Kamis, 21 Juni 2012

Euro 2012









Menyambut Piala Eropa 8 Juni - 1 Juli 2012
Bersama Membuat Sejarah
Oleh Abdul Haris Booegies

      Sejak 8 Juni, gibol (penggila bola) begadang semalam-suntuk demi menyaksikan laga para jawara. Tatkala penduduk planet menyaksikan Euro 2012, maka, mereka sesungguhnya menatap sebuah kerja keras. Siapa saja yang terlibat di Euro adalah individu yang telah ditempa bertumpuk jadwal. Demi menyukseskan Euro, panitia berpeluh tiap hari.
      Aktor-aktor di balik hajatan segendang-sepenarian untuk menaati aturan, panduan sekaligus kebijakan. Hal serupa dialami para pemain. Mereka mandi keringat di lapangan untuk meloloskan negaranya ke Polandia-Ukraina.
      Euro merupakan kerja keras bagi semua yang terlibat dari jajaran panitia sampai pemain. Sedetik pun mereka tidak boleh lengah demi kesuksesan Euro.
      Puncak segala ekspektasi tiada lain trofi Piala Eropa. Hasil akhir permainan ialah kemenangan dan kebahagiaan. Panggung tak mengenal kekalahan dan air mata. Puja-puji hanya ditujukan bagi sang pemenang.
      Di ranah sepakbola ultra-mutakhir, tertoreh dua aspek pokok bagi pemain. Ia wajib punya inteligensia dan stamina. Dua struktur ini yang menunjang irama permainan. Sebab, sebuah kesebelasan menuntut pemain berpikir cepat, berlari cepat serta mengumpan cepat. Pemain tidak boleh berlama-lama mendribel bola. Soalnya, lawan bisa mencurinya. Dari sini terlihat bahwa kesebelasan butuh keterpaduan antar-lini. Semua harus bergerak untuk saling mendukung.
      Sepakbola mutlak menjunjung semangat kolektivitas tim. Kemenangan muskil direngkuh jika watak individualistis mengendap pada masing-masing pemain.
      Di Euro kali ini, skema permainan 4-2-3-1 banyak menjadi anutan. Pola dasar ini bertumpu pada dua gelandang tengah yang melapis pertahanan. Formasi ini andal berkat sokongan dua gelandang yang berposisi melebar (wide men) di dua sayap. Kombinasi serangan lewat dua sayap menciptakan neraka di area pertahanan lawan.

Program COPCO
      Dalam lanskap nasional, kita menengok sepak-terjang PSSI. Bertahun-tahun berkiprah, skuad nasional paceklik prestasi. Kalau rusuh antar-suporter, Indonesia pasti berprestasi besar.
      Bila menyimak jumlah penduduk yang mencapai 260 juta jiwa, mestinya Indonesia punya selusin tim nasional. Di luar dugaan, Indonesia justru tak kuasa membuat satu pun kesebelasan solid. Pemain-pemain jempolan sulit ditemukan. Arkian, dipilih jalan pintas berupa naturalisasi. Hasilnya dua kali bertemu Malaysia di final Piala AFF dan SEA Games dalam rentang waktu 15 bulan, dua kali pula Indonesia keok.
      Secara logika awam, Malaysia gampang ditekuk di atas lapangan. Penduduknya cuma 29 juta jiwa. Tidak disangka, The Tigers yang seratus persen anak Malaysia begitu tangguh. Sedangkan Indonesia dengan pemain naturalisasi yang tak paham bahasa Indonesia, kocar-kacir diganyang Malaysia. Ini bukti bahwa program naturalisasi layak dikaji ulang.
      Saya ingin mengusulkan agar PSSI melakukan mission impossible. Misi ini mengusung metode COPCO (culik, operasi plastik serta cuci otak). Kita culik Iker Casillas, kiper Los Blancos. Begitu juga defender berkarakter Carlos Puyol dan John Terry. Kemudian menculik playmaker Mesut Ozil, maestro passing Xavi Hernandez, Andres Iniesta serta Franck Ribery. Empat bomber yang wajib diculik yakni Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Karim Benzema berikut Arjen Robben.
      Sebelas pemain Euro 2012 tersebut lalu dioperasi plastik supaya berwajah Melayu. Sesudah itu, dicuci otak jika mereka penduduk asli Indonesia. Megastar Lionel Messi, Gonzalo Higuain dan sayap kanan Angel di Maria tidak usah diculik. Faktor tersebut agar Indonesia yang kelak berhadapan dengan Argentina di grand final Piala Dunia Brasil 2014, dapat mempertontonkan atraksi bola paling sensasional.
      Kalau program COPCO dianggap tak realistis, maka, ada dua opsi. Pertama, mencari talenta yang tersebar di segenap pelosok Tanah Air. Kedua, memperbanyak turnamen di kalangan anak-anak, khususnya di hari Ahad serta hari-hari libur. Sebagai contoh, sekarang ada Liga U-14 yang disponsori penerbitan media. Semoga di Makassar nanti ada Liga Majalah Lektura U-10 sebagai wujud pembinaan usia muda. Sejak dini mereka ditempa supaya menjadi young guns PSSI di masa depan.

Negative Football
      Menggambarkan timnas selalu mudah. Penyerang mandul. Lapangan tengah keropos dan lini pertahanan rapuh. Tidak memiliki kreativitas di lapangan tengah. Tak tampil efisien. Ditambah pengurus PSSI berantam terus di tengah dualisme kompetisi. Satu lagi, tifosi berjiwa bonek (bondo nekat) alias bermodal nekat. Lengkap sekali!
      Kita lantas ternganga oleh Serie A serta La Liga. Mereka mampu mempertontonkan pergelaran sepakbola yang fantastis. Bahkan, pertunjukan Liga Inggris menjadi ekspor paling dominan. English Premier League ditayangkan di 212 kawasan dunia. Musim 2010-2011, Liga Inggris meraup laba Rp 17,5 triliun.
      Dana maupun bakat merupakan dua perkara pokok bagi sepakbola Tanah Air. Hingga, untuk mendatangkan pelatih world class, PSSI kewalahan. Andai saja seluruh uang hasil korupsi bisa dikembalikan ke kas negara, berarti Timnas dapat meminang Josep “Pep” Guardiola, the Special One Jose Mourinho atau Sir Alex Ferguson.
      Manchester City merupakan contoh terbaik bila anggaran bertumpuk bisa membeli prestasi. Sheikh Mansour bin Zayed bin Sultan an-Nahyan menggelontorkan 194,9 juta pounds untuk gaji pemain. Roberto Mancini dikontrak pula sebagai nakhoda the Citizens. Hasilnya, agresivitas Man City merajai Liga Inggris sebagai kampiun nomor satu.
      Melihat bakat yang ada di Indonesia, maka, pelatih harus mengambil kebijakan negative football. Pasalnya, mustahil laskar Indonesia mempraktikkan totaal voetbal ala Belanda era 70-an. Stamina orang Indonesia hanya 15 menit jika mau memakai skema total football. Rumit juga melakoni tiqui-taca yang menjadi ideologi El Azulgrana Barcelona. Maklum, penganut kredo tiqui-taca yang mementingkan umpan-umpan pendek dan cepat, mutlak punya skill tinggi. Alhasil, mereka jitu dengan umpan pendek, umpan terobosan, pressure ketat serta ball possession.
      Negative football bukan mazhab haram di sepak bola. Negative football mengusung tesis pragmatis alias mementingkan kemenangan. Metode ini sukses dijalankan Chelsea kala menekuk Barcelona dan Bayern Muenchen di Liga Champions.
      PSSI sebagai pemersatu bangsa mesti bergerak gesit untuk membangkitkan prestasi Timnas. Semua pengurus harus berjuang demi membela tim Merah Putih. Kita telah capek menanti prestasi gemilang. Kita geram dengan pengurus PSSI yang lamban merespons arus sepak bola dunia.
      Euro 2012 seyogianya membuat kita berbenah diri. Mari bekerja bersama demi prestasi. Ayo mengesampingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Kita berpeluh demi menciptakan prestasi bagi PSSI. Kerja sama yang dilandasi saling pengertian merupakan awal prestasi. Elemen itu menjadi energi untuk menggelorakan spirit superior. Polandia serta Ukraina saja yang budayanya berbeda dapat bahu-membahu menyelenggarakan Euro. Kedua bangsa bertekad untuk bersama mencetak sejarah. Together Creating History.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People