkan saat kuliah.  Saya one man show, tanpa dukungan.  Apalagi, protes saya kemukakan di majalah LEKTURA maupun surat kabar terbitan Jakarta dan Surabaya.
     Ketika berkumpul bersama segelintir mahasiswa penulis, seorang wartawan koran daerah berpendapat.  "Haris Bugis berani memprotes karena anak kota".
     Ia benar karena saya lahir di Makassar.  Tinggal dengan orangtua di Makassar.  Lebih 10 sepupu menetap di Makassar.  Seluk-beluk Makassar saya paham.
     Kala belajar di Pesantren IMMIM, saya acap dibujuk sahabat agar sama-sama bolos.  Ada dua kemungkinan mereka membutuhkan saya mendampingi bolos.  Pertama, Makassar secara geografis saya mafhum, termasuk seluruh bioskop.  Kedua, saya enteng dituding sebagai biang bolos jika ketahuan.  Saya dikambinghitamkan dengan bumbu pahit: "Haris Bugis yang ajak saya".  Padahal, mereka yang  menyeret saya berlaku keliru.  Akibatnya, namaku mendominasi buku hitam pesantren.

Selasa, 9 November 1982
     Selepas subuh, santri gempar.  Kami digegerkan oleh "protes sunyi".  Di dinding kelas serta aula tertempel pamflet dan leaflet.  Tulisannya mengeritik menu makanan.  Koki pun dituduh tidak becus cuci piring.  Sebab, terkadang masih melekat sisa-sisa makanan.
     Dua pamflet yang sempat saya perhatikan sebelum dilepas berbunyi: "Piring santri jangan dijadikan piring binatang".  "Dikemanakan uangku yang Rp 20.000, Bos".
     Saat belajar Tajwid, saya keluar menguping informasi.  Pasalnya, Abuna Haji Fadeli Luran telah berada di pesantren sejak pukul 08.00.  Patut diduga, pamflet serta leaflet dipasang di tengah malam.  Piket malam pun diinterogasi.  Mereka antara lain Umar Bauw, Andi Martan Aries dan Daswar Muhammad.
     Secara pribadi, saya tak menilai gerakan protes yang dilakukan secara diam-diam ini sebagai bentuk pelanggaran serius.  Pemrotes bukan pecundang curang.  Mereka bukan kelompok terluka yang menggelorakan tuntutan.  Ini sekedar suara gundah-gulana yang gaduh meronta-ronta di hati.
     Pernyataan penentangan ini jelas mewakili mayoritas santri kendati tanpa dukungan sistematis yang efektif.  Pemrotes bukan mencari sensasi supaya tampil beda untuk diriuhkan gosip berisik.  Saya sempat menulis di diari bahwa mereka "pahlawan pendobrak makanan".
     Pada hakikatnya, makanan di pesantren sudah seturut prosedur.  Hidangan yang digilir yakni ikan kering, tembang goreng, teri, tempe, sup, sayur serta sambal.  Mustahil makan cawiwi Sidrap (belibis), kapurung, rawon, coto, gudeg, sayur asem, rendang, sate ayam, mie Aceh, bika Ambon dan gado-gado (salad Nusantara).
     Santri maunya makan enak.  Pokoknya, jang anang makang malang dengang ikang.  Padahal, satu bulan SPP cuma Rp 20 ribu.  Jadi, uang pendidikan plus makan tiga kali sehari hanya Rp 20 ribu.  Kalau tete (tempe serta teri) yang terus disediakan, tentu sudah sesuai pembayaran.  Tidak elok berharap rasa bintang lima dengan harga kaki lima.

Abuna Kalem
     Dari bisik-bisik yang berseliweran, ternyata pelaku protes didominasi kelas III B.  Pentolannya ID (Angkatan 86) dan US (Angkatan 85).  ID serta US adalah anak kota alias santri yang berdomisili di Makassar.
     Keusilan santri kota ini tak membuat Fadeli Luran dan pembina lain, terusik.  Tidak ada yang bertanggung jawab.  Tiada pula yang diminta bertanggung jawab.  Kasus berlalu begitu saja, seperti tak tampak wujud serta ujungnya.
     Fadeli Luran tidak risau atau marah.  Ia menanggap kasus ini dengan dada lapang dan tangan terbuka.  Fadeli Luran memamerkan kharismanya yang laksana puisi yang ditulis pada sekuntum mawar.
     Fadeli Luran kalem, seolah mengetuk pintu rahmat demi kebaikan santri-santrinya.  Soalnya, protes merupakan dinamika pondok yang dihuni beragam karakter santri.
     Usai Maghrib, Fadeli Luran tampil di masjid.  Saya tak tahu pesan apa yang disampaikan.  Maklum, masih mandi di sumur setelah main badminton dengan Muhammad.
     Tatkala asyik mandi, tiba-tiba muncul ustaz Saifullah.  Secara gesit saya ambil langkah seribu, termasuk Surya Darma, Mursil, Musafir serta Arifin Beta.  Kami terpaksa sembunyi lantaran ustaz Syukri Basondeng juga ikut mencatat santri yang belum shalat.  Cukup lama bersembunyi menanti keadaan aman.  Saling berimpit untuk menyelinap di celah sempit.  Saya akhirnya kedinginan gara-gara cuma dililit handuk, tidak bercelana.
     Sehabis Isya, saya dipanggil qismul aman (seksi keamanan).  Saya masygul, mengapa ada lagi namaku.  Betul saya tak shalat Maghrib dan Isya di masjid.  Saya pastikan bukan itu yang membuat namaku diumumkan sebagai pelanggar.  Beginilah nasib bila doyan bereksperimen mengakali aturan.
     Muhammad Akhyar Ahmad mengadiliku.  Sekalipun akrab dengan Akhyar, namun, jika melanggar saya tetap dihukum secara keras.  Namanya juga resiko kenakalan.  Tipikal sebagai santri populer di qismul aman tak lekang tak lapuk, tidak pula membuatku tobat.


Senin, 12 April 2021

Klimaks Enam Tahun

 



Klimaks Enam Tahun
(Hitung Mundur Masa di Pesantren IMMIM)
Oleh Abdul Haris Booegies


Rabu, 23 April 1986
     Langkahku mantap meninggalkan rumah menuju Pesantren IMMIM.  Selama Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas), saya hampir saban malam menginap di rumah yang berjarak sekitar 15 km.
     Hari ini Angkatan 86 tiba di ujung akhir Ujian Pesantren.  Pelajaran penutup yaitu Insya'.
     Saya termenung.  Tak menyangka jika segera menyelesaikan tugas belajar di pesantren.  Mendadak saya tidak ingin berpisah dengan pesantren.  Nostalgia berkecamuk.  Bertumpuk membayang di pelupuk mata.  Romantisisme masa silam merayu naluri.
     Saya susah berkonsentrasi ketika ujian.  Kaki tak sabar lagi melonjak girang.  Sesudah fokus, akhirnya lembar jawaban pun terkumpul.  Senyum merona merekah mekar.  Ujian selesai.  Saya berhasil menuntaskan Ujian SMA, Ujian Aliyah serta Ujian Pesantren.  Kini saya alumnus.  Saya mesti bergerak dinamis untuk melangkah.  I am the master of my future.
     Angkatan 86 sontak bergemuruh dalam kegembiraan.  Kami saling berpeluk.  Seluruh model tawa terpampang.  Enam tahun bukan waktu sedikit.
     Dulu saya terpojok di sudut terkelam karena nakal.  Saya antagonis paling diintai qismul aman (seksi keamanan).  Dulu gundah-gulana akibat tergoda bioskop.  Semua harus ditapak, memijakkan kaki menghalau aral dan onak.  Saya bersakit-sakit, sekarang bersenang-senang.
     Angkatan 86 kemudian saling membentuk kumpulan guna berbagi kisah.  Dari kantin, saya bersama Fuad Mahfud Azuz hendak bergabung dengan rekan di sekitar Majelis Guru.
     Tatkala lewat di belakang masjid, Fuad meminta spidol hitam yang saya kantongi di saku celana.  Saya sengaja simpan di kantong celana supaya teman tidak mudah merampasnya untuk melakukan vandalisme.  Saat Fuad meraih spidol tersebut, saya sempat berpikir, di mana ia mau corat-coret?
     Dengan tawa, Fuad lantas menulis "Haris Bugis" di setrip putih bagian samping mobil pesantren.  Setelah menulis namaku, ia tertawa-tawa sembari menyodorkan spidol.  Coretan Fuad ini merupakan grafiti pertama di Pesantren IMMIM.
     Di siang terik, saya berdua Ahmad Kuri Kilat memasang tenda serta kemah di lapangan.  Sore, terdengar ingar-bingar rock 'n roll dari tenda.  Raungan rok menggelegar, menimbulkan sensasi kebebasan.
     Malam ini pasti sangat panjang.  Hikayat-hikayat yang dituturkan tak mengenal jeda.  Imajinasi bakal didesain agar terbentuk kenangan.  Ini puncak petualangan selama enam tahun.  Ini bukti bahwa Angkatan 86 merupakan komponen integral Pesantren IMMIM.
     Saya ke rumah untuk menyiapkan konsumsi ala kadarnya.  Kami tidak sudi terbujur lunglai.  Kami perlu penghalang kantuk.  Jadi butuh susu dan kopi.
     Usai Isya, api unggun dinyalakan.  Dari menit ke menit suasana kian panas.  Volume musik rok makin menggelegar.  Gitar pun dibetot kencang.  Sebagian sahabat main kartu.  Ada pula yang berjoget.

Kamis, 24 April 1986
     Pukul 01.00, suasana terasa liar.  Malam ini, saya menginginkan waktu berhenti berdetak.  Hingga, saya bisa terus berkumpul bersama.  Rasa bangga terukir di hati.  Impuls kagum terpatri di dada.  Di Tamalanrea ini dulu saya bocah.  Saya bertahan demi meraih cita-cita.
     Kini saya remaja.  Sekarang saya merayakan kelulusan di tengah mitra seangkatan.  Kala embus bayu kian dingin, kami pun makin bergairah.  "Tuang lagi susunya, Bos".
     Tak terbayang di kepala bila Ahmad Afifi serta Muhammad Zubair Andy, pintar joget.  Dua mantan santri ini menjadi primadona ketika api unggun mulai malas berkobar.  "Goyangnya boleh juga.  Tarik terus sampai pagi".
     Pukul 02.00, musik rok terhenti seolah dihardik desir angin.  Kami bergegas mengundang ustaz Abdul Kadir Kasyim.  Kami menunggunya dengan hati berdebar.  Ustaz Kadir lalu bergabung.  Sebelum memberi petuah, terdengar lantunan ayat suci al-Qur'an dan terjemah.
     Ustaz Kadir kemudian menggemakan nasehat terakhir sebelum kami berpencar merintis masa depan.  Ia menggelorakan sejumput demi sejumput pesan sebagai bekal untuk berkelana dalam peristiwa mendatang.  Ustaz Kadir berwanti-wanti supaya konsolidasi tetap solid kendati kami nanti berjarak dalam menempuh hidup.
     Saat ustaz Kadir berwejang, rata-rata teman mengantuk.  Saya malahan berbaring di belakang.  Di samping kanan ada Andi Muhammad Yusuf, di kiri tergolek the King Ridwan Radja.
     Saya bangun ketika terdengar isak tangis.  Teman terharu oleh ucapan-ucapan religius ustaz Kadir.  Suara tangis kian menderu saat ustaz Kadir segera beranjak pergi.
     Di lingkaran belakang, saya dengan Yusuf saling sikat-sikut, memukul serta mendorong.  Kami belum terbawa arus narasi saleh nan syahdu.  Yusuf lantas membangunkan Ridwan dengan menyosor moncong senter ke matanya.
     Ketika ustaz Kadir berdoa, saya mendadak terharu.  Tetes-tetes air mata berlinang.  Isak tangis di tenda makin membahana bak konser monster.  Ustaz Kadir pun terisak.  Kami kembali berangkulan, menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya.  Sebuah elegi sendu pada klimaks perjalanan enam tahun di Pesantren IMMIM.


Jumat, 02 April 2021

Telanjang Akibat Korupsi

 


Telanjang Akibat Korupsi
Oleh Abdul Haris Booegies


     Hari-hari sebagai siswa kelas I SMA di Pesantren IMMIM Tamalanrea, begitu indah.  Di pesantren memang tak ada santriwati alias pelajar putri.  Kami juga dikelilingi tembok.  Penghalang itu tidak berarti santri betul-betul terkurung.  Selalu ada secuil kesempatan emas di tengah rutinitas yang membosankan.
     Ustaz Saifullah memanggil saya pada Selasa, 10 April 1984.  Ia menyuruh menunggu bis penumpang.  Ustaz Saifullah ingin mengirim surat ke Sidrap.
     Di era 80, mengirim surat ke daerah lewat mobil terkesan cepat serta hemat.  Ada pula telegram, namun, harus ke kantor pos.
     Saat menanti bus di taman depan pesantren, saya berkenalan dengan seorang gadis.  Namanya unik, terbayang terus dalam ingatan.  Ia heran menatap busanaku.  Lambang OSIS di saku baju saya tempel terbalik, terbaca SISO.  Saya juga memakai jins.  Di jins bagian samping kiri pada seutas temalinya saya taruh gembok sebesar biji salak.  Saya mengenakan sepatu Fila yang dicat kuning.  Talinya pita merah.  Siapa tak terkesiap melihat penampilanku.
     Asyik-masyuk bergurau genit dengan cewek manis, membuat saya berlalai-lalai menunggu bis.  Pasalnya, segenap perasaan tumpah-ruah.  Hasrat ganjil timbul terhadap sang dara.
     Ustaz Saifullah dari beranda kantor pimpinan kampus sesekali melirik.  Ia mungkin heran karena saya terlalu lama.  Sementara surat yang bakal dikirim penting.
     Pada Selasa, 1 Mei 1984, qismul aman (seksi keamanan) menghadapkan saya ke ustaz Saifullah.  Soalnya, Ahad kemarin bolos pergi nonton Thunder dengan bintang Bo Svenson dan Mark Gregory di Mitra.
     Ustaz Saifullah begitu murka menyaksikan ulahku.  Bolos terus tiada tobat.  Jenggotnya bergoyang-goyang karena menyemburkan amarah.  Ia kian geram gara-gara saya senantiasa mengenakan jins ke kelas.  Saya memang punya enam jins biru, satu putih serta satu coklat.  Tiap hari memakai jins kecuali tidur dan mandi.
     Di ruang pimpinan kampus, Ustaz Saifullah mendesak saya membuka jins.  Saya kaget, tetapi, menurut walau malu.  Celana dalam merah jambu saya pun terlihat.  Untung saya pakai celana dalam.  Nyaris.
     Saya ketahuan bolos lantaran salah perhitungan.  Saya kira qismul aman kendor memata-mataiku karena semua berkonsentrasi menghadapi semester akhir.  Apalagi, kelas VI telah tamat.  Tidak ada lagi Angkatan 84 di pondok.
     Saya termenung, barangkali saya dipermalukan dengan cara ditelanjangi oleh ustaz Saifullah akibat mengkhianati amanah Rahman H.  Pada Rabu, 18 April 1984, kelas VI kelar ujian.  Euforia berlangsung dengan corat-coret seragam SMA.
     Rahman H yang merupakan pembina di Rayon Imam Bonjol kamar I, lantas memanggilku.  Ia memberi uang agar nanti mengadakan acara makan-makan.  Duit pun saya kantongi.  Uang tersebut kemudian saya gunakan ke bioskop bersama segelintir mitra bermental mafioso.  Ini terjadi lantaran saya rentan dalam wujud santri jika masalah film.  Akibatnya, amanah Rahman H tak saya tunaikan.  Apalagi, ia sudah meninggalkan kampus menuju kampung.
     Pada Kamis, 1 April 2021, saya berusaha mengingat-ingat teman sekamar.  Mereka mestinya berpesta dalam kegembiraan dengan sajian santapan lezat.  Jamuan suka-ria gagal karena terjadi pengalihan dana.  Ini tergolong peristiwa dramatis dalam sejarah asrama Imam Bonjol.
     Saya memohon maaf setulusnya kepada Rahman H serta rekan sekamar.  Duit itu tidak dibelanjakan untuk menghibur perut, namun, menghibur mata di bioskop.  Seingat saya, penghuni di kamar I Imam Bonjol antara lain Zulkifli, Sukwan, H Chalid Lageranna, Hesdy Wahyuddin, Agus Ambo dan Ahmad Natser.  Kasihan, mereka tak menikmati rezeki dari Rahman H.  Sebab, saya memiliki agenda khusus.


Amazing People