Jumat, 17 Juli 2015

Sabar Sebagai Kurban




Menyambut Idul Adha 17 November 2010 (10 Zulhijjah 1431)

                        Sabar Sebagai Kurban

                   Oleh Abdul Haris Booegies

     Pada 1895 sebelum Masehi, Nabi Ibrahim galau nian.  Selama tujuh malam berturut-turut, ia bermimpi mendapat perintah agar menyembelih Nabi Ismail as, putranya.  Mimpi tersebut seolah hukum yang diwahyukan Tuhan.
     Nabi Ismail yang berusia 16 tahun, bukan anak biasa.  Ketika bayi, ia sudah menunjukkan keajaiban.  Kala tergolek di dataran antara bukit Shafa dengan Marwa, hentakan kakinya menyemburatkan air.  Cairan dari lembah Bakkah itu lantas dinamakan zamzam oleh Siti Hajar, ibundanya
     Nabi Ismail, putra tersayang tersebut kini harus dikorbankan.  Apa kata dunia jika Nabi Ismail disembelih.  Ibrahim Alaihissalam pun tak tega menyampaikan amanah itu kepada istrinya.
     Kepedihan hati Nabi Ibrahim akhirnya terkalahkan oleh ketakwaannya kepada Allah.  Apalah arti seorang putra dibandingkan kecintaan kepada Allah.
     Di suatu pagi, Nabi Ibrahim yang berumur 102 tahun, pergi mengasah pisau.  Ia percaya bila ketajaman pisau akan mengurangi rasa sakit pada korban.
     Asy-Syaikh ash-Shalih (orang tua saleh) tersebut lalu menyuruh Nabi Ismail mengikutinya ke Mina untuk berkurban.  Nabi Ibrahim berjalan lebih dulu.  Sedangkan Nabi Ismail menyusul di belakang.
     Di tengah perjalanan, Nabi Ismail dicegat oleh iblis yang berwujud seorang kakek renta.  “Hendak ke mana engkau?”
     “Saya menemani ayahku pergi berkurban”, tegas Nabi Ismail.  “Tahukah kamu?  Sesungguhnya engkau yang bakal disembelih bapakmu”, bisik iblis.
     “Andai itu benar, maka, mengapa saya mesti membangkang!” tegas Nabi Ismail.
     Bujuk-rayu iblis supaya Nabi Ismail tidak ke lembah Mina, tak digubris.  Nabi Ismail malahan melempar iblis dengan kerikil.  Maklum, tekadnya telah bulat mengemban mission sacree (misi suci) sebagai kurban.  Iblis tidak menyerah demi mengganggu stabilitas mental lawannya.  Ia memburu Nabi Ismail agar mengurungkan niatnya.  Nabi Ismail kembali melontarkan bebatuan.  Tujuh kali iblis mengejarnya, tujuh kali pula Nabi Ismail menyambitnya.
     Di sisi sebuah gunung cadas, Nabi Ibrahim menunggu Nabi Ismail.  Saat putranya sampai, ia berterus-terang kalau Nabi Ismail sebenarnya yang hendak digorok.
     “Duhai ayahku!  Kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu.  Insya Allah engkau akan mendapatiku tergolong pribadi yang sabar” (ash-Shaaffat: 102).

Gold Digger
     Nabi Ismail yang masih remaja secara sukarela mendukung sang ayah untuk menyembelihnya.  Soalnya, ia mengharap dirinya termasuk insan sabar.
     Di masa sekarang, sifat sabar makin sulit menempati relung hati.  Perilaku instan serta tergesa-gesa repot dihindari di era ekonomi global yang dipengaruhi kompleksitas geopolitik secara komprehensif ini.  Apalagi, kecepatan dinilai pilar kehidupan.  Siapa yang cuma menanti kesempatan, niscaya terdepak dari kompetisi kehidupan.  Tiap warga sudah terbelenggu oleh kecepatan guna menata diri.  Semua berlomba mencetak prestasi prestise.  Persaingan telah melibatkan tiap individu yang berasal dari segala penjuru dunia (competing with everyone from everywhere for everything).  Terlebih pada persilangan sejarah berakhirnya zaman Pax Americana menuju Pax Consortis G-20 (forum kerja sama multipolar antara negara maju dengan negara kaya).
     Menata diri di zaman kompetisi devaluasi mata uang ini identik dengan kesuksesan, kekayaan dan kemashuran.  Tiga fondasi tersebut memaksa manusia bekerja keras.  Bahkan, menghalalkan segenap upaya dengan metode homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi yang lain).  Hingga, kesuksesan enteng direnggut di atas derita makhluk lain.
     Seluruh kerja keras yang dilakukan mengerucut pada harta benda.  Sebab, kekayaan dianggap kunci buat meraih kehormatan.  Pepatah Jerman berbunyi: “geld regiert die welt” (emas memerintah dunia).  Di masa kini, manusia seolah berjiwa gold digger (pemburu harta).
     Dalam Islam, tiap hamba diperintahkan berusaha secara positif.  Semua ikhtiar pada akhirnya ditentukan oleh Allah.  Ada orang yang puluhan tahun bekerja keras kemudian memperoleh hasil maksimal.  Tak jarang pula terlihat ada yang mendulang sukses dalam hitungan hari.

Fisikal-Inderawi
     Sifat sabar penting dikedepankan lantaran ada individu yang beringas tatkala daya upayanya ia pandang sia-sia.  Contohnya yakni pemimpin Perguruan Ilmu Kalam Santriloka.  Pada 29 Oktober 2009 dalam wawancara langsung dengan sebuah stasiun televisi swasta, ia mengungkap kekecewaannya.  Ia lantas didesak apa yang membuatnya empat tahun silam berubah sampai mendirikan Santriloka.  Ia menjawab jika doanya tidak terkabul.  Menurutnya, ada orang shalat khusyu, namun, tetap ditimpa petaka.  Ia menyalahkan Tuhan yang hanya memberi janji.  “Katanya!  Katanya!  Katanya!  Katanya!” semburnya berapi-api dengan suara lantang.
     Pada intinya, apa yang dialami oleh ketua Santriloka itu, juga mendera mayoritas manusia lain.  Pemimpin Santriloka tersebut bersama segelintir lainnya rupanya tampil beda.  Ketika mereka kecewa terhadap Allah, maka, jalan yang berseberangan ditempuhnya.  Mereka tak berserah diri kepada Allah, tetapi, mengolok-olok Tuhan.
     Kerja keras serta doa acap belum memadai untuk menggapai kesuksesan.  Pasalnya, perangkat yang tidak kalah penting ialah sabar.  Sifat sabar ini yang sering diabaikan.  Akibatnya, banyak orang yang kecewa sesudah berbilang tahun bekerja keras dan berdoa.  Jerih-payahnya tak berbuah hasil.  Ia justru dibelit aneka problem.  Arkian, menjadi pecundang yang membenci dirinya sendiri.
     Dewasa ini, kita butuh pribadi Nabi Ismail.  Sebab, ia sosok yang mengharap kasih sayang Allah.  Ia menunjukkan kesabaran terhadap perintah Allah.  Padahal, nyawa taruhannya.  Ia tidak mencak-mencak saat tahu bila sang bapak berniat menyembelihnya.  Maklum, Nabi Ismail menginginkan dirinya tertoreh sebagai insan sabar.  Orientasi hidupnya tak didominasi impuls fisikal-inderawi.
     Figur Nabi Ismail merupakan teladan di zaman sarat gejolak ini.  Tiap tahun di hari raya Idul Adha, keagungan pribadi Nabi Ismail diperingati.  Kaum Muslim yang mapan secara ekonomi lalu berbondong-bondong berkurban.  Bukan hewan kurban (unta, sapi atau kambing) yang dinilai Allah.  Sang Khalik cuma melihat ketakwaan para hambanya dalam berkurban.
     Spirit Idul Adha pun harus mempengaruhi kehidupan hari demi hari selama setahun berikutnya.  Di tiap detak detik jam kita seyogianya berkurban dengan cara mengedepankan kesabaran.  Aspek demikian tercermin pada sosok Nabi Ismail.  Ia siap mengorbankan jiwanya lantaran mendambakan dirinya tergolong individu sabar di sisi Allah.  Walhasil, Ismail Alaihissalam tertera sebagai tokoh terkemuka insan beriman yang namanya lestari sampai kiamat.
     Siapa saja layak mencamkan bahwa kerja keras, doa serta sabar adalah kunci meraih kesuksesan.  Tanpa ketiga fondasi itu, berarti kekecewaan menjadi hasil akhir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People