Rabu, 23 September 2020

Inilah Dosa Yasdic


Inilah Dosa Yasdic
(Bagian keempat dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Siang pada Senin, 14 September 2020, saya dikejutkan pesan seorang sahabat.  Yasdic sudah melakukan pembicaraan dengan IAPIM, pada Sabtu, 12 September 2020.  Hasilnya, tidak benar berita perihal penjualan lokasi Pesantren IMMIM di Tamalanrea.
     IAPIM kemudian bergerak cepat.  Mengedarkan pemberitahuan itu.  Saya menangkap sinyal, ini sengaja disebar sebagai euforia karena menganggap diri menang.
     Alumni pasti merasa ini kemenangan besar.  Sebab, lahan tidak dijual.  Padahal, ini kemenangan semu.  Kemenangan yang menggelincirkan pada kesengsaraan berkepanjangan.  Kemenangan ini bakal menjadi cikal derita santri di masa depan.  Kemenangan yang niscaya mendestabilisasi kampus Moncongloe.  Ini kemungkinan logis masa depan Pesantren IMMIM.  Ini kepastian tak terbantahkan.
     Saya kecewa dengan sikap Yasdic.  Sebab, memberi peluang kepada alumni untuk menginvasi teritorial Yasdic.  Otoritas Yasdic disepelekan.  Ini seperti pilot yang kewenangannya diserobot oleh penumpang.  Tidak terbayang di kepala, ada penumpang masuk kokpit untuk mengambil alih kendali pesawat.  Betul-betul sinting.  Tak punya hak sekaligus tidak malu mencampuri urusan yang bukan wewenangnya.
     Penjualan lahan sesungguhnya menjadi momen untuk menciptakan langkah-langkah strategis bagi pengembangan kampus Moncongloe.  Yasdic wajib mengambil sikap.  Tidak boleh gentar oleh ancaman makhluk-makhluk tukang ikut campur.
     Saya santri tulen yang made on earth by Pesantren IMMIM.  Saya alumnus independen.  Tidak terikat atau dibayar untuk menahan laju nafsu alumni yang ngotot tak sudi menjual lahan.  Saya murni ingin melihat almamater berkiprah cemerlang di dekade berikut.  Alumni mungkin merasa menang karena lokasi gagal dijual.   Pertanyaannya, pernahkah alumni berpikir mengenai kehidupan santri di masa depan.
     Pendidikan selalu diukur dari segi finansial.  Makin bertumpuk fulus, niscaya pendidikan kian mulus.  Perkembangan kampus Moncongloe jelas macet akibat dana minim.  Pesantren pasti repot bersaing karena fondasi anggaran nihil.  Alhasil, pendidikan bermutu mustahil diraih.
     Dewasa ini, kampus Moncongloe butuh dana gigantik.  Di sana ada santri yang butuh kenyamanan untuk belajar.  Saya bersama rekan-rekan bervisi futuristis senantiasa penuh harap bergemuruh bak guntur.  Di Moncongloe kelak lahir santri super yang berhati Ibnu Taimiyah seraya berotak Einstein.  Muncul santri rasa bintang lima yang berpijak di Hollywood dengan jiwa berkiblat ke Mekah.
     Santri-santri super produk pesantren IMMIM, insya Allah membawa berkah sekaligus aktif dalam struktur global.  Mereka akan bertebar dari Sidrap sampai Sidney, dari Solo sampai Oslo, dari Jeneponto sampai Jenne-jeno di Delta Niger, Afrika Barat.
     Urgensi terkini ialah menghapus kontradiksi radikal sesama alumni.  Ini akibat sekawanan alumni dibuat gila oleh nostalgia.  Mereka berkeras tidak mau menjual lokasi Tamalanrea.  Apes bin sial, gerombolan ini ternyata tak memiliki solusi.  Kan geli.
     Saya tantang alumni untuk mengumpulkan uang Rp 90 miliar demi pengembangan kampus Moncongloe.  Alumni yang pernah jadi pejabat saja tidak pernah menyumbang.  Apalagi, alumni yang pas-pasan pendapatannya.  Miskiin anta (kecian dech loh).
     Ada alumni selalu berkotek-kotek.  Berkoar-koar tentang tanah wakaf.  Seharusnya alumni diam saja.  Biarkan Yasdic mengurus dirinya.  Tidak usah mengajarkan bahwa wakaf tidak boleh dijual.  Semua orang tahu tanah wakaf tidak bisa dijual.  Lebih elok diam menunggu hasil.  Sebab, ikhtiar Yasdic tergantung pada undian nasib.
     Saya mengimbau sebaiknya nanti pesantren mengajarkan mata pelajaran "tips serta trik ikut campur".  Ini akibat pelajaran Aqidah dan Akhlak gagal menggembleng alumni supaya fokus.  Banyak yang sempoyongan bergentayangan tanpa malu untuk mencampuri urusan Yasdic.
     Nasehat terbaik untuk alumni.  Siapa belum menikah, sebaiknya bergegas sebelum kau mati digerogoti Covid-19.  Ihwal ini lebih bermutu ketimbang mencampuri urusan Yasdic.  Tunggu apa lagi!  Kerjakan sekarang!
     Sementara alumni yang sudah berkeluarga, seyogianya "bersih-bersih hati".  Renungkan bila umur sudah di ambang kubur.  Ini lebih mulia dibandingkan kalian dibutakan oleh fanatisme membabi-buta gara-gara tergoda nostalgia di kampus Tamalanrea.  Tak usah cari sensasi serampangan di usia lapuk.  Paham...!
(Bersambung)

 

Sabtu, 12 September 2020

Kayu Bakar Pesantren IMMIM



Kayu Bakar Pesantren IMMIM
(Bagian Ketiga dari 13 Tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ada aforisme dari seorang Angkatan 85 (D5):  "Mengapa alumni bertindak seolah hakim.  Biarkan Yasdic menjual lahan demi kebaikan pesantren".
     Saya tergugah dengan kata hikmah ini.  Mengapa mencampuri urusan Yasdic?  Saya jadi curiga, ada apa dengan alumni yang ngotot ikut campur?  Berkehendak secara memaksa untuk terlibat di urusan internal Yasdic.  Saya mengelus dada, proyek ini memang bergelimang duit.  Semua mau terlibat dengan mata melotot membayangkan uang miliaran.  Urat malu sudah hilang.  Ini memang zaman "Keuangan yang Mahakuasa".
     Di grup WA IAPIM, ada yang menginginkan golongan yang berkehendak menjual lahan Tamalanrea sebaiknya keluar dari grup.  Betapa busuk hati orang ini.  Ia penuh kedengkian.  Seolah tindakannya suci dengan mencampuri urusan Yasdic.  Bagaimana kalau dibalik, gerombolan yang tidak mau menjual lahan segera keluar dari grup!
     Islam menghargai perbedaan di luar akidah.  Indonesia mengakui perbedaan lewat Pancasila.  Tiba-tiba ada sesosok makhluk yang mengingkari perbedaan dengan enteng menyuruh orang keluar dari grup.
     Tatkala senpai Indra Jaya Mansyur terpilih sebagai Ketua IAPIM, seorang mantan petinggi IAPIM mencampuri urusan pengurus baru.  Senpai Indra Jaya tersinggung.  Sebab, otoritasnya diinjak-injak.  Ia kemudian menantang duel maut.  "Kalau kita ketemu di jalan.  Kita selesaikan ini secara jantan", tulis senpai Indra Jaya di papan tulis sekretariat IAPIM di Jalan Sungai Lariang.
     Eks petinggi IAPIM ini kembali bergerilya mencampuri urusan Yasdic di akhir Agustus 2020.  Tidak ada betul tobatnya bocah ini untuk terus ikut campur.  Percuma pernah dididik akhlak di pesantren.
     Tukang ikut campur mengingatkan saya Ummu Jamilah binti Harb, istri Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muthalib).  Ummu Jamilah merupakan jetset Quraisy.  Ia selebriti papan atas Mekah.  Al-Qur'an dalam Surah al-Lahab menggelari Ummu Jamilah sebagai "pembawa kayu bakar".  Pasalnya, ia mendiskreditkan Maharasul Muhammad.  Mengganggu dakwah Islam.  Menyiksa kaum Muslim.  Komentar-komentar Ummu Jamilah persis bisa ular, mematikan, menjijikkan sekaligus tak punya rasa malu.
     Sosok serupa Ummu Jamilah inilah sekarang yang mengganggu Yasdic.  Mereka seperti kawanan hyena yang mengelilingi mangsa.  Merasa setara dengan pengurus Yasdic.  Kemudian tanpa malu mempertanyakan transparansi Yasdic.
     Mempertahankan lahan Tamalanrea adalah skenario menjijikkan yang dilakukan oleh tukang ikut campur.  Luar biasa naif kalau mencampuri sesuatu yang di luar kompetensi.  Insan profesional pasti malu mencampuri urusan yang bukan wewenangnya.  Nekat ikut campur adalah contoh manusia kepala batu yang hatinya membatu.
     Agenda signifikan alumni ialah melihat adik-adik santri tenang belajar di tempat nyaman.  Bukan mencampuri urusan yang bukan agendanya.  Tidak berarti kalau tamat di pesantren, otomatis leluasa mencampuri  segala urusan.  Mulai dari Yasdic, pesantren dan Gedung IMMIM.  Ada aturan yang membatasi tindak-tanduk manusia.  Keuletan mematuhi aturan menunjukkan seseorang beradab atau biadab.
     Gagasan Yasdic untuk menjual lahan Tamalanrea demi kebaikan kampus Moncongloe.  Ini menegaskan Yasdic sebagai kreator brilian dengan visi futuristis.  Kampus Moncongloe merupakan daerah yang cocok bagi homo santricus di tengah deru mobilitas kecerdasan buatan, teknologi genetika dan robotika.
     Lahan Tamalanrea sudah uzur bagi bibit-bibit intelektual Islam.  Ini distrik nihilistik bagi masa depan santri yang butuh udara segar.  Lahan Tamalanrea adalah prospek mengerikan bagi santri yang memerlukan ketenangan.  Bila bertahan, niscaya pesantren tergilas tren historis yang gemerlap.
     Penjualan lahan menguji identitas kita sebagai alumni yang berbakti.  Menguji kesadaran kita agar tidak mencampuri urusan Yasdic.  Menguji kecerdasan kita guna melihat adik-adik santri bisa belajar nyaman di masa depan.

 

Selasa, 08 September 2020

Pesantren IMMIM Sudah Terjual



 Pesantren IMMIM Sudah Terjual
(Bagian Kedua dari 13 tulisan)
Oleh Abdul Haris Booegies


     Selama beberapa hari ini sejak Sabtu, 5 September 2020, saya merindukan Rusman (Angkatan 86).  Ia sosok sabar yang tidak pernah mencampuri urusan orang lain.  Rusman tak mau melibatkan diri karena paham bahwa tiap orang punya urusan untuk diselesaikan sendiri secara mandiri.  Pelajaran moral dari Rusman yakni "jangan ikut campur kalau bukan urusanmu".
     Beberapa hari sesudah saya tamat dari pesantren, pimpinan kampus sempat berpesan.  Silakan bila ada yang ingin memberi saran ke pesantren.  Dengan catatan bukan kritik ekstrem.  Pasalnya, pembina lebih memahami kondisi pesantren.  Pembina punya kiat menghadapi dinamika santri.
     Ada sahabat karib saya selama enam tahun di pesantren.  Kini ia ketua yayasan.  Saya berkhayal nakal.  Bolehkah saya mencampuri urusan yayasannya atas nama persahabatan selama enam tahun di pesantren?
    Saya selalu berharap ada alumni mengikuti jejak Masrur Makmur La Tanro.  Ia sukses mendirikan pesantren Shohwatul Is'ad, sebuah pondok keagamaan favorit berbasis karakter.
     Di akhir Agustus 2020, alumni justru kasuk-kusuk mencampuri urusan Yasdic yang hendak mengembangkan Moncongloe.  Mereka rapat sampai jauh malam hanya untuk merongrong Yasdic.
     Alumni punya program kerja hebat.  Lebih baik berpikir mendirikan pesantren ketimbang mengurus sesuatu yang bukan wilayahnya.  Mengapa malu memetik pelajaran dari pribadi Rusman.  Ia tidak pernah mencampuri urusan orang lain.
     Gagasan Yasdic untuk menjual lahan merupakan revolusi agar tercipta energi baru di Moncongloe.  Ini tonggak spektakuler dengan mobilitas tinggi demi kemajuan pesantren.  Alumni sepantasnya mendukung kerja keras, kerja cerdas sekaligus kerja ikhlas Yasdic.  Begitu indah andai alumni menghormati integritas maupun otoritas Yasdic.  Bukan berdiri menentangnya penuh amarah akibat terbelenggu nostalgia.
     Jangan merasa jatuh gengsi karena mendukung Yasdic.  Gengsi alumni justru naik berlipat-lipat jika mendukung Yasdic.  Sebab, merintis proyek besar demi kebaikan adik-adik santri di masa depan.  Artefak-artefak yang dulu memuat seluruh kenangan di Tamalanrea harus diubah menjadi spirit untuk membangun Moncongloe.
     Perjalanan panjang alumni sudah mendekati finish lantaran terkikis usia.  Ada pergantian generasi.  Ada matahari baru bakal terbit di Moncongloe.  Inilah yang mutlak disambut oleh alumni.  Matahari baru berupa adik-adik santri yang akan mengisi sejarah panjang Pesantren IMMIM.
     Sejak tulisan Pesantren IMMIM Tidak Dijual terpublikasi di blog serta Facebook, mendadak muncul pernyataan sikap dari sejumlah unit alumni.  Semua sepakat tak mau menjual lahan Tamalanrea.
     Pernyataan ini dilandasi sikap emosional, bukan mewakili fakta sebenarnya.  Sebab, alibi "tanah wakaf" sekedar kamuflase.  Alumni merintangi penjualan karena berpegang teguh pada masa lampau yang merangkum seluruh nostalgia.  
     Opini publik dibentuk via narasi kabur bahwa lahan adalah tanah wakaf.  Padahal, sasaran utama ialah mempertahankan ikatan emosional di hamparan artefak yang bertebar di lahan Tamalanrea
     Ada pernyataan sikap menolak keras penjualan, namun, menawarkan diri untuk berdialog dengan Yasdic.  Saya geli campur malu membacanya.  Beleng-beleng.
     Sungguh mengherankan bahwa alumni merespons negatif tanpa jalan keluar.  Alumni yang selama ini memiliki keunggulan kompetitif mendadak minus inspirasi.  Apakah alumni kehilangan perspektif gara-gara nostalgia.  Hingga, tidak bisa menawarkan solusi untuk kemajuan pesantren di masa depan.
     Alumni seyogyanya menciptakan solusi agar dana pengembangan pesantren di Moncongloe bisa teratasi.  Kalau betul alumni solid, silakan kumpulkan dana 80-90 miliar guna menunjang pembangunan Moncongloe.  Harap renungkan bahwa ada alumni yang pernah punya jabatan justru tidak pernah menyumbang ke pesantren walau uang receh Rp 100.  Kasihan.
     Alumni tidak punya solusi untuk kemajuan kampus Moncongloe kecuali nafsu untuk menolak penjualan Tamalanrea.  Bahkan, ingin berdemo.  Muncul pula ancaman hendak mengambil alih pesantren dari Yasdic.  Tidak semudah itu kau rebut pesantren!  LANGKAHI DULU MAYATKU!
(Bersambung)


Jumat, 04 September 2020

Pesantren IMMIM Tidak Dijual

 Pesantren IMMIM Tidak Dijual
Oleh Abdul Haris Booegies


     Pada Senin malam, 31 Agustus 2020, seorang sahabat mengirim pesan.  Lahan pesantren IMMIM di Tamalanrea mau dijual.  Saya terkejut.  Saya tak mau lahan pesantren dijual.  Maklum, di situ saya menghabiskan waktu selama enam tahun dalam suka dan duka.  Di sana saya puber.  Saya bertengkar, berkelahi serta berdamai.  Saya mungkin satu-satunya santri yang sangat bebas bolos.  Berkali-kali saya bolos dua kali sehari untuk pergi ke kota bersantai.
     Saya punya ikatan emosional yang teramat tinggi di Tamalanrea.  Saya tak sudi artefak-artefak pesantren digilas roda pembangunan.
     Pada Rabu, 2 September 2020, saya mengontak the lady untuk meminta penjelasan.  Malam kala hujan deras mengguyur kota, saya tercenung.  Mana lebih penting, ikatan emosional berbentuk nostalgia atau pengembangan pesantren.
     Selama ini, saya selalu membanggakan diri punya segudang nostalgia di pesantren.  Nostalgia ini mengakrabkan kami sesama alumni.  Di sisi lain, nostalgia justru membelenggu kemajuan.  Mempertahankan ikatan emosional dengan suatu artefak sama artinya menutup diri dari dinamika kehidupan.  Kemajuan merupakan pengembangan diri untuk menggapai kejayaan.  Ada hal-hal dalam hidup ini yang mesti disingkirkan agar tercipta perkembangan.  Kenangan di masa silam mustahil mengubah masa depan.  Dalam mengarungi kehidupan, tentu ada yang harus dikorbankan.
     Situasi terkini lahan Tamalanrea ibarat seorang kakek.  Rapuh.  Ini tentu berbahaya bagi orang yang menetap di situ.  Sebagai misal, aula yang sudah berusia 45 tahun tiba-tiba retak.  Puingnya menerpa kepala.  Siapa yang bertanggung jawab terhadap korban?  Yasdic atau alumni.
     Saya mencatat beberapa nama yang berkomentar tendensius dan insinuatif secara sistemik, masif serta terstruktur di grup WA.  Komentar ceroboh yang memiliki potensi konflik, juga saya screenshot.
     Saya berharap, para "komentator ulung" ini kelak yang bertanggung jawab jika ada korban jiwa di Tamalanrea.  Pasalnya, menghalangi dinamika pesantren.  Mereka seolah lebih paham persoalan-persoalan di pesantren dibandingkan Yasdic.
     Harus ada daya dobrak besar untuk meningkatkan kehidupan di pesantren. Cara terbaik ialah menjual atau menyewakan lahan di Tamalanrea.  Bila ada perlawanan dari alumni, maka, ada yang krusial dijawab.  Siapa lebih paham kondisi pesantren maupun kompleksitas di sekitarnya; Yasdic atau alumni?
     Penjualan lahan bertujuan untuk kemajuan pesantren.  Kalau ada koar-koar "jangan jual", alibinya apa?  Keterikatan emosional bukan tujuan hidup.  Manusia bergerak dinamis untuk berubah demi kehidupan yang elok dan apik.  Nostalgia cuma serpihan kenangan.  Nostalgia muskil memberi kehidupan layak.
     Amunisi yang sekarang digunakan untuk merintangi penjualan lahan Tamalanrea yakni tanah wakaf.  Saya melihat, ini sekedar tameng.  Padahal, gerakan menolak penjualan lahan Tamalanrea karena ingin mempertahankan ikatan emosional.  Mereka tak mau artefak-artefak yang merangkum masa lalunya dibongkar demi kemajuan pesantren.  Mereka lebih mengedepankan nostalgia ketimbang memberi jalan bagi kemajuan pesantren.
     Satu pertanyaan usil.  Pernahkah ada alumni yang menyumbang ke pesantren?  Adakah alumni yang punya jabatan pernah menafkahkan hasil keringatnya di pesantren?  Adakah?
     Jika Yasdic dituding tidak profesional.  Kemudian pengeritik mempertanyakan kinerja Yasdic.  Ini namanya gaduh gara-gara tidak dapat jatah.  Selama bertahun-tahun, Yasdic melakukan yang terbaik untuk pesantren.  Apakah kalau ada penyegaran susunan pengurus, mendadak aula pesantren bertingkat seperti Trump Plaza atau masjid ath-Thalabah semegah Hagia Sophia?  Bagaimana bila sebaliknya, kinerja justru merosot pasca peremajaan pengurus.
     Serahkan pada ahlinya.  Yasdic mengurus pesantren.  Sementara alumni mengurus program kerjanya.  Begitu mudah, begitu sederhana kalau diserahkan pada ahlinya.  Ini juga untuk menghapus kontradiksi internal yang radikal.
     Saya berharap jika alumni tetap menghalangi penjualan lahan Tamalanrea, sudi kiranya menyiapkan anggaran 80-90 miliar untuk perbaikan pesantren di Moncongloe.  Sebab, wajib dipikirkan kesejahteraan guru, perumahan layak bagi pembina serta jaminan bagi koki (bibi).  Ini baru namanya win win solution.(Bersambung)

Amazing People