سبحنك لا علم لنا الا ما علمتنا انك انت العليم الحكيم
"Mahasuci Engkau, ya Allah.
Tiada ilmu pada diri kami selain yang Engkau ajarkan.
Engkau Mahaberpengetahuan. Pemilik Hikmah nan Bijaksana"
(al-Baqarah: 32)
Quick Count vs Real Count Oleh Abdul Haris Booegies
Quick count alias hitung cepat tidak menggambarkan angka sesungguhnya. Di situ ada kepentingan, termasuk merusak konsentrasi. Walau quick count bukan hasil final, tetapi, patut diwaspadai. Sebenarnya bukan quick count yang harus dipelototi dari menit ke menit, namun, orang yang berkepentingan memenangkan jagoannya secara kotor. Sebab, pemain curang yang berada di balik quick count, pasti mampu menjegal angka hakiki di real count. Jangan terbuai bahwa real count itu valid dengan asas clear and clean. Data hasil C1 di TPS dari Sabang sampai Merauke terverifikasi. Perlu diingat bahwa, dengan mata telanjang saja, ada sogok-menyogok demi merampas suara. Apalagi, kalau tersembunyi. Sebagai umpama, penyelenggara Pemilu. Siapa bisa menjamin bahwa instrumen yang melaksanakan maupun mengawas berlaku "adil dan beradab". Soalnya, di belakang penyelenggara serta pengawas ada kekuatan dari kekuasaan. Hingga, mampu mendesak secara paksa untuk menggelembungkan suara satu kandidat. Jangan lupa bahwa ada paslon yang maju di Pemilu 2024 ini dengan cara menabrak konstitusi. Kalau undang-undang yang disaksikan banyak orang saja leluasa diterabas, bagaimana mungkin pelaksana atau pengawas Pemilu bisa dipercaya. Kita sekarang cuma bisa melongo bahwa hasil quick count menampilkan presiden dan wakil presiden yang kurang layak memimpin Indonesia sampai 2029. Ini sama kurang layaknya dengan rakyat yang bodoh sekaligus rela diinjak-injak penguasa, tanpa sanggup melawan!
Pada 1987, saya pertama kali mencoblos. Saya pilih PPP ketimbang Golkar atau PDI. Ketika mengasuh majalah LEKTURA Unhas, semua redaktur sepakat dengan nyali menyala-nyala untuk menyerang Orde Baru dengan menurunkan laporan utama tentang golput. Ini berkaitan Pemilu 1992. Golput merupakan isu sensitif di era Soeharto. Siapa nekat, bisa semaput. Kami beruntung tidak ditangkap sekalipun LEKTURA membuat banyak pihak marah. Kami cuma apes gara-gara LEKTURA diberedel oleh Deppen. Pemberedelan ini membuat LEKTURA masuk sejarah sebagai satu-satunya pers mahasiswa di Indonesia Timur yang diberangus oleh Orde Baru. Selepas menangani LEKTURA, saya bersumpah untuk golput sampai mati. Mengapa sekarang saya mendukung Anies Baswedan? Ini bermula saat ia dihajar habis-habisan oleh buzzer jahanam. Apa pun kebijakan Anies sebagai Gubernur DKI, pasti diserang oleh buzzer laknat. Saya pikir, Anies orang baik. Harus didukung walau saya tetap golput. Jangan biarkan Anies seorang diri. Jangan biarkan ia diperlakukan semena-mena kala kita mampu mengulurkan tangan. Anies wajib disuarakan untuk memperlihatkan keberpihakan pada kebaikan. Suara keluarga, tetangga, sahabat maupun relasi, memang cuma satu di TPS, tetapi, itu bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Kalau pun nanti Anies kalah, kita sudah menunjukkan pilihan bahwa suara kami berpihak pada perubahan. Tak perlu kecewa jika Anies kalah. Ingat ucapan Anies; "kalau saya kalah, berarti Allah menyelamatkanku". Hasbunallah wa ni'mal wakil. Ni'mal mawlaa wa ni'man-nashir. Cukuplah bagi kami, Allah. Sebaik-baik pelindung. Sebaik-baik penolong (Ali Imran: 173 dan al-Anfal: 80).
“Putra terbaik
abad ke 20 mangkat di abad ke 21”.
Begitu kalimat yang berdenging di kepala saya tatkala tahu Mandela
wafat. Legenda Afrika Selatan dari suku
Thembu itu, menghembuskan nafas terakhir pada Kamis, 5 Desember 2013.
Mandela tergolong
pribadi bersahaja. Ia hidup teramat
sederhana. Jauh dari gemerlap kerlap-kerlip
kehidupan tokoh-tokoh pemimpin dunia yang mewah. Biarpun hidup ala kadarnya, tetapi, Mandela
bisa menahbiskan diri sebagai the great. Ia pahlawan anti pemisahan ras (anti apartheid) Afsel. Simpati lantas mengalir. Momen yang muncul baginya seolah
mukjizat. Hingga, Mandela terpilih
presiden kulit hitam pertama yang memimpin pada 1994-1999.
Generasi muda
pada periode ini patut menjadikan Mandela sebagai inspirasi. Ia sosok from
zero to hero. Selama 27 tahun,
Mandela mendekam di penjara. Mata dunia
tertutup melihatnya gara-gara ia berkulit hitam. Mandela disepelekan di era yang menyisihkan
kebebasan, persaudaraan serta kesetaraan.
Penahanannya selama
hampir tiga dekade tidak membuat Mandela remuk-redam. Fisiknya memang digerogoti infeksi paru-paru,
namun, semangat tak lekang. Setelah
bebas, ia kembali berjuang melepaskan Afsel dari belenggu rasial.
Apartheid atau segregasi rasial
merupakan kebijakan yang melembagakan kemiskinan dan ketidaksetaraan bagi warga kulit hitam.
Suatu nilai usang yang harus dihancur-leburkan. Zaman tak suka manusia dinilai dari warna
kulit. Mandela akhirnya berhasil
mengakhiri dominasi minoritas kulit putih.
Mandela sukses
menciptakan Afsel menjadi negeri multiras, Negeri Pelangi. Ia berhasil menyatukan kulit putih dengan
hitam. Mandela tertoreh sebagai arsitek peralihan
yang sangat bersejarah. Ia pun didaulat
Bapak Demokrasi. Pada 1993, ia meraih
Hadiah Nobel Perdamaian. Kalimat mashur
Mandela pun sering dikutip. “It only seems impossible until it’s done”.
Narapidana 46664
Mandela lahir
dari pasangan Nkosi Mphakanyiswa Gadla Henry serta Nosekeni Fanny pada
1918. Si bayi lalu dinamakan Rolihlahla
Mandela. Dalam bahasa Xhosa, Rolihlahla
bermakna “menarik cabang pohon”. Walau begitu, secara umum diartikan “pembuat
onar”.
Di usia 23 tahun,
Mandela ke Johannesburg untuk kuliah. Ia
kemudian menjadi pengacara andal. Pada
1942, Mandela mendirikan African National
Congress (ANC) yang membela hak-hak warga kulit hitam. ANC lantas melawan pemerintah Afrikaaner pada 1948. Mandela yang andal berpolitik lalu dibaiat
sebagai Ketua ANC. Ia bergerak di bawah
tanah guna menghindari pemerintahan ekstrem yang berniat menangkapnya. Mandela dikenal sebagai Black Pimpernel karena cerdik menyamar. Julukan tersebut dicaplok dari nama Scarlet
Pimpernel, tokoh fiksi dalam revolusi Perancis.
Scarlet dideskripsikan lihai menyamar.
Mandela kemudian
membentuk Umkhonto we Sizwe, sayap
militer ANC. Pada 1961, ia memimpin
kampanye pengeboman terhadap target pemerintah.
Pada 5 Agustus 1962, Mandela ditangkap.
Ia didakwa melakukan sabotase untuk menggulingkan pemerintah dengan
kekerasan.
Mandela akhirnya
digiring ke balik terali besi di Johannesburg Fort. Mandela lantas menerima hukuman seumur hidup
pada 12 Juni 1964. Ia dibui di Pulau
Robben, 12 kilometer dari Cape Town, yang terletak di lepas pantai Afrika
Selatan. Mandela menjalani kerja paksa
tambang. Di sana, ia menghabiskan 18
tahun penahanannya. Nomor penjaranya adalah 46664. Ketika di penjara, Mandela hanya diizinkan
menerima satu kunjungan dalam setahun dengan durasi 30 menit. Ia juga cuma diizinkan menulis sekaligus
menerima beberapa huruf.
Selama ditahan,
Mandela terserang tuberkolusis, pemicu kerusakan paru-paru. Akibatnya, ia rentan terhadap infeksi
paru-paru. Mandela lalu dipindahkan ke
penjara Pollsmoor di daratan. Penjara
terakhir yang dihuninya yakni Victor Verster.
Pribadi Agung
Mandela punya
sejumlah nama. Miss Mdingane, guru
sekolah di dusun Qunu memanggilnya Nelson.
Alasannya, supaya pemerintah kolonial Inggris gampang menyebut nama
murid bersangkutan.
Di Afsel, Mandela
lazim dipanggil Madiba. Kata ini bermakna “tempat nan bagus” di
Istana Mqhekezweni. Mandela pernah
tinggal di sini sebagai anak perwalian Jongintaba Dalindyebo, Bupati Kabupaten
Thembu. Madiba sesungguhnya nama kepala suku Thembu. Ia memerintah wilayah Transkei di bagian
tenggara Afsel pada abad 19.
Mandela diseru
pula sebagai Tata (bapak). Ia juga dinamakan Khulu. Ini kata singkat dari
uBawomkhulu yang berarti “kakek”,
“besar” atau “penting”.
Mandela acap pula
dipanggil Dalibhunga. Di usia 16 tahun, ia melakukan ritual menuju
dewasa lewat upacara adat Xhosa. Dalibhunga bermakna “pendiri dewan” atau
“pencetus dialog”. Tata cara melafalkan
nama ini untuk menyambut Mandela ialah “Dalibhunga
Aaah!”
Hikmah yang pantas
dipetik dari perjalanan hidup Mandela yaitu spirit wajib dikobarkan terus. Tidak boleh ada kata menyerah melakoni
hidup. Manusia dituntut tegar demi
menaklukkan perkara-perkara besar.
Apalagi, makin agung pribadi, maka, juga kian besar tantangan.
Hidup bukan hanya
hari ini. Di depan menanti berjubel
tantangan. Alhasil, segenap faktor mutlak
dipertimbangkan dalam meretas hidup.
Di masa hidup
Mandela, tantangan terbesar tiada lain hidup rukun antara dua ras manusia. Kini, tantangan makin kompleks. Dimulai dari jumlah penduduk dunia yang
mencapai tujuh miliar. Kemudian eskalasi
politik dunia yang kian tegang, khususnya musim semi demokrasi di negeri-negeri
Arab. Puncak kegetiran dan kegelisahan
yakni kemiskinan di tengah nilai produksi dunia yang mencapai 70 triliun dolar
AS per tahun.
Kompleksitas persoalan
tak memiliki rem. Ia terus tancap gas
bak pembalap Formula 1. Hingga, dibutuhkan manusia-manusia pilihan
yang punya wawasan agar mengerem dampak buruk berbagai masalah.
Mandela mati, tetapi, ia sosok tepat dewasa ini sebagai patron
kehidupan. Figurnya merupakan pola buat
memulai ikhtiar dalam menjangkau momen sejati.
Kita tidak boleh menyerah kendati besok langit runtuh. Selama hayat dikandung badan, selalu ada
jalan untuk menemukan secercah cahaya.
Selamat jalan, Mandela! “Dalibhunga Aaah!”
Gulita
menyelimuti malam.Hawa dingin menerpa
pori-pori.Lelap, tiba-tiba menjadi obat
penyegar bagi orang-orang yang sudah bekerja seharian.Sekalipun penat menyergap, namun, di suatu
sudut dunia di wilayah Bosnia-Herzegovina, Dr Radovan Karadzic tak goyah
menembus malam berkabut.Ia berdiri di
jembatan Visegrad yang dibangun empat abad silam oleh Turki di bawah pimpinan
Dinasti Usmaniyah.Jembatan Visegrad
yang melambangkan Bosnia, dipancangkan oleh Mehmet Pasha Sokolovic, vezir Usmaniyah pada 1571.
Karadzic,
Presiden Serbia-Bosnia berhaluan garis keras itu, menerawang.Ia ingat kalau di tempatnya sekarang berdiri,
terjadi bombardemen milisi Serbia di awal agresi terhadap Muslim Bosnia.Visegrad bukan sekedar jembatan sebelas
lengkung yang kokoh di atas sungai Drina.Alat penyeberangan yang dirancang buat warga Muslim Bosnia tersebut,
telah menjadi sebuah monumen abadi.Benda sepanjang 180 meter itu, juga merupakan saksi atas keganasan
tentara Serbia dalam mencabut nyawa Muslim Bosnia.
Langkah Karadzic
kemudian terayun.Pemimpin Chetnik yang
ahli psikiater dengan spesialisasi ilmu perihal depresi tersebut, ingin
bergegas pulang ke markas besarnya di Pale, dekat Sarajevo.Ketika hendak meninggalkan jembatan, mendadak
Silhouette
(bayangan dirinya), muncul.“Hari-hari
yang melelahkan belum kunjung usai”, sapa sang bayangan.
Karadzic
tersenyum.Giginya terlihat mengkilap
diterpa seberkas cahaya.Mulutnya lantas
lancar berkisah tentang posisinya yang kini aman.Maklum, Jimmy Carter pun mampu diperalatnya sesudah
sukses mengantongi tiga Panglima UNPROFOR (Lars-Eric Wahlgren, Sir Michael Rose
dan Rupert Smith).
Karadzid pun
leluasa mempermainkan utusan khusus PBB Yasushi Akashi maupun penengah idiot
Thorvald Stoltenberg, Cyrus Vance serta Lord David Owen.Carter sebagai mediator internasional dalam
krisis-krisis global, justru menyelamatkan Karadzic dari pengucilan dunia.Mantan Presiden Amerika itu memberikan begitu
banyak simpati kepada pemberontak Serbia.
“Orang menuduh
bila saya telah berjuang demi suatu cita-cita gagal.Mereka lupa jika rasisme serta nasionalisme
adalah haluan untuk menciptakan the
Greater of Serbia”, tegas Karadzic yang dalam darahnya menetes sukma Gavrilo Princip, pemicu Perang Dunia I.
“Langkahmu betul-betul
tidak dirintangi moralitas.Tangan-tangan setan sudah membuat kehidupanmu serba tersudut.
Bergumpal-gumpal dendam merecoki lubuk hatimu.Hatta, tiada sepetak pun teritorial kebenaran dalam sanubarimu.Karadzic!Sesungguhnya rasisme dan nasionalisme sekedar kumpulan adegan horor”.
Karadzic tergelak-gelak.“Bosnia ditakdirkan menjalani hidup penuh
intrik dan teror”, ujar Karadzic.“Takdirmu pun kematian.Kau fokus
pada kebanggaan ras.Kau tak mendengar
suara hatimu”, tandas Silhouette.
“Doktrin komunis
ortodoks telah musnah.Walau hancur
berkeping-keping, tetapi, sistem komunis totaliter masih sanggup menelan mangsa.Memburu demi balas dendam atau untuk
kesenangan merupakan permainan guna mengisi hari-hari yang tanpa ampun,
sebagaimana di masa Hitler”, papar Karadzic yang bakal diadili di Mahkamah
Internasional sebagai penjahat perang bersama Ratko Mladic (panglima militer),
Mico Stanisic (bekas kepala polisi) serta Zeljko Meakoc (komandan kamp
Omerska).
“Di era dosa ini,
politik bukan an art to serve the people.Dalam bertahan di kancah politik, orang
mutlak berprinsip love crime fight
humanity”, sambung Karadzic yang punya affair
dengan politisi-politisi militan di Serbia.
“Intensitas kezalimanmu patut diacungi
jempol berkali-kali.Apalagi, penempatan
aspek kunci persetujuan gencatan senjata yang impoten makin mempertegas kejahatanmu.40 ribu pasukan PBB dari 39 bangsa di eks
Yugoslavia malahan tidak konsekuen menjalankan tugas.Arkian, Muslim Bosnia tetap mencium bau darah
kematian tiap detik”, cetus Silhouette.
“Garis nasib
menghendaki pertumpahan darah.Apalagi,
Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol bersama Portugal mendukung
Serbia.Selain itu, penempatan (inter-positioning) prajurit PBB membuat
Serbia kian kokoh di 70 persen wilayah Bosnia yang dicaplok”, imbuh Karadzic
bangga.
“Muslim Bosnia
sekarang makin terpuruk dalam siksa serta derita.Sejak 5 April 1992 sampai memasuki tahun
keempat pada 1995, tercatat 200 ribu warga Bosnia wafat.Gairah hidupnya rontok oleh desing peluru”,
desah Silhoutette
pedih.
Karadzic menatap
bayangannya.Kepalanya lalu dijulurkan
ke dekat telinga Silhouette.“Hidup adalah tantangan yang berselimut tragedi
bengis atau tradisi luhur.Di sisi lain,
sejarah dibentuk oleh kekacauan dan pembunuhan.Belajarlah memahami rahasia setan yang menggaungkan kekerasan yang
dilembagakan (institutionalized violence)”,
bisik Karadzic sambil meninggalkan sang bayangan, jembatan Visegrad serta
keheningan malam.
Di sudut lain, di
tengah kesunyian malam pekat, melantun doa dari jamaah Bosnia ke hadirat Ilahi.Negeri mereka yang elok, musnah dilumat oleh
algojo-algojo Karadzic.Tiada tersisa,
kecuali penyesalan atas kehancuran toleransi antarmanusia.
Muslim Bosnia kini terpencar dari sanak-saudara
dengan luka hati perih.Kejahatan serta
kezaliman telah membinasakan pemikiran maupun kebudayaan mereka.
“Ganjaran
bagi suatu kejahatan adalah hukuman setimpal.Siapa memaafkan serta berbuat bajik, niscaya pahalanya berada di sisi
Allah.Tuhan tidak suka begundal pelakon
kezaliman” (asy-Syuura: 40).