Senin, 09 Desember 2013

Nelson Mandela


Akhir Perjalanan Mandela
Oleh Abdul Haris Booegies
     “Putra terbaik abad ke 20 mangkat di abad ke 21”.  Begitu kalimat yang berdenging di kepala saya tatkala tahu Mandela wafat.  Legenda Afrika Selatan dari suku Thembu itu, menghembuskan nafas terakhir pada Kamis, 5 Desember 2013.

     Mandela tergolong pribadi bersahaja.  Ia hidup teramat sederhana.  Jauh dari gemerlap kerlap-kerlip kehidupan tokoh-tokoh pemimpin dunia yang mewah.  Biarpun hidup ala kadarnya, tetapi, Mandela bisa menahbiskan diri sebagai the great.  Ia pahlawan anti pemisahan ras (anti apartheid) Afsel.  Simpati lantas mengalir.  Momen yang muncul baginya seolah mukjizat.  Hingga, Mandela terpilih presiden kulit hitam pertama yang memimpin pada 1994-1999.

     Generasi muda pada periode ini patut menjadikan Mandela sebagai inspirasi.  Ia sosok from zero to hero.  Selama 27 tahun, Mandela mendekam di penjara.  Mata dunia tertutup melihatnya gara-gara ia berkulit hitam.  Mandela disepelekan di era yang menyisihkan kebebasan, persaudaraan serta kesetaraan.

     Penahanannya selama hampir tiga dekade tidak membuat Mandela remuk-redam.  Fisiknya memang digerogoti infeksi paru-paru, namun, semangat tak lekang.  Setelah bebas, ia kembali berjuang melepaskan Afsel dari belenggu rasial.

     Apartheid atau segregasi rasial merupakan kebijakan yang melembagakan kemiskinan dan ketidaksetaraan bagi warga  kulit hitam.  Suatu nilai usang yang harus dihancur-leburkan.  Zaman tak suka manusia dinilai dari warna kulit.  Mandela akhirnya berhasil mengakhiri dominasi minoritas kulit putih.

     Mandela sukses menciptakan Afsel menjadi negeri multiras, Negeri Pelangi.  Ia berhasil menyatukan kulit putih dengan hitam.  Mandela tertoreh sebagai arsitek peralihan yang sangat bersejarah.  Ia pun didaulat Bapak Demokrasi.  Pada 1993, ia meraih Hadiah Nobel Perdamaian.  Kalimat mashur Mandela pun sering dikutip.  “It only seems impossible until it’s done”.



Narapidana 46664

     Mandela lahir dari pasangan Nkosi Mphakanyiswa Gadla Henry serta Nosekeni Fanny pada 1918.  Si bayi lalu dinamakan Rolihlahla Mandela.  Dalam bahasa Xhosa, Rolihlahla

bermakna “menarik cabang pohon”.  Walau begitu, secara umum diartikan “pembuat onar”.

     Di usia 23 tahun, Mandela ke Johannesburg untuk kuliah.  Ia kemudian menjadi pengacara andal.  Pada 1942, Mandela mendirikan African National Congress (ANC) yang membela hak-hak warga kulit hitam.  ANC lantas melawan pemerintah Afrikaaner pada 1948.  Mandela yang andal berpolitik lalu dibaiat sebagai Ketua ANC.  Ia bergerak di bawah tanah guna menghindari pemerintahan ekstrem yang berniat menangkapnya.  Mandela dikenal sebagai Black Pimpernel karena cerdik menyamar.  Julukan tersebut dicaplok dari nama Scarlet Pimpernel, tokoh fiksi dalam revolusi Perancis.  Scarlet dideskripsikan lihai menyamar.

     Mandela kemudian membentuk Umkhonto we Sizwe, sayap militer ANC.  Pada 1961, ia memimpin kampanye pengeboman terhadap target pemerintah.  Pada 5 Agustus 1962, Mandela ditangkap.  Ia didakwa melakukan sabotase untuk menggulingkan pemerintah dengan kekerasan.

     Mandela akhirnya digiring ke balik terali besi di Johannesburg Fort.  Mandela lantas menerima hukuman seumur hidup pada 12 Juni 1964.  Ia dibui di Pulau Robben, 12 kilometer dari Cape Town, yang terletak di lepas pantai Afrika Selatan.  Mandela menjalani kerja paksa tambang.  Di sana, ia menghabiskan 18 tahun penahanannya. Nomor penjaranya adalah 46664.  Ketika di penjara, Mandela hanya diizinkan menerima satu kunjungan dalam setahun dengan durasi 30 menit.  Ia juga cuma diizinkan menulis sekaligus menerima beberapa huruf.

     Selama ditahan, Mandela terserang tuberkolusis, pemicu kerusakan paru-paru.  Akibatnya, ia rentan terhadap infeksi paru-paru.  Mandela lalu dipindahkan ke penjara Pollsmoor di daratan.  Penjara terakhir yang dihuninya yakni Victor Verster.



Pribadi Agung

     Mandela punya sejumlah nama.  Miss Mdingane, guru sekolah di dusun Qunu memanggilnya Nelson.  Alasannya, supaya pemerintah kolonial Inggris gampang menyebut nama murid bersangkutan.

     Di Afsel, Mandela lazim dipanggil Madiba.  Kata ini bermakna “tempat nan bagus” di Istana Mqhekezweni.  Mandela pernah tinggal di sini sebagai anak perwalian Jongintaba Dalindyebo, Bupati Kabupaten Thembu.  Madiba sesungguhnya nama kepala suku Thembu.  Ia memerintah wilayah Transkei di bagian tenggara Afsel pada abad 19.

     Mandela diseru pula sebagai Tata (bapak).  Ia juga dinamakan Khulu.  Ini kata singkat dari uBawomkhulu yang berarti “kakek”, “besar” atau “penting”.

     Mandela acap pula dipanggil Dalibhunga.  Di usia 16 tahun, ia melakukan ritual menuju dewasa lewat upacara adat Xhosa.  Dalibhunga bermakna “pendiri dewan” atau “pencetus dialog”.  Tata cara melafalkan nama ini untuk menyambut Mandela ialah “Dalibhunga Aaah!”

     Hikmah yang pantas dipetik dari perjalanan hidup Mandela yaitu spirit wajib dikobarkan terus.  Tidak boleh ada kata menyerah melakoni hidup.  Manusia dituntut tegar demi menaklukkan perkara-perkara besar.  Apalagi, makin agung pribadi, maka, juga kian besar tantangan.

     Hidup bukan hanya hari ini.  Di depan menanti berjubel tantangan.  Alhasil, segenap faktor mutlak dipertimbangkan dalam meretas hidup.

     Di masa hidup Mandela, tantangan terbesar tiada lain hidup rukun antara dua ras manusia.  Kini, tantangan makin kompleks.  Dimulai dari jumlah penduduk dunia yang mencapai tujuh miliar.  Kemudian eskalasi politik dunia yang kian tegang, khususnya musim semi demokrasi di negeri-negeri Arab.  Puncak kegetiran dan kegelisahan yakni kemiskinan di tengah nilai produksi dunia yang mencapai 70 triliun dolar AS per tahun.

     Kompleksitas persoalan tak memiliki rem.  Ia terus tancap gas bak pembalap Formula 1.  Hingga, dibutuhkan manusia-manusia pilihan yang punya wawasan agar mengerem dampak buruk berbagai masalah.
     Mandela mati, tetapi, ia sosok tepat dewasa ini sebagai patron kehidupan.  Figurnya merupakan pola buat memulai ikhtiar dalam menjangkau momen sejati.  Kita tidak boleh menyerah kendati besok langit runtuh.  Selama hayat dikandung badan, selalu ada jalan untuk menemukan secercah cahaya.  Selamat jalan, Mandela!  “Dalibhunga Aaah!”






























































1 komentar:

  1. ini baru bener2 patut di contoh , toleransi juga perlu jangan menyalahkan agama satu dengan yang lain, biarlah haram dan halal TUHAN yang memberi kewenangan mengadili

    BalasHapus

Amazing People