Kamis, 16 Januari 2014

Dinasti dalam Islam

Menghadang Dinasti dalam Islam
Oleh Abdul Haris Booegies



     Ada aspek menarik mengenai orangtua Nabi Muhammad.  Ayahnya meninggal di Yatsrib dalam perjalanan bisnis.  Bumbu hikayat tertoreh.  Abdullah adalah jejaka tampan berusia 18 tahun.  Banyak cewek-cewek Mekah patah hati binti putus asa begitu tahu Abdullah memilih Aminah sebagai pendamping hidup.
     Fatimah binti Mur, dukun dari Khats’am, sempat memohon kepada Abdullah agar ia mengawininya.  Layla al-Adawiyah bersedia pula dijadikan istri.  Sementara dara-dara Quraisy yang lain berjejer antri demi menggapai cinta Abdullah.
     Ketika Abdullah menuju ke rumah Aminah untuk menikah, ia dipanggil oleh Qutailah.  “Marry me”, pinta Qutailah yang merupakan adik pendeta Waraqah bin Naufal.
     Tentu saja Abdullah tidak mau.  Qutailah terpikat karena ada cahaya di kening Abdullah.  Alasan sebenarnya ia kepincut lantaran terbetik kabar jika akan lahir seorang nabi di  Mekah.  Cahaya di kening Abdullah hilang setelah melewatkan malam pertama.
     Hikmah kematian Abdullah ialah supaya Islam tak kacau-balau oleh perseteruan internal.  Bila Abdullah tetap hidup, pasti rahim Aminah berbuah.  Adik-adik Rasulullah bisa membahayakan masa depan Islam.  Sebab, bakal muncul dinasti-dinasti.
     Elemen serupa terjadi pada Aminah.  Ia tidak kawin sesudah menjanda.  Padahal, ia tergolong kembang Mekah sebelum dipinang Abdullah.  Ini di luar kelaziman.  Janda cantik umur 18 tahun tersebut seolah tak terdeteksi radar para pemuda maupun pemuka Quraisy.
     Hikmah di balik itu yakni Islam tidak direpotkan oleh dinasti.  Kalau Aminah menikah.  Besar kemungkinan ia punya anak.  Adik tiri tersebut berpeluang mengusik Islam dengan mendirikan dinasti.  Mereka mendominasi kekuasaan atas nama keturunan.
     Anak pertama Nabi Muhammad yaitu Abdul Manaf yang dijuluki al-Qasim atau at-Tayyid.  Arkian, Rasulullah dipanggil Abu al-Qasim (Ayahanda Qasim).  Putra ini wafat ketika masih bayi.  Anak lelaki Nabi Muhammad yang juga dilahirkan Khadijah ialah Abdullah yang dipanggil ath-Thahir.  Seperti kakaknya, ia meninggal di usia batita.
     Anak ketujuh Rasulullah ialah Ibrahim.  Lahir dari rahim Mariyah al-Qibthiyah.  Nabi Muhammad acap mengajak Ibrahim jalan-jalan menyusuri Medinah.
     Di sebuah kesempatan, Rasulullah bersama Ibrahim bertandang ke rumah Aisyah.  “Apa yang mirip antara saya dengan Ibrahim”, tanya Nabi Muhammad bersemangat.  Aisyah menjawab ketus.  “Saya tak melihat ada yang mirip”.
     Rasulullah yang mendengar suara Aisyah bernada dongkol, segera angkat kaki.  Ia buru-buru menggaet Ibrahim untuk meninggalkan Aisyah yang dibakar amarah dan cemburu.  Nabi Muhammad tidak ingin ada perang Medinah yang lebih heboh dari perang Badar, perang Uhud, perang Khandaq atau perang Hunain.
     Ibrahim wassalam dari planet biru ini menjelang umur dua tahun.  Tatkala dimakamkan, Rasulullah tak kuasa membendung rasa haru.  Ia menangis.  Usai dikubur, terjadi gerhana matahari.  Penduduk Medinah menghubungkan kematian Ibrahim dengan gerhana.  Nabi Muhammad menepis.  Gerhana tidak terkait dengan kelahiran atau kematian seseorang.  Gerhana merupakan tanda kekuasaan Allah.
     Pada hakikatnya, hikmah kematian tiga putra Rasulullah serupa dengan kematian kedua orangtuanya, Abdullah serta Aminah.  Mereka wafat agar Islam tak memiliki dinasti langsung dari tokoh sentral.  Dinasti berefek negatif untuk melemahkan sendi-sendi Islam dari masa ke masa.  Dinasti dinilai dapat menggoyahkan fondasi utama Islam yang tengah ditata.
     Tidak bisa dimungkiri bahwa Fatimah punya keturunan.  Bahkan, putranya yang bernama Husein akan mewariskan Imam Mahdi menjelang hari kiamat.  Fatimah berbeda dengan Qasim, Abdullah dan Ibrahim.
     Jika tiga putra Nabi Muhammad mencapai usia dewasa, maka, mereka dapat langsung mendirikan dinasti.  Satu dinasti saja bisa membahayakan Islam, apalagi tiga.  Kemungkinan perang antara ketiga dinasti sulit dihindari.
     Di zaman jahiliah (era hukum barbar), anak laki-laki sangat dibanggakan.  Ia penerus generasi.  Makin banyak putra, kian disegani.  Tak heran bila pengantin diberi ucapan bir rifa wal banin (selamat berbahagia semoga dikarunia putra).
     Kala Rasulullah mendakwahkan Islam, segelintir tokoh Quraisy ogah peduli.  Soalnya, Nabi Muhammad itu abtar (terputus) alias tidak memiliki putra.  Al-Ash bin Wail berceloteh: “keturunannya terputus”.
     Punggawa-punggawa Quraisy berpedoman bahwa kalau Rasulullah mangkat, ia tak bakal dikenang.  Namanya pasti dilupakan, termasuk ajarannya.  Maklum, tiada putra penerus misinya.
     Mereka sesungguhnya berpikir kesukuan.  Dakwah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad bukan hasil permenungan dirinya.  Kepemimpinan Islam tidak terkait keturunan.
     Memandang sebelah mata Rasulullah karena abtar akhirnya ditinggalkan.  Pasalnya, syiar Islam makin menggema di sekeliling Mekah.  Nabi Muhammad lalu pindah ke oasis subur.  Walau belum ada dinasti Islam, tetapi, timbul permusuhan di keluarga suci Rasulullah.  Perang dingin tersebut melibatkan para istri Nabi Muhammad.
     Aisyah, Hafsah serta Saudah merupakan kubu trio maut.  Trisula lain terdiri atas Ummu Salamah bersama Zainab binti Jahsy yang dipimpin Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah.  Ketika Shafiyah menjadi istri Nabi Muhammad, ia bingung melihat permusuhan sesama istri.  Shafiyah yang keturunan ningrat Yahudi dari bani Nadir lantas mendekati Fatimah.  Shafiyah memberinya perhiasan emas sebagai lambang persahabatan.
     Pertentangan dan persaingan berputar pada masalah rumah tangga.  Fatimah ikut arus karena geram.  Syahdan, di suatu hari yang tak diketahui tanggalnya.  Aisyah masuk ke kamar Fatimah yang sedang keluar.  Aisyah meloncati jendela yang menghubungkan bilik Rasulullah dengan kamar Fatimah.  Ultimatum Fatimah kepada ayahnya:  “Tutup jendela itu!”  Nabi Muhammad akhirnya menutup jendela supaya perang dingin mencair, tidak mendidih.
     Sekali peristiwa, Shafiyah menangis.  Hati Shafiyah perih oleh ejekan Aisyah serta Hafsah.  Rasulullah menenangkan.  “Katakan pada mereka.  Suamiku Nabi Muhammad.  Ayahku Nabi Harun.  Pamanku Nabi Musa”.
     Saat Rasulullah mangkat, maka, seluruh 11 istrinya dinyatakan janda seumur hidup.  Ada dua hikmah mengapa mereka tak diperkenankan kawin.
     Pertama, kelak suami terakhir yang menemani di Surga.  Jika Nabi Muhammad menjadi pendamping terakhir, berarti ia menjadi suami mereka di Surga.   
     Kedua, janda Rasulullah tidak boleh menikah guna menghindarkan mereka melahirkan anak.  Resiko terbesar yang dialami kaum Muslim yakni perpecahan akibat anak yang dilahirkan.  Kuat dugaan mereka mendirikan dinasti.  Sebab, mengaku punya pertalian dengan Nabi Muhammad.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People