Selasa, 26 Juni 2012

Polemik Antigone



Antigone
Tegar dalam Sastra
Datar Dalam Imajiner

Oleh Abdul Haris Booegies

      Siapa pun pencinta sastra dunia, pasti kenal Antigone. Seorang gadis dengan ketegaran yang membatu demi kehormatan saudaranya. Antigone yang merupakan hasil imajinasi Sophokles tetap bertahan diterpa waktu serta ruang dalam kemarakan dan kekayaan karya sastra dunia. Alhasil, Jean Anouilh dengan bangga memoles pula Antigone sebagai karyanya yang abadi. Ini mengakibatkan pemula peminat sastra merasa bingung, siapa milik siapa Antigone yang sangat terkenal itu. Sebuah karya yang telah dibaiat sebagai masterpiece dalam dunia sastra.
      Di kalangan ”pakar” sastra, Antigone tentu diakui milik Sophokles. Pasalnya, pujangga besar yang dilahirkan tahun 495 sebelum Masehi tersebut, dikenal sebagai pengarang tragedi Yunani yang teramat kesohor. Ia seorang pembaru drama pada zamannya. Dari 123 karyanya, tujuh di antaranya sempat diwariskan kepada dunia; Oidipus Sang Raja, Antigone, Ajax, Trachiniae, Electra, Philoctetea, Oidupus di Kolonus serta sebuah drama satir Ichneutae.
      Di satu pihak, ada pula anggapan bila Antigone yang sesungguhnya adalah milik Jean Anouilh, seorang pengarang drama Perancis yang lahir di Bordeaux pada 23 Juni 1910.
      Anouilh menggolongkan karya-karyanya dalam beberapa tipe berikut, Pieces Noires (lakon hitam) seperti Antigone dan l’Alouette (1953). Pieces Roses (lakon merah jambu) seperti Le Bat des Voleurs dan Ardeleou la Marguerite (1949). Pieces Brillantes (lakon gemerlap) semacam l’Invitation au Chateau (1974) serta La Repetition au 1’amour Puxi (1950). Pieces Grincantes (lakon menggegerkan), julukan yang bisa dikenakan pada kebanyakan karya-karyanya, termasuk La Valse des Toreadors (1952).
     Ketika membaca tulisan Hari-hari Terakhirmu Antigone (Pedoman Rakyat, 24 Agustus 1989), saya tidak menemukan surprise. Sebab, tak satu pun dari dialog imajiner tersebut yang mengandung elemen baru. Padahal, sebuah dialog imajiner, dituntut membawa pembacanya ke daerah disimterested contemplation. Juga mesti mengandung sesuatu yang menawan atau bersifat investigative reporting. Bukan menceritakan kembali sinopsis Antigone yang memang menggemaskan, yang oleh penikmat sastra sudah diketahui. Apalagi trilogi Sophokles (Oidipus Sang Raja, Oidipus di Kolonus berikut Antigone), telah diterjemahkan Rendra. Pustaka Jaya lantas menerbitkannya pada 1976.
      Beberapa tahun silam, El Manik melakukan wawancara imajiner dengan diri sendiri. Hasilnya, banyak aspek menarik yang terungkap dari bintang film itu. Bahkan, sebuah dialog imajiner antara Margareth Thatcher dengan seorang wartawan yang dimuat di majalah Variasi pernah membuat orang merasa rindu kepada Perdana Menteri Inggris tersebut. Maklum, dalam dialog imajiner itu, banyak diungkap hal baru untuk masyarakat luas.
      Goenawan Mohamad, pemimpin redaksi Tempo dan Swasembada yang sekarang berada di Amerika, memukau pula pembaca dengan wawancara imajiner yang kreatif pada Catatan Pinggir, Deng, Ding, Dong (Tempo, 8 Juli 1989). Soalnya, mengungkap sisi lain dari kakek tua Deng Xiaoping. Goenawan mengolah kata demi kata sampai menghasilkan satu wawancara imajiner yang enak dibaca dan perlu. Selain itu, mengungkap nilai kemanusiaan yang kian langka ditemukan.
      Buku Kejutan dan Gelombang (Previews and Premises) berdasarkan atas serangkaian wawancara. Naskah yang disarankan para anggota South End Press tersebut lalu diolah Alvin Toffler. Hasilnya, mencerminkan dialog imajiner yang kaya.dengan fakta-fakta sebagai karya yang patut diperhitungkan dari seorang futurolog keturunan Yahudi-Polandia.
      Dalam buku yang sarat fakta serba nyata itu, diungkap bagaimana pengangguran, senjata nuklir, teknologi komputer maupun galaknya Woman Liberation yang berkaitan dengan kaleidoskop gejolak dunia.  Selain Toffler yang ide serta pengamatannya sangat menantang dan tajam, juga Nostradamus (1503-1566). Ia astrolog Perancis.
      Nostradamus menulis ramalan perihal dunia di masa depan dengan alur yang mirip dialog imajiner. Ramalan tersebut, sempat menggemparkan dunia. Sebab, di antara ramalan itu, banyak yang mendekati jalannya sejarah.
     Propheties (Para Nabi) yang diterbitkan tahun 1555, memuat kuatrain VII, 34 yang berbunyi: Bangsa Perancis akan terbenam dalam dukacita besar. Sia-sia percaya pada hal-hal terburu nafsu. Tiada roti, garam dan anggur. Si orang besar tertawan, kelaparan serta kedinginan.
      Sebagaimana diketahui, Perancis selama pendudukan Jeman-Nazi sampai 1944, nyaris seperti yang dilukisan Nostradamus. Di masa tersebut, roti, air minum dan anggur tak terdapat di pasar. Akibatnya, kelaparan, kedinginan serta kebutuhan rakyat lainnya tidak terpenuhi. Ini merupakan kekuatan dari imajinasi Nostradamus yang diramu layaknya dialog imajiner.
     Di Indonesia, Arswendo Atmowiloto dikenal sebagai penulis bertangan dingin. Ia mampu menulis apa saja. Arkian, lahir Senopati Pamungkas yang serialnya kini masuk edisi keduapuluh lima. Sebagai storyteller, Mas Wendo pun dikenal sebagai pemred majalah Hai dan tabloid Monitor. Ia juga redaktur majalah berita bergambar Jakarta-Jakarta serta dwiminguan Senang. Beberapa waktu lampau, ia menulis buku Mengarang itu Gampang.
      Pustaka tersebut berpretensi untuk melahirkan pengarang-pengarang muda sembari ditulis dengan gaya dialog imajiner. Membaca buku yang sekualitas dengan karya Mohammad Diponegoro, Yuk, Menulis Cerpen Yuk, tersebut, orang merasa menemukan hal-hal yang begitu bermutu perihal menulis yang baik dan benar.
      Dari paparan di atas, ada “kesimpulan” bahwa tulisan yang berciri dialog/wawancara imajiner, wajib hukumnya memuat ihwal baru, menawan serta berdampak luas. Bukan menceritakan kembali hal-hal yang sudah diketahui khalayak. Sebab, jadinya akan hambar dan datar.
      Saat Indonesia dihembus “keterbukaan”, Goenawan lalu menulis di menu Catatan Pinggir, Terbuka (Tempo, 5 Agustus 1989).  Pada tulisan Terbuka itu, ia bercerita; “Ada seorang teman yang gemar mempelajari kesusasteraan Yunani dan mengutip satu cerita tragis karya Sophocles, Antigone. Katanya, dalam cerita itulah manusia pertama kali berbicara tentang keterbukaan -kata lain dari keleluasaannya yang ada ketika orang tak takut mengemukakan isi pikirannya yang mungkin aneh dan tak menyenangkan”.
      Tulisan GM, jelas memiliki hal baru. Pasalnya, ia menampilkan isu mengenai keterbukaan yang dipetik dari percakapan antara Haemon dengan Creon, tanpa harus mengulang cerita Antigone.
Sederhana! Sangat sederhana sekali, namun, punya nilai tanpa perlu mengurai hikayat yang “haus darah” tersebut.
      Antigone harus diakui sebagai karya sastra yang tegar. Hingga, hari ini kita masih bisa menikmatinya. Tragedi yang dicipta Sophokles telah memberi dampak luas. Kini, simak bagaimana Jean Anouilh, yang juga menulis Antigone bertutur tentang kisah yang penuh nafsu kekuasaan serta pembunuhan itu.
Creon: “Its diront que n’est pas vrai. Que je la sauve parce qu’elle allait etre la femme de mon fils. Je ne peux pas”.
Le Choeur: “Est-ce qu’on ne peut pas gagner du temps, la faire fuir demain?”
Creon: “La foule sait déjà, elle hurle autour du palais. Je ne peux pas”.
Hemon: “Pere, la foule n’est rien! Tu es le maitre”.
Creon: “Je suis le maitre avant la loi. Plus après”.
Hemon: “Pere, je suis ton fils, tu ne peux pas me la laisser prendre!”
Creon: “Si, Hemon. Si, mon petit. Du courage. Antigone ne peut plus vivre. Antigone nous a deja quittes tous”.
Hemon: “Crois-tu que je pourrai vivre, moi, sans elle? Crois-tu que je l’accepterai, votre vie? Et tous le jours, depuis le matin jusqu’au soir, sans elle! Et votre agitation, votre bavardage, votre vide, sans elle”.

Abdul Haris Booegies, members of al-Jamiah al-Islamiyah al¬Hukumiyah Ujung Pandang

(Pedoman Rakyat, Kamis 14 September 1989)

--------------------------------------------------------------------------



Antigone yang Mempesona
Oleh Abdul Haris Booegies

     Terima kasih atas catatan buat saya bertajuk Antigone Membebaskan Diri (Pedoman Rakyat, 21 September 1989). Saya salut atas tanggapan “merdu” itu. Walau ada sejumlah kategori yang mengganggu. Bahkan, seolah tak dimengerti oleh Ketua Kelompok Studi Sastra dan Teater (Kosaster) Unhas itu.
      Hari-hari Terakhirmu Antigone (Pedoman Rakyat, 24 Agustus 1989), nyata jika tak punya surprise. Soalnya, Antigone Membebaskan Diri (Pedoman Rakyat, 21 September 1989), telah mengakuinya.
      Mengapa saya (dan mungkin juga beberapa orang) menuntut kejutan serta pemikiran baru pada tulisan Hari-hari Terakhirmu Antigone? Sebab, tulisan tersebut tidak punya jati diri. Sangat datar dan hambar dibaca. Kemudian penulisnya mencoba pula mengelak dengan mengandalkan Antigone yang penuh citra itu. Jadi, kesimpulan (sementara), penulis opini tersebut mencoba menegakkan benang basah. Padahal, masalahnya tak semudah mengurai benang kusut.
      Saya ingin sentil sedikit persoalan wawancara, mengingat Hari-hari Terakhirmu Antigone berciri dialog imajiner. Menurut pengarang serta wartawan Jerman terkemuka Emil Ludwig (Emil L. Cohen), bahwa di antara kegiatan jurnalistik, wawancara mungkin paling sah menampilkan kecerdasan (polished) dan paling menarik hati (entertaining).
      Keunggulan dialog karena memerlukan banyak kemahiran serta kemampuan tertentu. Alhasil, banyak orang Amerika gemar membaca hasil wawancara. Aneh, karena hal semacam itu tak saya temukan pada tulisan Hari-hari Terakhirmu Antigone.
      Tatkala Maurice Zolotov ingin menulis artikel perihal tokoh opera Salvatore Baccaloni, ia membaca delapan buku tentang opera. Padahal, tiada satu pun dari buku tersebut yang memuat Baccaloni. Ini dilakukan agar tokoh yang hndak ditulis tak datar dan hambar. Ia menggali background information mengenai opera. Setelah Zolotov tahu “sedikit” opera, maka, ia pun membaca kliping mengenai Baccaloni di perpustakaan harian The New York Times. Lalu Zolotov pergi ke panggung Metropolitan Opera untuk merasakan opera. Kemudian ia bergegas ke New York guna mewawancarai Baccaloni. Sesudah itu, ia masih menginterview sepuluh orang yang kenal Baccaloni.
      Hasilnya, Zolotov menyelesaikan rancangan tulisannya duapuluh halaman dalam waktu tiga hari. Terlihat, betapa ekstrem serta peliknya melakukan wawancara demi kekayaan hasil dialog itu.
      Saya kira, penulis Hari-hari Terakhirmu Antigone pernah membaca buku Intervista con la Storia (Wawancara Dengan Sejarah) karya wartawati Italia, Oriana Fallaci. Dalam buku tersebut, dapat dilihat betapa mengagumkan seorang wanita yang mewawancarai tokoh-tokoh dunia. Ia menampilkan beberapa pemikiran sekaligus ejekan terhadap tokoh Islam. Yasser Arafat ia tuding kewanita-wanitaan. Lalu menyanjung setinggi langit tokoh Yahudi, Golda Meir. Kendati begitu, wawancara tersebut terasa menggemaskan. Tidak datar dan hambar. Sekalipun menyentil serta mengejek Abu Ammar bangsa Palestina.
      Bila Anda telah kenal Antigone saat masih di SMA, maka, saya baru tahu di akhir tahun 1988. Repotnya lagi karena lewat bahasa Perancis yang saya tak tahu artinya. Hatta, saya menyangka Antigone itu semacam binatang jalang yang terbuang diri kumpulannya. Saya malahan pernah mengira Antigone adalah makhluk ruang angkasa yang gentayangan bersama ET (Extra Terrestrial). Juga saya sangka cuma virus langit yang bertebar dengan deburan partikel-partikel awan yang berseliweran.
     Untung, lewat seorang teman yang tingkat makrifatnya telah mencapai atmosfir, menjelas- terangkan siapa sebenarnya Antigone.
Ada indikasi jika penulis Hari-hari Terakhirmu Antigone terlalu keras kepala perihal Antigone yang memikat. Ia menulis: “Kalau ada kesan tulisan dialog imajiner saya cenderung kepada sinopsis biarlah”.
      Kalimat ini teramat konyol dan tidak berhasil menampilkan seorang tokoh rekaan yang telah membumi. Jika saya analogikan Hari-hari Terakhirmu Antigone, sebagai sebuah “kitab suci” (bukan wahyu) yang hanya memuat cerita-cerita anak manusia yang telah di tahu, disimak serta didebatkan, maka, yakin saja, “kitab suci” itu tak sanggup menjaring pemeluk. Sebab, tak ada sesuatu yang baru, cuma memuat sinopsis yang itu-itu saja. Jelas, Anda sebagai orang yang telah mendapat inayatullah akan kecewa. Pasalnya, tak punya umat (penikmat bacaan). Bila dijual, siapa mau membelinya?
      Jika tulisan tersebut sebuah film. Siapa yang bakal tonton kalau hanya menceritakan hikayat yang sudah dimengerti khalayak. Apalagi, tak dipoles dengan ide cemerlang. Mungkin Anda pernah nonton film Mutiny on the Bounty yang dibintangi aktor kawakan Hollywood, Marlon Brando. Selang beberapa waktu, film yang mengisahkan pemberontakan di kapal The Bounty itu muncul lagi dengan aktor Australia, Mel Gibson. Hasilnya, tiada seorang penonton menyambut riuh film yang telah mereka tonton beberapa tahun itu. Soalnya, tak ada yang istimewa, kecuali pemeran utama film tersebut yang dikenal pahlawan masa depan lewat film Mad Max. Rugi serta sesal tentu dialami produser. Sebab, berkeras kepala membuat sesuatu yang tidak lagi menarik.
      Bandingkan dengan orang Amerika yang kreatif, yang merelakan duitnya 60 dollar untuk sekali nonton di panggung Broadway yang tersohor dan gemerlap. Broadway yang merupakan idaman tiap seniman agar karyanya dipentaskan tak pernah kering, datar serta hambar dengan ide dan hal baru.
     Orang Amerika pun tidak segan membayar 300 dollar buat menyaksikan Dame Kiri Tekanawa menyanyi bersama Placido Domingo. Bahkan, sekelompok orang bersedia membayar 5.000 dollar untuk mendengar suara si Yahudi, Barbra Streisand melantunkan nyanyian di halaman belakang rumahnya. Semua karena Streisand punya daya pikat sendiri jika bernyanyi di rumahnya. Auranya lain bila ia menyanyi di pentas-pentas stadion. Mustahil ada yang merelakan uangnya sebanyak itu jika memelototi Streisand di panggung.
      Di sini, ada kesan bahwa ide serta aspek baru selalu diserbu khalayak. Sangat beda kalau cuma bercerita itu ke ini saja. Sebab, terasa datar dan hambar.
      Sungguh menggelikan karena ada kalimat di Antigone Membebaskan Diri: “Timbul kekhawatiran saya kalau-kalau Abdul Haris Booegies belum membaca seutuhnya Antigone itu sehingga tidak dapat mengenali mana dialog Antigone milik Sophokles dan mana dialog Antigone milik Shaifuddin Bahrum”.
      Kalimat ini menunjukkan bila ada perbedaan antara Antigone milik Sophokles dengan Antigone versi Hari-hari Terakhirmu Antigone. Ada lagi kalimat berbunyi, “Jadi saya tetap pada prinsip bahwa biarlah Antigone membebaskan dirinya sendiri, biarlah dia bicara sendiri tentang kebenarannya tanpa perlu ada campur tangan dari siapa-siapa, juga saya”.
      Kalimat ini memaparkan kalau Antigone tak ingin diubah, apapun jadinya. Ini menimbulkan kontradiksi. Pasalnya, alinea ketiga membaiat bahwa Antigone Sophokles serta Antigone Shaifuddin Bahrum, beda. Sementara alinea kedelapan mengaku tak bakal mengubah Antigone. Jadi, logika apa pula ini.
      Di satu sisi membedakan, lalu sudut lain memperkokoh kedudukan sebagai hal yang mutlak, tanpa perlu ada campur tangan untuk mengoreknya. Kesan saya, si penulis pada hakekatnya tidak menulis, tetapi, sekedar iseng membingungkan pembaca harian ini.
Juga ada kalimat yang lucu. Menggelikan lantaran sebagai mahasiswa sastra, ia seperti tak tahu aturan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
      Bunyi kalimatnya: “Sekali lagi saya sangat tidak setuju kalau dikatakan bahwa cerita ini adalah cerita yang “haus darah” karena tidak ada data yang menguatkan pernyataan itu”.
     Perlu diketahui, bahwa tanda kutip menurut Dr Gorys Keraf dalam buku Komposisi memiliki tujuh maksud. Disini, saya ingin menyederhanakannya dengan mengambil yang penting saja. 1. Untuk mengutip kata-kata seseorang. 2. Menulis judul karangan. 3. Menyatakan kata asing, yang diistimewakan atau punya arti khusus. 4. Bila terdapat sebuah kutipan dalam kutipan. 5. Untuk mengapit terjemahan.
      Pakar Hadis IAIN Alauddin, Dr M Syuhudi Ismail menerangkan, bahwa tanda kutip bermakna meragukan. Jadi, sengaja saya pakai tanda kutip untuk haus darah lantaran melihatnya memiliki makna khusus.
      Andai saya tidak gunakan tanda kutip, bolehlah mencak-mencak. Di sini, akan terlihat, betapa masih “asing”-nya Anda dengan bahasa Indonesia. “Haus darah” diterjemahkan sangat enteng sekali, sekedar pembunuhan. Mengapa tak diartikan saja “haus darah” sebagai pelepas dahaga.
      Sekiranya saya dosen dan Anda mahasiswa, niscaya saya beri nilai “E”. Jika ada kalimat berbunyi; Hitler “berotak kecil”, apa yang ada dalam benak kita. Kecilkah volume otak Hitler atau ia tidak berakal serta belum berbudaya (beradab). Saya kira anak SMP pun bisa menjawab secara tepat!
      Lalu bagaimana pula mengartikan kalimat, pertarungan Elly Pical dengan Khaosai Galaxy merupakan “partai neraka”. Kemudian penilaian Departemen Penerangan terhadap Majalah Berita Bergambar Jakarta-Jakarta No.167. Hingga, muncul berita, majalah “porno” kena tilang. Kemudian si Fulan memotong “anu”nya gara-gara kecewa.
      Benarkah pertarungan Pical dan Galaxy adalah partai neraka. Akibatnya, malaikat Malik berkenan menyaksikannya bersama segenap penghuni Neraka. Betulkah majalah JJ berkategori yellow press, sebangsa Playboy atau Penthouse, yang hanya tahu menampilkan gambar-gambar seronok berselera primitif? Lantas bagaimana dengan si Fulan? Anunya yang mengapa, dan apa itu anunya. Maklum, anu itu bermakna banyak, seluas jagat raya yang gelap menggetarkan.
      Kita mesti jawab apa dengan kata yang menggunakan tanda kutip itu? Jelas, rumput yang bergoyang tidak sudi menjawab!
     Ada tuduhan khusus yang istimewa untuk saya, karena terlalu mubazir memperkenalkan secara detail sederet literatur. Saya kira ini image yang gegabah. Soalnya, referensi tersebut merupakan data akurat yang bisa dipertanggungjawabkan. Di samping itu, sanggup menelanjangi betapa miskin tulisan Hari-hari Terakhirmu Antigone.
      Dengan adanya sederet bacaan tersebut, dialog imajiner Antigone dapat berkaca untuk menatap bagaimana awut-awutan wajahnya. Ia mirip nenek sihir yang selalu dirundung malang. Betapa kasihan kita melihat. Semoga, Antigone tetap tegar dalam sastra serta juga dalam menghadapi manipulasi atas dirinya yang ditokohkan dalam dialog imajiner yang datar dan hambar.
      Akhirnya, terima kasih (sekali lagi) atas tanggapan Anda, sekalipun sangat miskin serta kerdil dalam informasi mengenai Antigone yang teramat kompleks dan mempesona. Dunia teater yang Anda geluti memang menyenangkan, tetapi, rasa senang itu belum teraplikasi dalam tulisan Anda. Akibatnya, tulisan tersebut terkesan genit serta masih perlu dipermak. Saya ingin menyatakan kepada penulis Hari-hari Terakhirmu Antigone tanpa menggurui, bahwa menulis di koran setara Pedoman Rakyat yang beroplah 20.000 eksemplar, hendaknya lebih teliti dengan data yang dikemukakan. Hingga, perangkat reasoning power kita bisa berdampak luas. Apalagi lewat tulisan yang berciri dialog/ wawancara imajiner. Kalau tidak, orang bakal mencap kita sebagai penulis yang “miskin dan dungu” dalam informasi. Saya kira, saudara bukanlah penulis semacam itu! He ... he... he...

Catatan: Dengan dimuatnya tulisan, agar tak berlarut-larut, polemik diakhiri (Red)

Abdul Haris Booegies, members of al-Jamiah al-Islamiyah al-Hukumiyah Ujung Pandang

(Pedoman Rakyat, Kamis, 5 Oktober 1989)




























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People