Senin, 07 Mei 2012

Filosofi Ishak Ngeljaratan



Filosofi Ishak Ngeljaratan

     Ishak Ngeljaratan! Siapa tak mengenalnya? Ia sosok yang akrab dengan mahasiswa. Idenya cemerlang dan pemikirannya jernih. Pada semester V serta VI, saya sempat programkan kuliah Bahasa Latin dan Mitologi Yunani yang ia sampaikan.
     Materi kuliah yang dibawakan tentu saja menarik. Sebab, ia tak hanya fokus pada mata kuliah itu. Ia menggiring persepsi mahasiswa ke arah yang lebih tajam.
     Saat ikut kuliah Mitologi Yunani, ia dua kali mengutarakan keberatannya bila titel sarjananya disebut. Alasannya, perlu apa dipanggil Drs. A atau dr. B. Tak berguna itu, yang penting bagaimana perspektif kita. Ia lalu mencontohkan seorang yang ke Holy Mecca. Kala tiba di Tanah Air, sontak ia dipanggil Haji. Bila demikian, mengapa shalat, puasa, zakat dan amal baik lainnya tak disebut? Mengapa hanya Haji Ismail saja? Bukan Haji Shalat Puasa Sedekah Ismail?
     Bagi saya, yang selalu duduk di bangku belakang saat ikut kuliah, pernyataan ini sangat menggelitik serta dangkal. Dan itu diulangi lagi saat ia menyampaikan beberapa wejangan pada Malam Chairil Anwar pada Kamis 24 Mei 1990. Ia ogah disebut Drs. Ishak Ngeljaratan M.A. Lalu persoalan sakral mengenai haji, puasa, shalat dan sedekah diungkit lagi.
     Perlu dijelaskan bahwa naik haji tak semua orang bisa meraihnya. Berkunjung ke Baitullah, hanya wajib bagi orang mampu. Dalam bahasa Fiqh disebut mustahti (yang bisa). Sedangkan shalat dan amal baik lainnya, dapat dilakukan oleh orang tak berduit sekalipun. Kaya miskin, tua muda, semua bisa mengerjakan shalat. Jadi sangat wajar bila seorang yang ke Kabah dan kembali ke rumahnya, menggunakan istilah Haji di depan namanya. Ini sangat perlu diketahui, agar hal-hal sakral, yang bersifat transendental, tak dikaitkan dengan tetek-bengek masalah akademis.
     Mengapresiasi sesuatu, akan konyol jika orang tak pernah tahu metafisika sesuatu itu. Dan gila namanya, kalau rasa tak suka terhadap sesuatu, juga dihubungkan dengan hal yang bertolak belakang. Titel agama dan titel akademis, misalnya. Saya kira Ishak Ngeljaratan sudah mengerti dan setuju. Bukan begitu, Pak.

Abdul Haris Booegies
Mahasiswa Fakultas Sastra
Jurusan Sastra Perancis
Universitas Hasanuddin

(Fajar, 26 Mei 1990)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People