Kamis, 09 Juli 2015

Minal Aidin wal Faizin 1436



Minal Aidin wal Faizin
(Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436)

Oleh Abdul Haris Booegies

     Allahu akbar.  Allahu akbar.  Allahu akbar.  La ilaha illallahu wallahu akbar.  Allahu akbar walillahilhamdu.  (Allah Maha Besar.  Tiada Tuhan kecuali Allah yang Mahabesar.  Allah Mahaagung.  Segala puja-puji kepada Allah semata).
     Tanpa terasa, puasa terakhir segera tuntas dilaksanakan.  Sebulan berlalu dalam suasana meriah di tengah kondisi tubuh yang menahan lapar, haus serta nafsu.  Individu dengan tingkat ketakwaan tinggi, niscaya tak mau berpisah dengan Ramadan.  Maklum, Ramadan sarat hikmah, ampunan dan berkah.
     Idul Fitri (‘Id al-Fithr) yang bakal dirayakan merupakan hari raya kemanusiaan.  Pasalnya, menghimpun orang menuju ke muasal kejadiannya yang suci.  Secara etimologi atau harfiah, ‘id yang berarti “kembali” berasal dari kata aud (berulang).  Belum ada memorandum of understanding antar-ulama, mengapa salat sunat tersebut diidentikkan berulang.  Ada secuil asumsi bahwa maksud berulang ialah takbir yang berkali-kali digemakan.  Soalnya, rakaat pertama sesudah takbiratul ihram disusul takbir tujuh kali.  Kemudian rakaat kedua diiringi takbir lima kali.
     Makna semantik ‘id adalah hari raya.  Sedangkan fitri berasal dari kata fa-tha-ra.  Di hari kudus fitri, tidak dianjurkan ada hamba yang masih berpuasa.  Nabi Muhammad bertitah: “al-fitru yauma yafthurunnaas” (Hari Raya Fitri merupakan momen berbuka bagi manusia).  Fitri tiada lain “kesucian asali insan”.  Dengan demikian, Idul Fitri berarti “kembali ke elemen inti kesucian”.
     Di sisi lain, Lebaran dideklarasikan hari kemenangan.  Suatu perayaan kala hamba Allah kembali meraih kesucian.  Di Mesir, Lebaran pasca-puasa dinamakan Eid as-Saghir (Hari Raya kecil).  Di Negeri Seribu Menara itu, meruyak tradisi membeli pakaian baru buat anak-anak.  Lantas menyiapkan kue untuk tamu yang datang bersilaturrahmi.  Berwisata dengan famili maupun ziarah kubur, juga menjadi kebiasaan sebagaimana di Indonesia.
     Pasca-Kiamat pun ada perayaan kemenangan.  Setelah semua amal ibadah ditimbang pada mizan hakiki, maka, Rasulullah memimpin kirab kemenangan bagi penduduk Hazhirat al-Qudsi.  Pawai akbar tersebut diawali kumandang azan yang dilantunkan Bilal bin Rabah.
     Para Nabi bersama Rasul berderet di depan diiringi Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab al-Faruk, Usman bin Affan ad-Dur an-Nurain berikut Ali bin Abi Thalib al-Murtadha.  Hasan beserta Hussein sebagai pemimpin front pemuda Muslim mengomandani iring-iringan.  Di sampingnya berdiri Ratu Surga Siti Fatimah az-Zahra al-Batul.  Sementara di sisinya berdiri pemuka komunitas perempuan seperti Siti Khadijah al-Kubra (istri Mahanabi Muhammad), Maryam Aulia al-Bijzah (ibunda Nabi Isa al-Masih), Maharani Bulqis as-Sughra (Ratu Saba), Asiyah (nyonya Fir‘aun) dan Siti Masyitah (juru rias putri Fir’aun).
     Karnaval itu akan berhenti di Arasy Rahman.  Beberapa hamba lalu memperoleh nikmat berupa kesempatan memandang wajah Allah.  Bahkan, ada jemaah Islam yang istana kencana-mustikanya berdampingan dengan Arasy.  Sebab, di planet biru ini ia figur saleh yang menjadi keluarga Allah (ahlullah fi al-ard).  Kini, di Taman Firdaus ia bertetangga dengan Allah.
    
Doa Puitis
     Di Indonesia, usai salat Id lazim terdengar minal aidin wal faizin.  Diktum tersebut sebetulnya merupakan petikan doa.  Pengenalan doa itu ditengarai bermula dari warga Indonesia keturunan Arab asal Hadramaut (Yaman selatan).
     Dari segi bahasa, minal aidin bermakna “semoga kita termasuk orang yang kembali”.  Maksud  “kembali” yaitu menuju ke fitrah.  Sedangkan fitrah menunjuk pada kesucian asal manusia atau agama yang diridai oleh Allah yakni Islam.
     Al-Faizin berasal dari fawz yang berarti keberuntungan.  Secara elementer, wal faizin diinterpretasikan sebagai permohonan memperoleh ampunan Allah.  Hingga, terdaftar menjadi kandidat penghuni Surga.
     Minal aidin wal faizin merupakan alunan secarik doa puitis dari seorang ulama.  Bunyinya ialah “ja’allamallahu min al-a’idin wa l-fa’izin wal maqbulin”.  Tujuan spiritual doa tersebut adalah “mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang yang kembali ke kesucian asal.  Kemudian menang dalam perjuangan melawan diri kita yang berdosa lewat puasa.  Semoga seluruh usaha kita diterima Allah”.
     Ibadah puasa merupakan tempat menempa kekokohan iman.  Tekad membaja bergemuruh di dada demi menghalau kesesatan.  Dengan kegemilangan yang digapai, otomatis pribadi bakal bersepuh kesucian.  Maksum dari mulut yang tanpa sensor mengeluarkan caci-maki, insting negatif atau perbuatan biadab.
     Sang Maharasul Muhammad bersabda: “Siapa berpuasa pada Ramadan karena iman sekaligus mengharap keridaan Allah, niscaya diampuni segenap dosanya”.
     Kemuliaan yang diperoleh dari Ramadan akan berbuah kemenangan pada Idul Fitri.  Lebaran merupakan tradisi yang diperkenalkan oleh Mahanabi Muhammad pada tahun kedua Hijriah.
     Sebelum berangkat menunaikan salat Id, para sahabat di era awal Islam terlebih dulu mandi.  Ketika hendak ke tempat salat Id, maka, Rasulullah menyempatkan diri mengunyah tiga butir kurma.
     Mahanabi Muhammad menganjurkan jika ke tempat salat Id supaya jangan menempuh jalan yang sama kalau pulang.  Hikmahnya, agar saudara seiman yang dijumpai lebih banyak.  Alhasil, proses silaturrahim makin erat.  Melewati jalan yang berbeda ditafsirkan oleh ulama sebagai bentuk syiar Islam.
     Para sahabat lantas bersalaman.  Mereka menuturkan tahniah (ucapan selamat): “Taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima amal kita).

Puncak Pencerahan
     Di hari Lebaran, terhampar roman muka bahagia berhias senyum kemenangan.  Pasalnya, tiap individu yang lolos dari tempaan Ramadan bakal bermetamorfosis sebagai insan yang minus dosa sebagaimana bayi.  Rasulullah berkomentar: “Kullu mauluudan yuuladual fitrah” (tiap bayi yang dilahirkan berada dalam keadaan suci).  “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu.  Kamu tiada tahu apa pun” (an-Nahl: 78).
     Di hari Idul Fitri, kaum Muslim diperintahkan menyemarakkan suasana dengan mengumandangkan takbir (Allahu akbar), tahmid (alhamdulillah), tahlil (la ilaha illallah) maupun taqdis (kalimat kudus) lainnya.  “Agungkan Allah karena Ia memberikan petunjuk kepadamu.  Semoga kamu bersyukur” (al-Baqarah: 185).
     Hamba yang sudah menggelorakan fighting spirit melawan hawa nafsu di arena Ramadan, niscaya merebut kemenangan.  Mereka telah mengasah kesabaran serta ketekunan dengan mengorbankan kesenangan pribadi.
     Sekarang mereka sudah menjangkau puncak pencerahan yang muskil dituturkan dengan aksara dan mustahil dilukiskan dengan aksi visual.  Way of life manusia berupa ibtigha’a mardhatillah (mengabdi sembari mencari keridaan Allah), kian cemerlang.
     Hari Raya yang identik makanan berlimpah, tak lepas pula dari silaturrahmi.  Berkunjung ke tetangga, menemui handai-tolan serta sanak-keluarga di daerah terpencil atau berkhidmat kepada orangtua merupakan bagian dari Lebaran.
     Idul Fitri tiada lain tonggak pencapaian kesempurnaan.  Di momen itu riuh terdengar di persada bumi”taqabbalallaahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima amal kita).  Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People