Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

Justin Bieber dan Anak Indonesia


Menyambut Konser Justin Bieber 23 April 2011
Justin Bieber dan Anak Indonesia
Oleh Abdul Haris Booegies

      Demam Briptu Noorman Camaru masih membahana tatkala Justin Bieber melawat menemui penggemarnya di Indonesia. Sejak Januari 2011, Beliebers (penggemar fanatik Bieber) geregetan. Sebab, penyanyi muda itu bakal singgah di Indonesia dalam Tour World 2011.
      Noorman si Brimob Bollywood adalah saudara Bieber dari ibu bernama YouTube. Noorman akan tercatat dalam sejarah blantika musik Indonesia sebagai pionir “polisi pendendang”. Ia mengunggah videonya yang menyenandungkan secara lipsync lagu Chaiyya Chaiyya kepunyaan Shah Rukh Khan. Sejuta puja-puji lantas mengarah kepada anggota Polda Gorontalo tersebut. Namanya mentereng melebihi selebriti papan atas yang sudah lama malang-melintang di dunia hiburan. Ia digiangkan dari Sabang di barat sampai Merauke di timur. Dari Pulau Mianggas di utara sampai Pulau Rote di selatan wilayah Indonesia.
      Kini, nasib Noorman tergantung pada tata kelola promotor dan institusi kepolisian. Kalau mereka berniat mengasah potensinya, maka, nasib Noorman pasti cerah. Ia berpeluang menjadi artis penebar kesejukan berkat menyuntikkan prestasi luar biasa. Hingga, membuat antrean mengular demi menyaksikan aksinya. Parameter serupa terjadi pada diri Bieber. Remaja kelahiran Kota Stratford, Ontario, Kanada pada 1 Maret 1994 itu merupakan penyanyi pop serta R&B paling mengkilap di bawah kolong langit.
      Di usia 12 tahun, Bieber mengikuti kontes biduan di Kota Stratford. Ia merebut juara kedua. Penampilannya lalu diunggah ke YouTube. Di situ Bieber menyanyikan lagu Usher, Stevie Wonder, Justin Timberlake, Chris Brown dan Ne-Yo.
      Scooter Braun yang merupakan marketing eksekutif di So So Def sempat menyaksikan Bieber di YouTube. Ia pun mengontrak bocah bertampang tampan tersebut. Bieber dibawa ke Atlanta menemui Usher. Di tangan Usher, mendadak Bieber menjelma bintang benderang dari blantika musik pop global. Usher mendapuknya mencapai puncak penampilan gemilang.
      Bieber sekonyong-konyong menjadi penyanyi idola ABG sedunia. Suaranya khas serta empuk di gendang telinga. Paras Bieber pun polos. Walhasil, gadis-gadis menyukainya. Potongan rambutnya banyak ditiru kaum ABG cowok di seluruh penjuru dunia. “Rambutnya sangat halus”, papar Rick Fox, mantan pebasket dari klub Los Angeles Lakers.
      Sabtu, 23 April 2011 hari ini, Bieber akhirnya mengadakan konser untuk memuaskan fansnya di Indonesia. Para penggemarnya menyemut di Sentul International Convention Center guna menikmati pesona senandung merdunya.

Anak Ajaib
      Fenomena anak ajaib di dunia hiburan bukan melulu di Amerika Serikat. Di Indonesia, anak ajaib juga ada. Pada 1970-an, Adi Bing Slamet (Ferdinand Syah Albar) membius anak-anak dengan gaya dan tingkahnya. Bukan cuma nyanyiannya yang didendangkan bocah serta remaja di segenap pelosok Tanah Air. Rambut poni Adi ditiru pula.
      Adi merupakan putra seniman serba bisa Bing Slamet. Ia adik Uci Bing Slamet dan kakak Iyut Bing Slamet. Sejak 1975 sampai 1996, Adi membintangi 16 film layar lebar. Sementara lagu-lagunya senantiasa hits.
      Pada 1996, nama Joshua Suherman membahana. Bocah asal Surabaya itu beruntung sebagai penyanyi cilik. Pasalnya, televisi swasta tengah marak. Sebuah lagunya bertajuk Air yang menggunakan istilah “diobok-obok” teramat populer. Kata “diobok-obok” pun langsung terkenal. Banyak orang menggunakan istilah “diobok-obok”, khususnya dalam wacana politik.
      Dewasa ini, anak ajaib Indonesia tiada lain Baim (Ibrahim Khalil Alkatiri). Umurnya yang masih belia membuat aktingnya di layar kaca terlihat kaku. Ia lahir di Malang pada 7 Juni 2005. Kendati geraknya belum bebas-lepas, namun, hokinya berlimpah-ruah. Ia membintangi beberapa sinetron serta sejumlah iklan.
      Adi, Joshua maupun Baim merupakan anak ajaib dengan sinar benderang. Menyaksikan kemilau gaya sang bintang yang lahir dari rahim Nusantara membuat kita seolah lupa pada isu terorisme, separatisme, spionase, subversi, sabotase dan psikopat edan yang berkeliaran.
      Baim yang imut-imut mengingatkan masyarakat Indonesia dengan Jordy Lemoine pada 1992. Penyanyi cilik Perancis tersebut sempat menginvasi planet Bumi dengan lagu Dur Dur d’Etre Bebe (Susahnya Menjadi Bayi).
      Di negerinya, Jordy dijuluki Bebe-Chanteur (penyanyi cilik) berkat usianya baru empat tahun. Ia lahir pada 14 Januari 1988 di Saint-Germain-en-Laye, Perancis. Jordy terdaftar di Guinness Book of World Records sebagai penyanyi termuda yang menduduki puncak chart-topping hit dengan lagu Dur Dur d’Etre Bebe (It’s Tough to be a Baby). Album Dur Dur d’Etre Bebe terjual dua juta kopi di Perancis. Di panggung Hollywood, Jordy pernah menghibur Whitney Houston, Kenny G bersama David Copperfield.

Kaya Beken
      Bieber serta fenomena anak ajaib merupakan anugerah bagi dunia hiburan. Torehan prestasinya membuat orang berdecak kagum. Arkian, ibu-ibu yang tengah hamil tak sungkan mengelus perutnya. Ia mendambakan anaknya dapat memiliki daya pukau sebagaimana Biebers.
      Zaman sekarang membuktikan bahwa kemashuran merupakan anak tangga meraih kejayaan finansial.  Kemashuran instan lewat YouTube membuat orang menuai puja-puji.
      Di periode ini, kemashuran sekaligus kekayaan merupakan cita-cita banyak orang. Aspek itu terjadi karena masyarakat hidup di era kapitalis-industrialis. Pencapaian sosial diukur dari materi dan kemashuran. Manusia tidak sekedar butuh kekayaan. Mereka juga mengejar bagaimana nama yang disandangnya mentereng di mana-mana.
      Kekayaan tanpa keterkenalan ibarat pesawat minus bahan bakar. Ternama tanpa kekayaan laksana pengembara di gurun. Keduanya pada akhirnya bakal sekarat. Soalnya, bekal tak menunjang pergerakan menuju tujuan. Akibatnya, kultur baru semacam pengagungan diri oleh para fans tidak mampu ia wujudkan. Kandas tiada secuil hasil.
      Budaya merupakan elemen yang hidup dalam masyarakat. Maklum, menjadi proses berpikir yang tak bisa dipertukarkan. Pertumbuhan industri serta kapitalisme memaksa budaya keluar dari pakemnya demi memuaskan beberapa korporasi gigantik. Elit modal menggiring budaya guna mengeruk laba berlimpah. Mereka mencari celah demi mendominasi ekonomi secara berkelanjutan.
      Theodor Adorno berfatwa bahwa teori pop berkelindan dengan metode industri budaya dan fetisisme komoditas. Fetisisme komoditas ialah ikhtiar yang digelontorkan pihak industri buat menciptakan pemujaan keliru terhadap suatu produk. Masyarakat tidak lagi memuja produk industri secara riil, tetapi, bertaklid pada simbol dari produk bersangkutan.
      Pada situasi yang makin dinamis ini, jiwa kapitalis-industrialis kian menemukan bentuk berkat new media seperti YouTube, Facebook berikut Twitter. Etos kapitalis bergemuruh oleh jejaring sosial. Pekerjaan yang dulu memakan banyak waktu, kini dapat diringkas-singkat. Dulu, untuk tersohor memerlukan dana, waktu serta jerih-payah maksimal. Sekarang, segalanya terhampar semudah menjentikkan jari. YouTube telah menafikan anggaran, waktu dan kerja keras. YouTube identik low budget high impact.
      Kini, YouTube menjadi wahana inspirasi serta penerang zaman. Apalagi, respons audiens sangat dahsyat. Hatta, orang yang tampil di YouTube akan merasakannya sebagai panggung pesta bagi dirinya. Penampilannya membahana. Sebab, adegan yang diekspos mengaduk emosi. Sebagai contoh yakni Noorman Camaru dan Justin Bieber yang tengah populer di Tanah Air.











































Kamis, 02 Juni 2011

Nasyid di Tengah Amuk Kapitalisme

Oleh Abdul Haris Booegies

HIRUK-PIKUK AFI, Indonesian Idol serta Kontes Dangdut TPI (KDI), yang menjulang dengan rating tinggi, akan mendapat pesaing baru. Berbalut semangat menggebu, sejumlah tokoh bakal menggarap nasyid yang minim alat musik.
“Nasyid akan menjadi alternatif baru di tengah hingar-bingar tayangan musik yang dianggap jauh dari nuansa Islami” (Tribun Timur, 20 Agustus 2004).
Nasyid tidak seglamour musik lain. Anatomi nasyid sangat sederhana. Alhasil, pergelaran nasyid dalam bentuk parade atau festival tidak gegap-gempita sebagai tontonan.
Sementara musik lain, khususnya rock, tampil lebih perkasa. Rock menggeliat subur setelah memberontak terhadap konvensi musik yang dipandang pakem.
Di era 70-an, muncul The Beatles, Led Zeppelin, Deep Purple dan Rolling Stones yang dibaptis penuh takzim dalam jejak historis.
Led Zeppelin malahan dibaiat sebagai arus besar di antara grup rock dunia. Ketukan John Bonham, menjadi patokan para penabuh beduk rock mutakhir. Sedangkan Stairway to Heaven menjadi lagu abadi yang berkibar sepanjang masa.
Sementara Deep Purple dihuni dewa gitar Richie Blackmore. Sejarah mencatat kalau Deep Purple adalah grup hard rock yang secara perlahan berkiblat ke heavy metal. Lagu Highway Star di album Machine Head membuktikan fenomena tersebut.
Selain seru dalam menampilkan atraksi panggung sekaligus gila menulis lirik lagu, juga rock terkesan demokratis dalam isu gender. Musik cadas sadar bila wanita bisa pula tampil mempesona. Hingga, terjadi emansipasi berupa kesetaraan dalam melantunkan rock ‘n roll. Tina Turner yang jalang atau Debbie Harry yang mesum, sebagai contoh.

Label Bid’ah

Dalam Islam tidak dikenal istilah musik. Sebab, musik dinilai sebagai sesuatu yang haram. Vonis itu menyeruak akibat musik identik dengan alat-alat semacam gendang, gitar maupun suling.
Nabi Muhammad bersabda: “Ada dua suara yang terlaknat di dunia dan akhirat. Bunyi suling kala memperoleh nikmat. Kemudian pekik histeris waktu ditimpa bencana”.
Hadis lain berbunyi bahwa: “Lonceng adalah suling-suling setan”. Abu Dawud meriwayatkan jika malaikat tidak sudi masuk ke rumah yang di dalamnya ada lonceng.
Nasib nasyid selamat dari label bid’ah selama mengusung nilai-nilai Islam. Nasyid dibolehkan asal disenandungkan oleh gadis-gadis kecil. Para penyanyi cilik tersebut hanya diberi kesempatn pada pesta perkawinan atau hari-hari besar Islam. Mereka melagukan nasyid dengan iringan duf (sejenis rebana).
Dari ruas-ruas zaman yang dilewati, nasyid terkadang dinamakan qasidah zuhdiah, qasidah sufiyah, ahzab aurad, tawasyih, taghbir serta samaa’.
Nasyid dianggap ideal kalau tidak mengandung ihwal tercela. Lantas maknanya cocok dengat syariat Islam. Di samping itu, penyampaiannya tidak menimbulkan syahwat.
Di gurun-gurun Arab, kelompok al-Armuk dipandang sebagai musisi nasyid tersohor. Di Malaysia menyembul nama Raihan yang tertoreh sebagai pelantun nomor wahid senandung Ilahi. Sedangkan di Indonesia yang sukses yakni Snada.

Nihil Agresivitas

Secara teori, nasyid punya peluang mencerap keberhasilan. Karena, jumlah umat Islam di Nusantara tergolong mayoritas. Gesekan negatif yang bakal menghalangi nasyid mendulang emas ialah kreativitas.
Di arus raya kapitalisme, semuanya dilihat dengan uang. TV yang menayangkan butuh iklan. Sementara pihak sponsor mengharap rating
Televisi memiliki fungsi besar dalam memasarkan produk apa saja, termasuk nasyid. Apalagi, TV mampu memberi makna baru. Kotak ajaib tersebut sanggup mengubah segalanya.
Bila animo masyarakat rendah, berarti nasyid akan cepat wassalam dari Negeri Nyiur Melambai ini. Alhasil, kreativitas menjadi password dalam memperkenalkan nasyid. Sebab, kreativitas menempati posisi puncak pada gemuruh persaingan global.
Dengan kreativitas yang tinggi, maka, gema nasyid bakal merasuk ke ruang-ruang pribadi. Musik bernuansa Islam itu akan menjalar dan merambat ke ranah publik. Hingga, pribadi yang mendengarnya bisa menata ulang formasi identitasnya.
Rock menjadi mesin fulus lantaran enteng dipasarkan. Musik keras tersebut tak punya tanggung jawab moral terhadap kehidupan. Makin brutal adegan panggungnya, maka, kian histeris para penggemarnya. Ritual menggorok kambing lalu menenggak darahnya, bukan hal tercela bagi gerombolan rocker.
Bahkan, Vance (20) bersama Belknap (18) mengakhiri hidupnya sesudah mendengar nyanyian Better by You, Better Than Me. Lagu yang dibawakan Judas Priest itu, dinilai mengajak bunuh diri. Syairnya melengking menyuruh do it (lakukan).
Sedangkan nasyid sangat terbatas ritme musiknya. Volume agresivitasnya nihil. Musik Islam tersebut cuma mengandalkan kekayaan khazanah moral demi membangkitkan kekuatan serta keindahan.
Kesederhanaan itulah yang memaksa nasyid wajib dihias kreativitas. Dengan struktur kreativitas, berarti nasyid memiliki tantangan guna mengejar kesetaraan hasil positif.
AFI, Indonesian Idol dan KDI dikemas meriah dengan dukungan beragam iklan. Apalagi, iklim global yang kompetitif gencar melanda gaya hidup modern. Alhasil, segenap konfigurasi berujung pada sikap kapitalis.
Kini, peruntungan nasyid dipertaruhkan. Dunia yang dihuni kapitalis menjadi kancah bagi nasyid dalam memberikan interpretasi terhadap gemerlap dunia hiburan. 













 































































 

Filsafat AFI di Pusaran Arus Kapitalisme

Filsafat AFI di Pusaran Arus Kapitalisme

Oleh Abdul Haris Booegies

Calon Peserta AFI 4


“TEKNOLOGI mengubah segalanya”, begitulah pameo yang sering terdengar. Teknologi, remaja, kemashuran serta uang, kini bisa dipadupadankan. Perkawinan empat jenis benda dan sifat tersebut, melahirkan hiburan, histeria maupun haru-biru elegi sendu.

Saat ini, program acara reality show mencapai ketinggian setelah berlari gesit “menuju puncak”. Fenomena itu terjadi sesudah dunia periklanan serta media massa elektronik berkolaborasi dalam sebuah sinergi yang solid. Alhasil, lahir Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idol (RCTI), Kontes Dangdut TPI (KDI) dan Cantik Indonesia di Trans TV.
Acara yang dibalut kualitas serta popularitas tersebut, dikaitkan dengan seni sekaligus bisnis. Hingga, menjadi komoditas hiburan dengan nilai komersial tinggi. Dan entertainment impresif model begitu, yang sekarang merajai seluruh deretan acara yang ditayangkan aneka stasiun televisi.
AFI sebagai suatu rangkaian event multimedia yang experiential adalah anak kandung teknologi. Tanpa teknologi yang memperanakkan budaya short message service (SMS), maka, AFI cuma hiburan tanpa oase yang meremas-remas emosi.
Kehadiran kultur SMS mengubah perspektif penonton. Pemirsa terlihat sebagai kekuatan penentu yang akan memunculkan satu figur panutan baru.

Simpati serta Empati

Filosofi AFI merupakan gempita bertabur materi. Konsep-konsep abstrak yang canggih semacam dialektika dan substansi, langsung dimentahkan oleh konser AFI. Acara tersebut digandrungi golongan muda sebagai wadah buat mengekspresikan diri, di samping menjadi pengembangkan diri. Peserta alias akademia mutlak memiliki bakat, bukan aura hasil jimat tenaga supranatural.
Filsafat AFI ibarat hembusan bayu. Lepas sekaligus tidak rumit dalam jejaring era digital. Filosofinya polos lantaran ajang kompetisi itu sekedar mengejar popularitas. Kendati sederhana, tetapi, kunci utama tetap bertumpu pada performance para akademia serta proses eliminasi yang sarat sedu-sedan.
Kompetisi berbasis kompetensi tersebut, merupakan tayangan interaktif antara para akademia (performer) dengan pirsawan (spectator). Alhasil, terjadi simpati dan empati.
Di tangan penonton, nasib peserta ditentukan agar “jadilah bintang”. Penonton menjadi pemegang otoritas dalam memilih finalis favorit dengan sistem polling SMS atau premium call.
Seorang akademia akhirnya harus terpental setelah unjuk kebolehan secara maksimal. Jumlah vote yang diraih tidak memungkinkannya tetap bertahan di lingkungan road to Grand Final AFI. Ritual perpisahan yang dramatis lalu tak terelakkan. Sang pecundang lantas dikerumuni oleh peserta lain. Mereka berangkulan diiringi airmata yang deras mengalir bercucuran.
Sementara kamera dengan sudut-sudut pemgambilan gambar yang tajam, teramat pongah merekam tetes-tetes airmata. Kamera menvisualkan bagaimana bibir akademia yang kalah, bergetar menahan emosi. Pemirsa akhirnya terenyuh, merasa iba sekaligus dilumuri perasaan kecewa.
Isak tangis bagi yang tereliminasi, jelas merupakan kesedihan mendalam tiada-tara. Sedangkan ratapan peserta yang masih bertahan belum tentu pertanda sedih. Karena, dengan terdepaknya satu akademia, berarti pesaing berkurang. Hingga, tangis mereka pada hakikatnya tergolong kebahagiaan.

Transformasi Revolusioner
AFI sekarang menjadi politik identitas dunia kawula muda. Semua bersolek, mengolah suara serta berusaha tampil penuh percaya diri lewat totalitas kejiwaan. Filosofi itu kemudian berujung pada sikap kapitalis. Sebab, pemenang AFI langsung bertabur aneka simbol kemewahan.
Luapan atribut serba glamour tersebut, tersedia cuma-cuma. Citra sarat sensasi itu, makin mengkilap oleh aliran duit yang terus memenuhi kantong.
Struktur berbasis kapitalisme tersebut, lambat laun bakal menggiring remaja menjauh dari kehidupan normal. Gejala kebangkrutan moral pada satu sisi maupun adanya kesenjangan sosial pada sudut lain, sulit dihindari. Karena, sistem kapitalisme dieksploitasi menjadi komoditas untuk ditawarkan.
Muda-mudi dimanjakan oleh pusaran arus kapitalisme yang mendewakan materialisme (harta benda), individualisme (keunggulan pribadi) dan independensi (kebebasan). Apalagi, perkembangan kapitalisme, potmodernisme serta cyberspace sudah menggiring masyarakat global larut dalam arus perubahan super cepat.
Transformasi tak pernah menurunkan volume kecepatan inovasinya. Perubahan tak sudi mengurangi tempo konsumsinya yang berazas hedonisme (pendewaan nafsu). Dari transformasi yang serba gesit tersebut, lalu menggeliat konsep baru dalam pencarian bakat secara revolusioner.
Perkembangan media yang melaju kencang itulah yang pada intinya melahirkan AFI. Program tersebut menjadi mesin industri hiburan dalam menelusuri bibit unggul. Cikal selebritas itu lantas dieksploitasi habis-habisan demi menjaring pasar.

Tekad Ekstrem Positif
AFI bergemuruh sebagai budaya massa yang memunculkan konsekuensi-konsekuensi yang nyaris tak terduga. Veri Afandi, umpamanya. Ia anak tukang becak. Sementara ibunya pencuci pakaian. Berkat simpati pemirsa, akhirnya Veri tercatat dalam sejarah artis Indoensia sebagai public figure polesan media elektronik. Begitulah efek media yang mengubah akademia from zero to hero.
Rumor bahwa anggota AFI tak lagi menyentuh tanah alias angkuh, merupakan konsekuensi logis dari popularitas yang datang menyapa laksana mimpi di siang bolong. Alhasil, watak filsafat yang seyogyanya memberi arti kehidupan, justru terperangkap oleh ekstasi budaya kecepatan (dromology). Akibatnya, ruang perenungan maupun refleksi, terpelanting oleh energi gemilang hiburan musik audio-visual.
AFI yang berasaal dari pentas La Academia Azteca, Meksiko, adalah buah dari budaya SMS yang tengah melanda tiap insan di pelbagai pelosok benua. Generasi muda teraktualisasi akibat produk teknologi. Remaja meraih harkat berkat popularitas.
Komunitas muda-mudi punya gaya hidup lantaran resep kapitalisme. Apalagi, lifestyle di era neo-liberal merupakan the way a person (or a group) lives. This includes patterns of social relations, consumption, entertainment and dress. (Gaya hidup ialah cara hidup seseorang atau kelompok. Ihwal tersebut mencakup pola hubungan kemasyarakatan, konsumsi, hiburan dan busana).
Kaum muda berbekal tekad ekstrem positif kemudian menggantungkan harapan pada AFI yang menawarkan sejuta harapan.
Menuju puncak…
Kemilau cahaya…

Mengukir cita seindah asa…

Menuju puncak…

Impian di hati…

Bersatu janji…

Kawan sejati…

Pasti berjaya di Akademi Fantasi…

Siti Nurhaliza Ikon Surgawi

Siti Nurhaliza Ikon Surgawi

Oleh Abdul Haris Booegies

MALAYSIA sungguh beruntung dalam desain isu mutakhir kehidupan yang berbasis kompetisi gagasan brilian. Negeri jiran itu mujur pernah dipimpin Dato’ Seri Dr Mahathir Mohammad yang gagah berani menantang George Soros. Mantan perdana menteri itu mengajak Soros berdebat soal krisis ekonomi yang sempat melanda Asia Tenggara. Bahkan, Mahathir menyalakan nyali sebagai pria jantan sejati dengan mencela Barat yang sering meronrong Islam.
Selain punya Mahathir, juga Malaysia wangi semerbak oleh sekuntum mawar indah bernama Siti Nurhaliza binti Tarudin. Gadis belia nan ranum menawan tersebut, merupakan diva pop Malaysia. Di Indonesia, biduanita bersuara emas itu kondang dengan hits semacam Nirmala, Aku Cinta Padamu, Cindai serta Bukan Cinta Biasa.
Di tengah membludaknya artis dunia, maka, kehadiran Siti ibarat oase di hamparan gurun panas yang tandus. Memandang paras Siti, ibarat menatap bidadari dengan busana berhias 70 warna Nirwana yang gemerlap penuh keagungan. Menikmati suara Siti, layaknya mendengar alunan tembang pujian Nabi Daud di lereng-lereng gunung di zaman purbakala silam. Melihat penampilan Siti, bak menghayati tarian sufi yang gemulai dalam rangkaian senandung takzim bersepuh hikmah.
Gaya Siti terlihat alami, nihil sensualitas, tidak boyish (kecowok-cowokan) sekaligus sopan. Pancaran inner beauty Siti sangat terasa. Alhasil, artis dari negeri seberang yang senang main bulu tangkis tersebut, terkesan cantik dan memiliki kharisma. Siti sebagai orang paling mempesona (most fascinating) di tahun 2004, merupakan penyanyi yang santun membawa diri, classy serta friendly. Siti yang memperoleh pendidikan di Sekolah Rendah Kebangsaan Clifford, Kuala Lipis, benar-benar gambaran the real lady.

Melodi Setan

Siti lahir dari rahim Siti Salmah Bachik di Kampung Awak, Temerloh, Pahang. Siti yang sampai sekarang sudah mengoleksi 112 penghargaan, menjejakkan diri ke dunia pada 11 Januari 1979.
Di samping menyanyi, gadis berzodiak Capricorn itu, sibuk pula mengurus usahanya berupa Siti Nurhaliza Production, Siti Nurhaliza Collection dan Siti Nurhaliza Marketing.

Dengan penampilan yang alim, sosok Siti tidak hanya menarik perhatian remaja. Banyak orangtua bersimpati sekaligus tak khawatir anaknya terkena sindrom Siti. Para orangtua tidak cemas kalau putra-putrinya mengidolakan Siti. Sebab, Siti yang dibaiat sebagai the new voice of Asia, sangat mempesona secara moral dibandingkan Britney Spears.

Di Amerika Serikat, banyak orangtua ketakutan bila anaknya terkontaminasi oleh perilaku Britney. Hingga, di negeri Paman Sam muncul komunitas anti-Britney. Karena, Britney yang dihafal dari A sampai Z, adalah tipe gadis binal, nakal serta liar. Kelakuannya sering dianggap keterlaluan. Sebab, doyan berdandan amburadul. Pose-posenya khas minta diperkosa beramai-ramai.
Sampul DVD Britney, contohnya, teramat norak. Di cover In The Zone, ia cuma mengenakan cawat tanpa kutang. Bulu genitalnya yang hitam, malahan samar-samar terlihat merambat ke liang pusarnya yang cukup dalam. Buah dadanya yang mungil, putih bercahaya dan montok, hanya ditutupi rambut pirangnya yang tergerai indah.
Rasa syukur masih patut dipanjatkan lantaran Britney belum seratus persen have a mind of satan (punya cara pikir ala setan). Gadis genit tersebut belum setara Ozzy Osbourne atau Marilyn Manson yang otaknya kotor sekali dengan melodi setan. Keduanya leluasa digembalakan oleh kuasa gelap (dark forces) yang mengampanyekan bahwa Lord was crucified (tuhan telah disalib).
Banyak artis atau rocker semaunya berceloteh seperti Led Zeppelin. Grup raksasa itu dalam lagu abadi sepanjang masa Stairway to Heaven berseru; I live for satan (saya hidup buat setan).
Majalah Sabili pernah memekik jika sudah terjadi fenominul alias gejala Inul. Fenominul merupakan potret masyarakat sakit. Karena, orang telah jamak serta permisif diserbu pornografi dan porno aksi semacam goyang ngebor. Dulu, goyang Inul merupakan sebuah industri syahwat yang menggiurkan. Kini, goyang ngebor sudah tidak laku. Bahkan, dinilai menjijikkan sekaligus telah menjelang sakratul maut.
Di Surabaya malahan ada klinik atau salon untuk make up alat vital kaum Hawa. Tidak ada perkara kalau wanita berniat mempercantik Miss V miliknya. Persoalan mengemuka akibat yang mengutak-atik atau mempermak kelamin perempuan tersebut, bukan diri sendiri atau suami, tetapi, orang lain.

Bidadari Jelita

Siti mengangkat musik pop dengan lakon serta trend tersendiri. Eksponen terbaik di Asia itu punya suara yang bagai ornamen pembasuh stres. Imbuhan sentuhan tenggorokannya seakan dipoles qiraah sab’ah (tujuh jenis lagu qiraah).
Figur Siti menyimpan energi yang mampu melatih diri agar itsaru ’ibadatillah ‘ala ar-rahah (lebih mengutamakan ibadah kepada Allah daripada bersantai-ria).
Siti memiliki otoritas dan integritas moral yang dapat menjadi panutan bagi penggemarnya. Siti yang senang memainkan alat musik biola, bukan sekedar dewi berwajah elok yang tak punya prinsip Melayu. Ia tak sama dengan Britney yang seenaknya mengajak sahabatnya supaya let’s do something wild and crazy.
Filosofi hidup Siti yakni “tak hidup dipuji, tak mati dikeji”. Gadis bertubuh mungil dengan tinggi 163 cm tersebut, tak berhasrat hidup di atas pujian. Kemudian ia tidak rela mati akibat perbuatan tercela.
Prinsip yang dianut Siti, sekarang susah ditemukan. Sebab, manusia justru berlomba meraih kesuksesan, kekayaan maupun ketenaran dengan metode yang tidak memihak nurani. Dalam merengkuh cita-cita, acapkali orang menggunakan cara-cara kotor, jalan pintas sesat atau kepincut mencari pesugihan lewat ekspansi ghaib.
Realitas dicampur-aduk dengan ilusi. Alhasil, yang tampak adalah kedustaan. Makna hakiki dimodifikasi dengan keliaran konsep-konsep vulgar. Akibatnya, banyak popularitas yang menjulang tinggi ke angkasa laksana hendak meninju langit, tiba-tiba jatuh berserakan di tempat kotor yang busuk.
Etika dalam menggapai keberhasilan, kerap tersingkir oleh nafsu. Pencarian harmoni kehidupan yang melegalkan aneka hal, pada intinya membangkrutkan prestasi maupun potensi diri. Hingga, pengidap nafsu kebendaan bakal tergilas oleh rentetan stigma negatif seiring perjalanan waktu. Karena, prospek kondisi jangka panjangnya tak sanggup menciptakan faedah optimal kecuali kehancuran total.
Banyak yang lupa bila kecemerlangan tidak datang begitu saja sebagaimana angin topan yang sontak hadir memorak-porandakan. Kesuksesan selalu bertahap lantaran kekuatan manusia yang terbatas.
Dari tempaan seni yang berliku, Siti muncul sebagai bidadari jelita Malaysia. Parasnya yang segar dengan sorot mata teduh, menjadikannya sweet princess. Sekalipun tidak menonjolkan sensualitas fisik, namun, aura yang dipancarkan teramat anggun. Anak keempat dari tujuh bersaudara itu, ibarat datang dari Surga untuk menghibur publik lewat Makassar Live in Concert dalam rangkaian pergelaran Siti Nurhaliza Indonesia Tour (SNIT).
































Amazing People