Label

Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Juli 2023

Raga Sehat Jiwa Sehat


Raga Sehat Jiwa Sehat
Oleh Abdul Haris Booegies


     Kebugaran jasmani merupakan impian semua insan.  Tubuh prima membuat seluruh aktivitas berjalan maksimal.  Kondisi fisik optimal senantiasa menjadi syarat mutlak rutinitas sehari-hari.
     Olahraga menjadi tiket meraih raga nan sehat.  Olahraga murah meriah yakni berjalan kaki serta lari.  Walau terlihat mudah, tetapi, olahraga ternyata repot dilakukan.  Butuh dorongan khusus agar bisa berolahraga saban hari.
     Ada pesan yang terdengar dari orang ternama.  Kalau tak meluangkan waktu untuk berolahraga, maka, bersiaplah meluangkan waktu untuk sakit.
     Saat saya di SD, seorang guru berpetuah.  Dalam tubuh sehat terdapat jiwa sehat.
     Ketika belajar di Pesantren IMMIM pada 1980-1986, saya acap lari pagi sampai di jembatan Tello.  Berjarak sekitar dua kilometer.  Ini membuat badan atletis.  Seolah saya simbol seks pesantren.
     Di sisi lain, saya agak risih dengan kalimat "dalam raga sehat bersemayam jiwa sehat".  Sepertinya kalimat ini menyimpan kejanggalan.  Soalnya, banyak orang sehat berperangai sakit.  Tidak sedikit pula yang sakit, namun, berperilaku bijak.  Sampai sekarang di tarikh 2023, masih ada yang berceloteh bahwa "dalam tubuh sehat tersimpan jiwa sehat".
     Pada 1994, saya membeli kitab berjudul Vademecum.  Ini kamus Latin-Indonesia yang disusun oleh RS Hardjapamekas.
     Di halaman 77-78, diterangkan tentang mens sana in corpore sano.  Menurut penulis kamus Latin-Indonesia ini, kalimat mens sana in corpore sano adalah penggalan kutipan milik Juvenal (Decimus Iunius Juvenalis).  Ahli satir Romawi ini hidup pada tahun 80-140.
     Nukilan tidak lengkap mens sana in corpore sano akhirnya menimbulkan salah maksud.  Pasalnya, diartikan bahwa dalam jasmani sehat berdiam jiwa sehat.
     Di masa hidup Juvenal, masyarakat Romawi sering memohon hal-hal aneh kepada dewa-dewi.  Akibatnya, Juvenal jengkel.  Ia pun berseru:  "Orandum est, ut sit mens sana in corpore sano (sekalian minta saja kepada para dewa supaya kalian sehat lahir batin)".
     Jadi, mens sana in corpore sano sesungguhnya potongan kalimat sinisme Juvenal.  Ajaibnya, sindiran pedas ini diinterpretasikan lain oleh warga modern.  Di zaman kini, mens sana in corpore sano dianggap kata mutiara perihal hidup sehat.  Astaga, pusying pala Barbie.
     Kasus ini senada dengan minal aidin wal faizin yang bermakna "kembali ke kesucian seraya meraih kemenangan".  Minal aidin wal faizin merupakan potongan dari doa panjang seorang ulama.  Tatkala doa ini masuk ke Indonesia, rupanya terpenggal.  Doa panjang ini hanya menyisakan minal aidin wal faizin.  Lebih celaka lagi, minal aidin wal faizin diterjemahkan "mohon maaf lahir batin".  Astaga, tambah pusying pala Barbie.


Buaya Darat


Buaya Darat
Oleh Abdul Haris Booegies


     Sekitar 2010, ada kerupuk anak-anak bernama Buaya Darat.  Penggemarnya lumayan banyak.
     Di suatu pagi, saya ke grosir hendak membeli keperluan.  Saat antre, mendadak seorang wanita muda masuk sembari berseru.  "Saya juga pesan Buaya Darat!"
     Kasak-kusuk mendadak memecah keheningan.  Beberapa pengunjung menoleh ke arah perempuan tersebut.  Saya dengan lelaki di samping cuma cekikikan sambil menunduk.
     Wanita bersangkutan tiba-tiba memahami situasi yang seolah menyentilnya.  Ia pun berkata.  "Ada apa?  Memang begitu namanya.  Buaya Darat!"
     Saya bersama sejumlah pengunjung pria makin tak kuasa menahan tawa.  Tawa kami tertahan agar tidak menyinggung perempuan itu.
     Saya sempat berpikir.  Tega-teganya perusahaan tersebut menamakan produknya Buaya Darat.  Apakah tidak ada nama lain?

Ragam Hikayat
     Ada beberapa versi perihal muasal istilah buaya darat.  Seperti dimaklumi, buaya berburu dalam senyap.  Diam-diam, namun, penuh perhitungan.  Sekali sergap, mangsa sulit meloloskan diri.
     Legenda buaya Baltazur di Riau dikisahkan doyan memangsa gadis-gadis.  Tidak seperti buaya lain yang memakan ludes buruannya.  Ini buaya genit.  Musababnya, buaya Baltazur hanya merenggut keperawanan korban.
     Ada lagi buaya versi Jember.  Di sebuah penangkaran, seekor buaya jantan hilang.  Setelah tiga bulan, hewan tersebut ditemukan bersama buaya betina muda.  Warga pun mengumpat; "dasar buaya".
     Buaya Jember inilah yang mengilhami istilah buaya darat.  Kalau seorang bandot ditemukan bersama gadis muda, ia pun dituding "buaya darat".

Babu Pribumi
     Buaya darat maknanya seirama dengan "mata keranjang" serta "hidung belang".
     Istilah "mata keranjang" bermula di Batavia di zaman Belanda.  Jongos pribumi yang bekerja di kediaman Belanda acap melirik ke kamar tidur wanita.  Matanya tertuju ke ranjang, khususnya tempat tidur putri-putri Belanda yang mulus menggiurkan.  Babu ini akhirnya disebut "mata keranjang" karena matanya melotot ke ranjang.
     Jongos yang ketahuan suka mengintip ke kamar putri, akhirnya dihukum.  Ia disuruh berdiri di sisi jalan dengan hidung dilumuri arang.
     Warga yang lalu-lalang akhirnya mafhum jika babu ini nakal.  Ia pun dinamakan "hidung belang".  Soalnya, hidungnya berbelang-belang dicoreti arang.

Mata Sapi
     Penamaan buaya darat ke pria bermental mata keranjang atau hidung belang, sesungguhnya menyalahi fakta.  Buaya itu antiselingkuh.  Ia setia dengan pasangan yang sah.
     Andai buaya bisa berkomunikasi dengan manusia, tentu mereka memprotes.  Bahkan, menuntut ganti rugi triliunan.  Pasalnya, reptil tersebut difitnah habis-habisan sebagai buaya darat.  Istilah ini berkonotasi sebagai pebinor (perebut bini orang) maupun peraga (perebut anak gadis orang).
     Ini serupa yang dialami sapi.  Bertahun-tahun ternak ini kena fitnah.  Sejak kapan sapi bertelur sampai muncul istilah "telur mata sapi".  Memang menyedihkan menjadi hewan.  Sebab, manusia suka mendiskreditkan keberadaannya.


Senin, 25 Juli 2022

Mosaik Tahusakamal


Mosaik Tahusakamal
Oleh Abdul Haris Booegies


     Siang pada Senin, 25 Juli 2022, saya bersua dengan Fuad Azuz di Monumen Emmy Saelan, Makassar.  Ini reuni pribadi setelah terpisah sejak 1994.  Fuad memberiku Berwisata ke Dalam Jiwa, kitab karya perdananya.
     Membaca buku ini, memperlihatkan sosok Fuad yang supel berinteraksi dengan tokoh-tokoh dan tetua Tahusakamal.  Karakter luwes Fuad sudah terlihat sejak di Pesantren Modern Pendidikan al-Qur'an IMMIM.  Di pondok, ia lugas bergaul dengan santri sabar maupun nakal.  Fuad termaktub santri terkemuka sejak kelas satu berkat kecerdasan sekaligus ketaatan.
     Fuad tak putus untuk berproses selepas dari pesantren.  Dalam buku ini, ia memamerkan keandalannya memproses 26 huruf untuk menjadi tulisan bernas.  Sejumlah tulisan bersimpul erat dengan tradisionalisme.  Hingga, membaca kitab ini seolah kita discover the new in the old.  Frasa Inggris ini terbaca di halaman 162.
     Berwisata ke Dalam Jiwa merupakan mosaik Tahusakamal.  Bila seseorang berkehendak mengetahui taman bunga kota, tentu harus masuk ke area taman.  Bukan memandangnya di pinggir jalan atau puncak gedung.  Ihwal serupa terjadi pada Tahusakamal.  Jika ingin merasakan atmosfir Tahusakamal, maka, Berwisata ke Dalam Jiwa merupakan pemandu.  Buku setebal 173 halaman ini menjadi solusi untuk menyimak sepetak demi sepetak Tahusakamal.  33 tulisan ringan di kitab ini gurih dicerna bagai menikmati teh hangat dengan pisang goreng.


Sabtu, 25 April 2020

Beda Mudik dan Pulang Kampung


Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung
Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung
Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung
Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung
Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung Mudik dan Pulang Kampung


Beda Mudik dan Pulang Kampung
Oleh Abdul Haris Booegies

     Tiap orang yang kembali ke desa disebut pulang kampung.  Sebaliknya, tidak semua yang kembali ke desa dinamakan mudik.  Ada perbedaan.
     Pulang kampung bisa dilakukan kapan saja dalam penanggalan kalender.  Sementara mudik hanya dilakukan pada Ramadan menjelang Idul Fitri.  Pasca Lebaran, warga lebih suka menggunakan istilah pulang kampung.
     Mudik memiliki nilai spiritual.  Setelah berupaya di suatu wilayah, sukses atau gagal, mereka merindukan kampung halaman.  Hendak bersua dengan keluarga, tetangga serta sahabat.
    Pulang kampung lebih kental dengan nilai finansial.  Pulang kampung dilakukan kapan saja, dengan implikasi ada kesuksesan yang dibawa.  Minimal, usaha di kota mulai berkembang.
     Kalau mereka pulang kampung cuma membawa kegagalan, tentu ini menimbulkan cemooh.  Buat apa ke kota mengadu nasib, lebih baik di kampung hidup bertani atau berkebun.
     Mudik tak mengusung nilai finansial.  Sukses atau gagal, yang penting kembali ke desa menemui orang-orang tercinta menjelang Idul Fitri.

Ahad, 26 April 2020, pukul 08.00-08.20



Senin, 06 April 2015

Anjing dalam Istilah





Anjing dalam Istilah
Oleh Abdul Haris Booegies
Kalau teman berkata; “kau seperti anjing”.  Artinya “kau setia”.
Pepatah Jepang berbunyi: “Kau beri makan kucing tiga tahun, ia tidak setia.  Kau beri makan anjing tiga hari, ia pasti setia”.
Di Amerika, ada istilah working like a dog.  Maksudnya, bekerja keras tak kenal lelah.
Ada pula frasa, it’s raining cats and dogs yang berarti hujan deras.  Hujan yang mirip anjing dan kucing yang gaduh berkejaran


Kamis, 21 Juni 2012

Kembali ke Tukul Arwana


Kembali ke Tukul
Oleh Abdul Haris Booegies

     Hari-hari belakangan ini, pemirsa Trans-7, gaduh dihibur oleh Tukul Arwana. Empat Mata, program comedy talkshow yang dipandunya menuai sukses. Alkisah, ia dibayar Rp 30 juta per episode.
     Gaya dan ceplas-ceplos lelaki bernama asli Tukul Riyanto tersebut, selalu membahanakan suasana riuh. Aksi Tukul sebenarnya norak sekaligus seronok. Kesannya malahan kampungan sekali. Di samping itu, paras Tukul tidak camera face. Syahdan, kumisnya yang terjuntai tidak lebih banyak dari jumlah jari tangan serta kaki. Potongan rambut Tukul yang crew cut segi empat makin menambah ciri khasnya sebagai insan old-fashioned (ketinggalan zaman). Bahkan, intelektualitasnya tergolong tiarap. Menyebut gadget bernama PDA alias personal digital assistant saja, mulutnya kewalahan.
     Segala kekurangan dalam diri Tukul, sekonyong-konyong menjadi the charming point (daya tarik) dalam Empat Mata. Penampilannya yang konyol menjadi telegenic (mempesona di layar kaca). Kekolotannya menyemburkan energi yang tak tertandingi fantastisnya. Alhasil, talk show yang dibawakannya bergemuruh oleh gelak tawa yang seolah tanpa jeda. Apalagi, bukan Tukul yang meledek narasumber. Ia justru yang dikerjai. Tora Sudiro, Indra Birowo, personel Project Pop, Basuki, Ikang Fawzi maupun Pepeng, drummer band Naif, leluasa mengolok-oloknya.  “Puas! Puas! Puas!” Seru Tukul yang kontan disambar tepuk meriah penonton di Studio Hanggar.
     Sosok Tukul yang lahir di Semarang pada 16 Oktober 1963, menegaskan bahwa tiap manusia dari kasta apa saja, punya masa jaya. Berbilang tarikh, orang tak pernah mengenal Mas Ngabehi Suraksohargo alias Mbah Marijan. Pada 2006, di usia 82 tahun, ia tampil bersama Rieke Diah Pitaloka (Oneng) dan Chris “The Dragon” John. Dengan raut muka cengengesan, ia mengepalkan tinjunya yang ringkih seraya berseru: “Roso! Roso!” (kuat).
     Walikota Munich sempat mengundang Mbah Marijan untuk menghadiri partai pembukaan Piala Dunia (Weltmeister 2006). Nama juru kunci gunung merapi tersebut bergema di Jerman lantaran kegigihannya menenangkan masyarakat di sekitar gunung berapi.
     Mbah Marijan kian kesohor berkat pernyataannya yang bertentangan dengan high-tech. Seluruh ilmuwan haqqul yaqin kalau gunung merapi di sisi Yogyakarta bakal meletus. Mbah Marijan ternyata menolaknya. Dunia akhirnya mafhum. Sebab, pengetahuan utak-atik Mbah Marijan lebih jitu ketimbang postulat jawara saintis yang didukung teori avant garde para resi teknologi.
     Kembali ke Tukul. Figur itu mencerminkan kerja keras. Ia pernah terpuruk. Terlunta-lunta di belantara pengap Jakarta. Hidupnya sontak benderang kala disodori menjadi host acara bincang Empat Mata. Tukul pun mengkilap, wangi lagi.
     “Telah Kami ciptakan manusia ke dalam hidup yang penuh kesusahan” (al-Balad: 4). Begitu Allah berfirman kepada segenap manusia berakal.
     Tukul, Donald Trump, Bill Gates, Ronaldinho atau Leonardi DiCaprio, tidak spontan melejit ke puncak popularitas. Mereka pernah berjibaku mengukir nama. Semuanya mengalami periode yang pekat, suram serta rumit.
     Kerja keras tanpa putus asa merupakan art of survival (kiat perjuangan) guna merebut masa depan. Berikhtiar tanpa menggantungkan nasib pada “area al-Balad nomor 4”, merupakan calling of life (panggilan hidup) demi mencapai kejayaan. Apalagi, manusia memiliki the power of hope untuk terus melakukan perlawanan terhadap belenggu keseharian.
     Tak boleh ada kompromi terhadap kekurangan diri. Pemali jika cuma angan-angan sibuk berkisar tak kunjung tuntas. Sosok Tukul yang berwajah pedesaan dengan keplok monyet, sesungguhnya hadir sebagai teladan. Arkian, ia pada esensinya menambah referensi perjalanan hidup kita. Selama 17 tahun, Tukul jatuh-bangun di dunia hiburan. Ia tak menyerah. Kini, kerja kerasnya membuahkan kesuksesan.
     “Kami anugerahkan mereka sebagian rahmat Kami. Kemudian Kami karuniai nama yang baik lagi harum” (Maryam: 50).

Senin, 07 Mei 2012

Langkah Kita untuk Basri Masse


Langkah Kita untuk
Basri Masse

     Basri Masse kini tinggal sebuah nama. Ia telah meninggalkan segala miliknya. Air mata dan kesedihan yang menyayat telah mengiringi kepergiannya. Ia wafat beribu kilometer dari kampung halamannya, Pare-pare. Dua anaknya, Bastian dan Anshar sudah yatim. Tutiana dengan sendirinya, mesti menghidupi kedua anaknya dengan segala cambuk kehidupan. Telah kita tahu, selama ini Tutiana menopang kehidupannya lewat berjualan barang keperluan sehari-hari.
     Melihat peran Tutiana yang makin berat membesarkan kedua anaknya, maka, sangat mengharukan jika harian Fajar membuka “Dompet Kemanusiaan”. Hal itu menjadi santunan putra-putri almarhum Basri Masse. Hingga, hidup kedua anak perantau Bugis itu, tak terlalu berat dilewati di hari esok.
     Harian Fajar tentu bisa merealisasikan “Dompet Kemanusiaan” yang menggugah nurani ini. Sebab, Fajar telah menjadi jaminan berita perihal eksekusi Basri Masse. Bahkan, menjadi patokan bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Ujung Pandang dan Parepare.
     Tak usahlah kita seperti Malaysia, mengaku memahami perasaan bangsa Indonesia, tetapi, tak mewujudkan rasa manusiawi terhadap Basri Masse. Padahal, Basri Masse sesungguhnya masih dalam proses tertuduh (sekali lagi tertuduh) membawa dadah (serbuk heroin).
     Membantu kehidupan Tutiana lewat “Dompet Kemanusiaan”, jelas sedikit demi sedikit, beban hidup tak akan merisaukannya. Alhasil, keceriaan akan kembali bersemi untuk ia lewati bersama kedua anaknya.
     Abu Hurairah memberitakan bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Orang yang berusaha membantu janda dan orang miskin. Mereka bagai berperang jihad fi sabilillah. Mereka juga ibarat orang yang bangun shalat malam seraya berpuasa di siang hari”.

Abdul Haris Booegies
Jalan Veteran Selatan 292 A
Ujung Pandang 90133

(Fajar, 23 Januari 1990)

Kamis, 30 Juni 2011

Kala Koruptor Masuk Surga

Kala Koruptor Masuk Surga
Oleh Abdul Haris Booegies
Peminat Masalah Sosial
     Ada perasaan putus asa menatap Indonesia.  Negara dengan wilayah yang sangat luas ini, rasanya tetap sama dengan masa di tahun 60-an.  Kemiskinan merajalela tidak terbendung.  Sementara bahan kebutuhan pokok membumbung tinggi tak terjangkau.
     Kalau 40 tahun silam, republik ini sibuk mengganyang Partai Komunis Indonesia (PKI), sekarang Indonesia terhuyung-huyung melabrak koruptor.  Holocoust (pembasmian) terhadap antek-antek PKI memakan jutaan jiwa nyawa.  Pulau Buru malahan nyaris tenggelam gara-gara sisa-sisa kaum tanpa tuhan tersebut diasingkan ke sana.
     Saat ini, Indonesia menabuh genderang perang terhadap populasi aktivitas korupsi.  Sarang penyamun ini telah menjadi negeri kleptokratik yang mengerikan sekali.  Sepak terjang koruptor tidak sekedar menggerogoti nadi perekonomian.  Sebab, selain merusak bisnis global, korupsi juga menjadi lawan tangguh bagi demokrasi.  
     Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika berada di Selandia Baru berkomentar: “Saya sudah punya datanya”.  Sepekan kemudian, pada 13 April 2005, Presiden di Istana Negara mengemukakan bahwa: “Tahun 2005 ini merupakan tahun penataan birokrasi dan tahun pembersihan”.
     “Dalam waktu dekat kita akan keluarkan instruksi baru.  Inpres No. 5/2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi itu masih generik.  Instruksi yang akan datang lebih tajam”, tambahnya.
     Presiden terkesan risau lantaran koruptor makin jadi-jadi.  Ibarat pepatah, tua-tua keladi, kian tua makin bersantan.  Presiden lantas mencontohkan bahwa orang yang terlibat dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), ternyata tengah membuka bisnis di negara tempatnya bersembunyi.  Mereka berbisnis dengan modal uang rakyat Indonesia yang diselewengkan.
     Kendati Presiden bertekad bulat melibas penyelewengan di departemen, termasuk di TNI serta Polri, tetapi, penyelesaiannya jelas masih sangat panjang.  Apalagi, modus operandi koruptor kian canggih.  Penggelapan duit yang dilakukan sangat halus.  Karena, mereka memiliki teknik dan seni tinggi untuk menggasak uang rakyat sampai triliunan rupiah.  Alhasil, di mana-mana orang mempraktikkan tata cara korupsi yang elegan di segala medan.
     Di tiap sisi Indonesia, bergentayangan orang melakukan korupsi.  Praktik pencurian telah melembaga di dalam pelbagai korps.  Korupsi terdistribusi vertikal di antara jaringan sesama instansi.                             
     Gubernur, wali kota, bupati bersama anggota DPRD beramai-ramai terlibat aksi korupsi.  Sedangkan rumus korupsi tingkat tinggi adalah kolusi antara bisnis dengan lembaga pemerintah.  Fenomena itu membuat swasta enteng membobol Bank BNI, Bank Global, BRI, BHS serta BDNI.  Dalam mengurus SIM dan KTP pun, selalu tergiang bertalu-talu uang pelicin, uang lelah, uang rokok atau uang siluman.

Aksi Nihil

     Lembaga-lembaga dunia yang menilai indeks korupsi suatu negara selalu menempatkan Indonesia di urutan teratas.  Umpamanya, International Country Risk Guide (ICRG), Transparency International (TI), World Bank (WB), International Management Development (IMD) serta World Economic Forum (WEF).
     Korupsi sangat susah diberantas di bumi Pertiwi.  Apalagi, korupsi di kampung maling ini selalu diikuti aksi berikut.  Koruptor yang diadili, misalnya, bakal mencoleng lagi dana negara untuk membayar jasa pengacara.  Korupsi baru tersebut memperlihatkan adanya lingkaran setan yang tak kunjung usai.  Hingga, virus maut itu cuma memelaratkan keadaan bangsa.
     Selama ini, orang mafhum jika megakorupsi melibatkan sindikasi dari kawanan raksasa yang sudah kenyang menikmati kekayaan negara selama bertahun-tahun.  Mereka merupakan koruptor licik yang didukung kekuasaan politik-ekonomi berlapis-lapis.  Akibatnya, mereka tidak bisa dijangkau hukum (untouchable by law).
     Pada hakikatnya, pemberantasan korupsi masih sekedar wacana.  Ihwal tersebut mengingatkan pada Orde Baru sebagai biang segenap aksi korupsi.  Kala itu, pejabat yang diberi laporan soal ketimpangan, selalu berkilah semanis madu: “akan ditampung”.  Padahal, pejabat Orde Baru tidak menampung, namun, membuangnya ke keranjang sampah. 
     Di masa itu, keteladanan moral dalam praktik kekuasaan negara betul-betul hilang.  Sebab, terjadi kebangkrutan akhlak para pejabat publik dalam mengelola negara.  Korupsi tidak hanya dikerjakan secara personal, tetapi, dengan cara kolektif.  Mereka berpartisipasi secara sukarela mengikis harta negara.  Alhasil, korupsi menjadi sistematik.  Karena, mewabah di tiap benak masyarakat.   
     Kini, perlawanan terhadap korupsi yang didengungkan terasa memekakkan telinga.  Aksi nyata masih nihil.  Gejala tersebut ibarat NATO (no action talk only) alias bicara terus tanpa ada aksi.  Padahal, korupsi yang menggurita takkan hilang dengan retorika.
    

Penjara di Daerah Rawan

     Dalam menggempur korupsi, maka, masyarakat bersama aparat maupun institusi terkait mutlak menyalakan nyali.  Sebab, dibalik koruptor tersembunyi kekuatan (syaukah) mematikan.  Mereka punya massa liar dengan tingkat kemarahan (al-ghodhab) tinggi yang siap menebar teror.  Apalagi, perangkat hukum Indonesia masih lemah.  Padahal, republik ini adalah negara hukum sebagaimana tercantum dalam konstitusi.                                                                                              
     Orang bilang, tak ada keadilan di Indonesia kecuali pengadilan.  Akibatnya, koruptor gampang melenggang lolos melarikan diri ke luar negeri setelah puas mencuri uang dari laci negara.
     Di China, hidup koruptor tidak tenteram.  Karena, mereka dikejar-kejar oleh pemerintah.  Begitu tertangkap, gerombolan perampok elite itu langsung dihadapkan dengan hukuman fisik mematikan.  Di negeri Tirai Bambu tersebut, sekitar sepuluh koruptor dieksekusi mati tiap hari.  Di Vietnam pun koruptor dihukum mati sebagai bentuk keseriusan membasmi korupsi.  Hingga, birokrasi di kedua negara itu lebih normal.  Dampak positif yang dirasakan China bersama Vietnam adalah laju pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.
     Rumus mematikan yang diterapkan oleh China dan Vietnam layak diadopsi Indonesia.  Pada 16 Maret 2005, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat, sukses besar meniru adu premanisme parlemen Taiwan serta Jepang.  Jadi, apa salahnya menengok China dan Vietnam sebagai referensi positif.  Sebab, tanpa hukuman berat, berarti wabah korupsi bakal makin parah.  Apalagi, sudah menjadi kewajaran dalam aktivitas sehari-hari.  Efek negatif yang ditinggalkan para koruptor yakni timbulnya ekonomi biaya tinggi.
     Di samping hukuman fisik seperti di China serta Vietnam, maka, koruptor sebaiknya dipertaruhkan pula di daerah rawan bencana.  Koran Media Indonesia (10 April 2005) memuat sebuah e-mail yang menghendaki agar dibangun penjara khusus buat koruptor.  Penjara tersebut mesti dibangun di daerah yang berpotensi dilanda gempa dan tsunami.
     Bila terjadi gempa atau tsunami, otomatis para koruptor mati menggelepar tergencet reruntuhan bangunan penjara.  Kalau ada koruptor selamat, berarti harus segera dicarikan daerah rawan bencana yang lain.  Alhasil, koruptor itu bisa mati secepatnya tanpa sempat diselamatkan oleh setan!

Dari Buaya Jadi Buya

     Menggarong duit negara di Indonesia dianggap elok.  Karena, selain pengadilan bisa alot, juga hukuman cuma berbentuk kurungan jasmani di penjara.  Para koruptor tidak pernah dieksekusi seperti ditembak mati atau digantung sampai lidahnya keluar menjulur menjijikkan.
     Saat masa pengadilan tengah berlangsung, koruptor berkesempatan merenungkan hari-hari sesatnya.  Lalu mendekatkan diri kepada Sang Khalik.  Ia akhirnya menapak jalan spiritual dengan memoles diri serta lingkungannya dengan balutan nilai-nilai agamis.                                                              
     Uang hasil korupsinya telah ludes 50 persen.  Sisanya dipakai untuk membayar jasa pengacara sebesar 40 persen.  Honor pengacara yang tinggi pernah membuat William Shakespeare meletupkan kecemburuan dengan berseru: “let’s kill all the lawyers”.                                                                                         
     Sementara 10 persen sisa duit koruptor dibelikan karpet dan jam dinding dari Mekah buat beberapa mesjid.  Sedekah untuk yatim piatu, pengemis serta anak jalanan.  Koruptor pun menyumbang ke badan sosial dan sanggar seni.  Kemudian membayar massa guna menggelar demonstrasi bagi pembebasannya.  Lantas membiayai sekelompok ustaz yang sudah membantunya dalam pertaubatan dengan menghibahkan ongkos naik haji.
     Koruptor yang bersangkutan terlihat sadar.  Akhlakul mazmumah (kelakuan tercela) sebagai koruptor telah ditanggalkan.  Ia menyesali diri gara-gara selama ini terjebak dalam zalim binafsih (menganiaya diri sendiri).  Sekarang, ia mengejar kebaikan (sabiq bil khairat) seraya mengharapkan berkah (lit-tabarruk) demi menggapai perilaku terpuji (akhlakul karimah).
     Kehampaan jiwa (spiritual vacuum), banyak berbuat dosa (fasik) serta kesewenang-wewenangan (abus de droit) selama ini, membuatnya mengalami neurosis noogenic (penyakit hidup tak berguna).  Kini, semuanya berubah berkat samhah (kelapangan) dan sahlah (kemudahan) yang menuntunnya meniti shirathal mustaqim (jalan yang lempang).                                                                                       
     Di bumi Allah, ia berjalan penuh rasa rendah diri (murakkab naqs).  Sebab, ia sudah memahami rumus muraqabatullah (Allah mengetahui semua perbuatan yang terang-terangan sekaligus tersembuyi).  Tangannya tak lepas dari tasbih digital.  Al-Quran seluler yang melantunkan suara merdu Imam Masjidil-Haram Syeikh Abdul Rahman as-Sudais serta Syeikh Asy-Syuraim, selalu ditentengnya.  Tiap hari mulutnya mengumandangkan istighfar.  Bibirnya komat-kamit melafalkan ayat suci: “Dialah Tuhanku.  Tiada Tuhan selain Allah.  Kepada-Nya saya berserah diri.  Dan hanya kepada Allah saya bertaubat” (ar-Ra’d: 30).
     Di malam-malam dingin yang mencucuk tulang, ia mendirikan shalat tahajjud.  Dulu ia buaya, sekarang menjadi buya.  Sang korup telah bermetamorfosis sebagai sufi.  Dari tikus yang doyan mengutil hasil keringat rakyat, menjadi insan kamil (manusia sempurna) yang sarat husnul khuluq (akhlak yang baik).  Dari burung nazar pemakan uang haram yang imannya tak pernah naik kelas, menjadi homo religius (mutadayyin), yang selalu sujud di hadapan Penguasa Semesta yang bertahta di Arasy. 

Allah Menerima Taubat

     Di China, peluang koruptor masuk Surga teramat sempit.  Karena, belum sempat mereka bertaubat, tiba-tiba algojo maut sudah di depan mata.
     China tidak pernah membiarkan koruptor hidup nyaman.  Sejak pemerintahan Presiden Zhu Rong Ji, para koruptor diuber-uber persis pencuri ayam di Indonesia.  Begitu dibekuk, mereka langsung diadili untuk dieksekusi.
     Di Indonesia, koruptor diperlakukan bak gusti penguasa.  Dengan perlakuan istimewa tersebut, koruptor akhirnya sanggup mengeluarkan seluruh jurus rayuan gombalnya supaya selamat.  Apalagi, koruptor memang bukan orang biasa.  Mereka adalah manusia pilihan yang memiliki intellectual quotient (IQ).  Dangerous desires yang berleleran dalam otaknya dapat menghasilkan seni tingkat tinggi guna mencoleng duit negara.
     Walau dibombardir serangan berat berupa demonstrasi serta hujatan nista dari media massa, namun, mereka tak surut sejengkal.  Rintangan dibahas secara prima agar ada peluang lolos.  Tanpa terasa, aksi koruptor itu justru terkesan menghibur, binal sekaligus logis.  Apalagi, proses hukumnya berakhir kabur atau absurd.
     Tidak heran jika banyak koruptor ongkang-ongkang kaki sembari berlenggak-lenggok mengitari arah angin bertiup.  Bahkan, di Sumatera Selatan, tak sedikit tersangka korupsi tidak ditahan.  “Sejak 2004 sampai awal 2005, LBH memantau banyak tersangka korupsi yang diperiksa aparat kejaksaan atau kepolisian tidak ditahan dengan berbagai alasan” (Republika, 18 April 2005).                                                                                                                                    
     Para koruptor punya prinsip pembelotan aturan dalam menggarong uang lewat modus operandi yang sangat halus dan nyaris tak terdeteksi sekaligus teridentifikasi.  Sebab, insan korup tersebut memiliki kecermatan, perencanaan yang krusial, pijakan strategi jitu serta moralitas Macchiavelli.  Mereka malahan punya doktrin, koneksi raksasa, standar pergaulan, etos tinggi, inovasi impresif dan daya cipta dalam memproduksi tindak penyelewengan.  Mereka lihai bak belut dalam mengeruk keuntungan dari hak orang lain tanpa merasa berdosa.
     Begitulah hikayat koruptor di Indonesia.  Mereka tahu bila Allah itu Maha Pemaaf.  Nabi Muhammad bersabda: “Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah mengampuninya”.  Hingga, untuk membersihkan dosa-dosanya, koruptor langsung duduk bersimpuh dengan linangan air mata yang membasahi sajadah dalam taubatan-nashuha (sadar untuk tidak lagi melakukan perbuatan tercela).
     “Maka, pencuri yang bertaubat setelah melakukan kejahatan.  Lalu memperbaiki dirinya.  Niscaya Allah menerima taubatnya.  Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (al-Maaidah: 39).

(Pedoman Rakyat, Jumat, 1 Juli 2005)

Senin, 20 Juni 2011

Di Balik Sensasi Syuga

Di Balik Sensasi Syuga

     Lahir kembali sebagai manusia bebas tanpa beban. Itulah kesimpulan saya setelah menikmati sajian Laporan Utama TEMPO, 6 November: Di Balik Sensasi Dewi Soekarno. Memang sudah lazim bahwa kelahiran selalu identik dengan hal yang polos dan telanjang.
     Kini Dewi ingin menanggalkan masa silamnya. Kredonya ialah Madame-D Syuga dengan menampilkan tubuh mulusnya yang bagaikan perawan. Dan kepada orang Indonesia yang tak suka ulahnya, ia berpesan: ''Better forget me''.
     Mengapa Dewi ingin lahir kembali? Mengapa pula banyak suara yang usil atas sepak terjangnya yang intim dengan kenikmatan? Pada hakikatnya, Dewi harus dilihat sebagai warga dunia yang ultramodern. Ia bukan Naoko Nemoto Natsuki. Juga bukan janda Presiden Soekarno. Ratna Sari Dewi adalah puncak ''kebinalan'' sebuah perjalanan hidup.
     Jalan panjang yang dilewatinya membuat Dewi trance. Hingga ia berhasrat lahir kembali sambil melemparkan semua kenangan yang pernah dicicipinya. Ia ingin hidup untuk dirinya sendiri. Untuk mewujudkan dirinya menjadi pahlawan dunia fantasi sekaligus simbol kemolekan. Dewi mengekspresikan keindahan dengan jalan telanjang. Dan Dewi, yang telah lelah oleh arus pergaulan eksklusif jetset, datang mempersembahkan Syuga.
     Suara lantang menentangnya. Masa lampau Dewi yang erat dengan klub malam lalu diungkit. Ia dituding binal karena bebas terbang dari satu macho ke macho lainnya. Perilaku Dewi itu akhirnya membentuk pola pikir masyarakat untuk menuduhnya sebagai perempuan jalang. Padahal, kekhilafan janda almarhum Soekarno itu adalah cermin sikap kita juga, yang secara samar mengingatkan kita bahwa tempat kita berpijak ini sebenarnya sarat dengan ketelanjangan dan kemunafikan.

ABDUL HARIS BOOEGIES
Jalan Veteran Selatan 292 A Ujung Pandang 90133

(Tempo, 27 November 1993)

Simposium Mahasiswa Yogya

Simposium Mahasiswa Yogya:
Tak Perlu Dipusingkan


     Ada yang menyentil perasaan saya sesudah membaca "Simposium Mahasiswa Yogya: Tanpa Dilandasi Sikap Ilmiah" (TEMPO, 2 November 1991, Komentar).
     Sebagai orang yang "sok benar", saya turut mengecam rekan dari institut kesenian yang membacakan puisi vulgar itu. Tapi, nurani saya tak mampu berbohong. Soalnya, saya merasa bangga karena mahasiswa itu telah mengusik emosi mahasiswa di Indonesia.  
     Membicarakan mahasiswa, itu berarti menyingkap visi rasional dan sikap ilmiah. Bila mahasiswa terpengaruh oleh emosi, maka ia terjebak dalam logika bengkok. Sebab, citra mahasiswa yang baik adalah menjauhkan gerakan-gerakan perusakan.
     Saya pernah mendengar bahwa ketika Amerika Serikat dan Vietnam sedang berperang, berbagai aksi terjadi di depan Gedung Putih. Mahasiswa dari beberapa negara juga ikut berdemonstrasi secara tertib. Namun, di sebuah universitas terkemuka, seorang mahasiswa melemparkan bahan peledak ke satu sudut laboratorium. Berkat kesigapan pihak keamanan, mahasiswa tersebut diringkus.   
     Sesudah diusut, laboratorium itu ternyata tempat membuat "pemusnah manusia", yang akan dikirim ke rimba Vietnam. Saya tak tahu apakah mahasiswa itu dianggap rasional atau termasuk mahasiswa terkutuk, yang terbius oleh emosinya. Nah, jika dia tak menggugat secara emosional, bangsa Vietnam mungkin bakal menjadi masyarakat primitif. Sebab, peradabannya akan punah oleh keangkuhan irama militer Paman Sam.
     Pembacaan puisi dan pengeboman laboratorium jelas berbeda akar kondisinya. Tapi, ada sehelai benang yang menghubungkan dua peristiwa tersebut, yaitu ketidakpuasan. Jadi, pembacaan puisi dalam Simposium Nasional Mahasiswa Indonesia 1991 di Yogyakarta tak perlu dipusingkan secara berlebihan. Apalagi, jiwa besar dan wawasan luas Menteri Moerdiono telah memberikan maaf.
     Tudingan dan makian terhadap si pembaca puisi mestinya dihentikan. Sebab, siapa tahu, dia membenci bulan karena dalam teropongnya tampak penuh gundukan. Atau, bisa jadi teropongnya yang berwujud puisi itu adalah hakim yang mendakwa keadaan. Maka, betapa janggalnya bila suara sumbang seperti tidak manusiawai, tidak rasional, dan tidak ilmiah itu tetap didengungkan.



ABDUL HARIS BOOEGIES
Jalan Veteran Selatan Nomor 292 A Ujung Pandang 90133


(Tempo, 30 November 1991)

Mengandung Getaran Sukma

Kolom Mohamad Sobary:
Mengandung Getaran Sukma

     Ada dua hal yang menarik bagi saya selama ini terhadap TEMPO: esei-puitis Goenawan Mohamad berupa Catatan Pinggir dan kolom yang ada setiap pekan dan selalu menawan. Selama saya membaca kolomnya Mohamad Sobary, barulah pertama kali ini saya merasa tergoda. Di kolomnya, "Saleh dan Malu" (TEMPO, 16 Maret 1991) Sobary menulis: "Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan?"
     Nasihat tokoh Haji Sanip ini terasa mengandung getaran sukma. Banyak sudah kalangan the have yang duitnya berpeti-peti, namun perangainya sangat memalukan. Tak henti-hentinya mereka menumpuk uang untuk mengumbar syahwat. Padahal, kekayaan tersebut cuma diperoleh karena adanya kemudahan.
     Cermin retak Nicolae Ceausescu seakan tak menyadarkan mereka. Bahwa suatu saat, kekuasaan dan kekayaan akan tergilas musnah tanpa diketahui sebabnya. Dan benar yang ditulis Goenawan Mohamad: "Bila yang dipertuan agung lewat, petani yang bijak pun membungkuk dalam-dalam -dan dengan diam-diam mereka kentut" (TEMPO, 30 Maret 1991, Catatan Pinggir).
     Lewat kolomnya itu, Mohamad Sobary seakan memberi peringatan agar budaya malu juga mempunyai tempat di hati orang-orang yang suka diberi, senang disanjung, mabuk harta atau silau kekuasaan. "Betapa banyak saya telah meminta selama ini, tapi betapa sedikit saya memberi."
     Semoga TEMPO, pada edisi-edisi mendatang, masih mengalirkan kolom yang memiliki daya gugah dan tenaga gugat. Sebab, sangat banyak hal yang perlu diungkap dengan jalan "membungkuk dalam-dalam, dan diam-diam kentut".

ABDUL HARIS BOOEGIES
Jalan Veteran Selatan 292 A Ujung Pandang 90133

(Tempo, 13 April 1991)

Kamis, 16 Juni 2011

Merajut Iman di Era Metroseksual

Merajut Iman di Era Metroseksual 

Oleh Abdul Haris Booegies
Peminat Masalah Sosial

     “Harum bau minyakmu.  Bagaikan minyak yang tercurah namamu.  Oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!” (Kidung Agung 1:3).
     Ketika ayat di atas membahana, fenomena sosial masih konvensional.  Wanita masih “tiga ur” alias sumur, dapur dan kasur.  Sementara pria “3K” atau kuli, kasir serta kasur.
     Sekitar 2000 tahun kemudian, fenomena sosial berubah drastis.  Kelompok maskulin tiba-tiba bersolek.  Mereka adalah pria urban dengan gaya hidup yang chic (elok).  Lelaki dandy tersebut bukan homoseksual atau biseksual, namun, heteroseksual sejati alias straigh guy yang family men.  Alhasil, ayat ketiga Kidung Agung  seperti tertera di atas, sontak nyaring menggema merdu di jejak tahun keempat milenium ketiga.
     Manusia di zama Yesus jelas tergolong insan istimewa.  Selain bisa melihat Isa Almasih tiap waktu, juga mereka leluasa bertanya soal apa saja seputar kehidupan.  Bahkan, berkesempatan menyaksikan mukjizat Sang Kristus menyembuhkan orang buta maupun menciptakan burung-burung dari tanah liat.  Lazarus yang sudah meninggal selama empat hari, malahan dibangkitkan dari kematian.
     Kehandalan Yesus yang sarat mujizat, seiring-sejalan dengan khotbah-khotbahnya yang bernas.  Kini, tokoh kharismatik yang biasa dipanggil Guru oleh murid-muridnya itu, telah lama tiada.  Saat ini, domba-dombanya tinggal mengkaji pelajaran iman yang sudah diwariskan.
     Di zaman yang penuh nafsu perang ini, manusia kembali memerlukan struktur iman.  Peradaban butuh iman agar anasir negatif bisa ditepis.  Apalagi, aspek kehidupan makin kaya oleh budaya pop dan lifestyle sekaligus aliran yang membingungkan persepsi rutinitas.  Metroseksual, contohnya, menjadi gaya yang berpeluang menabrak konfigurasi iman.

Pemburu Merek Mashur

     Pada 1994, Mark Simpson memperkenalkan istilah metroseksual di Independent,koran berpengaruh di Inggris.  Gay yang juga kolumnis fashion tersebut, menyelisik banyaknya golongan muda yang hidup di kota besar (metropolis), sangat memanjakan dirinya.  Bahkan, mereka cenderung memuja diri sendiri (narsistis).
     Definisi Simpson perihal metroseksual yakni a dandyish narcissist in love with not only himself, but this urban lifestyle (pria pesolek yang tidak hanya mencintai dirinya, tetapi, menyayangi pula gaya hidup kota besar yang sedang dijalani).
     Istilah metroseksual lantas terpilih sebagai word of the year 2003 oleh American Dialect Society.  Konferensi tahunan lembaga bahasa Amerika di Boston itu, diikuti 70 peserta pada pekan kedua Januari 2004. 
     Pria metroseksual adalah jemaat bergelimang duit yang senang berdandan, belanja sekaligus asyik bergaul atau bersosialisasi (social butterfly).  Mereka pun menolak gagasan seks ala Don Juan (playboy), sebagai manifestasi atas komitmen terhadap pasangannya.
     Kalangan metroseksual adalah fashion-oriented.  Mereka tiada lelah mengikuti mode terbaru dari Paris, Milan maupun New York.  Hingga, metroseksual akhirnya menjadi victim of the fashion (korban mode).  Karena, mereka bergaya dengan adibusana bermerek superpremium semacam Ralph Lauren, Versace, Giorgio Armani, Dolce & Gabbana, Gianfranco Ferre, Calvin Klein serta Prada.
     Metroseksual yang punya interpersonal skill prima, melengkapi dirinya dengan beragam beauty product for men dari aneka kosmetik yang berlabel top.  Komunitas woman-oriented man tersebut, menggemari jenis perawatan tubuh semacam hair care, skin care, body care, hand and foot care, tooth care, menicure dan pedicure. 
     Kemudian di ruang riasnya, bertabur produk khusus pria.  Rangkaian perawatan itu antara lain; aftershave, body lotion,  moist & matte, face scrub, dry skin protection, hair gel, shaving foam serta cleanser.

Berkorban Demi Iman

     Fenomena metroseksual menghamparkan bukti bila telah terjadi transformasi besar antara masa hidup Yesus dengan penduduk milenium ketiga.  Kala Isa Almasih menghuni planet bumi, maka, nilai-nilai keimanan dijunjung tinggi.  Sekarang, bentangan iman dalam dada mendapat pesaing baru berupa kultur pop dan lifestyle.
     Memasuki tahun 2000, iman seakan cuma ada di gereja.  Sementara gaya hidup terus dicari dengan tetes keringat di tiap jengkal tanah.  Membangun tingkat kehidupan sosial, memerlukan pengorbanan.  Sedangkan meraih iman dinilai minus sensasi.
     Hidup butuh gejolak gairah.  Dan gairah membahana luas pada budaya pop serta lifestyle yang menyeruak dari rahim peradaban modern.  Mengais sebuah kesenangan di masa kini memerlukan lembaran uang.  Sementara duit tidak dipungut di pinggir jalan bak daun-daun kering yang berguguran.  Meraih uang butuh kreativitas dari nilai-nilai superioritas manusia.
     Rutinitas dalam mencari duit itulah yang membuat manusia melupakan iman.  Mereka berpikir bahwa iman hanya ada di gereja.  Dan itu gampang direngkuh.  Padahal, iman tidak semudah mendatangi gereja.  Iman juga sulit digapai lantaran memerlukan pengorbanan.
     Saat seseorang memperoleh kenikmatan, bisik bibirnya tak pernah menyenandungkan pujian kepada Allah.  Sedangkan kalau ditimpa musibah, maka, mulutnya komat-kamit menyeru Tuhan.
     Di sinilah pengorbanan itu diuji.  Maukah tiap individu mengorbankan secuil kegembiraan sekaligus sedetik kesenangannya untuk kehadiran kasih Ilahi.  Sudikah keturunan Adam menawarkan sepersepuluh dari dana gaya hidupnya buat disumbangkan ke rumah ibadah.  Bersediakah waktunya bersolek dibatasi guna mengingat Allah.  Berhasratkah pria metroseksual berjalan menuju ke gereja demi merasakan alunan khotbah.
     Daftar pengorbanan yang terkesan mengusik sebagian konsep hidup kaum modern tersebut,  pada hakikatnya akan membuahkan kemenangan dalam kehidupan.  Sebab, bakal menggembala umat manusia merasakan kembali perjuangan Yesus ketika mengumandangkan hukum-hukum Allah.
     Pengorbanan yang diminta cuma sedikit, namun, niscaya berdampak besar bagi jalan hidup kebenaran.  Pengorbanan yang dikehendaki tidak seberapa, tetapi, membuat orang jauh dari kesalahan.  Karena: “Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Selasa, 07 Juni 2011

Anak-anak di Era Feminisme

Anak-anak di Era Feminisme
(Resonansi di Hari Anak Nasional 23 Juli 2008)

Oleh Abdul Haris Booegies
Peminat Masalah Sosial

“Berbuat baiklah kepada ibu bapakmu. Bila seorang atau keduanya mencapai usia lanjut, maka, jangan menyatakan kepada mereka “pfuih!” Jangan bentak mereka! Berkatalah dengan ucapan santun” (al-Isra’: 23).
Umar bin Khattab al-Faruq memaparkan bahwa orangtua punya tanggung jawab terhadap anaknya. Seorang ayah mesti memilih perempuan muslimah sebagai ibu anaknya. Kemudian mencari nama yang baik bagi anaknya. Tanggung jawab terakhir yakni mengajarkan al-Quran.
Tiga tanggung jawab bapak itu merupakan nasehat Khalifah Umar. Sementara tanggung jawab ibu jelas berat nian. Babad Siti Hajar menjadi ilustrasi mengenai perjuangan seorang bunda. Ia berlari-lari antara bukit Shafa dengan Marwa untuk mencari seteguk air bagi Nabi Ismail, putranya. Harapan ia panjatkan di tengah lembah Bakkah yang gersang dan terik. Hingga, percik air sekonyong-konyong menyemburat dari pasir-pasir gurun.
Dewasa ini, tanggung jawab orangtua makin kompleks. Bukan hanya pendidikan anak-anak yang wajib diprioritaskan. Pergaulan mereka pun mutlak diperhatikan. Apalagi, muncul fenomena bullying. Istilah tersebut erat dengan kekerasan. Hukum rimba berlaku di kalangan remaja. Siapa kuat ia berkuasa.
Di dalam rumah, televisi menjadi momok. Pasalnya, program-program televisi teramat vulgar. Acara televisi cuma berkisar vandalisme, gosip, erotisme atau horor. Sedangkan di luar rumah, aneka bujuk rayu bergentayangan. Pencabulan, narkoba serta tawuran adalah bentuk baru kehidupan kaum muda-mudi di era feminisme.
Di tengah aksentuasi metropolitan yang menjadi pola kehidupan remaja, terpampang jika anak-anak kian rumit dikontrol. Silih berganti perkara ditimbulkan. Apa sebetulnya yang mereka minun semasa bayi sampai susah diatur seperti kerbau. Siapa yang mendidiknya sampai doyan membantah. Bahkan, berani melawan orangtua.

Manfaat ASI
“Kami amanatkan kepada manusia supaya berlaku sopan kepada kedua orangtuanya. Sang ibu telah mengandungnya dalam kelemahan demi kelemahan. Lantas menyusukannya selama dua tahun” (Lukman: 14).
Anak-anak repot diarahkan gara-gara tak ada ikatan kasih sayang. Sebuah wujud kasih sayang yang selama ini hilang yaitu keengganan ibu menyusui anaknya. Padahal, air susu ibu (ASI) tiada lain minuman eksklusif. Kandungan gizinya kompleks dengan zat antibodi (daya tahan). ASI dilengkapi imunitas aktif dan pasif guna menangkal penyakit. Alhasil, pertumbuhan bayi bisa optimal.
Raga bayi kaya dengan lactase (B-galaktosidase). Enzim pengurai laktosa itu memudahkan bayi mencerna ASI. Maklum, komposisi ASI selaras dengan usus bayi. Enzim-enzim penyerapan semacam lipase dan amylase diperlukan bayi saat menyerap zat makanan. Sebab, usus bayi belum memadai dalam mengurai makanan.
Dr dr Subijanto Martosudarmo SpA(K) menjabarkan beberapa faedah ASI. Menurutnya, bayi yang diberi ASI lebih sehat dan kuat. Karena, tubuhnya mengandung bakteri probiotik. Bakteri tersebut sanggup memproduksi lactid acid (asam laktat). Bakteri probiotik mempengaruhi metabolisme bayi. Zat itu efektif mengurangi produksi toksin (racun) yang disemburkan oleh bakteri usus.
Dr Utami Roesli SpA, MBA, CIMI, IBCLC menjelaskan kalau ASI begitu penting. ASI yang langsung diberikan kepada bayi baru lahir mampu mencegah kematian anak akibat serangan penyakit menular. Utami Roesli yang Ketua Umum Sentra Laktasi tersebut berpendapat bila selama enam bulan, ASI bisa membentuk intelligence quotient (IQ), emotional quotient (EQ) maupun spiritual quotient (SQ). ASI menaikkan IQ anak sekitar 12,9 poin.
Dr Agus Harianto SpA(K) memaparkan jika bayi yang diberi ASI menunjukkan perkembangan jaringan otak yang lebih sempurna. Sebab, ASI mengandung DHA (docsohexaenoic acid).
Eileen Birch dari Retina Foundation of the the Southwest di Dallas menandaskan kalau bayi butuh lemak. Tanpa lemak DHA, berarti penglihatan bayi kurang sempurna. ASI mengandung lemak DHA guna menjaga selaput yang berubah-ubah serta permeable (tembus air).
Ruth Lawrence MD, juru bicara American Academy of Pediatrics berteori. Ia berpendirian bila ASI mengandung sekitar 100 macam zat yang tak ada dalam susu formula (sapi).
ASI menjadi hak asasi tiap bayi. Konvensi Hak-hak Anak tahun 1990 mengeluarkan fatwa bahwa pertumbuhan optimal merupakan sebuah hak anak.
ASI yang mengandung 88 persen air merupakan makanan alami, stertil sekaligus padat nutrisai. ASI dapat disimpan di suhu kamar selama 8-12 jam. Selama durasi itu, kualitasnya tidak berkurang. Jika dibekukan, maka, ASI bertahan enam bulan.

Konflik Anak
“Rendahkan dirimu di hadapan kedua orangtuamu dengan cinta-kasih. Lalu ucapkanlah: Wahai Tuhanku! Kasihanilah mereka sebagaimana keduanya mendidik saya di waktu kecil” (al-Isra: 24)
ASI terbukti minuman paling bermutu. Meski para ibu tahu keistimewaan ASI, namun, tidak semuanya rela menyusui anaknya. Wanita karier ogah menyodorkannya lantaran takut bentuk badannya tidak seimbang. Dadanya dikhawatirkan kempot. Padahal, payudara adalah properti elastis. Ketika anak tak lagi menetek, otomatis dada ibu kembali ke model aslinya. Sinus (gudang ASI) yang terletak di belakang puting akan mengendur. Arkian, dada sang ibu kembali kencang sekaligus sedap dipandang oleh suami. Dengan demikian, daya tarik seksualnya tetap tokcer.
Pada hakikatnya, menyusui sangat mujarab bagi kaum ibu. Karena, dengan menyusui, berarti mengurangi perdarahan sesudah melahirkan. Kemudian si ibu bisa terhindar dari kanker payudara berikut kanker indung telur.
Dalam jejak rutinitas, perempuan yang mengejar karier seolah tak memiliki kesempatan untuk menyusui. Pertemuan dengan kalangan VIP atau tugas yang bertumpuk di kantor menjadi alasan. Sebagai ganti, maka, ia mewakilkan pengasuhan anaknya ke babysitter. Sementara ASI diganti dengan susu formula. Susu sapi kurang baik akibat tidak mengandung enzim-enzim penyerapan yang diperlukan bayi. Enzim lenyap tatkala struktur susu diproses menjadi susu bubuk formula.
Keandalan babysitter dalam mengasuh, jelas terbatas. Ia tidak punya hubungan batin dengan sang anak sebagaimana seorang mama. Hatta, apa yang diinginkan anak tak langsung diketahui oleh ibunya. Kekurangan anak pun tidak gampang dimengerti orangtua. Hingga, hati anak diliputi kegalauan. Ia lantas menampilkan sikap agresif buat mencari perhatian orangtua. Masalah timbul kalau orangtua tak paham maksud anaknya. Frustasi sontak membekap si anak. Alhasil, ia melampiaskan di luar rumah. Aspek tersebut akhirnya menjadi awal petaka.
Persoalan-persoalan yang dilakukan oleh anak akhirnya mendorong ayah dengan ibu saling menyalahkan. Konflik akhirnya membesar. Apalagi, anak tak lagi memiliki tempat berlindung. Pasalnya, orangtua yang seyogyanya menjadi teladan berubah menjadi simbol kekacauan. Anak-anak sebagai generasi bangsa akhirnya menjadi gerombolan bangsat.
Dr Dan Olweus berargumentasi bila kenakalan di kalangan anak merupakan langkah awal menuju tindak kriminal. Psikolog Universitas Bergen di Norwegia itu menguraikan bahwa perkembangan kejiwaan yang tidak sehat menyimpan bibit kejahatan.
Aswad bin Sari’ meriwayatkan sabda Nabi Muhammad. “Tiap anak yang dilahirkan berada dalam kondisi suci sampai ia dapat berbicara. Sungguh, orangtualah yang menjadikan mereka sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

(Tribun Timur)

Amazing People