Kamis, 02 Juni 2011

Pedoman Rakyat sebagai Pers Mahasiswa dan Media Olahraga

Pedoman Rakyat Sebagai Pers Mahasiswa dan Media Olahraga


Oleh Abdul Haris Booegies

TIDAK terasa, harian tercinta ini telah menapak usia ke-58 tahun. Suatu usia yang panjang, penuh suka duka, perjuangan sekaligus proses pendewasaan bangsa.
Pedoman Rakyat merupakan harian mandiri di Ujung Pandang. Sebab, Pedoman Rakyat tidak punya afiliasi dengan grup penerbitan raksasa yang menggurita. Dari kemandirian itulah, Pedoman Rakyat harus bekerja ulet agar tidak terlibas pesaing lain.
Ada dua hal yang patut diperhitungkan oleh Pedoman Rakyat. Pertama, mengembalikan harian ini sebagai ajang bagi mahasiswa dalam menulis. Kedua, memperbanyak halaman olahraga.
Pada tahun 80-an, Pedoman Rakyat adalah wadah mahasiswa dalam menuangkan gagasannya dalam bentuk artikel. Tulisan mahasiswa asyik dibaca lantaran fresh serta garang. Idealisme mereka masih murni. Pengaruh-pengaruh luar belum mengotori isi kepalanya. Alhasil, para mahasiswa fasih menentang kezaliman atau ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat.
Ada dua harian Surabaya yang pernah memberi ruang khusus bagi mahasiswa. Pada halaman opini, tercetak sebuah artikel utama. Kemudian di bawahnya tertera artikel atau komentar mahasiswa.
Kiat dua harian tersebut cukup manjur. Karena, mahasiswa sangat antusias terlibat. Pola itu layak diaplikasikan di Pedoman Rakyat. Hingga, segenap mahasiswa dari perguruan tinggi di Ujung Pandang akan menganggap Pedoman Rakyat sebagai bagian dari pers mahasiswa. Sebab, mereka terlibat sebagai penulis, komentator atau ikut berpolemik.
Peluang Pedoman Rakyat untuk kembali dirindukan oleh mahasiswa sangat terbuka lebar. Apalagi, di tiap pagar kampus, berjejer penjual koran dan majalah. Seorang mahasiswa yang dimuat tulisannya bakal berpengaruh terhadap penjualan penerbitan bersangkutan.

Manjakan Suporter Bola

Ihwal kedua yang wajib mendapat prioritas utama Pedoman Rakyat yakni halaman olahraga. Sebab, selama ini, yang paling banyak disimak penikmat surat kabar adalah halaman olahraga. Hal itu pula yang membuat harian Media Indonesia ketika pertama kali terbit, hadir dengan dua halaman olahraga. Kala itu, dua halaman olahraga belum lazim. Apalagi, koran masih dibatasi 12 halaman oleh rezim Orde Baru yang represif dan seenak perutnya membreidel media massa. Eksperimen Media Indonesia yang berani tampil beda sangat memuaskan. Karena, survei membuktikan jika masyarakat memang senang dengan berita-berita olahraga.
Dengan menambah halaman olahraga, berarti Pedoman Rakyat memanjakan tifosi Liga Indonesia, Serie A (Italia), Premier League (Inggris), La Liga (Spanyol) atau Liga Champions. Di Ujung Pandang, tidak sedikit suporter PSM, Juventus, Manchester United serta Real Madrid.
Para suporter sejati liga lokal dan liga global tersebut, sesungguhnya lahan empuk. Mereka akan rela membeli surat kabar demi menyimak pertarungan tim kesayangannya. Apalagi, bila kesebelasannya menang telak dengan angka gol yang banyak.
Tabloid Bola merupakan contoh menarik. Pada Selasa serta Jumat, kios penjual koran diserbu pembeli Bola. “Biarpun hujan mereka tetap datang mencari Bola”, tutur seorang penjual.

Arus Media Global

Hasrat menggebu yang tinggi terhadap kabar seputar olahraga, khususnya sepakbola, kini makin bergairah. Sebab, dalam sepekan televisi swasta tiada henti menayangkan secara langsung pertandingan-pertandingan bermutu tinggi. Pertarungan di lapangan hijau itu dibarengi lagi dengan terbitnya TopSkor sebagai harian pertama olahraga dan satu-satunya di Indonesia.
Fenomena tersebut kian menyemarakkan kios surat kabar di pinggir jalan. Karena, tiap Sabtu, Ahad serta Senin, mereka sanggup menjual koran lebih banyak dibandingkan hari-hari lain. Alhasil, Sabtu, Ahad dan Senin pagi, kios surat kabar ramai oleh riuhnya komentar-komentar penggila bola yang bergerombol tanpa komando.
Peluang yang menggiurkan itulah yang layak didekap Pedoman Rakyat sebagai awal berbenah diri. Sebab, Pedoman Rakyat sebagai sebuah entitas bisa saja terancam penyakit ketuaan. Sebagai perusahaan, harian ini boleh jadi mengalami hal berupa respon yang lambat. Akibatnya, pembaca cerdas yang berpikiran terbuka (open mindedness) bakal mengeritik keras Pedoman Rakyat. Mereka akan meminta supaya harian ini layak dibanggakan sebagai sumber informasi sekaligus intellectual exercise.
Antusiame pembaca makin melambung kalau materi penyajian berita berimbang atau mengoptimalkan efek dramatisasinya. Hingga, tak ada tempat bagi konsep bad news is good news.
Dengan mengubah sepenggal wujud, berarti Pedoman Rakyat sudah masuk arus raya trend media global demi mencetak surplus. Perubahan selera pembaca serta melubernya sumber-sumber berita alternatif yang siap saji, merupakan rambu bagi insan pers. Jika pengelola penerbitan tidak peka dan kurang waspada, niscaya nasibnya serupa dengan Asiaweek atau Far Eastern Economic Review. Kedua majalah dengan analisis tinggi tersebut, akhirnya wassalam dari planet bumi.
Media-media serius yang berat dicerna gampang ditinggalkan pembaca. Alhasil, di masa sekarang, banyak media menyajikan masalah ringan yang enteng disimak. Gejala itu merupakan kesempatan berskala gigantik bagi Pedoman Rakyat untuk menjadi “pers mahasiswa” sekaligus “media olahraga”.
Di anniversary (1 Maret 1947-1 Maret 2005) ini, Pedoman Rakyat diharap kian bergemuruh serta bergelora. Para wartawannya harus terus imajinatif, kreatif dan inovatif. Semoga hari ini, menjadi tonggak penting bagi Pedoman Rakyat dalam mengarungi lautan informasi. “Selamat ulang tahun, Pedoman Rakyat!”

Abdul Haris Booegies, peminat masalah pers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People