Jumat, 31 Maret 2023

Kenangan di Pesantren IMMIM


Kenangan di Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Momen yang tak pernah terulang di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM pada era 80-an.
1.  Terkenang tadarus bakda Magrib.
2. Terkenang aroma ikan kering yang menusuk hidung sedang digoreng di dapur.
3. Terkenang lari berhamburan dari sumur karena pembina memergoki masih mandi kala berkumandang azan Magrib.
4. Terkenang bolos, terutama pelajaran matematika dan al-muthala'ah (hikayat inspiratif berbahasa Arab).
5.  Terkenang kawan-kawan yang diuber-uber pembina akibat ke rumah Pak RT nonton video.
6.  Terkenang dikejar tiga anjing tetangga di sebelah pesantren gara-gara hendak kabur ke bioskop.
7.  Terkenang senior yang mengintip koki cantik sedang mandi.  Di kala itu, melihat handuknya pun sudah serasa di langit ketujuh.


Jangan Mengeluh


Jangan mengeluh.  Kalau mengeluh, niscaya kau kehilangan waktu dan kesempatan yang mustahil direbut kembali
Abdul Haris Booegies


Kamis, 30 Maret 2023

Orang Hebat Pesantren IMMIM


Kenangan tak pernah selesai tentang Pesantren IMMIM sebagaimana Pesantren IMMIM tak pernah selesai melahirkan orang-orang hebat
Abdul Haris Booegies


Rabu, 29 Maret 2023

Kafan Petir


Kafan Petir
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Satu per satu santri yang menonton televisi di teras masjid ath-Thalabah, berlari menerobos hujan.  Sekarang sudah lewat tengah malam.  Program di TVRI telah tandas.
     Saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta dan Andi Rian, tetap bertahan di beranda masjid.  Saya berbaring bersama Rian.  Hapip bermain gitar.  Sementara Tirta duduk melamun.  Arah matanya sekali-sekala menengok ke lapangan yang rumputnya dipatuk percik hujan.
     Kami malas ke kamar untuk beristirahat.  Apalagi, besok kami vakansi selama sepekan.  Jadi, menggunakan momen ini untuk bergadang sambil menanti hujan surut.
     Angkasa tiba-tiba melontarkan halilintar.  Diiringi guruh yang terdengar bagai benturan dua kaca raksasa.  Sinar terang pun berkedip dari langit.  Menerangi Bumi sekitar tiga detik.  Kami berlarian masuk ke masjid.  Takut disambar geledek susulan.
     "Cemeti dewa itu menyambar tanah lapang", ujar Tirta seraya menunjuk ke tengah lapangan Pesantren IMMIM.
     Saya mengintip ke lapangan.  Tiada apa pun kecuali hujan berderai-derai makin deras.
     "Mestinya tadi kita ke kamar untuk tidur", terdengar suara lirih Rian.
     Kami kemudian membisu di dalam masjid.  Hapip melongok dari jendela memandang gitarnya di emper.  Ia tak sempat membawa gitar tersebut ketika tadi kami berhamburan masuk ke masjid.
     Mendekati pukul 02.00, hujan pun reda.  Mendung yang kehabisan air berarak meninggalkan Tamalanrea.
     "Di mana posisi persis terjangan halilintar tadi, Tirta", tanya Hapip.
     Saya langsung menduga jika Hapip punya ide gila untuk memeriksa bekas paparan petir.
     "Kau mau ke sana melihatnya?"  Tirta bertanya rada-rada ragu.
     "Hujan sudah berhenti.  Langit tampak bertabur bintang.  Muskil ada kilat.  Awan Comonolimbous yang tadi menaungi kampus, sesungguhnya pabrik petir.  Pasalnya, mengandung partikel bermuatan listrik positif serta negatif.  Kalau medan listrik positif dan negatif saling bergesek, niscaya menghasilkan petir sekaligus guntur", urai Hapip.
     Kami berempat akhirnya ke tengah alun-alun dituntun Tirta.
     "Jangan khawatir, induksi gelombang elektromagnetik kilat ini yang mungkin mencapai dua kilometer dari sumber petir, telah aman", sambung Hapip saat kami beriringan.
     "Ini ceruk yang tadi dirajam sambaran halilintar", ujar Tirta.
     Tekstur tanah di lapangan yang ditunjuk Tirta, terlihat berubah.  Ada lubang berdiameter 20 sentimeter dengan kedalaman 10 sentimeter.
     "Energi sambaran petir ini kira-kira mencapai 55 kilowatt per jam.  Pengaruh intensitas paparan halilintar dapat memberikan efek pada peningkatan kandungan nitrogen dalam tanah", gumam Hapip.
     Saya mengerling Tirta serta Rian.  Tidak habis pikir, dari mana ilmu petir ini diperoleh Hapip.  Bukan apa-apa, Hapip ini anak IPS, bukan IPA!
     "Ada sesuatu di dalam celah itu?"  Rian bersoal sembari memperhatikan lubang sambaran kilat.
     Hapip jongkok sambil mengais.
     "Barangkali kayu lapuk yang sudah puluhan tahun mengendap", ujarku.
     Jemari Hapip lantas merogoh ke dalam tanah.  Perlahan, tangan kanannya menarik sesuatu.
     "Apa itu?"  Tirta terkesiap mengamati benda yang dipegang Hapip.
     "Sarung", cetus Rian.
     "Ayo memeriksanya di selasar rayon Panglima Polem.  Ini pasti peta harta karun.  Besok pagi kita menjelma sebagai santri miliuner, bertabur duit", bisik Tirta penuh semangat dengan mata berbinar.
     Kami lalu melepas simpul artefak tersebut yang berbahan rotan.  Pelan-pelan kami membentangkan kain lusuh itu.  Harus berhati-hati.  Soalnya, benda antik ini gampang koyak.  Warna kain tampak coklat.
     "Mengamati komposisinya, kain ini dulu putih.  Berubah coklat akibat terkubur bertahun-tahun", ungkap Tirta.
     "Panjang sekali", seru Rian.
     "Tak ada tulisan atau gambar.  Motifnya nihil.  Kain apa ini!"  Hapip terlihat gusar campur kecewa.
     Saya spontan lemas.  Sebab, mengira ini petunjuk menuju ke harta karun yang tertimbun di pinggir danau Unhas atau di bawah jembatan Tello.  Ini namanya batal jadi santri tajir.  Batal pula mempersunting Brooke Shields dan Emma Samms, dua selebritas Hollywood.
     "Ini di ujung ada aksara Hijaiah", desis Rian.  Kami langsung bergairah.  Impian menjadi crazy rich Tamalanrea sontak berpijar lagi.
     "Saya segera meminangmu, Honey", batinku bergemuruh membayangkan tubuh molek Brooke Shileds serta Emma Samms.
     "Tertera alfabet mim dan sin, cuma dua huruf", imbuh Tirta.
     "Apa maksudnya", tanya Hapip penasaran.
     "Bagaimana membaca mim serta sin ini?  Mas, mis atau mus", timpal Tirta.
     "Bila "mus", mungkin singkatan dari mustajab.  Maksudnya, kain ini mujarab", tukas Rian.
     "Mustari", celetuk Hapip.
     "Mustahil", ketus Tirta.
     "Tunggu dulu, hieroglif ini masih ada sambungannya", kataku.
     "Tidak bisa terbaca lagi, Ogi.  Tintanya terkelupas, tergerus zaman", sahut Rian.
     "Ini tentu manuskrip dengan sistem abjad Pegon (ابجد ڤيڮون atau أبجاْد ڤَيڬْو).  Dulu Arab Pegon mengakar di kerajaan-kerajaan Jawa, Madura dan Sunda.  Arab Pegon merupakan akulturasi dengan budaya lokal kala Islam menyebar ke Nusantara pada abad kesebelas.  Bahkan, Babad Diponegoro dalam Keraton Jogja dicatat dengan Arab Pegon.  Soekarno kemudian melarang pemakaian Arab Pegon pada 1960", ucap Hapip dengan suara bergelora.
     "Berapa panjang kain ini", imbuhku dengan suara serak.
     Tirta serta Rian pun mengukurnya.
     "Lebar 150 sentimeter.  Panjang delapan meter", ujar Tirta.
     Saya terhenyak.  Ini ukuran standar kafan.  Laki-laki butuh delapan meter.  Sedangkan wanita sembilan meter.
     "Ini pasti kafan pria!"  Suaraku terdengar tinggi.
     Hapip, Tirta dan Rian saling bertatap.  Sinar mata mereka berangsur redup laksana senja yang ditinggal Mentari.
     "Kita dikibuli geledek.  Ternyata bukan peta harta karun", sergah Hapip dengan roman muka cemberut.
     Tirta serta Rian melengos.  Keduanya pun meninggalkan koridor Panglima Polem menuju ke bilik masing-masing.  Hapip juga beringsut pergi ke asrama Pangeran Diponegoro.  Saya lantas memungut kafan kumal tersebut sebelum beranjak ke bilikku di rayon Imam Bonjol.

*****


     Bakda shalat Shubuh, saya, Hapip dan Tirta ke bangsal Rian.  Beberapa santri tampak mengemas tas.  Pukul 07.00 nanti, pimpinan kampus akan membagikan surat izin libur.
     Begitu kami memasuki asrama Sultan Hasanuddin, terdengar suara radio milik Rian.  Di ranjang, Rian berselonjor seraya mendengar ceramah subuh Dr AJ Muslim.  Intelektual muda ini punya sertifikat interdisipliner dalam studi Islam dari Universitas Yale di New Haven, Amerika Serikat.
     Saya, Hapip serta Tirta lalu duduk di sisi ranjang.  Rian melirik sekilas tatkala mengetahui keberadaan kami.  Ia kemudian ikut duduk di tepi ranjang.  Kami mendengar dengan takzim kalimat demi kalimat yang dituturkan oleh ustaz AJ Muslim.
     "Dalam ilustrasi sejarah, dideskripsikan bahwa mahkota para sultan dinasti Ottoman, agak aneh.  Mereka tak mengenakan mahkota yang terbuat dari emas, tetapi, gulungan kain yang disebut tughra (طغراء).  Ini bukan kain biasa.  Ini kafan.  Tughra yang menjadi lambang negara ini ditaruh di kepala untuk mengingatkan para sultan bahwa mereka bakal mati.  Jasadnya akan dibungkus dengan kafan yang menempel di kepalanya.  Sultan wajib berjiwa mujahid, rela mati di jalan Allah.  Dalam perang, sultan mutlak berada di garis terdepan menyongsong musuh.  Dengan mahkota kafan, maka, sultan Ustmaniyah tidak boleh sewenang-wenang menerapkan kewenangannya sebagai penguasa.  Ingat yang melilit di kepalamu!  Ingat bahwa itu pula yang bakal membungkus jasadmu jika mati.  Tughra yang melekat di kepala selama memerintah, menjadi simbol kematian yang datang kapan saja.  200 tahun silam, di Nusantara ada panglima perang maupun martir-martir Islam yang berjiwa mujahid menggunakan serban besar.  Kita menyakini bahwa serban tersebut tiada lain kafan.  Sebagai contoh, Bendara Raden Mas Mustahar yang masyhur sebagai Pangeran Diponegoro".
     Ulasan cendekiawan AJ Muslim sekonyong-konyong mengguncang jiwa kami.
     "Astaga...!"  Hapip berseru dengan mata membelalak.  Saya, Tirta dan Rian juga hampir terpekik.  Mulut kami melongo bersamaan tanpa dikomando.  Rupanya nama asli Pangeran Diponegoro adalah Mustahar.  Kami langsung merinding mengenang mim serta sin, dua aksara Hijaiah yang tertoreh di kafan petir dini hari tadi.


Karakter Kuat Santri


Karakter Kuat Santri
Oleh Abdul Haris Booegies


     Santri Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM era 80-an dan 90-an, identik dengan perjuangan lantaran keterbatasan.  Sebagai umpama, jatah nasi cuma satu piring tiap makan.  Santri juga piket untuk membantu mobilitas pimpinan kampus.  Bahkan, ada piket malam yang meronda sampai subuh.  Kini, semua berubah.  Santri boleh menambah nasi sampai kenyang.  Santri pun tak perlu repot menjaga kampus.  Ada satpam yang bertugas 24 jam sehari-semalam.
     Saya terkenang film Rocky IV pada 1985.  Bokser Amerika Serikat Rocky Balboa (Sylvester Stallone) berlatih dikelilingi alat-alat supermutakhir yang komplet di tengah metropolis.  Ini membuat Rocky merasa dimanjakan.  Apa hasilnya?  Rocky kalah KO dari Ivan Drago (Dolph Lundgren), petinju Uni Soviet.  Demi merebut kembali sabuk juara, Rocky akhirnya berlatih di sasana terpencil yang jauh dari modernitas.
     Saya ingat sebuah video pendek.  Generasi pertama berjalan kaki ke tempat kerja yang berjarak 10 km.  Generasi kedua mengendarai motor ke kantor.  Generasi ketiga naik mobil.  Generasi keempat menunggang motor.  Generasi kelima berjalan kaki mencari sesuap nasi.
     Mengapa siklus ini berputar kembali ke titik awal?  Sebab, generasi ketiga hidup serba cukup.  Mereka tidak perlu bersusah-payah dalam kesulitan.  Generasi ketiga tak mewariskan watak kokoh kepada keturunannya.  Akibatnya, mereka gampang jatuh tergelincir dalam mengarungi hidup.  Rintangan sepele saja sanggup menggoyahkan semangat.  Mereka bukan petarung sejati seperti generasi pertama yang karakternya kuat berkat banyak dibelenggu kesusahan hidup.
     Sebagai pengelana ilmu, saya tidak anti dengan kebijakan yang dijalankan di pesantren.  Tentu kemudahan yang ditawarkan ke santri untuk memaksimalkan transfer pengetahuan.  Di satu sisi, tiada pula elok ditampik bahwa kemudahan justru mematikan karakter pantang menyerah.  Ini membuat jiwa tanpa kobar api.  Hingga, spirit tak dapat berkecamuk menyala dalam persaingan.  Ikhwal inilah yang mengusik sanubari.  Mungkinkah santri milenial sesudah tamat 30 tahun, bisa sesakti alumni 80-an serta 90-an yang prestasinya juga diukur setelah 30 tahun finis di Pesantren IMMIM.  Waktu yang bakal membuktikan di masa depan.


Minggu, 26 Maret 2023

Reformasi Akhlak Pesantren


Reformasi Akhlak Pesantren
Oleh Abdul Haris Booegies


     Apa yang paling mengesankan dari Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM setelah berpuluh tahun tamat?  Di pesantren sejumlah artefak serta prasasti masih bisa ditemukan.
     Pertanyaan "apa yang paling berkesan", tentu tergantung pada pribadi masing-masing.  Walau kesan tersebut dipengaruhi suasana hati, namun, ada ikhwal paling mengesankan yang tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas.
     Tentu saja hal yang begitu mengesankan ialah rasa syukur bisa tamat.  Sulit dicerna akal waras, ada bocah setamat SD langsung masuk pesantren.  Ditempa bagai pendekar yang hendak membalas dendam.  Sebab, aturan di pesantren teramat ketat.  Tidak sedikit santri yang benjol-benjol lantaran dihukum gara-gara melakukan pelanggaran.  Akibatnya, terlantar di tengah jalan.  Nasibnya pedih, menjelma santri murtad.
     Santri berpendirian sekokoh karang yang dirajam ombak, berhasil tamat usai melewati 2.190 hari.  Ini berarti mereka menjalani kristalisasi selama 52.560 jam.  Bak berlian, santri pun bercahaya setelah digosok dan dipoles selama enam tahun.
     Pesantren merupakan sebuah pedepokan pendidikan yang mengubah pribadi santri.  Di pesantren, karakter santri bermetamorfosis secara instan dalam hitungan hari.  Sebab, ada reformasi akhlak.  Sebagai contoh, santri berpisah dengan orangtua.  Ini membuat sifat manja redup.  Ketergantungan kepada orangtua terkikis.  Reformasi akhlak ini berjalan dengan cara bangun subuh.  Tidak pandang bulu, anak pejabat atau anak jelata!  Mereka wajib shalat Shubuh di masjid.  Siapa yang membangkang, akan dihukum sampai benjol.
     Aturan tegas pesantren yang berdimensi revolusi bakal mengubah perilaku santri.  Ini sebuah reformasi akhlak yang tidak disadari.  Santri pun secara perlahan memiliki peradaban baru.  Mereka mandiri sekaligus punya gaya hidup baru.
     Alumni Pesantren IMMIM dengan reformasi akhlak akan mewarnai kehidupan secara global.  Tentu ini butuh waktu sebagaimana santri memerlukan masa enam tahun sebelum bersyukur berkat tamat di pesantren.


Sabtu, 25 Maret 2023

DHT


DHT
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ramadan selalu disambut meriah.  Menjelang bulan suci, semua keperluan makan-minum sudah disiagakan.  Kelas menengah ke atas menyerbu pasar dan toko.  Mereka membeli seluruh keperluan makan-minum untuk menyongsong Ramadan.
     Pasar serta toko mendadak riuh oleh ibu-ibu.  Pemandangan ini ibarat akan ada perang nuklir selama sebulan.  Hingga, mereka memborong bahan makanan.  Jangankan kulkas, bunker bawah tanah pun wajib diisi penuh.
     Belanjaan ibu-ibu berwarna-warni kemasan dan botolnya.  Dari seluruh belanjaan, pasti ada sirop.  Sirop inilah yang menjadi primadona selama Ramadan.
     Di bulan suci, iklan sirop bergentayangan di media digital, media elektronik, media cetak serta baliho yang dipasang di jalan-jalan utama.
     Aneka merek sirop tersedia.  Tinggal pilih sesuai selera.  Harga bukan masalah demi menikmati sirop kesayangan.

Olahan Tangan
     Di Sulawesi Selatan, sirop yang berpuluh tahun menemani berbuka puasa ialah DHT.  Sirop dengan rasa pisang Ambon ini begitu khas.  Aromanya sedap.  DHT merupakan sirop favorit di tiap rumah di negeri-negeri Bugis-Makassar selama Ramadan.
     DHT mulai diproduksi pada 1949.  Tidak ada ketegasan data, apa kepanjangan DHT.  Bisik-bisik beredar jika DHT merupakan singkatan "dari hasil tangan".  Soalnya, sirop ini merupakan olahan rumah tangga.  Ada pula isu bila DHT itu "dari hasil tenaga".
     Di pabrik sirop ini di PT DHT yang terletak di Jalan Macanda, Tamarunang, Kabupaten Gowa, terpampang logo DHT.  Di situ tertera "Duta Harapan Tunggal".
     Sirop legenda ini berbahan dasar ekstrak pisang Ambon segar.  Es buah, es poteng (tape singkong), pisang ijo maupun pallubutung merupakan pasangan serasi DHT.  Sirop masyhur ini tetap sedap tanpa campuran lain.  Apalagi kalau ditambah susu.
     Sirop yang hanya diproduksi di perbatasan Makassar ini, kerap menjadi oleh-oleh khas Sulsel.  DHT menjadi buah tangan istiwewa untuk keluarga atau sahabat yang tinggal di luar Sulsel.

Senabib Buras
     Selama Ramadan, DHT tak tergantikan oleh sirop lain.  Sekalipun sangat nikmat menyesapnya kala berbuka puasa, kiranya DHT kehilangan sensasi di luar Ramadan.  Di hari-hari biasa, DHT tidak lagi luar biasa.  Sirop ini kehilangan kesaktian saat Idul Fitri.  Posisinya digantikan oleh sirup lain yang berbahan jeruk, sirsak (nangka Belanda alias durian Belanda), lici (Litchi chinensis), coco pandan, lemon, karamel, moka, markisa, vanila, blueberry, melon atau mangga.  Bahkan, di Indonesia ada sirop dengan label syrup with milk.  Selain itu, muncul sirop dengan bahasa Perancis; pomme verte (apel hijau).
     Serba-serbi sirup bermerek mentereng tersebut, menenggelamkan DHT yang sukses berkuasa selama 30 hari.  Pasca-Idul Fitri, DHT menjelma minuman seadanya yang tidak lagi dilirik dengan mata berbinar cerah-ceria.
     Nasib DHT serupa buras.  Sepekan setelah Idul Fitri, buras tidak lagi menjadi santapan lezat.  Takdirnya nelangsa bakda Lebaran.  Kita cuma berharap, di Ramadan berikut masih dapat menyeruput DHT sekaligus mengunyah buras di momen Idul Fitri.


Kamis, 23 Maret 2023

Tampang Kekinian Alumni IMMIM


Tampang Kekinian Alumni IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di dekade ketiga tahun 2000 ini, rata-rata alumni Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM era 80-an, tampil heboh.  Mereka berciri cerdas, taktis, bijak bestari sekaligus punya kontrol diri.
     Seluruh predikat positif itu tidak terlepas dari kesederhanaan maupun keterbatasan di pondok.  Makan untuk perut memang tidak mewah, namun, asupan untuk pikiran dan hati melampaui standar.  Bibir santriwan-santiwati IMMIM malahan fasih melantunkan istigfar atas dosa-dosa yang belum diperbuat.
     Pesantren merupakan ladang ilmu, spirit serta impian.  Bahkan, menjadi ladang subur cinta antara santriwan-santriwati yang berkembang dalam kesunyian.
     Tak ada gading tak retak, tiada insan tanpa cela.  Kekhilafan di antara santri justru menjadi pemacu.  Ini memicu untuk memotivasi diri agar lebih berdisiplin.  Kesalahan memantik semangat guna merintis tempat terbaik di masa depan.
     Satu hal yang tak dapat dihindari oleh alumni adalah perut buncit.  Makin bertabur rezeki, maka, kian menonjol perut.  Perut gendut tersebut seolah hendak memamerkan pusar yang menggelembung bak kelereng.  Amit-amit.


Rabu, 22 Maret 2023

Santri Kerempeng


Santri IMMIM era 80-an rata-rata kurus.  Soalnya, tiap makan jatah cuma satu piring nasi tanpa tambahan.  Kendati belum kenyang, namun, santri selalu ceria.  Sebab, terus-menerus bersama sesama rekan selama 24 jam sehari.  Kebersamaan inilah yang menyegarkan otak, membangun solidaritas sekaligus meredam stres selama di kampus.
Abdul Haris Booegies


Sebar Gagasan


Sebar gagasanmu agar menjadi taman pahala
Gagasan yang baik akan mengembangkan rasa percaya diri
Gagasan besar niscaya mengajarkan pedoman hidup

Abdul Haris Booegies


Sahur Tanpa Orang Tercinta


Sahur Tanpa Orang Tercinta
Puisi Abdul Haris Booegies


Di sahur ini
Ada yang hilang
Ada suara serta bunyi langkah tak terdengar
Dulu
Suara itu selalu hadir di tiap sahur
Sosok-sosok pemilik suara itu telah pergi
Mereka pergi ke tempat yang jauh sekali
Begitu jauh tempat itu sampai tak tercantum di peta
Kini
Ada rindu untuk mendengar suara itu
Ada rindu untuk memandang wajahnya
Apakah mereka juga mengingatku di ujung malam ini
Saya mengirim kabar
Berkali-kali mengirim pesan
Tiada secercah jawaban
Mengapa mereka tidak membalas pesanku?
Dulu
Kala sahur
Mereka membangunkanku
Mereka menyiapkan makanan
Kami gembira makan bersama sebelum terdengar kumandang azan Shubuh
Kini
Semua terasa hampa
Hening menjelang kokok ayam bersahut
Pikiran senantiasa terkenang dengan ayah yang dulu berjuang mengais rezeki
Jiwa selalu terkenang dengan ibu yang dulu rahimnya kutinggali selama sembilan bulan
Mampirlah dalam mimpiku di Ramadan ini
Berjilid-jilid kisah akan kututurkan
Mampirlah dalam mimpiku
Walau hanya sekali agar sahur kali ini seperti dulu
Seperti saat kalian berdua ada di sisiku


Selasa, 21 Maret 2023

Kapan Waktu itu Tiba?


Kapan Waktu itu Tiba?
Puisi Abdul Haris Booegies


Gemercik air terdengar
Di telaga nan hening
Kami santri kelas I
Berwudhu untuk shalat Shubuh
Saya mengamati jam di dinding masjid ath-Thalabah
Kapan waktu itu tiba?

Cuaca sejuk berganti hangat
Kami kelas II berhimpun di perigi
Berwudhu demi shalat Dhuha
Saya melirik arloji
Kapan waktu itu tiba?

Di tengah panas terik
Kami kelas III berlomba ke mata air
Ingin berwudhu untuk shalat Zhuhur
Saya mengerling arloji
Kapan waktu itu tiba?

Embus bayu mematuk-matuk bulu tubuh
Sepoi angin terasa sejuk tatkala berwudhu untuk shalat Ashar
Kini saya sudah kelas IV
Kapan waktu itu tiba?

Senja menghapus petang
Saya bergegas ke sumur saat sinar Mentari mulai redup oleh keperkasaan malam
Otot-otot makin kokoh ketika air wudhu mengguyur anggota badan
Terdengar kumandang azan Magrib
Tiada terbayang
Sang kala berlalu empat tarikh
Membawaku naik kelas V
Kapan waktu itu tiba?

Kerlap-kerlip bintang-gemintang seolah memanggil-manggil
Saya tafakur dalam kesunyian alam
Tanpa terasa sudah kelas VI
Kapan waktu itu tiba?

Saya terjaga di tengah malam
Hendak berwudhu untuk shalat Tahajud
Saya menciduk air di telaga saat hujan mulai turun
Saya menengadah
Memandang angkasa yang terang oleh kristal hujan
Kampusku seolah turut berwudhu dengan hujan yang kian deras
Dan inilah waktu yang ditunggu itu
Hari ini saya tamat setelah enam tahun menuntut ilmu di Pesantren IMMIM


Sabtu, 18 Maret 2023

Bangun Subuh


Bangun sebelum Matahari terbit laksana menggagas lintasan ke masa depan
Tiada seorang pun mau harta berlimpah, namun, tak bisa lagi bangun esok pagi
Pola inilah yang dipraktikkan santri di Pesantren IMMIM
Bangun subuh merupakan sokoguru demi menyongsong cita-cita

Abdul Haris Booegies


Jumat, 17 Maret 2023

Konyol ala Santri


Konyol ala Santri
Oleh Abdul Haris Booegies


     Tak terbayang oleh siapa pun di luar pondok.  Tidak juga kau, kalau di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, santri mempunyai sifat konyol level lima.  Banyak hal yang tak diperhitungkan akal waras, kiranya lazim di kampus.
     Santri IMMIM terikat secara sosial.  Sepiring sependeritaan sekaligus seakhlak seilmu.  Tidak berarti santri yang setutur-seiring betul-betul sepakat dalam kebersamaan.  Sebab, ada saja santri yang menyeleneh.  Berperilaku biasa bagi dirinya, namun, aneh bin ajaib bagi rekan lain.

Sandal Terbalik
     Saat saya kelas I pada 1980, ada santri kelas III bermental pantang malu.  Di kampus, santri terbiasa melihat ikhwan memakai sandal jepit berbeda warna serta ukuran.  Biasalah, ada kolega suka mencoleng sandal yang bukan miliknya.  Sesudah menggunakannya, ia tak mengembalikan, melainkan menaruh di mana saja sesuka hati.  Akibatnya, pemilik asli sering kelabakan jika tiba-tiba hendak ke suatu tempat.
     Syahdan di suatu siang, santri kelas III bermental pantang malu ini berniat kabur ke kota.  Santri yang ingin melarikan diri biasanya tergesa-gesa.  Ketepatan waktu mutlak dikalkulasi agar tak tertangkap basah ketika pergi tanpa izin meninggalkan pondok.
     Santri yang terdesak oleh waktu ini akhirnya memakai alas kaki apa saja.  Tatkala berada di atas mikrolet (petepete), seorang ibu memperhatikan santri bersangkutan.  Ia heran dengan sandal jepit yang dikenakannya.  Warna tali berlainan, alas yang satu pun tipis karena aus.
     "Dik, sandalmu terbalik".
     "Tidak, Bu.  Memang begitu", jawab santri ini secara mantap tanpa menoleh ke ibu yang menegurnya.  Chuaks.

Susu Sedikit
     Kala saya kelas II pada 1981, sebagian santri geger.  Ada pula yang terpingkal-pingkal.  Pasalnya, beredar cerita kurang lazim.  Seorang santri meminta susu ke sohibnya.  Santri yang diminta susunya mengelak.  "Susu di lemariku tinggal sedikit.  Tinggal dua kaleng".
     Jawaban ini terasa abnormal di kuping.  Biasanya orang mengatakan; "tinggal sedikit, tinggal setengah kaleng".  Ini justru tinggal dua kaleng!  Bagaimana logikanya?  Betul-betul kekonyolan khas anak IMMIM.  Chuaks.

Santri Pop Style
     Pada era 80-an, cowok-cowok keren doyan memamerkan dada dengan membiarkan bagian atas kemeja terbuka.  Dua kancing atas sengaja tak dikatup.  Gaya ini kerap terlihat dipraktikkan oleh pegawai, karyawan, mahasiswa dan siswa, terlebih preman terminal.
     Santri IMMIM tidak ketinggalan dengan mode ini.  Rata-rata santri kota membiarkan dua kancing baju bagian atas terbuka.  Ini pemandangan lumrah bila di kelas atau di kamar.
     Sewaktu saya kelas VI, ada kawan yang tampil lebih ekstrem.  Ia hanya mengatup satu kancing bajunya di bagian bawah.  Jadi, bukan cuma dada yang tampak, tetapi, perut kerempengnya pun terpampang.  Sepertinya ia berprinsip, "tak berbeda tak dikenang".
     Tidak diketahui secara pasti, apakah ini embrio Tamalanrea pop style atau rongsokan peradaban.  Santri ini seolah mengira dirinya tampil macho serta chic seraya siap hangout di kelas.  Isunya, ia juga pengguna bedak Kelly.
     Sejumlah sejawat agak risau dengan aksi mengatup satu kancing bagian bawah.  Maklumlah, tampang santri dari pedalaman ini pas-pasan, hanya versi fotokopi.  Tak segemerlap warna asli.  Chuaks.


Rabu, 15 Maret 2023

Ingin Bangga atau Bahagia


Dalam mengarungi hidup
Orang selalu mengejar predikat sebagai individu terbaik
Ini akan memicu kebanggaan
Di sisi lain, segelintir insan berupaya menjadi figur yang bernilai dalam interaksi sosial
lni bakal memacu kebahagiaan
Tekad tergantung pada ikhtiar masing-masing
Ingin bangga atau bahagia?

Abdul Haris Booegies


Selasa, 14 Maret 2023

Almamater Kita


Almamater Kita
Puisi Abdul Haris Booegies


Almamater kita
Pesantren IMMIM
Kita mencintainya seumur hidup
Bila kita mati
Punah pula cinta itu
Tahukah kalian?
Almamater kita
Pesantren IMMIM
Mencintai kita sepanjang masa
Di detik akhir sebelum dunia musnah
Nama kita masih tersimpan di Pesantren IMMIM
Almamater kita


Sabtu, 11 Maret 2023

Balas Dendam Buku Harian


Balas Dendam Buku Harian
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Di sore nan sejuk ini, kami delapan mantan santriwan-santriwati Pesantren IMMIM, berjalan beriringan.  Saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta, Andi Rian, Siti Susan, Sukmawati, Siskawati Rahma dan Andi Dian melangkah ke kafetaria di area Klinik Bella.  Wajah kami tergores pilu.  Kami baru saja menjenguk Muammar Dinar, alumnus Pesantren IMMIM.  Tadi pagi ia dilarikan ke Klinik Bella.  Kondisinya belum menentu kendati bukan fase kritis.
     "Siapa pelaku penganiayaan itu", tanya Dian saat kami duduk di sofa kafetaria.
     "Dalam sepekan, lima alumni dihajar sampai bonyok", ujar Rian.
     "Ada yang janggal di kasus penganiayaan ini", gumam Tirta.
     "Apa yang janggal?"  Susan buka suara sembari menatap tajam Tirta.
     "Kelima korban merupakan satu angkatan", jawab Tirta.
     "Semua 5.000 alumni Pesantren IMMIM sudah tahu itu", tukas Hapip secepat kilat.
     "Jangan dulu menyela.  Ini intinya.  Kelima korban ketika kelas V di pesantren merupakan anggota qismul amni yang doyan mengadili secara keras".
     "Saya dulu sering ditempeleng algojo qismul amni.  Seksi keamanan ini tiada lain mimpi buruk di siang bolong", aku Rian dengan mimik sedih.
     "Apalah makna menjadi qismul amni, tetapi, membiarkan tinju menghantam santri", tukas Sukma.
     "Rasanya ini aneh.  Di TKP tidak ada saksi atas penganiayaan yang menimpa Muammar", gumam Siska.
     "Lebih aneh lagi, pelaku bertindak di tempat yang jauh dari pantauan CCTV", kata Susan.
     "Pelaku pasti cerdik sekaligus kuat", ujarku.
     "Jadi motif penganiayaan ini, apa!  Balas dendam?"  Sukma bersoal diiringi gerak tubuh yang gundah.
     Dari delapan anggota geng kami yang anak IMMIM era 80-an, Sukma yang pertama kali menikah.  Sekarang ia hidup dengan suami kedua.
     "Saya tak menyimpulkan ini balas dendam, namun, ini bukan kebetulan.  Mereka satu angkatan di pesantren.  Kelimanya juga anggota qismul amni yang terkenal keji di masanya", ungkap Tirta sambil memandang Sukma.
     "Orang yang menganiaya kelima bekas anggota qismul amni ini pasti kuat secara fisik.  Ia tangguh, terlatih memukul.  Akibatnya, lima eks qismul amni tersebut kini tergolek lunglai di rumah sakit", cibir Rian.
     "Ini namanya, di atas langit masih ada langit.  35 tahun silam mereka petantang-petenteng sebagai gerombolan qismul amni.  Seenaknya mengadili menggunakan kekerasan.  Sekarang di usia lebih 50 tahun, mereka keok dihajar sesosok bayangan misterius", ujar Hapip tanpa mampu menyembunyikan seringai sinis di wajahnya.
     "Saya kira ini balas dendam.  Eksekutornya menanti selama 35 tahun untuk melampiaskan dendam kesumat", tutur Rian.
     "Pertanyaannya, mengapa harus menunggu 35 tahun", cetus Siska dengan paras takjub.  Kerling matanya yang sekilas ke Rian menambah pesona roman mukanya.
     "Di Pesantren IMMIM diajarkan agar jangan terlalu membenci orang.  Sebab, mungkin besok ia menjadi mitra yang menyenangkan.  Hadis bernasehat pula supaya tidak membenci orang lebih tiga hari", urai Dian.
     "Ini 35 tahun dendamnya terpendam.  Begitu turun gunung dari pedepokan, ia langsung menghajar musuh-musuhnya", ujar Rian seraya menggeleng-gelengkan kepala.
     Tatkala saya menyesap minuman Lawoi choco hazelnut, ponselku berdering.
     "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh", terdengar salam.
     "Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh".
     "Ini Ogi?"
     "Ya".
     "Ada sesuatu yang ingin saya utarakan".
     Gelagatnya ini penting.  Saya pun bangkit sembari berjalan ke koridor yang menghubungkan kafetaria dengan apotek.  Sengaja menjauh agar tak ada yang menguping.
     "Saya dulu karateka Black Panther saat di Pesantren IMMIM.  Saya pemegang sabuk biru.  Saya juga punya buku harian sewaktu berguru di pesantren".
     Saya bersemangat mendengar pengakuan ini.  Ia anggota Black Panther.  Ia memiliki pula diari.
     "Tahun berapa tamat di pesantren", saya bertanya.
     "Saya tidak selesai".
     "Oh...".
     "Di sinilah masalahnya.  Saya tak finis gara-gara sering dihukum oleh qismul amni.  Saya cuma sampai kelas II.  Tidak tahan lantaran dipukuli saban malam oleh qismul amni".
     "Saya mulai mafhum arah pembicaraan ini.  Tiap malam kamu pasti mencatat atraksi pemukulan itu di buku harianmu", paparku.
     "Tepat sekali.  Saya menulis berapa kali saya dihardik, ditampar, dipukul, disepak maupun dibanting.  Saya catat nama-nama algojo qismul amni yang menistaiku bak binatang buruan yang mesti ditombak.  Saya mengenal tampang mereka sebagaimana mengenal garis-garis di telapak tanganku!"
     Tiba-tiba saya merasa ada bahaya.  Nada suara orang ini seolah menyimpan amarah besar.  Mulutku langsung terkatup.  Merinding.
     "Ketika keluar dari pesantren, diariku tercecer entah di mana.  Sebulan lalu setelah 35 tahun, saya menemukan buku harian tersebut di tumpukan berkas di loteng".
     "Sebulan sesudah penemuan diari itu, hasilnya lima alumni tergeletak lemas di rumah sakit", celetukku.
     "Saya melukai lima bajingan tengik yang pernah menerorku secara fisik.  Saya cinta Pesantren IMMIM, tetapi, lima santri berbadan besar serupa kerbau bunting tersebut yang memupus impianku untuk tamat di pesantren.  Mereka menyakitiku saban malam.  Mereka wajar dihukum secara setimpal".
     "Kenapa menghubungi saya.  Bukan pengacara supaya kau tak dipenjarakan atau menyerahkan diri ke polisi sebagai bentuk tanggung jawab".
     "Kau punya buku harian.  Kau bisa mengerti mengapa balas dendam ini terjadi".  Ia terdengar menghela napas sebelum menutup telepon.
     Saya paham jalan pikiran orang ini.  Kala ia membaca diari yang dicatatnya 35 tahun lampau, sontak nostalgia pahit menyelubungi pikiran serta hatinya.
     Rangkaian kalimat di buku harian yang ditulisnya 35 tahun lalu, terasa baru terjadi tadi malam.  Dadanya masih sesak oleh penghinaan awak qismul amni.  Ia masih merasakan nyeri di raganya akibat bogem mentah.  Ia serasa dicabik-cabik secuil demi secuil sebagaimana kijang malang yang dikerubuti hyena lapar.  Rasa marah pun bergolak kencang di kalbunya.  Menumbuk-numbuk sanubari.
     Perlahan namun pasti, dendamnya terkumpul.  Menggumpal kemudian berkobar bagai semburan lahar panas gunung berapi.
     Ia tidak dapat menerima perlakuan staf qismul amni yang keterlaluan sekali.  Ini harus dibalas.  Utang tempeleng dibayar tempeleng.  Tendangan dibalas tendangan.  Diari itu seolah menuntun untuk membalas orang-orang yang pernah menzaliminya.  Mereka mutlak dieksekusi karena menghancurkan masa depannya di pesantren.  Qismul amni menghanguskan cita-citanya untuk khatam di Pesantren IMMIM.
     Saya sedih merenungkan kisah insan misterius ini.  Sebuah tunas layu sebelum berkembang lantaran keganasan qismul amni.
     Santri dan qismul amni sesungguhnya wajib menjelma sebagai harmoni apik sebagaimana langit serta bumi yang bersenyawa.  Bukan dua elemen yang saling bertentangan dalam meniti kehidupan di pondok.

Glosarium
Qismul amni merupakan seksi keamanan di OSIS pesantren.  Anggota qismul amni biasanya berbadan besar, kampungan dan buruk rupa.  Mereka terdiri dari kelas IV serta V yang sederajat kelas I dan II SMA.  Remaja dengan mental labil inilah yang mengadili santri kelas I, II, III serta IV.  Anehnya, kekerasan qismul amni terkesan didiamkan oleh pimpinan kampus.  Ada semacam pembiaran.  Bahkan, seolah direstui.


Rabu, 08 Maret 2023

Dari Sini Bermula


Dari Sini Bermula
Puisi Abdul Haris Booegies


Pesantren IMMIM mengajarkan pelajaran untuk akal dan kalbu
Bertahun-tahun pelajaran itu mewarnai hidup agar bermakna bagi kepentingan positif
Pernahkah alumni menengok almamater
Membayangkan kala ia ditempa sebagai calon kesatria untuk masa depan
Merenungkan diri sewaktu bocah bila hidupnya dulu sempit, hanya sebatas tanah lapang
Datanglah ke almamater, kapan saja sesukamu
Kenakan baju kebesaranmu atau emblemmu yang berkilap
Kau boleh merunduk atau membusungkan dada
Kenanglah, hidupmu yang bernilai bermula dari sini, dari Pesantren IMMIM


Selasa, 07 Maret 2023

Santri Nakal Tamat



Mengapa santri bandel rata-rata tamat di pesantren?  Sebab, akumulasi hukuman yang menimpanya memicu ia menjadi individu tegar.  Hukuman membuatnya kuat.  Inilah kenakalan yang artistik
Abdul Haris Booegies


Santri dan Siswa


Santri dan Siswa
Oleh Abdul Haris Booegies


     Bangga sebagai santri Pesantren IMMIM di era 80-an.
1.  Siswa punya bahasa gaul, kami memiliki bahasa Arab.
2.  Siswa ke bioskop nonton midnight show, kami bergilir jadi piket malam menjaga kampus.
3.  Siswa punya geng motor, kami memiliki shalat berjamaah.
4.  Siswa tawuran, kami latihan karate Black Panther.
5.  Siswa kongko sambil menikmati es teler di Pantai Losari.  Santri IMMIM menerobos kegelapan malam menapak lorong setapak ke warung pasar tradisional untuk meneguk limun.  Rasa minuman ini manis, tetapi, pahit di tenggorokan.
6.  Siswa bertemu saban hari dengan wanita-wanira bahenol, kami berjumpa tiap hari dengan koki-koki berfisik indah di dapur.
7.  Siswa punya siswi yang cantik, kami memiliki santriwati yang rupawan laksana bidadari Firdaus.
     Coba, kurang dahsyat apa anak IMMIM di era 80-an, kurang dahsyat apa?!


Senin, 06 Maret 2023

Keterbatasan Pesantren


Mengapa santriwan-santriwati IMMIM banyak yang sukses?  Sebab, pesantren identik dengan keterbatasan.  Inilah yang membuat alumni Pesantren IMMIM teruji.  Keterbatasan melahirkan orang yang andal bergerak meraih impian
Abdul Haris Booegies


Kalkulasi Otak


Mengapa kita sering gagal?  Ini akibat kalkulasi otak.  Begini modusnya.  Otak melarang kita melompati sungai yang lebarnya tiga meter.  Sebab, pasti gagal.  Di lain kesempatan, kita dikejar hewan liar.  Ternyata sungai itu bisa diloncati.
Jangan fokus pada kalkulasi otak

Abdul Haris Booegies


Sabtu, 04 Maret 2023

Dulu, Kala Santri Bandel


Dulu, Kala Santri Bandel
Oleh Abdul Haris Booegies


     Hikayat tentang kebadungan santri sudah jamak terdengar.  Sebetulnnya, kenakalan merupakan ekstra-aktivitas supaya santri bersangkutan kerasan di kampus.  Kebandelan ibarat kiat agar santri dapat bertahan selama enam tahun.  Santri badung niscaya mewarnai perjalanan sejarah sebuah angkatan atau pesantren itu sendiri.  Di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, santri hidup dalam keceriaan, persahabatan dan secuil pengkhianatan.
1.  Teringat santri perokok.  Sebatang rokok bergantian diisap oleh lima santri.  Rokok habis, air liur mereka pun meleleh karena masih mau merokok.
2.  Teringat sohib yang membawa becce laung alias sakko sakko (kue khas Bugis).  Penganan tradisional ini wajid didampingi air minum.  Kalau tidak, bisa tersedak.  Bahkan, batuk-batuk.  Maklum, seperti mengunyah pasir, alot di mulut.
3.  Teringat saat kabur ke bioskop seraya mengenakan sandal jepit yang bukan pasangannya.  Ukuran beda, warna juga lain.
4.  Teringat diomeli oleh pimpinan kampus.  "Kamu sudah rawan!  Kamu sudah rawan!"  "Kamu sudah gawat!  Kamu sudah gawat!"
5.  Teringat di dapur ada rekan mengembat ikan di ompreng lain.  Ia lantas mengumpet ikan tersebut di sela kaki serta sandal yang dipakainya.  Rasanya sedap.
6.  Teringat dengan kenakalan yang telah diperhitungakan bakal aman, ternyata terciduk juga.  Rupanya ada mata-mata, pengkhianat di antara sesama santri.  Bajingan, huh!


Kamis, 02 Maret 2023

Rindu Santriwati


Rindu Santriwati
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di era 80-an, Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM Putri di Pangkep, terkesan bersahaja.  Pada 1979, masih ada asrama yang terbuat dari anyaman bambu (gamecca).  Walau sederhana, namun, momen-momen indah tetap terpatri di kalbu.  Santriwati tetap terkenang dalam rindu pada pondok di Miss Teen alias Minasa Te'ne.
1.  Ada rindu dengan asrama Khadijah, Aisyah, Ummu Kaltsum, Halimah, Rabiatul Adawiyah, Masythah, Rahmah el-Yunusiah serta RA Kartini.
2.  Ada rindu terhadap empat sumur.  Sampai sekarang, sumur tetap empat.
3.  Ada rindu melihat dokar di musim kemarau yang masuk kampus untuk menjual air ke santriwati.
4.  Ada rindu dengan Leang Kassi yang didatangi santriwati untuk mencuci bila kemarau.
5.  Ada rindu memandang pohon mangga di samping kantor, dekat masjid dan di depan rayon Rahmah el-Yunusiah.
6.  Ada rindu dengan "tante dapur".  Tante dapur adalah panggilan untuk koki.  Di antaranya tante Johor, tante Naji dan tante Jawariyah.  Ada pula koki bernama kak Sati yang masih gadis.  Koki dibantu oleh seorang pria bernama Sule.
7.  Ada rindu pergi jajan di warung Daeng Raisa yang terletak di luar kampus.
8.  Ada rindu untuk menengok kamar mandi yang lantainya licin karena jarang disikat.
9.  Ada rindu mengulang lompat tembok kalau tak diberi izin untuk pulang.


Sandal Gembok Santri IMMIM


Sandal Gembok Santri IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Santri identik dengan kebersihan.  Dalam bayangan masyarakat, santri merupakan pelajar Islam yang rapi, cerdas dan alim.  Apalagi, rata-rata santri berparas tampan.  Menantu ideal bagi siapa saja.
     Di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM, santri diatur sedemikian ketat.  Semua harus berdisiplin tinggi, termasuk kebersihan.
     Satu di antara pendukung kebersihan yakni sandal.  Alas kaki ini wajib dimiliki, khususnya kalau ke masjid.  Bila santri tak mengenakan sandal, tentu masjid kotor, berpasir.
     Entah bagaimana awalnya, ada saja santri yang ke masjid tidak menggunakan sandal.  Ajaibnya, setelah shalat di masjid, kakinya sudah bersandal jepit.  Tak diketahui pasti, apakah doanya mustajab karena memohon sandal atau ini memang keberuntungan.
     Di sisi lain, ada santri yang tercenung sedih di pintu masjid.  Musababnya, sandal jepitnya hilang.  Sandal baru lagi.  Biasanya yang kehilangan adalah santri kelas I serta II.
     Kehilangan sandal nyaris terjadi tiap hari.  Korbannya jelas santri kelas I atau II.  Maklumlah, mereka cuma anak bawang.  Sekali gertak, langsung menyingkir.
     Santri kelas I dan II, tidak tinggal diam.  Mereka melakukan perlawanan senyap.  Modus untuk menyelamatkan alas kaki dari kibar (senior) ialah dengan menggembok kedua tali sandal.
     Pada periode 80-an, di depan jalan masuk masjid ath-Thalabah Pesantren IMMIM, berjejer sandal yang digembok.  Maling sandal pun cuma bisa menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.  Kali ini doanya tidak mujarab.  Ke masjid tanpa sandal.  Dari masjid juga tetap tanpa sandal.  Apes.


Amazing People