Selasa, 29 Mei 2012

Perjanjian dengan Setan


Perjanjian dengan Setan
Oleh Abdul Haris Booegies

     Pekan pertama bulan Januari 1989, TVRI menayangkan kisah horor Bay Cove yang disutradarai Carl Schenkel. Alkisah, sepasang suami isteri, Jerry Le Bon dan Linda yang pindah dari Boston ke Devlin Island. Pulau yang berada di pesisir Massachusetts itu dihuni sekelompok masyarakat yang disebut Bay Coven.
     Pada suatu kesempatan, Linda menemukan bahwa nisan di depan gereja menunjukkan jika penghuni pulau Devlin yang terakhir meninggal sekitar tiga abad lalu. Ini berarti bahwa selama tiga ratus tahun tak seorang pun Bay Coven yang mati.
     Kecurigaan Linda makin menganga saat menemukan sebuah tulisan yang bunyinya; “7 Oktober 1703, Nicholas dan Madeline Kline bertunangan”. Nama Nicholas dan Madeline Kline ini mengingatkan Linda kepada tetangganya, Nick dan Matty Kline.
     Puncak ketegangan cerita R. Timothy Kring ini, saat Linda melihat ke cermin. Dalam bayangan cermin itu, tulisan Le Bon di belakang baju suaminya terbaca Nobel. Tak membuncah keterkejutan Linda andai ia tak pernah membaca sebuah kuno. Dalam buku yang telah kusut itu, Linda menemukan nama Lucas Nobel, pimpinan sekte setan. Lucas Nobel akan bangkit saat bulan purnama setelah 300 tahun mati. Sebelum kebangkitannya yang ditunggu-tunggu Bay Coven alias pengabdinya, maka, harus ada seseorang yang dipersembahkan sebagai korban. Dan itu berarti, Linda!
     Apa sebenarnya keuntungan dari perjanjian dengan setan? Sepintas memang ada keuntungan, tetapi, sampai kapan keuntungan itu bisa bertahan? Keuntungan dari perjanjian dengan setan hanya ilusi monoton. Pada akhirnya, perjanjian itu menyerat si pengabdi setan untuk meninggalkannya.
     Sosok roh memang menarik untuk disimak, namun, mengerikan untuk dianut. Di akhir abad ke 20 ini, di Jerman Barat sedang dilakukan pengujian terhadap roh yang masih sulit dipercaya eksistensinya secara rasional. Sebuah penelitian menjabarkan bahwa tatkala seseorang meninggal dunia, maka, berat badannya hilang seberat 200 gram. Apakah berat yang 200 gram itu roh atau bukan, tentu ini menarik ditelisik.
     Tahun 1982, sebuah sinema Indonesia menceritakan petualangan manusia-manusia serakah berambisi negatif. Judul film itu Bayi Ajaib. Berkisah tentang Kosim dan Dorman. Keduanya bermaksud menguasai sebuah daerah yang menyimpan harta karun. Demi meraup harta tersebut, keduanya mesti menjadi lurah. Maklum, dengan kedudukan itu, masyarakat jelas akan membantu menemukan harta karun tersebut.
     Kosim bersama Dorman pun berlomba mencari pendukung. Dorman yang dirasuk impian kekayaan lalu menyembah sebuah kuburan orang Portugis, Alberto Dominique. Figur itu hidup pada tahun 1663- 1736. Sedangkan Kosim, membagikan uang kepada masyarakat agar kelak memilihnya sebagai lurah.
     Tragis, Sumi, isteri Kosim yang sedang hamil terperosok ke makam Alberto Dominique. Hingga, beberapa keanehan sering dialami keluarga Kosim. Sumi, akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki tepat saat gerhana bulan. Begitu bayi tersebut lahir, ia langsung menerkam pembantu dukun. Pada momen tertentu, bayi itu mirip Alberto Dominique.
     Untung saja roh Alberto Dominique yang bersemayam di raga putra Kosim tak tahan mendengar suara azan. Alhasil, masyarakat kampung itu tak merasa terteror lagi. Sementara ambisi Kosim dan Dorman akhirnya pupus. Warga lebih memilih Saleh sebagai lurah. Di mata masyarakat, Saleh merupakan individu lugu, jujur sekaligus tak berambisi dengan harta serta kekuasaan.
     Kedua cerita di atas menginginkan keuntungan dari setan. Babad pertama, Bay Coven mengabdi Lucas Nobel agar hidup abadi. Hikayat kedua yakni Dorman dalam Bayi Ajaib yang mencari kekayaan dengan menyembah kuburan Alberto Dominique.
     Di abad informasi ini, makhluk halus masih tetap memukau disingkap rahasianya. Alur kisah sosok gaib masih punya kekuatan untuk mengantar ke daerah disimterested contemplation. Trend dan hakikat setan pun makin kompleks. Tidak hanya bertumpu pada makhluk halus, melainkan menjangkau berbagai sektor yang merambah ke simbol kesesatan.
     Keganasan realistis setan memang tidak pernah tertangkap mata, tetapi, dampaknya tak mudah dilupakan. Darah pertama yang muncrat ke bumi mengingatkan Habil dan Qabil. Kedua putra Nabi Adam tersebut bertengkar paham. Semua gara-gara bisikan setan.
     Mengapa setan tertuduh pertama dalam kasus pernbunuhan awal ini? Sebab, ketika Habil wafat, maka, Qabil merasa menyesal dan nuraninya merintih. Sesal dan rintihan hanya milik manusia, setan tidak! Kalau setan punya penyesalan, niscaya ia membimbing manusia setelah menjatuhkannya ke jurang kesesatan. Dengan demikian, kematian Habil 100 persen didalangi setan.
     Seorang pengabdi setan, yang dikelilingi kekayaan jelas punya rasa was-was, sampai kapan harta ini dititipkan sang setan? Kemudian apa yang diinginkan setelah ia meninggal? Kekayaan, seperti kalimat klise yang sering terdengar, tak bakal membawa kedamaian.
     Barangkali, sembari tertawa, orang dapat melihat bagaimana Pangeran Akeem dari negeri Zamunda merasa bosan hidup di kerajaannya. Lalu berangkat ke Amerika. Ia rela menjadi pengepel sambil mencari wanita idaman untuk diperisteri.
Coming to America, memang lagu lama tentang putra raja yang mencari kedamaian di luar kerajaannya. Walau begitu, kisahnya apik diresapkan ke sanubari.
     Siklus kehidupan, memang tak membutuhkan kekayaan. Apalagi dari perjanjian dengan setan. Kekayaan tidak akan pernah sebanding nilainya dengan hakikat kehidupan yang bebas dan jujur.

(Fajar, Senin, 20 Maret 1989)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People