Senin, 28 Maret 2022

One Santri One Dirham


One Santri One Dirham
Oleh Abdul Haris Booegies


     "Kami alirkan sumber tembaga cair bagi Nabi Sulaiman.  Ada jin-jin bekerja di bawah kekuasaan Raja Sulaiman atas izin Allah" (Saba: 12).
     Nabi Sulaiman disebut 27 kali dalam al-Qur'an.  Ia merupakan raja segala makhluk di Bumi selama 40 tahun kekuasaannya di abad ke 9 sebelum Masehi.  Ia mampu ke mana saja di segenap sisi terjauh dusun serta bandar berkat mengendarai angin.  Ini serupa Superman bin Jor El yang terbang bagai burung.
     Raja Sulaiman tak sekedar andal menundukkan bayu.  Ia pun mengarahkan jin untuk bekerja.  Golongan jin kemudian membuat gedung pencakar cakrawala, piring sebesar kolam dan breakfast machine.  Di periode Nabi Sulaiman ada periuk menyatu dengan tungku yang diabadikan al-Qur'an dengan istilah quduurir-raasiyaat (قُدُورٍ رَاسِيَاتٍ).
     Di tarikh 2022 sesudah Raja Sulaiman mangkat tiga milenium lampau, tersedia breakfast machine.  Perkakas tunggal nan unggul yang banyak dijajakan platform belanja online ini merupakan kompor komplet.  Breakfast machine bisa membuat kue, bubur, menggoreng, mengkukus makanan serta minuman hangat.  Semua dalam satu wadah, all in one.  Praktis, portabel, multifungsi dan hemat waktu seperti di zaman Nabi Sulaiman.
     Dari estimasi terendah, kekayaan Raja Sulaiman bila dikonversi hari ini ditaksir Rp 5.000 triliun.  Saban tahun ia memperoleh upeti 25 ton emas dari mancanegara.
     Kekayaan Nabi Sulaiman bersumber dari tambang tembaga.  Hingga, membangun korporasi transnasional.  Tembaga atau dalam bahasa Latin dinamakan Cuprum dikenal dengan nomor atom 29.  Karakteristik tembaga sebagai logam yakni ramah lingkungan berkat dapat didaur ulang, tidak reaktif, tahan lama serta antibakteri.
     Di masa Raja Sulaiman, tembaga merupakan bagian dari industri dan kehidupan.  Aktivitas terseok-seok tanpa tembaga sebagaimana sekarang manusia butuh bahan bakar untuk kendaraan.
     Di kawasan kerajaannya di Palestina, Nabi Sulaiman membangun jaringan terowongan.  Ia mengeksplorasi tembaga secara rahasia lantaran melibatkan jin.  Jemaah nirwujud ini terus-menerus meniupkan api lewat pipa sampai mencapai 1.000 derajat Celcius.  Hatta, tembaga terpisah dari bijih dalam proses peleburan.  Rangkaian ikhtiar untuk menghasilkan tembaga murni bisa menghabiskan banyak waktu jika dikerjakan oleh manusia.  Demi menghemat durasi, Raja Sulaiman mengerahkan jin sebagai buruh kasar.
     Tambang tembaga merupakan unsur esensial dalam menopang pilar kekayaan Nabi Sulaiman.  Dengan bisnis tembaga, ia tertoreh sebagai hartawan global sampai Kiamat.

Makin Ramai
     Saat kelas I di Pesantren IMMIM pada 1980, saya beberapa kali ke koperasi.  Lokasinya di deretan kelas Tsanawiyah.  Barang yang dijual terbatas.  Di lemari pajangan yang telah kusam serta berdebu, hanya ada sejumlah barang termasuk sabun dan pasta gigi.  Almari berwarna tosca alias turquoise tersebut, tak memikat selera belanja akibat tidak padat dengan barang.  Padahal, tosca merupakan warna yang bermakna stabil, kalem serta sabar.  Koperasi ini barangkali sabar menanti injeksi anggaran.
     Tatkala duduk di kelas IV, koperasi pindah ke belakang aula.  Letaknya sejajar dengan beranda rayon Panglima Polem.  Barang yang dijual mulai semarak.  Perlengkapan sekolah kian lengkap.  Begitu pun alat-alat olahraga, termasuk raket dan shuttlecock.  Tersedia juga biskuit Khong Guan, susu, abon-abon, kecap, aneka permen, kuaci, Supermie serta mi ABC.
     Seorang adik kelas sempat berceloteh.  "Andai saya pengurus koperasi dan sudah kelaparan begini.  Habis semua itu saya makan".
     Ketika saya duduk di kelas V, koperasi pindah ke belakang Majelis Guru.  Koperasi makin ramai.  Dioperasikan pula mesin foto kopi sebesar kardus air gelas.
     Kala naik kelas VI, di kavaleri ada koperasi.  Letaknya di sudut lapangan sepak bola.  Saya acap ke koperasi kavaleri membeli roti.  Di masa tersebut, roti yang tersedia yaitu roti tawar, roti wijen, roti kelapa serta roti kacang.  Rasanya lumayan dengan kesan klasik.  Apalagi kalau dipadukan dengan limun alias lemonade (air perasan jeruk) yang berharga Rp 50 per botol kaca.  Minuman berwarna jingga ini memiliki sensasi tersendiri.  Soalnya, mengandung karbondioksida yang membuatnya berbuih.  Setelah diteguk, biasanya kerongkongan terasa pahit, terkadang gatal.  Di samping limun, juga ada soda yang rasanya bikin kangen.  Minuman hits era 80-an ini berwarna hijau.

Pilar Kerajaan
     Pesantren seyogianya menggagas koperasi demi memberdayakan ekonomi santri.  Tiap santri baru dikenakan iuran pokok yang akan dikembalikan saat tamat.
     Tak usah mengutip iuran wajib maupun iuran bebas (sukarela) per bulan.  Santri baru cukup menyerahkan iuran pokok satu dirham satu kali selama menuntut ilmu di pesantren.  Ini saya istilahkan one santri one dirham.
     Sesuai landasan Open Mithqal Standard, maka, satu dirham punya kadar perak murni dengan berat 3.11 gram (1/10 troy ounce).  Nilai dirham mengikuti tren kenaikan harga komoditas perak.  Dirham yang merupakan instrumen investasi alternatif diakui 100 persen bebas dari riba.  Bahkan, kebal terhadap inflasi lantaran materialnya logam mulia.
     One santri one dirham memaparkan bila koperasi bakal menerima suntikan dana satu dirham dari tiap santri baru.  Sistem one santri one dirham berpotensi menjadi penggerak ekonomi dalam teritori kampus.  Dalam kasus Pesantren IMMIM, one santri one dirham melibatkan tiga kampus.  Tamalanrea, Minasa Te'ne dan Moncongloe.
     Pesantren bukan sekedar institusi pendidikan, namun, lembaga ekonomi.  Kehadiran koperasi di pesantren akan melahirkan santri mandiri.  Mereka terpacu dengan semangat wiraswasta.  Arkian, memiliki orientasi crazy rich (tajir banget).
     Islam mengizinkan umat untuk berbisnis.  Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan serta Abdul Rahman bin Auf merupakan usahawan tangguh.  Rezim Raja Sulaiman malahan menjadi mahkota bisnis sepanjang masa.  Kekayaannya menjadi pilar yang menopang kerajaan.
     One santri one dirham bakal memobilisasi proyek ekosistem ekonomi Pesantren IMMIM.  Santri pun berpeluang belajar berwirausaha.  Mereka mengasah pengembangan keterampilan sekaligus pemasaran.  Tokoh koperasi periode 84-88 Pesantren IMMIM Mahmuddin Achmad Akil menandaskan bahwa koperasi membuat bakat tersalurkan.  "Kami diberi kepercayaan dan terpercaya".
     Koperasi akan meningkatkan entrepreneurship santri.  Jiwa wiraswasta tumbuh.  Alhasil, menggelorakan spirit bisnis santri guna berinvestasi di masa depan.  Di pucuk ambisi, niscaya semua tergoda menjadi konglomerat sebagaimana Nabi Sulaiman yang punya harta senilai Rp 5.000 triliun.

Narasumber
Lukman Sanusi
Mahmuddin Achmad Akil

Video dan foto milik Lukman Sanusi


Senin, 21 Maret 2022

Santri Rasta


Santri Rasta
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dalam obrolan santai remaja, acap terdengar istilah rasta.  Tautan dalam ingatan sontak tertuju ke rambut gimbal, musik reggae serta ganja (cannabis sativa).  Ganja atau mariyuana yang merupakan psikotropika, dalam bahasa gaul disebut cimeng.
     Rasta sesungguhnya singkatan dari Rastafari, filosofi hidup sebagian penduduk Jamaika.  Rastafari kerap dideskripsikan sebagai pengisap ganja.  Mereka bersenandung reggae dengan orientasi gaya hidup semaunya.  Arah dan tujuan bahtera hidupnya terkesan kabur.
     Rastafari dicomot dari nama Haile Selassie sebelum ditahbiskan sebagai kaisar Ethiopia.  Ia bernama asli Tafari Makonnen.  Di depan namanya ada gelar Ras yang artinya pangeran.  Rastafarian beranggapan bahwa Kaisar Haile Selassie merupakan penjelmaan tuhan.
     Marcus Garvey yang tertoreh sebagai aktivis politik Jamaika, muncul sebagai tokoh Rastafari.  Ia mengampanyekan diksi "kembali ke Afrika".  Garvey menjadi figur utama kebangkitan gerakan nasionalisme kulit hitam.  Hatta, diaspora Jamaika tergoda untuk balik kampung ke benua nenek moyang di Afrika.
     Rastafari oleh pendukungnya dipandang sebagai gerakan spiritual, sosial serta pembebasan warga Afrika di Jamaika.  Pada abad 17, Inggris mengangkut jongos-jongos dari Afrika Barat ke Jamaika.  Belenggu perbudakan dan kolonialisme hendak dipupus dengan Rastafari.  Anehnya, aktivitas Rastafarian lebih banyak bersantai di bawah sinar sang surya atau terang rembulan dengan reggae serta ganja.  Reggae mewakili perlawanan mereka.  Sementara ganja dinilai mampu meningkatkan impuls spiritual.  Secara global, pemeluk Rastafari diperkirakan berjumlah sembilan juta.

Kremlin
     Di sebuah momen di awal tahun, seorang sahabat berbisik.  Ada kelas VI di Pesantren IMMIM menanam ganja di kamarnya.  Isu ini terbatas menyebar di komunitas Aliyah.
     Ganja gampang tumbuh.  Daunnya mengandung zat narkotik aktif, khususnya tetrahidrokanabinol yang enteng memabukkan.  Daun ganja biasa dicampur dengan tembakau sebagai rokok.  Efek yang ditimbulkan berupa kondisi rileks, euforia sekaligus sensasi.
     Ganja tidak memikat perhatianku.  Soalnya, saya tak merokok.  Meski begitu, kabar adanya santri menumbuhkan ganja terasa mencengangkan dalam keheningan.  Santri dan ganja.  Ini ibarat samudera dengan gunung atau rimba dengan gurun.  Tidak berkorelasi dalam wujud apa pun.
     Santri takut mencari kabar lebih jauh perihal ganja yang ditanam.  Maklum, pelakunya kelas VI.  Bisa bonyok kita dikepruk bertubi-tubi.
     Bisik-bisik yang diembuskan silir-semilir bayu menginformasikan bila pemerannya tinggal di bilik mini rayon Panglima Polem.  Kamar di Selatan yang bersebelahan dengan kelas ini dulu toilet.  Tatkala 20 peturasan tuntas pada 1982, seluruh kakus dijadikan bilik kecuali dua WC di asrama Raja Faisal.
     Di kamar mini yang berdekatan dengan sumur kibar (senior) itu, pelaku menanam ganja di pot kecil.  Penghuni bilik barangkali berjumlah lima.  Semua kelas VI.  Aura kamar ini serupa Kremlin, istana pemerintahan Uni Soviet di rezim Leonid Brezhnev.  Kremlin yang punya Menara Spasskaya dicitrakan dingin, pekat serta angker.  Selama enam tahun di pesantren, saya tak pernah masuk ke Kremlin ala Tamalanrea ini.  Tempat ini sarang santri perokok level ekstrem.

Mantri
     Mentari bercahaya terang.  Sebuah pagi nan cerah mengiringi aktivitas santri.  Jarum jam sedang merangkak ke pukul 10.00.  Saya bersama segelintir konco berada di perigi kibar.
     Dari sisi rayon Datuk Ribandang dengan Panglima Polem, mendadak muncul ayahanda tercinta Fadeli Luran.  Diikuti beberapa pembina, termasuk mantri.  Berselang 30 detik, pimpinan kampus (pimkam) turut bergabung.
     Saya bersama teman bergetar, karena berada di sumur saat jam pelajaran.  Kami kongko, larut dalam canda minus makna.
     Fadeli Luran tampak tegang.  Ia tidak sanggup menyembunyikan sebersit sendu di parasnya.  Sorot matanya sayu.
     Fadeli Luran lantas berhenti.  Menunjuk ke pintu Kremlin lokal.  Pembina-pembina mengangguk.  Fadeli Luran lalu menaiki tiga anak tangga untuk mengetuk pintu.
     Santri yang mendiami Kremlin kaget setengah mampus kala pintu terbuka.  Di hadapannya berdiri tegak Fadeli Luran, tuan segala tuan di Pesantren IMMIM.  Segenap awak Kremlin terlihat baru bangun tidur.  Fadeli Luran, pimkam, pembina dan mantri kemudian masuk ke Kremlin.  Sedangkan penghuni keluar dengan tubuh kuyu.  Mereka pasrah menanti nasib buruk.  Terbayang dalam benak jika kesulitan panjang segera mendera.  Di samping tembok asrama, mereka berdiri lemas, bingung serta galau dengan wajah belum dicuci.  Ada pula yang jongkok memakai sarung, persis begundal yang kalah dalam sabung ayam.
     Tiba-tiba mantri berdiri di dekat pintu.  Ia mengangkat tinggi sebuah pot dengan bibit tanaman.  Adegan tersebut seolah memamerkan kepada kami sebuah kesuksesan yang baru saja direguk.  Senyum mantri merekah.  Perlahan dan hati-hati, ia menuruni anak tangga sembari memegang erat pot.
     Mantri seolah turun dari tangga pesawat sambil mengacungkan piala usai sukses menjuarai turnamen.  Ia tak kuasa menyembunyikan raut bahagia di rupa mukanya.  Isu itu betul.  Ada santri menanam ganja.  Kini, ganja di pot-pot mungil tersebut dikeluarkan dari Kremlin.

Glasnost
     Fragmen buruk yang diperagakan oleh santri, terkadang di luar nalar.  Mereka doyan bereksperimen norak.  Bahkan vulgar.  Santri emoh hidup orisinal, apa adanya.  Mereka justru menuntut lebih agar dibuka keran kebebasan.  Ini semacam glasnost (keterbukaan) serta perestroika (restrukturisasi) yang merupakan kebijakan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev.  Akibatnya, muncul santri model Kremlin.  Mereka menanam ganja.  Sebuah fenomena radikal yang anti-mainstream di tengah peradaban pesantren.
     Santri memiliki pikiran-pikiran bebas, namun, belum tentu punya sepundi asa.  Apalagi, segudang harapan.  Sebab, selalu ada misteri yang mengaburkan episode kehidupan selanjutnya.  Kendala tidak usah ditangisi sampai air mata habis, sampai kering-kerontang.  Pasalnya, tersedia aneka kanal kreativitas yang sah secara logika di pesantren, tanpa mesti merusak diri.  Banyak pintu buat mengukir ekspresi maupun menyalurkan bakat seperti melukis atau meracik majalah dinding.
     Musikus reggae Bob Marley bertutur:  "Ketika sebuah pintu tertutup, tahukah kamu bahwa ada pintu lain terbuka".


Senin, 14 Maret 2022

Ketawa Gaya Santri (7)


Ketawa Gaya Santri (7)
Oleh Abdul Haris Booegies


Episode kelimabelas:
Pimpinan Kampus Sariqun


     Pada kurun 1975-1990, santri leluasa tidur pulas saban malam di Pesantren IMMIM.  Sebab, ada peronda dari kalangan santri.  Mereka merupakan ujung tombak pengaman kampus.
     Tiap piket malam yang bertugas hanya berbekal satu termos kopi manis atau teh manis.  Tak ada kudapan semacam kacang telur, bolu rampah khas Bugis atau brownies kukus stroberi coklat.  Dengan satu termos minuman, santri peronda bersiaga satu menjaga kampus.
     Piket malam yang dari dapur mengambil kopi atau teh selalu bangga menenteng termos.  Seolah isi termos tersebut harta karun atau jin botol.  Teman-teman yang melirik pun tersenyum menggoda.  Minta isi termos segera dibagi.
     Piket malam efektif bertugas pukul 22.00.  Bakda Isya, piket biasanya tidak berkonsentrasi lagi untuk belajar.  Mereka cuma bersantai di kamar, tak ke kelas.
     Pukul 20.00, piket malam yang terdiri dari lima personel atau lebih, biasa berkumpul.  Mereka saling bertukar aneka narasi kontemplatif atau menggagas strategi agar tidak mengantuk sampai subuh.
     Syahdan, di suatu malam yang semarak dengan kerlap-kerlip bintang-gemintang pada 1984, ditunjuk lima peronda dari kelas IV.  Saat itu, mereka sudah semester II.  Kelima piket yaitu Hamid Seltit, Muhammad Zubair, Imam Setiawan, Ikbal Said dan Lukman Sanusi.
     Beberapa detik menjelang pukul 00.00, teh mereka habis.  Sementara durasi untuk menjaga keselamatan maupun kenyamanan kampus masih panjang.
     Tanpa teh yang menemani di tengah malam dingin, pasti hambar.  Kaki pun enggan bergerak untuk berpatroli keliling kampus.  Di tengah malam begini, dapur telah tutup.  Mustahil membangunkan koki.  Muskil pula mendobrak pintu.  Ada dua pintu dilewati untuk sampai di bilik kompor.
     Hamid Seltit, Muhammad Zubair, Imam Setiawan serta Ikbal Said akhirnya berikhtiar.  Mereka mencari cara supaya ada minuman hangat.  Sedangkan Lukman masuk ke masjid.  Sambil menunggu empat peronda tiba, ia mengaji di mihrab.
     Tatkala khusyuk bertadarus, mendadak lampu dipadamkan seseorang.  Lukman menghentikan bacaannya.  Ia mampu memicing dalam suasana remang-remang berkat cahaya lampu merkuri dari lapangan.
     "Ini pasti ulah iseng Ikbal", bisik kalbu Lukman.
     Tiba-tiba terpampang segurat siluet.  Sesosok jasad tertutup sarung mendekati Lukman.  Merasa dipermainkan, ia membentak.
     "Jangan padamkan lampu, sariqun!"
     Istilah sariqun di Pesantren IMMIM kerap diartikan "kurang ajar", "bajingan" atau "bedebah".  Padahal, makna asli yakni "pencuri".
     Wujud terkatup kain tersebut terus mendekat.  Lukman lantas melompat seraya memiting.  Ia memepetkan tubuh sembari mengentak sarung makhluk itu.  Sementara siluman tersebut sekuat tenaga melepas jepitan Lukman.  Akhirnya Lukman berhasil membongkar kedok si penyusup.
     Sekonyong-konyong Lukman terpana.  Nuraninya bergetar, sukmanya terguncang.  Tak percaya dengan yang dilihatnya.  Tidak mungkin lari.  Kakinya sontak lemas.  Lututnya serasa tak kuat menopang berat badan.  Jantungnya berdegup kencang.  Situasi langsung genting.  Posisi Lukman di ujung tanduk di ujung jurang.  Ia kalah, dan niscaya remuk.
     Orang yang membungkus tubuh mirip pocong itu tidak lain tak bukan adalah Saifullah Mangun Sumito, pimpinan kampus (pimkam).
     Apes nian nasib Lukman.  Mulutnya baru saja memaki ustaz Saifullah dengan sariqun.  Betul-betul santri durhaka!
     "Kamu menghina saya!  Kamu menghina saya!"
     Terdengar pekik ustaz Saifullah dengan nafas kembang-kempis.  Sejurus kemudian, ia melayangkan tamparan bolak-balik ke wajah Lukman.
     Pimkam lalu menggelandang Lukman yang bak banteng terluka ke penjara khusus santri badung.  Di ruang tanpa penerangan tersebut, Lukman meratapi suratan takdirnya.  Ia mengelus dada demi menguatkan semangat.  Di parasnya, bekas tempeleng kanan-kiri masih terasa pedis.
     Dalam sel, Lukman menjadi santapan empuk nyamuk yang haus darah.  Ia pasrah dengan meringkuk persis perawan yang tidak mau menikah dengan duda gembrot.  Lukman melantunkan perasaan dengan nada ironi.  Sesekali ia meraba pipinya yang seperti tebal gara-gara kena tamparan.
     Pukul 02.00, ustaz Saifullah menggiring Lukman ke kantor pimkam untuk diinterogasi.  Dalam proses verbal, Lukman menyodorkan evidensi.  Alibinya sekokoh karang kalau ia sebenarnya piket malam.
     Ustaz Saifullah terkesiap.  Ia tertegun ketika tahu Lukman peronda malam.  Pimkam pun melepas narapidana pesantren itu untuk bertugas kembali sebagai piket.
     Lukman kecewa.  Merasa dedikasinya sebagai peronda dilecehkan.  Kakinya gontai melangkah pulang ke kamar.  Ia menjadi pribadi yang tersisih.  Lukman merasa dijinakkan dengan cara digasak dengan tempeleng ganda.  Ia mengelus pipinya kala menembus malam yang mencucuk tulang-belulang.
     Tadi waktu namanya diumumkan di masjid sebagai piket, ia girang seolah berada di taman Eden.  Kini, yang diperoleh sebagai piket tiada lain tamparan sekaligus dimasukkan penjara selama dua jam.  Rasanya bagai di taman edan.
     Rasa malu di hati Lukman sedikit terobati.  Empat koleganya sesama tukang ronda tak tahu jika ia dijebloskan ke sel nirpuspa.  Meski begitu, Lukman tidak sanggup menghapus bayang suram malam menyesakkan ini.  Sebuah tragedi memilukan dalam lembaran hidupnya di Pesantren IMMIM yang sarat rahasia serta kelokan misterius.

Narasumber tunggal: Lukman Sanusi


Sabtu, 12 Maret 2022

Politik Santri


Politik Santri
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pemilihan Umum (Pemilu) yang diadakan pada Rabu, 5 Mei 1982, teramat membekas di Pesantren IMMIM.  Ini Pemilu ketiga sejak Soeharto berkuasa.  Kontestan ada tiga yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
     Di tarikh 1982, penduduk Indonesia berjumlah 146.532.397.  Sedangkan yang terdaftar pemilih mencapai 82.134.195.
     Pemilu 82 yang berbiaya Rp 132 miliar ini dimenangkan Golkar dengan meraup 64,34 persen suara.  PPP di urutan kedua dengan mengantongi 27,78 persen suara.  Sementara PDI cuma menangguk 8,60 persen suara.
     Sebelum ke tempat pencoblosan, Golkar sudah dipastikan sebagai pemenang.  Ormas ini merupakan mesin politik Soeharto.  Mereka menguasai birokrasi di semua lini.  Alhasil, leluasa mengerahkan rakyat dari pusat sampai desa untuk memilih Golkar.
     Di masa tersebut, muncul insan kritis yang menuding Pemilu tidak menggambarkan aspirasi serta kedaulatan rakyat.  Bahkan, terjadi pseudo democracy guna mengelabui rakyat.  Demokrasi semu ini demi mempertahankan kekuasaan Soeharto.
     Ada ketimpangan yang terasa dalam kehidupan menjelang Pemilu 82.  Apalagi, peserta kontestan terpilah dalam jemaah spiritual, golongan karya dan kelompok nasionalis.
     Karakter Pemilu dinilai jauh dari prinsip free and fair.  Struktur serta proses pemilu diintervensi oleh penguasa yang punya instrumen kewenangan di luar batas.
     Ini mengakibatkan letupan-letupan yang berpotensi mengganggu pemilu.  Pada Kamis, 18 Maret 1982, terjadi kerusuhan tatkala Golkar berkampanye akbar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
     Ketika terjadi keributan, muncul sejumlah orang berkostum hijau khas PPP.  Mereka menggaungkan yel.  "Hidup Kabah!  Hidup Kabah!"
     Kericuhan ini menjelma huru-hara.  Gemanya menyusup ke seluruh pelosok negeri.

Tragedi Batu
     Pesantren IMMIM menjelang Pemilu 82, ikut mendidih.  Puncaknya saat Rhoma Irama ke Makassar untuk kampanye PPP.
     "Kakakku yang mengawal Rhoma dari bandara ke tempat acara", ungkap Awaluddin Mustafa, Datuk 86.
     Santri girang atas kedatangan Raja Dangdut.  Sekalipun tak ada agenda ke Pesantren IMMIM, namun, santri bahagia mendengar keberadaan Rhoma di Makassar.
     Selepas pukul 22.00, menjalar isu di Pesantren IMMIM.  Ada gerombolan pengacau menyerang kampus.  Mereka diidentifikasi onderbouw Golkar.  Santri yang mayoritas pendukung PPP, langsung beringas.
     Tidak tahan mendengar kalau dapur diberondong batu, sontak santri membalas serangan.  Terjadi kekacauan.  Dari dalam kampus, santri melempar ke luar.  Rumah ketua RT ikut dijadikan sasaran.  Sebab, dituduh motor penggerak Golkar di sekitar pesantren.
     "Suhu politik nasional yang memanas turut memicu dan memacu militansi santri yang merupakan pendukung fanatik PPP", ujar Lukman Sanusi, tokoh gigantik Iapim.
     Kondisi mencekam di pesantren perlahan surut.  Beberapa anggota kavaleri masuk kampus mencari santri penyerang.  Sedangkan santri terbirit-birit ke kamar masing-masing.
     "Tentara mencari santri yang melakukan pelemparan.  Saya waktu itu pura-pura tidur.  Tak sempat melepas sepatu, jaket tebal serta handuk yang melilit kepala sebagai tameng dari hujan batu", tutur Lukman.
     Aksi santri yang membela PPP mendeskripsikan konflik ideologi.  PPP dinilai mencerminkan ideologi Islam.  Sementara Golkar representasi Pancasila.
     Kenangan kelam di malam jahanam kala santri melakukan pelemparan merupakan Tragedi Batu.  Cadas sulit pecah, kendati ditimpuk berkali-kali.  Batu menjadi senjata santri untuk menunjukkan keberpihakannya kepada PPP.  Batu menjadi simbol perlawanan santri.  Batu senantiasa abadi dalam epos global sebagaimana laskar intifadah di Palestina.  Dalam kisah tentang cadas itulah, santri larut dalam insiden pelemparan.

Ikon Antagonis
     Pascakemerdekaan sampai era reformasi, politik Islam tetap lembek.  Politik dalam perspektif Islam tidak pernah garang, tak pernah ereksi.  Padahal, politik yang dalam istilah syariat dinamakan siyasah merupakan bagian integral Islam.  Siyasah ialah mengatur segala urusan kaum Muslim.  Orientasi politik Islam yakni menjunjung kedaulatan Allah dan nilai keadilan, bukan mengejar jabatan.  Tanpa memahami seluk-beluk politik, niscaya umat menjadi komoditas politik pragmatis.
     Keterpurukan politik Islam berawal dari Christiaan Snouck Hurgronje.  Sosok inilah yang merumuskan supaya Islam dipisah dari politik.  Ia menasehati pemerintah Belanda bahwa musuh mereka tiada lain Islam yang berwujud doktrin politik.
     Hurgronje menyodorkan tesis kepada pemerintah kolonial.  Ia berargumen bahwa Islam mewakili tiga aspek.  Islam sebagai ritual, Islam sebagai sosial serta Islam sebagai politik.  Dari tiga elemen ini, kaum Muslim wajib disingkirkan dari Islam sebagai politik.  Jika tidak, maka, Belanda bakal mengalami kerugian besar sebagaimana di Perang Padri (1803-1838) dan Perang Jawa (1825-1830).  Konsep Hurgronje yang menjauhkan kaum Muslim dari politik, tetap diimplementasikan sampai hari ini.
     Berbilang tahun pasca Tragedi Batu ala Pesantren IMMIM, saya terpana.  Enam tahun ditempa di kampus Islami, ternyata alumni yang duduk di pemerintahan tak kuasa mendepak tesis Hurgronje.  Mereka yang masuk ke rezim justru membebek melanggengkan sistem yang merugikan Islam.  Militansi Tragedi Batu sirna seiring godaan hedonisme.  Takhta, harta serta wanita lebih memikat ketimbang menjunjung kedaulatan Allah dan nilai keadilan.
    Benar kata Mahfud MD.  Malaikat yang masuk ke sistem Indonesia pun bisa jadi iblis.


Selasa, 08 Maret 2022

Piket


Piket
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pesantren IMMIM dilengkapi piket selama 15 tahun sejak 1975 sampai 1990.  Pada 1980, ada tiga piket.  Piket harian, piket malam serta piket rayon.  Semua terdiri dari santri.
     Menjadi piket bakal menempa santri untuk bertanggung jawab.  Kegiatan sukarela ini mampu pula mempererat kebersamaan.  Di samping itu, menumbuhkan rasa peduli kepada sesama sahabat.
     Pada 1985, ada tambahan piket.  Namanya piket pembina.  Mereka merupakan santri pilihan dari kelas V.  Seluruh awak qismul amni (seksi keamanan) bisa menjadi piket pembina.  Saban hari ada dua piket pembina.  Fungsi mereka membantu mobilitas pimpinan kampus (pimkam).  Kedua piket mengawas di depan kantor pimkam.
     Piket pembina cukup istimewa.  Mereka makan di kantin sesudah guru-guru usai makan.
     Saya tidak pernah ditunjuk sebagai piket pembina.  Sebab, dianggap berperilaku abnormal di pesantren.

Orbit Rayon
     Beberapa hari setelah tercatat sebagai santri.  Saya dapat giliran sebagai piket harian.  Sif piket harian hanya dikenakan bagi santri kelas I dan II.
     Piket harian bertugas di pos jaga di sisi kiri gerbang dari pagi sampai petang.  Tiap hari, ada dua piket.  Santri yang bertugas mengenakan selempang hijau dengan tiga garis putih.
     Piket harian bertanggung jawab membersihkan kantor direktur pesantren, ruang pimkam serta Majelis Guru.  Mereka juga berkewajiban memanggil santri di kamar jika kedatangan tamu.
     Pekerjaan ini cukup melelahkan.  Sebelum memanggil santri yang dibesuk, maka, piket meminta kepada tamu untuk menulis nama, hubungan keluarga, tujuan, jam dan tanda tangan.
     Segenap aktivitas keluar-masuk santri, mesti tertera di buku harian piket.  Gardu piket biasanya ramai bergemuruh pada sore Jumat.  Maklum, santri yang tiba di kampus sesudah berlibur sehari harus menyerahkan surat izin pulang sekaligus menulis jam kedatangannya.
     Saban hari, ada pula satu piket rayon di tiap asrama.  Tugasnya menjaga keamanan serta kenyamanan.  Siapa yang ke kamar saat jam pelajaran, mutlak menulis nama dan keperluan di kitab rayon.
     Seingat saya, tak ada piket rayon di Asrama Imam Bonjol.  Ini tempat paling riuh.  Bukan cuma dihuni santri bertubuh raksasa, namun, rata-rata bandel level geledek.
     Pada 1986, Asrama Imam Bonjol berada di tengah kampus.  Di Timur terletak Asrama Pangeran Diponegoro serta Panglima Polem.  Di Utara ada Asrama Datuk Ribandang (Fadeli Luran).  Di Barat berdiri Asrama Sultan Hasanuddin, Raja Faisal dan Raja Khalik.  Di Selatan terpancang Asrama Algazali.  Di Barat Daya berdiri teguh Asrama Ibnu Khaldun.  Imam Bonjol menjadi pusat orbit segala rayon.  Selain itu, Imam Bonjol yang terdekat dari perigi kibar (senior).

Usul Usil
     Tatkala kelas II pada 1981, saya ditunjuk piket malam.  Tidak semua santri kelas II dipercaya jadi piket malam.  Dipilih yang berbadan besar.  Saya masuk hitungan.  Apalagi, tinggal di bilik 1 Asrama Datuk Ribandang yang rata-rata bongsor.
     Bakda Isya, lima nama piket malam diumumkan di masjid.  Mereka pun ke dapur mengambil jatah kopi.  Tiap piket memperoleh satu termos kopi manis.  Saya tak minum kopi.  Jadi meminta koki mengganti dengan teh manis.
     Tugas piket malam yakni menjaga keselamatan serta keamanan kampus.  Lima santri ini bak serdadu yang berkeliling demi menghalau perintang berdimensi radikal.  Kalau ada senter, kami menyorot apa saja.  Dua pohon nangka di belakang masjid maupun dua pohon mangga di muka aula, acap disenter.  Bila beruntung, buahnya bisa diambil dengan cara dilempar.  Atap kelas tidak luput disorot dengan cahaya.  Sumur pun disenter, yang penting asal ada kerjaan di tengah malam.  Daripada bengong dan bego, lebih baik mengamplifikasi sifat liar.
     Terkadang ada usul nakal binti binal.  Bagaimana jika pergi menyenter koki cantik yang terlelap.  Siapa tahu ada yang melorot sarungnya.  Hingga, terpampang lekuk-lekak ragawi indahnya.  Semua akhirnya bingung.  Bagaimana caranya?  Ada tiga pintu yang mesti didobrak di dapur sebelum sampai di ruang tidur koki.  Ambyar!
     Pukul 05.00, piket membunyikan lonceng.  Lima laskar internal ini kemudian membangunkan santri.  Setelah masuk dari bilik ke bilik untuk membangunkan, piket pun kembali ke kamar masing-masing.  Mereka segera tidur berkat tugas sudah tuntas.
     Pukul 10.00 kalau santapan tengah disiapkan, terlihat lima piket ini menongkrong di dapur.  Mereka menunggu jatah ransum.  Hidangan yang disediakan cukup enak seperti tumis ikan serta sup.  Tergantung menu makanan guru-guru yang menetap di kampus.

Tim Thomas
     Ada serpihan hikayat bahwa piket malam yang merana tanpa kawan di tengah malam kerap membuat kejutan.  Misalnya, main bulu tangkis.
     Di pesantren, ada dua lapangan badminton.  Satu berada di antara Majelis Guru dengan pos piket.  Satunya lagi di sudut lapangan tepat di depan bilik 2 Datuk Ribandang.  Gelanggang di pojok ini juga sering dijadikan lapangan takraw.
     Personel piket malam biasa main bulu tangkis di lapangan depan di sisi Utara aula.  Seluruh gerak-gerik di gelanggang badminton ini kentara terpantau dari Jalan Perintis Kemerdekaan.
     Tak ada yang aneh bila piket main bulu tangkis.  Masalahnya, mereka main badminton kala dini hari.
     Ini pemandangan ganjil bagi orang luar yang kebetulan lewat.  Penumpang bus malam atau pengendara motor selalu menoleh ke pesantren.  Mereka takjub menyaksikan eksperimen kualifikasi yang menggetarkan sanubari.  Ada remaja main bulu tangkis pukul 03.00.
     Barangkali mereka bertanya-tanya di relung kalbu.  Apakah Pesantren IMMIM sedang menyiapkan atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) atau menggembleng calon juara di Piala Thomas.
     Pengguna jalan yang lalu-lalang menembus pekat malam tidak tahu jika ini bagian dari kegilaan piket malam.  Ini lakon kreatif dari spirit santri abnormal.  Tak kenal, maka, tidak sayang.  Tak paham lantaran tidak pernah jadi santri Pesantren IMMIM.


Jumat, 04 Maret 2022

TV Pesantren


TV Pesantren
Oleh Abdul Haris Booegies


     Membayangkan pertama kali Pesantren IMMIM pada 1980, rasanya seperti membayangkan peradaban kuno.  Santri terkurung dikelilingi pagar.  Lokasi terpencil tanpa penerangan jalan dari Tallo sampai Daya.  Santri hampir tidak lepas dari sarung.  Kaum sarungan identik dengan kelompok kampungan.  Fakta lain yang menambah riuh.  Tidak jauh dari pesantren ada rumah sakit untuk penderita kusta.
     Segenap data-data yang melekat di memori tersebut, tak mengusik saya untuk masuk pesantren.  Tatkala tercatat sebagai santri, saya merasakan bahwa Pesantren IMMIM bukan ekosistem dengan peradaban primitif.
     Pesantren IMMIM bukan pondok salaf.  Ini kampus mutakhir.  Ada laboratorium, laboratorium bahasa sekaligus perpustakaan.  Di perpustakaan, kadang tersedia Pedoman Rakyat.  Ini koran lokal nomor satu di Sulsel.  Kelak, di surat kabar ini saya sering menulis.  Kegemaran saya ialah polemik.
     Dari seluruh fasilitas modern Pesantren IMMIM, tentu yang paling menyedot perhatian yaitu televisi.  Pada 1980, televisi diletakkan di belakang aula.
     Pukul 22.00, sebagian besar santri nonton Dunia Dalam Berita yang berdurasi 30 menit.  Ini acara menarik karena mewartakan informasi primadona dari luar negeri, termasuk olahraga.
     Usai Dunia Dalam Berita, santri Tsanawiyah diminta ke kamar masing-masing.  Mereka yang bertahan di depan televisi adalah santri kelas V, VI serta piket malam.
     Adakah yang berani mengusir kelas V, VI dan piket malam dari depan televisi?  Ada, namanya hujan.  Semua bubar dengan hati kecut jika hujan deras mengguyur Tamalanrea.
     Kalau hujan ringan, ada sejumlah kecil santri tetap bertahan menonton.  Saya pernah mencoba peruntungan ikut nonton di tengah gerimis.
     "Ini kelas satu?", tanya Amir Machmud yang kelas VI.
     "Iya".
     "Kenapa belum tidur?"
     Saya memelas menatap Amir yang memegang payung.  Bagai kucing yang merayu, saya mendekat ke sisinya.  Berharap Amir mau membagi payungnya.
     Kami nonton serial Man from Atlantis.  Film fiksi ilmiah ini bercerita tentang Mark Harris (Patrick Duffy), pria terakhir dari peradaban Atlantis.  Harris dirawat oleh Dr Elizabeth Merril (Belinda J. Montgomery).
     Amir mengagumi figur Elizabeth yang cantik serta anggun.  Ia beberapa kali menyebut dokter rupawan ini dalam obrolan.

Silet Listrik
     Ketika naik kelas II pada 1981, televisi dipindahkan ke teras masjid.  Di sini kami dapat bersila atau berselonjor sambil nonton.  Bahkan, leluasa berbaring bila penonton sepi.
     Syahdan, sekali peristiwa banyak santri masih nonton bakda Dunia Dalam Berita.  Soalnya, ada pertandingan bulu tangkis.  Tiba-tiba ada imbauan untuk mematikan televisi dari Tongkang, pembina muda.  Santri tidak kalah gertak.  Tetap menonton.  Kami yang badung tak gentar dikenakan taktik hukuman yang keras.  Santri dan pembina sama-sama memiliki sudut pandang sahih perihal televisi.  Akibatnya, Tongkang geram.
     Dari arah ruang pimpinan kampus, Tongkang tergopoh-gopoh menyusuri selasar kelas.  Ia singgah di depan percetakan seraya menarik kabel yang terhubung ke televisi.  Dengan silet di tangan, ia memutus kabel.  Bunga api langsung terpercik.  Sementara Tongkang terjengkang gara-gara tersengat listrik.
     Kami santri bandel yang nekat nonton tidak habis pikir.  Bagaimana mungkin kabel aktif dipotong dengan silet, dengan tangan telanjang.  Tongkang rupanya tak kapok, tidak jera.  Tak ada tobatnya ini bocah.
     Di suatu malam sekitar pukul 23.00, Tongkang kembali mengulang kesalahan fatal.  Kali ini bukan silet, namun, gunting.  Ia menggunting kabel televisi yang sedang menyala.  Tongkang kembali terjungkal kena setrum.
     Ada apa sebenarnya ini?  Kabel dengan aliran listrik digunting, dengan tangan telanjang.  Cari penyakit betul ini anak.  Ia seolah pamer keberingasan, tetapi, terjerembab sendiri disengat listrik.  Sepotong kisah kelam yang mengerikan ini pasti membuat batu terkentut-kentut mendengarnya.

Lucan not Luken
     Setelah Tongkang dipecat dari Pesantren IMMIM, pengekangan untuk nonton televisi mulai renggang.  Santri kelas V, VI serta piket malam makin bebas menonton persembahan TVRI.  Kelas IV malahan ramai duduk manis di depan televisi.
     Dari hari ke hari, pekan ke pekan, santri tidak kalah dengan siswa SMA lain.  Kami merdeka menonton program-program TVRI.  Acara hiburan yang senantiasa ditunggu tayangannya seperti Si Unyil, Gemar Menggambar (Pak Tino Sidin), Kamera Ria, Aneka Ria Safari, Ria Jenaka, Losmen, Rumah Masa Depan, Jendela Rumah Kita, Berpacu Dalam Melodi, Kuis Siapa Dia, Album Minggu Kita, serial ACI, Dari Gelanggang ke Gelanggang maupun Arena dan Juara.
     Pernah seorang sahabat bertutur hikayat langka.  Ustaz Saifullah Mangun Sumito yang keturunan Jawa nonton pagelaran wayang kulit di TVRI.  Ia nonton di pondoknya di Jalan Bugis dekat 20 peturasan.
     "Ini acara bagus.  Ini acara bagus", komentar ustaz Saifullah dengan antusiasme ceria.  Teman yang mendengarnya cuma menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.  Ini acara bagus, ini acara bagus.  Brrr...
     Serial Barat TVRI yang membetot minat santri antara lain Chips, Cannon, Charlie's Angels, Little House on the Prairie, Starsky and Hutch, The Muppets Show, Bionic Woman, The Time Tunnel, Star Trek, BJ and the Bear, The Life and Times of Grizzly Adams, Land of the Giant serta Lucan.
     Pengaruh film Lucan yang bergenre drama petualang, merembes ke Lukman Sanusi.  Tokoh Iapim yang juga Datuk 86 ini dipanggil oleh konco sesama Bugis dengan "Luke".  Sejak Lucan diputar di TVRI, nama "Lukman" bertransformasi menjadi "Luken".
     Luken sempat berimajinasi untuk menjelma Lucan yang diperankan Kevin Brophy.  Ia berharap punya insting setajam serigala yang membesarkan Lucan di hutan Minnesota.  Hasilnya gagal total.  Maklum, Lucan hidup di peradaban Amerika yang serba heboh.  Sedangkan Luken di peradaban Tamalanrea yang serba hening.

Silent but Deadly
     Saban malam pada pukul 22.00, serambi depan masjid ath-Thalabah penuh sesak oleh santri yang menyaksikan Dunia Dalam Berita.  Sebagian berdiri di pinggir beranda.  Ada pula yang menengok dari dalam masjid lewat jendela.
    Di tarikh 1983-1985, ada satu santri yang selalu terlambat nonton.  Walau telat, namun, seluruh santri memberinya tempat duduk di bagian depan.  Ia bukan jagoan dengan bela diri sakti mandraguna.  Kawan-kawan menghindarinya karena ia tukang kentut (الأَبْنَةُ).
     Ia jarang mengeluarkan kentut bersuara (الضَّرْطُ).  Kentutnya tanpa bunyi (الفُسَاءُ).  Ini kentut SBD, silent but deadly.  "Minta ampun baunya", bisik Lukman Mubar (7985).
     Flatus yang keluar dari rektum inilah yang memaksa santri mengalah dengan menyodorkan ruang duduk baginya.  Jika tidak, sistem pelepasan gas di balik celananya bakal bereaksi.  Sebab, ia andal memanipulasi algoritma biokimia di otaknya untuk kentut.  Lebih parah kalau ia sudah sarapan dengan teri sembari melahap ikan kering goreng saat santap siang.  Niscaya alamat buruk menimpa di depan televisi.  Oksigen, sulfur, nitrogen, metana dan karbondioksida yang terkumpul di saluran pencernaan keluar perlahan dari anusnya berwujud flatulensi versi silent but deadly.  Kentut di depan televisi bukan sekedar mematikan konsentrasi nonton santri, tetapi, maut bagi peradaban modern Pesantren IMMIM.


Amazing People