Label

Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2011

Polemik Tasawuf di Harian Pelita

Tasawuf di Kalangan Mahasiswa 
Oleh Abdul Haris Booegies
Mahasiswa Sastra Perancis
Universitas Hasanuddin Ujung Pandang
     Buku Megatrends 2000 karya John Naisbitt bersama Patricia Aburdene, termasuk langka dan jeli. Karena menulis bahwa satu di antara sepuluh arah baru tahun 1990-an adalah kebangkitan agama. Di negara-negara maju, agama kembali dilirik sebagai obat penawar di tengah era globalisasi. Bahkan, Ayatullah Rohullah Khomeini semasa hidupnya, pernah berkirim surat kepada Mikhail Sergeyevich Gorbachev, agar pemimpin Soviet itu mempelajari Islam.
     Sebelumnya, Gorby (panggilan Gorbachev) telah mengoyak komunis dengan perestroika (restrukturisasi) serta glasnost (keterbukaan). Dua ide cermelang sakti ini makin dirindukan realisasinya sesudah Bapak Pembaru Soviet itu nyaris tumbang oleh kudeta yang didalangi kelompok garis keras Marxisme.
     Di Indonesia, kemarakan menunaikan ibadah agama sangat menggembirakan. Terlebih para pemuda dan mahasiswa Muslim. Mereka menggemakan ceramah keagamaan yang ustaz, kyai maupun cendekiawannya diundang dari Ibu Kota.  Lalu, ada pengajian di rumah sesama rekan seiman. Atau, bakti sosial ke daerah-daerah kumuh sampai pertemuan-pertemuan dengan anak yatim piatu serta penderita penyakit.  Dan juga, ada pengumpulan dana untuk rakyat yang menderita kesengsaraan setelah dibekap bencana.
     Di antara corak keagresifan nafas keagamaan tersebut, tasawuf pun bergema. Tiupan mistik Islam ini menjalar dan membius generasi muda Islam, khususnya mahasiswa.
     Pertanyaan yang melingkar sehubungan ketertarikan mahasiswa dengan tasawuf adalah, masalah kematangan jiwa serta pengembangan ilmu dan teknologi.  Kebatinan Islam, bukan ajaran yang mudah dijalankan oleh orang yang kurang pengalaman rutinitas keseharian hidup.
     Sufisme sangat terkait dengan usia. Sebab, selain anti-dunia, kemapanan rohani pun harus diuji melalui mujahadah (latih rohani serta pembiasaan derita jasmani), musyahadah (mata batin) dan zauq (kepekaan rasa).
     Di sini terlihat, bahwa tasawuf bukan cuma melenyapkan kreativitas berpikir, tetapi, juga menelantarkan bumi dan langit. Karena para penganut sufisme cenderung mengasah emosi untuk kepentingan diri sendiri. Sifat  toleransi kepada sesama manusia seakan digadaikan hanya untuk rasa egoistis komunikasi transendental belaka.
     Orang-orang yang mengesampingkan duniawi, adalah manusia yang tak lolos seleksi tauhid.  Tuhan menciptakan manusia ke dunia ini sebagai the leader.  Kalau mereka lari dari tanggung jawab sebagai khalifatun fil ardh, maka, mereka mengingkari jati diri sebagai hamba Allah.
     Bila dunia yang cuma satu ini tak digarap, berarti pembangkangan maha besar di hadapan Tuhan. Firman Allah: “Kami jadikan bagi kamu bumi sebagai lapangan kehidupan. Namun, sedikit saja di antara kamu yang bersyukur” (al-A’raf: 10).  Dan John C. Green menulis dalam buku The Death of Adam bahwa: “The wisdom of God manifested in the creation of God” (kearifan Allah memantul dari ciptaan-Nya).

Butuh Waktu
     Usia saat mahasiswa merupakan tahap awal kehidupan.  Hingga, mereka mesti berjuang menjalani kehidupan agar merasakan manis serta pahit getir pengalaman yang dilewati hari demi hari.  Ini menunjukkan pula bahwa untuk menjadi Islam kaffah (seutuhnya), dibutuhkan waktu dalam menginterpretasi ajaran Islam.  Dan untuk menerapkan al-Qur’an dan al-Hadis dalam kehidupan, maka, perjalanan waktu sangat menentukan. Makin bertambah usia, kian banyak pula elemen yang menggoda untuk menjadikan pribadi lebih arif.  Margaret Foster, novelis Inggris menganggap bahwa umur 40 atau setengah baya, sebagai masa kontrol terhadap diri sendiri.
     Paham tasawuf harus diakui menuntut kematangan jiwa dalam menghayati ajaran-ajarannya yang berisi syatahat (kata-kata ganjil atau ucapan latah). Dan jika tafsiran intelektualitas kurang memadai, maka, akibatnya sangat fatal.  Di sini peran kematangan usia sangat dominan menentukan alur berpikir.  Kalau tidak, berarti ajaran sufisme akan menyeret ke jurang yang menyengsarakan.
     Al-Hallaj, sufi terkenal yang dihukum mati di Baghdad semasa pemerintahan Khalifah al-Mugtadir di abad X Masehi, sebagai contoh. la dipersalahkan karena telah mengajarkan pengertian-pengertian seperti fana’ fillah (musnah dalam Allah) dan anal-haq (akulah Realitas Absolut alias Allah).
     Syatahat semacam ini didengungkan pula oleh Umar bin al-Farid bahwa, ana huwa (aku inilah Dia).  Atau ungkapan Abu Yazid al-Bustahi, subhani ma a’zama sya’ni (maha suci aku, betapa maha besar aku).
     Pada hakikatnya, tasawuf cuma kreativitas ibadah semata dari orang-orang yang masih bimbang dan ragu dengan imannya.  Dalam al-Qur’an, aktivitas berzikir (ibadah), hanya ada dua surat (1,7%). Sedangkan masalah politik dan masyarakat ada 27 surat (22,5%).
     Bukti sufisme cuma kreativitas ibadah ialah banyaknya corak kebatinan Islam.  Ada tasawuf falsafi yang berisi paduan antara visi mistis dan tinjauan rasional dari Ibn Masarrah.  Ada tasawuf panteisme (wihdatul-wujud) dari Muhyiddin ibn Arabi.  Ada aliran kesatuan mutlak dari Ibnu Sab’in.  Ada konsep cinta Ilahi dari Rabiah al-Adawiyah.  Juga ada dasar pemikiran yang menafikan segalanya dari Abu Hasan al-Basri.
     Selain warna kebatinan Islam tersebut, masih ada beberapa yang sangat berpengaruh. Malah, banyak aliran sufisme yang menyatu dengan budaya lokal suatu daerah.  Hingga, mistik Islam ini ada yang diselewengkan dengan syahwat brutal, bahwa hanya ada dua utusan Allah: Nabi Muhammad dan Yesus Kristus.
     Kelahiran dan pertumbuhan tasawuf, banyak dibantu paham-paham dari agama di luar Islam. Walau, pada dasarnya sufisme tetap bersumber pada al-Qur’an dan al-Hadis.
     Buku Esaai Sur 1'histoire de l'Islamisme yang disusun Reinhard P. Dozy, menganggap jika mistik Islam diambil orang-orang Persia.  Paham Hormuz (Tuhan Kebaikan) dan Zind Afesta dalam agama Zarathustra merupakan sumber Hak Ketuhanan Raja (Tuhan menjelma dalam Imam).  Ajaran ini menyerupai Hakikat Muhammad, ketika orang ingin menyatu dengan Nur Rasulullah

Ancaman Politik
     Alfred von Kramer dalam buku Geschicte der Herrschenden Ideen des Islams, menulis bila pengaruh Kristen dan Hindu-Budha (ajaran Vedanta), terdapat dalam kebatinan Islam. Menurut Darwis al-Birawi, ada persamaan cara ibadah dan mujahadah tasawuf dengan Hindu.  Dan Reynold A. Nicholson dalam karyanya Literary of the Arabs, yakin bahwa dampak Kristen ada dalam sufisme. Sedang paduan alam pikiran Yunani, ibadat Mesir Kuno berikut kepercayaan Hinduisme yang melahirkan Neo-Platonisme, juga disebut sebagai unsur awal mistik Islam.
     Fase ini terjadi karena filsafat Yunani telah membaur di Timur Dekat.  Hingga, ungkapan Socrates di gnoti theauton Delphi, “kenali dirimu”, diinterpretasikan oleh kaum sufi yang akhirnya melahirkan sebuah hadis maudhu (palsu) tanpa sadar.  Bahwa, “man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu” (siapa kenal dirinya, ia tahu Tuhannya). Alasan pengikut mistik Islam karena ada dulcis hospes animae (titik temu manusia dan Ilahiya).
     Masalah sakral lain jika mahasiswa menjalankan tasawuf ialah terhambatnya pengembangan ilmu dan teknologi. Sebab, dengan terbiusnya mahasiswa dengan kebatinan Islam, maka, mereka akan menjauhi persoalan dunia.  Disiplin ilmu pun bakal macet.  Karena otak mahasiswa yang masih fresh, digiring ke alam mistik. Padahal, telah tercantum firman Allah: “Tiada seorang pun akan beriman. Kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan pikiran” (Yunus: 100).
     Tasawuf, memang dapat mengguncang kemapanan tatanan sosial dan bisa pula menjadi ancaman politik. Namun, untuk masuk sebagai pengamal kebatinan Islam, dibutuhkan kedewasaan usia dan kematangan jiwa.  Agar, harmoni psikologis tak goyang dililit ajaran sufisme yang sangat pelik.  Peran kepribadian pun menjadi alat untuk mengolah hakikat dan eksistensi tasawuf.  Bila ini telah menyatu, maka, mistik Islam akan menggiring untuk mencapai aktivitas ibadah demi menggapai lingkaran insan kamil (manusia sempurna).

(Pelita, Senin, 2 September 1991)
_______________________________



Tasawuf, Teknologi dan
Terminator 
Oleh Abdul Haris Booegies
Pemimpin Redaksi Media Mahasiswa LEKTURA
Universitas Hasanuddin Ujung Pandang
      Artikel berjudul “Intelektualitas Semu Matikan Spiritualitas Islam” yang ditulis Al Anwari Khaliel (Pelita, 13 September 1991), sebagai catatan atas tulisan saya: “Tasawuf di Kalangan Mahasiswa” (Pelita, 2 September 1991) merupakan renungan yang andal.  Secara mengesankan, Ketua An-Nadwa yang juga mahasiswa IAIN Jakarta itu mengemukakan, agar sufisme jangan dikambing-hitamkan. Tetapi, cukup memperbaiki mentalitas masyarakat Islam yang kini mengalami degradasi.
     Apa yang diutarakan tersebut, tentu saja ada benarnya. Namun, pertanyaan yang timbul ialah, mistik Islam yang bagaimana kini melanda mahasiswa. Lalu, bisakah disebut mahasiswa yang menjalani tasawuf menghambat ilmu dan teknologi?
     Penamaan sebagai “tasawuf”, sampai saat ini masih simpang-siur.  Istilah “tasawuf” diperkirakan bermula dari kelompok pemakai bulu domba (shuf) sebagai pakaian.  Trend penutup tubuh dari bulu domba bagi orang yang mencari angin surga, merupakan sikap anti-dunia. Fenomena pakaian modis dan keren di zaman itu, sebagai wujud kemewahan kehidupan, ditinggalkan demi ketakwaan.
     Pendapat ini diperkuat as-Sarraj at-Thusi dalam karyanya al-Luma’ serta Ibn Khaldun pada bukunya Muqaddimah.  Lalu, ungkapan ahlus-suffah pun dianggap sebagian orang sebagai cikal “tasawuf”.  Sebab, sekelompok kaum Muhajirin dan Anshar yang hidup dalam kepapaan serta tinggal di Masjid Madinah, menghabiskan waktu hanya untuk berjihad.  Juga, ada anggapan kalau kata “tasawuf” punya hubungan dengan istilah theosophy, yang dalam bahasa Yunani berarti Hikmah Ilahi.
     Dari alur pencarian kesamaan sudut pandang mengenai makna kebatinan Islam, tersirat benang merah.  Karena terlihat adanya pandangan untuk meninggalkan kehidupan dunia.  Kesan menyendiri sangat kuat yang akhirnya memberi citra, bila sufisme memang jauh dari kehidupan sosial.
     Orang yang tertarik menjadi penganut mistik Islam, mutlak menjalani mujahadah (latih rohani dan pembiasaan derita jasmani), musyahadah (mata batin) serta zauq (kepekaan rasa).  Ma’ruf al-Karkhy mengatakan, siapa yang tidak benar-benar hidup dalam kemiskinan, berarti ia tak menjadi pengikut tasawuf.  Lalu, Sahl bin Abdullah menganggap bahwa kebatinan Islam ialah makan sedikit, senyap dengan Allah dan lari dari manusia.    
     Sum Nun yang dijuluki al-Muhibb (si pencinta), berpendapat kalau sufisme adalah, kamu tak punya apa pun serta tak dimiliki siapa pun. Dalam pandangan Ruaim, mistik Islam adalah kepasrahan. Sebab, membiarkan diri dengan Allah menurut kehendak-Nya.
     Interpretasi ini menunjukkan adanya sikap ogah berusaha.  Firman Tuhan: “Sungguh, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, jika mereka tak mengubah keadaannya sendiri” (ar-Ra’d: 11).   
     Sedangkan Zu an-Nun al-Mishri lebih tegar melihat tasawuf.  la mengungkap bahwa pengikut kebatinan Islam ialah orang yang tak suka meminta dan tidak merasa susah karena ketiadaan.
     Ragam persepsi ini memperlihatkan adanya suatu pemutusan terhadap lingkungan dunia. Ini menandakan hubungan horisontal sesama manusia (muamalah), hilang demi rasa egoistis terhadap ajaran sufisme.  Padahal, untuk mewujudkan diri sebagai khalifatun fil ardh, manusia tak mungkin lepas dari ikatan kemasyarakatan.
     Gambaran yang sulit mengenai alasan penamaan mistik Islam, serta adanya tahap pengujian sebelum masuk ke lingkungan tasawuf, merupakan tanda bila paham itu cuma kreativitas ibadah.    
     Kewajiban-kewajiban dalam ajaran Islam, akan meragukan kalau awal mulanya kabur.  Kebatinan Islam dan barzanji, misalnya, sulit membumi sebagai kewajiban universal, karena cuma sempalan. Fungsinya sekadar menjaga kesucian tauhid.  Sedangkan, pelaksanaan salat lima waktu, tak pernah digugat.  Sebab, sangat jelas eksistensinya sebagai perintah yang diterima Nabi Muhammad dalam saga Isra’ Mi’raj.
     Sembahyang, selain sebagai penghormatan hamba untuk Sang Khalik, juga merupakan komunikasi transendental kepada Allah.  Sedekah dan zakat pun sangat logis keberadaannya.  Kewajiban menolong yang di bawah agar tak dililit kesengsaraan, memperlihatkan adanya timbangan rezeki bagi yang punya harta melimpah. Bahwa kekayaan yang dimiliki cuma titipan sementara dari Tuhan.
     Salat dan zakat, adalah mosaik keagungan Islam. Wujudnya sangat berbeda dengan paham-paham yang sekadar memperkaya ajaran Islam. Sufisme, bagaimanapun saktinya membius kaum Muslim, tetap tak bisa menjadi kewajiban umat Islam. Karena mistik Islam hanya kreativitas ibadah semata dari orang-orang yang masih bimbang dengan imannya.
     Tasawuf bukan malaikat penolong yang mutlak membawa manusia ke alam benderang. Sebab, jika kebatinan Islam dianggap sebagai shirathal mustaqim yang bakal membawa ke Taman Firdaus, maka, sia-sia umat seiman menegakkan sembahyang lima waktu maupun kewajiban lainnya.  Bahkan, ada kesan meremehkan untuk shalat bila sufisme dianggap juru selamat atau dianggap moral agama yang par excellence (sempurna). Padahal, mistik Islam cuma paham asing yang berasal dari berbagai ideologi vulgar masa silam. Walau pada hakikatnya, tasawuf tetap bersumber al-Quran dan al-Hadis.

Rayuan Tasawuf
     Mahasiswa yang ingin menjadi pengikut kebatinan Islam, tentu bakal menghambat ilmu dan teknologi. Sebab, akan meninggalkan jati dirinya sebagai the leader.  Apalagi, wajib melewati mujahadah, musyahadah serta zauq.
     Bila ada mahasiswa yang menganggap diri ikut aliran sufisme tanpa menjalani ketiga proses tersebut, berarti ia tak menerapkan kehidupan mistik Islam. Mereka sekadar meningkatkan frekuensi ibadah yang kini marak di mana-mana.  
     Sangat mengkhawatirkan, karena mahasiswa yang menggenggam alam tasawuf, akan menjauhi pengetahuan-pengetahuan duniawi. Waktu yang tersedia untuk belajar tentang berbagai disiplin ilmu, terkikis habis oleh hasrat menggebu rayuan tasawuf.
     Jadi, kebatinan Islam (tanpa menunjuk salah satu alirannya) adalah sesuatu yang sangat sulit untuk ditembus mahasiswa.  Karena kematangan usia dan kemapanan rohani belum imbang dalam kehidupannya.  Emosi mahasiswa yang masih meledak-ledak, kalau dipertemukan dengan masalah-masalah ghaib, akan menimbulkan stres. Hingga, harmoni kejiwaan bisa miring karena secara psikologis terjadi pertentangan antara emosi, pikiran dan kerinduan menggapai Hakikat Muhammad.  Kesegaran otak untuk berpikir pun akhirnya tertekan oleh ego pribadi demi mendekap sufisme.
     Jika cakrawala ilmu dan teknologi macet perkembangannya akibat pengaruh mistik Islam, maka, dialektika ilmu tak akan melahirkan teori-teori yang lebih baik untuk peradaban umat Islam khususnya serta masyarakat dunia pada umumnya.
Umat Islam tak dapat berharap lahirnya “Prof. Dr. Abdus Salam” lain yang akan meraih anugerah Nobel.  Kilatan ilmiah dari pelosok bumi Islam, kini mesti dibangkitkan.  Bukan menghambat kecerdasan otak mahasiswa dengan dalih adanya debu materialisme atau polusi sekularisme. Apalagi, tanpa tasawuf pun, pancaran iman serta nilai Islam tak akan kisut.
     Persoalan umur dalam menekuni kebatinan Islam, jelas sangat menentukan.  Rasulullah, sebelum kenabiannya sering melakukan khalwat (menyendiri merenungkan kehidupan) di Gua Hira. Ketika itu, usianya mendekati 40 tahun. Umur yang telah mapan untuk berhadapan dengan Zat Ilahi. Bahkan, kekasih Allah itu, sudah pula bergelar al-Amin (terpercaya), saat menerima wahyu pertama. Al-Ghazali pun demikian, ia meninggalkan Baghdad ketika usianya hampir 40 tahun. Pengembaraan mencari kedamaian menjadikannya skeptis.  Hingga akhirnya menemukan kepuasan lewat sufisme.  Jadi, Al-Ghazali telah melengkapi dirinya dengan kematangan umur dan kemapanan jiwa saat berkeliling mencari kebenaran hakiki.

Masa Silam dan Terminator
     Di era globalisasi ini, ketika fokus pikiran didominasi teknologi, umat Islam seolah tertinggal di segala bidang.  Hanya kegemilangan masa lampau sering diungkap sebagai kejayaan gemerlap.  Ini mengingatkan teori Moammar Khaddafi yang selalu berusaha menomor-satukan bangsa Arab, walau tanpa dukungan data ilmiah.     
     Presiden Libya itu pernah mengaku, menemukan bukti bila sastrawan klasik Inggris, William Shakespeare adalah asli Arab.  Nama sebenarnya ialah Sheikh Zubair.  Bahkan, negarawan ini mengakui kata democracy bukan bahasa Yunani Kuno, namun, bahasa Arab.  Demo dari daimomah (pemerintahan), sedangkan cracy dari krasi (kursi).
     Apa yang diungkap Khaddafi cuma guyon untuk mengangkat kembali prestise bangsa Arab yang terseok-seok di Abad Challeger ini.  Hal tersebut tak berbeda dengan apa yang dialami umat Islam, mengungkit kejayaan masa silam.  Hingga,
power aliran-aliran sempalan yang dapat menekan hempasan di masa lampau, juga diungkap sebagai prestasi gemilang.  Padahal, sukma kemegahan abad silam, tak membuahkan hasil kalau tidak diiringi ketahanan diri berupa iman serta kerja keras untuk meraih ilmu dan teknologi.  Ketahanan diri tersebut, tentu harus dijauhkan dari hal-hal yang justru menghambat kebugaran otak dalam berpikir.  Sebab, tanpa mistik Islam pun -yang sudah jelas paham asing- umat Islam akan merasakan aroma kenikmatan dunia fana dan alam baqa.
     Tasawuf dalam perjalanannya menembus ruang dan waktu, ibarat Terminator (pemusnah yang diperankan Arnold Schwarzenegger).  Di satu sisi menghancur-leburkan, di lain pihak melindungi.    
     Dalam film Terminator bagian pertama, Cyborg T-800 diceritakan mau membunuh Sarah Connor yang bakal melahirkan John Connor.  Sebab, anak Sarah tersebut akan menjadi pemimpin besar dunia pasca ledakan nuklir pada 29 Agustus 1997.  Dalam Terminator 2: Judgement Day, manusia mesin T-800 ternyata sudah humanis dan malah, berusaha melindungi Sarah dan John dari gempuran T-1000.
     Kebatinan Islam yang nyaris sama karakter dengan Terminator, banyak ditentukan the man behind the gun.  Bisa sangat berbahaya jika tak diimbangi kematangan usia serta kemapanan rohani. Umur yang telah melewati hari demi hari untuk mencapai pribadi sejati, digambarkan pepatah Amerika Serikat: Life begins at 40.  Karena saat itu, kematangan dan kemapanan sudah melewati masa spekulasi.
     Sufisme pada dasarnya harus dikendalikan dengan irama kematangan dan nada kemapanan. Dan mistik Islam akan membakar musnah kalau syatahat (kata-kata ganjil atau ucapan latah) seperti punya al-Hallaj tak diimbangi kemampuan intelektualitas serta ketegaran pribadi.  Sebab, ungkapan fana’ fillah (musnah dalam Allah) serta anal-haq (akulah realitas absolut atau Allah), sangat liar.  Bahkan, tak membawa ke lingkaran insan kamil (manusia sempurna). Tetapi, menggiring ke arah rumus Fir’aun. Yang menenggelamkan iman dan membutakan pikiran tentang kemahabesaran Allah, Tuhan segala makhluk bernyawa dan benda alam semesta.

(Pelita, Sabtu, 28 September 1991)

Senin, 20 Juni 2011

Polemik Tasawuf di Majalah Tempo

Tasawuf: Penghambat llmu dan Teknologi
    
      Sesudah saya membaca "Mencari Sang Sufi" (TEMPO, 20 April 1991, Laporan Utama), rasa penasaran seakan tersembul. Sebab, sajian utama TEMPO tersebut, sekilas kesannya hanya pengantar. Tiga bagian tulisan TEMPO mengenai tasawuf, terkesan sebagai pemantik untuk membangun kegatalan emosi tentang apa dan siapa sufi itu.
     Ada tiga hal yang mempesona setelah menyimak tulisan utama TEMPO. Pertama, benarkah tasawuf lahir dari kebimbangan? Kedua, adakah anjuran bagi umat Islam untuk tidak mencintai dunia. Ketiga, mahasiswa kini banyak yang melirik tasawuf.     
     Mengapa tasawuf? Mengapa orang harus mencari Tuhan lewat kebatinan Islam itu? Benarkah karena jenuh terhadap rutinitas keseharian hidup yang dipenuhi rasionalitas? Atau, manusia memang ingin manunggal dengan Hakikat Muhammad hingga mencari Zat Ilahi untuk kedamaian abadi.
     Ada pepatah yang sangat terkenal di Amerika Serikat: Life Begins at 40. Ungkapan ini bisa menjadi kunci mengapa orang mesti merangkul tasawuf. Pada usia 40, kematangan jiwa telah mapan. Namun, sebaliknya harus diakui, umur 40 juga merupakan puber kedua. Bukan rahasia lagi bahwa pada usia itu, ada yang memelihara wanita ranum menawan untuk dijadikan clandestienevrouw atau tweede-vrouw. Maka, dua jalan terbentang di umur 40. Mau menikmati dunia fana sepuasnya atau menyiapkan kehidupan di alam baka.
     Tasawuf lahir dari kebimbangan? Bukankah tiap agama sudah menggariskan segala sesuatu secara rinci tentang ajaran-ajaran yang disampaikan? Islam, misalnya, mewajibkan umatnya melaksanakan salat. Komunikasi transendental ini adalah cara pendekatan diri seorang hamba kepada Sang Khalik. Dalam persentuhan rohani dengan Tuhan itu, tiada kebimbangan dan tanpa keraguan. Kalau seorang beralih ke tasawuf karena bimbang, berarti ia meragukan ajaran agamanya.
     Tasawuf harus dilihat kalau lahir dari kreativitas semata. Dalam al-Quran, tentang aktivitas berzikir (ibadah dan kebesaran keagamaan), hanya ada dua surat (1,7%). Sedangkan mengenai masalah politik dan masyarakat ada 27 surat (22,5%). Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam melaksanakan salat lima kali sehari-semalam. Misal, tiap salat butuh 15 menit, berarti dalam 24 jam, pendekatan diri kepada Allah hanya 75 menit. Sedangkan untuk bekerja, minimal waktu yang dibutuhkan sekitar lima jam. Ini menunjukkan manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin. Bukan sekadar memuji kebesaran Allah.
     Dalam al-Quran, Tuhan menantang umatnya untuk berusaha: "Sungguh, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, bila mereka tidak mengubah keadaannya sendiri" (ar-Ra'd: 11). Dalam artikel: Berbagai Jalan Menuju Al-Khalik, ada kalimat: "Lalu, dalam berpakaian, Syekh Babussalam menganjurkan agar memakai pakaian buruk di sebelah luar. Entah apa tujuannya. Boleh jadi, ada kaitannya dengan anjuran untuk tidak mencintai dunia". Kalimat terakhir seakan memvonis bahwa Islam tak mencintai dunia, dan tidak tertarik dengan harta. Padahal, Islam menganjurkan untuk bekerja. Orang-orang yang mengesampingkan duniawi adalah manusia yang tak lolos seleksi tauhid.
     Allah menciptakan manusia ke dunia ini sebagai the leader. Bila dunia yang cuma satu ini tidak digarap, berarti pembangkangan besar di hadapan Tuhan. Firman Allah: "Dan Kami jadikan bagi kamu bumi sebagai lapangan kehidupan. Tetapi sedikit saja di antara kamu yang bersyukur" (al-A'raf: 10).
     Yang menggelitik, ternyata ada mahasiswa mempraktekkan dunia tasawuf dalam kehidupannya. Ini mengingatkan, seorang anak yang belajar matematika tetapi belum paham berhitung. Akibat mempelajari secara dini tasawuf itu, akan tumbuh sikap pesimistis dan skeptis terhadap lingkungannya. Sebab, dalam benaknya bergemuruh kerinduan yang emosional terhadap sesuatu yang selama ini tak disentuhnya.
     Pelampiasan emosi berlebihan tersebut akan menimbulkan ketimpangan psikologis. Harmoni kejiwaan akan terganggu. Nabi Muhammad, ketika sering menyendiri untuk memikirkan alam sekitarnya, sudah sangat mapan jiwanya. Ia telah bergelar al-Amin (terpercaya) saat menerima wahyu pertama. Ketika Nabi Muhammad ke gua Hira untuk melakukan tahannuf (beribadat dan menjauhi dosa), ia pun telah hampir 40 tahun. Usia yang sangat matang untuk berhadapan dengan kesucian abadi.
     Mahasiswa yang mendalami tasawuf sama saja dengan menghambat kemajuan ilmu dan teknologi. Sebab, ketika mereka harus bergelut dengan keadaan dunia, tiba-tiba berpaling ke alam mistik. Padahal, otak mereka masih segar untuk mengolah berbagai disiplin ilmu. Banyak masalah yang mesti dibenahi di usia muda. Hingga, tak perlu mementingkan diri sendiri dengan jalan tasawuf. Apalagi kreativitas berpikir masih meledak-ledak. Humor Yoga Soegama perlu disimak. "Seandainya ada orang mudanya disebut buaya, yang kalau bisa sebelum mati, jadilah buya". Sebab, Life Begins at 40.

ABDUL HARIS BOOEGIES
Jalan Veteran No. 292 A Ujung Pandang 90133

(Tempo, 4 MEI 1991)


______________________________________________


Tasawuf: Melenyapkan Kreativitas Berpikir


     Saya tertarik memberi jawaban kepada Saudara Mustari, M. Abduh Khalid Mawardi dan Erwin, S.H. (TEMPO, 25 Mei dan 1 Juni, Komentar) yang menanggapi tulisan saya: "Tasawuf: Penghambat llmu dan Teknologi" (TEMPO, 4 Mei 1991, Komentar).
     Ada keterangan yang cukup mengganggu dari ketiga komentator tersebut. Pertama, benarkah mahasiswa yang melirik tasawuf akan menghambat ilmu serta teknologi? Kedua, apa esensi Life Begins at 40.
     Mahasiswa yang mempaktekkan tasawuf dalam kehidupannya memang mengundang decak kagum. Tetapi, sadarkah mereka sebagai generasi pelanjut? Bahwa cendekiawan, yang sekarang sedang melewati usia 40, pasti akan meninggalkan panggung ilmu karena umur tak bisa dilawan. Jika mereka meninggalkan dunia fana, siapa bakal menggantikan? Bisakah mahasiswa yang dulu mendalami tasawuf menduduki posisi mereka?
     Tantangan masa depan sangat menantang dan sulit diantisipasi hanya dengan tasawuf yang mengandalkan rasa dan bukan kecerdasan otak. Firman Tuhan: "Tiada seorang pun akan beriman. Kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan pikiran" (Yunus: 100).  
     Melihat mahasiswa yang menekuni tasawuf, perasaan sering tergelitik dan menimbulkan kasihan. Masa muda yang merupakan usia spekulasi dan saat menimba ilmu untuk mengasah nalar, akhirnya diobral dengan alam mistik, yang seharusnya belum boleh disentuh. Lalu, untuk apa pemberian Sang Khalik -berupa fisiologi otak yang terdiri dari 10 sampai 15 bilyun neutron- bila tak digunakan untuk bumi yang satu ini? Betapa tersiksa batin kalau masa depan yang tak mungkin dihindari harus disongsong dengan tangan kosong. Sebab, ilmu dan teknologi, yang mestinya digenggam, hilang akibat asyik dengan tasawuf.
     Pada hakikatnya, tasawuf cuma kreativitas ibadah semata dari orang-orang yang masih bimbang dengan keimanannya. Sebab, Islam sudah sangat utuh sebagai ajaran llahi. Namun, tetap saja ada yang mencari hal-hal gaib dalam kehidupannya, yang justru bisa membutakan mata hati dan akal dalam memahami kebesaran Allah.   
     Tuhan menjadikan siang agar manusia mampu merealisasikan wujudnya sebagai the leader. Bukan sekadar memuji kebesaran Allah. Tetapi, menjawab jati diri sebagai khalifatun fil ardy. Bukti bahwa tasawuf cuma kreativitas ialah adanya berbagai aliran dalam mistik Islam itu. Andai bukan hasil kreasi, tentu ada kesatuan titik tinjau melihat tasawuf. Salat, misalnya, tak pernah diisi dengan hal-hal yang penuh gaya. Karena ada kesamaan nilai dalam keyakinan bahwa salat tak perlu ditambah rakaatnya atau cara pelaksanaannya. Sebab, sudah sangat sempurna sebagai alat komunikasi transendental dengan Allah.
     Kalau dikatakan bahwa tasawuf adalah jalan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, berarti sia-sialah ibadah umat Islam yang tak menjalankan mistik Islam itu. Padahal, tanpa tasawuf pun, orang bisa dekat kepada Allah. Salat lima waktu, misalnya, adalah superpower ibadah dalam kehidupan. Dengan salat, umat Islam mampu berhubungan dengan Sang Khalik. Atau, sebagai alat pengontrol perbuatan dalam keseharian.
     Zakat dan sedekah juga memperlihatkan adanya timbangan rezeki Allah dengan kekayaan pribadi. Tasawuf ibarat pisau bermata dua. Selain mampu menimbulkan perubahan sosial, bisa membawa petaka. Yang dapat mengguncang kemapanan tatanan sosial dan bisa pula merupakan ancaman politik. Jadi tasawuf erat kaitannya dengan kematangan jiwa. Ia bisa jinak, dan liar.
     Yang sangat mengkhawatirkan adalah tasawuf berkesan antidunia. Sebab, untuk masuk ke lingkungan tasawuf, orang wajib melalui mujahadah (latih rohani dan pembiasaan derita jasmani) musyahadah (mata batin) dan zauq (kepekaan rasa).
     Terlihatlah bahwa tasawuf bukan cuma melenyapkan kreativitas berpikir, tapi juga menelantarkan bumi dan langit. Karena para sufi cenderung mengasah emosi untuk kepentingan diri sendiri. Sifat toleransi kepada sesama manusia seakan digadaikan hanya untuk rasa egoistis belaka. Yang menarik ada kalimat: "Secara hipotesa dapat dikatakan bahwa makin terbenam seseorang dalam pekerjaan intelektual, makin rindu ia kepada kehangatan mistik".
     Kalimat ini menunjukkan bahwa seorang yang mendalami dunia ilmu secara terus menerus akan mendekati wujud mistik. Dan, tentu saja, perjalanan ke supernatural itu harus ditebus dengan bertambahnya usia dan kematangan jiwa. Karena makin terbenam seorang ke pekerjaan intelektual, kian banyak hari-hari yang dilalui. Berarti ungkapan tersebut justru memperkuat eksistensi Life Begins at 40 sebagai patokan dalam melihat sesuatu dengan kaca mata bijaksana. Life Begins at 40, pada dasarnya, tak boleh diterjemahkan secara letterlijk. Kalau dikatakan kehidupan seorang Muslim dimulai ketika ia mengaku Islam, ini tentu tak bisa dibantah. Namun, untuk menjadi Islam kaffah (seutuhnya), orang harus banyak menjalani kehidupan.

ABDUL HARIS BOOEGIES
Jalan Veteran Selatan No. 292 A Ujung Pandang 90133

(Tempo, 6 Juli 1991)

Kamis, 16 Juni 2011

Tasawuf Ibnu Arabi dalam Film Star Wars

Tasawuf Ibnu Arabi
dalam Film
Star Wars


Oleh Abdul Haris Booegies
Penggemar Film-film Luar Angkasa

     Pada 19 Mei 2005, publik mondial bakal menemukan jawaban perihal Darth Vader.  Selama 27 tahun, figur kelam dalam film Star Wars itu menghantui pikiran jemaah global.  Penduduk planet bumi berhasrat besar mengetahui riwayat Darth Vader yang telah hadir sejak 25 Mei 1977.  Kini, semua rasa penasaran sirna sesudah hari ini George Walton Lucas Jr merilis Star Wars: Episode III-Revenge of the Sith.
     Dalam film tersebut, terpampang bagaimana Anakin Skywalker bertransformasi menjadi Datuk Kegelapan dalam sosok Dark Lord of the Sith yang lebih populer sebagai Darth Vader.  Lucas mendeskripsikan kekelamannya berasal dari planet mistik yang seluruhnya terbentuk dari letusan gunung api.
     Darth Vader merupakan Panglima Perang Kekaisaran Galaksi sekaligus kepercayaan Emperor Palpatine, tokoh antagonis super-tamak.  Dalam episode A New Hope (1977), The Empire Strikes Back (1980) serta Return of the Jedi (1983), Darth Vader selalu dibalut jubah hitam pekat.  Topengnya mirip alien yang menjadi musuh Arnold Schwarzenegger dalam film Predator.  Jubah dan topeng itulah sebenarnya yang membuat Anakin alias Darth Vader bisa hidup setelah kalah dalam suatu duel maut.  Tanpa kedua wadah tersebut, niscaya Darth Vader akan mati.
     Dalam trilogi prekuel The Phantom Menace (1999), Attack of the Clones (2002) serta Revenge of the Sith (2005), wujud Darth Vader tengah mencari bentuk.  Tiga serial awal itu mengisahkan petualangan Anakin sebelum berevolusi menjadi Darth Vader.
     Anakin lahir di Kota Blade Runner yang terletak di planet Tatooine.  Anakin yang biasa dipanggil Ani, hidup melarat bersama ibunya, Shmi.  Bocah budak tersebut sangat cerdas dan tangkas.  Sebab, darahnya memiliki kandungan midi-chlorians (kekuatan, kepandaian, keuletan dan indera keenam) yang teramat besar.  Qui-Gon Jinn, seorang Jedi Knight sangat tertarik padanya.  Apalagi, ramalan di Coruscant (markas utama para Jedi), menunjuk pribadi Anakin bakal menjadi “The One who brings balance to The Force”.

Cinta Bersemi
     Nun jauh di pinggir alam semesta di suatu masa, terjadi hikayat sarat intrik.  Kala itu, Padme Amidala yang berasal dari planet Naboo berupaya menyelamatkan rakyatnya dari  invasi Federasi Dagang (The Trade Federation).  Blokade perdagangan terhadap planet Naboo dipimpin Viceroy.  Sang Ratu lantas bergegas bertemu dengan Senate di Coruscant (planet tempat pemerintahan Republik berpusat) guna menghindari peperangan.
     Dalam perjalanan menuju Coruscant, Jabba the Hutt yang menguasai kota Mos Espa di planet Tatooine, menyandera Ratu Amidala, Qui-Gon, Obi-Wan Kenobi serta Jar-Jar Binks.  Mereka boleh bebas asal Anakin mampu memenangkan balapan speeder.  Anakin yang berusia sembilan tahun akhirnya berhasil memamerkan kemahirannya dengan menjuarai adu balap Podrace yang penuh jebakan mematikan tersebut.
     Qui-Gon lalu berkeras di hadapan Jedi High Council (Dewan Tertinggi Jedi) agar Anakin dilatih menjadi ksatria Jedi.  Apalagi, berkat Anakin, mereka bisa bebas dari Jabba the Hutt yang anatominya seperti gentong dengan wajah mirip kodok.
     Sepuluh tahun kemudian, Anakin tumbuh menjadi pemuda gagah.  Ia adalah Padawan Learner alias Jedi Apprentice yang dilatih Obi-Wan.  Ketika terjadi huru-hara yang bisa mencelakakan Queen Amidala, maka, Anakin membawanya ke Tatooine.  Di sana, cinta sepasang sejoli itu bersemi.  Keduanya lantas menikah diam-diam.
     Sekali peristiwa, Anakin mengetahui sebuah ramalan jika istrinya akan mangkat begitu melahirkan bayinya.  Bayangan tersebut akhirnya mendorong Anakin melakukan apa saja demi menghindari takdir maut itu.
     Nyawa Amidala akhirnya sulit diselamatkan saat melahirkan bayi kembarnya; Luke Skywalker dan Princess Leia Organa, di planet Alderaan.  Sejak itu, sifat buruk Anakin mulai tampak.  Calon Jedi yang potensial dengan talenta mengagumkan tersebut, malahan terpikat menjadi pemberontak.  Ia bergabung dengan pihak kerajaan sebagai seorang Sith (ksatria kegelapan).  Bahkan, Anakin menjadi Darth, figur yang sangat ditakuti.

Cinta Ilahi
     Syekh Muhyidin Ibn Arabi merupakan ash-shaikh al-akbar (Guru yang Agung) dalam dunia tasawuf.  Sosok dari suku Hatim-Tai itu bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah al-Tha’i al-Haitami.  Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara di Spanyol, pada tahun 1165.
     Ketika berusia delapan tahun, keluarganya pindah ke Sevilla.  Di kota tersebut, Ibn Arabi belajar al-Quran, al-Hadis serta fiqh pada Ibn Hazm az-Zhahiri.  Sebagai pemuda yang haus ilmu, ia lalu berguru pula pada Abu Madyan al-Ghaus at-Talimsari dan Yasmin Musyaniyah.
     Ibn Arabi pernah ke negeri-negeri Muslim di Afrika Utara serta Semenanjung Arab.  Damaskus menjadi kota curahan hatinya di hari-hari akhir masa hidupnya.
     Karya monumental Ibn Arabi yakni al-Futuhat al-Makkiyah yang ditulis pada tarikh 1201.  Buku itu merupakan ensiklopedi tasawuf.
     Ibn Arabi yang berasal dari keluarga ilmuwan dan kaya-raya tersebut, kemudian berhaji ke Mekkah.  Di Tanah Haram, ia terpesona dengan seorang wanita muda.  Ibn Arabi tergugah oleh kecantikan serta kecerdasan perempuan asal Persia itu.  Hingga, ia menulis Tarjuman al-Ashwaq.  Kitab tersebut adalah antologi puisi mengenai cinta Ilahi.  Komposisi karya-karya Ibn Arabi bercorak simbolis dengan makna yang agak samar.
     Kaum Skolastik dan pemikir Eropa semacam Dante Alighieri mengenal baik Ibn Arabi.  Figurnya dikenang sebagai Doktor Maximus.  Ibn Arabi yang berjuluk al-Kibritul Ahmar (belerang merah), pernah berceloteh bahwa: “al-abdu rabbun wa rabbu abdun” (hamba adalah Tuhan serta Tuhan adalah hamba).
     Aneka syatahat (kata-kata ganjil) sufi Andalusia itu membuat banyak orang Islam hidup dalam kebingungan.  Ia, umpamanya, menegaskan bila golongan pertama yang masuk Surga sesudah wafat adalah masyarakat awam.  Ibn Arabi malahan berseru: “Maha suci Tuhan yang telah menjadikan segenap hal.  Dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu”.  Akibatnya, karya-karya Ibn Arabi banyak dibakar semasa hidupnya.
Paham Gawat
     Darth Vader serta Ibn Arabi merupakan sosok yang menggetarkan jantung.  Di tiap sisi jagat raya dalam wilayah science-fiction, nama Darth Vader adalah jaminan teror.  Sementara di lima benua, dua kutub dan dua samudera, nama Ibn Arabi bagai madu serta racun.  Ia dipuja penganut tasawuf sebagai santo di dunia mistik Islam.  Sekalipun punya banyak pengagum, tetapi, Ibnu Taimiyah mencelanya sebagai figur yang sungguh berbahaya.  Karena, menyamakan Tuhan dengan alam.
     Anakin adalah sosok hero dengan potensi tak terbatas dalam dirinya.  Kepahlawanannya tiba-tiba berubah haluan menjadi Sith, musuh Jedi.  Kehadirannya di kerajaan gelap mengakibatkan runtuhnya supremasi Republik.  Bahkan, Clone Wars berakhir dalam kenistaan.
     Sedangkan Ibn Arabi lewat ajaran-ajarannya cuma melahirkan pertentangan.  Apalagi, renungan sentralnya berupa wahdat al-wujud (kesatuan eksistensi), teramat gawat.  Sebab, paham tersebut memaparkan kalau wujud alam sama dengan wujud Tuhan.
     Benang merah yang menghubungkan antara Darth Vader dengan Ibn Arabi yakni kesesatan alur berpikir.  Virus akal budi merasuk dalam kedua tokoh fiksi dan fakta itu.
     Darth Vader yang menjelajah di antara planet-planet, akhirnya tamat riwayatnya sesudah disabet lightsaber (pedang laser) oleh Luke Skywalker, putranya sendiri.  Sementara Ibn Arabi mendapat perlawanan gigih atas visi seronoknya.

Petunjuk Hikmah
     Al-Quran yang berisi ajaran moral secara global, sering diutak-atik.  Lantas dicari celahnya guna menyusupkan pemikiran hasil olah-cipta manusia.  Alhasil, lahir kerancuan serta kontradiksi.  Husain Ibnu Manshur al-Hallaj, misalnya, mengaku menyatu dengan Allah.  Para pengikut fanatiknya lalu membenarkan pernyataan vulgar tersebut.  Padahal, perkataan al-Hallaj adalah batil belaka.
     Di Surga, Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah.  Kemudian Allah meniupkan roh-Nya kepada manusia pertama itu.  Biarpun memiliki roh Tuhan, namun, manusia bukan bagian dari wujud hakiki Allah.  Manusia tetap hanya sebagai hamba atau makhluk (yang diciptakan).
     Tiap insan punya sistem keilahian di antara fondasi kemanusiaannya.  Hal itu pula yang membuat iblis cemburu.  Karena, Allah meniupkan roh-Nya kepada Nabi Adam.
     Ibn Arabi bersama al-Hallaj dengan akal bulusnya telah mengingkari persepsi tentang Tuhan.  Zat Maha itu dianggapnya satu kesatuan dengan alam dan manusia.
     Cakrawala berpikir manusia yang terbatas tidak bakal sanggup menelaah Kalam Ilahi.  Sebab, tinta pena manusia cuma setetes.  Sedangkan dawat ilmu Allah seluas lautan nan biru.
     Darth Vader melabrak galaksi atas dukungan Kerajaan Gelap.  Di pinggir semesta yang kelam, berbaris shaf kebajikan hendak menangkal laju kesewenang-wenangannya.  Karena, pendekar Sith tersebut, leluasa memberangus kehidupan demokrasi.
     Ibn Arabi pun tiada henti diserang gara-gara pemikirannya yang keliru.  Gagasan-gagasannya dinilai bid’ah.  Sebab, menyamakan wujud makhluk dengan Sang Khalik.  Padahal, manusia hanya abid (yang menyembah).  Sementara Allah sebagai ma’bud (yang disembah).
     Darth Vader serta Ibn Arabi sama-sama menghujat nilai-nilai kemanusiaan.  Keduanya membentangkan jalan yang sukar dilewati kehidupan normal.  Padahal, sejatinya manusia dituntun akal budinya meraih aktivitas keseharian yang positif.  Sedangkan Darth Vader bersama Ibn Arabi menggiring kehidupan ke arah negative.
     Nilai-nilai sufistik Ibn Arabi yang menyusup ke dalam sukma film Star Wars: Episode III-Revenge of the Sith yakni pemahaman sempit perihal kebenaran.  Sisi kebenaran cuma dilihat dari sudut pandang kondisi suatu masa.  Pertimbangan terhadap konsep yang berorientasi sifat asasi manusia, tidak diperhitungkan.  Padahal, hak pokok individu meliputi formula solusi, entitas fundamental, elemen spiritual, instalasi energi, tabiat persoalan, unit metafisis, kekuatan mistik, terapi global, mesin atomik dan pengetahuan komprehensif.  Akibatnya, kebenaran yang diyakini justru merusak ketenteraman publik di sekitarnya.  Struktur tersebut terjadi gara-gara gaung kebenaran versi pikirannya yang dangkal.
     Ihwal itulah yang membuat manusia mutlak dituntun ke sirathal mustakim (jalan yang lempang).  Karena, tidak ada petunjuk hikmah kecuali al-Quran.
     “Dan inilah jalan-Ku yang lurus.  Maka, ikutilah.  Jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain.  Sebab, jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan Tuhan.  Hal tersebut diperintahkan Allah supaya kamu bertakwa” (al-An’am: 153).

Sabtu, 04 Juni 2011

Tasawuf Sebagai Virus Islam


Tasawuf Virus

Islam


Oleh Abdul Haris Booegies
Peminat Masalah Sosial

     Saat terjadi perpindahan milenium di akhir abad ke-20, terpampang fenomena baru dalam Islam Indonesia.  Orang tiba-tiba melihat beberapa pemuda berjenggot dengan baju gamis.  Bahkan, kepalanya ditutup sorban.
     Sosok demikian memunculkan dua persepsi.  Pertama, boleh jadi mereka merupakan anggota organisasi berbasis Islam yang mencoba menegakkan hukum Allah di muka bumi.  Kedua, mungkin saja mereka pecundang kehidupan yang mencari keteduhan dengan melibatkan diri dalam tasawuf.
     Mistik Islam sering menjadi pelarian bagi kalangan yang kalah dalam menghadapi kehidupan.  Mereka menganggap sufisme sebagai panggung baru kehidupan.  Gerombolan penganut tasawuf menilai kalau mendekatkan diri kepada Tuhan merupakan jalan terbaik.
     Sufisme sesungguhnya tiada lain musuh sains dan teknologi.  Dunia masa kini sebenarnya tak boleh menyisakan tempat bagi komplotan mistik Islam.  Sebab, yang dibutuhkan adalah manusia-manusia barbasis teknologi yang mahir di wilayah eksplorasi ilmiah. 
     Di era industrialistik-kapitalistik ini, tasawuf bukan pilihan hidup.  Paradigma berpikir di alam modernisasi memang memaksa orang sibuk tak keruan.  Kesibukan tersebut yang akhirnya membelenggu kesadaran ilahi manusia.
     Kala sepercik tetes segar keberagamaan menggoda, sontak orang memandang sufisme sebagai pilihan hidup.  Tasawuf dianggap sebuah sumber hidup yang mencerahkan.  Perspektif seolah terbentang jika sufisme merupakan puncak pendakian menuju hakikat Tuhan.  Padahal, nilai-nilai agamis yang terpasung dalam modernitas tidak akan tergantikan oleh spiritualisme.
     Pada esensinya, orang bisa menggelorakan dimensi ilahi hanya dengan menjalankan ibadah yang diperintahkan Allah.  Fase itulah yang selama ini hilang.  Orang lupa Tuhan gara-gara sibuk bekerja di tengah suasana kompetitif serta apresiatif.  Ketika semangat agamanya memuncak, maka, tasawuf pun dilirik sebagai way of life.  Akibatnya, sisi duniawi kehidupannya tak lagi fokus.  Semua energi dikhidmatkan untuk sufisme.
     Islam tidak mengenal tasawuf.  Apalagi, seluruh tindak-tanduk manusia sudah tercakup dalam ajaran Islam.  Karena, Islam memberi peluang buat bekerja sambil berdoa. 
     Islam tidak mengajar orang berdoa terus sampai ajal menjemput.  Islam juga tidak menyuruh penganutnya agar mengasah etos kerja selama 24 jam sehari-semalam.  Islam dengan tegas memerintahkan untuk menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat.

Elang Gagah
     Anatomi sufisme tidak sejalan dengan Islam lantaran inti ajaran tersebut tergolong anti-dunia.  Dalam mencapai panggung cinta serta kearifan (via illuminativa), mereka wajib menjalani disiplin ketat demi mereguk kemurnian (via purgavita).
     Pada prinsipnya, manusia tidak dilahirkan buat meninggalkan hiruk-pikuk dunia.  Bumi bersama isinya justru harus dikelola lewat aktualisasi diri.  Diktum jenaka berderit: “cogito ergo mundus tali est” (saya berpikir, maka, semesta raya seperti ini).
     Tanpa menggunakan akal, niscaya kehidupan tetap terbelakang.  Ilmu-ilmu terasa gelap.  Pengetahuan tak kunjung menawarkan kenyamanan.
     Anthony de Mello mendongeng.  Alkisah, seseorang menemukan sebutir telur elang.  Ia lantas menetaskannya dengan telur ayam.  Elang tersebut akhirnya lahir bersama anak-anak ayam.  Mereka hidup berdampingan sampai dewasa.
     Syahdan, elang menatap ke langit.  Ia melihat burung yang terbang dengan elok.  ”Siapa gerangan itu?” tanya elang.  ”Dialah elang, raja segala burung.  Habitatnya di langit.  Sementara ayam di bumi”, jawab induk ayam.
     Sepanjang hayat, elang hidup dan mati sebagai ayam.  Ia tak mampu mendayagunakan potensinya sebagai burung nan gagah yang menguasai angkasa.
     Hikayat elang menunjukkan bahwa pelaku tasawuf merupakan orang-orang yang tak mengetahui jatidirinya.  Mereka lupa jika sesungguhnya sufisme sekedar kreativitas ibadah belaka.  Tanpa mengaplikasikan tasawuf pun, orang dapat memperoleh pencerahan.  Sebaliknya, penganut mistik Islam mesti hati-hati bin waspada.  Sebab, mereka berada di jalan buntu (cul-de-sac) akibat melakukan perbuatan berlabel sesat.  Seratus persen sufisme adalah bid’ah.
     Korupsi serta aneka penyelewengan di sekitar yang dilakukan oleh sekelompok anak-cucu Nabi Adam, tidak harus membuat golongan lain lari dari kehidupan dunia.  Segenap kebejatan mesti dilawan.  Kaum Muslim bukan chicken shit (pengecut), tetapi, elang perkasa.  Hingga, tidak pantas orang Islam hidup di tengah ajaran tasawuf yang bisa diidentikkan sebagai ayam.
    
Buraq 2
     Sufisme bukan jalan kehidupan.  Nabi Muhammad sendiri tidak pernah mengamalkan seumur hidupnya praktik tasawuf.  Rasulullah justru memperlihatkan kerja keras guna meraih kemenangan.  Ia berhijrah ke Medinah.  Kemudian berperang secara head-to-head (bertarung secara fisik) dengan komunitas kafir. 
     Pada intinya, Nabi Muhammad bisa saja berdoa kepada Penguasa Langit dan Bumi supaya disediakan Buroq 2.  Dengan Buroq 2, ia leluasa melakukan pengembaraan (odyssey) ke Medinah tanpa diganggu algojo-algojo Quraisy.  Rasulullah pun dapat meminta kepada Allah agar semua penentang Islam mati dirajam oleh burung sebagaimana yang dialami balatentara Abrahah al-Asyram.
     Nabi Muhammad tidak melakukan permintaan khusus yang bisa membantunya menebar syiar Islam.  Ia ternyata bermandi keringat serta berdarah-darah demi mengagungkan Islam.
     Pola perjuangan Rasulullah tersebut yang sebenarnya wajib menginspirasi umat Islam di tengah arus deras informasi dari seluruh penjuru.  Bukan melarikan diri ke tempat-tempat tertentu saraya berdoa mengharap kasih Tuhan.
     Orang boleh saja mendengus bahwa sufisme memberi kedamaian hati.  Sisi itu menunjukkan kalau tasawuf adalah ajaran egois.  Kala orang-orang di sekitar terbelenggu bencana, mereka justru asyik-masyuk dengan sufisme. 
     Berbagai kelompok berlomba mencari visi kehidupan lewat dimensi rasionalistik.  Sedangkan jemaah mistik Islam lebih memilih menghindar.  Alhasil, empati penganut tasawuf benar-benar nihil.  Orang lain sibuk bekerja, sementara mereka tepekur mendalami jalan rohani yang tak punya landasan syariah.
     Hidup merupakan perjuangan buat menggapai titel the giant person (manusia raksasa).  Sains dan teknologi tidak bakal timbul di tempat persemedian atau ruang sufisme.  Sains maupun teknologi selalu merekah di laboratorium berbasis analisis.
     Menjelang kebangkitan khilafah (Kerajaan Islam), maka, seyogyanya tasawuf dikerangkeng.  Tidak ada kemuliaan dari rahim sufisme.  Karena, tasawuf tiada lain penghambat kemajuan Islam.

(Tribun Timur, Jumat, 27 April 2007)

Tasawuf Ajaran Non-Islam

Tasawuf Ajaran Non-Islam


Oleh Abdul Haris Booegies
Peminat Masalah Sosial

     Sesudah menyimak opini Ishak bertajuk “Betapa Indahnya Dunia Tasawuf” (Tribun Timur, 1 Mei 2007), maka, meruyak asumsi kalau artikel tersebut berpedoman pada hadis palsu.  Kalimatnya bertutur: “Di wilayah itu, manusia mensucikan hatinya demi pendekatan dan pengenalan terhadap Allah SWT”.
     “Bagaimana mungkin seseorang menyembah tanpa mengenal dan memahami Tuhan yang mereka sembah?”, jelasnya.
     Di ranah tasawuf, jamak terdengar “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” (siapa mengetahui jatidirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya).
     Diktum tersebut sering digembar-gemborkan sebagai sunnah Rasulullah.  Padahal, frase itu hasil manipulasi gerombolan sufi.  Pada abad ke-9 Masehi, Islam berbaur dengan filsafat Yunani.  Salikin (komplotan asketisisme) lalu mendistorsi titah Socrates yang tercantum di gnoti theauton delphi. 
     Di atas bentangan tembok terpahat kalimat “kenali dirimu”.  Dari sana akhirnya bergema “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu”.  Alasan mereka yakni ada dulcis hospes animae (titik temu antara manusia dengan Tuhan).
     Ahmad bin Abdul Azis al-Hushain bersama Dr Abdullah Mustafa Numsuk menyodorkan bukti bila sufisme dipengaruhi filsafat emanasi Yunani, kepercayaan Majusi, Yahudi, Hindu, Budha serta Nasrani.
     Alfred von Kramer berargumentasi jika anasir Kristen maupun Hindu-Budha (nilai-nilai Vedanta), terdapat dalam tarikat Islam.  Darwis al-Biruni berteori kalau ada persamaan antara ritual tasawuf dengan Hindu.  Sementara Reynold A Nicholson yakin bila Nasrani punya saham dalam kebatinan Islam.  Selain itu, sinergi alam pikiran Yunani, konsep Mesir kuno dan ibadat Hinduisme yang melahirkan Neo-Platonisme, juga dinilai sebagai unsur awal sufisme.
     Ragam sumber tersebut lantas melahirkan ritual cacat.  Akibatnya, tasawuf dituding merusak ajaran orisinal Islam.

Mujahadah
     Ishak menjabarkan dalam tulisannya jika Nabi Muhammad berkhalwat ke gua Hira kalau menghadapi persoalan besar.  Referensi dari planet mana gerangan yang menukilkan Rasulullah ke Jabal Nur bila ditimpa problem gigantik?
     Sebelum ditetapkan sebagai rahmatan lil alamin pada 10 Agustus 610, Nabi Muhammad memang ke gua Hira.  Setelah dilantik, ia menerima wahyu di beberapa mandala tanpa perlu lagi mengisolasi diri ke gua Hira.  Rasulullah, misalnya, menerima Kalam Ilahi di Mina, Thaif, Jaffah, gua Tsur, kediaman Siti Aisyah, dalam Ka’bah atau pada night journey episode Isra’ Mi’raj.
     Selanjutnya Ishak menerangkan jika mistik Islam itu berada pada posisi Ihsan.  Sufisme memang memberikan kedudukan Ihsan kepada mursyid (guru sufi).  Alhasil, ada cecunguk tasawuf disuruh membayangkan syekhnya saat berzikir atau shalat.  Sebuah mazhab malahan memerintahkan antek-anteknya memasang potret diri sang wali di depannya kalau sedang sembahyang.
     Nabi Muhammad bersabda: “al-Ihsan yaitu kamu beribadah kepada Allah seolah engkau memandang-Nya.  Walau kamu tidak menatap Tuhan, sesungguhnya Allah melihatmu”.
     Dalam opini berjudul “Tasawuf Bukan Virus” (Tribun Timur, 4 Mei 2007), Supa mempertanyakan definisi sufisme ala Haris Booegies.  Selama ini, terbentang kekeliruan dalam memahami tarikat Islam.  Banyak yang berceloteh bahwa tasawuf itu rumusnya bekerja sambil berdoa.  Padahal, hakikat sufisme ialah anti-dunia.  Dalam tasawuf, orang wajib mengikuti doktrin mujahadah (latih rohani sekaligus pembiasaan derita jasmani).  Tidak sah kesufian bila tak menjalani mujahadah.
     Kalau ada individu mengaku salik, namun, tidak menjauhi aroma wangi materi, berarti ia salah besar.  Kebatinan Islam itu adalah mujahadah yang bermakna anti-dunia.  Fase tersebut sesuai embrio sufisme yang dilakoni para pengemis berbusana shuf (wol) dengan shuffah (pelana) sebagai bantal kala tidur di masjid.  Di Medinah, cuma kaum fakir yang memakai pakaian wol nan kasar.
     Mujahadah dekat dengan ajaran Budha.  Sebab, para biksu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara mengemis.  Aspek itu ditunjang agama Budha bahwa bersedekah kepada biksu termasuk amalan paling utama.

Human Capital
     Tasawuf luar biasa kemungkarannya gara-gara self concept alias citra dirinya bertentangan dengan Islam.  Apalagi, dalam asketisisme ada syathahat (ungkapan sungsang).  Al-Hallaj, umpamanya, berseru: “Ana al-Haqq” (saya Tuhan).
     Asy-Sya’rany mengisahkan tentang Ali al-Wahisyi, walinya.  Alkisah, sang mursyid kerap menyuruh orang turun dari keledainya.  “Turunlah dari keledaimu, kemudian pegang kepalanya agar saya nyaman menyetubuhinya”.
     Ibnu Araby mendesis: “Allah memujiku.  Saya pun memuji-Nya.  Dia beribadah kepadaku.  Saya beribadah pula kepada-Nya”.  Sedangkan Abu Yazid al-Busthani mendengus:  “Subhani (maha suci saya).  Alangkah agung kedudukanku.  Surga hanyalah mainan bocah-bocah”.
     Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin merekam sebuah fakta: “Celakalah kamu!  Apakah engkau terperdaya memandang Allah.  Andai kamu melihat Abu Yazid al-Busthani sekali saja, niscaya itu lebih bermanfaat ketimbang menatap Allah sebanyak 70 kali”.
     Karakter sufisme yang berlumur kedurhakaan, jelas bukan risalah par-excellence bagi insan beriman yang berakal sehat.  Apalagi, tasawuf menggerogoti fitrah (innate nature) manusia sebagai khalifatun fil ardhy (master of the universe). 
     Pada prinsipnya, bumi harus ditata dengan sintesis iman serta teknologi.  Bukan disemarakkan dengan sekte anti-dunia.  Syahdan, tak ada sahabat dari generasi awal Islam yang pernah mempraktikkan sufisme.
     Komunitas Muslim mesti memiliki change management skills berasas spiritual maupun sains dalam mengeksplorasi jagat raya.  Hatta, lahir human capital atau sumber daya insani yang mahir menyelaraskan antara duniawi dengan ukhrawi.
     Dalam al-Quran, tidak ada istilah tasawuf.  Karena, mistik Islam merupakan al-auhal (limbah) dalam khazanah ibadah.  Sufisme bukan wacana buat merindu-bersapa dengan al-Khaliq.  Elemen berbasis ajaran non-Islam tersebut tiada lain polusi rohani.
     Dari aneka mudarat tarikat Islam, maka, dalil apa lagi yang hendak digaungkan jika tasawuf itu indah.  Di masa hidup Rasulullah, tidak ada sufisme!  Islam seribu persen tak mengenal tasawuf!  Hingga, pelaku asketisisme bukan sekedar anak TK ber-IQ tiarap dengan virus split personality, tetapi, najis!
     Nabi Muhammad bersabda: “Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama.  Sebab, tiap masalah baru merupakan bid’ah.  Dan bid’ah selamanya sesat” (Hadis hasan shahih).

(Tribun Timur, Jumat, 18 Mei 2007)

Amazing People