Jumat, 20 November 2020

Membela Kehormatan Pesantren IMMIM


Membela Kehormatan Pesantren IMMIM
(Bagian kesebelas dari 21 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Kala asyik membombardir alumni durhaka tukang ikut campur, seorang teman mengirim pesan.  "IMMIM tak punya tokoh kiai.  IMMIM berjalan sebagai sebuah sistem.  Kalau sistem diserang, ini berbahaya.  Sebab, tidak ada figur sentral yang meredam serangan".
     Saya termangu, bagaimana jika ada orang luar menyerang.  Ia tangguh merangkai narasi guna memanipulasi persepsi.  Urat takutnya juga sudah putus.  Ia leluasa main seruduk persis banteng terluka.  Ditambah memiliki tim yang sanggup menghantam secara sistematis di tiap lini.  Adakah warga IMMIM, khususnya alumni yang rela berdarah-darah menghadapinya di medan laga terdepan.
     John Naisbitt bersama Patricia Aburdene dalam Megatrends 2000 meramal sepuluh arah baru untuk 1990-an.  Satu di antaranya yakni Kejayaan Individu.  Ini menarik bila dikaitkan dengan IMMIM (Yasdic, Gedung IMMIM, Pesantren dan IAPIM).
     Sepeninggal ayahanda tercinta Haji Fadeli Luran pada 1992. IMMIM tak punya sosok sentral sebagai pemersatu sekaligus mediator.  IMMIM tidak memiliki tokoh yang dapat mengubah serta menyatukan aspirasi secara menyeluruh.  Dinamika yang ada selama ini bisa berjalan karena dimotori organisasi.
     Figur sentral acap lebih kokoh dibandingkan sistem.  Musababnya, individu tangguh lebih efektif melakukan perubahan ketimbang organisasi.  Sosok sentral andal menggerakkan massa untuk berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain.  Ayatollah Ruhollah Khomeini dan al-Mukarram Imam Besar Umat Islam Habib Rizieq Shihab, sebagai contoh.  Keduanya mampu membuat orang datang berduyun-duyun berkat kharisma, bukan iming-iming materi.  Tak ada CEO dari korporasi global yang dapat membuat orang rela berjalan kaki untuk menyambut kedatangannya.  Mark Zuckerberg saja cuma disambut ala kadarnya di Indonesia.  Padahal, bos Facebook tersebut menyimpan lebih satu miliar data pribadi penduduk bumi.
     Tokoh sentral IMMIM mustahil muncul dari alumni dalam beberapa tahun mendatang.  Pasalnya, secara sepintas, program utama alumni ialah reuni.  Kalau reuni, mereka jagonya.  Kegiatan sebelum serta setelah reuni bakal bergema berhari-hari di media sosial.  Ahlu ar-reuni ini terus-menerus menggorengnya sampai gosong siang malam.  Apalagi ada sugesti dari santri pelarian alias tidak tamat.  Santri DO (drop out) turut menambah seru kisah reuni sampai terdengar di cakrawala.  Motto alumni kekinian: "Jalan ninjaku adalah reuni".  Lebay bangets bagi mantan calon ulama intelek.
     Figur sentral merupakan fondasi maupun unit dasar perubahan.  Kita merindukan sosok sentral supaya tak terjadi kemelut internal yang radikal.  Ketiadaan insan super elite akan merepotkan IMMIM jika terjadi kisruh.  Apalagi bila muncul begundal minus filosofi etika yang loncat pagar mencampuri urusan yang bukan wewenangnya.
     Tidak ada yang menginginkan Republik Dendam di IMMIM, terutama sesama alumni.  Semua berharap muncul Dinasti Silaturrahmi yang memegang teguh keharmonisan.  Visi tetap suci demi membela kehormatan IMMIM.

 

Senin, 16 November 2020

Kiamat Sugra Pesantren IMMIM


Kiamat Sugra Pesantren IMMIM
(Bagian kesepuluh dari 21 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


      Mimpi-mimpi buruk sejak akhir Agustus sampai menjelang ujung 2020, terus berkecamuk dalam kasus penjualan lahan Tamalanrea.  Ini perjuangan panjang yang bakal menguras pikiran serta tenaga.  "IAPIM Perjuangan" tetap fokus untuk melakukan perlawanan demi kegemilangan Kampus Moncongloe.
     "IAPIM Perjuangan" merupakan forum komunikasi alumni yang 100 persen berbakti kepada ayahanda tercinta Haji Fadeli Luran.  "IAPIM Perjuangan" akan "mendengar dan taat" apa saja titah Yasdic sebagai warisan impresif Fadeli Luran.  "IAPIM Perjuangan" bukan alumni tukang ikut campur.  Bukan alumni minus etika yang seenaknya mengintervensi Yasdic.
     Hari ini, wajib ada revolusi lokasi agar Pesantren IMMIM tidak terbenam dalam kompetisi.  Paradigma baru di Moncongloe mutlak disambut penuh optimisme mengingat Tamalanrea telah keropos sekaligus mengalami krisis lingkungan.  Tamalanrea sudah uzur sebagai cakrawala cemerlang guna melahirkan ulama intelek nan brilian.  Tamalanrea menjelma cita-cita cacat, bukan lagi struktur sentral Pesantren IMMIM di abad 21.  Kampus Moncongloe bakal muncul secara eksklusif serta elegan di tengah kompetisi sekolah agama semacam pesantren.
     Agenda "IAPIM Perjuangan" yang paling mendasar yaitu mendesakkan perubahan lahan secara agresif supaya Pesantren IMMIM enteng bersaing di dekade berikut.  Revolusi lokasi merupakan antisipasi radikal terhadap persaingan sekolah agama.
     "IAPIM Perjuangan" tak mengakomodasi nostalgia-nostalgia sontoloyo dari alumni durhaka tukang ikut campur.  Dunia berubah cepat, jangan berjalan gontai demi artefak-artefak masa silam Tamalanrea.  Dasar cengeng.
     Tergelitik rasa usil melihat perangai alumni tukang ikut campur. Apakah kalau kas Yasdic kosong, kau mau membantu secara sukarela?  Seperti saja punya uang!  Kenang yang dulu saat memiliki jabatan, tetapi, tidak pernah mengulurkan bantuan finansial untuk pesantren.  Apalagi sekarang di zaman peceklik ekonomi.  Makan saja kau susah!
     Ihwal yang membuat saya heran, mengapa alumni begitu gatal mencampuri urusan Yasdic.  Siapa yang merekomendasikan hawa nafsunya untuk mengusik Yasdic.  Apakah mereka memang gerombolan kesurupan atau dilanda kemelut keuangan.  Kawanan ini mungkin mencari lahan penghidupan baru.  Hingga, aksi norak ini semacam langkah kecil untuk secara perlahan merebut Yasdic.  Siapa tahu.  Hanya setan di kepalanya yang paham.  Bagi saya, biarkan Yasdic berkreasi.  Bukan urusanmu jika Yasdic berkehendak menjual Tamalanrea.  Sederhana sekali ini masalah.  Silakan alumni menuntaskan persoalannya.  Yasdic pun menata programnya.  Selesai perkara.  Kasus ditutup.
     Golongan yang andal bernalar pasti ternganga oleh ulah gatal alumni tukang ikut campur.  Bagi saya, ini percik huru-hara di akhir zaman.  Ini kiamat kecil yang menimpa Pesantren IMMIM.
     Teramat disayangkan ketika Pesantren IMMIM dikelilingi saingan, terjadi kemelut intern.  Bila kasus ini berisik tanpa jeda di media sosial maupun blog, maka, persepsi masyarakat terbentuk.  Ada perselisihan akut di Pesantren IMMIM yang dihembuskan pertama kali oleh alumni tukang ikut campur.  Almamater tercinta pasti diasingkan dan terasing dari masyarakat.  Biangnya tentu saja alumni kepala batu yang menghalangi penjualan Tamalanrea.
     Lahan Tamalanrea boleh jadi ingin dijual untuk menghadapi kompetisi di bidang pendidikan.  Sebab, saingan makin banyak.  Pesantren IMMIM akan repot kalau tak punya sumber dana baru dalam mengembangkan Kampus Moncongloe.  Tanpa anggaran segar, segalanya bisa musnah.  Dewasa ini, dunia bergemuruh dalam gelora kehidupan karena ada rangkaian kompetisi.
     Tidak terbayang dalam imajinasi paling liar bahwa ada alumni bermerek generasi abnormal dengan mental illness yang di ujung usianya menantang Yasdic.  Sudah bau tanah, masih juga berlagak.  Padahal, seyogianya mereka bergandeng tangan dengan Yasdic demi mengembangkan Pesantren IMMIM yang berada di tikungan tajam persaingan.
     Wajib dipahami agar jangan bergerak ke arah masa depan tunggal.  Saya yakin Yasdic berikhtiar mencari masa depan alternatif dengan fokus membangun Kampus Moncongloe.  Besar harapan saya supaya begundal penghalang Yasdic secepatnya mati bergelimpangan dirajam corona.
     Alumni tukang ikut campur barangkali menganggap monografi ini menyakitkan.  Begitu pula ulahmu yang menghalangi Yasdic menjual Tamalanrea.  Menyakitkan bagi "IAPIM Perjuangan".  Bahkan, secara vulgar mengancam mau mengambil alih pesantren.  Tidak segampang itu kau rebut!  Saya wakafkan semua darahku demi mempertahankan Pesantren IMMIM!
"AYO KITA PERANG!"


Rabu, 11 November 2020

Pesantren IMMIM Mencari Alien


Pesantren IMMIM Mencari Alien
(Bagian kesembilan dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pasca penjualan lokasi Pesantren IMMIM di Tamalanrea, mendadak pembangunan bergulir siang-malam di Moncongloe.  Tidak dapat dipungkiri kalau Griya Ulumul Quran dan Laboratorium Antarplanet merupakan primadona Pesantren IMMIM Moncongloe.
     Griya Ulumul Quran adalah wadah guna meneliti makna sekaligus maksud al-Quran.  Misalnya, tahun berapa nama Fir'aun disematkan ke Raja Mesir.  Seperti diketahui, Fir'aun awalnya nama istana penguasa Mesir.  Ini serupa dengan White House atau Kremlin.  Menyebut White House, langsung terbayang Presiden Joe Biden.  Menyebut Kremlin, sontak terbersit Presiden Vladimir Putin.
     Di Mesir setelah era emas pemerintahan Nabi Yusuf, istana dinamakan Fir'aun.  Secara perlahan, raja yang tinggal di istana akhirnya disebut Fir'aun.  Secuil kabar dari secarik prasasti ukhrawi menegaskan jika Fir'aun luar biasa kurang ajar.  Ia pembangkang risalah Nabi Musa.
     Griya Ulumul Quran Kampus Moncongloe menjadi otak bagi Laboratorium Antraplanet Pesantren IMMIM.  Laboratorium ini merupakan ruang yang multidimensi, realistis serta fleksibel.  Griya Ulumul Quran akan memasok data ke Laboratorium Antarplanet.  Umpamanya, teks Ilahi menandaskan bahwa:  "Kami padamkan tanda malam" (al-Isra: 12).
     Dulu, bulan menyala laksana matahari.  Tatkala kehidupan segera dimulai di bumi, maka, Allah memadamkan lautan api di bulan.  Bukti ilmiahnya yakni di bulan terdapat dataran-dataran tinggi, lubang-lubang besar dan kawah-kawah gunung berapi.
     Dalam Surah Fushshilat ayat 37, tersembul kata khalaqahunna (menciptakannya).  Kata ini mengacu bahwa "Allah menciptakan matahari-matahari serta bulan-bulan".
     Bisa dipastikan ilmuwan Muslim awal kebingungan dengan teks al-Qur;an.  Sebab, matahari dan bulan cuma satu.  Seiring perjalanan waktu dengan ditemukannya teleskop canggih, akhirnya misteri ayat-ayat Ilahi terungkap.  Jamaah astronom menemukan lebih 200 juta matahari di alam semesta.  Jumlah ini terus bertambah selaras eksplorasi angkasa.  Sementara astronom repot menghitung jumlah bulan saking banyaknya.
     "Bulan kehilangan cahaya.  Kemudian matahari serta bulan dikumpulkan" (al-Qiyamah: 8-9).
     Analisis sains menuturkan bahwa tiap tahun bulan menjauh tiga centimeter dari bumi.  Makin jauh bulan berarti cahayanya terlihat kian pudar di bumi.  Kelak, bulan masuk medan gravitasi matahari.  Bulan terseret lantas membentur seraya meledak di permukaan matahari.  Inilah yang dimaksud oleh al-Qur'an.  "Bulan kehilangan cahaya.  Lalu matahari dan bulan disatukan".
     "Allah menciptakan tujuh langit, seperti itu pula jumlah bumi" (ath-Thalaq: 12).  Di alam semesta ada tujuh bumi sebagaimana pemaparan al-Qur'an.  Ini berarti tugas Laboratorium Antarplanet Pesantren IMMIM untuk mencari enam bumi yang berada entah di mana.
     Ada kekeliruan dalam menerjemahkan al-Qur'an.  Musababnya, ada yang mengira "langit bersusun tujuh serta bumi berlapis tujuh".  Padahal, ada tujuh langit, begitu pun bilangan bumi.  Jadi, jumlah langit tujuh, jumlah bumi tujuh.
     Ilmuwan di Badan Antariksa Amerika (NASA) pernah tertegun.  Pasalnya, sekeping meteoroid yang jatuh di Australia mengandung zat asam amino.  Ini mineral utama pembentuk kehidupan.
     Selama ini lewat teleskop radio, ditemukan uap air, karbon monoksida dan zat amonia di sejumlah bintang.  Ini unsur utama bagi makhluk hidup.
     "Allah menebar makhluk-makhluk melata di langit serta bumi" (asy-Syura: 29).  Makhluk melata dalam ayat ini dinamakan dabbah yang berjalan dengan kaki, dua atau lebih.  Unsur utama pembentuk tubuh makhluk biologis ini yaitu air.  Dabbah juga berakal.  Andal merekonstruksi kehidupan.  Dr Nadiah Thayyarah menegaskan bahwa malaikat bukan dabbah.  Maklum, malaikat terbuat dari cahaya.
     Dabbah dalam bahasa populer Hollywood dinamakan Alien.  Ia tertera sebagai makhluk asing yang berasal dari luar angkasa.  Tidak diketahui apakah raga Alien tersusun dari karbon dan nitrogen layaknya manusia.  Di sini fungsi Laboratorium Antarplanet Pesantren IMMIM.  Ekspektasi digelorakan supaya santri sanggup mendeteksi molekul misterius Alien yang tersebar di beberapa planet maupun benda langit.
     Hollywood teramat subur menghasilkan prototipe Alien.  Di antara seluruh Alien produksi Hollywood, jelas Alien di film Predator sulit terlupa.  Wujudnya mirip ksatria samurai.  Berambut gimbal serupa rambut Ruud Gullit dengan wajah mirip bulldog.  Walau definisi ototnya terlihat gagah-perkasa, tetapi, kurang ajarnya minta ampun.  Alien ini doyan mengoleksi tengkorak korbannya.  Arnold Schwarzenegger sampai setengah mati menumpasnya.
     Maharasul Muhammad bersabda: "Allah penguasa tujuh langit dengan segenap yang dinaunginya.  Allah penguasa tujuh bumi dengan segala yang dinaunginya".
     Dalam Hadis yang diriwayatkan Bukhari bersama Muslim, disebutkan pula tujuh bumi.  "Siapa berbuat lalim sepanjang satu jengkal tanah, niscaya ditimpa beban seberat tujuh bumi".
     Saya berharap, suatu hari nanti, ada Alien mendaftar sebagai santri di Pesantren IMMIM Moncongloe.  Imajinasi saya bukan spekulasi.  Sebab, Allah bertitah: "Allah Mahakuasa mempertemukan semua bila Ia berkehendak" (asy-Syura: 29).
     Fir'aun kurang ajar.  Alien versi Predator kurang ajar.  Adakah lagi yang kurang ajar?  Tentu ada!  Siapa lagi kalau bukan alumni tukang ikut campur.  Mereka merupakan gerombolan akhlakless (minus etika) yang sok menghalangi Yasdic menjual Tamalanrea.
     Kawanan ini tak lebih dari rangkaian watak negatif.  Bukan urusannya, namun, bernafsu turut terlibat.  Memalukan sekali perangainya.  Manusia diciptakan dari sari pati tanah.  Saya curiga, alumni tukang ikut campur lahir dari tanah sengketa.

Sabtu, 07 November 2020

Potret Masa Depan Pesantren IMMIM Moncongloe


Potret Masa Depan Pesantren IMMIM Moncongloe
(Bagian kedelepan dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Penampakan Pesantren IMMIM di Moncongloe pasca penjualan Tamalanrea begitu mempesona berkat konsep unik.  Pondok modern pendidikan al-Qur'an tersebut berdiri di lahan seluas 12 hektare.
     Masjid pesantren ditahbiskan sebagai penentu waktu rutinitas keseharian.  Sebagai misal, usai shalat Dhuhur, maka, santri diarahkan ke dapur untuk makan siang.  Contoh lain, bakda Isya pada pukul 20-22, santri wajib ke kelas untuk belajar.
     Bangunan utama setelah masjid ialah Auditorium Fadeli Luran.  Segenap bangunan menggunakan nama-nama figur legendaris yang pernah berjasa di Pesantren IMMIM.  Umpamanya, Kuttab Nasruddin.  Nasruddin tertera sebagai santri pertama Pesantren IMMIM yang sukses menghafal 30 juz.  Al-kuttab merupakan sistem pendidikan klasik di zaman Maharasul Muhammad.  Kuttab Nasruddin merupakan aula hafiz, terletak di sisi danau buatan yang dikelilingi hutan pesantren.
     Hutan didesain di pesantren karena tumbuhan membutuhkan CO2 untuk fotosintesis.  CO2 kemudian disimpan dalam kayu, daun dan tanah.  Pohon yang menyerap CO2 lantas menyejukkan suasana.  Fungsi lain hutan ialah bisa menggunakan fitoremediasi demi membersihkan polutan.  Ketiadaan hutan mengakibatkan suhu panas.  Sebab, awan terdorong ke kutub.
     Kuttab Nasruddin bersebelahan dengan Griya Ulumul Quran.  Bangunan ini merupakan wadah buat mempelajari ilmu-ilmu al-Qur'an.  Aneka tafsir klasik sekaligus modern berjejer di rak.  Terjemah al-Qur'an pun tersedia lebih 300 bahasa, termasuk bahasa Bugis.
     Bangunan tertinggi di Kampus Moncongloe yakni perpustakaan.  Berlantai lima dengan sebuah food court bermenu masakan Amerika serta sajian penganan Timur Tengah.  Di lantai atas terletak perpustakaan bahasa lengkap dengan laboratorium bahasa.
     Bangunan penting lain ialah laboratorium.  Ada tiga laboratorium futuristik di Kampus Moncongloe.  Pertama, Laboratorium Nanosains guna menerawang manipulasi material pada skala makromolekuler.  Kedua, Laboratorium Nanoteknologi untuk menelisik manipulasi benda pada dimensi atomik.  Ketiga, Laboratorium Antarplanet untuk melakukan penginderaan jauh dan penelitian lingkungan antariksa yang sarat misteri.
     Bangunan populer yang ramai usai shalat Shubuh serta Ashar yaitu Gelanggang Olahraga Indra Jaya Mansyur.  Gelanggang ini dilengkapi kolam renang dan lapangan bola.  Selain itu, ada dojo untuk karateka Black Panther.  Di sisi gelanggang, ada Pusat Kegiatan Seni Santri (PKSS).  Ini untuk merangkum ide serta kreasi santri.
     Dulu di Tamalanrea, nama asrama antara lain Datuk Ribandang, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Raja Khalik atau Ibnu Khladun.  Di Moncongloe, seluruh asrama memakai nama alumni yang pernah tertoreh sebagai pembina.  Ada Asrama Amir Machmud, Asrama Daswar Muhammad, Asrama Lukman Sanusi atau Asrama Muis Muin.
     Dari semua bangunan di Kampus Moncongloe, maka, Kuttab Nasruddin, Griya Ulumul Quran maupun tiga laboratorium menjadi primadona.  Dari Griya Ulumul Quran, kita berharap muncul tafsir mutakhir al-Qur'an.
     Ekspektasi dipanjatkan agar Griya Ulumul Quran ikut meramaikan keajaiban al-Qur'an.  Dalam Surah al-Hadid (Besi), Allah bertitah: "Kami menurunkan besi".  Sains dan teknologi akhirnya membuktikan kalau besi bukan benda bumi.  Besi kiriman dari ledakan bintang.  Menurut Majalah Dinding SUPER POWER di Pesantren IMMIM, hanya satu besi yang tidak diturunkan dari langit, namanya Iron Mike Tyson.
     Surah al-Hadid menghebohkan karena menyentak nalar.  Ini berkat Tabel Periodik karya pakar kimia Rusia Dmitri Mendeleev.  Tabel ini dipublikasikan untuk kedua kalinya di jurnal Jerman Zeitschrift für Chemie pada 1869.  Dalam tabel tersebut, besi atau Ferrum (Fe) ditandai dengan nomor atom 26.  Maksudnya, jumlah proton dalam atom Fe (besi) ada 26.  Di luar dugaan, rupanya Surah al-Hadid memuat 26 nama Allah.
     "Urusan itu naik kepada Allah yang lamanya 1000 tahun menurut hitunganmu" (as-Sajdah: 5).  Adakah keajaiban ayat ini?  Firman Allah ini adalah konstanta fisika universal.  As-Sajdah ayat 5 dalam bahasa fisika berbunyi "laju cahaya 299,792,5 kilometer per detik".  Kecepatan cahaya yang disimbolakan c ini merupakan kesepakatan tegas para astronom.
     Dr Nadiah Thayyarah menjabarkan bahwa jarak yang ditempuh bulan selama 1000 tahun setara jarak yang ditempuh cahaya dalam sehari.  Perhitungannya, 1000 tahun dalam kalender Qamariah dibagi 24 jam.  Lalu dibagi 60 menit.  Kemudian dibagi 60 detik.  Hasilnya yakni 299,792,5 (kira-kira 3,00×108 m/s).
     Selama berinteraksi dengan al-Qur'an, saya kadang perlu teori baru untuk memahami ayat-ayat Allah.  Sebagai contoh, kala menyimak Surah Yusuf ayat 101, saya penasaran.  Nabi Yusuf mengaku "ataetanii minal mulk".  HB Jassin menerjemahkan "Kau berikan padaku sedikit kekuasaan".  Mahmud Junus "menganugerahkan kerajaan".  M Quraish Shihab "sebagian kerajaan".  A Yusuf Ali "bestowed on me some power"The Noble Quran "granted me authority".  Al-Qur'an Bahasa Melayu "mengurniakan daku sebahagian dari kekuasaan (pemerintahan)".  Le Saint Coran (al-Qur'an bahasa Perancis) "donné du pouvoir".
     Sesudah merenung, saya berimajinasi.  Maksud "diberi kerajaan, kekuasaan, pemerintahan atau otoritas" adalah Nabi Yusuf diangkat sebagai Wakil Raja.  Mustahil dalam sebuah kerajaan ada dua raja.  Pepatah Arab menerangkan: "Tak ada dua pedang dalam satu sarung".
     Bagaimana nasib para pecundang alias alumni kepala batu yang sok menghalangi penjualan Tamalanrea?  Nasibnya apes di Moncongloe.  Gerombolan tersebut diharamkan masuk area Pesantren IMMIM Moncongloe yang suci tanpa noda.  Ada pegawasan elektronik demi mengusir alumni tukang ikut campur.
     Makhluk-makhluk goblok senantiasa merongrong jika ada inisiatif perubahan.  Mereka merupakan najis dalam peradaban.  Kita cuma mengelus dada melihat lagak banal alumni kepala batu.  Tidak malu mencampuri agenda Yasdic gara-gara minus etika.  Begitulah jadinya bila dulu di pesantren selalu bolos ke kamar untuk merokok saat pelajaran Aqidah dan Akhlak.  Akibatnya, hanya jadi ampas setelah tamat dari pesantren.
     Kalau kawanan alumni tukang ikut campur itu nekat masuk Kampus Moncongloe, niscaya ditempeleng sampai rahangnya bergeser.  Murasanitu la beleng benna' (rasakan itu si idiot bebal).


Minggu, 01 November 2020

Peringatan dari IAPIM Perjuangan

 

Peringatan dari IAPIM Perjuangan
(Bagian ketujuh dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Santri Moncongloe ibarat mahar bagi Haji Fadeli Luran agar di Firdaus kelak ayahanda tercinta bisa bertetangga dengan para nabi serta rasul.  Santri Moncongloe wajib menjadi mata air pengetahuan di planet biru ini.  Kehadirannya mesti memberi banyak kemaslahatan bagi umat di tiap lini.  Ini berarti mereka harus dididik supaya andal berpikir guna membumikan konsep-konsep canggih.  Apalagi, mereka nanti hidup di zaman yang sarat gelora pertumbuhan ekonomi, revolusi teknologi, dinamika sosial dan reformasi politik.  Santri Moncongloe diyakini bakal akrab dengan rekayasa genetika, robot-robot nano, kecerdasan artifisial serta eksplorasi angkasa.
     Di tangan santri Moncongloe tergenggam cetak biru imperium galaktika masa depan.  Tidak mustahil mereka mengolonisasi planet-planet Alien.  Ini selaras program terperinci al-Qur'an perihal eksistensi enam bumi yang belum terdeteksi di jagat raya.  "Allah menciptakan tujuh langit, seperti itu pula jumlah bumi" (ath-Thalaq: 12).
     Tatkala membahas sains dan teknologi ala Pesantren IMMIM, semua berdegup, cemas, penuh haru, bangga sekaligus ekspektasi setinggi bintang.  Di pundak santri Moncongloe akan hadir program-program bervisi angkasa berasas wahyu dari langit.  Cita-cita ini mesti diwujudkan secepatnya, hari ini juga.
     Masalah besar muncul.  Pendidikan mutakhir butuh anggaran gigantik.  Dana minim jelas muskil untuk membangun laboratorium yang layak mendesain teknologi nano.  Celaka 13, penghambat mengalirnya anggaran berasal dari segerombolan alumni kolot.  Mereka merintangi penjualan Tamalanrea.
     Menjual lahan Tamalanrea esensial karena menjadi syarat bagi kenyamanan belajar.  Kalau fasilitas komplet, berarti enteng mencetak santri-santri brilian.
     Kawanan alumni berpikir jika Tamalanrea merupakan monumen nostalgia.  Betapa idiot gerombolan ini.  Mereka lebih mementingkan nostalgia dibandingkan prestasi agung santri Moncongloe di masa depan.
     Saya curiga, alumni yang menolak menjual lokasi Tamalanrea mungkin dulu tergolong santri minus.  Mereka kurang gizi di tengah fasilitas minim.  Mau ke kantin, tak ada uang.  Ingin dekati bibi (koki) dengan harapan diberi makanan ekstra, tetapi, tampang lumayan jelek.  Dekil lagi, seperti tidak pernah mandi pakai sabun.  Kasihan betul.
     Bila ada alumni yang tak sudi melihat pengembangan Moncongloe, berarti mereka didera derita psikis.  Gelombang listrik ragawi mengalami error saat mengirim stimulus elektrik pada biokimia otaknya.  Ini membuat baut otak pecah.  Hingga, terjadi korsleting.  Akibatnya, alumni tidak mampu bereaksi terhadap perkembangan dunia.  Kalau ini terjadi, jangan khawatir.  Ada banyak psikiater yang siap mengobati atau boleh pula diruqyah (exorcism).
     Gagasan mutakhir alumni sebenarnya harus ditujukan demi kenyamanan santri dalam belajar.  Adik-adik di Moncongloe merupakan kuncup yang bakal mekar menjadi ulama intelek.  Tak hirau terhadap almamater sesungguhnya pelanggaran elementer.  Ke mana tanggung jawab moral alumni?  Mengapa tidak memperhatikan hak masa depan santri.  Kalian ini siapa sampai tak tahu diri dengan cara mencampuri agenda Yasdic.
     Sikap tertutup terhadap perubahan merupakan fondasi bagi ideologi totaliter.  Ini tentu membahayakan kebebasan yang dianut penduduk bumi.  Teori falsifikasi Karl Popper ini dipraktekkan secara piawai oleh alumni kepala batu.  Mereka merintangi penjualan Tamalanrea dengan alasan nostalgia.  Padahal, perubahan adalah kepastian bagi makhluk hidup.  Ini berarti alumni yang mempertahankan Tamalanrea tidak lebih cuma benda mati.
     Mengamati lagak memalukan alumni, maka, "IAPIM Perjuangan" akan mendukung arah utama sejarah Kampus Moncongloe yang dirintis Yasdic.  Pesan saya, IAPIM tradisional jangan pernah melakukan acara di Moncongloe tanpa persetujuan "IAPIM Perjuangan".  Jangan ada "massa vs massa".  Mumpung kalian masih di bumi.  Tobatlah.  Ingat, waktu terus berdetak.  Kau pasti mati.  Nyawamu kelak direnggut paksa malaikat maut.  Satu yang penting, "JANGAN CAMPURI URUSAN YASDIC!  JANGAN!"


Selasa, 06 Oktober 2020

Menggagas Pendirian IAPIM Perjuangan



Menggagas Pendirian

IAPIM Perjuangan
(Bagian keenam dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Sejak merebak berita penjualan lokasi Pesantren IMMIM di Tamalanrea oleh Yasdic, mendadak riuh pro-kontra.  IAPIM yang mewadahi alumni langsung menolak keras penjualan.  Segelintir alumni futuristis sontak membela Yasdic.
    Perseteruan meruncing usai Yasdic membantah kabar penjualan lahan.  Kala IAPIM dilanda euforia karena merasa menang besar.  Sayup-sayup terdengar suara.  Makin lama kian lantang.  Alumni futuristis yang mendukung penjualan, mengambil langkah tegas.  Segera berpisah dengan IAPIM.  Alumni futuristis dalam waktu dekat bakal mendeklarasikan "IAPIM Perjuangan".  Pendirian "IAPIM Perjuangan" untuk mengakomodasi aspirasi alumni yang beragam.
     Alumni futuristis berbesar hati bahwa tamatan Moncongloe berafiliasi dengan "IAPIM Perjuangan".  Sebab, kami berjuang demi kebaikan kampus Moncongloe.  Kami ikhlas menyedekahkan tenaga, waktu dan isi kantong demi menyaksikan lahirnya ulama intelek dari Pesantren IMMIM.
     Tugas "IAPIM Perjuangan" yakni mengantar santri Moncongloe ke gerbang masa depan.  Santri Moncongloe ibarat sinar mentari yang menembus mendung kelabu di musim hujan.
     "IAPIM Perjuangan" mesti berikhtiar penuh.  Pasalnya, dinamika yang sarat kejutan membutuhkan banyak visi futuristik demi membangun pesantren.  Di dekade berikut, pesantren wajib mengaplikasikan teknologi nano demi mencetak ulama intelek.
     "IAPIM Perjuangan" diharamkan ikut campur urusan Yasdic, pesantren maupun Gedung IMMIM.  Anggota "IAPIM Perjuangan" mutlak punya rasa malu supaya tidak seenaknya mencampuri program pihak lain.  Rasa malu sekarang sangat mahal.  Ada sekawanan bocah sudah dididik di pesantren selama enam tahun, tetapi, rasa malunya minus.  Alumni dari manakah mereka?
     Agenda utama "IAPIM Perjuangan" yaitu mengupayakan tempat serta cara belajar-mengajar santri Moncongloe yang selaras kemajuan sains dan teknologi.
     Proklamasi "IAPIM Perjuangan" akan digemakan sebelum reuni akbar.  Sekretariat "IAPIM Perjuangan" tengah digodok.  Ada tiga lokasi di Makassar yang cocok untuk alumni futuristis.  Di Jalan Monumen Emmy Saelan, Jalan Veteran Selatan atau Jalan Karunrung Raya.  Tiga lahan ini mudah dijelajah, sekalipun berjalan kaki.
     Selamat tinggal IAPIM Tradisional.  Kami alumni futuristis akan mengenang kalian sebagai "tukang ikut campur" yang mengakibatkan lahirnya "IAPIM Perjuangan".  Da...daaa...

Senin, 05 Oktober 2020

Alumni Agitator Pesantren IMMIM

Alumni Agitator Pesantren IMMIM
(Bagian kelima dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ayahanda tercinta Haji Fadeli Luran terpesona menyaksikan Pesantren Gontor.  Ia begitu bahagia memandang santri-santri tekun belajar sekaligus taat aturan.  Fadeli Luran meneguhkan hati seraya berkali-kali meluhurkan asma Allah.
     Fadeli Luran yang merupakan legenda Indonesia Timur lantas shalat dua rakaat.  Ia memohon kepada Allah supaya diberi petunjuk dan kekuatan untuk mendirikan pesantren.
     Usai shalat, paras Fadeli Luran terlihat cerah.  Hatinya berbinar penuh kerinduan untuk segera menggagas pendirian Pesantren IMMIM.  Membangun pesantren merupakan kesempatan untuk mencetak ulama intelek.
     Detik berdetak.  Waktu berlalu.  Generasi baru muncul.  Kini, pesantren yang diidamkan Fadeli Luran telah melewati sang kala selama 45 tahun.
     "Kelak anakda akan bertebar di mana-mana.  Ada yang jadi polisi, hakim atau pegawai".  Ini petuah Fadeli Luran yang didengar langsung oleh Angkatan 81-86.
     Andai Fadeli Luran masih hidup, ia pasti senang karena bisa mencetak 3.000 lebih alumni sejak 1975 sampai 2020.  Cita-citanya tercapai kalau alumni bertebar di segala penjuru.  Jika ada bentala terkena sinar mentari, di situ pasti ada alumni.
     Sayang sekali, Fadeli Luran tidak pernah memperkirakan bahwa ada alumni bandel bin nakal.  Gerombolan ini begitu pongah hendak mengambil alih pesantren IMMIM, tugu monumental Fadeli Luran.  Alumni sok ini rapat sampai tengah malam persis teroris yang berhasrat melakukan aksi anarki.
     Sepak-terjang alumni memalukan sekali.  Bahkan, tak tahu diri.  Musababnya, mencampuri urusan Yasdic.  Bertahun-tahun pesantren ditangani secara sukses oleh Yasdic.  Kala Yasdic hendak menjual lokasi di Tamalanrea untuk pengembangan kampus Moncongloe, mendadak sekawanan alumni mencak-mencak.  Mereka seolah berpendapat bila pesantren adalah milik alumni.
     Adakah Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani saat tercatat sebagai santri baru?  Dalam MoU itu, umpamanya, ditegaskan bahwa kalau tamat, alumni boleh turut campur di Yasdic, pesantren serta Gedung IMMIM.  Adakah dulu pernyataan kesepahaman tertulis begitu yang kalian paraf?  Adakah!
     Menjual lahan merupakan gagasan segar agar santri di era mendatang berlimpah fasilitas.  Seyogianya alumni merespons ide revolusioner Yasdic.  Apalagi, kultur masyarakat terus berubah.  Ini jelas butuh inovasi spektakuler demi menapak jalan baru masa depan.
     Alumni yang ikut campur tak sudi menjual lokasi, sesungguhnya tergolong makhluk egois.  Mereka hanya memikirkan diri sendiri, tanpa membayangkan nasib santri di masa depan.  Prinsip kami yang pro-futuristis, pro-optimis dan pro-Moncongloe, teramat tegas.  Ingin melihat santri di dekade mendatang belajar di tempat nyaman dengan aneka fasilitas.  Bagaimana dengan yang pro-Thagut, pro-destruktif serta pro-nostalgia?
     Moncongloe merupakan bagian esensial dari agenda kosmis.  Hingga, pengembangannya urgen.  Cepat atau lambat, kampus Tamalanrea pasti wassalam dari pesantren IMMIM.  Tarikh 2020 merupakan momen terbaik.  Ini sweet goodbye untuk melepas Tamalanrea.
     Menunda menjual lokasi cuma melukai prospek cemerlang kampus Moncongloe.  Jika ini dibiarkan, berarti transformasi terbit pasca mortalitas.  Maksudnya, pengembangan Moncongloe bakal dimulai sesudah alumni Tamalanrea mati semua.  Di masa itu muncul kesempatan untuk berbenah supaya pesantren dapat mengejar ketertinggalan.
     Jurus alumni menghambat penjualan yakni bermain smoke and mirror.  Mereka mengepulkan asap guna mengaburkan realitas.  Alumni beralasan lokasi Tamalanrea adalah tanah wakaf.  Ini kamuflase.  Pasalnya, alumni ingin mempertahankan artefak masa silam agar leluasa bernostalgia.  Sebuah dialektika absurd dengan modus smoke and mirror.
     Di WAG IAPIM (257 peserta menurut data 6 Oktober 2020), ada alumnus begitu arogan memprovokasi untuk melakukan demonstrasi.  Saya curiga, bocah banyak bacot ini tidak mustahil pernah pula melakukan ujaran kebencian terhadap rezim Jokowi.  Demi menjaga stabilitas dan ketenteraman NKRI, saya harap Badan Intelijen Negara (BIN) maupun Polri mengusut alumnus ini.  Di masa pandemi ini, kita butuh kata-kata nan sejuk, bukan penghasut yang mengajak unjuk rasa.  Kerumunan massa, tentu mengundang secara masif penyebaran corona.
     Mencetak santri berkualitas merupakan kewajiban Yasdic.  Ini selaras dengan harapan Fadeli Luran.  Bukan melahirkan "ulama nostalgia" atau "intelek ikut campur" seperti dipertontonkan secara telanjang tanpa malu oleh segerombolan alumni yang tidak tahu diri.
     Alumni tidak paham fungsinya sebagai ulama intelek.  Mereka justru berbondong-bondong mencampuri urusan Yasdic.  Bila suka ikut campur, berarti kau mempersulit kehidupanmu.  Jauhkan diri dari mencampuri urusan pihak lain supaya hidup bermakna serta sarat berkah.
     Nasehat saya untuk alumni lapuk atau yang menjelang tua bangka.  Jangan campuri urusan Yasdic.  Jangan lompat pagar ke rumah orang persis residivis kelaparan tiga hari.  Kalau kau nekat ikut campur, berarti kau dungu hakiki atau tolol permanen alias dongok tongeng.  Berperilakulah bak Iron Man yang ksatria.  Jangan membiarkan orang waras mencibir menyaksikan ulah idiotmu sembari berseru: "ironi, Man".  Alumni Pesantren IMMIM, namun, tidak malu serta tak tahu diri turut campur program Yasdic.  Betul-betul "ironi, Man".  Ironi...


Rabu, 23 September 2020

Inilah Dosa Yasdic


Inilah Dosa Yasdic
(Bagian keempat dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Siang pada Senin, 14 September 2020, saya dikejutkan pesan seorang sahabat.  Yasdic sudah melakukan pembicaraan dengan IAPIM, pada Sabtu, 12 September 2020.  Hasilnya, tidak benar berita perihal penjualan lokasi Pesantren IMMIM di Tamalanrea.
     IAPIM kemudian bergerak cepat.  Mengedarkan pemberitahuan itu.  Saya menangkap sinyal, ini sengaja disebar sebagai euforia karena menganggap diri menang.
     Alumni pasti merasa ini kemenangan besar.  Sebab, lahan tidak dijual.  Padahal, ini kemenangan semu.  Kemenangan yang menggelincirkan pada kesengsaraan berkepanjangan.  Kemenangan ini bakal menjadi cikal derita santri di masa depan.  Kemenangan yang niscaya mendestabilisasi kampus Moncongloe.  Ini kemungkinan logis masa depan Pesantren IMMIM.  Ini kepastian tak terbantahkan.
     Saya kecewa dengan sikap Yasdic.  Sebab, memberi peluang kepada alumni untuk menginvasi teritorial Yasdic.  Otoritas Yasdic disepelekan.  Ini seperti pilot yang kewenangannya diserobot oleh penumpang.  Tidak terbayang di kepala, ada penumpang masuk kokpit untuk mengambil alih kendali pesawat.  Betul-betul sinting.  Tak punya hak sekaligus tidak malu mencampuri urusan yang bukan wewenangnya.
     Penjualan lahan sesungguhnya menjadi momen untuk menciptakan langkah-langkah strategis bagi pengembangan kampus Moncongloe.  Yasdic wajib mengambil sikap.  Tidak boleh gentar oleh ancaman makhluk-makhluk tukang ikut campur.
     Saya santri tulen yang made on earth by Pesantren IMMIM.  Saya alumnus independen.  Tidak terikat atau dibayar untuk menahan laju nafsu alumni yang ngotot tak sudi menjual lahan.  Saya murni ingin melihat almamater berkiprah cemerlang di dekade berikut.  Alumni mungkin merasa menang karena lokasi gagal dijual.   Pertanyaannya, pernahkah alumni berpikir mengenai kehidupan santri di masa depan.
     Pendidikan selalu diukur dari segi finansial.  Makin bertumpuk fulus, niscaya pendidikan kian mulus.  Perkembangan kampus Moncongloe jelas macet akibat dana minim.  Pesantren pasti repot bersaing karena fondasi anggaran nihil.  Alhasil, pendidikan bermutu mustahil diraih.
     Dewasa ini, kampus Moncongloe butuh dana gigantik.  Di sana ada santri yang butuh kenyamanan untuk belajar.  Saya bersama rekan-rekan bervisi futuristis senantiasa penuh harap bergemuruh bak guntur.  Di Moncongloe kelak lahir santri super yang berhati Ibnu Taimiyah seraya berotak Einstein.  Muncul santri rasa bintang lima yang berpijak di Hollywood dengan jiwa berkiblat ke Mekah.
     Santri-santri super produk pesantren IMMIM, insya Allah membawa berkah sekaligus aktif dalam struktur global.  Mereka akan bertebar dari Sidrap sampai Sidney, dari Solo sampai Oslo, dari Jeneponto sampai Jenne-jeno di Delta Niger, Afrika Barat.
     Urgensi terkini ialah menghapus kontradiksi radikal sesama alumni.  Ini akibat sekawanan alumni dibuat gila oleh nostalgia.  Mereka berkeras tidak mau menjual lokasi Tamalanrea.  Apes bin sial, gerombolan ini ternyata tak memiliki solusi.  Kan geli.
     Saya tantang alumni untuk mengumpulkan uang Rp 90 miliar demi pengembangan kampus Moncongloe.  Alumni yang pernah jadi pejabat saja tidak pernah menyumbang.  Apalagi, alumni yang pas-pasan pendapatannya.  Miskiin anta (kecian dech loh).
     Ada alumni selalu berkotek-kotek.  Berkoar-koar tentang tanah wakaf.  Seharusnya alumni diam saja.  Biarkan Yasdic mengurus dirinya.  Tidak usah mengajarkan bahwa wakaf tidak boleh dijual.  Semua orang tahu tanah wakaf tidak bisa dijual.  Lebih elok diam menunggu hasil.  Sebab, ikhtiar Yasdic tergantung pada undian nasib.
     Saya mengimbau sebaiknya nanti pesantren mengajarkan mata pelajaran "tips serta trik ikut campur".  Ini akibat pelajaran Aqidah dan Akhlak gagal menggembleng alumni supaya fokus.  Banyak yang sempoyongan bergentayangan tanpa malu untuk mencampuri urusan Yasdic.
     Nasehat terbaik untuk alumni.  Siapa belum menikah, sebaiknya bergegas sebelum kau mati digerogoti Covid-19.  Ihwal ini lebih bermutu ketimbang mencampuri urusan Yasdic.  Tunggu apa lagi!  Kerjakan sekarang!
     Sementara alumni yang sudah berkeluarga, seyogianya "bersih-bersih hati".  Renungkan bila umur sudah di ambang kubur.  Ini lebih mulia dibandingkan kalian dibutakan oleh fanatisme membabi-buta gara-gara tergoda nostalgia di kampus Tamalanrea.  Tak usah cari sensasi serampangan di usia lapuk.  Paham...!
(Bersambung)

 

Sabtu, 12 September 2020

Kayu Bakar Pesantren IMMIM



Kayu Bakar Pesantren IMMIM
(Bagian Ketiga dari 13 Tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ada aforisme dari seorang Angkatan 85 (D5):  "Mengapa alumni bertindak seolah hakim.  Biarkan Yasdic menjual lahan demi kebaikan pesantren".
     Saya tergugah dengan kata hikmah ini.  Mengapa mencampuri urusan Yasdic?  Saya jadi curiga, ada apa dengan alumni yang ngotot ikut campur?  Berkehendak secara memaksa untuk terlibat di urusan internal Yasdic.  Saya mengelus dada, proyek ini memang bergelimang duit.  Semua mau terlibat dengan mata melotot membayangkan uang miliaran.  Urat malu sudah hilang.  Ini memang zaman "Keuangan yang Mahakuasa".
     Di grup WA IAPIM, ada yang menginginkan golongan yang berkehendak menjual lahan Tamalanrea sebaiknya keluar dari grup.  Betapa busuk hati orang ini.  Ia penuh kedengkian.  Seolah tindakannya suci dengan mencampuri urusan Yasdic.  Bagaimana kalau dibalik, gerombolan yang tidak mau menjual lahan segera keluar dari grup!
     Islam menghargai perbedaan di luar akidah.  Indonesia mengakui perbedaan lewat Pancasila.  Tiba-tiba ada sesosok makhluk yang mengingkari perbedaan dengan enteng menyuruh orang keluar dari grup.
     Tatkala senpai Indra Jaya Mansyur terpilih sebagai Ketua IAPIM, seorang mantan petinggi IAPIM mencampuri urusan pengurus baru.  Senpai Indra Jaya tersinggung.  Sebab, otoritasnya diinjak-injak.  Ia kemudian menantang duel maut.  "Kalau kita ketemu di jalan.  Kita selesaikan ini secara jantan", tulis senpai Indra Jaya di papan tulis sekretariat IAPIM di Jalan Sungai Lariang.
     Eks petinggi IAPIM ini kembali bergerilya mencampuri urusan Yasdic di akhir Agustus 2020.  Tidak ada betul tobatnya bocah ini untuk terus ikut campur.  Percuma pernah dididik akhlak di pesantren.
     Tukang ikut campur mengingatkan saya Ummu Jamilah binti Harb, istri Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muthalib).  Ummu Jamilah merupakan jetset Quraisy.  Ia selebriti papan atas Mekah.  Al-Qur'an dalam Surah al-Lahab menggelari Ummu Jamilah sebagai "pembawa kayu bakar".  Pasalnya, ia mendiskreditkan Maharasul Muhammad.  Mengganggu dakwah Islam.  Menyiksa kaum Muslim.  Komentar-komentar Ummu Jamilah persis bisa ular, mematikan, menjijikkan sekaligus tak punya rasa malu.
     Sosok serupa Ummu Jamilah inilah sekarang yang mengganggu Yasdic.  Mereka seperti kawanan hyena yang mengelilingi mangsa.  Merasa setara dengan pengurus Yasdic.  Kemudian tanpa malu mempertanyakan transparansi Yasdic.
     Mempertahankan lahan Tamalanrea adalah skenario menjijikkan yang dilakukan oleh tukang ikut campur.  Luar biasa naif kalau mencampuri sesuatu yang di luar kompetensi.  Insan profesional pasti malu mencampuri urusan yang bukan wewenangnya.  Nekat ikut campur adalah contoh manusia kepala batu yang hatinya membatu.
     Agenda signifikan alumni ialah melihat adik-adik santri tenang belajar di tempat nyaman.  Bukan mencampuri urusan yang bukan agendanya.  Tidak berarti kalau tamat di pesantren, otomatis leluasa mencampuri  segala urusan.  Mulai dari Yasdic, pesantren dan Gedung IMMIM.  Ada aturan yang membatasi tindak-tanduk manusia.  Keuletan mematuhi aturan menunjukkan seseorang beradab atau biadab.
     Gagasan Yasdic untuk menjual lahan Tamalanrea demi kebaikan kampus Moncongloe.  Ini menegaskan Yasdic sebagai kreator brilian dengan visi futuristis.  Kampus Moncongloe merupakan daerah yang cocok bagi homo santricus di tengah deru mobilitas kecerdasan buatan, teknologi genetika dan robotika.
     Lahan Tamalanrea sudah uzur bagi bibit-bibit intelektual Islam.  Ini distrik nihilistik bagi masa depan santri yang butuh udara segar.  Lahan Tamalanrea adalah prospek mengerikan bagi santri yang memerlukan ketenangan.  Bila bertahan, niscaya pesantren tergilas tren historis yang gemerlap.
     Penjualan lahan menguji identitas kita sebagai alumni yang berbakti.  Menguji kesadaran kita agar tidak mencampuri urusan Yasdic.  Menguji kecerdasan kita guna melihat adik-adik santri bisa belajar nyaman di masa depan.

 

Selasa, 08 September 2020

Pesantren IMMIM Sudah Terjual



 Pesantren IMMIM Sudah Terjual
(Bagian Kedua dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Selama beberapa hari ini sejak Sabtu, 5 September 2020, saya merindukan Rusman (Angkatan 86).  Ia sosok sabar yang tidak pernah mencampuri urusan orang lain.  Rusman tak mau melibatkan diri karena paham bahwa tiap orang punya urusan untuk diselesaikan sendiri secara mandiri.  Pelajaran moral dari Rusman yakni "jangan ikut campur kalau bukan urusanmu".
     Beberapa hari sesudah saya tamat dari pesantren, pimpinan kampus sempat berpesan.  Silakan bila ada yang ingin memberi saran ke pesantren.  Dengan catatan bukan kritik ekstrem.  Pasalnya, pembina lebih memahami kondisi pesantren.  Pembina punya kiat menghadapi dinamika santri.
     Ada sahabat karib saya selama enam tahun di pesantren.  Kini ia ketua yayasan.  Saya berkhayal nakal.  Bolehkah saya mencampuri urusan yayasannya atas nama persahabatan selama enam tahun di pesantren?
    Saya selalu berharap ada alumni mengikuti jejak Masrur Makmur La Tanro.  Ia sukses mendirikan pesantren Shohwatul Is'ad, sebuah pondok keagamaan favorit berbasis karakter.
     Di akhir Agustus 2020, alumni justru kasuk-kusuk mencampuri urusan Yasdic yang hendak mengembangkan Moncongloe.  Mereka rapat sampai jauh malam hanya untuk merongrong Yasdic.
     Alumni punya program kerja hebat.  Lebih baik berpikir mendirikan pesantren ketimbang mengurus sesuatu yang bukan wilayahnya.  Mengapa malu memetik pelajaran dari pribadi Rusman.  Ia tidak pernah mencampuri urusan orang lain.
     Gagasan Yasdic untuk menjual lahan merupakan revolusi agar tercipta energi baru di Moncongloe.  Ini tonggak spektakuler dengan mobilitas tinggi demi kemajuan pesantren.  Alumni sepantasnya mendukung kerja keras, kerja cerdas sekaligus kerja ikhlas Yasdic.  Begitu indah andai alumni menghormati integritas maupun otoritas Yasdic.  Bukan berdiri menentangnya penuh amarah akibat terbelenggu nostalgia.
     Jangan merasa jatuh gengsi karena mendukung Yasdic.  Gengsi alumni justru naik berlipat-lipat jika mendukung Yasdic.  Sebab, merintis proyek besar demi kebaikan adik-adik santri di masa depan.  Artefak-artefak yang dulu memuat seluruh kenangan di Tamalanrea harus diubah menjadi spirit untuk membangun Moncongloe.
     Perjalanan panjang alumni sudah mendekati finish lantaran terkikis usia.  Ada pergantian generasi.  Ada matahari baru bakal terbit di Moncongloe.  Inilah yang mutlak disambut oleh alumni.  Matahari baru berupa adik-adik santri yang akan mengisi sejarah panjang Pesantren IMMIM.
     Sejak tulisan Pesantren IMMIM Tidak Dijual terpublikasi di blog serta Facebook, mendadak muncul pernyataan sikap dari sejumlah unit alumni.  Semua sepakat tak mau menjual lahan Tamalanrea.
     Pernyataan ini dilandasi sikap emosional, bukan mewakili fakta sebenarnya.  Sebab, alibi "tanah wakaf" sekedar kamuflase.  Alumni merintangi penjualan karena berpegang teguh pada masa lampau yang merangkum seluruh nostalgia.  
     Opini publik dibentuk via narasi kabur bahwa lahan adalah tanah wakaf.  Padahal, sasaran utama ialah mempertahankan ikatan emosional di hamparan artefak yang bertebar di lahan Tamalanrea
     Ada pernyataan sikap menolak keras penjualan, namun, menawarkan diri untuk berdialog dengan Yasdic.  Saya geli campur malu membacanya.  Beleng-beleng.
     Sungguh mengherankan bahwa alumni merespons negatif tanpa jalan keluar.  Alumni yang selama ini memiliki keunggulan kompetitif mendadak minus inspirasi.  Apakah alumni kehilangan perspektif gara-gara nostalgia.  Hingga, tidak bisa menawarkan solusi untuk kemajuan pesantren di masa depan.
     Alumni seyogyanya menciptakan solusi agar dana pengembangan pesantren di Moncongloe bisa teratasi.  Kalau betul alumni solid, silakan kumpulkan dana 80-90 miliar guna menunjang pembangunan Moncongloe.  Harap renungkan bahwa ada alumni yang pernah punya jabatan justru tidak pernah menyumbang ke pesantren walau uang receh Rp 100.  Kasihan.
     Alumni tidak punya solusi untuk kemajuan kampus Moncongloe kecuali nafsu untuk menolak penjualan Tamalanrea.  Bahkan, ingin berdemo.  Muncul pula ancaman hendak mengambil alih pesantren dari Yasdic.  Tidak semudah itu kau rebut pesantren!  LANGKAHI DULU MAYATKU!
(Bersambung)


Jumat, 04 September 2020

Pesantren IMMIM Tidak Dijual

 Pesantren IMMIM Tidak Dijual
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada Senin malam, 31 Agustus 2020, seorang sahabat mengirim pesan.  Lahan pesantren IMMIM di Tamalanrea mau dijual.  Saya terkejut.  Saya tak mau lahan pesantren dijual.  Maklum, di situ saya menghabiskan waktu selama enam tahun dalam suka dan duka.  Di sana saya puber.  Saya bertengkar, berkelahi serta berdamai.  Saya mungkin satu-satunya santri yang sangat bebas bolos.  Berkali-kali saya bolos dua kali sehari untuk pergi ke kota bersantai.
     Saya punya ikatan emosional yang teramat tinggi di Tamalanrea.  Saya tak sudi artefak-artefak pesantren digilas roda pembangunan.
     Pada Rabu, 2 September 2020, saya mengontak the lady untuk meminta penjelasan.  Malam kala hujan deras mengguyur kota, saya tercenung.  Mana lebih penting, ikatan emosional berbentuk nostalgia atau pengembangan pesantren.
     Selama ini, saya selalu membanggakan diri punya segudang nostalgia di pesantren.  Nostalgia ini mengakrabkan kami sesama alumni.  Di sisi lain, nostalgia justru membelenggu kemajuan.  Mempertahankan ikatan emosional dengan suatu artefak sama artinya menutup diri dari dinamika kehidupan.  Kemajuan merupakan pengembangan diri untuk menggapai kejayaan.  Ada hal-hal dalam hidup ini yang mesti disingkirkan agar tercipta perkembangan.  Kenangan di masa silam mustahil mengubah masa depan.  Dalam mengarungi kehidupan, tentu ada yang harus dikorbankan.
     Situasi terkini lahan Tamalanrea ibarat seorang kakek.  Rapuh.  Ini tentu berbahaya bagi orang yang menetap di situ.  Sebagai misal, aula yang sudah berusia 45 tahun tiba-tiba retak.  Puingnya menerpa kepala.  Siapa yang bertanggung jawab terhadap korban?  Yasdic atau alumni.
     Saya mencatat beberapa nama yang berkomentar tendensius dan insinuatif secara sistemik, masif serta terstruktur di grup WA.  Komentar ceroboh yang memiliki potensi konflik, juga saya screenshot.
     Saya berharap, para "komentator ulung" ini kelak yang bertanggung jawab jika ada korban jiwa di Tamalanrea.  Pasalnya, menghalangi dinamika pesantren.  Mereka seolah lebih paham persoalan-persoalan di pesantren dibandingkan Yasdic.
     Harus ada daya dobrak besar untuk meningkatkan kehidupan di pesantren. Cara terbaik ialah menjual atau menyewakan lahan di Tamalanrea.  Bila ada perlawanan dari alumni, maka, ada yang krusial dijawab.  Siapa lebih paham kondisi pesantren maupun kompleksitas di sekitarnya; Yasdic atau alumni?
     Penjualan lahan bertujuan untuk kemajuan pesantren.  Kalau ada koar-koar "jangan jual", alibinya apa?  Keterikatan emosional bukan tujuan hidup.  Manusia bergerak dinamis untuk berubah demi kehidupan yang elok dan apik.  Nostalgia cuma serpihan kenangan.  Nostalgia muskil memberi kehidupan layak.
     Amunisi yang sekarang digunakan untuk merintangi penjualan lahan Tamalanrea yakni tanah wakaf.  Saya melihat, ini sekedar tameng.  Padahal, gerakan menolak penjualan lahan Tamalanrea karena ingin mempertahankan ikatan emosional.  Mereka tak mau artefak-artefak yang merangkum masa lalunya dibongkar demi kemajuan pesantren.  Mereka lebih mengedepankan nostalgia ketimbang memberi jalan bagi kemajuan pesantren.
     Satu pertanyaan usil.  Pernahkah ada alumni yang menyumbang ke pesantren?  Adakah alumni yang punya jabatan pernah menafkahkan hasil keringatnya di pesantren?  Adakah?
     Jika Yasdic dituding tidak profesional.  Kemudian pengeritik mempertanyakan kinerja Yasdic.  Ini namanya gaduh gara-gara tidak dapat jatah.  Selama bertahun-tahun, Yasdic melakukan yang terbaik untuk pesantren.  Apakah kalau ada penyegaran susunan pengurus, mendadak aula pesantren bertingkat seperti Trump Plaza atau masjid ath-Thalabah semegah Hagia Sophia?  Bagaimana bila sebaliknya, kinerja justru merosot pasca peremajaan pengurus.
     Serahkan pada ahlinya.  Yasdic mengurus pesantren.  Sementara alumni mengurus program kerjanya.  Begitu mudah, begitu sederhana kalau diserahkan pada ahlinya.  Ini juga untuk menghapus kontradiksi internal yang radikal.
     Saya berharap jika alumni tetap menghalangi penjualan lahan Tamalanrea, sudi kiranya menyiapkan anggaran 80-90 miliar untuk perbaikan pesantren di Moncongloe.  Sebab, wajib dipikirkan kesejahteraan guru, perumahan layak bagi pembina serta jaminan bagi koki (bibi).  Ini baru namanya win win solution.(Bersambung)

Jumat, 22 Mei 2020

Menggugat Filosofi IMMIM



Menggugat Filosofi IMMIM
(Bersatu dalam aqidah toleransi dalam furu'iyah dan khilafiah)
 

Oleh Abdul Haris Booegies & Daswar M Rewo
 

     Ketika Merangkai Iman Umat terpublikasi di Rakyat Sulsel, saya bersama Daswar M Rewo mendeteksi ada sinyal gugatan.  Fokusnya ialah mempertanyakan motto: "bersatu dalam aqidah, toleransi dalam furu'iyah dan khilafiah".
     Ada dua gugatan yang mengemuka.  Pertama, siapa pemilik ide filosofi IMMIM, individual atau kolektif.  Kedua, masih selaraskah motto tersebut di era ultra-mutakhir ini.
     Sebulan setelah Haji Fadeli Luran wafat, Ahmad Fathanah mengeluarkan dekrit.  Ia menugaskan saya membuat profil, semacam biografi almarhum ayahanda.  Di samping biografi, Ahmad Fathanah berhasrat pula menerbitkan buku perihal pikiran-pikiran Fadeli Luran.  Sumbernya dari buku yang ditulis tangan oleh Fadeli Luran.
     Di suatu kesempatan. saya bersama empat rekan IAPIM dipanggil Ahmad Fathanah.  Entah bagaimana, hanya saya yang hadir malam itu di lantai dua Apotek Rahmah.  Jadi cuma saya yang pernah sekilas melihat buku kuno tersebut.
     Saya mengusulkan tiap satu ide di buku itu, nanti diulas lewat artikel oleh cendekiawan Muslim.  Ahmad Fathanah setuju sembari mempertontonkan buku tersebut.  Kitab antik itu sudah kusam serta kertasnya menguning.  Ada lembarannya yang robek dan terlepas.
     Buku tulis tebal bersampul keras tersebut saya tidak sentuh.  Sebab, di momen itu saya menilai bukan tugasku terlibat dalam penerbitan buku ini kelak.  Ini jatah panitia khusus yang sekarang tak hadir.  Saya rampungkan biografi, panitia khusus tuntaskan buku berisi pikiran-pikiran sang legenda Fadeli Luran.
     Saya bersama Daswar lalu melakukan wawancara.  Dimulai dari M Bahar Mattalioe, Haji Lapangka, HM Dg Patompo, M Akbar Syamsuddin serta A Hamid Aly.
    Fokus wawancara tidak ada.  Sekedar main seruduk seperti saat saya ditugaskan Majalah LEKTURA ketika masih college boy (anak kuliahan).  Selain itu, juga bermodal nekat.  Saya menanggung transportasi.  Sedangkan Daswar menyiapkan akomodasi.
     Ketiadaan konsep saat wawancara membuat saya luput menanyakan filosofi IMMIM ke narasumber, khususnya Patompo.  Apalagi, Daswar terlena dengan hikayat heroik yang diceritakan narasumber secara berapi-api.

Konsep Berbeda
     Ketika Merangkai Iman Umat terpublikasi di Facebook, ada selentingan isu kalau motto IMMIM dihembuskan oleh Buya Hamka ke Fadeli Luran.  Boleh jadi.  Pasalnya, Hamka menganggap Fadeli Luran sebagai anak.
     Hamka tentu paham psikologis umat.  Apalagi, Sulawesi Selatan baru satu dekade lepas dari pergolakan yang penuh percik darah.  Dua peristiwa besar kala itu dimotori oleh Abdul Kahar Muzakkar dan Andi Abdul Azis.
     Dua Abdul ini senantiasa tergiang di telinga sampai kini.  Keduanya bak George Washington di Amerika Serikat, Napoleon Bonaparte di Perancis maupun Yasser Arafat di Palestina.
     Kelahiran IMMIM dipicu oleh kegelisahan Fadeli Luran yang melihat umat tak seragam mengaplikasikan fikih (hukum Islam).  Fadeli Luran khawatir ini bisa menimbukan kerugian yang memantik bahaya.
     IMMIM dibentuk agar umat terhindar dari perpecahan.  Indikasi negatif menganga bila Islam terbelah dalam beberapa kelompok.  IMMIM diniatkan sebagai penengah.  Organisasi non-politik ini dirancang guna menjembatani perbedaan supaya terjalin silaturrahmi demi menjaga ukhuwah.  Ini memaparkan bahwa filosofi IMMIM berambisi menengahi pertentangan konsep antar-golongan.
     Motto IMMIM yang elok didiskusikan yakni "toleransi dalam furu'iyah serta khilafiah".  Sebab, tidak ada kerumitan mengenai "bersatu dalam akidah".  Akidah tak patut ditawar karena telah final sebagai prinsip Islam.
     Dari segi etimologi, furu'iyah berarti perbedaan.  Aksentuasinya, perbedaan pemahaman yang dapat mengobarkan perpecahan.
     Perbedaan terkandung pula dalam khilafiah dengan skala renik.  Ini terjadi lantaran tidak ada dalil khusus.  Perdebatan membahana karena sebagian ulama mempertanyakan status hukum suatu masalah.  Contoh khilafiah yaitu Maulid Nabi, jumlah rakaat tarawih, kunut (doa khusus), tahlilan dan ziarah kubur sembari baca Yasin.

Jahr-Sirr
     Pada tahun 2000, saya pindah masjid.  Pasalnya, terjadi kegaduhan tentang tata cara pembacaan basmalah saat shalat.  Satu kelompok menginginkan basmalah dikeraskan (jahr).  Golongan kedua berteguh agar bersuara pelan (sirr).
     Saya berada di kafilah kedua.  Tatkala naik haji, saya tak mendengar lafal basmalah Syekh Abdul Rahman as-Sudais.  Di buku-buku juga diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak mengeraskan lafaz basmalah.
     20 tahun kemudian, saya pindah rumah seraya pindah masjid.  Marbot sempat mempertanyakan lafal basmalah yang tak dikeraskan.  Saya langsung merasa bahwa ia tidak memperkenankan lagi saya imam.  Saya akhirnya cari lagi masjid.  Di samping sirr, usai memimpin shalat, saya tak mau berjabat tangan dengan makmum.  Saya tidak pernah menemukan teks yang menerangkan Maharasul Muhammad berjabat tangan dengan jemaah usai shalat.
     Pro-kontra basmalah begitu tajam serta berlarut-larut.  Tak ada otokritik jemaah demi meningkatkan nilai epistemik secara faktual dan empiris.  Tidak diketahui pasti apakah ini mirip dengan pendukung Donald Trump.  Seperti dilansir banyak media, mayoritas pendukung Trump ketika Pemilu 2016, berasal dari tingkat pendidikan rendah.  Grup anti-rasional kerap takabur dengan ilmu yang minus.  Ini sejalan dengan ungkapan David Dunning bahwa mereka gagal memahami kejanggalan sebagai kesalahan.
     Kemajuan sains serta teknologi sesungguhnya memudahkan sengketa jahr-sirr diselesaikan.  Membuncah informasi yang mengarah ke Ali bin Abi Thalib.  Narasi menukilkan bahwa Ali bin Abi Thalib memilih sirr dalam perkara basmalah.  Ali bin Thalib pasti meniru cara baca Rasulullah.  Sebab, ia diasuh sejak kecil dan menantu sang Nabi.  Ali bin Abi Thalib malahan tertoreh sebagai orang terbaik keempat di dunia Islam.
     Kemelut jahr-sirr menegaskan bahwa ada misinformed (salah informasi).  Ini akibat wadah menimba ilmu bukan figur yang berkompeten.  Ustaz poorly informed (kurang informasi) pasti melahirkan santri idiotlogi.
     Ini belum seberapa.  Ada yang belajar di Internet lantas merasa diri memahami seluruh persoalan.  Ia berkeras tuturannya berhak didengar publik.  Mendesakkan petisi supaya dikeluarkan fatwa.  Ia seolah lebih hebat dibandingkan Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i atau Imam Hambali.  Inilah yang disebut oleh Tom Nichols sebagai "the death of expertise", matinya kepakaran gara-gara segelintir idiot yang merasa pintar.

Zaman Nabi
     Saya menilai filosofi IMMIM merupakan proses santrinisasi masyarakat ultra-mutakhir yang berkarakter saintifik-industrial.  Fadeli Luran melakukan vaksinasi berupa intensifikasi kultur religius terhadap kaum Muslim.  Proses ini bakal terus berlangsung selama interpretasi fikih tak kembali ke khittah, karakteristik khas ajaran langit ketujuh.
     Di era nabi, segala perbedaan cepat teratasi berkat Rasulullah.  Perbedaan tidak destruktif di kalangan umat.  Pihak yang bertikai bisa didamaikan atas dasar kepuasan bersama.  Hingga, aneka perbedaan tak mengakibatkan perkembangan terhambat (blocked).
     Kini, perbedaan justru gampang meruncing.  Bahkan, berujung untuk saling memusnahkan.
     Jika motto IMMIM sudah tidak dibutuhkan, berarti tak ada lagi sengketa furu'iyah serta khilafiah.  Semua seragam demi menggapai kualitas ibadah secara gigantik.  Dan itulah cita-cita luhur Fadeli Luran, "dunia tanpa furu'iyah serta khilafiah".


Sumber
Rakyat Sulsel Jumat, 22 Mei 2020
Rakyat Sulsel Sabtu, 23 Mei 2020




Sabtu, 25 April 2020

Beda Mudik dan Pulang Kampung


Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung
Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung
Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung
Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung
Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung


Beda Mudik dan Pulang Kampung
Oleh Abdul Haris Booegies

     Tiap orang yang kembali ke desa disebut pulang kampung.  Sebaliknya, tidak semua yang kembali ke desa dinamakan mudik.  Ada perbedaan.
     Pulang kampung bisa dilakukan kapan saja dalam penanggalan kalender.  Sementara mudik hanya dilakukan pada Ramadan menjelang Idul Fitri.  Pasca Lebaran, warga lebih suka menggunakan istilah pulang kampung.
     Mudik memiliki nilai spiritual.  Setelah berupaya di suatu wilayah, sukses atau gagal, mereka merindukan kampung halaman.  Hendak bersua dengan keluarga, tetangga serta sahabat.
    Pulang kampung lebih kental dengan nilai finansial.  Pulang kampung dilakukan kapan saja, dengan implikasi ada kesuksesan yang dibawa.  Minimal, usaha di kota mulai berkembang.
     Kalau mereka pulang kampung cuma membawa kegagalan, tentu ini menimbulkan cemooh.  Buat apa ke kota mengadu nasib, lebih baik di kampung hidup bertani atau berkebun.
     Mudik tak mengusung nilai finansial.  Sukses atau gagal, yang penting kembali ke desa menemui orang-orang tercinta menjelang Idul Fitri.

Ahad, 26 April 2020, pukul 08.00-08.20



Kamis, 23 April 2020

Fadeli Luran Membuka Cakrawala Keimanan


Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran
Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran
Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran
Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran Fadeli Luran



Biografi Mini Haji Fadeli Luran
MEMBUKA CAKRAWALA KEIMANAN
Oleh Abdul Haris Booegies

dan Daswar M Rewo

     Haji Fadeli Luran dan Muhammad Jusuf Kalla pernah bertaruh tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr Daoed Joesoef.  Keduanya bertaruh tentang salam "Assalamu AlaikumWarahmatullahi Wabarakatuh".  Kalau Daoed Joesoef mengucapkan salam, berarti Fadeli Luran yang menang.  Tentu saja, hadiahnya sekedar kebanggaan semata.
     Usai upacara Dies Natalis Universitas Hasanuddin, Daoed Joesoef pun bergegas ke Bandara Hasanuddin di Mandai.  Ketika akan naik ke pesawat.  Fadeli Luran menjabat tangan sang menteri sambil mengucap salam: "Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh".  Mendengar itu, Daoed Joesoef hanya tersenyum.  Pendiri IMMIM itu mengulang lagi.  Jawaban Daoed Joesoef tetap tidak ada kecuali gumam kecil.  Gelagat yang diperlihatkan tokoh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tersebut membuat Fadeli Luran memegang erat tangan Daoed Joesoef seraya  meninggikan suara. "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh".  Suasana yang menimbulkan keterpaksaan itu, mendorong Daoed Joesoef membalas salam Fadeli Luran.  Kalau tidak, jelas tangan Mendikbud tak bakal dilepas.
     Saat terjadi demo helm yang banyak menelan korban jiwa, rumah Fadeli Luran di Jalan Lanto Daeng Pasewang No 55, sempat didatangi massa.  Pasalnya, 1 November 1987 pada pukul 20.30, seorang penyiar TVRI Ujung Pandang, mengutip pernyataannya bahwa "memakai helm wajib hukumnya".  Mahasiswa yang masih marah atas tragedi helm, akhirnya berniat menyerbu.  Anehnya, Fadeli Luran tidak pernah melontarkan fatwa bahwa "memakai helm wajib hukumnya".
     Fadeli Luran, tokoh masyarakat Sulwesi Selatan, wafat pada Ahad, 1 Maret 1992.  Ia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.  Menjelang ajalnya, Fadeli Luran cuma mampu mengunyah empat sendok bubur yg diberikan ibu Rahmah, istri yang setia menemaninya dalam suka dan duka.
     Ketika seteguk air membasahi tenggorakannya, Fadeli Luran tiba-tiba batuk.  Mendadak di sekelilingnya berubah gelap.  Suster kemudian membantu detak jantungnya dengan alat pernafasan.  Di layar monitor EKG (elektrokardiogram), terlihat grafik denyut jantungnya redup menjadi garis tipis lurus pertanda kematian mulai menyongsong. Tangannya yang lemah lalu mencabut selang pernafasan yang melengket di hidungnya.  Dengan suara pelan, Fadeli Luran kemudian menyebut asma Tuhan, "Allah...".  Detik-detik mencekam itu berakhir dengan terhentinya detak jantung.  Dan nafas pun putus.  Innalillahi wa innailaihi rajiun.
     Pukul 07.30. WIB, Fadeli Luran meninggalkan segala hal yang telah dipejuangkan.  Pengagum Bung Hatta yang banyak meninggalkan monumen Islam tersebut, tak kuasa manahan ajalnya.  Kesehatan Fadeli Luran, memang, menurun sejak operasi penyakit penyempitan pembuluh darah yang terdapat di kakinya pada Rumah Sakit Academic Medica Centrum (AMC) di Amsterdam, Belanda pada 1987.  Selain menderita katarak, ia pun mengidap lever.
     Semasa hidupnya, sosok pria tinggi besar itu merupakan figur pemimpin yang brilian.  Hingga, ia mampu menjabat berbagai posisi penting dalam beberapa organisasi.  Selain Ketua Umum DPP IMMIM, Fadeli Luran juga diangkat menjadi Ketua Orpeha (Organisasi Persaudaran Haji) maupun anggota Dewan Penyantun Unhas, Universitas Negeri Makassar, Universitas Muhammadiyah, UIN Alauddin serta Universitas 45.
     Pada tahun 60-an, Fadeli Luran menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRD-GR) Kotapraja Makassar.  Kurun waktu 1965-1967, ia menjabat Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI).  Pada 1967, Fadeli Luran diserahi tugas oleh Andi Pangerang Pettarani sebagai Ketua Yayasan Badan Wakaf UMI Makassar.  Bahkan, ia pun pernah ditunjuk sebagai penasehat lembaga drama.
     Lembaran atribut Fadeli Luran, marak pula dengan pelbagai prestasi di kemiliteran.  Ia, yang mengakhiri karier ketentaraannya dengan pangkat Letnan II, pernah mengabdi sebagai Wakil Komandan Batalyon.  Di Kabapaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Fadeli Luran pernah menjabat komandan kompi.  Sedangkan surat penghargaan yang diperolehnya ialah Satyalencana Bhakti 17 Agustus 1958, Bintang Gerilya 10 November 1958, Satyalencana Peristiwa Aksi Militer Kesatu 17 Agustus 1958 dan Satyalencana Peristiwa Aksi Militer Kedua 17 Agustus 1958.
     Pada 1980, Fadeli Luran bersama Jusuf Kalla, AT Salama serta H Ince Muhamad Ibrahim, membangun Rumah Sakit Faisal.  Rumah sakit yang dibiayai Kerajaan Arab Saudi tersebut, terletak di kawasan Gunungsari seluas lima hektar.  Dalam menopang keberadaannya, dibentuk pula Yayasan Rumah Sakit Faisal(Yasrif).
     Terbetiknya pembangunan rumah sakit itu, bermula ketika Duta Besar Saudi Arabia Sheikh Bakr Alkhamais menjalin ukhuwah dengan Fadeli Luran.  Niat luhur tersebut akhirnya mendapat lampu hijau dari Kerajaan Arab Saudi.  Selain sebagai pionir pembangunan serta Ketua Yasrif, Fadeli Luran juga mendirikan Apotik Farida Rahmah pada 1980.
     Sekalipun banyak berkecimpung di bidang pendidikan, namun, pendidikan formal Fadeli Luran hanya kelas III Sekolah Dasar.  Jenjang pendidikan seumur jagung itu, justru tidak menghalanginya tampil meng-SK-kan lebih seribu sarjana.  Di samping bergelut di dunia sosial pendidikan, ia pun aktif dalam berbagai kegiatan Islam.  Hingga, masyarakat menyebutnya ulama.  Fadeli Luran menampik predikat tersebut.  Ia lebih suka dirinya dianggap sebagai zuamah (pemimpin informal) yang membina organisasi kaum Muslim.  Padahal, tempat Fadeli Luran mengkaji ilmu keislaman adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dan Mohammad Natsir.  Buya Hamka sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, malahan menganggapnya sebagai anak sendiri.
     Keandalan Fadeli Luran memimpin organisasi, diakui oleh beberapa kalangan.  Mantan Walikota Makassar HM Daeng Patompo, menuturkan bahwa: "Kepemimpinan Fadeli Luran sulit ditemukan saat ini.  Cuma sedikit orang yang bisa memiliki kharisma seperti Fadeli Luran.  Dia itu manusia ngotot.  Kengototannya, karena, bisa menghimpun umat Islam untuk ikut dalam masjid.  Apalagi, Fadeli Luran tidak pandang siang atau malam, yang jelas ia selalu berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi".
     H Ilham Aliem Bachrie, tokoh pemuda era 90-an, melihat figur Fadeli Luran sebagai insan agamis. "Rasa cinta kepada agamanya sangat tinggi.  Susah mencari orang seperti Fadeli Luran.  Sebab. ia ibarat gabungan tiga orang.  Idenya cemerlang serta mudah berkomunikasi dengan pelbagai golongan".
     "Fadeli Luran itu tegas sekaligus bijaksana.  Dalam beberapa hal, ciri leadership yang dimiliki bertipe paternalistik.  Di sisi lain, juga demokratis.  Fadeli Luran ibarat sebuah ungkapan: "katakan yang benar walau pahit".  Begitu tutur Baharuddin Daeng Massikki tentang Fadeli Luran.  Sedangkan A Hamid Aly, rekannya saat masih kecil mengungkap kalau Fadeli Luran punya keistimewaan.  "Ia memang sudah dikaruniai oleh Tuhan berupa ilham dan ilmu".

Nasionalis Segudang Akal
     Fadeli Luran mengeak pertama kali di Dusun Bampu, Desa Talaga, Enrekang.  Ia lahir dari rahim Haji Rawe pada 2 Januari 1922.  Fadeli Luran merupakan anak kedua dari enam bersaudara.  Mereka adalah Misa, Fadeli, Kasim, Mastura, Hamida dan Sawedi.  Luran, ayahnya seorang penjual ikan di pasar kabupaten yang juga petani garapan.
     Bayi montok tersebut, tumbuh menjadi anak pemberani.  Saat di SD, keberaniannya menyentuh hati Tuan Guru Sahibe, kepala sekolahnya.  Hingga, ia dipercayakan menjadi joki kuda Sahibe yang bernama Tenrisannae (Tak Terduga).  Fadeli Luran yang menunggang Tenrisannae selalu juara satu.  Mereka berlomba di pacuan kuda yang terletak di kampung Patili.  Kepopuleran Tenrisannae bersama Fadeli Luran, mendorong Sahibe untuk memperkenankannya tinggal di rumahnya.
     Selain bersekolah, Fadeli Luran pun ikut mengaji di Dusun Bamba, dua kilometer dari Bampu.  Di sana, ia diajar tajwid oleh Wa' Baco.  Kemampuan Fadeli Luran membaca ayat suci al-Qur'an, ditunjang oleh suaranya yang nyaring melengking.  Bahkan, jika Wa' Bco berhalangan, maka, Fadeli Luran yang mengajar rekan-rekannya.  Hamid Aly, seorang di antaranya yang pernah diajar oleh Fadeli Luran.
     H Akhmad Sinau, teman sepermainan Fadeli Luran berkisah bahwa anak itu tergolong cerdas.  "Di masa kecilnya ia pandai.  Fadeli Luran fasih berbicara dan selalu menjadi pemimpin.  Saat masih kanak-kanak, saya serta Fadeli Luran sering ikut main bola.  Jeruk yang kami jadikan bola.  Kami dengan teman-teman main bola di tanah luas di bawah pohon kelapa".
     Sesudah menetap selama dua tahun di rumah Sahibe, Fadeli Luran kemudian ke Maroanging.  Sejak itu, sekolah ia tinggalkan setelah duduk di kelas III SD.  Di Maroanging, Fadeli Luran menetap di rumah Ye' Makka, pamannya.  Di kampung tersebut, ia membantu Ye' Makka yang mandor jalan.  Ketabahan dan ketekunannya membuat Lim Keng Yong sangat terkesan.  Kepala Dinas Pekerjaan Umum yang keturunan Tionghoa itu, akhirnya meminta Fadeli Luran untuk tinggal di kediamannya di Bamba.
     Ketika menetap di rumah Lim Keng Yong, Fadeli Luran jatuh cinta dengan putri seorang bangsawan.  Perjalanan asmara tersebut, putus sesudah orangtua sang gadis keberatan.  Atas desakan keluarga ningrat itu, maka, Fadeli Luran akhirnya meninggalkan Bamba.
    Ia lalu berdagang bahan-bahan pokok sehari-hari.  Dari Enrekang, Fadeli Luran membawa beras dan jagung untuk dijual di Makassar.  Saat balik, ia membawa kain, merica, bawang putih, sabun serta beberapa keperluan dapur.  Barang itu kemudian dibeli oleh para penjual eceran di pasar.  Siklus perdagangan dari Enrekang ke Makassar tersebut, terus menempa wawasannya mengenai dunia wiraswasta.  Papa Tensi, pamannya yang jongos Belanda, tempat Fadeli Luran menginap bila ke Makassar, sangat bangga melihat potensi keponakannya.
     Fadeli Luran lalu merantau ke Balikpapan sesudah sulit mengembangkan usaha.  Ia ikut dengan Mama Cimba, tantenya untuk mengadu nasib.  Dalam kegairahan baru di Balikpapan, ia menjadi polisi.  Selain sebagai abdi negara yang setia kepada negara, Fadeli Luran juga berdagang gula merah serta keperluan rumah tangga lainnya.  Bahkan, ia pun belajar qasidah dan barzanji.
     Figur Fadeli Luran tidak sudi membiarkan ada lowongan yang mubazir.  Ia polisi, pedagang serta menekuni ilmu agama maupun kesenian.  Sosoknya merupakan manusia langka yang banyak akal dalam mengarungi terjangan kehidupan keras di masa penjajahan.
     Pada 1940, Fadeli Luran menikah dengan Hatijah.  Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai Abdul Rahman, Cahyani dan Sultani.  Sesudah bercerai, Fadeli Luran menikah dengan Tanri.  Dari Tanri, ia memperoleh tiga anak; Ishak, Halifah serta UsmanThamrin.  Mahligai rumah tangga mereka akhirnya kandas.
     Tekadnya kemudian menyala-membara untuk melihat Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan.   Hingga, ia bergabung dengan Raden Achmad.  Sepak-terjangnya yang dibalut rasa nasionalisme tinggi untuk bebas merdeka, membuat Fadeli Luran ditangkap.  Ia mendekam selama tujuh bulan di penjara.
     Pada 1945, Fadeli Luran bergabung dengan Abdul Mutalib Sangaji di Samarinda.  Bersama rekan-rekannya, mereka sering merepotkan posisi Belanda.  Akibatnya, ia dengan kelompoknya ditangkap.  Mereka dimasukkan sel di Samarinda.  Di sana, Fadeli Luran disekap selama enam bulan.  Sedangkan Sangaji dikirim ke Furcao, Borneo.
     Sangaji merupakan tokoh nasional yang seangkatan dengan Haji Agus Salim dan Haji Umar Said Cokroaminoto.  Ia termasuk tokoh gerakan politik Penyadar (pecahan PSII akibat perbedaan strategi dari para pemimpinnya).  Sebagai pengibar panji Penyadar di Kalimantan Timur.  Nama Sangaji disegani ketika ia bersama Mahir Mahar serta Adonis Samad mengibarkan sang saka merah putih di Puruk Cahu untuk pertama kalinya pada 3 Desember 1945.  Di hari itu pula, dinyatakan bahwa daerah Barito Hulu bergabung dengan Republik Indonesia.

From Yogya with Lieutenant
     Pada 18 September 1948, meletus pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun.  Suparto alias Muso adalah arsitek aksi pengkhianatan kebangsaan di Madiun tersebut.  Waktu itu, Muso menjabat sekretaris Suripno, gembong komunis alumnus Moskow.
     Setelah peristiwa Madiun, Letnan I Muhammad Bahar Mattalioe bertemu Fadeli Luran.  Sesudah perjumpaan itu, terjadi Agresi Kedua Belanda pada 19 Desember 1948.  Hingga, semua tentara Republik menyingkir ke pegunungan.  Apalagi, banyak kota yang direbut Belanda.
     Pada Agustus 1949, Letnan I Muhammad Akbar Syamsuddin bertemu pula dengan Fadeli Luran yang bersahabat dengan saudagar kaya Haji Mattalitti.  Saat itu, Syamsuddin akan memasuki Yogyakarta, Ibu Kota Republik Indonesia yang baru direbut dari Belanda. Untuk masuk Ibu Kota, orang harus menyelundup. Sebab, di sekeliling Yogyakarta masih dikuasai Belanda.
     Ketika menuju ke Yogyakarta, Bahar dan Syamsuddin membawa pula Fadeli Luran serta Burhanuddin sebagai pengikut yang bakal menggabungkan diri dengan satuan Brigade 16 Tentara Nasional Indonesia
( TNI ) pimpinan Letnan Kolonel Abdul Kahar Muzakkar.
     Dengan menumpang kapal laut, mereka tiba di Semarang dan mengontak Letnan Muda Mhd Amin.  Informasi yang mereka terima ternyata salah. Akibatnya, saat kereta api yang ditumpangi tiba di Stasiun Muntilan, mereka langsung berhadapan dengan Polisi Militer Belanda.
     Di perbatasan kekuasaan pasukan Belanda serta tentara Republik tersebut, mereka diperiksa.  Lalu dibawa ke Magelang.  Selanjutnya diangkut ke Salatiga.  Perilaku mereka yang baik sebagai pesakitan, memupus kecurigaan Belanda yang menganggapnya TNI maupun DI/TII ( Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosoewirjo.  Apalagi, mereka mengaku pedagang selama menjadi tawanan TIG (intelijen tentara Hindia Belanda).  Hingga, dalam menjalani pemeriksaan, mereka diperlakukan baik. Bahkan, tiap pagi dan petang, Fadeli Luran serta Syamsuddin berjalan sekitar satu kilometer untuk membawa makanan para tahanan lain yang berjumlah lebih seratus.
     Pada siang hari, mereka berkebun di halaman rumah Komandan Tentara Belanda. Waktu senggang setelah usai bekerja, Fadeli Luran suka bercanda dengan istri sang komandan.  Hingga, ia makin dilihat sebagai orang bersih yang jauh dari predikat gerakan pengacau keamanan.  Sekalipun diberi kebebasan dan kesempatan untuk berkebun, tetapi, pengawasan tetap ketat.
     Di penjara Salatiga itu, Fadeli Luran dipandang sebagai saudara tua.  Ia pun memberi pelajaran agama (atta’limu diniyyan) dalam kamp tawanan tersebut.  Kepada para tawanan yang juga dicurigai sebagai orang-orang Republik, Fadeli Luran mengajarkan shalat lima waktu.
     Kurun waktu terus berlalu.  Hingga, tak terasa Fadeli Luran telah berhari-hari menjadi tahanan.  Pada 23 Agustus 1949, diadakan Konferensi Meja Bundar (Round Table Conference) di ruang Ridderzaal, Den Haag, Belanda.  Konferensi itu selesai pada 29 Oktober 1949 yang ditandai penandatangan Konstitusi Republik Indonesia Serikat ( RIS ) di Scheveningen, Belanda.
     Pada 27 Desember 1949, diadakan upacara penyerahan kedaulatan Kerajaan Belanda kepada RIS di Amsterdam.  Di hari yang sama, juga berlangsung penyerahan kedaulatan Kerajaan Belanda oleh HVK Lovink kepada Pemerintah RIS yang diwakili Sri Sultan Hamengku IX.  Sehari berikutnya, Presiden Soekarno meninggalkan Yogyakarta menuju ke Jakarta untuk melaksanakan jabatannya sebagai Presiden RIS.
     Dampak KMB akhirnya membebaskan Fadeli Luran serta para sahabatnya dari sekapan Belanda.  Sesudah menjalani pemeriksaan terakhir, mereka pun dibolehkan memasuki wilayah Republik.  Dengan catatan, mesti pulang ke kampung asal masing-masing.  Pasalnya, kalau tetap mencoba menerobos masuk ke Yogyakarta dan tertangkap lagi, maka, resikonya ditembak mati oleh pasukan Belanda.  Mereka pun mengiyakan keinginan Belanda.
     Sesudah tiba di Semarang, Fadeli Luran, Bahar, Syamsuddin serta Burhanuddin justru mencari penghubung untuk kembali menerobos pertahanan demi mencapai Ibu Kota.  Ketika program penyusupan dirancang, terjadi ketidakcocokan.  Sebab, Bahar mengusulkan supaya kembali ke Surabaya menunggu hari baik untuk menyelinap masuk ke Yogyakarta.  Sementara Fadeli Luran, Syamsuddin, dan Burhanuddin tetap berkeras menyusup.  Akhirnya, Bahar ke Surabaya sedangkan “trio manusia nekat” itu berjuang menerobos masuk ke Yogyakarta.
     Dengan semangat pantang menyerah, mereka kemudian menyewa mobil menuju ke Magelang.  Lalu menemui penghubung yang lain agar bisa menyelundupkannya ke Yogyakarta.  Sesudah mendapat perlindungan, mereka akhirnya menuju ke Ibu Kota dengan dokar melewati desa-desa yang masih dikuasai Belanda.
    Perjalanan maut yang mendebarkan itu berakhir saat mereka berhasil sampai di pos perbatasan Belanda serta Republik.  Kapten CPM Muhammadong dan Letnan Maulwi Saelan yang menjadi komandan di Pos TNI, kemudian membawa mereka masuk ke Yogyakarta menuju Markas Brigade 16 yang dipimpin Kahar Muzakkar.
    Setelah melaporkan keterlambatannya akibat disergap Belanda, mereka pun beristirahat di Hotel Tentara yang letaknya di Jalan Tugu dekat Stasiun Yogyakarta.  Selama di Ibu Kota sejak Desember 1949, Fadeli Luran mengikuti Latihan Kilat Tentara.  Sesudah menempuh basic training selama tiga bulan, Fadeli Luran pun berhak menyandang pangkat Letnan II.  Tekadnya pun kian tegar untuk meneruskan perjuangan.

Menggempur dan Tertembak
     Fadeli Luran yang resmi masuk jajaran TNI, akhirnya diberangkatkan ke Makassar lewat Surabaya untuk bergabung dengan Komando Group Sulawesi Selatan (KGSS).  Mereka dipimpin oleh Kapten Saleh Syahban.  Misinya ialah menghancurkan pasukan Kapten Andi Abdoel Aziz yang membangkang terhadap negara Republik Indonesia Serikat (RIS).  Aksi Andi Aziz berkobar pada 5 April 1950.
     Di Makassar, Fadeli Luran dipercaya memimpin satu peleton untuk menumpas gerakan Andi Aziz.  Pasukan tersebut bersama tentara lainnya segera beraksi.  Di Jalan Mongisidi, mereka menghantam konvoi tank Koninklijk Nederlandsch Indiasche Leger (KNIL) yang membantu Andi Aziz.  Fadeli Luran bersama rekan-rekannya berhasil membebaskan Sekolah Guru Putri (SGP).  Para pelajar di sekolah itu terkurung selama dua hari dua malam akibat tembak-menembak antara TNI dengan Pasukan Kerajaan Hindia Belanda (Royal Netherlands Indies Army).
     Pemberontakan Andi Aziz yang menyulut genderang perang bemula saat menyerang staf Kwartier APRIS di Coenenlaan, Makassar.  Mereka akhirnya kalah sesudah pasukannya terpojok di Pandangpandang.  Bukan Andi Aziz kalau ciut.  Sebagai keturunan bangsawan di Barru, ia tetap tegar.  Apalagi, ditunjang karier militer yang sangat mempesona.  Andi Aziz pernah bertempur melawan Jerman di Belanda.  Ia juga tenaga bantu tentara Perancis di Kolombo, Srilanka.
     Prestasi besar yang diukir Andi Aziz sebagai penerjung jempolan, membuat kesalahannya berupa pengkhianatan terhadap Tanah Air memperoleh ampunan dari Presiden Soekarno.  Penghapusan kesalahan itu didasari oleh minat Bung karno yang menghendaki Andi Aziz menjadi Instruktur Para pada Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden.  Andi Aziz menolak.  Ia memilih menjadi pegawai di PT Pelayaran Samudera Indonesia.
     Dalam satu operasi penumpasan pengikut Andi Aziz, Fadeli Luran kena tembak di pundak dan paha.  Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pelamonia.  Setelah sembuh, Fadeli Luran bersama Akhmad Sinau menghadap ke Letnan Kolonel Soeharto yang menjadi pimpinan Brigade Garuda Mataram di Jalan Mongisidi.  Ia menjelaskan keadaannya yang sudah tidak mungkin lagi aktif di ketentaraan.  Fadeli Luran lalu diberi surat oleh Soeharto.  Ia kemudian menghadap ke Kolonel Kawilarang, Panglima TT VII.  Sejak itu, Fadeli Luran diberhentikan dengan hormat dari dinas kemiliteran.
     Fadeli Luran lalu kembali menekuni dunia usaha.  Ia mencurahkan pula tenaga serta pikiran di organisasi kemasyarakatan.  Pada 1950, Fadeli Luran mendirikan organisasi orang Enrekang dengan nama Himpunan Kerukunan Massenrempulu Hijrah (Hikmah).  Ia pun didaulat sebagai ketua.  Organisasi itu mampu memiliki asrama sekaligus membangun masjid.   Bahkan, tercatat sebagai organisasi pertama di Makassar yang punya ambulance.
     Pada 1951-1953, ia bersama H Nonci Beddu (Nobe) menjadi leveransir yang menyuplai angkatan udara.  Sesudah menjadi leveransir, Fadeli Luran berdagang kayu dari Makassar ke Samarinda.  Pekerjaan itu membuatnya untung banyak.
     Fadeli Luran kemudian menikah dengan Hanisa.  Bahtera perkawinan tersebut tidak bertahan, kandas di tengah jalan.  Walau rumah tangganya tidak awet, tetapi, bisnisnya meningkat pesat.  Hingga, ia membuka koperasi sekaligus mendirikan Toko Buku Nirwana.  Ketika itu, ia juga mendapat rumah di Jalan Sawerigading.  Dari Dinas Pekerjaan, Fadeli Luran pun memperoleh rumah di kecamatan Mariso atas jasanya terhadap bangsa dan negara.
     Pada 10 Mei 1953, Fadeli Luran melangsungkan pernikahan dengan Siti Rahmah, putri Residen Haji Alimuddin Daeng Mattaro.  Curahan kasih-sayang mereka membuahkan putra-putri.  Berturut-turut lahir Diana Hanum, Ahmad Dana Zulkifli, Ahmad Syahruddin, Nur Insani, Nur Hadliah, Ahmad Malangkapi, Ade Raheni, Ahmad Fathahah, Nur Fajriah serta Ahmad Fanani.
     Kesuksesan bisnis membuat Fadeli Luran mendirikan PT Dakota Raya pada 1953.  Dakota Raya yang menfokuskan diri di jalur percetakan, memiliki cabang di Jakarta, Surabaya, Medan dan Manado.  Setahun berikutnya, didirikan CV Dana Trading Coy yang bergerak di bidang kontraktor serta perdagangan umum.  Pada 1955, Fadeli Luran bersama Andi Hamid dan Makkawaru merintis pendirian Asosiasi Kontraktor Indonesia.  Wadah ini berfungsi sebagai organisasi para kontraktor.

Sorot Mata Menggetarkan
     Pada 13 April 1964, Fadeli Luran berceramah subuh dengan tema persatuan umat Islam di Masjid Nurul Amin, Makassar.  Ia tiba-tiba diimbau turun dari mimbar.  Desas-desus berhembus bahwa perintah agar ceramah itu tidak dilanjutkan berasal dari Dr Subandrio.  Fadeli Luran kemudian diangkut ke kantor polisi.  Di sana, ternyata sudah terciduk A Rasjid Ali dan Haji Lapangka, dua sahabatnya bersama 50 pesakitan.
     Penangkapan terhadap mereka gara-gara tuduhan memberi sumbangan ke DI/TII.  Padahal, sumbangan itu sebenarnya untuk Hikmah yang terletak di Barabaraya, Makassar.  Teka-teki sampai detik ini rumit terkuak, mengapa sumbangan itu dianggap masuk ke kelompok DI/TII.
     Di penjara Polda yang terletak di Jalan Ahmad Yani, mereka dijaga ketat oleh polisi dengan bayonet.  Sekalipun mereka diawasi siang-malam, tetapi, para penjaga tersebut akhirnya luntur keangkerannya.  Mereka kelihatan iba.  Sebab, mengawasi  orang-orang yang tidak jelas kesalahannya.  Akhirnya, polisi dengan bayonet itu bisa berbaur dengan para tahanan.
     Dalam proses verbal, Fadeli Luran yang dituduh antek DI/TII, punya kenangan unik.  Sebab, jika diinterogasi, maka, wajahnya dihadapkan ke tembok.  Pasalnya, penyidik tak kuasa menatap sorot mata Fadeli Luran.
     Selama setahun lebih, Fadeli Luran, Rasjid Ali dan Lapangka, diperiksa.  Di dalam bui, Fadeli Luran jarang tidur.  Ia sangat tekun mengaji.  Perilakunya teramat tegas dan selalu memberi semangat.  Bahkan, bersama saudara-saudara seiman, mereka mengislamkan enam etnis Tiongkok yang juga diciduk.
     Di suatu subuh yang dingin, Fadeli Luran memanggil Rasjid Ali.  Ia menceritakan peristiwa yang dilihatnya dalam mimpi.  "Saya bermimpi semalam supaya sesudah usai musibah ini, membuat organisasi Islam.  Bunga tidur tersebut ibarat ilham bagi saya.  Dalam mimpi itu, saya sedang duduk tafakur.  Sebuah teko yang sangat indah berwarna keemasan mendadak keluar dari pundak saya.  Cerek itu seolah ada yang mengangkat.  Airnya lalu tumpah membasahi wajah.  Terminum oleh saya yang menyejukkan kerongkongan".
     Sebenarnya, selain mimpi yang menjadi obsesi, juga fenomena umat Islam di Indonesia masa itu sering membuat Fadeli Luran merasa gundah.  Ia gelisah melihat kaum Muslim terdiri atas beberapa kelompok(firqah).  Hasratnya ketika itu hanya mempersatukan kelompok-kelompok tersebut dalam satu wadah.  Di luar dugaan, sebelum niat itu terlaksana, ia meringkuk dalam tahanan akibat difitnah membantu DI/TII sekaligus dituduh PKI.
     Dalam penjara, Lapangka yang merasa diri tak bersalah, sering histeris.  Ia stres karena merasa tak tahu masalah sumbangan yang dituduhkan.  Tatkala tertekan begitu, Fadeli Luran segera menenangkannya.  Persentuhan tersebut akhirnya mengikat batin keduanya.
     Saat bergelut dalam bui, Mayor A Hamid Aly memperjuangkan kebebasannya.  Ia merupakan perwira intel di Operasi Kilat dengan Komandan Kolonel Solihin Gautama Purwanegara yang bertekad menyapu gerombolan PKI.  Hamid Aly melihat tuduhan terhadap Fadeli Luran bersama sahabatnya tidak dilandasi bukti otentik.  Timbul dugaan ini semua gara-gara iri hati terhadap usaha Fadeli Luran, Rasjid Ali dan Lapangka yang berkembang pesat.  Berkat kegigihan Hamid Aly yang menjadi Asisten I Operasi Kilat, maka, Fadeli Luran bersama rekan-rekannya akhirnya bebas.  Ia memperoleh surat pembebasan yang ditandatangani oleh Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Letnan Kolonel M Joesoef.
     Ketika keluar dari penjara, Lapangka menjabat erat tangan Fadli Luran sambil memeluk penuh bahagia.  "Kita bersaudara dunia-akhirat", bisik Lapangka terharu.  Kelak, jalinan persaudaraan itu makin terpatri oleh pernikahan antara putri Fadeli Luran dengan putra Lapangka.
     Hamid Aly kemudian menyarankan kepada Fadeli Luran, Rasjid Ali dan Lapangka agar tinggal sementara di Parepare demi menghindari kecurigaan.  Sebab, situasi tidak kondusif akibat sepak-terjang PKI yang bertekad mengomuniskan Indonesia.  Di saat itu pula, Hamid Aly diangkat sebagai Komandan Kodim di Parepare pada 1968-1973.
     Sesudah menjalani hukuman dalam penjara sekaligus liburan panjang di Parepare, Fadeli Luran pun turun gunung membenahi bisnisnya.  Sejak itu pula, mimpinya di penjara Polda yang melahirkan alam impian (alamil khayala) kian menggebu-gebu untuk direalisasikan.

Realisasi Impian
     Kala angan-angan (dreamland) Fadeli Luran memuncak untuk menyatukan umat Islam, ternyata PKI sudah merangsek di mana-mana.  Dengan kelihaiannya, PKI mampu berjalan seiring dengan aparat Pemerintah.  Sebab, mendapat perlindungan dari pusat pemerintahan.  Hingga, punya kesempatan dan fasilitas.  Akibatnya, kegiatan-kegiatan PKI leluasa diadakan.  Di sisi lain, kaum Muslim dikucilkan.  Selain menekan insan beriman, komunis menyensor pula media massa.
     Fadeli Luran, Patompo dan Andi Baso Amir melihat bahwa umat Islam bisa menjadi komunis akibat kebodohannya.  Tekanan kejahiliaan yang dihembuskan penganut ateis itu, bisa membuat pengikut ajaran Maharasul Muhammad terkotak-kotak sampai mudah diadu domba.
     Trio itu kemudian bertekad membuat satu strategi untuk melawan PKI.  Mereka menghendaki sebuah organisasi yang bisa menampung aspirasi kaum Muslim.  Apalagi, komunis sudah masuk ke masjid dan organisasi-organisasi Islam.
     "Mereka lebih fasih dari umat Islam.  Mereka lebih pintar.  Sebab, mereka mempelajari Islam.  Sedangkan kita ini cuma Islam turunan.  Tidak mendalami ilmu agama", kenang Patompo yang menjadi penopang eksistensi IMMIM di awal berdirinya.
     Melihat fenomena yang sangat memojokkan umat Islam tersebut, Fadeli Luran , Patompo dan Baso Amir mendatangi masjid-masjid untuk memberikan dakwah sebagai bentuk perlawanan terhadap komunis yang menyamar sebagai Muslim.
     Ramadan pada 1963 di kediaman Baso Amir di Jalan Gunung Latimojong No 22, berkumpul 50 pengurus masjid dan musalah se-Makassar.  Dalam acara ramah-tamah itu, Fadeli Luran menjelaskan adanya keragaman dalam panafsiran fiqh.  Masalah shalat, umpamanya, terlihat pelaksanaannya berbeda dengan mazhab lain.  Perbedaan cara shalat ini, bukan hanya di Indonesia.  Sebab, saat ia naik haji pada 1962, pelbagai "kelainan" sejenis banyak ditemukan.  Hal ini bisa menggoyahkan iman seseorang.  Hingga, Fadeli Luran terpanggil untuk mengembalikan pemahaman aneh itu ke sumber asli.
     Pada 1 Januari 1964, berdiri secara resmi organisasi nonpolitik yang dinamakan Ikatan Masjid Musallah Indonesia (IMMI).  Fadeli Luran dibaiat sebagai ketua.  Kehadiran IMMI kemudian secara perlahan menghapus pertentangan golongan dan mazhab.  Bahkan, pengurus kelompok-kelompok itu menjadi sokoguru ketegaran IMMI.
     Pada 1966, dilangsungkan musyawarah kerja IMMI pertama di Markas Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di Jalan Chairil Anwar.  Dalam musker itu, Fadeli Luran menyerahkan secara simbolis bendera IMMI ke segenap pengurus masjid dan musalah se-Makassar di Masjid Nurul Amin.  Ditegaskan oleh Fadeli Luran bahwa bendera IMMI merupakan lambang yang menandakan adanya kegiatan umat Islam.
     Pada 25-29 Juli 1967 dalam musker kedua, IMMI makin kuat.  Hingga, musker yang dihadiri 278 perserta itu, berhasrat memperluas wilayah IMMI.  Gagasan itu seiring perubahan IMMI menjadi IMMIM (Ikatan Masjid Musalah Indonesia Muttahidah).
     Patompo yang merupakan eksponen 45 Sulsel, lalu menginginkan IMMIM tampil lebih intensif.  Ia pun menghibahkan rumah di Jalan Jenderal Sudirman untuk dijadikan markas komando.
     Rumah itu milik Dinas Pekerjaan Umum yang penghuninya kemudian dipindahkan setelah dibayar dengan uang zakat dari Pemerintah Daerah senilai Rp 750 ribu.  Di samping itu, juga ada tanah milik seorang warga Enrekang.  Hingga, atas kesediaannya, maka, tanah itu dibebaskan.  Sedangkan pendirian Gedung IMMIM tidak lepas dari jasa H Ince Naim Daeng Mamangun.  Gedung IMMIM kemudian diresmikan oleh Pangkowilham IV Mayor Jenderal A Kemal Idris pada 23 April 1970.
     Di gedung yang dijadikan markas itu, banyak dilakukan kegiatan-kegiatan seperti diskusi, musyawarah dan rapat untuk membangkitkan api Islam dalam dada generasi muda.  Aneka kegiatan itu membantu Pemerintah Orde Baru dalam pengembangan agama, pemerintahan maupun pemeliharaan stabilitas.
     Kehadiran IMMIM seolah anugerah yang membanggakan.  Sebab, semua pejabat di Makassar merestui kehadirannya.  Bahkan, menyokong segala kebutuhan primer.  Hingga, fungsi IMMIM menjadi markas Islam.  Apalagi, IMMIM berhasil mengadakan kursus mubalig yang menyebar ke seluruh masjid di Sulawesi Selatan.
     Dalam perkembangannya, IMMIM didukung oleh Yayasan Dana Islamic Centre (Yasdic).  Wadah itu bertujuan menunjang kegiatan Dewan Pengurus IMMIM.  Sebagai institusi yang mengolah sekaligus menggali sumber dana, maka, yayasan nonprofit itu menggariskan langsung ke unit-unit usaha IMMIM.  Hingga, IMMIM mampu melebarkan sayap ke Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Irian Jaya.  Pada akhirnya, IMMIM bisa merambah sampai ke seluruh pesosok Indonesia Timur.
     Kehadiran IMMIM yang potensial, sangat berpengaruh di berbagai kalangan.  Bahkan, mendapat respons positif dari Presiden Soeharto pada 1970.  Pak Harto bersilaturahmi ke Islamic Centre IMMIM untuk bersua ulama se-Sulawesi Selatan yang dipimpin Fadeli Luran.
     Pada 3 Juli 1978, ketika mubes IMMIM kedua berlangsung, tercetus pendirian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMMIM.  Anggota DPP IMMIM periode pertama ialah Fadeli Luran, HM Quraisy Shihab, A Rahman Rahim, Kiai HM Nur, Halide, Baharuddin DM, Muhammad Ahmad, Abdullah Basir dan Nur Abdurrahman.
     Selain mengoordinasikan masjid, IMMIM juga melihat pendidikan sebagai masalah yang mutlak diutamakan.

Tugu Monumental
     Gagasan Fadeli Luran yang teramat cemerlang yaitu Pesantren Modern IMMIM.  Apalagi, pondok keagamaan itu menjadi obat penenang baginya.  "Bila Bapak pusing-pusing, ia lalu ke pesantren.  Hingga, begitu tiba di rumah, hatinya pun senang", papar Ibu Rahmah, sang istri.
     Terbetiknya ide Fadeli Luran untuk mendirikan pesantren bermula ketika ia melihat banyak orangtua dari Indonesia Timur menyekolahkan anaknya di pesantren-pesantren yang bertebar di Jawa.  Bahkan, Zulkifli dan Usman, putranya juga menuntut ilmu di Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, JawaTimur.
     Di pesantren tersebut, Fadeli Luran banyak melihat suasana kehidupan santri-santri.  "Pada 1968, saya telah mengenal Fadeli Luran.  Sebab, ia diajak berkeliling kampus Gontor oleh KH Umar Zarkasyi.  Sesudah melihat Pesantren Gontor, Fadeli Luran kemudian salat seraya memohon petunjuk Allah supaya diberi kekuatan untuk mendirikan pesantren", kenang Prof Azhar Arsyad MA.
     Pada 14 Januari 1975, Fadeli Luran bersama Halide, Rahman Rahim, Nur Aburrahman, Muhammad Ahmad, Fachrul Islam dan Ince Ibrahim, mendirikan Pesantren Modern IMMIM.  Selain membangun di Tamalanrea, Makassar, untuk putra, dibangun pula di Minasate'ne, Pangkep, untuk putri.
     Tempat pendidikan putra-putri dengan ciri madrasi/ribati (modern) yang berdiri di antara kemajuan fisik material itu, juga diimbangi pembagunan mental spiritual keagamaan.  Apalagi, program Arabisasi bahasa yang diterapkan dalam kampus, membuat semua aktivitas kehidupan sehari-hari para santri marak dengan percakapan bahasa Arab.  Dari penguasaan bahasa itu, santri-santriwati diharap memiliki keandalan untuk menggali Islam dari sumbernya.
     Selain Arabisasi bahasa yang menjadi ciri khas, Pesantren Modern IMMIM pun sukses menerapkan mata pelajaran umum.  Sebab, menggunakan kurikulum SMP/SMA dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun kurikulum Tsnawiyah/Aliyah dari Kementrian Agama.  Hingga, hasil akreditasi 1989/1990 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan tingkap SMP serta SMA IMMIM pada jenjang disamakan.
     Dalam perjalanannya, Pesantren Modern IMMIM banyak dipuji para tamu yang datang bersilaturahmi.  Sebagai contoh, Jacob Vredenbregt (Guru Besar Tamu Unhas) yang berkunjung pada 13 Juli 1978 mengatakan: "Sangat mempesonakan!"  Pada 22 Oktober 1978, Prof Teuku MASDESW Shahriar Mahyudin CL MSc (Pimpinan Tertinggi International Black Panther Karate Indonesia) menulis kesan bahwa: "Sangat bangga dan kagum setelah melihat keadaan anak-anak yang berlatih.  Semoga lebih berhasil lagi".
     Pada 6 Februari 1979, Anwar Ibrahim dari Himpunan Pemuda Islam Sedunia mengatakan: "Semoga rencana mendidik anak-anak dapat menghasilkan insan akademis yang bertakwa kepada Allah".  Pada 9 Mei 1979, Buya Hamka berkunjung ke Pesantren IMMIM.  "Pekerjaan yang mulia dan tulus.  Moga-moga diberkahi Tuhan", begitu komentar Buya Hamka saat menyaksikan aktivitas para santri.
     Julie Paulsen (pelajar AFS) berkunjung ke Pesantren IMMIM pada 18 Februari 1980.  Ia terkesan dengan model pesantren.  "Saya kira the school here is a very special school.  I think it's great that the students learn bahasa English and Arab.  The student are all well behaved and very friendly.  Thanks for my change for another experience and another place to get to know people".
     Kini, Pesantren Modern IMMIM telah melahirkan alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM).  Sejumlah alumni melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat, Kanada, New Zealand, Belanda, Australia, Arab Saudi, Mesir, Yaman, Lebanon, Libya, Syria, Pakistan dan Malaysia.
     Para alumni diharap menjadi Mahaputra Utama yang sanggup membentuk diri sebagai pilar Islam dalam menyongsong era mutakhir selanjutnya.  Sebab, perjuangan umat Islam di masa depan, akan banyak mengalami perbenturan dengan sains dan teknologi.  Hingga, bila tidak diantisipasi sejak dini, maka, sangat fatal bagi dakwah Islamiyah
     Dari Pesantren Modern IMMIM yang merupakan tugu monumental Fadeli Luran, para santri serta alumni wajib memegang prinsip IMMIM "Bersatu dalam aqidah, toleransi dalam furu dan khilafiah".

Wawancara
HM Daeng Patompo
A Hamid Aly
H Akhmad Sinau
Prof Dr Azhar Arsyad
Akbar Syamsuddin
Haji Lapangka
Bahar Mattalioe
H Ilham Aliem Bachrie


Data Dicuri dan Dikutip 100 Persen
     Biografi mini Fadeli Luran "Membuka Cakrawala Keimanan", saya tulis pada 1992.  Edisi revisi berjudul Merangkai Iman Umat.  Datanya sempat dicuri oleh KN, lantas dipublikasikan di blog oleh IW pada 2008.  IW lalu menyebar di Facebook sekalipun saya sudah sampaikan kalau itu bermasalah karena data curian.  Ini perbuatan tidak bermoral dari orang yang tak tahu malu.






     Pada Jumat, 10 April 2020, saya dibeitahu kalau ada biografi Fadeli Luran ditulis oleh Misbahuddin Ahmad.  Saya lalu menghubungi Misbahuddin.
     "Saya belum lihat biografi Fadeli Luran yang ditulis.  Berapa banyak data saya yang dikutip".
     "Tidak banyak, hanya yang penting-penting saja".



     Pada Sabtu, 11 April 2020, seorang rekan mengirim biografi Haji Fadeli Luran Sang Pemersatu.
     Saya terkejut.  Sebab, pada subjudul Pemimpin Cilik di halaman 6, 7 serta 8, nyaris 100 persen data saya.  Misbahuddin cuma mengubah kalimatnya.  Ini diambil dari subjudul Nasionalis Segudang Akal (subjudul hasil mesin tik Nasionalis yang banyak akal).
     Pagi pada Ahad, 12 April 2020, saya hubungi kembali Misbahuddin.
     "Saya sudah lihat biografi Fadeli Luran.  Saya keberatan karena data saya terlalu banyak dikutip.  Ini tidak etis.  Apalagi, nama saya cuma dipajang di daftar pustaka.  Kontribusi saya besar di biografi ini.  Masa kecil Fadeli Luran itu sulit ditelusuri lagi.  Di biografi ini, justru itu yang dikutip semua, belum yang lain.  Mestinya ada penjelasan di catatan kaki kalau masa kecil Fadeli Luran dari tulisan saya.  Kemudian sebelum dikutip, ada penjelasan bahwa ini bersumber dari Abdul Haris Booegies.  Saya menginginkan halaman 6. 7 dan 8 dihapus.  Sebab, itu data saya".
     Misbahuddin cuma berkelit bahwa ada kelalaian.  Pada penerbitan berikut akan ada perbaikan.



Amazing People