Minggu, 12 Juli 2015

Tionghoa Juga Manusia



Tionghoa Juga Manusia
Oleh Abdul Haris Booegies
     Nila setitik rusak susu sebelanga.  Pepatah itu kembali dirasakan oleh saudara-saudara kita warga keturunan sejak 9 Mei 2006.
     Mereka dilempar tanpa perasaan manusiawi.  Rumpun tersebut dicegat meski tak mengerti pelanggaran apa yang sudah diperbuatnya.  “I don’t know anything”, rintihnya dalam hati yang remuk-redam. 
     Nalar sulit menerima perlakuan terhadap mereka.  Sebab, orang-orang China yang tidak tahu-menahu perkara, ikut disiksa secara psikologis.  Mahasiswa yang tidak punya otoritas di jalan raya, malahan leluasa melakukan sweeping terhadap puak Tionghoa.
     Ketenangan etnis China diusik.  Padahal, pelaku pembunuhan terhadap Hasniati tengah diproses.  Dampak yang lebih mengenaskan jelas terbentang pahit.  Maklum, aktivitas ekonomi ikut lumpuh.
     Raja Perancis Charlemagne pernah gundah-gulana.  Sebab, di beberapa kampung yang diinvasinya berkobar kerusuhan.  Massa beringas itu mengklaim diri sebagai suara rakyat.
     Seorang penasehat yang bijak-bestari lalu bersabda: “nec audiendi qui solent dicere, vox populi vox dei.  Quum tumultuositas vulgi semper insaniae proxima sit” (Jangan dengar suara mereka yang berceloteh jika suara rakyat adalah suara Tuhan.  Sebab, keberingasan massa selalu dekat dengan kegilaan).
     Kegundahan hati dan kepala puyeng yang dialami Raja Charlemagne, kini hinggap di benak pemimpin kota ini.  Maklum, kerusuhan yang menjalar telah merusak sukma Bhinneka Tunggal Ika.
     Perilaku kekerasan kolektif tidak berdiri sendiri.  Beberapa faktor ikut mempengaruhi.  Contohnya, kesenjangan di bidang sosial-ekonomi.  Konflik tersebut membuncah akibat distribusi hasil pembangunan yang tidak merata.  Kerusuhan juga terjadi lantaran kehilangan kendali atas nasib sendiri.
     Gejolak terkadang pula timbul sebagai reaksi terhadap sesuatu yang asing.  Orang lokal yang tertindas serta tak mampu mengendalikannya, lantas bertindak.  Insiden yang dilakukan secara beramai-ramai, juga sering terkait dengan suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA).
     Kekerasan paling berbahaya yakni yang berhubungan dengan agama.  Pasalnya, segenap tindakan destruktif sudah susah dinalar secara logika.  Mereka rela mati demi kebenaran yang dianut.  Agama berfungsi sebagai landasan ideologis.  Alhasil, menjadi alat pembenar yang sah dan halal.

Berbuah Manis
     Agresivitas massa dalam kasus Jalan Latimojong, dapat digolongkan dalam kerangka kesenjangan ekonomi.  Apalagi, nilai rupiah terseok-seok di tengah himpitan kehidupan.  Hingga, emosi gampang meledak.
     Provokasi dalam skala minimal bisa langsung menyulut kobaran api kekisruhan.  Perasaan negatif yang timbul sebagai akumulasi dari ekonomi yang runyam, segera menyala tatkala stimulus situasional datang mencolek.  Ketika terjadi konsentrasi massa, otomatis tindakan anarkis bergelora.
     Pengganyangan yang menimpa masyarakat Tionghoa, mengusung lanskap solidaritas.  Massa tampak beringas meluap-luapkan emosinya gara-gara Hasniati dibunuh.  Solidaritas menjadi empati serta bermetamorfosis dalam bentuk amuk massa.  Padahal, ada konsep proses hukum yang adil (due process of law).
     Kalau Wandi Tandiawan yang membunuh, berarti hukuman wajib ditimpakan terhadap dia.  Bukan kepada etnis China lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Wandi.
     Bila ada yang menganggap gemuruh benturan itu pekat dengan kecemburuan sosial, maka, aspek tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini.  Sesungguhnya, warga keturunan yang tiba di kota ini beberapa dekade silam, bukan kelompok konglomerat.  Bahkan, pada tahun 60-an, orang-orang Tionghoa masih ramai mengayuh sepeda menjual kue di sekitar Jalan Sulawesi.  Mereka menjalani perihnya kehidupan dengan cara yang terfokus dan fleksibel.  Jerih-payah dari tradisi ulet itu, kemudian berbuah manis.  Generasi tersebut akhirnya sukses mewariskan etos kerja tinggi.  China lalu menguasai perekonomian.  Mereka menjejakkan kaki di area kapitalisme serta industrialisme dalam skala lokal.
     Sering terdengar jika ada pribumi yang mencak-mencak akibat tak diberi kredit di suatu bank.  Sementara Tionghoa leluasa memperoleh kredit.
     Saat ditelusuri, warga non-pri ternyata rajin memenuhi kewajibannya.  Alhasil, banyak bank yang tulus membantunya.  Sedangkan pribumi sarat kredit macet.
     Tidak bisa dipungkiri bahwa ada kalangan China yang jahat.  Umpamanya, Eddy Tansil yang membobol uang negara di Bapindo sebesar Rp 1,3 triliun.  Eddy Tansil sampai sekarang malahan raib entah ke mana.  Pada hakikatnya, buronnya Eddy Tansil tidak lepas dari kolusi, bobroknya citra hukum sekaligus merosotnya mental petugas lembaga pemasyarakatan.

Saling Mendukung
     Masyarakat bersama mahasiswa seyogianya bahu-membahu memberi perlindungan kepada komunitas yang teraniaya.  Bukan melihat sinis atau ikut mengeroyok suatu rumpun yang diterpa petaka.
    Kalau dinamika psikologis dibekap instrumen negatif, berarti manusia terjebak dalam proses dehumanisasi.  Akibatnya, membahana tindakan zalim.  Khaos meruyak pula sebagai pemandangan mengerikan yang mengiris sanubari.
     Dewasa ini, planet tempat berpijak tidak lagi dibatasi oleh tribalisme.  Siapa yang ogah berhubungan dengan masyarakat luas, niscaya bakal terkucil.  Soalnya, tiap etnis memiliki keistimewaan khusus yang bisa saling menunjang.
     Sebatang lidi tak mungkin membersihkan suatu ruangan.  Indonesia yang dihuni aneka suku dan kelompok masyarakat, mutlak bersatu-padu menggemakan keadilan serta kemanusiaan.  Apalagi, sinergi selalu membuahkan wahana yang meringankan beban.  Sebab, terjalin pengertian lewat hak-hak istimewa berupa kewajiban-kewajiban.  Hingga, kearifan selalu duduk penuh takzim tanpa terombang-ambing oleh gosip, rumor atau obrolan dusta.
     Tionghoa juga manusia.  Mereka makan dengan tangan dan berjalan menggunakan kaki.  Tidak ada perbedaan antara orang China dengan puak Bugis, Makassar, Mandar, Sunda, Batak, Dayak, Madura atau suku Quraisy di Arab.
     Seluruh insan di dunia ini sama posisinya.  Perbedaan tidak terletak pada kesukuan, tetapi, individu.  Pribadi manusia yang sebenarnya mewarnai sepak-terjang kehidupan.
     Ketika Susilo Bambang Yudhoyono mencalonkan diri sebagai presiden, maka, ia dinilai lebih sipil dari orang sipil.  Sebab, sosoknya yang santun terkesan memikat hati.  Sementara Presiden George Bush yang sipil dipandang lebih militeristik daripada militer.  Maklum, ia bergaya persis preman pasar.
     Tionghoa merupakan saudara kita.  Mereka adalah hamba Tuhan sebagaimana makhluk lainnya.  Di bumi ini, tidak ada philosophy of life yang memperkenankan suatu rumpun bisa seenaknya diganyang.  Tidak ada traktat universal yang memaklumkan bila suatu etnis boleh dimusnahkan hartanya secara sewenang-wenang.  Hanya spesies sungsang seperti Jenghis Khan serta George Bush yang menyelesaikan problem dengan cara mencederai nilai-nilai kemanusiaan. 
     Di masa kini, kerja sama antar-kelompok, suku, bangsa dan peradaban, lebih menguntungkan dalam membangun esensi sejati warga global yang meliputi hampir segala literatur kehidupan.  Dengan kerja sama yang mengusung transfer of knowledge, niscaya perbedaan menjadi bagian yang ekspresif serta fenomenal dalam kehidupan.  Sebab, terjadi proses interaksi sosial secara harmonis.  Alhasil, terwujud civil society (masyarakat berkeadaban) yang menjunjung keadilan (justice) dan kasih (love).  Dalam bahasa Sulawesi Selatan dikenal istilah sipakatau (mengagungkan sikap hormat), siammasei (sayang-menyayangi) serta sipakalebbi (saling menghargai).     
     Pepatah Amerika berbunyi: “Variety is the spice of life” (perbedaan menciptakan keindahan).  “Semua orang bersaudara”, pekik kaum humanis dan ulama pelbagai agama.  “Katong basudara”, tutur penduduk Ambon manise.  Tionghoa juga manusia yang layak hidup di persada Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People