Menulis Ekonomi
Oleh Abdul Haris Booegies
Di gelombang akhir era 80-an, ada sekitar 10 mahasiswa penulis di Ujung Pandang yang didominasi Universitas Hasanuddin. Di masa itu, saya memilih fokus menulis di koran terbitan Jawa. Ingin menguji sayap di angkasa media populer Jawa. Ada semacam gengsi personal di situ.
Tiada sudi diri ini berkubu di kandang sendiri. Saya tak berhasrat menjadi jago kandang. Dipuji di halaman yang sama tiap pekan oleh lingkaran yang sama pula.
Naskah-naskah saya pun berlayar jauh. Hingga, bisa menembus harian Republika (Jakarta), Pelita (Jakarta), Jayakarta (Jakarta), Terbit (Jakarta), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta) dan Surya (Surabaya). Bahkan, berkali-kali terpublikasi di harian Banjarmasin Post.
Tiap pemuatan di media Jawa terasa bagai aksara paku di prasasti. Bukti bahwa karya tulis bisa hidup di luar kampung halaman. Dipuja-puji di iklim redaksi yang asing sekaligus sering dingin tanpa minat.
Awalnya, puas merangkai kalimat di wilayah yang akrab bagi peminat humanisme. Membahas agama dengan misteri iman, sosial dengan denyut masyarakat, sejarah yang menyimpan lapisan debu waktu, budaya yang kaya warna serta film yang sarat imajinasi.
Lambat-laun, merasa jenuh cuma menyentuh masalah agama, sosial, sejarah, budaya serta film. Apalagi, ini memang wilayah yang akrab bagi komunitas sastra. Semua yang saya tulis merupakan tempat metafora dan narasi punya ruang bernapas. Kini, membahana godaan lain yang mengintai. Berkehendak menyusup ke ranah yang tak terpisahkan dari hitung-hitungan. Saya kepincut menulis ekonomi. Bidang yang terdengar kering, penuh grafik serta istilah yang terasa lebih dekat dengan papan tulis ketimbang mesin tik. Tantangannya berlipat ganda lantaran latar belakang saya sebagai mahasiswa sastra. Di Unhas, ini satu-satunya fakultas yang tidak belajar matematika. Di sinilah ruwetnya. Sebab, ekonomi terjalin erat dengan angka dan rumus. Di titik ini keruwetan dimulai.
Menulis ekonomi bukan sekadar memperluas topik. Ini adalah pertaruhan identitas. Sejujurnya, ini bukan hanya akan mengejutkan para pesaing, tetapi, juga menaikkan posisi saya sebagai penulis yang tak mudah ditebak. Ini bakal menaikkan status sebagai penulis andal yang sanggup meramu apa saja dengan kata.
Saya kemudian belajar laksana insan kelana yang masuk ke wilayah asing tanpa peta. Membekali diri dengan berlangganan harian Bisnis Indonesia dan mingguan Kontan. Membeli secara eceran harian Neraca serta mengoleksi majalah ekonomi.
Tatkala menulis kolom di majalah Panji Masyarakat, saya mulai menyelipkan kalimat-kalimat bernuansa ekonomi. Sekedar sisipan kecil berupa angka, istilah maupun logika pasar. Ini serupa menyulam benang emas ekonomi ke kain sutra sastra. Ini tahap coba-coba untuk uji nyali. Rasanya seperti menanam benih di tanah yang belum pernah digarap. Ini eksperimen sebagaimana cerpenis yang diam-diam belajar menulis laporan investigasi.
Syahdan di suatu hari, kejutan datang. Artikelku perihal ekonomi dimuat di sebuah harian. Saya membaca nama sendiri dengan rasa tak percaya. Bagaimana bisa? Artikel tersebut dikirim sebagai spekulasi, tanpa keyakinan penuh serta harap besar. Barangkali redaksi mengangkatnya berkat muatan sudut pandang. Boleh jadi pula karena merasa aneh dengan bahasa jurnalisme sastrawi yang saya praktekkan.
Sampai hari ini, saya masih sering termangu. Bisa-bisanya saya menulis ekonomi. Saya tercengang, bisa-bisanya persoalan pasar, kebijakan dan angka-angka dapat diramu dengan bahasa jurnalisme sastrawi. Saya tercenung, bisa-bisanya anak sastra masuk ke wilayah yang hampir steril dari metafora.
Barangkali di situlah pelajarannya. Ekonomi bukan sekadar tabel serta persentase, melainkan cerita tentang hasrat, pemerataan rezeki dan pilihan manusia. Pada akhirnya, di mana ada cerita, di situ sastra senantiasa menemukan jalannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar