Sabtu, 18 Oktober 2025

Misteri Buku Harian Fadeli Luran



Misteri Buku Harian Fadeli Luran
Oleh Abdul Haris Booegies


     Nama Haji Fadeli Luran tidak asing bagiku saat masih SD.  Seorang putrinya menikah dengan keponakan istri paman saya.  Sementara Gedung IMMIM berhadapan dengan rumah kakek-nenek saya.
     Pada Juli 1980, saya pun melihat langsung sosok Fadeli Luran.  Kala itu, saya santri baru.  Perawakannya tinggi menjulang.  Sorot matanya sangat tajam.  Lawan bicara bisa lunglai jika nekat menatap matanya secara langsung, kecuali memakai kacamata hitam.
     Tatkala Fadeli Luran wafat pada 1992, saya ditugaskan oleh rekan alumni Pesantren IMMIM untuk menulis sekilas riwayatnya.  Saya lantas mewawancarai sejumlah tokoh masyarakat Ujung Pandang, termasuk HM Dg Patompo, eks Wali Kota.
     Di suatu malam, saya ke lantai dua Apotek Rahmah.  Di situ bertemu Ahmad Fathanah, putra Fadeli Luran.  Ia memperlihatkan sebuah buku tulis kusam.  Sampulnya tebal khas buku tahun 70-an.  Fathanah berniat menerbitkannya sebagai buku berseri.
     Kitab antik tersebut berisi khazanah pemikiran Fadeli Luran selama mengikuti perjalanan bersama Buya Hamka.  Ia rutin mencatat gejolak ide di bukunya, semacam buku harian.
     Malam itu, saya tak mau memegang buku tersebut.  Pasalnya, saya belum rampung mewawancarai tokoh-tokoh yang terkait Fadeli Luran.  Saya tidak ingin terlibat dalam penerbitan buku itu agar dapat berkonsentrasi di wawancara.
     Pada 2021, saya menghubungi seorang putri Fadeli Luran.  Meminta sebuah konfirmasi tentang data Fadeli Luran.  Dalam obrolan telepon tersebut, saya ungkap perihal buku bersampul tebal pada 1992.  Rupanya ia tak tahu-menahu soal buku itu.
     Buku tersebut ternyata raib.  Entah siapa sekarang menyimpannya.  Saya curhat ke sejumlah rekan mengenai buku itu.  Saya menyesal, mengapa dulu tidak mengambilnya sebagai bentuk antisipasi.
     Di momen 50 tahun Pesantren IMMIM (1975-2025), saya senantiasa berharap "buku harian" Fadeli Luran ditemukan.  Buku tersebut menyimpan aneka pemikiran mengenai keislaman.  Saya saksi atas buku itu, tetapi, sekedar melihatnya saja.  Tiada sedetik pun menyentuhnya.  Kini, setelah 33 tahun (1992-2025) berlalu, adakah keajaiban santri IMMIM untuk menyingkap misteri keberadaan kitab kuno tersebut?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People