Jumat, 28 April 2023

Mana Mataku


Mana Mataku
Cerpen Abdul Haris Booegies


     Pukul 17.43, saya, Hapip Berru, Ahmad Tirta dan Andi Rian, tiba di kampus Pesantren IMMIM.  Tadi kami nonton Gremlins di bioskop Cinema Paradiso.  Di bioskop baru ini, kami bertemu dengan Siti Susan, Sukmawati, Siskawati Rahma serta Andi Dian.  Empat santriwati Miss Teen ini bakal meramaikan perayaan 1 Muharram 1406 di Karebosi.  Selepas nonton, kami berpisah arah.
     Suasana pondok menjelang Magrib, tampak sepi.  Santri-santri pasti tengah mandi.  Apalagi, banyak santri pulang.  Maklum, hari ini Kamis.
     Saat mendekati asrama Panglima Polem, sekonyong-konyong muncul Fuady.
     "Tadi Burnam kesurupan".
     "Kenapa bisa?"  Hapip bersoal dengan nada cemas.
     "Tadi kami ke belakang kampus mencari lobi-lobi".
     "Apa hubungannya lobi-lobi dengan kesurupan", gumam Tirta sambil termangu.
     "Pohon lobi-lobi yang dipanjat Burnam ternyata berpenghuni.  Angker.  Tadi sewaktu kesurupan, Burnam berteriak-teriak.  Mana mataku!  Mana mataku!"
     "Di mana sekarang Burnam", Rian bertanya.
     "Dibawa ke rumah sakit Faisal", jawab Fuady dengan mimik sendu.
     Fuady dengan Burnam merupakan kawan akrab.  Sekalipun berpostur kecil, namun, mereka terkenal badung.  Selama sebulan ini seusai santap siang, keduanya rajin ke belakang pondok untuk memetik lobi-lobi.  Kalau sudah mengunyah buah yang rasanya masam tersebut, mereka suka memamerkan giginya yang coklat.

*****


     Bakda Isya, saya, Hapip, Tirta dan Rian ke rumah Uak Biring Kanaya.  Berjarak lebih 300 meter dari Pesantren IMMIM.  Ia tinggal bersama tiga cucunya di belakang kompleks Kavaleri.  Usia Uak tergolong sepuh, mungkin di atas 90 tahun.
     Hikayat seputar Uak cukup menggetarkan.  Ia pendekar dari Sungai Tello yang berjuluk Macan Kumbang.  Pukulannya terlihat lembut laksana sepoi bayu, tetapi, mematikan bak puting beliung.  Uak tersohor sebagai petarung tangguh di kawasan Panaikang, Daya sampai Mandai.  Menurut bisik-bisik, kakeknya dulu pengawal pribadi Arung Palakka.
     "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh", ucapku sembari mengetuk pintu.
     "Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh".
     "Saya Ogi, Uak".
     "Santri IMMIM?"
     "Ya, Uak".
     Pintu kemudian terbuka.  Aroma dupa tercium sebagaimana di pedalaman yang membakar luban di malam Jumat.
     "Ayo masuk", terdengar suara Uak begitu lembut.
     Tirta bersama Rian tampak ragu masuk.  Cahaya remang-remang di ruang tamu sempit turut menambah segan kakinya menjejak lantai rumah.  Apalagi, ini malam Jumat Kliwon yang penuh energi magis.
     "Tidak pantas santri sultan gentar.  Ayo masuk", bisikku pada Tirta serta Rian.
     Tatkala kami duduk di tikar yang dihamparkan Uak, saya langsung memulai pembicaraan.
     "Uak, tadi ada santri yang kesurupan di hutan lobi-lobi dekat danau Unhas.  Ia berteriak-teriak; mana mataku, mana mataku".
     "Itu ulah arwah Lotong, jawara Tamalanrea yang mati mengenaskan 134 tahun silam".
     "Bagaimana kisah Lotong, Uak?"  Hapip mencoba mengorek informasi.
     "Simaklah babad yang kututurkan ini, anak muda", timpal Uak seraya duduk bersila.  Ia menerawang sebelum bibirnya bertitah dengan rangkaian kalimat.

*****


     Apa sesungguhnya yang terjadi dengan Lotong?  Bagaimana riwayat hakiki di malam jahanam tersebut?  Cerita ini bermula dari sebatang flora lobi-lobi setinggi 70 kaki, 200 meter dari kediaman Uak.  Terjadi di malam Jumat Kliwon pada 1851.
     Syahdan, Lotong mengasah kerisnya supaya kekuatan supranatural memancar di Kamis senja ini.  Ketika cahaya Mentari sirna oleh selubung malam, ia menuju ke belantara lobi-lobi.  Tangan kanannya menenteng keris.  Sementara tangan kiri mengepit Strigiformes, burung hantu.
     Di bawah sebatang pohon lobi-lobi nan rimbun, Lotong duduk berlutut sambil merapal jampi.  Ia berkonsentrasi.  Fokus untuk merebut kesaktian di malam Jumat keramat ini.
     Makin lama, kian kencang Lotong mendengungkan mantra.  Butir-butir keringat bercucuran dari raganya.  Ia tak peduli dengan suara jangkrik dari balik dedaunan atau embus angin yang kadang menggoyang ranting-ranting.
     Kala terdengar lolongan anjing, Lotong menengadah.  Bulan terlihat anggun dengan sinar benderang.  Senyum sekilas menghias bibir Lotong.  "Inilah momennya".
     Lotong mengusap-usap kepala burung hantu.  Burung ini dicurinya tadi siang di Fort Rotterdam.  Telah lama ia mendengar burung hantu bernama Strigiformes ini.  Hewan ini milik Sylvia Noordeinde, putri Laksamana Pieter van Leeuw, penguasa kolonial Belanda di Sulawesi.
     La Bekku, guru spiritual Lotong di dusun Lawawoi distrik Sidenreng pernah bersabda.  "Kelak, di sebuah benteng ada burung hantu kepunyaan anak dara bule.  Bila kau menukar matamu dengan mata burung itu, niscaya kau dapat mengamati musuhmu dari jarak seribu meter.  Dari puncak gunung tinggi, kau bisa memandang gadis-gadis dengan buah dada sebesar telur angsa yang sedang mandi di sungai.  Ini ilmu Pakkita Dongi, visi burung.  Belum pernah ada yang memiliki Pakkita Dongi selain leluhurku dari generasi ketiga".
     Lotong terobsesi dengan Pakkita Dongi.  Hatta, suatu hari, ia mendengar ada burung hantu di Fort Rotterdam.
     Kini, burung tersebut ada di tangannya.  Sejurus berikutnya, Lotong meraih keris yang berkilau memantulkan pijar bintang-gemintang.  Ia segera menebas leher burung hantu itu sampai putus.  Lotong lantas mencungkil kedua mata burung tersebut.  Lotong lalu meletakkannya di atas daun kering agar tidak bercampur dengan kerikil atau lobi-lobi masak yang berguguran.
     Lotong kemudian berdiri, menatap langit yang berhias kerlap-kerlip bintang.  Sebelum tengah malam, ia akan menjelma sebagai manusia digdaya dengan pandangan burung.  Ia bakal melihat semut berkeliaran sejauh jarak ringkik kuda terdengar.
     Lotong lantas menusukkan keris ke ujung pelipis untuk mengeluarkan biji matanya.  Perih seolah mencambuk pusat otaknya saat Lotong menarik keluar matanya.  "Tak pantas lelaki sejati mengeluh oleh rasa sakit", bisik Lotong menguatkan tekad.  Darah menyembur dari rongga mata, membasahi muka sampai leher.
     Perlahan, Lotong menunduk menaruh biji matanya di dekat mata burung hantu.  Ia lalu mencungkil lagi matanya yang sebelah.  Kali ini rasa sakit tidak sanggup ditahan.  Lotong mengerang seiring darah yang terus mengucur dari lubang matanya.
     Rintihan kesakitan Lotong rupanya terdengar oleh satu peleton prajurit Belanda.  Mereka ditugaskan untuk menangkap Lotong yang mencoleng Strigiformes.
     Tentara pilihan ini pun bergerak ke arah sumber suara.  Obor dinyalakan sembari bedil dikokang.  Maling itu harus ditangkap malam ini.
     Ketika Lotong meraba-raba mencari mata burung hantu yang tadi diletakkannya di atas daun kering, terdengar derap langkah terburu-buru.  Sedetik berselang, keheningan disentak oleh letusan bedil yang terdengar mirip kentut kerbau.
     "Jangan bergerak!"  Seru seorang serdadu yang memantau pergerakan Lotong.
     Lotong panik.  Musababnya, ritual sakral ini belum rampung saat mereka memergokinya.
     Lotong spontan mengendap-endap untuk mencari mata burung hantu.  Ia kemudian menemukan yang dicari.  Lotong pun bergegas memasang di rongga matanya.  Dengan tubuh berlumur darah, ia membusungkan dada seraya menghadap ke arah satuan elite Belanda.  Lotong menyunggingkan senyum sinis tanda mengejek.
     Satu peleton laskar VOC tersebut lantas membombardir Lotong dari balik pepohonan.  Jagoan Tamalanrea itu tak ciut.  Soalnya, punya ilmu kucing dengan tujuh nyawa cadangan.
     Tiba-tiba Lotong merasa aneh.  Pasalnya, ia tetap tidak dapat melihat kendati mata tersebut sudah terpasang.  Lotong akhirnya tersadar.  Kiranya bulatan yang dimasukkan ke lubang matanya bukan mata burung hantu, namun, lobi-lobi!
     "Bangsat, lobi-lobi sialan!", umpat Lotong geram.
     Di tengah desing peluru yang murka, Lotong merangkak sambil mengais tanah mencari mata burung hantu sekaligus matanya.  Napasnya tersengal-sengal.  Jerit histeris Lotong terdengar bagai raung binatang jalang yang terluka di ujung maut.  "Mana mataku!  Mana mataku!"


Senin, 17 April 2023

Menulis di Media


Menulis di Media
Oleh Abdul Haris Booegies


     Menulis di surat kabar dan majalah menjadi impian banyak insan.  Ini karena nama riuh dibincangkan berkat ide-ide yang diproduksi.  Kalau artis jago akting, maka, penulis jago gagasan.
     Pada 1989 saat mahasiswa, teman-teman meledek saya.  Semua bermula ketika Ahmad Muflih Saefuddin menyampaikan kuliah umum di auditorium Unhas.  Ia merupakan cendekiawan Muslim sekaligus mantan rektor Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.  AM Saefuddin juga kerap menulis di media nasional.
     Di tengah ceramahnya, AM Saefuddin menyebut namaku terkait Salman Rushdie.  Saya memang sempat menulis tentang Salman Rushdie di Panji Masyarakat.
     Banyak sahabat terpingkal-pingkal.  Mereka takjub campur geli karena AM Saefuddin tahu namaku. "Memangnya apa ilmumu sampai kau disebut tokoh dari Jakarta".
     Setahun selanjutnya, seorang pria berusia sekitar 60 tahun datang ke rumahku di Jalan Veteran Selatan.  Saat menyadari saya orang yang dicarinya, ia heran.  Matanya penuh selidik memandangku dari kepala sampai kaki.
     "Ini Haris Bugis yang sering menulis di Panji Masyarakat?"
     "Ya", jawabku malu-malu.
     "Saya kira Haris Bugis itu setua Kiai Sanusi Baco".  Ia kemudian mengelus-elus kepala, pundak serta lenganku.
     Kami lantas berbincang-bincang.  Di luar dugaan, ada putrinya di Fakultas Sastra Unhas.  Ternyata saya sama di jurusan Sastra Perancis.
     Saya berdandan di depan cermin.  Musababnya, malam ini dipanggil ke kantor redaksi Tribun Timur.  Data diri saya dibutuhkan untuk menghadiri gathering night Tribun Timur di Score, Mal Panakkukang pada Sabtu, 10 Februari 2007.  Undangan untuk hadir di rangkaian ulang tahun media ini berkat aktif mengirim makalah.  Sekitar 50 artikelku terpublikasi di Tribun Timur.
     Ketika bersolek, terdengar gurau anak.
     "Tak usah bergaya karena bukan artis".
     "Saya justru selebritas, pesohor koran", jawabku enteng.

Inovasi
     Anugerah berupa keandalan menulis tidak dimiliki banyak orang.  Populasi penulis hanya  organisme minim di Bumi.  Tak dapat pula dielakkan bahwa mayoritas penulis cuma jago kandang.  Mereka menulis di surat kabar lokal daerahnya.  Jarang yang berkiprah di media nasional terbitan Ibu Kota.  Maklum, persaingan teramat ketat.
     Tatkala artikel-artikelku terpublikasi di Pedoman Rakyat di awal karier jurnalistik, saya mencoba peruntungan di Panji Masyarakat.  Ini majalah besar yang berskala nasional.  Bahkan, beredar di luar negeri.  Di Panji Masyarakat, bercokol penulis-penulis level sultan.
     Saya lalu mencari varian jitu untuk menembus Panji Masyarakat.  Sebagai mahasiswa sastra, saya punya dasar perihal estetika kata.  Dari sini saya mengendus bahwa ada teknik mengarang yang betul-betul segar.  Metode tersebut yakni sinonim.
     Sebagai umpama di wacana berikut.  "Saya harus rajin agar pintar.  Kamu juga harus rajin agar pintar".  Di sini terlihat empat muradif yang elok diubah.  "Harus", "rajin", "agar" dan "pintar".
     Bila memaksimalkan penggunaan sinonim, maka, hasilnya terkesan atraktif.  "Saya harus rajin agar pintar.  Kamu juga mesti tekun supaya cerdas".
     "Harus" berubah "mesti".  "Rajin" menjadi "tekun".  "Agar" menjelma "supaya".  "Pintar" bermetamorfosis sebagai "cerdas".  Morfem dalam satuan bahasa berubah, namun, makna 100 persen secorak-sewarna.  Padanan kata menggerus sifat kalimat yang monoton.  Ini menjadi kekuatan tulisan.  Pasalnya, mencuat variasi yang begitu terasa di kalbu.  Ada sensasi yang membuat pembaca hanyut kala menyimaknya.
     Eksploitasi muradif dalam menulis belum pernah saya temukan di buku-buku atau pelatihan-pelatihan.  Inilah yang memantik untuk mendayagunakan sinonim sebagai inovasi dalam menulis.

Teliti
     Selepas menggubah naskah, saya langsung mengapikkan.  Mengubah kalimat agar puitis atau memenggalnya supaya selaras aturan pers.
     Ada dwitunggal morfem nan cantik dalam al-Qur'an di Surah Yusuf ayat 70 berbunyi اَذَّنَ مُؤَذِّنٌ (azzana muazzin).  Birama azzana muazzin (berseru penyeru) begitu indah laksana mendengar suara merdu Nabi Daud.  Larik berisi dua kata ini senantiasa tergiang di kepala jika saya merevisi karangan.
     Sesudah mengoreksi kanan-kiri, saya kemudian menandai segenap kata yang memiliki sinonim.  Ini memerlukan kesabaran serta ketelitian optimal.  Konsentrasi mutlak stabil.
     Dalam menulis, saya acap menuntaskan sebuah artikel selama empat jam.  Ini tergolong kilat khusus.  Terkadang butuh tempo 10 jam atau lebih.  Sementara mengedit memerlukan waktu di atas lima jam.  Tergantung tingkat kerumitan esai atau cerpen.
     Contoh muradif yang sering muncul di tulisanku.
Dan = serta
Itu = tersebut
Sudah = telah
Adalah = ialah
Semua = seluruh
Tiba = sampai
Akan = bakal
Sekarang = Kini
Sambil = seraya
Mau = ingin
Hampir = nyaris
Kalau = jika
Punya = milik
Sebab = pasalnya
Akibat = lantaran
Bisa = dapat
Ketika = saat
Contoh = misal
Juga = pula
Makna = arti
Acap = kerap
Kemudian = lantas
Sesungguhnya = sebenarnya


Kamis, 13 April 2023

Langgam Menulis


Langgam Menulis
Oleh Abdul Haris Booegies


     Sejak ada media online, saya merasa lebih mudah mengakses informasi.  Cukup dua kali klik di laptop, tablet atau smartphone, niscaya terpampang berita yang diinginkan.  Aneka jenis informasi tersedia di Internet.  Ini kemajuan besar bagi para pengelana ilmu.
     Suguhan kabar di media online, kiranya sering menggemaskan.  Ini gara-gara judulnya panjang.  Rata-rata judul memuat 15 kata.  Lebih payah lagi, judul tersebut menggurui.  Sebagai misal, menggunakan kalimat "Kamu Harus Tahu".  Sudah panjang, menggurui pula.
     Saya beberapa kali sebal tiada terkira kala menyelami sebuah berita di media online.  Judulnya bombastis.  Di luar dugaan, tidak ada substansi baru yang dipetik usai disimak.  Narasumbernya berasal dari kicau yang dicomot dari Twitter.
     Wartawan tak mau bersusah-payah menemui narasumber.  Ia enteng saja mengemas cuitan dari Twitter.
     Saya tidak habis pikir.  Di mana reporter bersangkutan belajar jurnalistik.  Saya terkenang saat mahasiswa.  Belajar seluk-beluk pers di sejumlah pelatihan yang diadakan perguruan tinggi.  Untuk menunjang keandalan menulis, saya pernah berlangganan 14 harian dalam sebulan, 20 tabloid mingguan dan tiap bulan minimal membeli 30 majalah baru.  Saban bulan, saya juga membeli puluhan majalah bekas di Jalan Sungai Cerekang.  Di samping itu, dalam sepekan berupaya membeli satu buku.
     Pengeluaran yang banyak, memacu saya produktif menulis.  Selama mahasiswa, saya menulis lebih 150 artikel di Panji Masyarakat, Pelita (Jakarta), Jayakarta (Jakarta), Surya (Surabaya) Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Pedoman Rakyat serta Fajar.
     Tiap menulis, saya berusaha membuat judul seirit mungkin.  Maksimal empat kata.  Pilihan judul mutlak mencerminkan sari pati makalah.
     Ada kecakapan yang luput dari perhatian wartawan dan penulis.  Bagaimana supaya tulisan enak dibaca sampai tuntas.
     Penentu tulisan yang baik ialah kalimat mesti pendek.  Kalimat harus di bawah 10 kata.  Selain itu, menyeimbangkan tulisan dengan sinonim.  Contohnya, bila dalam satu alinea yang memuat lima kalimat atau lebih.  Di paragraf tersebut tercantum dua kata "buku", dua "agar" serta dua "lampau".  Untuk memperindah artikel, elok mencari sinonim "buku".  Alhasil, tulisan tidak monoton.  Sinonim "buku" yaitu "kitab".  Kalau sudah mengaplikasikan "agar", maka, berikutnya gunakan "supaya".  Begitu pun "lampau".  Ada kata "silam" yang sepadan maknanya.  Sinonim membuat tulisan lebih variatif.  Bahkan, terkesan elegan.
     Implementasi sinonim merupakan metode yang selama ini saya pakai.  Ketika mahasiswa, saya senantiasa membatin.  Ide dalam artikelku sama dengan cendekiawan, seniman, doktor maupun profesor.  Persoalan muncul karena saya cuma mahasiswa.  Redaktur opini koran pasti lebih memprioritaskan doktor atau penulis-penulis tangguh.  Kiat terbaik bagi saya yakni mengamalkan sinonim untuk bersaing dengan pakar.  Ini juga jalan untuk memperkenalkan jurnalisme sastrawi yang masih minim diterapkan.
     Berkat mempraktikkan sinonim, saya yang berstatus mahasiswa pernah menulis artikel di harian Surya untuk menanggapi Prof Dr Mattulada serta Dr S Sinansari Ecip.  Filsuf Unhas Drs Ishak Ngeljaratan pun sempat saya kritik di sebuah harian lokal.

 

 

 

 

Menolak Artikel


Menolak Artikel
Oleh Abdul Haris Booegies


     Seorang penulis nasional pernah mengeluh.  Ia menemukan buku panduan bagaimana menulis yang baik di media.  Keajaibannya, pengarang kitab itu tidak pernah tersua karyanya di media cetak.  Bagaimana bisa menerbitkan buku teknik menulis, namun, tak pernah berkarya di surat kabar dan majalah.
     Di Facebook, saya menjumpai profil seorang teman yang mencatumkan data diri sebagai penulis buku.  Saya takjub, begitu hebat orang ini.  Padahal, saya tidak pernah menemukan tulisannya di koran serta majalah.  Setelah ditelusuri, ternyata kitab yang diterbitkannya sendiri adalah skripsinya.  Ia pun mengklaim diri sebagai penulis buku.
     Di periode digital ini, ada segelintir orang mengaku penulis.  Anehnya, kita tak pernah melihat artikelnya di surat kabar dan majalah.
     Penulis gadungan ini rupanya mempublikasikan karyanya di blog serta media sosial miliknya.  Ia pun bangga karena tulisannya beredar ke seluruh dunia.  Maklum, blog dan media sosial leluasa diakses di mana saja selama ada jaringan Internet.
     Dua contoh "penulis dahsyat" yang saya paparkan di atas, menunjukkan penggelapan identitas.  Merasa diri penulis lantaran artikelnya terbit di blog serta media sosial.  Padahal, blog dan media sosial tersebut merupakan akunnya sendiri yang ia kelola.  Tentu saja semua tulisannya terpublikasi.  Ia sendiri yang memposting di akunnya.  Ia sendiri yang membacanya.  Ia sendiri yang mengomentarinya.  Hasilnya, ia sendiri membaiat diri sebagai penulis.  Luar biasa!

Ditolak Terus
     Pada 1987, saya ikut pelatihan jurnalistik tingkat dasar.  Saya kemudian mengirim naskah ke Pedoman Rakyat.  Di masa itu, Pedoman Rakyat merupakan satu-satunya harian di Makassar.  Segenap goresan olah pikir yang saya kirim, hasilnya nihil.  Tidak tembus.  Pada Ahad, 24 Januari 1988, tulisanku akhirnya dimuat.
     Pemuatan pertama ini memacu semangat.  Saya terus memproduksi artikel, tetapi, tak diwartakan.  Tulisan pertama bukan jaminan bahwa esai berikut bakal dimuat lagi.  Ini membuat kewalahan.  Ini membuat saya berdarah-darah karena ada pengorbanan waktu, tenaga, pikiran serta anggaran.
     Sesudah berkali-kali ditolak, akhirnya risalahku pun sering terpublikasi di Pedoman Rakyat.  Saya lantas menggeser visi dengan mengirim komentar ke majalah Tempo.  Saya juga mengirim kreasi intelektual ke majalah Panji Masyarakat untuk diterbitkan di rubrik Forum Pendapat.  Di Tempo, Surat Pembaca dan Komentar boleh dimasuki orang di luar awak Tempo.  Dua rubrik ini mempunyai banyak penggemar.  Ihwal serupa terjadi di Panji Masyarakat.  Pembaca diperkenankan mengirim naskah ke Forum Pendapat.
     Komentar yang saya kirim ke Tempo mengalami nasib apes.  Tidak dimuat.  Kalau pun dipublikasikan, pasti dicincang-cincang.  Soalnya, Tempo teramat ketat mengedit tulisan.
     Setelah berkali-kali ditepis, akhirnya beberapa komentarku terpampang di Tempo.  Bagi saya, lebih baik menulis komentar di Tempo kendati honornya tak ada.  Sebab, nama langsung melambung tinggi.  Sejumlah pembaca Tempo di luar negeri merespons positif komentar saya via surat.  Tentu, ada pula yang marah.
     Di Panji Masyarakat, nasib saya cenderung cemerlang.  Artikelku berkali-kali tembus sesudah berkali-kali ditolak.  Bahkan, sempat menjadi kolumnis Panji Masyarakat.
     Pernahkah penulis gadungan di era digital ini teruji naskah-naskahnya?  Merasakan tulisannya dilecehkan, tidak dimuat?  Esai ditolak terus sampai mematikan spirit jurnalisme yang pernah dipelajari.  Coretan intelektualisme yang bersusah-payah dibikin semalam suntuk, cuma dibuang ke tong sampah.  Kita mengirim 10 tulisan, yang ditolak 11!  Kita merana menunggu artikel yang dikirim, kapan dimuat?


Selasa, 11 April 2023

Kebenaran Realitas dan Imajinasi


Realitas dan imajinasi terkadang mengingkari kebenaran
Abdul Haris Booegies


Senin, 10 April 2023

Kenakalan di Pesantren IMMIM


Kenakalan selama di Pesantren IMMIM merupakan lem yang menautkan jiwa-raga dengan almamater
Abdul Haris Booegies


Belajar Jadi Ustaz


Tiap malam selama Ramadan
Saya menunggu dering telepon
Berharap diundang sebagai penceramah
Kalau tidak ada dering telepon
Saya mengemas kopor dan tas
Hendak kembali ke Pesantren IMMIM
Untuk belajar menjadi ustaz

Abdul Haris Booegies


Minggu, 09 April 2023

Insan Sejati


Lelaki sejati punya lembah cinta di lubuk hati
Wanita sejati memiliki cakrawala kasih sayang di jiwa

Abdul Haris Booegies


Kejahatan Makhluk


Ada kejahatan di tiap makhluk Bumi sebagaimana mereka punya keluhuran
Abdul Haris Booegies


Sumur Kibar


Obsesi alumni Pesantren IMMIM Putra
"Mandi di sumur kibar"

Abdul Haris Booegies


Waktu adalah Amal


Waktu antara Jumat dengan Jumat berikut terasa bak pijar meteor yang sekejap.  Waktu yang berlalu cepat wajib dimaksimalkan.  Sebab, waktu adalah amal
Abdul Haris Booegies


Unta Merah


Sahabat sejati laksana unta merah yang bunting.  Langka, mahal sekaligus membahagiakan
Abdul Haris Booegies


Terapi Reuni


Reuni adalah terapi
Abdul Haris Booegies


Sabtu, 08 April 2023

Pembuat Sejarah


Kita menelusuri sejarah agar bernilai bagi kehidupan, tetapi, hanya segelintir petualang kehidupan menjadi pembuat sejarah
Abdul Haris Booegies


Masa Bukan Kesatuan


Masa lampau, masa kini dan masa depan bukan sebuah kesatuan.  Ketiganya berdiri sendiri.  Sebagai bukti, di zaman purba ada diktator.  Sampai sekarang ada diktator.  Manusia tidak bisa menghadirkan dunia tanpa diktator karena tiap masa terpisah sekaligus berdiri sendiri.  Masa silam, masa kini serta masa depan bukan segandeng waktu untuk belajar tentang sesuatu yang terdahulu.  Inilah yang menyebabkan diktator selalu muncul.  Sebab, manusia sekarang bukan bagian dari masa lalu yang pernah diperintah diktator.
Abdul Haris Booegies


Target Perspektif


Mencerna informasi saban waktu artinya memperbaiki perspektif untuk menjangkau target
Abdul Haris Booegies


Apa Itu Masa Lalu?


Apa itu masa lalu?  Untaian fiksi yang menjadi bahan penelitian para ilmuwan, sejarawan dan penggemar konspirasi
Abdul Haris Booegies


Jumat, 07 April 2023

Apa Itu Masa Kini?


Apa itu masa kini?  Refleksi sejarah sekaligus fatamorgana waktu yang akan datang
Abdul Haris Booegies


Fantasi di Kepala


Menulis bukan seberapa cerdas kau, namun, seberapa hebat fantasi berkeliaran di kepalamu
Abdul Haris Booegies


Imajinasi Inspirasi Dunia


Imajinasi merupakan modal utama penulis untuk menginspirasi dunia
Abdul Haris Booegies


Cinta Akar Cemburu


Cinta adalah akar semua cemburu
Abdul Haris Booegies


Imajinasi Sumbu Keindahan


Imajinasi adalah sumbu segenap keindahan
Abdul Haris Booegies


Kemustahilan Imajinasi


Imajinasi adalah alam yang penuh kemustahilan.  Kalau imajinasi hendak dikalkulasi secara empiris, niscaya pengetahuan tak pernah sanggup
Abdul Haris Booegies


Apa Itu Masa Depan?


Apa itu masa depan?  Sederet halusinasi yang disepakati tentang rangkaian waktu
Abdul Haris Booegies


Kemustahilan Santri Nakal


Menjadi santri memang terkurung, tetapi, tidak ada yang mustahil di pesantren selama kau nakal
Abdul Haris Booegies


Kamis, 06 April 2023

Pendukung Bolos


Saat saya menjadi santri di Pesantrren IMMIM.  Bukan seberapa pintar kau di kelas, tetapi, seberapa banyak teman yang mendukung kau untuk bolos
Abdul Haris Booegies


Sabar Jalan Surga


Kesabaran merupakan jalan menuju ke Surga
Abdul Haris Booegies


Keluarga Semu


Semua suami ingin mempersembahkan kebahagiaan untuk istri.
Sementara istri bertekad mencurahkan kehidupan terbaik bagi suami.
Keindahan berkeluarga ini bukan dalam rumah tangga hakiki.  Ini sekedar konsumsi publik agar terlihat harmonis demi meraih prestasi sosial di tengah masyarakat dan media

Abdul Haris Booegies


Sabar Pancaran Jiwa


Kesabaran adalah pancaran jiwa
Abdul Haris Booegies


Biar Lambat


Biar lambat asal tidak kembali ke awal perjalanan
Abdul Haris Booegies


Rabu, 05 April 2023

Memiliki Pilihan


Semangat mendorong ketekunan
Ketekunan melahirkan peluang
Peluang menghamparkan pilihan
Jangan bicara kesuksesan tanpa punya pilihan yang menentukan langkah selanjutnya

Abdul Haris Booegies


Usia adalah Penyesalan


Usia adalah Penyesalan
Puisi Abdul Haris Booegies


Waktu habis sia-sia
Dalam senda-gurau siang-malam
Ketika mencoba bangkit
Kegagalan silih-berganti mengoyak
Ratap menggema
Memanggil simpati
Pertolongan tiada muncul
Di ujung hayat
Manusia tersadar
Usia di dunia hanyalah tumpukan penyesalan


Selasa, 04 April 2023

Alumni Almamater


Alumni laksana kupu-kupu
Almamater ibarat taman bunga
Indahnya reuni

Abdul Haris Booegies


Tiga Pengguncang Jiwa


Tiga hal yang selalu mengguncang jiwa ialah ayah-ibu, persahabatan serta almamater.  Ketiganya identik dengan pengorbanan dan semangat
Abdul Haris Booegies


Reuni Tak Berakhir



Reuni alumni hanya berlangsung sehari, namun, pesta itu sesungguhnya tidak pernah berakhir.  Sebab, seluruh kenangan membentuk atmosfer di almamater
Abdul Haris Booegies


Senin, 03 April 2023

Arsitek Kehidupan


Tiap manusia merupakan pengguna waktu dan arsitek kehidupan bagi dirinya.  Seluruh susunan kehidupan yang sekarang dirasakan adalah ikhtiar kita di masa lalu dalam menggunakan waktu untuk merangkai kehidupan
Abdul Haris Booegies


Minggu, 02 April 2023

Menghimpun Tekad


Tamat di Pesantren IMMIM ibarat menghimpun tekad.  Tiap hari tekad itu dikumpulkan selama enam tahun.  Diulang tanpa lelah sampai menggunung bak bukit cinta.  Alhasil menjadi benteng terhadap bujukan untuk keluar sebelum tamat
Abdul Haris Booegies


Meminjam Mimpi


Meminjam Mimpi
Puisi Abdul Haris Booegies


Bila kau tidur
Bolehkah kupinjam mimpimu?
Hendak kujejak benua
Hendak kuarung samudera
Hendak kudaki gunung
Hendak kutanya Rembulan
Mengapa Mentari tak bersinar
Kala pujangga membutuhkannya sebagai pelita di malam hari
Untuk menulis selaksa munajat cinta


Usia Penghalang Almamater


Usia tua bukan penghalang untuk terus mengenang almamater sebagaimana usia tua bukan penghalang untuk terus belajar
Abdul Haris Booegies


Sabtu, 01 April 2023

Menikmati al-Qur'an


Ketika mendengar al-Qur'an pada bulan biasa, kita menikmati alunannya
Ketika mendengar al-Qur'an pada Ramadan, kita menikmati maknanya

Abdul Haris Booegies


Berhenti Cinta Almamater


Alumni bisa berhenti mencintai almamater, tetapi, almamater tidak pernah berhenti mencintai alumni
Abdul Haris Booegies


Amazing People