Rabu, 27 Oktober 2021

Imperium 8086


Imperium 8086
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di ujung abad 20, Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim) ibarat noktah di galaksi.  Hanya sebuah organisasi kecil yang jauh dari publikasi.
     Memasuki abad 21, Iapim bertransformasi.  Anggotanya yang dulu bisa dihitung dengan jari, sekarang berbiak dengan jumlah 4.000 warga.
     Dalam meniti perjalanan waktu, Iapim saban tahun terisi dengan alumni yang baru tamat.  Dewasa ini, terhimpun 40 lichting dengan warna-warni talenta.
     Sesungguhnya, Iapim bukan organisasi sembarang.  Maklum, penghuninya -saya istilahkan sebagai- homo santrinicus (pelajar religius).  Gerak-gerik mereka terdeteksi di segala persada Bumi sebagai makhluk pencari pengetahuan serta kebijaksanaan.
     Iapim merupakan alat ikat komunal antar-alumni Pesantren IMMIM.  Saya membayangkan Iapim merupakan wadah untuk membangun trilogi ulama intelek di intra-angkatan, antar-angkatan dan antara Iapim dengan umat.
     Iapim tidak mengenal persaingan antar-angkatan.  Segenap alumni tak tersekat oleh batas demarkasi.  Walau tiap lichting merupakan entitas mandiri, namun, tidak pernah ada kompetisi.  Tiap angkatan menyatu sebagai mata rantai.
     Seluruh lichting tak bisa memungkiri kewajiban bergaul dengan angkatan lain maupun umat.  Individu terbaik di suatu lichting merupakan kebanggaan semua alumni.  Ia menjadi milik Iapim, IMMIM sekaligus umat.

Kalah Perang
     Petualangan-petualangan elok sering dipertontonkan anggota Iapim.  Alumni sempat terpesona dengan kehebatan Iapim 8086.  Kini, Iapim 8086 bak serdadu kalah perang.  Luruh serta lemas.  Seolah diinfus di ruang gawat darurat dalam kondisi stadium yang kritis.
     Iapim 8086 mustahil kembali untuk mengubah awal.  "Tidak dapat mengubah awal, tetapi, bisa memulai dari posisi sekarang untuk mengubah akhir", tutur CS Lewis.  Pasalnya, masa depan dimulai sekarang, ungkap Mark Strand.
     Iapim 8086 wajib bergerak cepat.  Mutlak siaga satu demi menyongsong era berikut yang sarat kejutan.  Pepatah Arab berbunyi: "Apa yang akan datang lebih baik dibandingkan yang telah lampau".

Kaisar Karier
     Apa dan siapa Iapim 8086?  Ini konstruksi objektifnya.  Fakta pertama, Iapim 8086 merupakan penyempurna eksistensi Pesantren IMMIM.  Kehadiran Iapim 8086 menjadi tonggak baru.  Pimpinan kampus dua kali mengumandangkan di masjid pada 1980.  "Ini tahun istimewa.  Sebab, ada kelas VI".  Tak ada kelas VI (Iapim 7581) di pesantren andai tidak ada kelas I (Iapim 8086).
     Fakta kedua, jumlah anggota Iapim 8086 yang finis mencapai 78 dari 155 santri.  Ini angka fantastis.  Bertahan sekitar dua dekade sebelum ditumbangkan alumni milenial.
     Iapim 8086 dua kali mencetak prestasi di penghujung masa pengabdian sebagai santri.  Pertama, memotori 150 karateka Black Panther ke Malino pada Ahad, 3 November 1985.  Ini acara pemasangan sabuk putih ke ungu.  Kedua, Iapim 8086 melakukan studi perbandingan ke daerah selama tiga hari sejak Sabtu 1 Februari 1986.  Comparative study ini merupahan tur pertama sejak berdiri Pesantren IMMIM.
     Selama dua dasawarsa sejak tamat, Iapim 8086 merupakan kaisar.  Mereka ada di tiap lintasan karier.  Memasuki dekade pertama (2001-2010) milenium ketiga, Iapim 8086 mulai goyah.  Sejarahnya retak.  Iapim 8086 mengalami degradasi.  Tak terbayang dalam imajinasi paling liar jika Iapim 8086 tidak punya wakil sebagai ketua Iapim.
     Dalam kalkulasi saya, ada dua penyebab runtuhnya hegemoni Imperium 8086.  Pertama, terlena oleh puja-puji sebagai "terbesar dan terbaik" di masa silam.  Angka ikonis "86" merupakan penanda identitas yang mendominasi Iapim selama 20 tahun.  Kini baru terasa, populasi gemuk Iapim 8086 tak berkutik menghadapi angkatan dengan jumlah penduduk minim.
     Elemen kedua yang memaksa Iapim 8086 terhempas dari panggung sejarah ialah medan laga.  Ini zaman serba praktis.  Ada media sosial yang membuat dunia berada di ujung jari.  Semua serba mudah berkat internet.  Apalagi, manusia sudah tiba di era Revolusi Industri 4.0.
     Media sosial serta Revolusi Industri 4.0 sebagai primadona teknologi, tidak dikuasai sepenuhnya oleh alumni 80-an.  Soalnya, mereka tak pernah mempelajari seluk-beluk komputer di bangku sekolah.
     Generasi 80-an tidak didoktrin secara spesifik guna mengoperasikan komputer.  Mereka tak memiliki rujukan sains dan teknologi.  Alumni 80-an masih berpijak pada agrikultural.  Belum bermetamorfosis ke fase teknologi.  Akibatnya, megap-megap di tengah gelombang revolusi saintifik.

Poligami Janda
     "Terbesar dan terbaik" merupakan filosofi Iapim 8086 yang dulu nyaring bergema.  Hari ini, diksi sakti tersebut telah usang dikebiri sang kala.  Tanpa gagasan serta tekad besar untuk berbenah di usia senja, niscaya Iapim 8086 wassalam dari klimaks sejarah kejayaan Pesantren IMMIM.
     Tugas Iapim 8086 di era Revolusi Industri 4.0 ialah menemukan metode baru dalam kompetisi.  Tidak boleh gagap dengan gagasan Revolusi Industri 4.0 sebagai transformasi komprehensif yang menekankan teknologi otomatisasi dan siber.  Apalagi, Revolusi Industri 4.0 perlahan dalam kepastian terus mengubah fenomena sosial secara mondial.
     Iapim 8086 seyogianya mendesain langkah fenomenal di tengah narasi makro global.  Tanggung jawab terhadap kemajuan mesti dipegang erat.  Apalagi, tiga sumber daya melingkupi Iapim 8086; alumni, IMMIM serta umat.
     Peluang Angkatan 86 untuk kembali menjadi kaisar Iapim masih terbuka, masih tersisa percik cahaya cemerlang.  Minimal Iapim 8086 menjelma pangeran yang kukuh sebagai living tradition (teladan yang hidup) dalam organisasi.  Apa lacur, di grup Whatsapp IMMIM 86, cuma terdengar diskusi mengenai janda, poligami dan obat kuat.  Seolah ada tendensi agresif secara seksual yang merajam.  Hatta, mereka terpesona hedonisme di tengah gemuruh politik demokrasi, sistem ekonomi kapitalis serta struktur sosial rasisme.  Ada-ada saja alumni 1980-1986 di usia uzur ketika malaikat maut saban hari mengunjunginya 70 kali dalam 24 jam.


Sabtu, 23 Oktober 2021

Ketawa Gaya Santri (5)

 

Ketawa Gaya Santri (5)
Oleh Abdul Haris Booegies


Episode Kesebelas:
Pelapis Celana

     Pagi dan sore merupakan jam sibuk bagi pelajar, termasuk santri Pesantren IMMIM.  Pada 1980, hampir semua santri mandi di sumur.  Kamar mandi asrama sudah tidak berfungsi.  Di perigi, santri berkumpul demi membersihkan tubuh.  Mereka terlihat senang mengguyur badan dengan air segar yang menyejukkan.
     Terdengar percakapan dalam bahasa Arab Tamalanrea (Ararea) dengan logat Bugis Makassar.  Mandi sambil berkisah merupakan hal lumrah bagi santri.  Ada pula yang mencuci.  Kalau tak punya sabun cuci, ia menggunakan sabun mandi.  Pokoknya tercuci kendati daki yang melekat di pakaian masih tersisa.
     Sumur merupakan tempat pertemuan santri dari berbagai rayon.  Perigi kibar (senior) kadang sesak karena didatangi penghuni asrama Imam Bonjol, Datuk Ribandang (Fadeli Luran), Panglima Polem serta Pangeran Diponegoro.  Pada 1982, sumur dekat dapur ada dua.  Satu di belakang kantin, satu di samping kantin.  Kedua perigi didatangi penghuni rayon Sultan Hasanuddin, Raja Faisal dan Raja Khalik.  Sedangkan asrama Al-Gazali memiliki sumur tua di sisi rumah ustaz Syukri Basondeng.  Perigi tersebut telah ada tiga tahun sebelum pembangunan rayon Al-Gazali.
     Rata-rata santri yang mandi memakai celana pendek olahraga.  Ada pemandangan yang sampai sekarang masih menjadi teka-teki besar.  Mengapa santri yang mandi di sumur senantiasa membalik celana.  Bagian dalam di luar.  Hatta, terlihat pelapisnya yang putih berbentuk segitiga.
     Ini sebuah misteri di perigi Pesantren IMMIM.  Tidak satu pun santri sanggup memecahkan rahasia pemakaian secara terbalik celana.

Episode Keduabelas:
Digigit Lipan

     Selepas Ashar, saya mengisi teka-teki silang (TTS).  Tempatku di kamar I Panglima Polem.  Kala asyik menyusun kata, muncul AA (D5).
     Ia memperhatikanku sedang mencari kata untuk disusun sesuai kotak-kotak kosong.  Saat itu, AA hendak ke sumur.  Ia cuma melilit tubuhnya dengan handuk, tentu tak mengenakan celana.  Polos bagian dalam alias setengah telanjang.
     Kami kemudian sama-sama mengisi TTS.  Bila ada kata-kata rumit, kami saling berpikir.  AA duduk di tepi ranjangku.  Tiba-tiba ia terlonjak sembari meringis.  Tangannya mengibas-ibas di sekitar pangkal paha.  AA lantas membelakangiku seraya memeriksa bagian vitalnya.
     Saya mundur, ada apa ini?  Ia setengah menjerit memekik dalam bahasa Arab Tamalanrea (Ararea).  "Burungku digigit lipan".
     Saya kaget, bagaimana mungkin ada lipan di kasurku.  AA lalu meninggalkanku menuju perigi senior.  Ia berjalan agak gontai gara-gara disengat serangga.  Saya segera mengatur ulang dua kasurku; karet busa serta kapuk.  Khawatir bernasib sama, digigit lipan betina di pesantren putra.

Episode ketigabelas:
Santri Striptis

     Di Pesantren IMMIM, ada sejumlah santri nyentrik dan ugal-ugalan.  Ada satu santri dari generasi 8086 yang begitu mashur.  Tatkala menyusun 100 SANTRI POPULER, saya langsung memasukkan Abdul Hafid alias Havid de Berru.
     Syahdan di suatu malam nan pekat bakda Isya.  Lampu di pesantren padam lantaran listrik mati.  Sebagian santri memilih duduk-duduk atau berbaring di ranjang.
     Mendadak terdengar suara riuh di area sumur kibar.  Ada apa gerangan?  Rupanya Hafid yang penghuni Datuk Ribandang (Fadeli Luran) bertandang ke asrama Imam Bonjol.
     Ia memeluk beberapa teman sambil terkekeh-kekeh.  Rekan yang dirangkul hanya diam di kegelapan kamar.  Menganggap ini semacam tingkah pengisi waktu ketika lampu tidak menyala.
     Sahabat yang dipeluk kemudian terkejut.  Berteriak-teriak sembari terbahak-bahak.  Musababnya, Hafid ternyata bugil.  Tak selembar benang di raganya.
     Hafid dari rayon Datuk Ribandang menyeberang ke asrama Imam Bonjol dalam keadaan telanjang bulat.  Masuk ke bilik merangkul satu per satu teman.  Inilah pertunjukan striptis pertama di Pesantren IMMIM yang diperankan oleh aktor Iapim 8086.  Betul-betul sinting.
(Bersambung)


Kamis, 21 Oktober 2021

Menanti Ajal Iapim 8086

 

Menanti Ajal Iapim 8086
Oleh Abdul Haris Booegies


     Sampai tarikh 2021 ini sejak 1981, Pesantren IMMIM Putra-Putri telah menamatkan 40 angkatan (lichting).  Kini, alumni mencapai sekitar 4.000.  Sebagian lulusan junior berkiprah di Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim).
     Banyak alumni sekarang memegang posisi penting di pemerintahan maupun swasta.  Tidak sedikit pula yang mengabdi di TNI, Polri serta perguruan tinggi.
     Tiap lichting punya keistimewaan, khususnya individu yang mewarnai angkatan bersangkutan.  Sebagai contoh, Iapim 7985 diisi satu profesor.  Iapim 8187 memiliki dua profesor.  Iapim 8288 punya satu profesor plus Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan yang digadang-gadang menjadi Ketua MA.
     Keistimewaan yang dimiliki tiap angkatan merupakan kebanggaan yang sering diekspos sesama alumni.  Seluruh 40 lichting, tak pernah bersaing.  Semua sama ilmu sama akhlak.  Kami menjunjung rasa persaudaraan sebagai sesama mantan santri yang ditempa enam tahun di pesantren.
     Dua dasawarsa sesudah tamat, Iapim 8086 termasuk alumni terbesar.  Bukan hanya dari segi kuantitas dengan 78 awak, namun, merangsek ke segenap aspek.  Saya bangga berkat termaktub bagian Iapim 8086.
     Pada 2021, saya mulai merasa ada yang perlu diperbarui di Iapim 8086.  Mesti dicas selekasnya agar daya baterainya selalu ereksi.  Sebab, setelah 35 tahun tamat, ternyata Iapim 8086 mulai terseok-seok.  Tertinggal dari kompetisi meraih prestasi.  Sesungguhnya, di Iapim tidak dikenal persaingan antar-angkatan.  Saya sengaja menggunakan kata "kompetisi" demi aksentuasi belaka.
     Iapim 8086 umpamanya keteteran akibat tak punya profesor.  Pada pertengahan Oktober 2021, saya "dihibur" seorang Datuk 86.  "Kita memiliki beberapa kandidat profesor".  Saya pesimis mendengarnya karena cuma calon.  Sementara saban tahun pesantren memproduksi alumni milenial yang lebih segar.  Mereka kelak mampu bereksperimen di bidang new sciences semacam Teori Chaos, Geometri Faktal, Mekanika Kuantum, Fisika Kuantum, Teori Relativitas serta Big Bang.
     Saya ingin menyapa Fuad Mahfuz Azuz, Lukman Sanusi dan Awaluddin Mustafa yang merupakan Datuk 86.  Trio ini punya keandalan komunikasi sekaligus cerdas sebagai mediator.  Iapim 8086 wajib mencari terobosan baru supaya bisa dikenang.
     Dewasa ini, Iapim 8086 ibarat garam dalam air.  Perlahan secara pasti garam terus larut, berubah wujud menjadi cair.  78 personel Iapim 8086 sudah ada yang pamit dari dunia.  Perlahan dalam kepastian semua bakal wafat.  Laksana garam, hilang wujudnya.
     Sebelum seluruh personel bergeser ke alam lain, seyogianya trio Datuk 86 bertindak dengan gagasan.  Mendesain taktik guna menggali perspektif baru dalam menelusuri era selanjutnya.  Iapim 8086 mutlak memiliki warisan yang dapat dikenang.  Ini agar Iapim 8086 leluasa tergiang dalam memori kolektif sejarah Pesantren IMMIM.
     Saya acap berkhayal, andai Iapim 8086 punya gedung serbaguna.  Gedung untuk pernikahan, seminar, pameran atau wisuda tersebut kemudian dilabeli angka ikonis "86".  Kalau Iapim 8086 kukuh secara finansial, mengapa tidak membangun rumah bersalin.  Ini untuk mengantisipasi lonjakan penduduk di tahun-tahun berikut.  Kita berkarya untuk masa depan.
     Bila berharap ada warga Iapim 8086 masih bisa mengukir prestasi, saya kurang yakin.  Serba tiada kemungkinan, terlebih inovasi.  Energi diri seolah sempoyongan demi mengakomodasi eksplorasi baru.  Ekspektasi kian terkikis, makin tipis seperti kondom.  Apalagi, Iapim 8086 rata-rata 55 tahun.  Tinggal delapan tahun lagi mencapai 63, sama usia Maharasul Muhammad.


Selasa, 19 Oktober 2021

Belahan Jiwa LEKTURA

 

Belahan Jiwa LEKTURA
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada 1992, saya ke Pesantren IMMIM untuk mencari santri yang dapat menjadi model sampul majalah LEKTURA.  Senpai Indra Jaya kemudian merekomendasikan empat santri dengan postur bagus.  Cocok sebagai cover boy LEKTURA.
     Di percetakan, LEKTURA menjadi masalah.  Belum dicetak sesuai jadwal.  Ini akibat laporan utama (laput) mengangkat tema golongan putih (golput).  Isu golput sangat sensitif di masa Orde Baru.  Kami bisa ditangkap.  Waktu itu, kami pengasuh LEKTURA ugal-ugalan, nekat.
     Keterlambatan LEKTURA dicetak, membuat wakil pemimpin redaksi nyaris berkelahi dengan pemilik percetakan.  Soalnya, percetakan mengulur-ukur waktu.
     Ketika LEKTURA terbit, persoalan baru muncul.  Pertama, saya mengomersialkan LEKTURA di kios depan kantor pos besar.  Padahal, sesuai kesepakatan redaktur dengan Kakanwil Departemen Penerangan (Deppen), LEKTURA merupakan media intern.  Kedua, ada berita LEKTURA yang menyerang kebijakan rektor sebuah perguruan tinggi.
     Dua perkara ini plus laput golput, membuat LEKTURA ditegur tanpa ampun.  Pertama, Deppen memberedel LEKTURA.  Kedua, rektor Universitas Hasanuddin melarang penerbitan LEKTURA.  Ketiga, dekan Fakultas Sastra tidak mengizinkan lagi LEKTURA terbit.
     Sebagai pemimpin redaksi, tentu saya kecewa atas pemberangusan LEKTURA.  Sebab, LEKTURA adalah sambungan sukmaku.  LEKTURA merupakan pionir pers mahasiswa di Unhas di awal 90-an.
     Kecewa bergemuruh di dada atas nasib nahas LEKTURA.  Kendati demikian, saya bangga dengan kepala tegap.  LEKTURA satu-satunya media mahasiswa di Indonesia yang diberedel Orde Baru.  Sampai hari ini, saya diliputi kebanggaan menakhodai LEKTURA dengan cara menggasak kebijakan kampus maupun Pemerintah.


Minggu, 17 Oktober 2021

Ketawa Gaya Santri (4)

 

Ketaa Gaya Santri (4)
Oleh Abdul Haris Booegies


Episode Kesembilan:
Pigura Raib

     Ketika libur, kami para santri Pesantren IMMIM, bergembira-ria.  Ini momen untuk pulang ke rumah bertemu orang-orang yang dikasihi.  Kalau libur, saya biasa tinggal di pesantren.  Apalagi sekarang sudah kelas IV.  Malas ke rumah yang berjarak 15 km.
     Kala mentari menanjak ke puncak, saya menyusuri selasar kelas yang sejajar Gedung Majelis Guru.  Bagian Timur bangunan kelas ini merupakan ruang Tsanawiyah.  Di sebelah Barat adalah ruang kelas IV.
     Di bilik kelas IV, santri terkadang makan coto, sate atau kue tradisional.  Sebab, ada warung di sisi lorong.  Santri hanya berseru menyebut apa yang diinginkan.  Makanan pun diantar oleh Dewi, anak gadis pemilik warung.
     Santri tinggal segelintir di kampus saat saya masuk ke ruang kelas IV IPA.  Saya tertegun, langkah kaki terhenti.  Saya mengamati dinding depan kelas.  Ada yang tidak lazim.
     Saya kemudian ke ruang kelas sebelah.  Sama.  Dua pigura yang terpajang di dinding, hilang.  Ada maling masuk ke pesantren.
     Saya bergegas memeriksa kelas lain.  Semua pigura di kelas Tsawnawiyah, raib.  Saya menyusuri serambi kelas ke belakang, arah Barat.
     Siapa yang mengambil pigura-pigura itu?  Tadi pagi masih ada.  Berarti pencurinya bertindak tatkala santri berbondong-bondong menuju kampung halaman masing-masing.
     Pigura ini bergambar pahlawan-pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin atau Panglima Polem.  Bingkainya berukuran 40 x 30 cm.
     Di kelas paling ujung, terdengar langkah kaki.  Saya memperlambat jalan sambil menguping.  Ketika membuka pintu, saya terpana.  Ternyata La Gode (ini nama palsu).  Rekan sekamar di rayon Imam Bonjol.  Kami sama-sama kelas IV.  La Gode "seilmu sepengetahuan" dengan saya jika bolos ke bioskop.  Kami serupa karena rajin alpa di kelas.  Ia juga tak canggung dalam kenakalan.  Riwayatnya di pesantren "tidak putih tidak hitan", tetapi, kelabu.
     La Gode tersenyum kecut saat menatapku.  Di meja, tergeletak puluhan pigura.  Rupanya, La Gode bingung.  Bagaimana harus mengangkut pigura sebanyak itu ke kamar I Imam Bonjol.
     Mau lewat di belakang masjid, ada koki yang sedang bersenda-gurau di dapur serta kantin.  Mencoba lewat depan masjid, terlalu kentara terlihat dari ruang pimpinan kampus.  Gerak-gerik pasti terdeteksi sebagai aksi negatif.  Akibatnya, La Gode risau sendiri di kelas.
     Saya lantas berpura-pura mengingat sesuatu.  Ini sekedar alasan supaya saya meninggalkan La Gode seorang diri di kelas.  Saya tidak sudi terlibat dalam eksperimen unscientific ini.  Dosanya berlimpah.

Episode Kesepuluh:
Papan Ranjang

     Usai libur, kami para santri senang tiada terkira.  Bersemangat berbagi kisah.  Tiap diksi yang terlontar selalu kaya dengan kenangan.  Semua karena rindu telah berlabuh selama beberapa hari.  Mitra yang baru datang digoda agar membagi kue kering yang ditaruh di kaleng.  Cerita tak seru bila tidak ada kue.
     Di suatu peristiwa, ada insiden di hari pertama di kampus sesudah libur.  Kami di asrama Imam Bonjol saling mengklaim papan ranjang.  Sebuah selisih pendapat bergema.  Simpang-siur bergemuruh demi mencari wujud sekaligus ujung teka-teki papan.
     "Ini papanku", ujar A.
     "Bukan punyamu, ini papanku", sahut B.
     "Papanku mana?".  C bertanya.
     "Ke mana semua papan!"  Pekik D.
     Pertanyaan bagus, ke mana papan ranjang selama libur?  Mustahil binti muskil pencuri masuk ke pesantren untuk membopong papan.  Tak seberapa harganya.  Pencapaian target finansial begitu minim kalau cuma papan dicuri.  Apalagi, kamar disegel aksesnya dengan gembok.
     Misteri ini akhirnya tersibak.  Dilampiri bukti sahih.  Papan-papan tersebut kiranya telah berubah bentuk.  Seorang santri yang tinggal di kampus selama libur mengumpulkan sejumlah papan terbaik.  Dengan ilmu pertukangan ala kadarnya, ia membuat lemari.  Pantas ada lemari baru yang kasar serutannya di kamar, mirip peti mayat.
     Gara-gara lemari yang dibikin sembunyi-sembunyi secara manual itu, kami saling mengklaim papan.  Kami saling bertikai.  Kini, ada sahabat yang papan ranjangnya hanya dua.  Salah sedikit bisa jatuh jika tidur.  Ada-ada saja kreativitas anak Pesantren IMMIM.

 

Jumat, 15 Oktober 2021

Tipuan Persepsi Alumnus Palsu



Tipuan Persepsi Alumnus Palsu
Oleh Abdul Haris Booegies


     Hidup di pesantren sarat lika-liku.  Sejumlah aral membentang.  Tantangan silih-berganti menghalang.  Santri bermental kerupuk pasti tereliminasi.  Tersingkir secara pahit dari kampus Islamik.
     Kala kelas I, saya sempat tertegun di kamar.   Dua senior adu mulut di depan rayon Datuk Ribandang (asrama Fadeli Luran).  Seorang santri dari Angkatan 82 tak rela sanak saudaranya dipukul oleh mudabbir (pengurus) qismul amni.
     Peristiwa pada 1980 ini begitu dalam tertancap di sanubari.  Saya heran, mengapa ada santri kelas I yang boleh dikata cuma dicubit, langsung melapor ke kerabatnya.  Cengeng betul!
     Selama enam tahun di pesantren, saya termasuk buronan qismul amni serta pimpinan kampus.  Sering mengalami kekerasan fisik dan derita batin.  Tidak satu pun perlakuan kasar tersebut saya laporkan ke orangtua atau famili.  Saya bukan santri lembek.
     Pada akhirnya, dugaan saya tak meleset.  Santri cengeng yang melapor ke keluarganya itu angkat kaki setelah tiga tahun.  Ia tidak mampu bergelut dengan rutinitas Pesantren IMMIM yang penuh gelora disiplin.

Oblong Seragam
     Iapim80-86 awalnya berjumlah 155.  Sesudah digodok selama enam tahun, tersisa 78 santri yang bermental gladiator.  Sementara 77 santri murtad, musnah riwayatnya di Tamalanrea.
     Pada 2017, Awaluddin Mustafa (Iapim80-86) memberitahu saya.  Ada grup Whatsapp milik Angkatan 86.  Saya kaget karena di grup tersebut ada partisipan yang tak tamat.  Selama 1986 sampai 1994, saya rajin ke sekretariat Iapim di Gedung IMMIM.  Di sana, nyaris tidak pernah bersua dengan alumni gadungan dari Iapim80-86.  Kini, di grup WA, mereka berkumpul.
     Saya mengamati, alumni jadi-jadian rata-rata rajin hadir jika ada kegiatan.  Mereka rela disuruh-suruh ke sana-sini.  Ini bentuk agar eksistensi mereka diakui.  Ada hasrat laten untuk membenarkan keberadaannya yang tak sukses finis.
     Fenomena menarik mencuat.  Ada alumnus imitasi membagi-bagikan oblong kalau ada kegiatan.  Baju kaus itu bertulis "Iapim886" atau "Angkatan 80-86".
     Gejala ini merupakan tipuan persepsi.  Dengan memakai oblong sejenis, maka, orang di luar komunitas tidak dapat membedakan mana asli atau palsu.  Pancaindera langsung menyerap objek yang terlihat.
     Foto yang disebar di media sosial, niscaya menancapkan tanggapan bila semua Iapim, bukan alumni SMA lain.  Musababnya, seluruh anggota angkatan menyatu dalam seragam baju kaus.  Ini modus yang sukses dipraktikkan oleh alumnus gadungan.  Dasar akal bulus!


Kamis, 14 Oktober 2021

Dua Kemenag Alumni Pesantren IMMIM



Dua Kemenag Alumni Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Kamis, 14 Oktober 2021 pada pukul 20.30, saya mengunjungi link di postingan Bahtiar Legenda Qismul AmniLink Youtube ini dikirim oleh Subhan Hawaya.
     Konten di link itu membuat saya bangga.  Sebab, narasumber adalah Imran Kaljubi (Iapim81-87) serta Samsuri (Iapim82-88).  Mereka berbincang tentang Santri dan Moderasi Beragama (Part 1).  Dua alumni Pesantren IMMIM ini kini tercatat sebagai Kepala Kantor Kemenag Kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat.  Prestasi luar biasa!
     Saya bersemangat menontonnya karena acara tersebut membahas sepintas Bachtiar Legenda Qismul Amni.  Ini postingan saya di Facebook.  Saya bahagia menyimaknya setelah berdarah-darah belajar merangkai kata.  Saya bisa berkiprah di media massa nasional dengan bahasa jurnalistik sastrawi berkat dulu sering mengirim "komentar" di majalah Tempo.  Alhasil, saya mampu meniru gaya bahasa Tempo.  Rubrik Komentar di Tempo merupakan wadah yang dapat dimasuki oleh orang di luar jaringan Tempo.
     Dari Tempo, saya menulis kolom di Panji Masyarakat.  Akhirnya artikel saya mudah tembus di Surya (Surabaya), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Jayakarta (Jakarta), Pedoman Rakyat, Fajar maupun Tribun Timur.  Bahkan, pernah dimuat di Republika.  Puncaknya ketika saya menangani majalah LEKTURA Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.  Semua berkat Majalah Dinding SUPERPOWER Pesantren IMMIM.


Selasa, 12 Oktober 2021

Bachtiar Legenda Qismul Amni



Bachtiar
Legenda Qismul Amni

Oleh Abdul Haris Booegies


     Selama sewindu usia Pesantren IMMIM, saya tergolong pelanggan paling setia qismul amni (pengadil santri pelanggar).  Akibatnya, saya diancam pimpinan kampus untuk dipecat.  Di sanubari terbetik.  Jika saya tak bandel, otomatis qismul amni defisit eksistensi.
     Pada 1980, santri baru terusik dengan narasi-narasi pucat.  Mudabbir (pengurus) seksi keamanan dikisahkan ibarat algojo.  Menurut hikayat, begitu pelanggar melewati pintu ruang qismul amni, langsung digebuk.  Santri kemudian didamprat dengan kata-kata pedas bin pedis.  Prinsipnya kibata (kipas baru tanya).  Siapa tidak terkencing-kencing kalau begitu.
     Di zaman saya, kawan yang diadili biasa dipukul, dicambuk dan dibanting.  Bila beruntung, dapat bonus tamparan.  Pokoknya lebih sadis dari WWE SmackDown.  Banyak santri yang knock down.  "Jangan meringis!"  Bentak seksi keamanan sembari menyuruh calm down.  Akhirnya disuruh sit down diiringi gertakan: "Masih mau melanggar!"  Keluar dari bilik qismul amni, rata-rata santri tertatih-tatih, berjalan slow down.  Mental go down, tobat sejenak melakukan pelanggaran.  Betul-betul down and out, sengsara!
     Tatkala saya kelas I, nama Bachtiar (Iapim 7682) teramat mengerikan.  Kami takut sekali.  Sekilas, fisiknya biasa saja, seperti kebanyakan santri.  Wajahnya tak sangar pula.  Anehnya, seluruh rongga tubuh bergetar jika mendengar namanya.  Apalagi mendengar suaranya.  Alamat buruk ini.  Langit serasa runtuh.
     Kalau subuh, Bachtiar cuma berseru: "Bangun!"  Dijamin 100 persen semua santri kelas I, II, III maupun IV, serempak bangun.  Rasa kantuk yang masih minta untuk berdekatan dengan bantal, sontak sirna.  Mata yang masih berharap tidur mendadak terbelalak.  Kantuk pergi bak debu yang ditiup sang bayu.
     Di dalam masjid, suasana langsung hening bila Bachtiar masuk.  Nafas sahabat yang di samping, depan serta belakang, dapat terdengar karena tidak ada gerakan.  Suara tapak kaki semut pun seolah terdengar.  Andai sebutir pasir jatuh di lantai, niscaya terdengar seisi masjid.
     Bachtiar makin ditakuti gara-gara menempeleng lima kali dari belakang santri kelas II.  Suara tamparan tersebut menggema ke empat dinding masjid.  Pekik marah Bachtiar menambah horor.  Mampus betul kita di kampus Islami.  Ini namanya derita tiada bertepi.
     Dalam ingatan saya, inilah awal dari ketakutan Iapim 8086 kepada Bachtiar.  Ia menjelma momok.  Kehadirannya selalu memaksa hati gentar tak terkira.
     Aksi penempelangan itu sempat saya lihat.  Sebagai santri baru, saya menilai perlakuan tersebut sungguh kejam.  Kami jauh dari orangtua.  Tujuan ke pesantren untuk belajar.  Di luar dugaan, ada agresi fisik yang membuat nyali mengerut.
     Rasa takut berlebihan dengan Bachtiar membuat saya berpikir sembilan kali untuk melakukan pelanggaran.  Saya termasuk beruntung lantaran tidak pernah diadili Bachtiar.  Santri langsung pucat sekaligus lemas jika tahu yang mengadili adalah Bachtiar.  Riwayat seolah punah, tinggal kenangan.
     Ketika tamat, Bachtiar menemuiku di kamar I Rayon Datuk Ribandang (Asrama Fadeli Luran).  Ia melongok dari jendela karena saya di ranjang atas.
     "Kau masih punya stensilan Yolanda?", tanya Bachtiar sambil tersenyum sesudah kami berjabat tangan.  Saya tersipu.
     Rupanya selama ini, Bachtiar mafhum saya suka mengoleksi bacaan pembangkit fantasi.  Nakal juga dia.
     Sampai sekarang, Bachtiar dikenang sebagai sosok keamanan yang lugas memobilisasi santri paling malas untuk rajin.  Ia ikon abadi qismul amni Pesantren IMMIM.  Tak ada yang sanggup menggantikan posisinya.  Bachtiar tiada duanya.  Ia legenda.
     Sejak Bachtiar tamat, teman yang bersiap ke masjid sering berseru ke santri yang masih mengaso di kamar.  "Maujud Kak Bachtiar!"  Sampai 2021 ini sejak tamat pada 1986, rekan-rekan sering menyebut nama Bachtiar kalau ada yang bermalas-malasan.


Selasa, 05 Oktober 2021

Penulisan Angkatan Pesantren IMMIM


Penulisan Angkatan Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada Ahad, 3 Oktober 2021, saya tertegun menyimak postingan Warga Iapim Kolaka di Facebook.  Di situ diwartakan silaturrahim IAPIM di kota Kolaka.  Tentu yang membingungkan karena tertoreh "Iapim894", "Iapim895", "Iapim942" serta "Iapim984".
     Kebingungan saya pun dijawab oleh admin akun Warga Iapim Kolaka.  895 maksudnya 1989-1995.  942 berarti 1994-2000.  Selama ini, alumni Pesantren IMMIM yang tamat era 80-an memakai istilah "angkatan" dengan menempel dua angka terakhir tahun tamat.  Umpamanya, saya masuk pada 1980.  Tamat pada 1986.  Ini bermakna saya alumnus Angkatan 86.
     Alumni milenial lebih canggih dalam berkreasi.  Mereka menggunakan tiga angka yang membuat orang luar repot menerkanya.  Tidak dipakai pula istilah "angkatan", namun, "Iapim".  Kemudian akronim "Iapim" langsung berdempet dengan tiga angka.  Ini berarti saya "Iapim886".

Abjad Angka
     Saya mengapresiasi penuh takzim daya cipta alumni milenial Pesantren IMMIM.  Ihwal ini membuat saya tak lagi menggunakan istilah "Angkatan 86", tetapi, "Iapim86".  Ini lebih berbobot.  Bahkan, menjadi pembeda jika ada diskusi dengan orang luar.  Mereka bisa langsung tahu bila kami mantan santri yang berguru selama enam tahun di pesantren.  Pemakaian istilah "angkatan" terlalu umum.  Rata-rata alumni sekolah atau perguruan tinggi menggunakannya.  Berbeda dengan Iapim86.
     Menurut admin Warga Iapim Kolaka, angkatan di tarikh 2000-an, ada yang memakai abjad.  Contohnya, 942 menyebut angkatannya dengan NFT Brothers.  NFT adalah nine four two alias 942.  Begitu juga 984 menamakan diri NEF Brothers atau nine eight four.
     Alumni 1985 merupakan angkatan yang pertama menggabung antara alfabet dengan bilangan.  Mereka membaiat diri sebagai D5 yang dibaca delima.  D5 merujuk ke delapan lima atau 85.
     Saya berharap alumni 1986 tidak kalah dengan angkatan milenial.  Kalau ada TOS Brothers (Iapim217), maka, Iapim86 elok bermetamorfosis menjadi Tsasi.  Tsa dari tsamaaniyah (ثمانية) yang bermakna delapan.  Sedangkan si dari sittah (ستة) artinya enam.  Jika Hollywood pernah memproduksi film bertajuk Gangs of New York, ini Gangs of Tsasi.

Alumni Palsu
     Satu yang membuat saya masih gundah.  Mengapa alumni milenial tak sekalian menggunakan empat angka.  Misal, 1980-1986 menjelma 8086.  Dua angka terakhir saat masuk dan dua angka terakhir tatkala tamat yang dicomot.  Ini lebih enteng dinalar dibandingkan 886.
     Alumni gadungan alias santri murtad gampang pula ditebak.  Sebagai umpama, ia masuk Juli 1980.  Agustus 1980, keluar gara-gara tidak tahan.  Otomatis ia Iapim8080.  Barangkali juga ia masuk pada 1980.  Murtad dengan kerelaan hati pada 1983.  Ini bermakna ia Iapim8083.
     Hikmahnya, alumni palsu leluasa diterka.  Soalnya, tertera nomor angkatannya.  Sebagai contoh, Iapim8081.  Ini menandaskan ia cuma satu tahun di pesantren.  Masalahnya, adakah alumni jadi-jadian ikhlas mengaku diri tak tamat?  Apalagi, secara lantang mendeklarasikan diri sebagai Iapim8083.  Astaga, tolong...


Senin, 04 Oktober 2021

Ketawa Gaya Santri (1)


Ketawa Gaya Santri (1)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Akal bulus serta paha mulus memang berbeda.  Paha mulus cewek merupakan impian segenap santri normal di Pesantren IMMIM.  Sedangkan akal bulus merupakan ihwal lumrah bagi santri sial yang terhimpit perkara.

Episode Pertama
     Tatkala saya kelas II pada 1981/1982, ada santri kelas III yang jangkung.  Saya tidak ingat namanya.  Betul-betul lupa.  Apalagi, ia cuma sampai kelas III.  Sebut saja namanya Izpul.
     Saya sekamar dengan Izpul di kamar 1 rayon Datuk Ribandang (sekarang asrama Fadeli Luran).  Hampir saban Kamis, Izpul menyodorkan namanya ke ketua kamar.  Nama-nama yang dicatat ketua kamar lalu diserahkan ke pimpinan kampus.  Santri yang layak pulang diberi izin karena memenuhi syarat.  Misalnya sudah sebulan belum pernah pulang.  Kenakalan biasanya menjadi batu sandungan.  Hingga, tak diberi izin.
     Izpul tentu tidak boleh pulang tiap Kamis.  Ia harus menunggu giliran maksimal sebulan.  Di sinilah akal bulus Izpul.  Kalau ia dihantui firasat tak diberi izin, mendadak ia sakit.
     Awalnya saya kira itu lakon pura-pura.  Ternyata betul badannya panas.  Izpul demam.  Saya tertegun.  Bagaimana mungkin bocah ini sakit saban Kamis ketika perizinan dibuka.
     Izpul lantas memohon kepada ketua kamar agar kondisinya disampaikan ke pimpinan kampus.  Bila beruntung, ia diperbolehkan pulang berobat.  Di sinilah anehnya.  Ia tiba-tiba sembuh total jika dapat izin pulang.  Demamnya sirna dalam sekejap.  Barangkali ini namanya demam Kamisisme.  Bisa sembuh secara ajaib begitu memperoleh secarik kertas sebagai izin.
     Izpul pasti membuat Robert de Niro, aktor watak Hollywood geleng-geleng kepala.  Pasalnya, akal bulus Izpul nyata di alam realitas.  Bukan rekaman dari gulungan pita seluloid yang ditonton di bioskop.  Andai Izpul main film, besar kemungkinan ia menyabet piala Oscar untuk kategori pemeran pembantu pria terbaik.

Episode Kedua
     Iapim85 punya Izpul yang jago memerankan adegan sakit secara sempurna.  Iapim86, juga tidak ketinggalan.  Di suatu sore bakda Ashar, kami kelas IV belajar al-Muthala'ah yang dibawakan ustaz Abdul Kadir Massoweang.
     Semua kelas IV yang tinggal di kamar 2 rayon Pangeran Diponegoro, masuk kelas kecuali AN.  Ia pergi main basket.
     Selepas belajar, kami ke kamar.  Hesdy Wahyuddin kemudian memberitahu AN yang asyik main basket.
     "Kau dicari Pak Kadir.  Tadi waktu diabsensi kau dicari".
     AN langsung lompat pagar dari lapangan basket ke halaman asrama Diponegoro.  Ia rupanya keder.  AN lalu naik ke ranjangnya di bagian atas.  Sekujur tubuhnya ia tutup dengan selimut.
     "Kalau Pak Kadir datang.  Sampaikan bila saya demam".
     AN memang mirip demam.  Badannya panas.  Kepalanya dileleri keringat.  Semua pasti mafhum bin maklum, kan habis main basket!
     Panas tubuh AN pasti lama menguap karena tertutup selimut.  Ekspresi mukanya teramat sempurna memerankan orang sakit.  Ini akal bulus terbaik yang setara keandalan Izpul.
     Saat hendak mandi sore, saya melirik AN di tempat tidurnya, ranjang atas.  Apakah ia tak merasa gatal?  Belum mandi langsung menutup badan dengan selimut.  Kulitnya pasti bergetah akibat keringat.
     AN terlihat mengatupkan kedua tangan sembari memegang ujung selimut di dadanya.  Matanya menatap langit-langit.  Ia seolah setengah mati berdoa supaya Pak Kadir lupa mencarinya.

Episode Ketiga
     Di akhir 1981, Pak Nursahabat yang mengajar geografi, bertanya.  Siapa santri berasal dari Pangkep.  Seisi ruang kelas I menunjuk S.  Santri yang ditunjuk tersipu laksana perawan dilirik perjaka.
     Di Pangkep ada budidaya ikan bandeng di air payau (tambak), terang Pak Nursahabat.  Santri memperhatikan penuh minat uraian guru geografi ini.  Ia lantas melirik S sambil bertanya.
     "Ikan apa yang kamu suka makan.  Bandeng atau bolu?"
     "Ikan bolu, Pak",  sahut S secara mantap penuh percaya diri.
     Tawa santri pecah mendengar jawaban S.  Seisi kelas, riuh.  Pak Nursahabat pun tersenyum.  Sebab, bandeng dan bolu merupakan ikan yang sama, namun, beda nama di tiap geografis.
(Bersambung)


Foto Muhammad Ardis (D5)


Jumat, 01 Oktober 2021

Detik-detik Kelahiran IMMIM


Detik-detik Kelahiran IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di era 60-an, fenomena umat Islam di Indonesia sering menggelisahkan Fadeli Luran.  Ia gundah-gulana melihat kaum Muslim terdiri atas beberapa firqah (golongan yang berbeda akidah).
      Terbetik hasrat Fadeli Luran untuk mempersatukan kelompok-kelompok itu ke dalam sebuah wadah.  Ia ingin ada konsep yang mengatur tata-cara mengarungi kehidupan religius.
     Ramadan pada 1963 di kediaman Baso Amir di Jalan Gunung Latimojong No 22, berkumpul 50 pengurus masjid serta musala se-Makassar.  Dalam acara ramah-tamah tersebut, Fadeli Luran menjelaskan adanya keragaman dalam penafsiran fikih (hukum Islam).  Masalah shalat, umpamanya, terlihat pelaksanaannya berbeda dengan mazhab lain.
     Fadeli Luran terpanggil untuk mengembalikan pemahaman aneh itu ke sumber asli.  Ia berhasrat merangkai iman umat selaras konsep langit.
     Gagasan ini radikal.  Soalnya, Fadeli Luran mencuatkan paradigma dan orientasi baru.  Ia  berkehendak mengubah kelompok menjadi umat.

Embrio IMMIM
     Pada 1 Januari 1964, berdiri secara resmi organisasi nonpolitik yang dinamakan Ikatan Masjid Musala Indonesia (IMMI).  Organisasi ini dirancang untuk menciptakan kedamaian lewat refleksi serta kontemplasi.  Fadeli Luran yang punya strategi terukur pun dibaiat sebagai ketua
     Kehadiran IMMI kemudian secara perlahan menghapus pertentangan golongan serta mazhab.
IMMI menjadi titik temu berupa ketetapan tanpa perselisihan alias kalimatun sawa'.
     Fadeli Luran mengarahkan peralihan konsep untuk mencipta makna hakiki kerukunan umat.  Alhasil, menggerakkan solidaritas dan harmoni internal
Bahkan, pengurus kelompok-kelompok tersebut menjadi sokoguru kukuh IMMI.  Ini di luar dugaan.  Pasalnya, menghasilkan harapan lebih dari yang disadari.
     Pada 1966, dilangsungkan musyawarah kerja IMMI pertama di Markas Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di Jalan Chairil Anwar.  Dalam musker itu, Fadeli Luran menyerahkan secara simbolis bendera IMMI ke segenap pengurus masjid serta musalla se-Makassar di Masjid Nurul Amin.  Ditegaskan oleh Fadeli Luran bahwa bendera IMMI merupakan lambang yang menandakan adanya kegiatan umat Islam.

Markas IMMIM
     Pada 25-29 Juli 1967 dalam musker kedua, IMMI kian kuat.  Musker yang dihadiri 278 peserta itu, berhasrat memperluas wilayah IMMI.  Gagasan tersebut seiring perubahan IMMI menjadi IMMIM (Ikatan Masjid Musalla Indonesia Muttahidah).
     HM Daeng Patompo yang merupakan eksponen 45 Sulsel, lalu menginginkan IMMIM tampil lebih intensif.  Ia pun menghibahkan rumah di Jalan Jenderal Sudirman untuk dijadikan markas komando.
     Rumah tersebut milik Dinas Pekerjaan Umum yang penghuninya dipindahkan setelah dibayar dengan uang zakat dari Pemerintah Daerah senilai Rp 750 ribu.  Di samping itu, juga ada tanah milik seorang warga Enrekang.  Hingga, atas kesediaannya, maka, tanah tersebut dibebaskan.  Sedangkan pendirian Gedung IMMIM tidak lepas dari jasa H Ince Naim Daeng Mamangun.  Gedung IMMIM kemudian diresmikan oleh Pangkowilham IV Mayor Jenderal Ahmad Kemal Idris pada 23 April 1970.
     Di gedung yang dijadikan markas itu, banyak dilakukan kegiatan-kegiatan diskusi, musyawarah maupun rapat untuk membangkitkan api Islam dalam dada generasi muda.  Aneka kegiatan tersebut membantu Pemerintah dalam pengembangan agama, pemerintahan sekaligus pemeliharaan stabilitas.
     Kehadiran IMMIM seolah anugerah yang membanggakan.  Maklum, semua pejabat di Makassar merestui kehadirannya.  Bahkan, menyokong segala kebutuhan primer.  Arkian, fungsi IMMIM menjadi markas Islam.  Apalagi, IMMIM berhasil mengadakan kursus mubalig yang menyebar ke seluruh masjid di Sulawesi Selatan.

Foto koleksi keluarga Haji Fadeli Luran

Fragmen ini diambil dari "Merangkai Iman Umat" yang ditulis oleh Abdul Haris Booegies.
Beberapa bagian tulisan "Merangkai Iman Umat" sempat dikutip oleh MA untuk buku "Haji Fadeli Luran Sang Pemersatu" serta "Kiprah IMMIM Membangun Umat".  Saya menyayangkan tindakan vulgar itu karena tidak menyebut sumber secara jelas.  KN (Angkatan 84) dan IW (Angkatan 90) juga mengutip secara tidak etis. Kedua alumni mempublikasikan di blog masing-masing.


Amazing People