Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2017

Tasawuf Ibn Arabi dalam Star Wars


Tasawuf Ibn Arabi

dalam Star Wars

Oleh Abdul Haris Booegies

     Pada 19 Mei 2005, publik mondial bakal menemukan jawaban perihal Darth Vader.  Selama 27 tahun, figur kelam dalam film Star Wars itu menghantui pikiran jemaah global.  Penduduk planet bumi berhasrat besar mengetahui riwayat Darth Vader yang telah hadir sejak 25 Mei 1977.  Kini, semua rasa penasaran sirna sesudah hari ini George Walton Lucas Jr merilis Star Wars: Episode III Revenge of the Sith.
     Dalam film tersebut, terpampang bagaimana Anakin Skywalker bertransformasi menjadi Datuk Kegelapan dalam sosok Dark Lord of the Sith yang lebih populer sebagai Darth Vader.  Lucas mendeskripsikan kekelaman Darth Vader berasal dari planet mistik yang seluruhnya terbentuk dari letusan gunung api.
     Darth Vader merupakan Panglima Perang Kekaisaran Galaksi sekaligus kepercayaan Emperor Palpatine, tokoh antagonis super tamak.  Dalam episode A New Hope (1977), The Empire Strikes Back (1980) serta Return of the Jedi (1983), Darth Vader selalu dibalut jubah hitam pekat.  Topengnya mirip alien yang menjadi musuh Arnold Schwarzenegger dalam film Predator.  Jubah dan topeng itulah sebenarnya yang membuat Anakin alias Darth Vader bisa hidup setelah kalah dalam suatu duel maut.  Tanpa kedua wadah tersebut, niscaya Darth Vader akan mati.
     Dalam trilogi prekuel The Phantom Menace (1999), Attack of the Clones (2002) serta Revenge of the Sith (2005), wujud Darth Vader tengah mencari bentuk.  Tiga serial awal itu mengisahkan petualangan Anakin sebelum berevolusi menjadi Darth Vader.
     Anakin lahir di Kota Blade Runner yang terletak di planet Tatooine.  Anakin yang biasa dipanggil Ani, hidup melarat bersama ibunya, Shmi.  Bocah budak tersebut sangat cerdas dan tangkas.  Sebab, darahnya memiliki kandungan midi-chlorians (kekuatan, kepandaian, keuletan dan indera keenam) yang teramat besar.  Qui-Gon Jinn, seorang Jedi Knight sangat tertarik padanya.  Apalagi, ramalan di Coruscant (markas utama para Jedi), menunjuk pribadi Anakin bakal menjadi the One who brings balance to The Force.

Cinta Bersemi
     Nun jauh di pinggir alam semesta di suatu masa, terjadi hikayat sarat intrik.  Kala itu, Padme Amidala yang berasal dari planet Naboo berupaya menyelamatkan rakyatnya dari invasi Federasi Dagang (The Trade Federation).  Blokade perdagangan terhadap planet Naboo dipimpin Viceroy.  Sang Ratu lantas bergegas bertemu dengan Senate di Coruscant (planet tempat pemerintahan Republik berpusat) guna menghindari peperangan.
     Dalam perjalanan menuju Coruscant, Jabba the Hutt yang menguasai kota Mos Espa di planet Tatooine, menyandera Ratu Amidala, Qui-Gon, Obi-Wan Kenobi serta Jar-Jar Binks.  Mereka boleh bebas asal Anakin mampu memenangkan balapan speeder.  Anakin yang berusia sembilan tahun akhirnya berhasil memamerkan kemahirannya dengan menjuarai adu balap Podrace yang penuh jebakan mematikan tersebut.
     Qui-Gon lalu berkeras di hadapan Jedi High Council (Dewan Tertinggi Jedi) agar Anakin dilatih menjadi ksatria Jedi.  Apalagi, berkat Anakin, mereka bisa bebas dari Jabba the Hutt yang anatominya seperti gentong dengan wajah mirip kodok.
     Sepuluh tahun kemudian, Anakin tumbuh menjadi pemuda gagah.  Ia adalah Padawan Learner alias Jedi Apprentice yang dilatih Obi-Wan.  Ketika terjadi huru-hara yang bisa mencelakakan Queen Amidala, maka, Anakin membawanya ke Tatooine.  Di sana, cinta sepasang sejoli itu bersemi.  Keduanya lantas menikah diam-diam.
     Sekali peristiwa, Anakin mengetahui sebuah ramalan jika istrinya akan mangkat begitu melahirkan bayinya.  Bayangan tersebut akhirnya mendorong Anakin melakukan apa saja demi menghindari takdir maut itu.
     Nyawa Amidala akhirnya sulit diselamatkan saat melahirkan bayi kembarnya; Luke Skywalker dan Princess Leia Organa, di planet Alderaan.  Sejak itu, sifat buruk Anakin mulai tampak.  Calon Jedi yang potensial dengan talenta mengagumkan tersebut, malahan terpikat menjadi pemberontak.  Ia bergabung dengan pihak kerajaan sebagai seorang Sith (ksatria kegelapan).  Bahkan, Anakin menjadi Darth, figur yang sangat ditakuti.

Cinta Ilahi

     Syekh Muhyidin Ibn Arabi merupakan ash-shaikh al-akbar (Guru yang Agung) dalam dunia tasawuf.  Sosok dari suku Hatim-Tai itu bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah al-Tha’i al-Haitami.  Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara di Spanyol, pada tahun 1165.
     Ketika berusia delapan tahun, keluarganya pindah ke Sevilla.  Di kota tersebut, Ibn Arabi belajar al-Qur’an, al-Hadis serta fiqh dari Ibn Hazm az-Zhahiri.  Sebagai pemuda yang haus ilmu, ia lalu berguru pula pada Abu Madyan al-Ghaus at-Talimsari dan Yasmin Musyaniyah.
     Ibn Arabi pernah ke negeri-negeri Muslim di Afrika Utara serta Semenanjung Arab.  Damaskus menjadi kota curahan hatinya di hari-hari akhir masa hidupnya.
     Karya monumental Ibn Arabi yakni al-Futuhat al-Makkiyah yang ditulis pada tarikh 1201.  Buku itu merupakan ensiklopedi tasawuf.
     Ibn Arabi yang berasal dari keluarga ilmuwan dan kaya-raya tersebut, kemudian berhaji ke Mekkah.  Di Tanah Haram, ia terpesona dengan seorang wanita muda.  Ibn Arabi tergugah oleh kecantikan serta kecerdasan perempuan asal Persia itu.  Hingga, ia menulis Tarjuman al-Ashwaq.  Kitab tersebut adalah antologi puisi mengenai cinta Ilahi.  Komposisi karya-karya Ibn Arabi bercorak simbolis dengan makna yang agak samar.
     Kaum Skolastik dan pemikir Eropa semacam Dante Alighieri mengenal baik Ibn Arabi.  Figurnya dikenang sebagai Doktor Maximus.  Ibn Arabi yang berjuluk al-Kibritul Ahmar (belerang merah), pernah berceloteh bahwa: “al-abdu rabbun wa rabbu abdun” (hamba adalah Tuhan serta Tuhan adalah hamba).
     Aneka syatahat (kata-kata ganjil) sufi Andalusia itu membuat banyak orang Islam hidup dalam kebingungan.  Ia, umpamanya, menegaskan bila golongan pertama yang masuk Surga sesudah wafat adalah masyarakat awam.  Ibn Arabi malahan berseru: “Mahasuci Tuhan yang telah menjadikan segenap hal.  Tuhan sendiri adalah hakikat segala sesuatu”.  Akibatnya, karya-karya Ibn Arabi banyak dibakar semasa hidupnya.

Paham Gawat

     Darth Vader serta Ibn Arabi merupakan sosok yang menggetarkan jantung.  Di tiap sisi jagat raya dalam wilayah science-fiction, nama Darth Vader adalah jaminan teror.  Sementara di lima benua, dua kutub dan dua samudera, nama Ibn Arabi bagai madu serta racun.  Ia dipuja penganut tasawuf sebagai santo di dunia mistik Islam.  Sekalipun punya banyak pengagum, tetapi, Ibnu Taimiyah mencelanya sebagai figur yang sungguh berbahaya.  Pasalnya, menyamakan Tuhan dengan alam.
     Anakin adalah sosok hero dengan potensi tak terbatas dalam dirinya.  Kepahlawanannya tiba-tiba berubah haluan menjadi Sith, musuh Jedi.  Kehadirannya di kerajaan gelap mengakibatkan runtuhnya supremasi Republik.  Bahkan, Clone Wars berakhir dalam kenistaan.
     Sedangkan Ibn Arabi lewat ajaran-ajarannya cuma melahirkan pertentangan.  Apalagi, renungan sentralnya berupa wahdat al-wujud (kesatuan eksistensi), teramat gawat.  Sebab, paham tersebut memaparkan kalau wujud alam sama dengan wujud Tuhan.
     Benang merah yang menghubungkan antara Darth Vader dengan Ibn Arabi yakni kesesatan alur berpikir.  Virus akal budi merasuk dalam kedua tokoh fiksi dan fakta itu.
     Darth Vader yang menjelajah di antara planet-planet, akhirnya tamat riwayatnya sesudah disabet lightsaber (pedang laser) oleh Luke Skywalker, putranya sendiri.  Sementara Ibn Arabi mendapat perlawanan gigih atas visi seronoknya.

Petunjuk Hikmah 
     Al-Qur’an yang berisi ajaran moral secara global, sering diutak-atik.  Lantas dicari celahnya guna menyusupkan pemikiran hasil olah-cipta manusia.  Alhasil, lahir kerancuan serta kontradiksi.  Husain Ibnu Manshur al-Hallaj, misalnya, mengaku menyatu dengan Allah.  Para pengikut fanatiknya lalu membenarkan pernyataan vulgar tersebut.  Padahal, perkataan al-Hallaj adalah batil belaka.
     Di Surga, Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah.  Kemudian Allah meniupkan roh kepada manusia pertama itu.  Biarpun memiliki roh Tuhan, namun, manusia bukan bagian dari wujud hakiki Allah.  Manusia tetap hanya sebagai hamba atau makhluk (yang diciptakan).
     Tiap insan punya sistem keilahian di antara fondasi kemanusiaannya.  Hal itu pula yang membuat iblis cemburu.  Soalnya, Allah meniupkan rohNya kepada Nabi Adam.
     Ibn Arabi bersama al-Hallaj dengan akal bulusnya telah mengingkari persepsi tentang Tuhan.  Zat Maha itu dianggapnya satu kesatuan dengan alam dan manusia.  
     Cakrawala berpikir manusia yang terbatas tidak bakal sanggup menelaah Kalam Ilahi.  Sebab, tinta pena manusia cuma setetes.  Sedangkan dawat ilmu Allah seluas lebih tujuh lautan nan biru.
     Darth Vader melabrak galaksi atas dukungan Kerajaan Gelap.  Di pinggir semesta yang kelam, berbaris shaf kebajikan hendak menangkal laju kesewenang-wenangannya.  Pasalnya, pendekar Sith tersebut, leluasa memberangus kehidupan demokrasi.
     Ibn Arabi pun tiada henti diserang gara-gara pemikirannya yang keliru.  Gagasan-gagasannya dinilai bid’ah.  Sebab, menyamakan wujud makhluk dengan Sang Khalik.  Padahal, manusia hanya abid (yang menyembah).  Sementara Allah sebagai ma’bud (yang disembah).
     Darth Vader serta Ibn Arabi sama-sama menghujat nilai-nilai kemanusiaan.  Keduanya membentangkan jalan yang sukar dilewati kehidupan normal.  Padahal, sejatinya manusia dituntun akal budinya meraih aktivitas keseharian yang positif.  Sedangkan Darth Vader bersama Ibn Arabi menggiring kehidupan ke arah negatif.                                                                                                               
     Nilai-nilai sufistik Ibn Arabi yang menyusup ke dalam sukma film Star Wars: Episode III Revenge of the Sith yakni pemahaman sempit perihal kebenaran.  Sisi kebenaran cuma dilihat dari sudut pandang kondisi suatu masa.  Pertimbangan terhadap konsep yang berorientasi sifat asasi manusia, tidak diperhitungkan.  Padahal, hak pokok individu meliputi formula solusi, entitas fundamental, elemen spiritual, instalasi energi, tabiat persoalan, unit metafisis, kekuatan mistik, terapi global, mesin atomik dan pengetahuan komprehensif.  Akibatnya, kebenaran yang diyakini justru merusak ketenteraman publik di sekitarnya.  Struktur tersebut terjadi gara-gara gaung kebenaran versi pikirannya yang dangkal.                     
     Ihwal itulah yang membuat manusia mutlak dituntun ke sirathal mustakim (arah kebenaran alias Islam).  Soalnya, tidak ada petunjuk hikmah kecuali al-Quran.

     “Ini jalanKu yang lurus.  Ikutilah.  Jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain.  Sebab, jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari arah Tuhan.  Ihwal tersebut diperintahkan Allah supaya kamu bertakwa” (al-An’am: 153).









Sabtu, 23 Juni 2012

The Passion of the Christ



The Passion of the Christ
Oleh Abdul Haris Booegies

     Nabi Isa al-Masih merupakan figur kontroversial. Riwayatnya penuh kabut misteri. Orang Kristen meyakini kalau Yesus Kristus disalib. Ia merelakan nyawanya guna menebus dosa manusia.
      Sosok Isa Alaihissalam menyimpan begitu banyak teka-teki di seputar kehidupannya. Hingga, al-Qur’an perlu menyebutkan Yesus sebanyak 25 kali. Al-Qur’an malahan mempersembahkan satu bab kepada Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa yang dinamakan Surat Maryam, yang terdiri dari 98 ayat.
      Struktur kehidupanYesus ditaburi mujizat yang berlimpah. Ketika bayi, ia sanggup menjawab dusta besar yang ditimpakan pada ibunya. Bahkan, mampu menghidupkan orang mati. Dalam al-Qur’an, tertera bulan kelahiran, kehidupan maupun usia sang Mesias.
      Beberapa hari ke depan, asumsi perihal Kristus disalib bakal bergiang-kencang bertalu-talu. Sebab, kini Mel “Mad Max” Gibson tengah mengedarkan film The Passion of the Christ.
      Film kolosal berbahasa Latin serta Aramaik itu, berkisah mengenai 12 jam terakhir sebelum Yesus melangkah gontai ke tiang salib.
      Biarpun karya tersebut sekedar tafsir modern Gibson tentang penyaliban Ibnu Maryam, namun, orang Yahudi merasa tersinggung. Karena pada intinya, Mahkamah Agung jemaah Yahudi memprovokasi prokurator Pontius Pilatus (26-36 Masehi) agar Yesus dihukum. Pelukisan Sanhedrin (70 rabi ahli Taurat) itulah yang dituding oleh kelompok Yahudi sebagai anti-Sernit.
      Menilik alur sejarah, sulit bagi Yahudi untuk menampik atributnya sebagai manusia tanpa belas kasihan. Apalagi, situasi Kota Yerusalem sangat buram dan pekat di masa pemerintahan kaisar Tiberius (14-37 Masehi).
      Kala itu, bani Israil yang terdiri atas 12 puak berada dalam posisi terjepit. Ekonomi serta politik di Palestina merosot drastis ke dalam jurang kenistaan. Disusul kehadiran Sanhedrin (para imam dan massa Farisi) bersama golongan Herodes yang tanpa rasa malu melaksanakan perintah memungut pajak bagi Kerajaan Romawi.

Membunuh Nabi
      The Passion of the Christ kini bertahta di puncak box office. Newmarket Film sebagai distributor menyediakan 3.006 layar di Amerika Serikat serta Kanada. Pada pemutaran perdana di hari suci perenungan dosa umat Kristen Rabu Abu, 25 Februari 2004, film yang dibintangi Jim Caviezel tersebut, mengeruk duit Rp 200 miliar.
      Dua hari setelah beredar, Pemimpin Rabi Yahudi Israel Yona Metzger mengusik ketenangan Paus Yohanes Paulus II di Vatikan. Ia berdalih bila The Passion of the Christ bisa menimbulkan pertentangan antara Kristen dengan Yahudi. “Film itu begitu tendensius dan penuh dengki”, kata Metzger.
     “Film ini tidak membuat siapa pun benci terhadap suatu kaum, termasuk kaum Yahudi”, ungkap Uskup Agung John Foley, penasehat media Paus Yohanes Paulus II (Tribun Timur, 29 Februari 2004).
      Metzger boleh berdalih bahwa Yahudi tidak bertanggung-jawab atas penyaliban, tetapi, fakta menunjukkan jika Yahudi doyan menyiksa Nabi-nabi. Mereka suka menyombongkan diri sebagai bangsa pilihan Tuhan. Sebab, etnis serta sejarah yang melingkupi Yahudi sangat kental oleh era kenabian. Walau dari garis Yahudi banyak Nabi yang lahir, namun, keturunan Yehuda tersebut identik dengan penghancuran agama-agama. Yahudi senang merusak kitab-kitab samawi.
      Mereka memutarbalikkan keakuratan data seraya menggagas interpretasi semaunya. Apalagi, mereka mengaggap bahwa Allah tidak akan mengazabnva. “Mereka sesumbar: kami sekali-kali tiada bakal tersentuh api Neraka, kecuali beberapa hari saja” (al-Baqarah: 80).
      Dalam al-Qur’an, tercatat beberapa watak khas Yahudi. Identitas mereka antara lain berotak jenius semacam Charles Darwin serta Sigmund Freud. Kemudian Yahudi termasuk manusia angkuh seperti terlihat pada diri Yitzhak Shamir, Benjamin Netanyahu maupun Ariel Sharon. Yahudi juga memiliki sifat pengecut. Merasa terkepung di dunia Arab, negara Israel lantas menggunakan superioritas Amerika Serikat dalam membombardir Irak sampai bonyok.
     Watak paling terkutuk sekaligus melampaui batas yang mereka punya yakni membunuh para Nabi. Yesus Kristus, umpamanya, terpaksa harus menderita menghadapi serangan gencar tokoh-tokoh Yahudi.

Membunuh Dajjal
      Yahudi bermula saat Nabi Yaqub (Israil) lahir pada tahun 1897 sebelum Masehi. Dari benih Nabi Yaqub, lalu muncul Yehuda yang kelak menjadi nenek moyang Yahudi. Selang beberapa generasi, seluruh keturunan 12 anak Nabi Yaqub dinamakan bani Israil.
      Perjalanan waktu terus menapak hari demi hari. Hingga, sampai di zaman Nabi Sulaiman. Putra Nabi Daud itu kemudian naik tahta pada tahun 971 sebelum Masehi. Nabi Sulaiman merupakan keturunan Yehuda. Selama 40 tahun berkuasa, kerajaan Nabi Sulaiman berkibar penuh pesona dalam kejayaan.
      Pada 931 sebelum Masehi, Nabi Sulaiman mangkat. Kemaharajaan lantas diperebutkan keturunan Yehuda yang lain. Kerajaan akhirnya terpecah dua antara Israel (utara) dengan Yehuda (selatan). Pemerintahan Israel dikuasai Yerobeam bin Nebat. Sedangkan kerajaan Yehuda diperintah Rehabeam bin Sulaiman. Sejak itu, muncul suatu suku yang sangat ekstrem, yang dinamakan Yahudi.
      Dalam Islam, Nabi Isa tidak dicederai maut. “Sesungguhnya kami sudah membunuh al-Masih, Isa Putera Maryam, Rasul Allah. Padahal, mereka tiada membunuhnya. Tidak pula menyalibnya, tetapi, yang dibunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa kepada mereka” (an-Nisa: 157).
Yesus diselamatkan oleh Allah! Ia malahan diangkat ke langit tingkat dua sebagai al-munzharin (orang rang ditangguhkan kematiannya).
      Meski Islam dengan Kristen bertentangan dalam soal penyaliban, namun, termaktub kesepakatan di masing-masing nurani para pengikut agama besar tersebut kalau Yesus akan kembali ke bumi. Sang Juru Selamat berhasrat menuntaskan misi khusus yang diemban.
      Sang Mesias yang berpostur tinggi dengan tubuh sedang dan berkulit merah, bakal turun dari langit di suatu hari. Nabi Isa yang datang dari arah Barat, lalu melakukan jizyah (membenarkan Maha Nabi Muhammad) sembari menghapus sistem kekafiran.
      Dengan dua pedang yang terhunus, Ibnu Maryam kemudian mencincang mampus al-Masih ad-Dajjal di Babilud, sebelah tenggara Baitul Maqdis. Isa Alaihissalam yang eksistensinya diperkokoh dengan Ruhul Qudus (Jibril), lantas menjadi hakim yang adil sekaligus pemimpin yang baik. Ia membebaskan pajak. Lalu membabat habis semua babi sembari menghancurkan salib.
      “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, serta mengenal Yesus Krsitus yang telah Engkau utus”. (Yohanes 17: 3)

(Tribun Timur, Jumat, 5 Maret 2004)
























Selasa, 29 Mei 2012

Perjanjian dengan Setan


Perjanjian dengan Setan
Oleh Abdul Haris Booegies

     Pekan pertama bulan Januari 1989, TVRI menayangkan kisah horor Bay Cove yang disutradarai Carl Schenkel. Alkisah, sepasang suami isteri, Jerry Le Bon dan Linda yang pindah dari Boston ke Devlin Island. Pulau yang berada di pesisir Massachusetts itu dihuni sekelompok masyarakat yang disebut Bay Coven.
     Pada suatu kesempatan, Linda menemukan bahwa nisan di depan gereja menunjukkan jika penghuni pulau Devlin yang terakhir meninggal sekitar tiga abad lalu. Ini berarti bahwa selama tiga ratus tahun tak seorang pun Bay Coven yang mati.
     Kecurigaan Linda makin menganga saat menemukan sebuah tulisan yang bunyinya; “7 Oktober 1703, Nicholas dan Madeline Kline bertunangan”. Nama Nicholas dan Madeline Kline ini mengingatkan Linda kepada tetangganya, Nick dan Matty Kline.
     Puncak ketegangan cerita R. Timothy Kring ini, saat Linda melihat ke cermin. Dalam bayangan cermin itu, tulisan Le Bon di belakang baju suaminya terbaca Nobel. Tak membuncah keterkejutan Linda andai ia tak pernah membaca sebuah kuno. Dalam buku yang telah kusut itu, Linda menemukan nama Lucas Nobel, pimpinan sekte setan. Lucas Nobel akan bangkit saat bulan purnama setelah 300 tahun mati. Sebelum kebangkitannya yang ditunggu-tunggu Bay Coven alias pengabdinya, maka, harus ada seseorang yang dipersembahkan sebagai korban. Dan itu berarti, Linda!
     Apa sebenarnya keuntungan dari perjanjian dengan setan? Sepintas memang ada keuntungan, tetapi, sampai kapan keuntungan itu bisa bertahan? Keuntungan dari perjanjian dengan setan hanya ilusi monoton. Pada akhirnya, perjanjian itu menyerat si pengabdi setan untuk meninggalkannya.
     Sosok roh memang menarik untuk disimak, namun, mengerikan untuk dianut. Di akhir abad ke 20 ini, di Jerman Barat sedang dilakukan pengujian terhadap roh yang masih sulit dipercaya eksistensinya secara rasional. Sebuah penelitian menjabarkan bahwa tatkala seseorang meninggal dunia, maka, berat badannya hilang seberat 200 gram. Apakah berat yang 200 gram itu roh atau bukan, tentu ini menarik ditelisik.
     Tahun 1982, sebuah sinema Indonesia menceritakan petualangan manusia-manusia serakah berambisi negatif. Judul film itu Bayi Ajaib. Berkisah tentang Kosim dan Dorman. Keduanya bermaksud menguasai sebuah daerah yang menyimpan harta karun. Demi meraup harta tersebut, keduanya mesti menjadi lurah. Maklum, dengan kedudukan itu, masyarakat jelas akan membantu menemukan harta karun tersebut.
     Kosim bersama Dorman pun berlomba mencari pendukung. Dorman yang dirasuk impian kekayaan lalu menyembah sebuah kuburan orang Portugis, Alberto Dominique. Figur itu hidup pada tahun 1663- 1736. Sedangkan Kosim, membagikan uang kepada masyarakat agar kelak memilihnya sebagai lurah.
     Tragis, Sumi, isteri Kosim yang sedang hamil terperosok ke makam Alberto Dominique. Hingga, beberapa keanehan sering dialami keluarga Kosim. Sumi, akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki tepat saat gerhana bulan. Begitu bayi tersebut lahir, ia langsung menerkam pembantu dukun. Pada momen tertentu, bayi itu mirip Alberto Dominique.
     Untung saja roh Alberto Dominique yang bersemayam di raga putra Kosim tak tahan mendengar suara azan. Alhasil, masyarakat kampung itu tak merasa terteror lagi. Sementara ambisi Kosim dan Dorman akhirnya pupus. Warga lebih memilih Saleh sebagai lurah. Di mata masyarakat, Saleh merupakan individu lugu, jujur sekaligus tak berambisi dengan harta serta kekuasaan.
     Kedua cerita di atas menginginkan keuntungan dari setan. Babad pertama, Bay Coven mengabdi Lucas Nobel agar hidup abadi. Hikayat kedua yakni Dorman dalam Bayi Ajaib yang mencari kekayaan dengan menyembah kuburan Alberto Dominique.
     Di abad informasi ini, makhluk halus masih tetap memukau disingkap rahasianya. Alur kisah sosok gaib masih punya kekuatan untuk mengantar ke daerah disimterested contemplation. Trend dan hakikat setan pun makin kompleks. Tidak hanya bertumpu pada makhluk halus, melainkan menjangkau berbagai sektor yang merambah ke simbol kesesatan.
     Keganasan realistis setan memang tidak pernah tertangkap mata, tetapi, dampaknya tak mudah dilupakan. Darah pertama yang muncrat ke bumi mengingatkan Habil dan Qabil. Kedua putra Nabi Adam tersebut bertengkar paham. Semua gara-gara bisikan setan.
     Mengapa setan tertuduh pertama dalam kasus pernbunuhan awal ini? Sebab, ketika Habil wafat, maka, Qabil merasa menyesal dan nuraninya merintih. Sesal dan rintihan hanya milik manusia, setan tidak! Kalau setan punya penyesalan, niscaya ia membimbing manusia setelah menjatuhkannya ke jurang kesesatan. Dengan demikian, kematian Habil 100 persen didalangi setan.
     Seorang pengabdi setan, yang dikelilingi kekayaan jelas punya rasa was-was, sampai kapan harta ini dititipkan sang setan? Kemudian apa yang diinginkan setelah ia meninggal? Kekayaan, seperti kalimat klise yang sering terdengar, tak bakal membawa kedamaian.
     Barangkali, sembari tertawa, orang dapat melihat bagaimana Pangeran Akeem dari negeri Zamunda merasa bosan hidup di kerajaannya. Lalu berangkat ke Amerika. Ia rela menjadi pengepel sambil mencari wanita idaman untuk diperisteri.
Coming to America, memang lagu lama tentang putra raja yang mencari kedamaian di luar kerajaannya. Walau begitu, kisahnya apik diresapkan ke sanubari.
     Siklus kehidupan, memang tak membutuhkan kekayaan. Apalagi dari perjanjian dengan setan. Kekayaan tidak akan pernah sebanding nilainya dengan hakikat kehidupan yang bebas dan jujur.

(Fajar, Senin, 20 Maret 1989)

Kamis, 02 Juni 2011

Seniman Bukan Orang Suci

Catatan Untuk Ichwan Persada

Seniman Bukan Orang Suci


Oleh Abdul Haris Booegies

Peminat Masalah Global

 

     Ada yang menarik setelah membaca artikel Film Indonesia Tanpa Sensor? (Tribun Timur, 21 Agustus 2004). Tulisan tersebut menghendaki labelisasi film sesuai usia.
     Dari 33 alinea tulisan Ichwan Persada (IP), yang paling bombastis yaitu paragraf terakhir: “Bila ia sudah lewat 17 tahun, toh dari sekarang sudah harus dibiasakan memilah sendiri, mana film yang baik dan buruk baginya. Bukannya dipilihkan tontonan oleh orang lain”.
     Sukma kalimat di atas menekankan jika usia seseorang berperan penting dalam menikmati pita seluloid. Alhasil, mereka bisa leluasa menikmati Monster Ball’s (Halle Barry beradegan mesum) Something’s Gotta Give (Diane Keaton bugil), Taking Lives (Angelina Jolie diusap dadanya), Euro Trip (cerita remaja bertabur ketelanjangan) atau Gangs of New York yang sarat kekerasan.
     Dengan adanya kategori umur, maka, “entah berapa tahun ke depan, film Indonesia tak perlu lagi lembaga sensor”, lanjut IP. Ia lalu mengutip pernyataan Slamet Raharjo Djarot: “Saya tidak percaya pada apapun bentuk sensor, kecuali pengetahuan kita sendiri. Biarkan film disensor sendiri oleh kemampuannya. Bubarkan saja lembaga sensor itu”.

Buruan Zinahi Gue
     Manusia dilengkapi dengan kecerdasan serta emosi. Dengan kecerdasan orang sanggup berkreasi setinggi langit. Sedangkan emosi menempati ruang saat manusia berinteraksi dengan lingkungan.
     Ketika seniman sedang latihan buat memerankan orang sinting, tentu, ia berlagak tidak karuan. Berteriak atau bertingkah-polah abnormal. Sementara di samping kediamannya ada bayi yang baru lahir, ada siswa yang belajar untuk ujian, ada orang renta dan ada orang sakit.
     Kalau seniman pintar, berarti ia tak perlu peduli dengan orang di sekitarnya. Karena, seni untuk seni. Apalagi, lakon yang dibawakn bisa menjadikannya meraih Piala Oscar, Palm d’Or maupun Piala Citra.
     Bila senimannya dibalut emosi,maka, ia mafhum untuk tidak melanjutkan latihannya. Seniman yang baik adalah yang memaklumi bahwa kebebasan dibatasi oleh orang lain.
     Dalam kasus Buruan Cium Gue! (BCG), teori tersebut layak diperhitungkan. Abdullah Gymnastiar bersama jemaah hamba Allah memandang jika film itu mengajak berzinah. Gambar hidup tersebut ibarat mempersilahkan agar “buruan zinahi gue”.
     Sedangkan gerombolan manusia yang tidak pernah sujud, berkoar-koar kalau seniman mutlak berkreasi sebebas burung di angkasa.
     Tahun 70-an, film Akibat Pergaulan Bebas dianggap sangat vulgar. Penonton membludak memenuhi bioskop. Setelah menyaksikan film itu, tak seorang pun yang datang ke kantor polisi mengaku rusak moral atau kondisi mentalnya lantaran melihat adegan syur Yati Octavia.
     Selang beberapa tahun kemudian, pengaruh film tersebut mulai terasa. Bertanyalah kepada wartawan tahun 80-an, berapa banyak pelecehan seksual yang terjadi oleh Akibat Pergaulan Bebas.
Kala Rhoma Irama turun gunung mencela pornoaksi Inul Daratista, justru Satria Bergitar itu sendiri yang diserang.
     Sebagian seniman menertawakan Raja Dangdut tersebut. Belum setahun lewat, orang kemudian berteriak-teriak merisaukan tayangan dangdut di televisi. Sebab, dangdut di TV pasca goyang ngebor, tidak ubahnya tarian streptease. Buah dadanya digoyang-goyangkan sampai nyaris jatuh melenting. Pinggulnya maju-mundur persis orang beradengan ranjang gaya doggie style.
     Di harian ini, terbaca bila ada sekelompok insan yang menonton film BCG, tetapi, tidak menemukan adegan porno. Mereka justru mengaku jika film itu punya nilai pendidikan yang mengajarkan moral. Sementara situs BCG menerangkan kalau kisah tersebut berkisar pada bagaimana sebuah ciuman harus dimaknai.
     Menyimak pandangan bahwa tak ada adegan cabul, maka, mesti diakui bila masyarakat sudah kehilangan bentangan nada susila.
Skenario yang seadanya kemudian diyakini bisa mengajarkan etika kehidupan, cuma ada dalam pikiran rakyat Keraton Jahiliyah.
     Al-Quran saja yang sarat ajaran akhlakul karimah, beramai-ramai ditinggalkan. Apalagi, skenario sekenanya buatan manusia biasa mau mengajarkan moralitas.

Buruan Salat Tahajjud
     Garin Nugroho menganggap jika penarikan BCG, bukan pembelajaran yang baik (Kompas, 22 Agustus 2004). Apalagi, film tersebut telah lulus sensor.
     Pada intinya, penarikan BCG merupakan civic education (pembelajaran) yang sangat luar biasa menawannya. Karena, mengajak orang supaya berhati-hati menelurkan kreasi. Selain itu, juga mengingatkan kalau budi pekerti manusia kian tipis. Apalagi, meluasnya sinetron-sinetron sampah yang hanya menjual mimpi.
Garin mempersoalkan pula bahwa film BCG sudah disensor, berarti tidak sepatutnya ditarik dari peredaran.
     Pada 1977, George Lucas merilis Star Wars, Episode IV: A New Hope. Lantas disusul The Empire Strikes Back (1980) serta Return of the Jedi (1983).
     Dua dekade kemudian, Lucas kembali mengedarkn trilogi Star Wars edisi khusus. Hikmah peluncuran film science-fiction itu ialah katarsis demi menggapai tingkat kepuasan maksimal. Pada 1977, perkembangan FX (special visual effects) masih terbatas. 20 tahun berselang, teknologi telah teramat maju. Jabba the Hutt yang awalnya berwujud manusia, sudah dipoles oleh Lucas menjadi makhluk raksasa yang malas bergerak.
     Hikmah ditariknya BCG adalah agar lahir film bermutu. Siapa pun berharap bahwa 20 tahun kemudian, edisi istimewa BCG kembali hadir dengan tajuk Buruan Salat Tahajjud, lantaran semua pemainnya sudah naik haji.
     Di buku ditemukan mitos bahwa seniman itu orang aneh-aneh. Sebab, diturunkan khusus dari langit. Fakta yang ada sekarang ternyata sebaliknya. Banyak seniman yang rupanya datang dari dasar neraka ketujuh. Lahir di bumi tidak berbentuk setan berbulu, namun, menitis ke dalam raga sutradara Martin Scorsese atau novelis Salman Rushdie.
     Siapa saja seniman yang ingin berkarya sebebas-bebasnya, maka, carilah dunia selain milik Allah. Di sana, film apa pun boleh diputar seenaknya. Planet bumi jangan dinodai, karena tidak ada kebebasan yang seratus persen bisa dipraktekkan selama berhasrat hidup berdampingan dengan individu lain. Apalagi, kebebasan yang tidak dibatasi oleh kepentingan orang lain, gampang menjadi sumber fitnah. Maka: “Perangilah mereka sampai tiada lagi fitnah. Hingga, agama tersebut cuma untuk Allah semata” (al-Baqarah: 193).


(Tribun Timur, Kamis, 26 Agustus 2004)

Amazing People