Kamis, 28 Desember 2023

Santri di Bioskop


Santri di Bioskop
Oleh Abdul Haris Booegies


    Santri IMMIM cukup terbuka dengan istilah dari luar.  Kalau ada terma yang populer, biasanya santri Pesantren IMMIM langsung mempraktekkannya dalam pergaulan di kampus.
     Pada 1983, ada istilah "karas juga".  Entah siapa yang membawa celoteh ini masuk ke Pesantren IMMIM.  Istilah ini biasanya didegungkan jika ada sesuatu yang menakjubkan atau di luar nalar.
     Bila ada santri yang bergerombol saling berebut kue, maka, teman pun berujar "karas juga".  Makan di pondok tidak mengenal waktu.  Ini karena perut santri bisa diisi kapan saja.  Prinsip santri ialah makan sepuasnya selama ada yang bisa dikunyah.  Sebab, "tena battang ke'ke" (tidak ada perut robek karena diisi makanan).  "Karas juga, ya".
     Kalau ada cewek bahenol lewat di depan kampus, niscaya santri memelototinya.  Sesudah mempertimbangkan secara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya gaya mutakhir maupun keelokan paras cewek bersangkutan, maka, santri pun berceloteh; "karas juga".
     Secara pribadi, saya kurang paham apa sesungguhnya arti "karas juga".  Apakah "karas" dari kata "keras" yang diaksentuasi menjadi "karas".  Di awal 1983, senarai ini sering diucapkan oleh santri kelas V (1978-1984).  Di antara rekan kelas III (1980-1986), Hesdy Wahyuddin alias Oge acap melantunkannya.
     Vokabuler "karas juga", muncul di buku harianku pada Selasa, 26 April 1983 (13 Rajab 1403).  Berikut lampirannya.

     Hari ini, kami kelas III ujian bahasa Inggris.  Saya bersepakat dengan Andi Syamsir untuk nonton di bioskop.  Setelah ujian, Syamsir terlihat ragu mengikutiku.
     Pukul 14.00, saya nekat kabur seorang diri ke kota.  Tujuanku ke bioskop Artis II.  Saya nonton film pembunuhan.  Entah apa judulnya.  Kisahnya menarik karena inspektur Tang kesulitan melacak sang pembunuh.  Rupanya pembunuh tersebut orang sakit jiwa.
     Setelah nonton misteri pembunuhan, saya bergegas ke bioskop Jumpandang.  Di sini pada pukul 17.00, nonton Gundala Putra Petir.  Dibintangi Teddy Purba, WD Mochtar, Farida Pasha, Agus Melaz serta Anna Tairas.
     Film Gundala Putra Petir yang kaku dalam akting dengan cerita ala kadarnya, mengisahkan Gundala memberantas gembong penjahat 84.
     Sekitar pukul 19.00, saya makan malam.  Kakiku kemudian melangkah ke bioskop Makassar.
     Pukul 20.00, nonton Bila Hati Perempuan Menjerit.  Dibintangi oleh Roy Marten, Dana Christina, Astri Ivo, Zainal Abidin, Teddy Purba dan Nani Wijaya.  Film ini diadaptasi dari Insaf Ka Tarazu.  Film India ini sudah pernah saya saksikan di bioskop Dewi.  Bagus filmnya.  Dibintangi Zeenat Aman.  Satu cewek di Insaf Ka Tarazu yang membuatku susah memejamkan mata menjelang tidur ialah Padmini Kolhapure.  Cantik, muda sekaligus ranum menggairahkan.
     Tatkala keluar dari bioskop Makassar, ternyata ada tujuh santri IMMIM yang juga nonton Bila Hati Perempuan Menjerit.  Sementara dua santri lagi nonton Massacre at High School di bioskop DKM.
     10 santri IMMIM ini yakni Arva Chaidar (V), Adnan Alwi (V), Munawwar (IV), Darwis (IV), Hesdy Wahyuddin (III), Haris Bugis (III), Arham (II) serta Muhammad Syibli (II).  Ada dua lagi anak kelas II yang saya tidak tahu namanya.  Hingga, tidak tercatat di buku harian.
     Kami sepakat pulang bersama.  Di atas mikrolet (petepete), kami riuh saling bertukar cerita.  Tidak ada penumpang lain kecuali 10 santri IMMIM.  "Karas juga, ya".


Selasa, 19 Desember 2023

Hari Pertama Buku Harian


Hari Pertama Buku Harian
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pesantren IMMIM di era 80-an, dihuni sejumlah santri berkarakter.  Saya ingat Heriyanto, rekan seangkatan pada Juni 1980.  Ia termasuk santri berkelas.  Ayahnya pejabat militer.  Sementara Heriyato juara bulu tangkis tingkat SD.  Beberapa kali Heriyanto dijenguk ayahnya mengendarai sedan dengan sopir pribadi.  Sebuah pemandangan langka di Pesantren IMMIM di kurun 1980.
     Di awal masuk, saya sekamar dengan Heriyanto di bilik II asrama Datuk Ribandang.  Saya di ranjang bawah, ia di atasku.  Saya akrab dengan Heriyanto.  Saya juga dekat dengan Muhammad Nasir.  Ini bukan bocah sembarang.  Ia termasuk santri sultan.
     Pompa bensin yang terletak di segitiga emas (RRI, Hoya dan Pelabuhan Soekarno Hatta), merupakan milik orangtua Nasir.  Bahkan, kakaknya tercatat sebagai pemain inti klub Makassar Utama.
     Saya, Heriyanto serta Nasir merupakan tiga serangkai saat masih kelas I.  Kami senantiasa bersama.  Apalagi, kami anak kota.  Rumah kami pun tergolong berdekatan.  Saya di Jalan Veteran Selatan.  Heriyanto di kompleks militer di Jalan Mappaoddang.  Sedangkan Nasir di Jalan Baji Pa'Mai.
     Tatkala naik kelas II, Heriyanto keluar dari pesantren.  Saya bersama Nasir juga jarang bertemu.  Ini karena saya digiring ke kamar I rayon Datuk Ribandang.  Ini bangsal khusus santri bandel.  Selain badung, penghuninya berbadan besar.  Di sini dihimpun kelas II, III serta IV yang memang sangar.
     Ketika naik kelas III, Nasir kerap menemuiku di asrama Pangeran Diponegoro.  Rupanya, saya dengan Nasir mulai jenuh di pesantren.  Semua serba terbatas.  Apalagi, tak ada cewek.
     Awal Agustus 1982, saya nekat menemui ibuku.  Saya tidak mau lagi ke pesantren.  Berniat keras keluar.  Ingin berhenti sekarang juga.
     Ayah tentu saja marah.  Akhirnya saya ditumbuk berkali-kali.  Saya diancam akan dikirim ke pesantren terjauh di kampung terpencil.
     Setelah digebuk sampai lebam, saya pun dibujuk untuk kembali ke Pesantren IMMIM.  Saya akhirnya luluh berkat insentif perbaikan yang dibisikkan.  Saya mutlak kembali ke habitat semula yang penuh cobaan maupun derita.
     Kembali ke Pesantren IMMIM ternyata menjadi awal sejarah besar.  Pasalnya, saya bertekad menulis buku harian.  Hasrat mencatat kejadian sehari-hari muncul sejak kelas II.
     Selama kelas III sampai VI, saya tiap hari mengisi diari.  Selama sekitar empat tahun, tak ada satu pun hari yang tidak tercatat di buku harianku.  Ada momen ketika mengkhayalkan anak gadis orang.  Ada masa saat ketakutan gara-gara melakukan pelanggaran berat.  Ada kenangan tatkala mau berkelahi.  Ada tempo kala ketar-ketir setelah bertengkar dengan koki bernama Hata.  Siapa tidak ngeri, mengusik koki sama artinya minta dipecat dari pesantren.  Ini pelanggaran paling berbahaya berskala maut.
     Berikut catatan di hari pertama buku harianku.

Selasa, 3 Agustus 1982
     Perasaanku agak lega setelah tiba di pesantren.  Walau saya bersikeras tidak mau lagi sekolah di pesantren.  Ada sedikit perasaan bahagia karena saya bawa lemari baru, arloji baru dan kasur busa.  Saya menaruh kasur kapuk di bawah untuk mengalas kasur busa.
     Saya tiba di Pesantren IMMIM sekitar jam 12 siang.  Diantar oleh ayah, ibu, sepupu serta keponakan.
     Di kamar II rayon Pangeran Diponegoro, teman-teman riuh.  Mereka bertanya, mengapa saya masih ke pesantren?
     "Saya kira kau sudah berhenti di sini".
     "Barangkali nanti di lain hari saya keluar", jawabku.
     Muhammad Akhyar Ahmad (V) sempat menemuiku.  Ia menasehatiku untuk sadar, tidak lagi nakal.
     "Haris, jangan lagi kau coba-coba seperti dulu, suka pulang.  Kabur dari kampus atau berbuat kenakalan lain".
     Saya sempat ke Mahmuddin Achmad Akil (I).  Saya memberinya konsep inspiratif agar memegang teguh kebaikan di pesantren.  Sebab, sekarang saya sudah tobat.  Tidak mau lagi mengulang kenakalan.


Senin, 04 Desember 2023

Santri dan Artis


Santri dan Artis
Oleh Abdul Haris Booegies


     Cerita di bawah merupakan penggalan sepotong hari dari diari.  Ini momen syahdu yang dialami lima santri IMMIM kelas IV.  Peristiwa terjadi pada Rabu, 5 Oktober 1983 (28 Zulhijah 1403).  TKP di bioskop New Artis dan sekitarnya.
     Pukul 15.00, saya bersama Zulkifli ke Artis II.  Kami naik Vespa milik pak mantri.  Zulkifli nonton Maju Kena Mundur Kena.  Saya tak ikut nonton karena malas terkekeh-kekeh dalam bioskop menyaksikan kekonyolan Dono cs.
     Saya lalu ke New Artis karena bosan menunggu Zulkifli yang asyik nonton.  Tidak berselang lama, Wati muncul.  Ia karyawati New Artis.
     Wati kemudian berkisah kalau tadi malam Roy Marten hadir di New Artis.  Ia mempromosikan film Tapak-tapak Kaki Walter Mongisidi.  Tadi malam memang film ini diputar perdana di New Artis.  Harga karcis Rp 7.500 untuk pertunjukan pukul 20.00 serta 22.00 selama dua hari pada 4 dan 5 Oktober.
     Setelah bertukar cerita dengan Wati, saya memintanya memasukkanku ke bioskop.  Saya pun diselundupkan ke dalam gedung untuk nonton.  Ini namanya santri mujur karena nonton gratis.
     Pukul 17.00, pertunjukan selesai.  Saya segera ke Artis II menemui Zulkifli.  Kami akhirnya berboncengan untuk pulang ke Pesantren IMMIM.
     Di perjalanan, saya melihat Ahmad Hidayat, Ahmad Natser bersama Hesdy Wahyuddin.  Ketiganya berjalan kaki.
     "Mau ke mana?"  Saya
bertanya.
     "Pulang ke kampus", ujar mereka serentak.
     "Pukul 22.00 nanti, ada film hot di Artis II", ujarku berpromosi sambil mengacungkan jempol.
     "Betul?"
     "Ya".
     "Kalau begitu, kita ke Artis".
     Saya dengan Zulkifli lalu melaju ke pesantren.  Sementara Hidayat, Natser serta Hesdy yang dipanggil Oge, balik badan menuju ke Artis.
     Di pesantren, saya bergegas mandi lantas bertukar busana.  Satu jam berikutnya, kami sudah di New Artis.  Suasana di bioskop terlihat ramai.
     Pukul 20.00, film Mongisidi diputar.  Kami lima santri IMMIM cuma mengobrol di halaman bioskop.  Kami menunggu waktu.  Berharap jam 10 malam selekasnya tiba.
     Di lobi New Artis, mendadak muncul Roy Marten.  Ia duduk di sofa menghadap ke Timur.  Kami lima santri IMMIM lantas menengok ke dalam lobi.  Ternyata ini orangnya Roy Marten.
     Baru kali ini saya lihat bintang film.  Kami lima santri IMMIM cuma berjarak dua meter.  Sayangnya, ia di dalam lobi.  Sementara kami di luar.  Terhalang dinding kaca.
     Kami lima santri IMMIM bangga memandang Roy Marten.  Ini aktor populer yang setara Robby Sugara maupun Rano Karno.
     Pukul 22.00, saya nonton film Mongisidi di New Artis.  Zulkifli ke bioskop Makassar.  Sedangkan Hidayat, Natser serta Hesdy ke Artis II untuk nonton The Lady Tenant Next Door.
     The Lady Tenant Next Door dibintangi oleh Edwige Fenech, aktris Italia yang doyan bugil.  Tidak terbayang di kepala, tiga santri IMMIM sekarang sedang menahan nafas menyaksikan kemulusan tubuh Edwige Fenech.  Sudah mulus, bening pula kulitnya.  Air liur mereka pasti meleleh kala Edwige Fenech melepas  kutang.  Mana tahan...


Minggu, 03 Desember 2023

Definisi Santri Nakal


Definisi Santri Nakal
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ada sejumlah santri nakal di Pesantren IMMIM pada era 80-an.  Jemaah badung ini tentu saja dihindari.  Kelompok santri cerdas, bergabung dengan santri pintar.  Kelompok santri saleh, bergabung dengan santri alim.  Begitu pun santri bandel.  Mereka bergabung dengan rekan senasib yang doyan melawan sistem.
     Adakah yang dapat menggabungkan tiga golongan ini?  Tentu saja, ada.  Kalau di masjid, semua sama.  Begitu pun jika di dapur.  Tidak ada perbedaan.  Kekompakan santri cerdas, saleh serta badung acap terjadi bila merokok.  Tidak ada namanya santri cerdas atau santri saleh kalau merokok.  Apalagi, jika sebatang rokok diisap tiga atau lima santri.  Semua menyatu sebagai pelanggar berat di pesantren.
     Saya termasuk paling dihindari di pesantren.  Ini karena sering bolos dari kelas maupun kabur ke kota.  Sekalipun badung, namun, saya tidak merokok atau minum kopi.  Tidak seorang pun santri pernah melihatku merokok.  Bukan karena saya sembunyi-sembunyi merokok, tetapi, saya memang jijik dengan rokok sampai sekarang.
     Tatkala tercatat sebagai mahasiswa, saya masih merasakan bagaimana teman menghindar.  Mereka tetap menganggap saya perlu dijauhi.
     Pada 1992, saya protes seorang rektor di Lektura.  Di majalah terbitan Fakultas Sastra Unhas ini, saya menjadi pemimpin redaksi.  Rupanya ada perlawanan atas protes yang saya gaungkan.  Sejumlah alumni IMMIM secara diam-diam merapatkan barisan untuk melawan saya.
     "Memang dia nakal.  Masih di pesantren dia nakal sekali", sembur alumnus 1988 ke khalayak.
     Saya hanya menanggapi bahwa alumnus itu cuma cari muka.  Dugaanku betul.  Ia punya jabatan atas jasanya melakukan perlawanan terhadap saya.  Bahkan, kini menjadi ketua alumni untuk fakultasnya.
     Sesudah bertahun-tahun menyandang predikat sebagai santri nakal, dewasa ini di era media sosial terjadi pergeseran persepsi.  Bila ada pertemuan sesama alumni IMMIM, berseliweran pengakuan gombal.  Sebagai contoh, "saya dulu juga nakal", "saya dengan Haris Bugis dulu sama-sama nakal" atau "saya dengan Haris Bugis memiliki banyak cerita mengenai pesantren karena dulu nakal".
     Segenap pengakuan ini diucapkan dengan mimik bangga.  Matanya berbinar karena merasa pernah nakal di pesantren.  Ia merasa nyaman untuk diakui badung.  Merasa hebat karena pernah berinovasi untuk mengelabui pembina kampus seraya mengakali aturan pesantren.
     Kalau mendengar ini, saya heran.  Sejak kapan orang ini nakal di pesantren?  Namaku pun dicatut.  Menurutnya, ia dulu nakal dengan saya.  Ia memang pernah masuk satu kali ke bioskop dengan saya.  Ini tidak berarti orang bersangkutan mendadak bisa disebut nakal hanya karena pernah masuk bioskop dengan saya.  Tiba-tiba saya merasa aneh dengan definisi santri nakal.


Al-Qur'an Menjiplak


Al-Qur'an Menjiplak
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ada seorang yang berpenampilan cewek, bersuara cewek, meminta ke Kementerian Agama agar al-Qur'an direvisi.  Menurutnya, al-Qur'an menjiplak Bibel.
Harap ingat penemuan Bart D Ehrman yang pakar Alkitab. Penelitiannya mengungkap jika Bibel baru ada sebagai sebuah kitab suci pada abad ke 9.  Ini setelah aneka naskah atau buku dikumpulkan untuk dipilih menjadi Bibel.
Menurut Ahmad Deedat, asal kata Bibel dari biblos yang artinya kumpulan buku.  Jadi, Bibel bukan Injil sebagaimana pemahaman Muslim.
Al-Qur'an sudah ada sebagai kitab suci utuh sejak abad ke 6.  Bagaimana mungkin al-Qur'an menjiplak?  Terpisah waktu sekitar 300 tahun sebagai kitab suci.  Satu tentang trinitas (tiga tuhan), satu mengenai tauhid (Allah itu tunggal).  Kalau hasil jiplak, pasti al-Qur'an berisi ajakan untuk mengikuti trinitas.


Rabu, 29 November 2023

Kasino Pesantren


Kasino Pesantren
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dalam pandangan orang luar, pesantren identik aturan spartan.  Mereka beranggapan bahwa kehidupan santri berdisiplin tinggi mirip militer.  Songkok serta sarung mutlak dikenakan saban waktu.  Hati wajib suci seraya kepala menunduk untuk berdoa.
     Bagi santri, hidup di pesantren bukan kutukan, tetapi, keberuntungan.  Ada secercah tekad untuk bebas menentukan nasib.  Sebagai umpama, ada santri IMMIM memiliki kebebasan yang penuh gairah ketimbang siswa sekolah umum.  Misalnya saja, serombongan santri Tsanawiyah kerap nonton midnight show di malam Ahad.  Mereka kabur dari kampus bakda Magrib untuk bergentayangan di bioskop.  Usai pertunjukan selepas pukul 01.00, jemaah ini pun balik ke pesantren.  Kalau beruntung, ada mikrolet (petepete) yang bisa ditumpangi.  Jika peruntungan muram, maka, berjalan kaki adalah pilihan.
     Apa sesungguhnya yang dilakukan santri IMMIM, khususnya santri nakal kalau malam pada 1982?  Di tahun ajaran 82/83, saya terdaftar sebagai santri kelas III.  Ditempatkan di kamar II rayon Pangeran Diponegoro.  Pembina kamar yakni Kurnia Makkawaru (kelas VI), dan Taufik Bahar (kelas V).
     Pukul 22.00, para santri ke kamar setelah belajar, cerita atau bermain di kelas.  Ada pula ke beranda masjid nonton Dunia Dalam Berita.  Usai Dunia Dalam Berita, santri diimbau ke kamar masing-masing bila tak mau dapat resiko berupa hukuman.  Santri kelas V serta VI menjadi pengecualian.  Mereka bebas nonton sampai acara TVRI khatam sekitar jam satu tengah malam.
     Sesudah belajar di kelas atau bergosip, ada pula rombongan santri ke warung di pasar tradisional.  Pasar terletak di depan Pesantren IMMIM.  Santri melewati jalan setapak sekitar 20 meter untuk masuk ke area pasar yang berada di belakang Bharata.  Ada tiga warung yang masih buka, termasuk milik Tante Om, makhluk pelangi.
     Santri yang ke pasar rata-rata anak Aliyah.  Ada juga santri Tsanawiyah yang berstatus bandel.  Di warung, santri menikmati minuman soda atau limun.  Harga per botol Rp 150.  Tersedia pula sarabba yang dibanderol Rp 100.  Sedangkan aneka kue yang mulai basi berharga Rp 25.  Minuman lain yang terhidang yaitu kopi susu.  Saya tidak tahu berapa harga kopi susu.  Ini luput saya catat di buku harian.
     Setelah mengaso di warung sekitar 30 menit atau satu jam, santri pun pulang.  Santri yang tiba di kamar, ada yang langsung tidur.  Ada pula main kartu.
     Permainan kartu yang sering dilakukan di kamar II asrama Diponegoro yakni "jenderal".  Permainan ini mirip domino, kartu besar memakan kartu kecil.  Jangan kaget, kamar II senantiasa riuh di tengah malam.  Bahkan, santri badung dari kamar lain ikut nimbrung.  Ada empat grup yang main secara bersamaan.  Tiap grup terdiri empat orang.
     Saya sempat berseloroh bahwa kamar II rayon Diponegoro adalah kasino terbesar di Pesantren IMMIM.  Kami pernah main jenderal dari pukul 22.00 sampai pukul 04.00.  Letih sekaligus lemas membuatku tidur di kolong ranjang Taufik, pembina kamar.  Berharap tidak dibangunkan untuk ke masjid oleh piket malam maupun anggota qismul amni (seksi keamanan).  Piket tidak berani membangunkan kelas V dan VI.  Malang nian nasibku, Akmal Hasan yang ketua rayon mengendus tempat persembunyianku.  Sudah enak tidur pakai kolor.  Tak dinyana Jaka Sembung datang bawa golok.
     Kami senang main jenderal karena taruhannya berupa hukuman.  Terkadang yang kalah harus rela karena di kepalanya ditaruh bantal.  Ada pula hukuman berupa menjentik jari.  Hukuman paling ringan yakni kocok kartu.
     Pada Selasa, 4 Januari 1983, saya kewalahan main jenderal.  Pukul 00.00, saya tidur karena capek mengocok kartu.  Saya kalah terus.  Akibatnya, tanganku pegal.  Begitulah kehidupan primitif santri yang belum mengenal gadget.


Gaya Gemoy Santri IMMIM


Gaya Gemoy Santri IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di mana ada remaja, di situ ada tren.  Orang-orang muda suka menciptakan gaya baru.  Ini semacam pemberontakan atas tradisi sebelumnya.  Model yang paling banyak berganti ialah gaya rambut.
     Bagaimana gaya rambut santriwan IMMIM di zaman doeloe?  Anak IMMIM era kuno tidak ketinggalan gaya!  Maklum, beberapa majalah beredar dalam kampus, termasuk Gadis.  Santri leluasa mengendus gaya dari majalah.  Selain itu, banyak santri pergi ke bioskop nonton film.  Dari film, santri kerap meniru gaya rambut.
     Pada 1983, nama Rano Karno bersama Herman Felani teramat populer di kalangan santri IMMIM.  Mereka bukan sekedar mengagumi ketampanan aktor papan atas tersebut, tetapi, sebagian berusaha meniru gaya rambutnya.  Memang ada satu santri dari Angkatan 7985 yang habis-habisan merias wajahnya agar mirip Rano.  Ia menorehkan tinta hitam di dagu kirinya sebagaimana tahi lalat Rano.  Santri dari pedalaman ini terkadang pula memakai gincu agar bibirnya merah persis Rano di film.  Ia doyan tersenyum kalau berpapasan dengan santri lain.  Dikiranya kita ini menyukai gaya jiplaknya yang menor.  Amit-amit.
     Gaya yang paling banyak ditiru dari Rano dan Herman ialah rambut.  Kala itu, gaya rambut belah dua (beldu) sangat populer.  Di Pesantren IMMIM, Rano menjadi imam mazhab rambut beldu.  Rata-rata santri puber berupaya meniru.  Apakah rambutnya lembut jika disisir atau lurus seperti paku.  Santri berambut landak menggunakan Tancho, minyak rambut berwarna hijau.  Rambut sekasar apa pun atau sekeras apa saja bisa bengkok kalau kena Tancho.  Akibatnya, rambut santri tidak elite seperti Rano.  Modelnya justru mirip al-mukarram Adolf Hitler, imam besar Nazi.
     Selama sekitar lima tahun, gaya beldu menghipnotis santri IMMIM.  Selain model rambut, anak IMMIM juga ketagihan memakai dompet panjang.
     Dompet standar kalau dimasukkan ke saku belakang celana tidak terlihat.  Ukuran pas untuk tersembunyi di kantong.  Mendadak muncul dompet panjang di kalangan cowok.  Ukurannya dua kali lipat.  Kalau disimpan di saku, maka separuhnya nongol.
     Santri dengan dompet panjang acap berkeliling kamar jika hendak pulang pada Kamis-Jumat.  Biasalah, memamerkan dompet barunya yang panjang.  Santri lain terkagum-kagum.  Sebagian cekikikan memandangnya.  Dalam hati tertimbun tanya; "bisanya ada dompet pria begitu?  Serupa dompet emak-emak".
     Tidak masalah santri menggunakan dompet panjang.  Apesnya, isi rupanya cuma pas untuk makan satu kali di warung pinggir jalan.  Dompetnya saja yang panjang, namun, di dalam hanya selembar uang Rp 500.  Namanya juga santri IMMIM, "tak norak, tak gemoy".  Chuaks...


Sabtu, 25 November 2023

Milenial IMMIM 2023


Milenial IMMIM 2023
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada 2018, santri Aliyah Pesantren IMMIM Putra hijrah ke kampus II di Moncongloe.  Sementara santri Tsanawiyah tetap di Tamalanrea.  Moncongloe merupakan kampus dengan lahan yang lebih luas.  Selain itu, fasilitas lebih lengkap.
     Di kampus II Moncongloe, santri milenial ditempa secara spartan.  Mereka repot kabur meninggalkan kampus karena ada satpam.  CCTV ikut pula mempersulit pergerakan negatif santri.  Di samping itu, pembina ditemani satpam acap berkeliling di seputar kampus.  Mereka mencari santri bandel yang nekat meloncati tembok belakang asrama.
     Santri badung yang sukses lolos melompati tembok, biasanya pergi beli rokok.  Untuk mengelabui pembina, mereka mencari toko terjauh dari kampus.  Ini agar tidak gampang terendus.  Hukuman bagi perokok ialah digundul, pemanggilan orangtua, surat peringatan (SP) I atau sanksi sosial berupa membersihkan masjid, dapur serta toilet selama sepekan.
     Santri primitif era 80-an, bila malam biasanya ke sudut kampus arah Barat Laut.  Mereka bergerombol makan di warung Sanabo.  Tersedia mi kuah maupun mi goreng.  Ada pula coto Dewi tidak jauh dari Sanabo.
     Santri nakal versi 80-an lebih memilih ke pasar tradisional yang berjarak 70 meter dari Pesantren IMMIM.  Di sini mereka bebas merokok.  Pembina gentar ke pasar.  Mungkin takut dengan Lotong, bang jago Tamalanrea.  Satu-satunya pembina yang berani ke pasar melakukan sidak (inspeksi mendadak) hanya senpai Indra Jaya.
     Santri milenial IMMIM sekarang nyaman dengan hidangan.  Mereka dimanjakan dengan santapan ala restoran.  Makanan yang disediakan antara lain nasi kuning, nasi goreng, bakwan, pecel, perkedel teri, perkedel jagung, ikan teri, ikan layang, ikan bandeng, ayam kari, ayam kecap, sayur bayam, sayur kangkung, bakso, tahu, tempe, telur dadar, telur ceplok, telur rebus serta telur puyuh.
     Pada Sabtu 16 Syawal 1444 (6 Mei 2023), angkatan ke 43 Pesantren IMMIM diwisuda di Gedung IMMIM.
     "Selama di Pesantren IMMIM, saya merasakan kenangan indah bila makan bersama.  Ada sensasi berupa kebersamaan dan tidak berlebih-lebihan", cetus Muhammad Fadikholilah Kahfi, alumnus 2023 yang kuliah di FEBI Jurusan Ekonomi Islam, UIN Alauddin.
     "Di Pesantren IMMIM, saya mengagumi solidaritas tinggi sesama santri atau santri dengan alumni.  Ini tidak pernah saya temukan selama ini", ungkap Muhammad Nur Ahmadi, alumnus 2023 yang lulus seleksi Bintara Polri.  Ahmadi akan ikut pendidikan pada gelombang II 2024.
     "Selama tercatat sebagai santri, saya merasakan semua kenangan di Pesantren IMMIM sangat berkesan.  Makan bersama, belajar bersama, shalat bersama", tutur Arial Uswat, alumnus 2023 yang kuliah di Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
     Kini, 112 alumni 2023 tercatat sebagai anggota baru Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim).  Mereka bergabung bersama 42 angkatan sebelumnya.  Tentu, alumni edisi 2023 merasa minder, segan sekaligus malu-malu berhadapan dengan senior Iapim.  Apalagi, pandangan Iapim ke angkatan baru seperti menatap sungai.  Terlihat kecil, berkelok serta permai.  Sementara pandangan alumni baru ke Iapim ibarat menatap samudera.  Iapim laksana lautan tanpa batas yang membentur cakrawala.  Bahkan, menelan sang Surya kala senja.
     Berikut lampiran alumni Pesantren IMMIM Putra 2023.
Gilang Ramadhan
Muhammad Alif Anshari Salaluddin
Muhammad Fadikholilah Kahfi
Muhammad Ananda Hudzefy
Abdillah Nur Azhim
Muhammad Nur Ahmadi
Ahmad Faidhillah
Andi Zainal Abidin
Sardy Ardiansyah
Muhammad Khalil Gibran
Muhammad Alif Sakti
Muhammad Zahrul Nur Saharuddin
Muhammad Zayyat
Sultan Adibrata Naimullah
Andi Muhammad Riangga Bahrul Ulum
Zaki Raihan Saidin
Dzaki Fauzan Ramadhani
Muhammad Rafli Rahim
Maulana
A Ahmad Algazali A Agussalim
Ahsan Syafi'i Rusdin
Samudera Sudiro
Ahmad Muslih
Ananta Waskita Gisda
Ahmad Rivai Ibnu
Muhammad Ardan Saleh
Muhammad ar-Raqib M
Muhammad Afzal Riyadi
Abdul Salam Maulana Jaya S
Muhammad Aidil Fitriyadi
Rizq Khalad
Muhammad Faiq Faqih
Nabhan Tasselang
A Muhammad Javiar Fathul P
Muhammad Ansar
Muhammad Tachyatul Anugrah
Muhammad Afif Naufal
Raihan al-Faridzi Pababari
Muhammad Fail Alfatih
Muhammad Alif Fahreza
Muhammad Ahsyad Arsyad Arifin
Nurhidayat N
Muhammad Ikhsan
A Nabil Faiz Pratama
Marwan Adam
Muhammad Arham Hajir
Muhammad Luthfy Syafiq
Fachri Wahab
Pranedya Ahmad
Muhammad al-Fauzan Bobihu
Ilhamuddin
Muhammad Tri Muamar
Syaiful
Andi Shofwan Syafiq
Achmad Amin Ridwan Tasa
Muhammad Taufiqqurrahman
Muhammad Syaiful Haq
Fadhlil Azim
Andi Muhammad Naufal Afif Erza
A Ahmad Syathir
AM Maulana Aryaduta
Naldi Ramadhan
Muhammad Afief Hamdi Idris
Muhammad Amirul Mu'min
Kivlan al-Islamy
Nur Ahmad Kamal
Mahmud Ramadhanu A Rahman
Yusuf Taufiqurrahman
Muammar Azmi Arif
Muhammad Gilbran Nur
Syahrul Sahabuddin
Achmad Fatwa Alqosali
Yusril Yunus
Muhammad Khalil Rafi Anggara
Muflih Nurtami
Aksa Febriansyah
Arial Uswat
Uqbah Rohullah Syahputra
Mohamad Fahri Zaki
Muhammad Hidayatullah
Muhammad Israjab Navazain
Muhammad Zhidiq Nurfauzan
Muhammad Alif Fairuzsyah
Rahmat Alfito
Muhammad Fawwaz Putra Iskandar
Mochamad Syech Yusuf M
Rifhal Firnanda Arsandy
Andi Surya Fatih
Bagus Ahsanur Rifqi
Muhammad Umar
Muhammad Zubair
Adryan Fachri Gay
Muhammad Danar Abinayah Dhiaz 'Aiman
Nabil Tsany Abiyyu
Taufiq
Muhammad Yusuf Arsyak
Rafi Aditya Pratama
Muhammad Ilham Ridwan
Ahmad Zaky Guntur
Muhammad Anugrah Ramadhan
Andi Muhammad Nasril Ilham Najamuddin
Muhammad Sandi Afrisal
Fiqri at-Thaurahman Ilyas
Muhammad Ichsan
Muhammad Faiz Abdullah AY
Muhammad Cholish Said Al Baasith
Muhammad Fhadil Fajar
Ivan Irawan Daeng Masalle
Muhammad Mufarridun
Dwi Andhika Aprianto
Izzul Muslimin Hasanuddin
Rahmat Akbar Mastura

Narasumber
Arial Uswat
Muhammad Fadikholilah Kahfi
Muhammad Nur Ahmadi

Terima kasih kepada Ahmad Fauzi (alumni 2022 Pesantren IMMIM) yang banyak memberi masukan


Minggu, 19 November 2023

Santri M/M 2022


Santri M/M 2022
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dunia berkembang menembus zaman serta generasi.  Dari hari ke hari, waktu terus melesat kencang.  Rongsokan peradaban ditinggalkan seraya menyongsong kultur baru.  Kini, manusia berada di dekade ketiga milenium ketiga.  Muncul aneka budaya sekaligus interaksi sosial berasas teknologi.  Mobilitas manusia kian trengginas berkat produk terbaru yang kecil, namun, cepat.
     Pesantren IMMIM tidak luput dari invasi kultur baru.  Sekolah berbasis agama ini ikut membuang rongsokan budaya yang banyak menyengsarakan santri.  Sebagai umpama, Pesantren IMMIM tidak lagi diperkuat qismul amni (gerombolan keamanan).  Qismul amni merupakan santri berbadan besar dengan wajah yang kurang sedap dipandang.  Mereka dipilih dari kelas IV dan V.  Tugasnya yaitu mengadili santri kelas I, II, III serta IV yang melakukan pelanggaran.  Algojo yang rata-rata kampungan ini mempraktekkan kekerasan verbal sekaligus fisik yang direstui oleh direktur pesantren maupun pimpinan kampus.  Banyak korban yang ditimbulkan oleh kebiadaban kawanan brutal ini.  Akibatnya, sejumlah santri keluar dari Pesantren IMMIM gara-gara kebejatan qismul amni.
     Tidak berlebihan kalau qismul amni merupakan sisi paling kelam di Pesantren IMMIM era 80-an.  Kini, komplotan najis tersebut sudah tak ada.  Perilaku sadisnya menjadi kenangan yang sulit dilupakan oleh para korban yang sebagian justru dendam.  Waspadalah!
     Bukan cuma qismul amni yang dimatikan di Pesantren IMMIM.  Kualitas makanan pun terus ditingkatkan.  Dewasa ini, asupan santri makin beragam.  Sebagai contoh, sarapan tiap Rabu dengan telur.  Saban Jumat, santri sarapan dengan bubur.  Tiap Ahad, sarapan dengan nasi goreng.  Pada Kamis dan Ahad pagi, santri minum teh susu.  Makanan mutlak diperhatikan karena jika perut lapar, maka, pikiran kacau, liar serta tidak keruan.
     Di masa 80-an, santri tak pernah makan ikan bandeng.  Kini, ikan bandeng menjadi lauk lumrah di Pesantren IMMIM.  Telur pertama kali menjadi hidangan di Pesantren IMMIM pada 1984.
     Bukan hanya santapan yang berubah.  Santri pun diarahkan menjadi orator ulung.  Di rentang waktu 80-an, muhadarah (latihan pidato) diadakan satu kali sepekan.  Kini, ditambah menjadi dua kali pada malam Kamis serta Ahad.  Penambahan ini bertujuan agar santri menjelma dari anak manis menjadi pemuda kritis.
     Santri yang duduk di Aliyah (kelas IV, V dan VI), wajib memiliki laptop.  Sekali sepekan, santri diberi kesempatan menggunakan laptop masing-masing di laboratorium komputer.  Kelas IV di malam Sabtu.  Kelas V di malam Senin serta kelas VI di malam Rabu.  Laptop wajib disimpan kembali di loker supaya tidak dibawa ke kamar untuk nonton film hot.
     Dalam hal hiburan, santri milenial Moncongloe alias M/M, punya fasilitas proyektor.  Di malam Jumat, mereka leluasa nonton film sampai puas di kamar masing-masing.  Ini berbeda dengan santri kedaluwarsa periode 80-an.  Kala itu, santri kabur dengan cara lompat pagar untuk ke bioskop yang berjarak 10 km.
     Santri klasik IMMIM di era 80-an banyak yang ke bioskop nonton midnight show.  Film yang diputar tentu saja tidak mengenakan kutang dan cawat.  Bintang paling digemari ialah Edwige Fenech yang berkulit bening.  Desahan aktris Italia ini membuat santri bandel mendadak poso-poso (sesak nafas).  Adakah sisa-sisa kenakalan itu sekarang?
     Tak diduga tak dikira tak dinyana, disangka pun tidak.  Rupanya segelintir santri M/M pada kurun 2020, cukup badung.  Proyektor yang telah digunakan secara resmi di malam Jumat, tidak dikembalikan ke pembina kampus.  Mereka justru menggunakannya untuk nonton film 17 tahun ke samping yang tersimpan di flashdisk.  Namanya anak muda, mereka tahan nonton sampai subuh.
     Sejak 1983, santri nakal yang doyan ke bioskop menggunakan istilah "lame-lame" (ubi-ubian) untuk film panas.  Ini karena tekstur ubi mirip perkakas pria.  Sementara santri milenial memakai istilah "muraja'ah" yang berarti meninjau ulang atau memeriksa kembali.  Mungkin maksudnya menonton lagi film porno.
     Berikut lampiran nama alumni Pesantren IMMIM yang tamat pada 2022.
Muhammad Ihsan Ramadhana
Nur Ikhlasul Amal
Muhammad Aqsal Amin Latuconsina
Muhammad Arsyal Rahman
Muhammad Hanif
Raihan Nur Abdillah
Yusuf al-Qardhawi al-Mandar
Andi Aiman al-Ghifary
Andi Fahim Hasan Putrata
Andi Mohamad Riyadh
Muhammad Zhaky Aprilla
Muhammad Dzikra Thamisyah Putra
Mochamad Darul Fhaiz
Andi Muhammad Ashabul Qahfi
Muhammad Awal Rif'at
Muhammad Faiq Fauzan
Ahmaddin Palamba
Muhammad Syafa'at Muis
Muhammad Alif Nur
Syahrul Mubarak
Ahmad Syaguni Majdi
Muhammad Fajrin Ramadhan
Muhammad Fiqran Apriansyah
Muhammad Ichsan
Harisakti Baihaqi
Muhammad Adam al-Ghazali
Raevan Faiz Kautsar Amku
A Muhammad Rif'at Syauki Arifin
Muhammad Ghulam Fayiz Huwaidi
Muhammad Inal Samali
Muhammad Afrizal Pulubuhu
Achmad Madika Muchsin
Imtiaz Muhammad Syihab
Muhammad Musvy Fadlan
Muhammad Aqil Azhzhahir Subair
Zulfikar Fahmi
Adit Rachmat Raehal
Mohammad Azwansyah Darwis
Syahreza Pratama A
Muhammad Alwan Khairullah
Muhammad Haekal Sunarto
Yusran Dwi Ramadhana
Ahmad Mujahid
Ahmad Ramadhan
Hairulfikri Kasim
Agung Muhammad Fathil
Muhammad Faqih Rumbaroa
Andi Asyru Ramadhan Arif
Umar M Hamzah
Ahmad Dzhaqi Farhan
Muhammad Rangga Baasalem
Muhammad Ashabul Kahfi
Muhammad Riza Aditya
Muhammad Dirga Daffa Zulkifli
Rahmat Sobirin Matdoan
Ajwad Haeqal Munarqa
Muhammad Rifky Bidarishandy
Muhammad Raffi Hidayat
Muhammad Ali Husain Ridwan
Mohammad Ilham
Muhammad Rafi Shidiq Nurlette
Abdul Aziz Aminullah
Muhammad Fadil Basri
Ahmad Zubair Mu'allimuddin
Muhammad Syawal
Muhammad Iqra Ramadhani Jamal
Yusuf Risaldi
A Adriansyah
Ahmad Fauzi
Alim Zahal
Rochmat Ziyadatulkhair
Muhammad Arya Syahran
Muhammad Rifai Maulana S
Raihan Islami Rasya
Muhammad Akram AR
Muhammad Fadhel Basri
Abdillah Abulkhair
Ahmad Wildan Rahim
Muhammad Ian Raehansyah Enre
Abdullah Hatami
Ahmad Dzaky
Alwy Shiyam Daud
Andi Ahmad Adam Kenni
Andi Fahmi Husein Putrata
Chikal Aditya Budiman
Fahmi Firman Syeh
Fatwa Kelian
Hardiman
Khairul Rajul
Kurniawan Mursalim
Muhammad Yusuf Zahir
Muhammad Adriansyah Ansar
Muhammad Aliy Faiz al-Giffari
Muhammad Anis Khairy Sutopo
Muhammad Jusuf al-Munawara Abustan
Muhammad Zaki M Amir Syam
Muhammad Adithya Madhani Saifuddin
Muhammad Agung Syaifullah
Muhammad Ali Karim
Muhammad Bintang Ramadani
Muhammad Faiz Baso Saleh
Muhammad Fadhil
Muhammad Fathi Farhan
Muhammad Furqaan
Muhammad Iqra Tantu
Muhammad King Defano Arfah
Muhammad Nur Bashirah
Nur Faiq
Nur Ilham Hidayat
Quwais Ridho
Tholib Ariansa Sabir
Muhammad Zahran ath-Toyyib
Dava Maulana Dzaky
Aljilani Septia
Andi Muhammad Adzani Gibran
A Ahmad Faris Fyabyaq Ashar
A Muhammad Rizwaan Rusdy
Hilalulya
Alief Muhammad Rafi'i
Muhammad Padil
Halid Lutfi
Muhammad Nurfan Sahti M
Muhammad Ryan Ilham
Awal Furqan
Muhammad Fikri Fais Zikra
Ryan Rezki Firmansyah
Hadiid ar-Raad
Lutfi Fathurrachman
Muhammad Fathi Fawwaz Aras
Akhmad Mastori
A Wahyu Amir Pallampa
Ahmad Mulyadi
Mohammad Aqsa
Muhammad Fadil
Iskandar Agung

Narasumber
Ahmad Fauzi


Rabu, 08 November 2023

Kamar Pertama Pesantren IMMIM


Kamar Pertama Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada pertengahan 1980, Pesantren IMMIM menerima 155 santri baru. Asrama Datuk Ribandang serta Sultan Hasanuddin yang punya empat kamar, ternyata tak mampu menampung 155 santri baru.  Saat itu, pesantren cuma punya lima rayon, tiga lainnya ialah asrama Pangeran Diponegoro, Panglima Polem serta Imam Bonjol.  Sekitar 20 santri baru akhirnya diinapkan di aula.  Dari 20 santri itu, sebagian berstatus santri utusan seperti Ambo Siknun, Hamid Seltit dan Muthalib Besan.  Sempat muncul isu bahwa santri yang diinapkan di aula adalah santri letjen, lewat jendela.
     Penempatan di aula kiranya mengganggu kondisi aula.  20 santri kemudian digiring ke asrama Ayatollah Khomeini.  Pada 1982, asrama berupa rumah kayu bertiang ini dihuni ustaz Saifullah MS sebagai pimpinan kampus.  Apes nasibnya gara-gara rumah ini selama tiga malam berturut-turut dilempari batu oleh segelintir santri.  Ini dipicu desas-desus bahwa SPP akan dinaikkan.  Nahas bagi ustaz Saifullah.  Sebab, ia jadi sasaran kemarahan santri.  Setelah ustaz Saifullah meninggalkan rumah tersebut, maka, fungsinya menjadi mes guru.
     Ketika duduk di kelas IV pada 1984, saya memasang papan nama bertulis Jalan Bugis di depan mes guru.  Ini lorong setapak menuju 20 toilet, satu-satunya akses kalau berniat berak.
     Kembali ke inti cerita.  Dari asrama Khomeini, 20 santri akhirnya berlabuh di bilik Anwar Sadat, sisi sebelah Barat asrama Hasanuddin.  Muhammadiyah Yunus ditunjuk sebagai pembina kamar.
     Pada pertengahan 1980, saya bersama sejumlah rekan yang berfisik jangkung, ditempatkan di kamar II asrama Datuk Ribandang.  Rayon ini merupakan asrama yang pertama kali dibangun di Pesantren IMMIM.  Kini, namanya menjadi rayon Fadeli Luran.
     Di kamar II, penghuni bukan sekedar berbadan besar, tetapi, juga nakal level bareccung (petasan).  Tiga bulan sesudah menjadi santri, saya berkelahi.  Sialnya, saya kalah.  Di masa itu pula, ada rekan yang nyaris adu jotos karena memperebutkan stensilan Yolanda.  Stensilan lusuh tersebut memuat cerita porno yang andal membuat santri pusing lima putaran kalau sudah membacanya.
     Kemasyhuran asrama Datuk Ribandang kian menggila berkat legenda yang sampai kini senantiasa memantik tawa.  Alkisah di suatu pagi, AS bertugas membersihkan kamar.  Ia tercenung lantaran tak ada alat pembersih.  Dengan suara menggerutu, ia melafalkan unek-unek dalam bahasa Ararea (Arab Tamalanrea).  "Uridu miknasah gairu maujud uknus" (saya mau sapu tidak ada menyapu).  Kata benda (مكنسة) tertukar dengan kata kerja (أكتسح).  Bahkan, ia menggunakan kata perintah, fi'il amri (uknus) untuk kata "menyapu".  Maksud yang hendak diutarakan yakni "saya mau menyapu, namun, tak ada sapu".
     Angkatan keenam Pesantren IMMIM yang menghuni pertama kali bangsal II rayon Datuk Ribandang tertera mencapai 40 santri.  Berikut nama masing-masing yang disusun sesuai abjad.
Ketua kamar ialah Rusdi, kelas V.
Abdul Haris Booegies
Abdul Hafid
Abdul Khalik
Abdul Salam
Ahmad Hidayat
Ahmad Natser
Agus Ambo
Agus Nawawi
Heriyanto
Irsyad Dahri
Ma'ruf
Mochtar Goval
Nasir
Nur Alim
Nur Lezy
Rusman
Sofyan


Selasa, 29 Agustus 2023

Juara Komentar


Juara Komentar
Oleh Abdul Haris Booegies


     Tiap Indonesia kalah di sepak bola, acap muncul ide besar di media sosial.  Bergemuruh hasrat supaya timnas memperagakan total voetball, jogo bonito, catenaccio atau tiki-taka.
     Memangnya gampang yang namanya total football?  Belanda saja tidak bisa lagi mempraktikkan total football. Mau jogo bonito?  Brasil justru digilas der Panzer 7-1.  Kekalahan paling memalukan di kandang sendiri pada 2014.  Sistem gerendel catenaccio malahan membuat Italia alpa di Qatar 2022.  Sementara tiki-taka sekarang sudah punah di Barcelona.
     Aspek yang membuat sepak bola Indonesia heboh yakni komentar.  Baik yang disampaikan oleh komentator di TV maupun tanggapan di media sosial.
     Kalau mendengar komentar orang Melayu, rasanya mereka lebih hebat dari pelatih selevel Sir Alex Ferguson, Jose Mourinho atau Jurgen Klopp.  Komentarnya selangit, prestasinya secuil.  Beruntunglah penonton lokal.  Sebab, komentarnya selalu juara dunia tanpa pesaing.


Selasa, 22 Agustus 2023

Four Wives


Life is nothing without four wives
(Abdul Haris Booegies)


Minggu, 20 Agustus 2023

Kristal Superman


Kristal Superman
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Saya melirik arloji.  Sekarang pukul 02.20.
     "Dua menit lagi kita sampai di kampus", gumamku.  Kami sekarang di jembatan Tello.
     Saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta bersama Andi Rian menumpang truk.  Tadi kami nonton midnight show di Cinema Paradiso.  Kami menyaksikan Compañeros yang dibintangi Franco Nero, Iris Berben serta Jack Palance.
     Sesudah nonton, kami menyusuri Karebosi sampai Masjid Raya, berjarak lebih satu kilometer.  Berharap ada mikrolet alias petepete.  Penantian kami sia-sia setelah 30 menit menunggu.  Tak dinyana, ada sopir truk tujuan Parepare berbaik hati mau mengantar kami ke Pesantren IMMIM.  Kami langsung berlompatan naik truk.
     Sesudah melewati jembatan Tello, langit mendadak bersinar terang.
     "Ada komet jatuh", seru Rian dengan wajah takjub.  Pandangan kami mengikuti komet yang muncul dari arah Timur.  Benda langit tersebut tiba-tiba mengeluarkan sinar merah.  Percik-percik cahaya pun berjatuhan laksana kembang api.
     "Mengapa komet itu pecah di langit.  Mestinya jatuh melengkung ke Barat setelah memasuki atmosfer", tanya Tirta.
     "Komet itu pasti malu-malu jatuh ke Bumi", ujar Rian
     "Sepertinya cipratan komet tersebut mengguyur pesantren", celetuk Hapip.
     "Berarti besok libur jika pecahan komet menimpa pesantren", celetukku.
     20 meter sebelum sampai di depan pesantren, truk berhenti.
     "Cocok kalau di sini kita diturunkan", puji Hapip.
     "Sopir ini pasti berpengalaman kabur saat bersekolah.  Sebab, pemali siswa yang bolos singgah tepat di depan sekolah", Tirta berkhotbah.
     "Terima kasih banyak, Pak", ucap Rian seraya menyunggingkan senyum.  Kami berempat mengangguk sebagai bentuk terima kasih,
     Tatkala kami hendak memanjak gerbang pagar kampus, sontak muncul seorang pria berbadan atletis.  Ia cuma mengenakan celana dalam.  Tubuhnya tinggi dengan tampang bule.
     "Orang gila", desis Rian.
     "Mana ada orang dengan gangguan jiwa berparas bersih", sahut Hapip.
     "Siapa kamu", tanya Tirta.
     "Superman, saya Superman".
     "Apa saya bilang.  Dia sinting.  Mengaku-aku Superman", ucap Rian.
     Saya mengajak Hapip, Tirta serta Rian untuk segera masuk ke kampus.  Saya mengantuk sekali.  Percuma menghiraukan orang gila pada dini hari ini.
     "Kamu Ogi.  Ini Hapip.  Ini Tirta.  Ini Rian".
    Kami berempat terkesiap.  Dari mana orang ini mengetahui nama kami.
     "Saya Superman alias Clark Kent.  Saya wartawan Daily Planet di Metropolis, Amerika".
     "Identitas Superman yang kau paparkan betul, tetapi, mengapa kamu telanjang", selidik Rian.
     "Tadi sewaktu terbang, saya bertabrakan dengan komet".
     "Hm, jadi empat menit lalu kau penyebab komet pecah berhamburan di langit?"  Tuduhku pada orang yang mengaku Superman.
     "Mengapa kamu tidak terbang ke Amerika untuk ganti baju", cetus Tirta.
     "Saya tidak bisa terbang".
     "Tadi mengaku Superman!  Mana ada Superman tidak bisa terbang", sindir Hapip.
     "Orang ini pasti bukan Superman, tetapi, Suparman", bisikku.
     "Kala bertabrakan, kristal hijau di sabuk celana dalamku terlempar.  Jatuh entah di mana".
     "Kristal itu pasti dari planet Krypton", celetuk Rian.
     "Betul.  Kamu banyak tahu tentang asal-usulku".
     "Kami semua penggemar Superman, namun, Superman yang dapat terbang.  Bukan Suparman", kataku sambil mengajak Hapip, Tirta dan Rian masuk ke kampus.
     Hapip mengikutiku di belakang.  Sementara Tirta serta Rian agak ragu masuk.  Keduanya merasa iba kepada Superman.
     "Ayo masuk!  Kita harus tidur.  Dua jam lagi kita shalat Shubuh", semburku dengan nada tinggi.

oooooOooooo


     Ketika kami tiba di laboratorium, tampak ada sinar hijau di sumur Selatan dekat pagar kawat berduri.
     Kami berjalan pelan ke perigi.  Khawatir itu cahaya senter garong yang jatuh atau binar hantu patah hati.
     "Jangan takut.  Apalagi, kita berempat.  Ini pesantren kita.  Kita wajib menjaganya dari pengacau", tegasku dengan lutut bergetar.  Napas Hapip terasa berat.  Di dahi Tirta, terlihat butir-butir keringat.  Sementara Rian lemas, agak berat melangkah.
     Tiada sesuatu di sekitar sumur.  Kami kemudian menengok ke dalam perigi.  Ada cahaya dari dalam air.  Benderang menyilaukan mata.
     "Apa itu yang menyala?"  Tirta bersoal.
     "Kristal hijau Krypton", seru Rian.
     "Pasti milik Superman", tegas Hapip.
     "Hapip, kamu yang turun", perintahku.
     "Enak betul menyuruhku.  Kamu saja!"
     "Tirta, kamu yang turun", kataku mendesak.
     "Air sumur ini dangkal,  Tidak sampai satu meter", ujar Rian.
     Tirta pun turun.  Air cuma sampai di perutnya.  Ia lantas menunduk untuk mengambil kristal.
     "Eureka, saya menemukannya.  Saya kini pemilik kristal Krypton", pekik Tirta.
     "Cepat naik", kataku.
     Tiba-tiba Tirta berkelebat bak puting beliung.
     "Hei, saya di sini", seru Tirta.
     "Astaga, bagaimana bisa kamu di atas atap laboratorium", kataku tidak habis pikir.  Saya mengedip-edipkan mata tanda tak percaya.
     "Tirta bisa terbang", sahut Rian dengan mulut melongo.
     Saya dengan Hapip saling berpandangan.  Ternyata orang yang mengaku Superman itu betul bila kristalnya terlepas.  Kiranya ia Superman orisinal, bukan gadungan.
     Tirta lalu turun dari atap persis burung yang mendarat di tanah.  Ia pun meletakkan kristal di bibir sumur.
     "Saya santri pertama di dunia yang bisa terbang.  Besok saya akan mengirim surat ke nenekku di Sidrap.  Mengabarkan jika saya Superman cadangan", tutur Tirta penuh kebanggaan.
     "Sebaiknya kita kembalikan krital ini ke pemiliknya", saran Hapip.
     "Jangan!  Ini sekarang kepunyaan kita", tandasku.
     "Itu namanya mencuri".
     "Di Amerika ada pepatah berbunyi "ambil apa yang kau temukan sekalipun pemiliknya mencari"  Kebetulan kristal ini barang impor dari Amerika", terangku
     "Ini bukan produksi Amerika.  Kristal ini dari planet Krypton", terang Tirta.
     "Kalau begitu, bagaimana bila kita terbang ke Minasa Te'ne.  Kita intip santriwati IMMIM yang masih terlelap", usulku penuh senyum kemenangan.
     "Itu ide paling menggairahkan, tetapi, berbahaya sekali", ujar Hapip.
     "Saya dengan Rian tidak sudi ke Minasa Te'ne untuk mengintip gadis yang sedang tidur", ujar Tirta dengan roman bergidik.
     "Tidak mengapa karena kau memang belum disunat", semburku sebal.
     Saat berdebat, tiba-tiba Supeman muncul merebut kristal hijau.
     "Inilah kristal Krypton yang terlepas dari celanaku ketika bertabrakan dengan komet.  Terima kasih santri yang baik hati telah menemukan kristal ini", ujar Superman dengan senyum khas sambil terbang.  Dalam sekejap, sosoknya hilang ditelan gelap malam.
     Saya langsung gugup.  Kristal itu belum saya sentuh, namun, sudah berpindah tangan.
     Terdengar pintu berderit.  Ustaz Syukur Baswedan yang tinggal di sisi perigi muncul dari balik pintu.
     "Mengapa kalian ada di sini!  Kalian piket malam atau latihan debat di sumur.  Ayo, ke bangsal masing-masing!"
     Kami berempat segera meninggalkan ustaz Syukur.  Saya bersungut-sungut sembari menyalahkan Tirta yang menaruh kristal di bibir sumur.  Saya juga menyalahkan Hapip serta Rian yang teledor, tidak waspada menjaga kristal.  Akibatnya, kristal Krypton enteng direbut oleh Superman.


Sabtu, 19 Agustus 2023

Waktu Media Sosial


Waktu Media Sosial
Oleh Abdul Haris Booegies


     Saya punya akun Facebook, X (Twitter), Instagram serta TikTok.  Dari empat media ini, saya memilih X sebagai sumber informasi.  Kalau ingin mengetahui peristiwa yang menjadi topik utama dunia, tentu X sulit tertandingi.
     Saya mengungkap ini karena khawatir ada yang menghabiskan waktu dengan media sosial, tetapi, tak memperoleh manfaat ilmu.  Apalagi, media sosial penuh trik, kepalsuan maupun berita sampah.  Di luar dugaan, justru inilah yang menghipnotis pecandu media sosial.
     Selama ini, saya membatasi diri di Facebook dan blog dengan menjadikannya sebagai media untuk menyebar gagasan.  Tentu saja, semua terpulang pada pribadi masing-masing.  Apakah menjadikan media sosial sebagai hiburan, wadah interaksi atau sumber pengetahuan.
     Bila ingin mengukur potensi diri di media sosial, maka, periksa postingan sebelumnya.  Baik yang kemarin atau 10 tahun lalu.  Apakah postingan itu mengandung nilai ilmu, informasi instan atau sekedar hiburan konyol untuk menyegarkan suasana.  Jika yang dipublikasikan lebih banyak hura-ria, sebaiknya segera ubah perspektif.  Sebab, sihir media sosial menjerumuskan orang pada kesia-siaan.  Demi Masa, energi terkuras, waktu pun habis di dunia yang menjadi panggung sandiwara ini!


Sabtu, 05 Agustus 2023

Hantu Gaun Merah


Hantu Gaun Merah
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Bakda Isya di malam Jumat ini, saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta dan Andi Rian berniat ke pasar tradisional di depan Pesantren IMMIM.  Kami hendak bersantai, melepas penat.  Tadi siang banyak santri pulang.  Maklum, Kamis.  Besok kami prei.  Tidak ada aktivitas belajar-mengajar.  Jumat merupakan hari Ahad di pesantren.
     Saya bersama Hapip duduk di bangku kantin yang telah tutup.  Kami menunggu Tirta serta Rian yang menggosok gigi di sumur.
     Mendadak terdengar suara melengking.  Saya dengan Hapip berpandangan.  Hapip lantas berlari ke arah suara.  Kami tiba di perigi ketika suara itu makin meraung.
     Di sumur, Tirta dan Rian tertegun.  Tidak berani beranjak.
     Suara tersebut dari 20 toilet di arah Barat.  Deretan toilet ini merupakan pembatas antara Pesantren IMMIM dengan danau Unhas.
     Saya, Hapip, Tirta bersama Rian tetap bertahan di perigi ketika santri lain mulai berdatangan.
     "Ada apa?"
     "Siapa yang berteriak?"
     Bertubi-tubi pertanyaan diarahkan entah ke siapa.  Dalam hitungan detik, sumur langsung dijejali santri.  Semua menahan napas karena suara histeris itu terus bergema.
     Ketika santri bertambah banyak, Hapip mengajakku ke sumber suara.  Kami pun ke kakus diikuti sejumlah santri.
     Remang membuat kami ragu melangkah.  Andai tiada cahaya Bulan, niscaya kami kian repot.  Sebab, cuma satu bohlam kecil di antara 20 WC.  Kami juga gentar gara-gara suara itu tak jeda bergema.
     Kami kemudian melihat seorang bocah berdiri gemetar di pintu toilet.  Wajahnya pucat.  Ketika melihat kami, ia pun berhenti meraung dengan mata melotot.
     "Ini Burhan, santri kelas I", ujar Andi Manoppo.
     "Ada apa?"
     Burhan tak mampu mengucap kata.  Bibirnya terlihat membiru akibat ketakutan.  Ia tampak lunglai.
     "Gotong ke klinik", usul Nasir.
     Dalam sepekan ini, tiga santri berteriak-teriak.  Lima malam lalu, Arman histeris karena mengaku melihat hantu.  Santri kelas II ini hendak BAB ketika di depannya berdiri wanita berbaju merah.  Dua malam berselang, giliran Sanusi yang dihadang hantu gaun merah.  Santri kelas I ini lebih fatal.  Soalnya, langsung pingsan.
     "Pasti Burhan juga melihat hantu gaun merah itu", simpul Tirta.

oooOooo


     Klinik kampus ramai didatangi santri kelas I.  Ini bentuk simpati atas musibah yang menimpa Burhan.
     Di ruang pimpinan kampus (pimkam), beberapa pengurus OSIS melaporkan insiden makhluk halus ini.  Ustaz Saepul Jamal sebagai pimkam cuma mengangkat tangan sampai dada tanda bingung menyelesaikan kasus metafisika ini.
     "Ini bahaya.  Ini bahaya", ujar Saepul, tanpa ada solusi untuk menjinakkan hantu bandel yang bergentayangan di 20 toilet.
     Sekretaris OSIS Amir Mujahidin, membisikku agar ke puang Suti.  Ia menetap di belakang pesantren, berjarak 10 menit jika berjalan kaki.
     Saya, Hapip, Amir bersama Rasmansyah lantas menemui puang Suti.  Tirta dengan Rian tidak ikut karena masih santri kelas III.
     "Kita harus secepatnya ke sana sebelum ia tidur.  Sekarang menjelang pukul 21.00", ujar Amir.
     Kediaman puang Suti berbentuk rumah panggung.  Ia tinggal bersama anak dan cucunya.
     "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh", serentak suara kami mengucap salam.
     "Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh", terdengar suata dari dalam rumah.  Pintu lantas terbuka.  Nur Aini, cucu puang Suti terlihat gugup ada empat cowok keren di hadapannya.  Nur Aini merupakan cewek yang banyak dibincangkan namanya di antara sesama santri.
     "Nenek puang, ada?"
     "Ya, ada.  Ini santri IMMIM?"
     "Betul, kami mau bertemu dengan nenek puang.  Penting sekali", jawab Amir.
     "Tunggu sebentar", ujar Nur Aini meninggalkan kami di depan pintu.
     Tidak berselang lama, puang Suti muncul dipapah Dewi, kembar Nur Aini.
     "Silakan masuk", suara Dewi begitu empuk.  Kaki kami pun berlomba melewati pintu.
     Setelah melihat kami duduk, puang Suti menatap kami.
     "Ada apa, anakku?"
     Hapip pun bercerita kalau sudah tiga santri melihat hantu bergaun merah.
     "Itu arwah Sunarti yang bunuh diri pada 1894.  Bunuh diri ini dipicu oleh perselingkuhan suaminya dengan tante Ong", papar puang Suti.
     "Tante Om?"  Saya bergumam sambil menyandarkan punggung ke kursi plastik.  Heran mendengar nama unik ini.
     "Tante Ong.  Nama lengkapnya Sidion.  Ia berasal dari Sarawak di Barat Laut Borneo.  Kala bocah, saya memanggilnya tante Ong karena cadel.  Lidah belum sempurna mengucap huruf S".
     "Bagaimana kisah perselingkuhan maut ini?"  Hapip tampak bersemangat ingin mendengar babad berujung kematian ini.
     "Saya berusia tujuh tahun tatkala peristiwa nahas ini terjadi.  Kami bertetangga.  Sunarti di sebelah kanan sedangkan Ong di seberang jalan".
     Pekerjaan suami Ong ialah tentara bayaran di angkatan perang kolonial Hindia Belanda.  Ia direkrut sebagai personel Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL).  Kerajaan Hindia Belanda kemudian mengirimnya ke Sumatera Barat.  Ini untuk menumpas sisa-sisa perjuangan pasukan Padri.
     Berbulan-bulan ditinggal suami, membuat Ong merana.  Kesepian memicunya mencari kehangatan lain.  Ia mencari pelampiasan dengan mengirim sinyal cinta ke Mustari, suami Sunarti.  Apalagi, rumah tangga Mustari-Sunarti sudah lama oleng karena tak punya anak.  Cekcok tiap hari mengakibatkan bahtera mereka di ambang karam.
     Sebelum menikah, Mustari merupakan kumbang jantan paling populer di Tamalanrea.  Gadis-gadis dari Tallo maupun Daya acap bertandang ke Tamalanrea sekedar untuk memandang paras ganteng Mustari.  Pemuda ini dianugerahi kulit bak langsat dengan rambut ikal kecil-kecil, keriting.  Rata-rata anak dara kepincut begitu melihat ketampanan Mustari.
     Ong serta Mustari yang didera asmara membara, akhirnya sering mencari kesempatan untuk melampiaskan rindu-dendam.
     Cinta terlarang ini akhirnya terendus oleh Sunarti.  Ia tahu suaminya main mata kelewat batas dengan Ong.  Mereka memadu kasih di telaga di tengah hutan lobi-lobi.
     "Telaga di hutan lobi-lobi?"  Hapip menyela hikayat puang Suti.
     "Telaga itulah yang kalian kenal sekarang dengan danau Unhas", tandas puang Suti.
     Di malam Jumat selepas Isya, Mustari menunggu Ong di telaga.  Di bawah cahaya Rembulan, kedua insan saling menggenapkan rindu dalam peluk hangat.
     Bersua pujaan hati membuat seluruh beban cair.  Keduanya memanjakan diri dalam kenikmatan.  Peluh bercucuran, napas saling memburu untuk tiba di tebing gelap yang memancarkan air kepuasan.  Meleleh menusuk inti Bumi.
     Mustari serta Ong yang mabuk kepayang tak menyadari kalau Sunarti yang memakai daster merah, berdiri satu jengkal di sisinya.  Mereka pun terperanjat lantaran aksi syahdu itu tertangkap basah oleh Sunarti.
     Mustari bersama Ong bukannya minta maaf atau lari pontang-panting tanpa sehelai kain.  Mereka justru mencerca habis-habisan Sunarti.
     "Kamu ini cuma perempuan miskin dan kolot!  Sudah miskin, mandul pula!" Sembur Ong dengan mata memicing tajam sembari menunjuk-nunjuk wajah Sunarti.  Lagak Ong persis tuan tanah yang menghardik budak pencuri satu biji mangga mengkal.
     Mustari kemudian menggenggam tangan Ong untuk pergi dari TKP seronok.  Meninggalkkan Sunarti yang terpaku akibat cemooh kasar.
     Esok hari pada siang, warga Tamalanrea geger bertubi-tubi.  Mayat Sunarti ditemukan mengapung di telaga.  Ia bunuh diri atas perlakuan suami serta penghinaan Ong.
     Setahun setelah kepergian Sunarti, seorang pemuda meraung-raung di telaga.  Ia mengaku melihat sosok pucat dengan gaun merah.
     Tahun-tahun selanjutnya, beberapa pemuda didatangi hantu berbaju merah di telaga.
     Semua remaja putra yang didatangi hantu Sunarti punya kesamaan.  Mereka pasti berambut keriting.
     "Jadi yang dicari Sunarti adalah orang yang berambut keriting?"  Desis Amir mencoba menarik kesimpulan.
     "Ya, sepertinya ia mengira orang berambut keriting itu adalah Mustari, suaminya", tandas puang Suti.
     "Burhan, Arman serta Sanusi memang santri berambut keriting", urai Rasmansyah seraya manggut-manggut.
     Saya berpandangan dengan Hapip.  Ia tersenyum.  Sementara hatiku melonjak girang.  Ini karena Tirta dan Rian berambut keriting.  Berarti dua bocah ini kelak didatangi Sunarti, hantu gaun merah.


Senin, 31 Juli 2023

40 Tahun Angkatan 8086 Pesantren IMMIM


40 Tahun Angkatan 8086 Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Angkatan keenam Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM merupakan lichting pelengkap dari Generasi Berlian Pesantren IMMIM.  Dalam artikel Klasifikasi Iapim, saya membagi alumni dalam empat kelompok.  Pertama, Generasi Berlian (1981-1986).  Kedua, Generasi Mirah atau merah delima (1987-1991).  Ketiga, Generasi Safir (1992-2017).  Keempat, Generasi Zamrud yang bermula di tarikh 2018 sampai sekarang.  Lapis terakhir ini merupakan alumni Moncongloe.
     Angkatan pertama sampai keenam merupakan sebuah kesatuan utuh.  Tidak terpisahkan sebagai perintis.  Tanpa tim keenam, mustahil ada santri kelas VI pada tahun ajaran 1980/1981.  Pesantren yang belum memiliki kelas VI, tentu tidak sempurna sebagai institusi pendidikan agama dan umum.
     Front keenam atau 8086 termasuk terbesar secara kuantitas selama kurun 80-an serta 90-an.  Pada pertengahan 1980, angkatan 8086 putra berjumlah 155.  Angka ini lantas susut menjadi 78 pada 1986.  Sementara alumni putri berjumlah 50.
     Jumlah 78 alumni putra tergolong gigantik selama 20 tahun.  Divisi 8086 sempat merajai Iapim sebelum memasuki tahun 2000.  Sisa-sisa kebesaran 8086 masih terlihat saat Mubes 2022.  Personel 8086 menjadi ketua steering committe.
     Selama 2010 sampai 2023, skuad 8086 tampak kewalahan.  Ibarat kata, nafsu besar tenaga lemas.  Kini, kaisar Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (Iapim) yang berprestasi tiada batas sekaligus tak terkalahkan yakni Angkatan 7985 dan 8288.  Kedua divisi punya kualitas karakter yang dapat mengubah perspektif.
     Kondisi 8086 yang payah, terus diupayakan agar kembali menjadi angkatan elite.  Bergelegak kerinduan warga 8086 untuk berpartisipasi secara selektif dalam aktivitas optimal.  Api segera dinyalakan supaya bisa menjadi penerang di tengah umat.  Tokoh-tokoh 8086 terus berembuk untuk tampil di penghujung sisa-sisa hegemoni.  Ini semacam sinyal agar orang mafhum bila Angkatan 8086 masih bertaji, tidak karam dalam kesendirian.
     Angkatan 8086 ingin melaju ke seberang yang sarat prestasi.  Berkehendak menorehkan momen-momen indah.  Ada gemuruh dorongan optimis di sisa hidup yang makin singkat.  Dewasa ini, mutlak menggaungkan ekstravaganza sebelum ada personel 8086 yang memakai tongkat, walker (alat bantu jalan) serta kursi roda.
     Dari desas-desus yang berembus, unit khusus 8086, agak bingung.  Apakah memilih Kamis, 24 April 1986 (15 Sya'ban 1406) atau Ahad, 22 Juni 1986 (15 Syawal 1406) sebagai tonggak empat dasawarsa 8086.
     Kamis, 24 April 1986 merupakan momen tatkala santriwan-santriwati 8086 khatam Ujian Nasional.  Sedangkan Ahad, 22 Juni 1986, termaktub sebagai hari penamatan 8086.  Kedua tanggal sangat bersejarah.
     Secara pribadi, saya memilih 22 Juni 1986.  Musababnya, tanggal ini merangkum secara komplet perjalanan 8086 sampai tamat.  Jika ini disepakati, maka, perayaan empat dekade 8086 jatuh pada Senin, 22 Juni 2026 (7 Muharram 1448).
     Komite reuni akbar 40 tahun perjalanan romantis Angkatan 8086 menyiapkan lokasi di Tamalanrea, Moncongloe maupun Barru, kediaman al-mukarram al-mahbub Hapip Berru.  Sementara tema yang diusung ialah "Sahabat Selamanya, Selamanya Sahabat".
     Berikut daftar alumni 1986 Pesantren IMMIM Putra Tamalanrea yang disusun secara abjadiah.
Abdul Aziz Yusuf
Abdul Hafid
Abdul Haris Booegies
Abdul Malik
Abdul Muiz Muin
Abdul Muqit
Abidin Husain
Agus Adnan
Agus Ambo
Agus Ramadan
Agus Salim
Ahbaruddin
Ahmad Afifi
Ahmad Hidayat
Ahmad Kuri Kilat
Ahmad Natser
Ali Yusuf
Ambo Siknun
Andi Arman
Andi Asri Lolo
Andi Fausih Rahman
Andi Muhammad Yusuf
Andi Martan Aries
Andi Syamsir Patunru
Ansyarif
Arfandi Dulhaji
Arifin Rahman
Armansyah
As'ad Ismail
Atmal Ariadi Djaenal
Awaluddin HK
Awaluddin Mustafa
Burhan Hamid
Chalid Lageranna
Daswar Muhammad
Fuad Mahfud Azuz
Hamid Seltit
Hesdy Wahyuddin (Oge)
Ikbal Said
Imam Setiawan
Irsyad Dahri
Irwan Thahir Manggala
Iskandar
Lukman Sanusi
Muaz Yahya
Muhammad
Muhammad Akbar Samad
Muhammad Arfah
Muhammad Ilham Suang
Muhammad Khuzaifah
Muhammad Thantawi
Muhammad Yunus
Muhammad Zaenal Hasyim
Muhammad Zubair Andy
Mutalib Besan
Ridwan
Rusman
Sabri Rata
Sahabuddin
Saifuddin Ahmad
Saifullah Nurdin
Saiful Latief
Shalahuddin Ahmad
Sirajuddin Omsa
Suharkimin
Syafaruddin
Tahir Mana
Wahyuddin Naro
Wahyu Muhammad
     Alumni 1986 Pesantren IMMIM Putri Minasa Te'ne alias Miss Teen.
Aisyah
Amriani Amin
Andi Tenri Ajrana
Darmawati
Darwiyanah N
Fakhriah Mumtihani
H Jumriah
Hariani
Harmawati
Hasnawati
Humaedah Kamal
Janiah
Julianti
Jumariah
Khaerani
Khaeriyah
Mardiah A
Mardianah
Marhani Jamil
Mulianah M
Muslika S
Najmiah
Nur Hayana
Nur Jamil
Nur Saida Beta
Nurhaedah
Nurhidayah
Nursaidah N
Nursyamsu
Nurul Fuada
Pahmiati
Rahma Afiah Agustiati
Rahmatiah B
Rasnah
Rosmiati C
Rosmiati T
Rostiah HL
Ruqayah
Siti Habibah
Siti Hasrawati HS
Siti Syahri Nur
Sukhriani S
Suriani B
Sutriani
Syamsidar
Syarifa Jama


Rabu, 19 Juli 2023

Hajar al-Magrib


Hajar al-Magrib
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dalam narasi umat Muslim, Hajar al-Magrib bukan tokoh utama dalam Islam.  Di kalangan orientalis, Hajar adalah sumber Islam.  Pembenci Islam punya versi cerita berdasarkan kitab sucinya.  Sementara kaum Muslim punya pula argumen.
     Orientalis bersama komplotan munafik dari kalangan Muslim menuduh kalau Hajar merupakan induk Islam.  Mengapa mereka membidik Hajar sebagai sumber Islam?  Sebab, orientalis ingin mengemukakan bahwa Islam itu agama dari budak.  Hajar tercatat sebagai budak Nabi Ibrahim menurut Tanakh serta Alkitab.  Padahal, tak ada bukti sejarah kalau Hajar merupakan budak.  Hajar tiada lain putri raja Magrib.  Tatkala Nabi Ibrahim ke Mesir, ia meminang sang putri.
     Dari mana tudingan ini jika Hajar adalah budak?  Ini serupa tuduhan bahwa penganut awal Islam cuma sekumpulan budak.  Padahal, fakta seterang Mentari menunjukkan bila orang Islam pertama yakni Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar ash-Shiddiq.  Trio ini diakui sebagai keturunan mulia suku Quraisy.  Ibnu Mas'ud yang penggembala kambing tertera sebagai penganut keenam Islam.  Orientalis, munafik maupun pembenci Maharasul Muhammad memang tidak bisa tidur nyenyak dengan Islam yang begitu indah akar, batang, ranting, daun dan buahnya.


Senin, 17 Juli 2023

Libur di Pesantren IMMIM


Libur di Pesantren IMMIM
Oleh Abdul Haris Booegies


     Libur sekolah merupakan momen paling menyenangkan.  Pasalnya, ada banyak waktu untuk beristirahat dan bercengkerama.  Vakansi acap diisi dengan bertamasya.  Ke pantai, ke gunung atau sekedar berjalan-jalan keliling kota.
     Di Pesantren IMMIM, libur merupakan berkah besar.  Sepekan sebelum libur, perlahan suasana mulai gaduh.  Dada bergemuruh karena bakal berjumpa dengan orangtua, saudara, keluarga atau kekasih.
     Malam sebelum pembagian surat izin, tas maupun ransel telah siap diangkut naik kendaraan.  Kerinduan untuk segera pulang ke rumah membuat sulit tidur.  Terbayang rumah, terbayang ayah serta ibu yang berlari menyambut dengan pelukan hangat.  Kakak atau adik turut berlari dengan pekik gembira.  Tetangga-tetangga pun ikut riang.  Sebuah panorama syahdu yang membuat hati berbunga-bunga.
     Sampai tengah malam, sebagian santri masih susah memejamkan mata.  Sebagian memeluk tasnya karena sudah tak tahan hendak pulang.

Bertahan di Kampus
     Usai sarapan, surat izin libur pun dibagikan.  Santri bergembira karena hari yang dinanti akhirnya tiba.  Roman muka tampak ceria penuh antusias.  Langkah kaki begitu ritmis ibarat menapak rindu demi rindu.
     30 menit selepas pembagian surat izin, kampus mulai lengang.  500 santri berlomba naik mikrolet (petepete).  Selama 30 menit, sopir-sopir mikrolet ketiban rezeki.  Musababnya, penumpang membeludak.
     Ketika masih kelas I dan II, saya menunggu mikrolet dari arah Daya di Kavaleri.  Ini agar cepat naik mobil.  Jarak rumahku dengan pesantren sekitar 15 km, dua kali naik mikrolet.
     Pukul 09.00, kampus makin sepi.  Santri yang tersisa terkadang berjumlah 50.  Beberapa di antaranya belum berkemas.  Bahkan, belum mandi.  Sebab, memilih pulang pada sore atau malam.  Mereka akan menumpang bus malam ke kampung masing-masing.
     Santri-santri yang tinggal, acap berkeliling kamar.  Berjalan dari pintu ke pintu mengisi waktu.  Jika bersua dengan santri di sebuah bilik, tanya pun berkumandang. "Mengapa belum pulang" atau "kapan pulang".
     Saat shalat Zhuhur, masjid nyaris kosong.  Tradisi santri di pesantren kalau libur ialah semua pause, termasuk istirahat ke masjid.  Sebuah tingkah-polah yang tidak logis untuk ukuran santri.
     Bakda Zhuhur, suasana pesantren kian sunyi.  Kalau ada santri tampak dari jauh, ada tanya di hati.  "Siapa gerangan itu yang belum pulang?"
     Bakda Ashar, santri makin susut jumlahnya.  Mereka seolah menghilang secara perlahan akibat dikejar kerinduan untuk mendekap kampung halaman.  Kini, yang tersisa sekitar 20 santri.  Sulit menghitung secara tepat karena kami berlainan tempat di antara 10 asrama.

Teri Menjelma Telur
     Bila libur sepekan atau 15 hari, biasanya koki banyak yang tinggal.  Di hari-hari biasa, koki tidak pernah keluar dari dapur.  Saat libur, mereka acap duduk-duduk di koridor kantor pimpinan kampus (pimkam) atau pos piket.
     Pukul 16.00, sejumlah koki menuju ke lapangan main voli bersama santri.  Tiap tim tentu campuran, gabungan santri dengan koki.
     Saya lebih memilih bergosip dengan koki di selasar dapur jika petang mulai merayap.  Pernah pula bermain hujan dengan dua koki cantik di suatu senja.  Persis adegan di film-film romantis.  Asyiknya tiada terkira.
     Setelah makan malam, mulai diketahui siapa saja yang tinggal di kampus.  Biasanya sekitar 10-15 santri yang bertahan.  Kami pun saling membuat rencana untuk bersama-sama menginap di kamar tertentu.  Ini semacam tindakan kepedulian terkecil.  Sebab, ada santri yang takut tidur sendiri.
     Rayon favorit yakni Imam Bonjol.  Ini memang asrama santri bandel.  Tempat berhimpun para jawara.  Di sini kerap menginap lima atau lebih santri.
     Saya senantiasa memilih tinggal sendiri di bilik.  Malas mengungsi ke kamar lain.  Selain itu, menghindari asap rokok.  Sohib yang berkumpul di satu ruangan, pasti merokok seraya main domino.  Repotnya, saya tak merokok serta tidak mahir domino.  Walau sendiri, tetapi, tak kesepian.  Pasalnya, punya banyak majalah sekaligus kaset lagu Barat.
     Tatkala kelas V, santri yang tinggal saat libur diperintahkan pulang.  Tidak boleh tinggal di kampus.  Maklum, tak disiapkan makan.
     Kami sesama santri yang tinggal pun melakukan protes senyap.  Bagaimana mungkin kami tidak diberi makan.  Sementara SPP bulan ini dibayar penuh.
     Pimpinan kemudian melunak.  Segelintir santri yang tinggal wajib memiliki kupon makan.  Kupon ini diambil di pimkam.  Diserahkan ke koki untuk ditukar ransum.
     Kami yang tinggal tidak puas.  Sebab, cuma diberi lauk berupa ikan kering serta teri.  Senpai Indra Jaya kemudian menghubungi bagian keuangan.  Jatah ikan kering pun berubah telur.  Ini baru lezat.

Mendadak Berbinar
     Libur di pesantren membuat kami lesu.  Sebab, tak ada aktivitas belajar.  Selain itu, sepi sekali.  Di hari biasa, kami berinteraksi dengan 500 santri.  Di masa libur, kami cuma bertemu 10 atau 15 santri yang berwajah lesu.
     Kesunyian di pesantren membuat kami mencari pertualangan baru.  Kami mengekspresikan agresivitas.  Menciptakan ketegangan serta sensasi.  Sebagai contoh, melempari ayam tetangga yang masuk ke pesantren.  Kami juga terjun ke sumur untuk menyelam.  Terkadang, kami menatap pohon mangga di depan aula.  Berkhayal ada buahnya supaya kami dapat melemparnya.
     Masa libur habis.  Rekan-rekan pun mulai berdatangan.  Di masa tersebut, ada transisi dalam jiwa.  Soalnya, sepi mendadak berbinar, bergemuruh-riuh.  15 santri berubah jumlahnya dalam hitungan jam menjadi 500.  Rekan-rekan bermunculan bagai gelombang cinta yang kembali ke akar.
     Saya biasanya pulang ke rumah kala sahabat-sahabat tiba di pesantren.  Inilah momentum bagiku untuk pulang berlibur ke rumah.  Tinggal di kampus selama vakansi merupakan bentuk tanggung jawab demi keamanan Pesantren IMMIM.  Saya puas pernah mengukir sejarah dengan menjaga pondok selama libur.


Amazing People