Selasa, 03 September 2013

Terjemah Surah Nuh versi Abdul Haris Booegies



71. Nabi Nuh
(Nabi Nuh)
Dengan Nama Allah, Pemilik Kasih Sayang yang Mahapemurah

1.  Kami utus Nabi Nuh kepada kaumnya.  “Kabarkan peringatan kepada kaummu.  Sebelum datang azab pedih tiada terperikan”.
[Nabi Nuh merupakan Rasul pertama. Namanya disebutkan 43 kali dalam al-Qur’an]
2.  Nabi Nuh berseru:  ”Hai kaumku!  Saya pemberi peringatan yang menjelaskan ancaman jika kalian mengabaikan tuntunanNya”.
3.  “Sembah Allah!  Bertakwalah kepadaNya.  Taatlah kepadaku”.
4.  “Supaya Allah mengampuni sebagian dosamu.  Memanjangkan usia kalian tanpa azab sampai waktu yang ditetapkan.  Ajal yang sudah ditentukan Allah.  Mustahil dibatalkan.  Kalau tahu hakikat ini, niscaya kalian beriman”.
5.  Nabi Nuh mengadu:  “Wahai Tuhanku.  Saya telah menyeru kaumku siang-malam”.
[Selama 950 tahun Nabi Nuh berdakwah menyiarkan risalah Allah. Ia mengumandangkan syiar Allah sekitar tarikh 3993 sebelum Masehi sampai 3043 sebelum Masehi]
6.  “Panggilanku tidak menambah imannya.  Mereka justru menjauh dari kebenaran”.
7.  “Tiap kupanggil supaya Engkau mengampuninya.  Mereka sumbat telinganya dengan jemari.  Menyelubungi wajahnya dengan pakaian agar tidak melihatku.  Mereka bersikeras dalam kedurhakaan seraya berlagak sangat angkuh”.
8.  “Saya mengajaknya dengan cara terang-terangan”.
9.  “Saya berulang kali berdakwah di hadapan publik.  Kemudian menyeru secara diam-diam”.
10.  “Saya bertutur kepada mereka.  Mohonlah ampun kepada Tuhanmu.  Ia Mahapengampun”.
11.  “Tuhan pasti mencurahkan hujan deras kepadamu”.
[Ayat ini menunjukkan kalau Kota Neibur, Sumeria, jarang diterpa hujan]
12.  “Ia bakal melapangkan harta serta anak-pinak.  Ia akan membuatkanmu kebun-kebun dan sungai-sungai”.
13.  “Mengapa kalian tidak menghormati kebesaran Allah dengan cara beriman?”
14.  “Padahal, Ia menciptakan kalian dalam beberapa fase kejadian”.
15.  “Tiadakah kalian simak bagaimana Allah mendesain tujuh langit secara bertingkat-tingkat”.
16.  “Di sana Ia menaruh bulan yang memantulkan cahaya.  Kemudian surya sebagai lampu benderang”.
17.  Allah menciptakan kalian dari tanah yang diambil di bumi.  Kalian tumbuh secara berangsur-angsur.
18.  Ia mengembalikanmu jika mati ke dalam tanah.  Kemudian mengeluarkan kalian secara tepat di Hari Kiamat.
19.  Allah menjadikan bumi layaknya permadani bagimu.
20.  Supaya kalian menelusur kian kemari.  Pada lembah-lembah nan luas.
21.  Nabi Nuh berucap.  “Wahai Tuhanku! Mereka durhaka kepadaku.  Mereka membebek kepada orang yang harta dan keturunannya hanya menambah kerugian baginya”.
22.  “Mereka merencanakan tipu-muslihat yang teramat keji guna menentang seruanku”.
23.  Tetua-tetua mereka menghasut.  “Jangan tinggalkan tuhan-tuhanmu!  Jangan berpaling dari Wadd.  Jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq serta Nasr”.
[Nabi Idris diberitakan hilang. Padahal, ia naik ke Surga. Orang-orang pun ramai berdesas-desus. Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq bersama Nasr lantas ditunjuk sebagai wakil Nabi Idris. Lima orang kudus tersebut mendadak wafat satu per satu dalam waktu sebulan. Penduduk gempar. Sebagai penghormatan, dibuat monumen berupa patung diri mereka. Di belakang hari, patung itu tidak lagi berfungsi sebagai monumen, tetapi, sesembahan]
24.  “Para tetua sukses menyesatkan mayoritas manusia.  Wahai Tuhanku!  Jangan Engkau menambahkan kepada orang zalim itu kecuali kesesatan”.
25.  Gara-gara dosa dan kesalahan.  Mereka ditenggelamkan.  Di Akhirat, kelak digiring ke Neraka.  Tiada penolong ia temukan selain Allah.
26.  Nabi Nuh  berkata: “Ya Tuhanku! Jangan biarkan seorang pun gerombolan kafir tinggal di bumi!”
27.  “Kalau Engkau biarkan hidup.  Mereka pasti menyesatkan hamba-hambaMu.  Mereka bakal melahirkan anak yang kerjanya bergelimang dosa.  Tidak tahu bersyukur!”.
28.  “Wahai Tuhanku! Ampuni diriku, ayah-ibuku serta orang yang masuk ke rumahku dalam keadaan beriman.  Ampuni insan saleh, lelaki maupun perempuan di tiap era.  Jangan Engkau tambahkan kepada pelaku zalim kecuali kehancuran!”

Keterangan
     Buku sejarah menukilkan nasab Nabi Nuh.  Ia putra Lamak bin Mutawasylah bin Nabi Idris (Akhnukh) bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Nabi Syits bin Nabi Adam.
     Saya tidak yakin 100 persen dengan silsilah di atas.  Nasab itu diikutkan dalam terjemahan ini sebagai bahan kajian.




Derajat Terjemahan

     Terjemah al-Qur’an bukan al-Qur’an sesungguhnya.  Bukan al-Qur’an sejati yang diwahyukan kepada Maharasul Muhammad.  Al-Qur’an senantiasa berbahasa Arab klasik.  Tidak dinamakan al-Qur’an jika firman-firman Allah tersebut disadur ke bahasa Bugis atau Perancis.  Soalnya, terjemahan muskil menampung seratus persen maksud al-Qur’an.  Alih bahasa mustahil sepadan dengan arti hakiki yang dimaksud Allah.  Apalagi, bahasa al-Qur’an bernas, ringkas, puitis sekaligus sarat makna.  Sedangkan aneka bahasa yang digunakan dalam terjemahan tak efektif serta efisien.
     Terjemah al-Qur’an hanya deretan kata manusia, bukan untaian Kalam Ilahi dari Lauhul Mahfuz.  Hingga, terjemah al-Qur’an tidak hidup, tak punya sukma yang bisa menggelorakan spirit.  Terjemah al-Qur’an selalu kaku dan acap membingungkan.  Dengan demikian, posisi terjemahan sekedar “pengantar” untuk membaca al-Qur’an.  Bukan “kunci” buat memahami al-Qur’an.
     Terjemah al-Qur’an tidak pernah serupa.  Terjemahan senantiasa tampil beda.  Aspek itu menandaskan bahwa terjemahan tak mungkin setara dengan al-Qur’an.  Maklum, Kalam Ilahi tersebut memiliki irama dalam teks, kejelasan arti, sintaks kalimat serta penggunaan kata.
     Terjemah al-Qur’an secara harfiah (letterlejk) termasuk repot diaplikasikan.  Mayoritas ulama berpendapat bahwa terjemahan harfiah rumit lantaran membutuhkan persyaratan yang berat direalisasikan.  Terjemahan harfiah susah karena ada mufradat (sinonim) per huruf antara bahasa penerjemah dengan bahasa al-Qur’an.  Kemudian ada tanda baca yang sama pada bahasa penerjemah terhadap tanda baca pada bahasa al-Qur’an.  Tanda baca tersebut minimal mirip.  Selain itu, terjemahan secara harfiah menuntut kesamaan susunan kata antara bahasa penerjemah dengan bahasa al-Qur’an.  Kesamaan tersebut mencakup kalimat, sifat atau tambahan-tambahannya.
     Terjemahan harfiah diharamkan ulama akibat makna yang dikandungnya kurang sempurna.  Hatta, jauh dari maksud al-Qur’an.
     Walau sukar, tetapi, ada terjemahan yang benar-benar setia pada kata-kata dalam al-Qur’an.   Mereka berusaha selaras dengan wahyu.  Sebab, khawatir mengaburkan arti.  Mereka menjaga interpolasi pikiran.
     Terjemahan tidak lepas pula dari platform sastra.  Terjemahan berdimensi puitis itu diperkaya dengan nuansa keindahan bahasa si penerjemah.  Dalam kasus ini, penerjemah dapat digolongkan sebagai figur liberal.  Pasalnya, menyuntikkan semangat bahasa ibu si penerjemah ke dalam terjemahan.  Mereka tak menyukai kesetiaan pada tiap kata-kata Arab.  Penerjemah semacam ini memakai kebebasan dengan kata-kata pilihan.
     Di berbagai bentala, ada terjemahan yang benar-benar akademis.   Ada juga sekedar informatif dengan bumbu bahasa jurnalistik sastrawi.  Tiap kalimat tidak setia dengan kata per kata al-Qur’an.  Spirit yang diemban ialah bagaimana al-Qur’an cepat diserap dan tak membosankan ditelaah.
     Pada akhirnya, seluruh terjemahan dilandasi vitalitas agar Kalam Ilahi tersebut membuncah di hati.  Tiada seorang pun ingin menampilkan terjemahan ala kadarnya.  Elemen itu pula yang membuat segenap terjemahan wajib dilengkapi di sisi kanan atau atasnya teks al-Qur’an yang berbahasa Arab.  Alhasil, bila ada yang salah atau keliru, maka, pembaca segera mengecek ke al-Qur’an asli.
     Terjemahan apa saja terasa sempurna kalau dilampiri teks tulen al-Qur’an.  Soalnya, al-Qur’an berbahasa Arab tersebut sanggup berpengaruh secara psikologis terhadap pembacanya, biarpun ia tidak mengerti bahasa Arab.
     Di luar negara-negara Arab, istilah paling membingungkan dalam al-Qur’an yakni kata nahnu.  Dhamir (kata ganti) nahnu bermakna “kita” atau “kami”.  Dalam ilmu Nahwu (sintaksis), nahnu bisa diterjemahkan “kita”, “kami”, “saya” atau yang lain tergantung konteks kalimat.
     Dalam bahasa Arab, istilah serta kata tak selalu berarti zahir atau apa adanya.  Sebagai contoh, kata antum (kalian).  Antum sering digunakan untuk menyapa lawan bicara kendati cuma satu orang.  Tidak dipakai kata anta (kamu).  Penggunaan antum yang plural dipandang lebih sopan sembari menghargai lawan bicara.
     Di Indonesia, orang menyapa lawan bicara dengan kamu, Anda atau tuan.  Kamu, Anda dan tuan punya rasa bahasa yang berbeda.  Kamu biasa dipakai untuk lawan bicara yang lebih muda atau di kalangan sebaya.  Anda digunakan kepada lawan bicara yang dituakan.  Sementara tuan buat orang yang dimuliakan.  Anda serta tuan dalam sosio-linguistik Arab bermakna ta’zim alias kata beradab terhadap lawan bicara yang memiliki derajat tinggi atau kepada khalayak.
     “Kami” merupakan sebutan Allah untuk diriNya.  Dalam bahasa Arab, ada jamak kuantitas dan jamak kualitas.  Jamak kuantitas (al-mutakallim ma’a ghairihi) menunjukkan jumlah banyak atau kata ganti orang pertama plural.  Sedangkan jamak kualitas (al-mutakallim al-muazzim li nafsih) menerangkan pola tunggal dengan banyak predikat atau berarti keagungan atas dirinya.
     Dalam tata bahasa Arab, terdapat kata ganti pertama singular “ana” (saya).  Lantas ada kata ganti pertama plural “nahnu” (kami atau kita).  Lazim terjadi pada bahasa lain jika kata ganti pertama plural bisa berperan sebagai singular.  Dalam nahwu sharaf (Arabic grammar), inilah yang dinamakan al-mutakallim al-muazzim li nafsih (kata ganti pertama yang mengagungkan diri sendiri).
     Allah menegaskan diri dengan “Kami” berkat predikat di sisi-Nya berjumlah banyak.  Zat Esa itu tercantum sebagai pencipta, pengatur, pemelihara, pemaaf, penyayang serta Raja Diraja alam semesta.  Allah tak tidur!  Ia sibuk terus mencipta seraya mendengar doa insan saleh.
     “Semua makhluk di langit dan bumi senantiasa memohon kepada-Nya.  Tiap waktu Ia sibuk (mencipta serta memelihara makhluk-makhluk-Nya)” (ar-Rahman: 29).
     Saat membaca al-Qur’an, maka, bertabur kata Allah dalam Kitab Suci.  Harap dimafhumi bahwa nama asli penguasa langit dan bumi tiada lain Allah.  “Aku ini Allah.  Tiada Tuhan kecuali Aku!” (Thaha: 14).
     Allah sendiri memaklumatkan bila nama-Nya adalah Allah.  Allah merupakan nama diri (proper name) dari Zat Mahakuasa.  Dalam kaidah bahasa Arab, kata Allah berwujud ism jamid.  Kategori tersebut menjabarkan kalau kata Allah bukan ism (kata benda) yang diambil dari kata kerja.  Arkian, tidak boleh diubah dalam bentuk apa pun!  Ini berbeda dengan kata rabbun (tuhan).  Rabbun modelnya ism musytaq (kata benda yang dibentuk dari kata lain dengan arti berbeda dari kata pembentuknya).  Rabbun terambil dari kata kerja rabba, rabbi atau tarbiyatan.
    Istilah Allah bagi umat Islam teramat jelas posisinya.  Berbeda dengan Yahudi.  Mereka tak mengerti bagaimana mengucapkan fonem יהוה (YHVH) dalam Perjanjian Lama.  Ini gara-gara tidak ada tradisi sanad (rentetan jalur sumber) yang sampai kepada Nabi Musa.  Akibatnya, Yahudi bingung bin bimbang membaca YHWH (tetragrammaton alias empat huruf nama tuhan).  Bahkan, Yahudi Ortodoks ogah melafalkannya.  Mereka terpaksa membacanya adonai (tuhan atau tuan).  Di kamus tersua bahwa adonai ialah a Hebrew name for God, usually translated in the Old Testament by the word “Lord”.
     Untuk mengibuli umatnya serta penduduk planet biru ini, maka, YHWH diinformasikan sebagai sebutan dalam bentuk orang ketiga tunggal.  YHWH dicelotehkan sebagai “Dialah yang ada, Dialah Dia”.
     Pada esensinya, empat konsonan itu sekedar ditebak pengucapannya.  Kadang dibaca Yahweh, Yahuweh, Yehuwa, Yahavah, Yaheveh, Yahaveh atau apa saja sesuai selera.  Dengan demikian, Yahweh atau Yehovah sekedar nama jadi-jadian bagi tuhan mereka.  Ini sungguh aneh.  Sebab, nama tuhan mereka sendiri tak diketahui secara pasti.
     Di kalangan Kristen, istilah Allah bukan nama diri sebagaimana konsep Islam.  Kristen menganggap jika Allah merupakan sebutan untuk “wujud yang disembah” (al-ilah).  Hingga, tuhan boleh dipanggil Allah, Yahweh, God atau Lord.  Mereka cuma paham bahwa nama tersebut merujuk pada sesuatu yang disembah.
     Terkutuk sekawanan agen Thaghut (sesembahan paling nista) berlabel Islam progresif berasas liberal yang berceloteh: “Tiada tuhan selain Tuhan”.

Abdul Haris Booegies































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People