Label

Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2024

Inilah Guinea yang Perkasa

 

 


 

Inilah Guinea yang Perkasa
Oleh Abdul Haris Booegies

     Pukul 19.00 WIB pada Kamis, 9 Mei 2024, berlangsung babak play-off antara Guinea dengan Indonesia.  Pertandingan berlangsung di Centre National du Football de Clairefontaine, Paris, Perancis.  Duel ini untuk memperebutkan tiket terakhir ke Olimpiade Paris 2024 yang diselenggarakan pada Jumat, 26 Juli 2024-Ahad, 11 Agustus 2024.
     Ada 16 negara yang bakal bermain di cabang olahraga sepak bola.  15 tim sudah memastikan diri lolos.
     Guinea merupakan negara kecil dengan Ibu Kota Conakry.  Negeri di Afrika Barat ini berpenduduk sekitar 14 juta jiwa dengan 85 persen Muslim mazhab Sunni.
     Di Guinea, sepak bola menjadi olahraga populer.  Walau berpenduduk minim, namun, Guinea mampu mencetak pemain kelas dunia.  Mereka merumput di Austria, Belgia, Jerman, Prancis serta Yunani.
     Di skuad Guinea U-23 ini, terdapat 13 pemain abroad dan lima pemain yang berlaga di liga lokal.  Saat ini, kesebelasan Guinea U-23 dilatih oleh Kaba Diawara yang sebelumnya melatih tim senior Guinea.  Kaba mentereng karena pernah membela Arsenal, Marseille serta PSG.  Ia ditunjuk sebagai pelatih U-23 pada April 2024.
     Di Guinea U-23, sejumlah bintang bercokol.  Mereka antara lain Algassime Bah (Olympiacos), Selu Diallo (Deportivo Alaves), Mohamad Soumah (KAA Gent), Madiou Keita (Auxerre B), Lassana Diakhaby (Valenciennes) dan Aguibou Camara (Atromitos Athen).  Pemain paling berbahaya yakni Algassime Bah.  Serangannya betul-betul bak bah.  Kini, ia membela Olympikos, klub elite Yunani.
     Guinea yang berjuluk Sily Nationale berada di posisi runner up Piala Afrika pada 1976.  Mereka kalah dari Maroko.
     Di Guinea, klub raksasa ialah Djoliba AC (Athletic Club).  Klub terkemuka ini berdiri pada 1953.  Mereka memenangkan banyak gelar liga domestik.
     Keunggulan pemain Guinea ialah fisik prima.  Rata-rata berperut six-pack.  Mereka tahan panas karena berasal dari Afrika yang bersuhu menyengat.  Apalagi, mereka sudah disunat karena Muslim.  Hingga, larinya sekencang kijang.
     Tim nasional Guinea yang bergelar Sily Nationale alias gajah-gajah nasional, niscaya repot dibendung.  Lawan-lawan bakal keteteran diseruduk persis amuk gajah murka.  Cucu-cucu para pencuri rempah-rempah yang beroperasi selama 350 tahun pasti hancur-lebur di tangan gajah Guinea.  Gawang cucu bekas penjajah wajib dibombardir agar paham bahwa Guinea bukan tandingannya.  Timnas Hindia Belanda gadungan cuma lawan lembek yang hanya fasih mem-bully om Tommy Welang atau menghujat wasit yang bekerja secara baik.  Dasar kampungan!

DAFTAR PEMAIN GUINEA YANG PASTI MENGHAJAR MAMPUS LAWANNYA DI PLAY-OFF
Sandali Condé (penjaga gawang, 21 tahun, SV Stripfing)
Sékou Camara (penjaga gawang, 21 tahun, Hafia FC)
Lassana Diakhaby (penjaga gawang, 20 tahun, Valenciennes FC U19)
Mory Keita (penjaga gawang, 18 tahun, Hafia FC)
Naby Oularé (bek tengah, 21 tahun, Boluspor)
Sahmkou Camara (bek tengah, 20 tahun, FC Stade-Lausanne-Ouchy)
Cheick Thiam (bek tengah, 20 tahun, Beerschot V.A.)
Madiou Keita (bek tengah, 19 tahun, AJ Auxerre B)
Bangaly Cissé (bek tengah, 21 tahun, SOAR Academie)
Chérif Camara (bek tengah, 21 tahun, Hafia FC)
Mohamed Soumah (bek tengah, 21 tahun, Jong KAA Gent)
Ousmane Kokoe Coumbassa (gelandang, 22 tahun, al-Shorta SC)
Fode Camara (gelandang, 21 tahun, CS Sfaxien)
Naby Camara (gelandang, 22 tahun, al-Waab SC)
Ibrahima Fofana (gelandang, 21 tahun, Kocaelispor)
Selu Diallo (gelandang, 20 tahun, Deportivo Alavés B)
Aguibou Camara (gelandang, 22 tahun, Atromitos Athen)
Sekou Tidiany Bangoura (gelandang, 22 tahun, Tuzlaspor)
Momo Cissé (sayap kiri, 21 tahun, pemain tanpa klub)
Alseny Soumah (sayap kiri, 23 tahun, Horoya AC)
Salifou Soumah (sayap kanan, 20 tahun, Zira FC)
Ousmane Camara (depan tengah, 22 tahun, FC Annecy)
Algassime Bah (depan tengah, 21 tahun, Olympiacos Piraeus)
Elhadj Bah (depan tengah, 22 tahun, USL Dunkerque)
Mohamed Diaby (depan tengah, 22 tahun, KF Trepca 89)
Saran Mamoudou Kanté (depan tengah, 23 tahun, Hafia FC)
Mohamed Lamine Soumah (bomber, 21 tahun, AS Kaloum)


Selasa, 29 Agustus 2023

Juara Komentar


Juara Komentar
Oleh Abdul Haris Booegies


     Tiap Indonesia kalah di sepak bola, acap muncul ide besar di media sosial.  Bergemuruh hasrat supaya timnas memperagakan total voetball, jogo bonito, catenaccio atau tiki-taka.
     Memangnya gampang yang namanya total football?  Belanda saja tidak bisa lagi mempraktikkan total football. Mau jogo bonito?  Brasil justru digilas der Panzer 7-1.  Kekalahan paling memalukan di kandang sendiri pada 2014.  Sistem gerendel catenaccio malahan membuat Italia alpa di Qatar 2022.  Sementara tiki-taka sekarang sudah punah di Barcelona.
     Aspek yang membuat sepak bola Indonesia heboh yakni komentar.  Baik yang disampaikan oleh komentator di TV maupun tanggapan di media sosial.
     Kalau mendengar komentar orang Melayu, rasanya mereka lebih hebat dari pelatih selevel Sir Alex Ferguson, Jose Mourinho atau Jurgen Klopp.  Komentarnya selangit, prestasinya secuil.  Beruntunglah penonton lokal.  Sebab, komentarnya selalu juara dunia tanpa pesaing.


Kamis, 17 Agustus 2017

Black Panther Alauddin




Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther
Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther
Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther
Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther
Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther
Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther
Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther
Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther

Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther

Black Panther Alauddin


                                                        Inti karate adalah komite

                                                                   (Indra Jaya Massa)



     Rasa bangga membuncah di hati kala diterima sebagai santri baru di Pesantren IMMIM pada 1981.  Beberapa hari kemudian diumumkan bahwa yang ingin ikut latihan Black Panther agar segera mendaftar.  Santri yang ikut lebih 30.  Kami hanya dua kali latihan.  Black Panther sirna menyisakan saya tetap sabuk (obi) putih.

     Dari cerita santri lain, ternyata Black Panther sudah lama di Pesantren IMMIM.  Kabar yang terdengar bahwa Black Panther diwajibkan untuk seluruh santri.  Sosok yang memasukkan Black Panther ialah Senpai (先輩) Baharuddin.

     Pada 1985 ketika kelas 5 (Kelas 2 SMA), saya diberitahu teman bahwa akan ada lagi Black Panther di pesantren.  Sensei (先生) Indra Jaya Massa yang merupakan alumnus pertama Pesantren IMMIM memasukkan Black Panther.  Sewaktu saya kelas satu, Indra Jaya kelas enam. Saat itu, saya sempat melihatnya dua kali.

     Latihan diadakan tiap Kamis serta Jumat sore.  Anggota alias kohai (後輩) lebih 100 dari 500 santri.  Seluruh karateka aktif.  Rahasia mengapa kami aktif karena Indra Jaya juga pembina pesantren.  Ia guru matematika.  Tak ada alasan untuk tidak hadir kecuali mau digebuk Indra Jaya.

     Sekali peristiwa, ada pertandingan sepakbola antara Pesantren IMMIM dengan sebuah sekolah di Lapangan Kavaleri.  Pesona bola memaksa karateka ke Lapangan Kavaleri.  Latihan cuma diikuti sekitar sepuluh karateka.  Indra Jaya yang baru tiba dari suatu acara, kaget.  Ia lantas menunggu di gerbang kampus.  Segenap santri karateka yang mangkir diberi hadiah chudan ura tsuki (upper cut) dan yodan mawashi geri (tendangan melengkung).

     Saya berlatih tiap pagi di kamar.  Sebab, merasa tertinggal dari segi usia.  Saya kelas 2 SMA, tetapi, sabuk yang melingkar di pinggang berwarna putih.  Kalau Indra Jaya ke Gedung IMMIM melatih Black Panther IAPIM, saya berusaha ikut.  Saya pun ditahbiskan sebagai karateka teladan.  Hadiahnya karategi (busana karate).  Saya senang sekaligus bangga.

     Selama satu setengah tahun berlatih di Pesantren IMMIM, saya memperoleh banyak keleluasaan berkreasi dari Indra Jaya.  Ketika sabuk jingga, saya diberi kesempatan melatih karateka yang baru bergabung.

     Indra Jaya menugaskan pula memungut iuran anggota, Rp 500 per bulan.  Separuh uang tersebut lalu digunakan merenovasi sebuah ruangan untuk dijadikan sekretariat.  Saya merancang Sekretariat Black Panther.  Pintunya saya cat merah.  Saya mengurus dana, konsumsi serta transportasi saat hendak penaikan sabuk di Malino pada Oktober 1985.

     Indra Jaya kemudian mengusulkan supaya ada ketua Black Panther IMMIM.  Saya dengan Iqbal sebagai kandidat.  Di hari pemilihan, saya menolak dicalonkan.  Maklum, saya tak suka birokrasi.  Apalagi, saya doyan melanggar aturan.  Selain itu, saya sering bolos meninggalkan pesantren untuk menonton di bioskop.  Tidak etis seorang ketua dibutuhkan kehadirannya sementara ia asyik menghibur diri di bioskop.

     Saya tamat di Pesantren IMMIM dengan sabuk jingga.  Sabuk jingga diperoleh setelah Long March pada Februari 1986.  Saya latihan memakai sabuk jingga sekitar tiga kali.  Indra Jaya lantas menyuruh saya mengenakan sabuk kuning.

     Saya bahagia ketika diterima sebagai mahasiswa Fakultas Adab di UIN Alauddin.  Saya juga lulus di Fakultas Sastra Perancis Universitas Hasanuddin.

     Saat mengikuti penataran 100 jam di Unhas, mata saya tertuju ke arah sekumpulan karateka yang sedang latihan.  Saya mendekat, ternyata Black Panther.  Saya menghampiri pelatihnya yang sabuk coklat sembari memperkenalkan diri.  Namanya Senpai Taufik, kuliah di UIN Alauddin.  Di luar dugaan, Taufik ternyata punya hubungan keluarga dengan Indra Jaya.  “Di sini Black Panther khusus, hanya fakultas ini saja yang latihan.  Karateka dari ranting lain tak diperkenankan”.

     Beberapa hari setelah menjadi mahasiswa di Adab, saya mulai mencari celah untuk memasukkan Black Panther ke UIN Alauddin.  Saya mengamati organisasi internal kampus BPKM (Badan Penyelenggara Kegiatan Mahasiswa) yang menaungi segenap fakultas.  Saya menemui Ketua BPKM (1984-1986) Ashabul Kahfi.  Jawabannya negatif.  BPKM tidak memiliki program bela diri.

     Saya lalu mengajak Taufik.  Ia menggeleng sambil menepis-nepis tangan.  “Tidak bisa.  Sudah pernah dicoba, namun, Black Panther tak bisa masuk di sini”.


 Sensei Indra Jaya Massa: Guru Besar Black Panther IMMIM
dan Black Panther Alauddin


Karate Boxing

     Jarak antara Pesantren IMMIM dengan rumah saya hampir 20 kilometer.  Ini memaksa saya berlatih di Black Panther UMI yang dilatih Senpai Herman Hero.  Dari rumah di Jalan Veteran Selatan ke Kampus UMI di Jalan Kakatua cuma butuh satu menit dengan motor.

     Black Panther UMI tidak seramai Black Panther IMMIM.  Di sini anggota yang latihan rata-rata 20.  Sedikit, tetapi, kami penuh keakraban.  Saya cukup dekat dengan Herman Hero.  Orangnya tegas, namun, lucu.  Walau telah latihan di UMI, tetapi, saya tetap terhubung dengan Indra Jaya.  Ia terkadang memberi saya tugas.  Ia misalnya suatu pagi ke rumah.  “Berkemas-kemas sekarang ke Black Panther Teknik Unhas.  Gantikan saya melatih karena ada urusan yang mesti dihadiri pagi ini”.  Saya segera bergegas ke Unhas sebagai bentuk pengabdian.

     Sesudah berlatih di UMI, terdengar informasi bahwa Black Panther Bone bakal mengadakan pertandingan Karate Boxing.  Porsi latihan saya tambah untuk ikut kompetisi.  Bahkan, sempat satu kali latihan Taekwondo di UIN Alauddin.  Ketika siap, saya pun ikut kontingen Black Panther UMI.  Saat itu saya sabuk hijau.

     Jumat, 17 Juli 1987, pertandingan dibuka di Persibo Bone.  Dalam sebuah pertandingan, semua akhirnya berakhir.  Saya kalah dari atlet Bone.

     Usai Karate Boxing, saya ditemui Saiful Alim untuk melatih sementara di Black Panther UNM.  Kala itu Saiful Alim yang sabuk biru, sibuk.  Saiful Alim merupakan orang yang memasukkan Black Panther di UNM .  Ia Angkatan 1982 Pesantren IMMIM.

     Di suatu siang, saya mampir ke tempat kost Muhammad Naim Thahir di Jalan Mannuruki.  Saya minta bahan kuliah yang tadi pagi diajarkan.  Waktu itu, saya terburu-buru karena harus ke Kampus UNM di Parangtambung untuk melatih.  Naim Thahir tertarik mencoba latihan Black Panther.  Saya setuju walau ia mengeluh lantaran tak punya karategi.

     Di Black Panther UNM, anggota yang latihan jumlahnya sekitar sepuluh.  Pekan berikutnya, saya ajak lagi Naim Thahir.  Ia rupanya banyak tugas karena Ketua Tingkat Mahasiswa di Jurusan Bahasa Fakultas Adab.

     Melatih di UNM menguras banyak waktu.  Setelah dua kali, saya meminta Taufik menggantikan saya karena urusan kuliah di Unhas.  Beberapa hari kemudian, Taufik menegur saya karena membuat aturan bahwa tidak perlu ada iuran di Black Panther UNM.  Menurut Taufik, itu preseden buruk.  “Bagaimana jika ada yang pura-pura ikut latihan karena gratis.  Padahal, ia berniat mencuri ilmu bela diri kita”.  Indra Jaya sempat mengkonfirmasi berita tersebut.  “Apakah betul di Black Panther UNM orang latihan gratis?”




Long March

     Naim Thahir mengimbau saya agar memasukkan Black Panther di UIN.  Menurutnya, hal tersebut lebih baik karena saya tak perlu bersusah-payah ke tempat lain melatih.

     Naim Thahir bebas ke ruang Pembantu Dekan karena Ketua Tingkat untuk mengambil bahan maupun alat perkuliahan.  Ia lantas menyampaikan kepada Sekretaris Fakultas Adab bila saya hendak memasukkan Black Panther.  Sekretaris Fakultas Adab saat itu yakni Ismail Adam, suami dari tante saya.  Tentu saja Ismail Adam setuju.  Ia langsung mengizinkan Aula Serba Guna sebagai dojo (道場), tempat latihan.  Tugas saya di Black Panther bertambah.  Sebab, dua keponakan saya putra Ismail Adam ikut latihan.  Ismail Adam memberi pula kami tempat untuk dijadikan sekretariat.  Tempat yang dulu kamar mandi tersebut terletak di sisi ruang kuliah Fakultas Adab.

     Black Panther akhirnya lahir di UIN Alauddin pada November 1987.  Latihan pertama disaksikan Pembantu Dekan III Fakultas Adab Ahmad Ghaffar.  Kami latihan dihadiri sekitar 20 karateka.  Latihan berikutnya saya mendatangkan Indra Jaya.  Seluruh sahabat dari Pesantren IMMIM yang kuliah UIN Alauddin, hadir.

     Saya sempat bertanya ke teman-teman usai latihan mengenai model lambang Black Panther Alauddin.  Muhammad Syukur segera menghampiri saya.  Ia menerangkan bahwa lambang kita yaitu singa menggigit pedang.  Saya gembira mendengar penjelasan Syukur.  Pasalnya, singa menggigit pedang terkesan elok sekali.

     Sesudah mantap, Black  Panther Alauddin pun diresmikan oleh Sensei Haji Ambo Jetta didampingi Pembantu Rektor III Saleh Putuhena.  Saya mengundang Herman Hero.  Kami semua bersuka-cita.  Acara ditutup dengan atraksi karate boxing.  Saya duel versus Irsyad Dahri dari Unhas.

     Tiga bulan setelah peresmian Black Panther Alauddin, diselenggarakan Long March pada Januari 1988.  Rute Long March yaitu Makassar-Parepare.  Jarak 155 kilometer ditempuh tiga hari dua malam berjalan kaki.  Start Jumat pagi dan finish Ahad siang.

     Seluruh karateka dari segenap unit bergabung di Pusat Latihan Black Panther di Jalan Landak, kediaman Haji Ambo Jetta.  Sebelum berangkat, saya dipanggil Haji Ambo Jetta.  Saya gugup mendapat kehormatan berhadapan langsung bicara empat mata di ruang keluarga.  Ia menanyakan keadaan saya.  Haji Ambo Jetta berharap kuliah serta latihan saya sejalan dan berhasil.

     Long March menguras banyak tenaga.  Para karateka akhirnya mampu menyelesaikan rute Makassar-Parepare.  Sejak itu, saya resmi mengenakan sabuk biru.  Berpetualang tiga tahun di Black Panther demi meraih sabuk biru.





     Sesudah beberapa kali latihan, muncul masalah.  Ketika bersua Ketua BPKM (1985-1988) Hairun Patty, ia menegaskan bahwa Black Panther itu milik BPKM.  Alasannya, saya pengurus BPKM.  Sebenarnya, saya bukan pengurus BPKM, namun, akrab dengan Hairun Patty.

     Pada kesempatan lain, Ketua Senat Fakultas Adab Lanai Thalib menjabarkan bahwa Black Panther sah milik Fakultas Adab.  Saifullah Nurdin yang seangkatan dengan saya di Pesantren IMMIM, juga menginginkan Black Panther milik Fakultas Adab.

     Taufik bersama sejumlah teman dari Fakultas Syariah menyampaikan kepada saya bahwa sebaiknya Black Panther tidak dinaungi Fakultas Adab.  Saya tak pernah menjawab sepatah kata pun siapa pemilik Black Panther, Adab atau BPKM.

     Dari hari ke hari, Black Panther makin ramai.  Secara perlahan, statusnya meningkat sendiri sebagai milik UIN.

     Problem lain yang dihadapi ialah ulah teman-teman.  Banyak sabuk putih yang doyan menggertak.  Bahkan, menggunakan kekerasan.  Namanya juga sabuk putih, pasti beringas.

     Black Panther mendadak menjadi kata yang ditakuti.  Akibatnya, ada mahasiswa yang minim visi hendak membuat perhitungan dengan Black Panther.  Minim visi karena tidak berpikir bagaimana mungkin bisa melumpuhkan Black Panther yang anggotanya bercokol di tiap fakultas.  Seorang kawan yang juga wartawan teramat geram.  “Untuk apa Black Panther masuk di UIN!”, semburnya penuh emosi.  Saya pura-pura tak mendengar.  Ia akhirnya lemas sendiri.

     Suatu siang saya ditemui seorang rekan.  Ia mengadu perihal pacar temannya yang dirayu anak Black Panther.  Saya ungkapkan bahwa yang merayu itu bukan mahasiswa UIN.  Saya tidak bisa mencampuri persoalan begini karena ini urusan cinta!

     Pada 1989, kala Black Panther Alauddin terlihat mandiri, saya tak pernah lagi latihan.  Tahun berikutnya saya menyibukkan diri di Unhas dengan menerbitkan Majalah LEKTURA.  Kini, Taufik seorang diri melatih.  Saya ingat kata-kata Taufik saat menegur:  “Bagaimana ini, kamu memasukkan Black Panther, tetapi, tidak pernah lagi datang”.

     Saya tak pernah tahu Black Panther Alauddin sejak 1989 sampai saya didatangi empat pengurus di suatu malam pada Mei 2017.  Saya kaget karena Black Panther Alauddin ternyata telah menjelma raksasa.  Saya heran, takjub, bahagia serta terharu.

     Saya berharap semua anggota Black Panther Alauddin sukses.  Berlatih keras guna menempa diri menjadi yang terbaik.  Sebab, inti karate adalah komite.  Latihan terus-menerus membuat karateka Black Panther memahami makna: “Daripada saya lebih baik kau!”

Selasa, 14 Juli 2015

Virus Darwin di Sepak Bola



Virus Darwin di Sepak Bola
Oleh Abdul Haris Booegies

     Selama Piala Eropa 2012, kita disuguhi fenomena menarik.  Bukan figur Ronaldo yang diteriaki Messi oleh suporter lawan.  Bukan pula merek celana dalam yang dipamerkan tombak Denmark Nicklas Bendtner saat selebrasi gol.
     Gejala menonjol yang menggoyang kalbu yakni rasisme.  Selama perhelatan sepak bola dalam turnamen akbar sekelas Piala Eropa, baru kali ini rasialisme begitu berdenging-dengung.
     Hooligans Inggris yang amburadul serta nekat pun gentar melawat ke Polandia-Ukraina.  Mereka mafhum jika di dua negara penyelenggara Piala Eropa itu, tumbuh subur rasisme.  Daripada bonyok ditimpuk di negeri orang, banyak pendukung Inggris lebih memilih menonton di negaranya.
     Inggris termasuk repot.  Sebab, skuad the Three Lions diperkuat beberapa pilar berkulit hitam.  Sementara di Italia ada Mario Balotelli yang urakan.  Striker Manchester City berdarah Ghana tersebut dianggap jenius, tetapi, sedikit gila.  Balotelli bersama saudaranya sempat menyelinap ke penjara wanita.  Ia tak punya maksud lain kecuali sekedar iseng.  Betul-betul gila anak itu.
     Pada Ahad, 10 Juni 2012 kala Italia kontra Spanyol di Stadion Arena Gdanks, Polandia, Balotelli mengalami pelecehan rasial.  Sebagian pendukung Spanyol bernyanyi dengan suara mirip monyet tiap bomber Gli Azzurri tersebut menguasai bola.
     Di Poznan pada Kamis, 14 Juni 2012, tatkala Italia melawan Kroasia, kembali Balotelli diolok-olok.  Perlakuan rasialis ditunjukkan sekitar 300 suporter Kroasia kepada Balotelli.  Bahkan, pisang sempat dilempar ke lapangan sebagai simbol makanan favorit monyet.
     Di Stadiun Miejski, kota Krakow, Polandia, pemain berkulit gelap Belanda yang tengah latihan diejek.  Mereka diledek dengan menirukan suara monyet.
     “Kalau ini terjadi di pertandingan, kami akan meminta wasit agar mengizinkan kami meninggalkan lapangan”, kata kapten Mark van Bommel.
     UEFA menilai insiden itu sebagai protes fans.  Soalnya, Krakow bukan empat kota tuan rumah Piala Eropa di Polandia.  Murka van Bommel pun membuncah oleh alasan sekenanya tersebut.
     Ukraina sebagai negara Eropa Timur pecahan Uni Soviet, juga diakui bukan negara toleran bagi kulit berwarna.  Di kota Lviv, pendukung sebuah klub sepakbola doyan mengibarkan bendera Nazi saat pertandingan berlangsung.

Teori Ateis
     Atlet profesional sekelas Luis Suarez (Liverpool) maupun John Terry (Chelsea), mengidap pula sindrom rasial.  Keduanya menghina pemain bola yang berkulit kelam.
     Pribadi-pribadi modern di milenium ketiga ini seolah tercuci otak bila kulit hitam bukan orang.  Sosok manusia sebenarnya cuma yang berkulit putih.
     Pada esensinya, semua suku dan bangsa memiliki perspektif berbeda terhadap manusia dari luar etnisnya.  Orang Bugis, umpamanya, memandang aneh bule.  Maklum, kulitnya dianggap pucat bak lilin.  Sedangkan Bugis berkulit sawo matang.  Hingga, kulit putih dinilai bukan keturunan To Manurung (mahkluk dari langit yang menjadi cikal manusia Bugis).
     Indian di Amerika menghembuskan mitos.  Mereka memandang kulit putih (Eropa) sekaligus kulit hitam (Afrika) sebagai anatomi salah model.  Alkisah, saat tuhan mendesain manusia, terjadi kecerobohan bin kelalaian.  Tuhan terlalu banyak memercikkan api pada prototipe awal manusia.  Hasilnya fatal, makhluk itu gosong.  Jadilah ia berkulit hitam.  Purwarupa lain menjalani proses perapian, namun, apinya redup.  Salah lagi.  Makhluk tersebut belum matang.  Terpaksa ia berkulit putih.  Dua kesalahan itu membuat tuhan berhati-hati.  Model ketiga diberi api yang tidak besar, juga tiada kecil.  Hasilnya sip.  Warnanya kemerah-merahan laksana kulit bayi yang baru lahir.  Voila, jadi dech orang Indian.
     Hikayat kaum Indian tentang muasal warna kulit, kurang populer ketimbang postulat Eropa terhadap Afrika.  Kulit putih begitu jemawa.  Mereka seolah menganggap hanya dirinya manusia.
     Dari mana rasialisme bermula?  Jawabnya tentu dari teori evolusi.  Charles Darwin telah melukai bermiliar manusia gara-gara teori evolusi.  Darwin memang tak secara terang-benderang menjabarkan bahwa manusia berasal dari kera.  Pasalnya, ada missing link (mata rantai yang hilang).  Pendukung teori evolusi dari kalangan ateis sesungguhnya yang berkampanye secara besar-besaran bahwa manusia berasal dari kera.

Melindungi Sepak Bola
     Di zaman sekarang, teori evolusi sebetulnya sudah aus, lapuk serta khatam.  Teori evolusi dinilai tidak sejalan dengan semangat sains dan teknologi.  Seleksi alam serta mutasi mustahil dapat mengubah satu spesies menjadi spesies lain.
     Sampai hari ini, tiada satu alibi yang menerangkan bahwa seleksi alam membuat makhluk hidup berevolusi.  Biologi modern menampik secara tegas teori evolusi.  Apalagi, tiada fosil sanggup membuktikan jika manusia berasal dari kera.
     Fosil-fosil yang dipertontonkan tak ada hubungannya kalau manusia berasal dari kera.  Fosil-fosil yang dipropagandakan berusia ribuan tahun, malahan tidak punya bukti sahih.
     Baru berumur puluhan tahun, sontak digembar-gemborkan ribuan tahun.  Ini serupa dengan arca-arca yang dipamerkan di museum.  Dilabeli berusia ratusan tahun.  Padahal, dipahat oleh pematung tiga tahun silam.
     Kini, teori evolusi telah merasuk ke sukma warga bule.  Mereka menatap rendah negro sebagai orang terdekat dari teori evolusi.  Kulit hitam diremehkan karena bodoh, miskin dan tak beradab.  Berbeda dengan kulit putih yang superior, dominan, cerdas sembari paham tata krama.
     Pada intinya, teori evolusi mencabik-cabik rasa kemanusiaan.  Teori evolusi menodai kehormatan manusia.  Bahkan, teori evolusi menanamkan rasa congkak di hati komunitas Eropa.  Hatta, orang yang berkulit hitam dipandang pecundang.  Alam bawah sadar mereka disusupi risalah sungsang bila negro tiada lain titisan monyet.
     Kala Balotelli berlari membawa bola menusuk pertahanan lawan, di tribun penonton terdengar suara monyet.  Bangsa kulit putih ternyata lebih tidak beradab.  Sebab, tak ada pribadi modern mau melakukan perbuatan tercela dengan menistai manusia, apa pun bentuknya!
     Golongan kulit putih rupanya lebih bodoh dibandingkan negro.  Soalnya, bule dikibuli oleh teori evolusi yang tidak memiliki spirit ilmiah.  Charles Darwin telah membodoh-bodohi orang Eropa dengan sebuah khayalan semu.
     Balotelli, Suarez bersama Terry sama-sama makhluk Tuhan.  Struktur genetis ketiganya sebangun serta selaras.  Di tengkoraknya ditanamkan otak untuk cerdas.  Di rongga dadanya dibenamkan hati untuk saling menghargai.  Alhasil, mampu melindungi sepak bola dari pelecehan rasial.  Bukan saling mencela.  Apalagi, ada otak yang bisa mengendus omong kosong teori Darwin.


Amazing People