Senin, 28 Juni 2021

Ararea Bahasa Pesantren IMMIM

 

Ararea
Bahasa Pesantren IMMIM

Oleh Abdul Haris Booegies


     Bahasa menunjukkan bangsa.  Maksudnya, tutur kata seseorang memperlihatkan jati diri.  Kalau bahasa yang diucapkan santun, baik dan benar, berarti orang tersebut terpelajar serta beradab.
     Selama mengecap pendidikan di Pesantren IMMIM, santri memiliki pula karakteristik bahasa Arab.  Bila orang di luar pesantren mendengarnya, mereka pasti kagum.  Bocah dan remaja leluasa berkomunikasi dengan bahasa Arab dalam kampus.
     Angkatan dekade pertama (1981-1990) acap menyebut bahasa Pesantren IMMIM sebagai bahasa Arab Tamalanrea.  Saya menamakannya Ararea (Arab Tamalanrea) supaya terdengar seksi sekaligus gaul.
     Sesungguhnya, bahasa Ararea tergolong bahasa modifikasi.  Bahkan, boleh dibilang bahasa sandwich سندويتش.  Seperti dimafhumi, komposisi sandwich terdiri dari roti, sayur, keju, mayonnaise, daging, telur mata sapi, saus tomat serta sambal.
     Tipe sandwich yang kaya bahan ini mirip Ararea.  Bahasa Ararea juga kaya, termasuk kaya dengan pengaruh bahasa Bugis Makassar.  Contoh pengaruh bahasa daerah.  "Saya takut bela".  Kata "bela" merupakan penekanan pada sebuah kata atau kalimat.  Makna "bela" tergantung konteks.  Maksud "saya takut bela" ialah "saya jadinya takut" atau "saya takut-takut".  Jika diterjemahkan ke Ararea menjadi "anaa akhaf bela".
     Di suatu Sabtu pagi, dengan mimik tegang, saya menyuruh rekan sekamar segera bergegas.  "Maujud tuffaaha shabah".  Teman-teman bingung, apa itu tuffaaha shabah.  Tuffaahatun artinya buah apel.  Shabahun bermakna pagi.  Saya pun menjelaskan.  "Apel pagi.  Ada upacara di lapangan".  Saya tidak tahu bahasa Arabnya "upacara" (maraasim).  Arkian, sekenanya berceloteh ada "tuffaaha shabah".
     Imam Setiawan (Angkatan 86) pernah menggoda sesama mitra bahwa jerawat dalam bahasa Arab adalah tainun/تعين .  Banyak santri terkecoh.  Mengira itu betul asli.  Padahal, yang benar yaitu hubbu asy-syabaab (حب الشباب).
     Menurut pengakuan Imam, ia mengkreasinya dari kata tahi (kotoran) ditambah "nun".  Kata nun diambil dari bathnun/بَطْنٌ yang bermakna perut.
     Begitulah jadinya kalau belum mahir berkomunikasi ala warga Timur Tengah.  Demi menambal kekurangan kosa kata, terpaksa berkreasi.  Ini untuk mengakali pula mahkamah luga (pengadilan bahasa).  Ketahuan berbahasa Indonesia, bisa kena hukum.

Sariqun
     Dalam bahasa Ararea, ada dua ungkapan legendaris.  Keduanya yakni sariqun/سرق (pencuri) dan mittu anaa/مت انا (mati saya).  Sepertinya dua istilah ini bermasalah secara tata bahasa, tetapi, inilah Ararea, bahasa orisinal santri Pesantren IMMIM.
     Bila santri merasa terusik dengan ulah seseorang yang tak diketahui, ia mengumpat "sariqun zalika".  Secara harfiah berarti "pencuri itu".  Padahal, dalam kasus ini tidak ada yang kehilangan akibat aksi maling.  Pada kategori ini, idiom tersebut bertujuan mengungkapkan kekesalan.  Alhasil, sariqun zalika dapat bermakna qaliilul adab (kurang ajar).
     Jika santri menyuruh seseorang dengan perasaan jengkel, ia sontak berseru "anta faqath sariqun".  Arti secara harfiah yaitu "kau saja, pencuri".  Dalam konteks ini, "anta faqath sarikun" bisa bermakna "kau saja!" (dengan tanda seru).  Ada penitikberatan ke individu yang ditunjuk.  Kata sariqun di sini juga dapat berarti ungkapan negatif semacam sumpah atau kutukan.
     Penggunaan kata sariqun ibarat intensifier, penguat atau pengutamaan keterangan.  Berfungsi untuk emphasizer (menekankan), amplifier (menguatkan) maupun downtoner (merendahkan).
     Kata sariqun dalam area Ararea betul-betul kaya makna.  Mengucapkannya menandakan aksentuasi terhadap situasi serta kondisi.  Sariqun tertoreh kata the great di Pesantren IMMIM.  Tiap waktu terdengar di kamar, di kelas atau di mana saja selama ada santri mengoceh.
     Jadi, jangan heran kalau ada santri Pesantren IMMIM dipanggil "sariqun".  Sedangkan yang dipanggil tak marah,  Ia malahan tersenyum, pura-pura tidak mendengar atau bermasa bodoh.  Penyeru dan yang diseru bukan psikopat.  Keduanya tak mengalami kelainan jiwa karena di sini tidak berlaku pepatah; bahasa menunjukkan bangsa.
     Kuat dugaan, sariqun yang merupakan istilah top Ararea dikreasi oleh Angkatan 82, 83 atau 84.  Idiom ini sudah populer tatkala Angkatan 86 bercokol di pesantren.

Mittu Anaa
     Serupa dengan sariqun, ungkapan mittu anaa tertera pula sebagai the legend di Pesantren IMMIM.  Santri menerjemahkan mittu anaa dengan "mati saya".  Bila problem yang dihadapi teramat gawat, santri berujar "mittu haqiiqatan anaa" (mampus betul saya).
     Mittu anaa kemudian menghasilkan varian baru.  Jika ada santri tepergok melakukan pelanggaran atau tertangkap basah berbuat curang.  Ia pasti disemprot dengan kata "mittaka".  Morfem ini terdiri dua kata; mautu (mati) serta anta (kamu) yang menjelma mittaka.  Di Pesantren IMMIM, mittaka berarti mampus kau (you're dead atau you will burn).
     Seorang guru bahasa Arab sempat tersenyum mendengar istilah mittu anaa.  Dalam penerawangannya, ini keliru secara tata bahasa.  Sayang sekali, ia tak sanggup menerangkan secara detail di mana letak kesalahannya.  Musababnya, ini idiom remaja kampus Islamik.  Lebih khusus lagi, ini produk santri Pesantren IMMIM.  Salah sedikit otak bisa meleleh kalau nekat membahas mittu anaa yang tidak dikenal di negara-negara Arab.
     Mittu anaa mirip ungkapan dead man walking dan dead meat.  Rangkaian kata ini mendeskripsikan seseorang terancam atau dalam persoalan serius.  Ini lumrah diucapkan bila ditimpa nasib malang.  Apalagi jika pertolongan seolah jauh dari harapan.  Mittu haqiiqatan anaa, Sariqun!


Minggu, 27 Juni 2021

Meluruskan Sejarah Rasulullah



Meluruskan Sejarah Rasulullah
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dari seluruh utusan Allah, maka, Maharasul Muhammad yang paling gamblang riwayatnya.  Sejak lahir sampai mangkat, jejak Rasulullah enteng ditelusuri.  Kendati saganya terang-benderang bagai purnama, namun, ada beberapa sumber asing berbaur dengan fakta perihal sang Mahanabi.
     Bertahun-tahun kita dijejali hikayat bahwa Abdullah merupakan putra bungsu Abdul Muthalib.  Faktanya tidak begitu.
     Di subuh pada Senin, 12 Rabiul Awal di Tahun Gajah (8 Juni 570 Masehi), Abdul Muthalib tergopoh-gopoh menyusuri lorong pasir menuju griya Abi Thalib di bukit Bani Hasyim.  Wali kota Mekah tersebut hendak melihat cucunya yang baru lahir.
     Abdul Muthalib lalu membopong sang cucu masuk ke Kabah seraya menamakannya Muhammad.  Nama itu dipilih agar cucunya terpuji di langit dan di Bumi.  Sebelum membawa pulang bayi mungil tersebut ke ibunya, Abdul Muthalib singgah di keratonnya.  Ia bergegas memanggil Abbas, putranya yang berusia dua tahun.
     Di dekat pintu, Abdul Muthalib memperlihatkan paras Muhammad al-Mustafa kepada Abbas.  "Ini adikmu.  Cium adikmu".
     Adegan ini memupus teori bahwa Abdullah adalah putra bungsu Abdul Muthalib.  Bahkan, lahir lagi putra Abdul Muthalib bernama Hamzah yang seumur Maharasul Muhammad.
     Sebagian cendekiawan Muslim serta ulama akhirnya mengambil jalan tengah gara-gara keteledoran sejarah memverifikasi fakta.  Mereka menguraikan bahwa betul Abdullah putra bungsu Abdul Muthalib dari istri bernama Fatimah binti Amr.  Perempuan dari bani Makhzum ini melahirkan Abu Thalib, Zubair, Haris dan Abdullah.

Rahib Bahira
     Ketika Rasulullah berusia 10 tahun, ia mendampingi Abi Thalib dalam ekspedisi bisnis ke Syam.  Keduanya lantas bersua rahib Nasrani sekte Airus Nasthuri (Nestorian) bernama Bahira atau Buhaira.
     Bahira mengajak mereka ke kuilnya yang berada di Busra, dekat Roman Theatre.  Ia berniat memandang secara saksama rupa keponakan Abi Thalib.
     Benarkah petapa itu bernama Bahira?  Mungkinkah tak ada distorsi historis?  Kita mengenal Bahira dari para sejarawan kuno.  Masalahnya, dari mana ahli sejarah tersebut memperoleh seonggok teks tentang Bahira.  Ini abad ke 6 Masehi.  Sumber informasi sangat terbatas.  Tidak ada media cetak kecuali komunikasi verbal.
     Sebagian menyangsikan Bahira sebagai nama asli.  Barangkali itu sekedar gelar.  Resi ini dianggap memiliki pengetahuan nan luas.  Pasalnya, mampu menerawang identitas kenabian seorang bocah Mekah.  Asal kata Bahira diduga dari al-bahr (laut).  Laut dideskripsikan luas sebagaimana ilmu rahib ini.

Umur 40 Tahun
     Maharasul Muhammad berusia 25 tahun tatkala menikah dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid yang berumur 40 tahun.  Benarkah Khadijah setua itu?
     Bertahun-tahun saya terobsesi dengan usia Khadijah.  Dari mana angka 40 tahun ini?  Sebuah informasi mendadak tersembul.  Puak Quraisy suka membanggakan wanita-wanitanya yang masih sanggup melahirkan di umur 50 tahun.
     Khadijah berasal dari keluarga ningrat.  Ia juga jelita bak haur.  Karakternya terpuji.  Hatta, dijuluki ath-Thahirah (suci).  Sosialita ini bergelar pula Princess of Quraisy serta Princess of Mecca berkat harta nan berlimpah.  Dengan latar belakang menakjubkan, pasti banyak pria mengidamkan selebritas dari Lembah Bakkah ini sebagai istri.  Di usia berapa Khadijah pertama kali menikah?
     Tiada data resmi di umur berapa Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zararah at-Tamim.  Ia kemudian menjadi istri Atiq bin Abid bin Abdullah al-Makhzum.  Mengingat bangsa Arab yang lazim dengan budaya kawin muda, besar kemungkinan Khadijah juga menikah di usia belia.
     Kalau Khadijah menikah muda, berarti umurnya sekitar 27 tahun saat menikahi Rasulullah.  Maklum, kala meminang Maharasul Muhammad, Khadijah punya anak gadis dan putra berusia tiga tahun.  Dari pernikahan dengan Abu Halah, ia dikaruniai putri bernama Hindun serta Zainab.  Dari Atiq, lahir putra Khadijah bernama Abdullah dan Jariyah.

Mentari di Tangan Kanan
     Senator-senator Mekah yang bermarkas di Dar an-Nadwah gundah-gulana.  Mereka gelisah lantaran dakwah Rasulullah dari hari ke hari kian berkembang.  Tumbuh seperti jamur di musim hujan.
     Mereka lalu mengutus delegasi menemui Abi Thalib.  Dewan Senator Mekah berharap supaya sang paman membujuk Maharasul Muhammad.  Pimpinan Dar an-Nadwah berharap selekasnya penghentian total aktivitas subversif Rasulullah yang mencemari agama nenek moyang Quraisy.
     Maharasul Muhammad spontan menolak keras permintaan anggota Parlemen Jahiliah tersebut.  "Saya tak akan berhenti sekalipun Matahari diletakkan di tangan kananku serta Bulan di tangan kiriku".
     Benarkah Rasulullah mengucapkan kata-kata yang teramat terkenal itu?  Muhammad bin Abdullah al-Ausyan berargumentasi bahwa Maharasul Muhammad tidak mengatakan Surya di tangan kanan dan Rembulan di tangan kiri.
     Rasulullah menampik hasrat anggota Dewan Musyrik Mekah dengan jawaban tegas tak bakal meninggalkan dakwah ilahi!  Biarpun mereka "menyalakan api besar sebagai gantinya untuk saya".  Api besar di sini maksudnya Matahari.

Abi Thalib Kafir
     Sebagian umat Islam kontemporer meyakini Abi Thalib di detik-detik terakhir ajal sempat mengucap syahadat.  Ini berarti ia Muslim.
     Faktanya, Ali bin Abi Thalib tidak memperoleh warisan dari ayahnya.  Soalnya, Islam melarang menerima harta pusaka dari orang kafir.
     Fakta lain, ketika Maharasul Muhammad duduk-duduk bersama Hamzah di Medinah.  Sang paman dengan suara lembut bertanya.  "Apa pertolonganmu nanti di Akhirat untuk Abi Thalib yang bertahun-tahun membelamu?"  Rasulullah menjawab bahwa kelak ia cuma diazab di pinggir Neraka.  Api sekedar membakarnya sebatas tumit.
     Apa hikmah kekafiran Abi Thalib?  Andai ia masuk Islam, maka, siapa gerangan yang melindungi Maharasul Muhammad?  Bila Abi Thalib masuk Islam, pasti segenap tokoh mafia Quraisy menyerangnya.  Ibarat kata, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampau.  Menyerang Abi Thalib, otomatis Rasulullah kena pula rentetan serangan.  Tamat syiar Islam jika begitu!  Sebab, semua dibombardir oleh Abu Jahal and his gang.

360 Arca
     Sejarah populer menampilkan bahwa Baitullah berisi 360 patung sesembahan di masa pra-Islam.  Ada dua pertanyaan kalau betul Kabah dijejali 360 dewa.
     Pertama, bagaimana mengatur tempat berhala di Baitullah.  Dimensi struktur Kabah bertinggi 13,10 meter.  Sementara ukuran sisi bervariasi; 12,11 meter, 11,52 meter, 12,84 meter serta 11,28 meter.
     Baitullah pasti sempit sebagai altar arca.  360 patung bukan jumlah sedikit.  Di mana tempat Hubal, berhala utama penganut politeis Arab.  Kabah bisa jebol bila arca ukuran jumbo ini diangkut masuk.
     Kedua, jika ada 360 patung, berarti, seluruh bangsa Arab kafir leluasa melenggang ke dalam Baitullah untuk beribadah.  Padahal, tak semua orang diperkenankan masuk Kabah.  Alasan inilah yang menyebabkan pintu Baitullah tidak rata dengan lantai.  Letak pintu agak tinggi agar merepotkan penyusup mendobrak.  Bagi yang nekat menerobos, akan dilempar batu sampai terbirit-birit pergi.
     Siapa yang memanipulasi sejarah sampai muncul 360 berhala milik aneka klan dan suku Arab?  Menurut penulis teologi Lesley Hazleton, ini bermula dari seorang sejarawan Damaskus.  Para sejarawan modern lantas berlomba mengutip fiksi tersebut sebagai fakta.


Kamis, 24 Juni 2021

Al-Qur'an Salah Data


Al-Qur'an Salah Data
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ada beberapa bagian al-Qur'an yang sering diolok-olok oleh gerombolan anti-Islam.  Mereka menilai al-Qur'an tidak jeli.  Musababnya, berisi data amburadul.
     Dari sejumlah kasus, pembenci Islam paling doyan mengejek ayat 86 Surah al-Kahfi.  Mereka menuding bahwa ini termaktub kekeliruan fatal sekaligus menggelikan.  Soalnya, al-Qur'an menegaskan bahwa Matahari tenggelam di lumpur hitam.  Umat Muslim pun tergagap-gagap membela diri.  Menyesalkan mengapa ada ayat berbunyi begitu.
     Bagaimana bisa Matahari terbenam di lumpur hitam.  Matahari lebih besar 50 kali dibandingkan Bumi.  Begitu dahsyat kesalahan al-Qur'an.  Bahkan, mereka mencela jika Tuhan umat Islam tak paham astronomi.
     Sesungguhnya, ayat tersebut tidak memiliki cacat-cela bila dibaca ala kadarnya atau disimak serius.  Pasalnya, ayat itu secara gamblang menukilkan ekspedisi global seorang maharaja.  "Tatkala Zulqarnain sampai di kawasan Matahari terbenam.  Ia menemukan sang Surya tenggelam di laut berlumpur hitam".
     Ayat ini menginformasikan bahwa Zulqarnain menyaksikan Surya terbenam di lumpur hitam.  Pandangan Zulqarnain yang dideskripsikan .  "Ia melihat Mentari tenggelam di lumpur hitam".  Bukan Allah yang melihat Matahari tenggelam, namun, Zulqarnain.
     Dalam karya-karya sastra, Matahari acap digambarkan terbenam di gunung, di sungai atau di laut.  Sebait lirik lagu Bukit Berbunga yang populer di awal 1980 berbunyi: "Mentari tenggelam di gunung yang biru".
     Kidung ini tak menuai protes.  Padahal, teramat kentara menerangkan bahwa Matahari terbenam di gunung.  Apakah pencipta lagu tersebut tahu ilmu falak serta geografi, khususnya vulkanologi?

Bumi Bulat
     Orang kafir menuduh bahwa al-Qur"an membenarkan kalau Bumi itu datar.  Mereka kemudian mengutip ayat yang berbunyi: "Kami menghamparkan Bumi" (al-Hijr: 19).  Kata "menghamparkan" diterjemahkan dari "wal ardha madadnahaa".
     "Menghamparkan" dalam bahasa Indonesia dapat diartikan "membentangkan merata, menggelar, menerangkan panjang lebar dan memaparkan".
     Abdullah Yusuf Ali dalam Holy Qur'an menerjemahkan "wal ardha madadnahaa" dengan "and the earth We have spread out (like a carpet)".  Spread out punya enam arti yaitu menyebar, membeberkan, membentang, mendasar, menggelar serta tergelar.
     "Wal ardha madadnahaa" dalam Le Saint Coran diterjemahkan dengan "et quant à la terre, Nous l'avons étalée".  Kalimat dalam bahasa Perancis ini bermakna "Kami menampilkan Bumi".
     Dalam bahasa Denmark, "wal ardha madadnahaa" diterjemahkan dengan "angående jorden vi konstruerede".  Kalimat ini merujuk bahwa "ada pun Bumi yang Kami bangun".
     Makna "wal ardha madadnahaa" dalam bahasa Perancis maupun Denmark tidak menunjukkan jika Bumi datar.  Ini selaras dengan pengertian para sahabat Rasulullah.
     Sebuah surah al-Qur'an berjudul at-Takwir atau menggulung.  Kelak Matahari dan Bumi digulung pada Hari Kiamat.  Para sahabat tentu mengerti bahwa yang digulung pasti bulat.  Mustahil menggunakan istilah "menggulung" untuk kubus atau benda pipih.

Kuliner Neraka
     "Tiada minuman bagi penghuni Neraka kecuali nanah bercampur darah" (al-Haqqah: 36).  Jus yang terbuat dari nanah serta darah ini dinamakan ghislin.
     Ayat ini dicerna oleh kelompok anti-Islam bahwa di Neraka hanya ada satu minuman.  Ini sesuai bunyi ayat 36 Surah al-Haqqah.  Di sisi lain, ternyata masih ada minuman untuk warga Neraka.  Ada mahl (minyak mendidih), hamim (air mendidih), shadid (nanah orang kafir) dan ghassaq (minuman dingin).  Ini berarti al-Qur'an tak konsisten.  Kacau dalam menampilkan data.
     Neraka ada tujuh bagian.  Tiap Neraka memiliki karakteristik dengan menu istimewa bagi penduduknya.  Bahkan, ada musim panas serta musim dingin (zamharir).
     Ketika al-Qur'an berkisah bahwa cuma ada satu minuman di Neraka, maka, maksudnya bukan di seluruh tujuh Neraka.  Secara khusus, narasi tersebut menunjuk ke sebuah Neraka.  Contohnya, di Neraka Jahanam hanya ada shadid.  Penghuni memperolehnya secara gratis.  Shadid satu-satunya minuman di Jahanam.

Memuji Rasulullah
     "Allah dan para malaikat bershalawat untuk Maharasul Muhammad.  Wahai insan beriman!  Bershalawatlah untuk Maharasul Muhammad.  Ucapkan baginya salam takzim" (al-Ahzab: 56).
     Ash-shalawat merupakan jamak dari kata ash-shalat (berdoa).  Ini lantas disambar oleh golongan kafir.  Bila Allah bershalawat (berdoa), berarti masih ada tuhan selain Allah.  Teks ini terang benderang memaparkan bahwa "Allah bershalawat".
     Kata shalawat di ayat 56 pada Surah al-Ahzab ini tidak diterjemahkan sebagai berdoa.  Shalawat di sini artinya memuji.  "Allah bersama para malaikat memuji Maharasul Muhammad".
     Penempatan kata dalam al-Qur'an terkadang membingungkan kalau konteks tak dimafhumi.  Sebagai umpama, Allah menyebut diri dengan kata "Kami" (nahnu).  Padahal, Allah itu Mahaesa.  Sementara "kami" bermakna plural, lebih dari satu.
     Dalam bahasa Arab, ada jamak kualitas (al-mutakallim al-muazzim li nafsih), ada pula jamak kuantitas (al-mutakallim ma'a ghairihi).  Saat Allah menyebut diri dengan "Kami", maka, Ia tetap wujud tunggal dengan segenap atribut keagungan.  Segala predikat terbaik di sisi Allah termanifestasi lewat kata "Kami".  Jadi, istilah "Kami" tidak menerangkan jumlah, tetapi, derajat.  Ini dinamakan jamak kualitas.


Senin, 14 Juni 2021

Alumnus Gadungan


Alumnus Gadungan
Oleh Abdul Haris Booegies


     20 jam setelah Kau Bukan Alumnus diposting di blog serta Facebook, muncul komentar dari seorang alumnus jadi-jadian.  Komentar amburadul menjijikkan tersebut memuat sembilan poin.
     Pertama, "sampai di mana kontribusi di IAPIM".   Kalau ini ditujukan untuk saya, maka, kontribusi saya termuat di Kau Bukan Alumnus.  Saya sembilan tahun di IAPIM sejak 1986 sampai 1994.
     Tatkala Pesantren IMMIM diwartakan secara negatif di sebuah koran lokal, saya dipanggil direktur pesantren.  Saya kemudian menulis di Pedoman Rakyat untuk menepis isu miring pesantren.  Artikel berjudul Anatomi dan Sistem Baru Pesantren Modern IMMIM itu terpublikasi pada Ahad, 17 September 1989.
     Pada pertengahan 1992, saya diamanahkan Ahmad Fathanah untuk meracik profil Haji Fadeli Luran.  Selama tiga bulan saya mengerjakan biografi mini tersebut.  Saya tidak dibayar karena ini proyek ikhlas sebagai warga IAPIM.  Ketika profil Fadeli Luran dimuat bersambung di sebuah harian, saya juga tak dibayar.  Maklum, berkah yang saya peroleh lebih indah dibandingkan materi.
     Saya mau tanya ke si alumnus jadi-jadian.  Apakah ini tergolong kontribusi atau bukan?  Paham kau alumnus gadungan!
     Kedua, si alumnus imitasi ini mendeklarasikan bila ia melibatkan diri dalam hal amar ma'ruf nahi munkar di IAPIM.  Saya heran, bagaimana mungkin ada orang luar seenaknya berkiprah di IAPIM.  Kau punya almamater tersendiri.  Mengapa tidak ke situ berkhotbah amar ma'ruf nahi munkar supaya pendengarmu bertepuk tangan riuh.
     Barangkali si alumnus palsu ini tak puas dengan almamaternya.  Hingga, lompat pagar ke IAPIM.  Seyogianya mengedepankan rasa malu untuk membatasi langkah ke wilayah lain.  Jangan masuk ke rumah orang.  Paham kau alumnus gadungan!
     Ketiga, "Lucu, tiap ada kegiatan yang tidak tamat secara sukarela bersinergi jika diajak".
     Menurut si alumnus imitasi, ia rela hati terlibat kalau ada perhelatan.  Ini omong kosong.
     Saya terangkan.  Kau rajin terlibat kegiatan karena sesungguhnya ingin diakui eksistensimu sebagai alumnus.  Ironisnya, seratus tahun pun turut membantu, kau tetap bukan alumnus.  Kau kan tidak tamat.  Jadi kau yang lucu.  Baru dicolek sedikit untuk ikut, tiba-tiba bergegas tancap gas. "Kecian dech loh".  Paham kau alumnus gadungan!
     Keempat, "santri tak tamat memiliki hubungan emosional dengan IAPIM".  Kau sebenarnya tidak punya keterkaitan emosional dengan IAPIM.  Kau cuma memiliki hubungan emosional dengan rekan seangkatan.  Kau doyan berkumpul karena mereka sesama angkatan.  Paham kau alumnus gadungan!
     Kelima, "dikerja bukan dicerita".  Bila ditanya, mengapa sekarang saya tak mengabdi (bekerja) di IAPIM, hanya menulis (bercerita)?  Di artikel Kau Bukan Alumnus, dipaparkan bahwa saya perlahan mundur di IAPIM pada 1994.  Pasalnya, ada alumni baru yang lebih segar untuk berkarya.  Saya bukan diktator yang berkehendak terus berada di lokomotif alumni.  Ada regenerasi.  Paham kau alumnus gadungan!
     Keenam, si alumnus imitasi mempertanyakan apakah tidak merusak hubungan alumni lantaran menyenggol-nyenggol alumni jadi-jadian.
     Saya tegaskan.  IAPIM itu organisasi alumni.  Dari alumni, oleh alumni dan untuk alumni.  Alumni jadi-jadian tak direken.  Tidak termasuk!  Paham kau alumnus gadungan!
     Jika bicara menyenggol-nyenggol, saya senantiasa tersenggol oleh ulah alumni palsu.  Di linimasa Facebook, ada yang menerakan "pernah belajar di Pesantren IMMIM".  Padahal, orang ini tak tamat di pesantren.  Di mana ia tamat?  Tidak diketahui!  Soalnya, ia tak menulis nama SMP atau SMA-nya.  Ia mengibuli penduduk dunia maya agar dikira tamat di Pesantren IMMIM.  Paham kau alumnus gadungan!
     Ketujuh, "omong tamat tidak tamat mesti seimbang".  Sembur si alumnus jadi-jadian dengan menempel emoji terbahak sebagai aksentuasi kejengkelan.
     Dalam produk jurnalistik, dikenal istilah cover both side.  Prinsip ini untuk memetakan agar kedua belah pihak seimbang.  Berita-berita dari media besar wajib mengaplikasikan metode ini.
     Opini seseorang bukan berita.  Ia tak mutlak mempraktikkan cover both side.  Sebab, merupakan pandangan pribadi.  Jadi, persepsi individual tidak wajib menerapkan cover both side.  Paham kau alumnus gadungan!
     Kedelapan, "seenak udel omong".  Saya mau tanya, mana kata-kataku di Kau Bukan Alumnus yang dapat dikategorikan "seenak udel".
     Kalau kau tak mampu membuktikan tuduhanmu, beginilah memang kualitasmu sebagai alumnus palsu.  Paham kau alumnus gadungan!
     Kesembilan, "entahlah besok bila terjadi sesuatu yang tidak diduga".  Ini jelas ancaman karena didahului kalimat yang mempertanyakan sikap saya menyenggol-nyenggol alumni jadi-jadian.
     Saya sudah screenshot ini sebagai bukti digital pengancaman.  Ada yang bisa bantu saya berapa tahun kurungan penjara bagi pengancam di media sosial?


Sabtu, 12 Juni 2021

Kau Bukan Alumnus


Kau Bukan Alumnus
Oleh Abdul Haris Booegies


     Beberapa hari sesudah tamat di Pesantren IMMIM pada 1986, saya bersama sekitar 15 orang mengikuti orientasi sebagai kandidat anggota IAPIM (Ikatan Alumni Pesantren IMMIM).  Alumni yang saya ingat ikut antara lain Rosmiati Tanrere, Juli, Hasniah Kaduak, Awaluddin Mustafa dan Irsyad Dahri.  Sedangkan instruktur ialah Mappinawang serta Andi Nurzaman Razaq.  Di zaman itu, sekretariat IAPIM masih di bagian depan Gedung IMMIM di Jalan Jenderal Sudirman.
     Program orientasi yang berlangsung dua hari sempat mencuatkan sikap.  Anggota IAPIM adalah santri yang tamat di Pesantren IMMIM.
     Ketika Syamsulbahri Salihima terpilih ketua IAPIM, markas besar pindah ke sisi utara Gedung IMMIM di Jalan Sungai Lariang.  IAPIM masih sepi peminat.
     Di suatu hari kala berdua dengan Syamsulbahri.  Ia berteori bahwa alumni yang rajin ke IAPIM bisa dipastikan bukan pengurus senat di kampusnya.
     Saya tersenyum mendengarnya.  Di periode itu, saya bersama Syamsulbahri tercatat sebagai pengurus senat di fakultas masing-masing.  Syamsulbahri bukan hanya pengurus senat, ia juga motor penggerak pramuka di UIN Alauddin.  Kami sama-sama pula aktif menulis di harian Pedoman Rakyat.
     Saya hampir tiap hari ke kantor IAPIM karena kondisi lingkungannya sejuk.  Di depan sekretariat ada dua pohon raksasa yang meninju cakrawala.  Beranda luar kantor H Fadeli Luran juga teramat sejuk.  Di situ saya acap duduk-duduk sembari membaca.
     IAPIM di masa Syamsulbahri mulai berkembang.  Administrasi tertata rapi.  Diterbitkan pula kartu anggota.  Penggerak IAPIM di era ini yakni Syamsulbahri, Andi Takdir dan Fitri Marzuki.
      Tatkala ditunjuk sebagai ketua panitia pelatihan jurnalistik tingkat intermediate, saya cekcok dengan Syamsulbahri.  Saya menghendaki anggaran dari Yasdic digunakan seluruhnya untuk peserta.  Sementara Syamsulbahri berpandangan beda.  Dana mutlak disisihkan untuk membeli lemari arsip, cermin, gula serta kopi.
     Cermin mesti ada di kantor karena rata-rata anggota IAPIM berpaham metroseksual.  Bercermin merupakan kewajiban bagi anak muda.  Gula dan kopi disediakan bagi anggota IAPIM yang bertandang.  Siapa ingin minum kopi, silakan melayani diri sendiri.
     Saat Indra Jaya terpilih ketua IAPIM, muncul persoalan.  Mappinawang mengusulkan tips demi kelangsungan IAPIM.  Indra tersinggung.  Ia merasa kewenangannya dilangkahi.
     Indra lantas menulis di papan tulis tantangan berkelahi untuk Mappinawang.  Semua langsung takut, sebagian sinis.  Di suatu malam, saya diprovokasi Kaharuddin Nasta.  "Bagaimana kalau Haris jawab ini".
     Tentu saja saya tidak mau.  Sebab, Indra merupakan mahaguru karate saya.  Seburuk apa pun ia, pasti tetap suci di mataku.  Apalagi ini senpai Black Panther yang hampir separuh ilmunya diwariskan kepada saya.
     Apes bagi sekretariat IAPIM.  Anggota ngeri datang.  Akibatnya fatal.  Kesunyian melanda.  Segalanya seolah sepi.  Selama dua tahun saya bersama Daswar M Rewo bahu-membahu agar IAPIM kembali cerah-ceria.
     Tiap pagi saya dengan Daswar bergantian membuka pintu kantor IAPIM.  Jika pulang, saya mengunci pintu.  Saya sempat bersitegang dengan Daswar.  Saya menyuruhnya mengunci pintu bila pulang pada siang atau sore.  Ia menampik.  Alasannya, kalau pintu terkunci, otomatis tak ada alumni berminat singgah.
     "Bagaimana jika ada pencuri?"  Daswar menjawab bahwa ada staf gedung yang mengunci sekretariat IAPIM pada pukul 22.00.
     Ketika Ahmad Fathanah terpilih ketua IAPIM, suasana berangsur berubah.  Keramaian mulai meningkat.  Apalagi, ada televisi.  Nyaris tiap malam diadakan acara minum kopi.
     Di IAPIM pada kepengurusan Ahmad Fathanah, saya ditugaskan di Seksi Penelitian dan Pengembangan (Litbang).  Pada 8 Februari 1993, diselenggarakan Rapat Kerja VI di Hotel Paris.
     Secara perlahan, saya surut dari IAPIM.  Alumni baru lebih gesit untuk menangani IAPIM.  Sejak 1994 sampai 2021, saya buta perihal IAPIM.
     Hari ini saya sering risih.  Ada santri tidak tamat di pesantren, tetapi, mengaku alumnus.  Bahkan, diamanahkan mengurus alumni.  Siapa sebenarnya yang gila di sini.  Alumni tulen yang tak malu memberi kewenangan kepada alumni jadi-jadian atau sebaliknya.
     Saya selalu marah bila membayangkan ini.  Bagaimana kalau ada santri tidak tamat mengaku alumnus.  Begitu dipersilakan jadi imam, ia menyingkir.  Tergopoh-gopoh menghindar ke saf belakang.  Memalukan sekali.  Nama Pesantren IMMIM sontak tercoreng.  Saya tak rela almamater dipermalukan begitu.
     Lima tahun silam saya mulai meradang menyaksikan situasi ini.  Di pesantren saya enam tahun dikejar-kejar qismul aman (seksi keamanan).  Mendadak ada bekas santri yang cuma satu tahun di pesantren mau mengatur-atur alumni.  Kau tidak selevel dengan kami!  Tempatmu bukan di IAPIM!  Tanggalkan sekarang segenap atribut IAPIM!  Kau punya almamater tersendiri!  Paham kau!


Kamis, 03 Juni 2021

Viking Muslim


Foto koleksi Majalah Online Zamane

Viking Muslim
Oleh Abdul Haris Booegies


     "Viking adalah gerombolan ganas perompak".  Begitulah imaji di kepala bila melihat wujud berwajah angker dengan helm tanduk.  Viking merupakan suku Skandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia dan Islandia) di wilayah utara Eropa.  Tatkala menyimak sejarah Viking, ternyata jejak historisnya berlumur dongeng.
     Ada dua elemen yang menimbulkan rasa kagum sekaligus pertanyaan.  Dua kategori ini tergurat ketat dalam imajinasi.  Pertama, bangsa Viking tidak mengenal rasa takut di medan laga.  Kedua, mereka percaya Valhalla, tempat jiwa para ksatria yang terbunuh dalam perang.
     Hampir 300 tahun Viking menghegemoni Eropa.  Mereka menerjang bak bah.  Serangan mengalir tiada putus.  Tak ada yang sanggup menghentikan kecuali kemenangan sudah diraih.
     Pasukan Viking tampil perkasa karena termotivasi bahwa kematian dalam pertempuran merupakan kebajikan tertinggi.  Mati dalam perang menjadi prestasi terbesar Viking.  Kalau terbunuh, mereka langsung dijemput Valkyrie.  Sosok bersayap ini merupakan dewi kematian.  Valkyrie lantas membawa roh prajurit heroik ke Valhalla.  Tempat ini menjadi destinasi akhir para pahlawan Viking.  Valhalla dalam istilah Nordik antik disebut Valhöll.  Valhalla merupakan puri mewah nan megah dengan 540 gerbang.  Istana beratap perisai ini berada di Asgard, Nirwana Dewa Odin.
     Dari mana Viking memperoleh doktrin suci kematian dalam perang?  Ini bukan mitos.  Sebab, sejarah membuktikan jika Viking terlacak menginvasi banyak negara di Eropa, termasuk Inggris serta Perancis.  Mereka menjelajah sebagian dunia sejak tarikh 787 sampai 1066.  Selama itu, Viking merangsek ke Amerika Utara, Rusia maupun Turki.
     Dari segi penampilan fisik, Viking terkontaminasi fiksi.  Viking sesungguhnya tidak pernah memakai helm tanduk.  Mereka juga tak minum dengan tengkorak manusia.  Ini kerja usil seniman yang mendandani saga Viking.  Hingga, terkesan liar dan banal dalam aksi.
     Contoh menarik evolusi figur.  Marvel Studios mendeskripsikan Thor berambut pirang.  Padahal, di bentala Skandinavia, Dewa Petir dalam mitologi Nordik tersebut berambut merah.  Sineas Hollywood mengubah perspektif Nordik (Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Islandia, Greenland, Faroe Island, Åland Island serta Svalbard).

Foto koleksi Majalah Online Zamane

Penjara Bastille
     Bertahun-tahun kita tertipu dengan Bastille Saint-Antoine yang menjadi simbol Revolusi Perancis.  Penjara yang termaktub sebagai lambang kejatuhan monarki absolut itu digambarkan suram dan seram.  Bangunan mirip kastil hantu tersebut dilukis seperti berada di pucuk tebing terjal yang muram.
     Penjara ini seolah lebih mengerikan dari Alcatraz di Teluk San Fransisco, Amerika Serikat.  Ini gara-gara Jean-Baptiste Lallemand.  Berbekal imajinasi, ia melukis dengan cat minyak penjara Bastille yang tidak lebih coretan dusta durjana.
     Lokasi asli Bastille rupanya di kota Paris, bukan di puncak gunung karang.  Penjara yang terletak di Jalan Saint-Antoine No 232 itu, bersebelahan dengan toko parfum.  Di penjara yang hanya bisa menampung 50 tahanan ini, ada sel khusus berupa bilik dengan fasilitas mewah.  Hidangan yang disajikan pun tergolong enak untuk ukuran abad ke-18.  Ada susu, bubur serta dendeng babi.
     Pada 14 Juli 1789 ketika Bastille diserbu kaum revolusioner, cuma ada tujuh narapidana.  Pengambilalihan Bastille menandai akhir rezim wangsa Bourbon.  Raja Louis XVI bersama permaisuri Marie Antoinette, akhirnya ditangkap.  Pada 21 Januari 1793, leher Louis XVI dipotong dengan guillotine di Place de la Révolution.


Foto koleksi Majalah Online Zamane

 
Jihad Viking
     Semangat Viking dalam berperang sulit direkayasa.  Maklum, ada bukti mereka menjelajah dengan aneka pertempuran maut.  Viking betul-betul punya spirit tempur dan kerinduan terhadap Valhalla.
     Di suatu hari, saya terkesiap menyimak ulasan Annika Larsson, arkeolog tekstil dari Universitas Uppsala, Swedia.  Pada pertengahan Oktober 2017, ia mengumumkan bahwa ditemukan lafaz "Allah" pada potongan selempang di kuburan Viking.  Bukan hanya "Allah", ada pula teks "Ali".  Ali yang dimaksud pasti Ali bin Abi Thalib, petarung ulung dengan pedang Zulfikar.
     Desain kedua aksara bermakna ini ditenun dengan pola Kufic geometri.  Model Arab Kufik tempo doeloe menorehkan dua kata yang berulang terus.  Dirajut dengan benang perak di atas sutra.  Motif ini ditemukan pada 10 dari 100 kostum sutra di Gamla serta Birka.
     Di era tersebut, mutu tekstil sutra umat Islam menjadi favorit di Eropa.  Viking juga mengimpor teknik pembuatan logam dari Arab.  Alhasil, mereka mahir memproduksi pedang Ara.
     Di makam seorang wanita abad ke-9 di Birka, Swedia, ditemukan sebuah cincin.  Terpahat kata dalam bahasa Arab yang artinya "kepada Allah".
     Adakah hubungan spirit tempur Viking dan Valhalla dengan Islam?  Viking memiliki spirit tempur, Muslim punya jihad.  Viking memiliki Valhalla, Muslim punya Firdaus.
     Tak ada bukti konkret bila jihad ala Viking berasal dari Islam.  Data terbatas yang terkumpul sekarang sekedar memaparkan bahwa Viking berinteraksi secara damai dengan dunia Islam.  Kejutan lain, Viking secara genetik terdiri dari sejumlah kelompok berbeda.  Bahkan, ada Viking dengan gen Eropa Selatan serta Asia.
     Bukti-bukti baru di masa mendatang pasti menggairahkan gelora fantasi.  Pasalnya, fakta baru yang ditemukan niscaya mengubah sejarah Viking, khususnya spiritualitas perang ala Muslim di Skandinavia.


Amazing People