Kamis, 09 Juli 2015

Ekonomi yang Mahakuasa



Ekonomi yang Mahakuasa
Oleh Abdul Haris Booegies
     Anda punya uang?  Jika tidak berarti Anda tereliminasi dari hiruk-pikuk dunia ultramutakhir.  Ini zaman ketika uang menjadi sesembahan baru.  Ini masa saat kesejahteraan menjadi panglima dalam kehidupan.  Inilah zaman Ekonomi yang Mahakuasa. 
     Dewasa ini, perekonomian Indonesia tengah bergerak maju.  Walau tak mau menepi dari keterpurukan sejak 1997, tetapi, gairah gejolak terus dikumandangkan.  Prediksi yang bagai buluh perindu terus dihembuskan agar rakyat terpesona di tengah perut yang minta terus diisi makanan.
     Wacana indah dijejalkan walau tidak seheboh di zaman Orde Baru.  Ketika Soeharto berkuasa, ada mitos elok bahwa kita akan lepas landas.  Di kemudian hari, Indonesia bukannya lepas landas.  Sebab, negeri ini justru kandas berkeping-keping digulung ombak krisis multidimensi.
     Soeharto yang ingin lengser (meninggalkan tahta secara ksatria), ternyata longsor oleh kekuatan mahasiswa.  Suatu tragedi politik paling ironis di dunia modern.  Apalagi, kala itu, kekuatan bersenjata di sekeliling Soeharto sangat kuat.  Soeharto akhirnya terpelanting seiring tumbangnya Orde Baru yang meninggalkan jejak darah rakyat dan mahasiswa selama 32 tahun.
     Kini, ekonomi Indonesia yang megap-megap sebagai warisan Orde Baru, terus diinfus.  Doa dipanjatkan agar ekonomi tidak la yamutu wala yahya (hidup segan mati tak mau).  Pergantian menteri dilakukan agar ekonomi berbinar seperti kilau mutiara.
     Upaya yang dilakukan pemerintah ternyata tidak menggembirakan rakyat.  Perkembangan indeks saham di bursa memang meningkat.  Sebab, aliran modal portofolio ke dalam sistem keuangan Indonesia.  Fase itu kemudian digembar-gemborkan dengan wacana indah bahwa bursa saham Indonesia tergolong yang terbaik di dunia.
     Pasar saham boleh disanjung dengan predikat the best, tetapi, fakta menunjukkan gejala yang tidak mengenakkan hati.  Sebab, selama akhir Mei 2006, muncul kecenderungan kalau bursa saham dan rupiah ditimpa petaka.  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terjerembab ke level terendah.  Rupiah yang sempat gagah perkasa di level tertinggi Rp. 8.735 per dollar, akhirnya lunglai di kisaran Rp, 9300
     Nasib buruk yang menimpa IHSG terjadi akibat tindakan ambil untung dari investor asing dan spekulan.  Selama dua bulan, harga-harga saham naik.  Spekulan langsung meraupnya kemudian lari terbirit-birit dengan keuntungan yang diperoleh.  Mereka betul-betul menggunakan pasar yang rentan, sensitif dan fluktuatif itu sebagai ajang merebut laba besar.
     Selama ini, pasar finansial Indonesia memang kebanjiran dana-dana jangka pendek.  Hingga, rawan terjadi suddenly reversal outflow (pembalikan modal keluar).
     Selain investor asing dan spekulan, juga pengaruh pelemahan bursa regional semacam Nikkei dan Hangseng.  Bursa regional anjlok akibat menguatnya dollar AS sebagai ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. 
     Rupiah yang makin jauh dari stabilitas, juga terkena imbas dari ketidakseimbangan Amerika Serikat dengan China.  AS yang doyan perang dibekap defisit anggaran yang besar.  Sementara Tiongkok justru surplus anggaran yang sangat banyak.  Ketimpangan ekonomi global itu memaksa Indonesia ikut terjerat arus pusaran yang pesat.   Apalagi, AS merupakan kepala suku bagi Indonesia dalam memetakan ekonomi.
     Selama ini, ekonomi Indonesia sesungguhnya terkesan bersifat gelembung melompong (bubble economy).  Terlihat besar, tetapi, gampang pecah seperti busa sabun.  Dari luar terlihat positif.  Padahal, sesungguhnya masih kritis dan penuh intrik.
     Bubble economy mencuat akibat akumulasi perkara dalam ekonomi.  Sektor korporasi masih sakit.  Investor asing belum terpesona akibat tersumbat kendala perizinan yang berbelit-belit.
     Pada hakikatnya, ketika Indonesia tergenang hot money, maka, di kala itu sebenarnya pemerintah sangat tepat mendatangkan investasi asing secara langsung alias foreign direct investment (FDI).  Hingga, tercipta keharmonisan antara hot money dengan FDI. 
     Pemegang kuasa ekonomi di Indonesia ternyata tak bisa merayu investor asing.  Sebab, kaisar-kaisar pemilik modal global tak sudi singgah akibat iklim investasi tidak memadai.  Masalah perpajakan dan perburuhan membuat nyali para investor raksasa ketar-kletir dan menciut tanpa selera.
     Para investor berpandangan kalau return dalam bentuk dividen dan tingkat kepemilikan, wajib bebas pajak dan inflasi.  Bahkan, pemerintah Inggris ikut andil kalau ada perusahaan Inggris yang dihadang hambatan politik atau birokrasi di negara-negara tujuan investasi.
     Kegagalan pemerintah dalam mengontrol pasar bursa, akhirnya berbuah pahit.  Sebab, masyarakat yang justru menanggung resiko ekonomi secara langsung dari ketidakstabilan pasar. 
     Kalau masalah ekonomi terus runyam, niscaya tsunami sosial politik bisa melanda Indonesia.  Khaos bisa terjadi di mana-mana.  Apalagi, bahan bakar minyak (BBM) naik sekaligus terkadang sulit ditemukan.  Ketergantungan Indonesia dengan luar negeri pun terasa pekat.  Asing banyak menguasai aset Indonesia.  Hingga, mereka akhirnya mudah menekan dan mendiktekan kemauannya.  Selain itu, utang yang bertumpuk-menggunung, menyiksa secara psikologis.  Di tengah hiruk-pikuk negatif itu, ternyata perut tak jua mau berkompromi.  Hingga, semua orang berusaha menggunakan segala cara agar tidak mati kelaparan. 
     Begitulah posisi ekonomi yang wujudnya maha berkuasa di arena kehidupan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People