Sabtu, 27 Desember 2025

Mimpi Kematian


Mimpi Kematian
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ahad, 14 Desember 2025, saya bangun pada pukul 03.08.  Tadi mimpi bertemu Awaluddin Mustafa bersama empat rekan seangkatan dari Pesantren IMMIM.  Saya tak bisa merekonstruksi hikayat dalam mimpi tersebut.  Hanya satu adegan yang menancap kuat; ada kerusakan listrik.  Seolah sebuah sensasi ganjil yang mengakibatkan bunga tidur mendadak sirna.
     Ahad berikutnya pada 21 Desember 2025, saya terjebak dalam mimpi lain.  Mimpi berada di area parkir bioskop Paramount.  Saat hendak pulang ke rumah, saya ke Jalan Andalas menunggu bemo.  Ketika berada di bemo, kendaraan roda tiga ini mogok.  Akhirnya didorong.  Bemo singgah di persimpangan menunggu penumpang.  Ada bocah lelaki yang terbungkus kain karena sakit parah.  Dibopong naik ke bemo oleh pria yang merupakan dukun.  Seorang wanita berbisik bahwa dukun ini dulu kurus sekali.
     Saya bertanya dalam hati.  Di mana dulu dukun ini saya lihat?  Saya mau tahu alamatnya.  Pertanyaan ini menggantung, tak sudi disapa jawaban.
     Saat bangun, saya tak menggubris mimpi ini.  Tidak pula terkesan dengan anak yang dibungkus kain di sekujur tubuhnya serta dukun kurus.
     Kamis, 25 Desember 2025 pada pukul 07.53, saya buka Facebook.  Di beranda tertera postingan Arfandi Dulhaji tentang kematian Awaluddin Mustafa.  Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
     Saya periksa tanggal unggahan.  Ternyata sudah tiga hari.  Bagaimana bisa saya tidak menyadari kabar duka yang membuat kita membeku?  Akibatnya, warta yang menusuk hati ini telat direspons.  Saya menyalahkan diri gara-gara tak becus memantau garis waktu beranda media sosial.
     Pukul 08.39, bertemu Muhammad Ardis (Iapim 7985).  Kronologi kepergian Awaluddin pun terkonfirmasi.
     Awaluddin wafat pada Sabtu malam, 20 Desember 2025.  Selama beberapa hari, ia diopname di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo.  Awaluddin mengalami komplikasi ginjal.  Ia rutin cuci darah tiga kali sepekan.  Tubuhnya kurus sekali.  Sebuah perjuangan diam yang tak banyak orang tahu.
     Kepergian Awaluddin membuatku terkenang mimpi di malam kematiannya.  Mimpi mengenai bocah yang terbungkus kain karena sakit kritis serta dukun kurus.  Teringat pula mimpi sepekan lalu pada 14 Desember.  Ini mimpi ketiga yang berakhir kematian.  Mimpi ini seolah mengisyaratkan perpisahan, sebuah pertanda yang tak terucap.  Kasus ini menunjukkan korelasi yang mengerikan antara khayalan di malam hari dengan realitas pahit yang terjadi.
     Syahdan, satu bulan sebelum Muchlis Mochtar (Iapim 7682) meninggal, saya mimpi.  Saya berada di sebuah rumah.  Terlihat ramai oleh pemuda.  Saya bersua dengan seorang Iapim putri 7985.  Kami memilih masuk kamar tidur.  Mengobrol di atas ranjang.  Mendadak muncul S (Iapim 7682).  Saya heran, mengapa ia datang ke kediaman ini.  Selama ini, S berkarier di Jakarta.  Sepenting apa sebenarnya keramaian di rumah ini.
     "Acara apa ini?"  Saya bertanya.
     "Ada teman yang meninggal".
    Sekitar 30 hari berselang, di Facebook muncul postingan.  Muchlis Mochtar meninggal.  Saya tersentak.
     Selama beberapa menit, selalu terngiang ucapan S dalam mimpi; "ada teman yang meninggal".  Kiranya yang ia maksud adalah "ada seangkatanku yang wafat".  Astaga, ini semacam ramalan yang terlambat disadari.  Kalimat tersebut bukan sekadar informasi, melainkan sinyal yang kedaluwarsa saya pahami. Betapa dekat mimpiku dengan kenyataan.
     Selasa, 26 November 2024, saya terjaga selepas pukul 00.00.  Saya berusaha tidur kembali.  Upayaku sia-sia.  Mata terpejam, namun, pikiran berkelana bagai burung liar yang terbang tak menemukan dahan.
     Saya bangkit dari pembaringan.  Penanda waktu di dinding menunjukkan jam setengah dua.  Saya kembali ke ranjang.  Berdoa agar bisa tidur sembari bangun pada pukul 04.00.
     Setelah nyenyak beberapa menit, saya terbangun.  Membatin bahwa tadi saya tertidur sekitar jam dua.  Saya juga mimpi berada di Pesantren IMMIM.  Ini mungkin mimpi ke-60 tentang pesantren sejak tamat pada 1986.
     Dalam mimpi itu, saya baru tiba dari kota.  Saya tidak langsung ke kamarku di bilik I rayon Pangeran Diponegoro.  Saya ke depan asrama Sultan Hasanuddin.  Dari sana lantas ke bangsalku.  Suasana di bilik tampak sama seperti dulu.  Satu-satunya yang berubah, saya ditempatkan di kamar I.  Dulu di kamar II.
     N (Iapim 7985) yang ranjangnya di sudut Barat Daya, muncul sambil melantunkan al-Mulk.  Saya mengikuti melagukan surah tersebut sambil berjalan keluar.  Mimpi lantas lenyap, meninggalkan rasa penasaran yang menggantung.
     Pukul 09.42 pada 26 November 2024, saya mengucek-ucek mata memandang postingan Arfandi.  Apakah ini benar?  Wahyuddin Naro meninggal dunia pada pukul 02.00.
     Saya menapak tilas momen tengah malam yang tadi dilewati.  Selama dua jam saya tersiksa tidak dapat tidur sejak pukul 00.00.  Gelisah berada di pembaringan berkawan sepi serta sunyi.  Pukul 02.00 baru bisa terlelap.  Kala tidur, mimpi merapal al-Mulk bersama N.  Surah yang identik dengan kuburan ini, rutin saya lafalkan saat joging sejauh 4 km pada pukul 05.30.
     Bulu roma bergidik.  Rupanya saya dapat isyarat lewat mimpi jika seorang rekan seangkatan wafat.  Tidak terbayang bahwa mimpiku sesungguhnya kurir kabar duka.  Pantas dalam mimpi, saya ke depan asrama Sultan Hasanuddin berdiri bingung sejenak.  Di situ dulu Wahyuddin tinggal ketika kelas I.
    395 hari bakda kematian Wahyuddin, petaka kembali mengoyak Iapim 8086.  Awaluddin menyusul Wahyuddin.  Kematian Awaluddin niscaya menimbulkan luka mendalam di Angkatan 80.  Kepergiannya menimbulkan efek signifikan.
     Awaluddin merupakan figur yang disegani.  Dadanya berisi tumpukan empati.  Wataknya lembut, tidak agresif.  Lebih memilih diam ketimbang melukai perasaan.
     Empat tahun silam, Lukman Sanusi yang tinggal di Sudiang menyuruhku membeli rumah di sekitar Daya.  "Supaya kita bertiga dengan Awal saling berdekatan", ujar Lukman.  Kalimat itu sekarang terdengar sebagai rencana yang tak sempat selesai.  Kuncup hasrat layu sebelum mekar.
     Kini, mimpi pada 14 Desember 2025, menyisakan pertanyaan.  Mimpi tersebut masih membayang, laksana kabut pagi yang enggan menguap.  Pertama, listrik mengalami gangguan.  Apakah ini berarti jemaah 8086 bakal redup tanpa cahaya dalam kegiatan Iapim pascakematian Awaluddin?  Kedua, dalam mimpi itu ada lima anggota komunitas 8086.  Siapa keempat alumni itu?  Apakah mereka sekadar figuran dalam bunga tidur?  Apakah alam lain segera memanggilnya, satu per satu?
     Dalam pencarian makna di antara benang-benang mimpi serta kenyataan, saya merasa terperangkap.  Terjebak dalam jalinan takdir yang saling berhubungan.  Ini menandaskan bahwa di antara mimpi dan kenyataan, tampak kematian bekerja pelan.  Serupa listrik yang padam tanpa suara.  Hingga, membiarkan kita menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
     Di balik mimpi-mimpi ini, ada makna hakiki yang bergelora.  Ikatan persahabatan alumni Pesantren IMMIM tak pernah putus, sekalipun nyawa sudah sampai di tenggorokan.


Selasa, 23 Desember 2025

Menulis Ekonomi


Menulis Ekonomi
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di gelombang akhir era 80-an, ada sekitar 10 mahasiswa penulis di Ujung Pandang yang didominasi Universitas Hasanuddin.  Di masa itu, saya memilih fokus menulis di koran terbitan Jawa.  Ingin menguji sayap di angkasa media populer Jawa.  Ada semacam gengsi personal di situ.
     Tiada sudi diri ini berkubu di kandang sendiri.  Saya tak berhasrat menjadi jago kandang.  Dipuji di halaman yang sama tiap pekan oleh lingkaran yang sama pula.
     Naskah-naskah saya pun berlayar jauh.  Hingga, bisa menembus harian Republika (Jakarta), Pelita (Jakarta), Jayakarta (Jakarta), Terbit (Jakarta), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta) dan Surya (Surabaya).  Bahkan, berkali-kali terpublikasi di harian Banjarmasin Post.
     Tiap pemuatan di media Jawa terasa bagai aksara paku di prasasti.  Bukti bahwa karya tulis bisa hidup di luar kampung halaman.  Dipuja-puji di iklim redaksi yang asing sekaligus sering dingin tanpa minat.
     Awalnya, puas merangkai kalimat di wilayah yang akrab bagi peminat humanisme.  Membahas agama dengan misteri iman, sosial dengan denyut masyarakat, sejarah yang menyimpan lapisan debu waktu, budaya yang kaya warna serta film yang sarat imajinasi.
     Lambat-laun, merasa jenuh cuma menyentuh masalah agama, sosial, sejarah, budaya serta film.  Apalagi, ini memang wilayah yang akrab bagi komunitas sastra.  Semua yang saya tulis merupakan tempat metafora dan narasi punya ruang bernapas.  Kini, membahana godaan lain yang mengintai.  Berkehendak menyusup ke ranah yang tak terpisahkan dari hitung-hitungan.  Saya kepincut menulis ekonomi.  Bidang yang terdengar kering, penuh grafik serta istilah yang terasa lebih dekat dengan papan tulis ketimbang mesin tik.  Tantangannya berlipat ganda lantaran latar belakang saya sebagai mahasiswa sastra.  Di Unhas, ini satu-satunya fakultas yang tidak belajar matematika.  Di sinilah ruwetnya.  Sebab, ekonomi terjalin erat dengan angka dan rumus.  Di titik ini keruwetan dimulai.
     Menulis ekonomi bukan sekadar memperluas topik.  Ini adalah pertaruhan identitas.  Sejujurnya, ini bukan hanya akan mengejutkan para pesaing, tetapi, juga menaikkan posisi saya sebagai penulis yang tak mudah ditebak.  Ini bakal menaikkan status sebagai penulis andal yang sanggup meramu apa saja dengan kata.
     Saya kemudian belajar laksana insan kelana yang masuk ke wilayah asing tanpa peta.  Membekali diri dengan berlangganan harian Bisnis Indonesia dan mingguan Kontan.  Membeli secara eceran harian Neraca serta mengoleksi majalah ekonomi.
     Tatkala menulis kolom di majalah Panji Masyarakat, saya mulai menyelipkan kalimat-kalimat bernuansa ekonomi.  Sekedar sisipan kecil berupa angka, istilah maupun logika pasar.  Ini serupa menyulam benang emas ekonomi ke kain sutra sastra.  Ini tahap coba-coba untuk uji nyali.  Rasanya seperti menanam benih di tanah yang belum pernah digarap.  Ini eksperimen sebagaimana cerpenis yang diam-diam belajar menulis laporan investigasi.
     Syahdan di suatu hari, kejutan datang.  Artikelku perihal ekonomi dimuat di sebuah harian.  Saya membaca nama sendiri dengan rasa tak percaya.  Bagaimana bisa?  Artikel tersebut dikirim sebagai spekulasi, tanpa keyakinan penuh serta harap besar.  Barangkali redaksi mengangkatnya berkat muatan sudut pandang.  Boleh jadi pula karena merasa aneh dengan bahasa jurnalisme sastrawi yang saya praktekkan.
     Sampai hari ini, saya masih sering termangu.  Bisa-bisanya saya menulis ekonomi.  Saya tercengang, bisa-bisanya persoalan pasar, kebijakan dan angka-angka dapat diramu dengan bahasa jurnalisme sastrawi.  Saya tercenung, bisa-bisanya anak sastra masuk ke wilayah yang hampir steril dari metafora.
     Barangkali di situlah pelajarannya.  Ekonomi bukan sekadar tabel serta persentase, melainkan cerita tentang hasrat, pemerataan rezeki dan pilihan manusia.  Pada akhirnya, di mana ada cerita, di situ sastra senantiasa menemukan jalannya.


Sabtu, 13 Desember 2025

Jumat, 12 Desember 2025

Kamis, 11 Desember 2025

Rabu, 10 Desember 2025

Jumat, 28 November 2025

Rabu, 19 November 2025

Siapa Namanya?


Siapa Namanya?
Oleh Abdul Haris Booegies


     "Pernahkah pemuda tampan berbaju biru ini singgah di penglihatanmu?"  Hudhud menyodorkan sebuah potret ke gagak yang bertengger di ranting keropos saninten.
     "Mengapa kau menanyakannya?"  Gagak balik bertanya seolah hendak menghentikan angin yang menerpa bulu hitamnya.
     "Kau spesies unggas dengan banyak pengetahuan.  Kau paham hal-hal yang dibiarkan gelap", tukas hudhud yang membuat gagak berbinar, bangga.  Bulu hitam dan kegelapan memang suka dipuji.
     "Kau mau kisah ini disingkap dari mana?"
     "Dari awal.  Bukankah awal senantiasa murah hati?  Apalagi, waktu kita banyak", usul hudhud sembari menepuk angin dengan kepak ekor yang lirih.
     "Waktuku tipis, Sobat.  Saya mau ke rimba seberang.  Di sana ada rapat para unggas", keluh gagak yang hendak terbang.
     "Ceritakan saja kisah nan syahdu", pinta hudhud.
     "Itu episode tersembunyi", gumam gagak yang bulunya laksana arang.
     "Di situ pula letak pesona yang tiada terperi.  Bukankah yang tersembunyi selalu menggoda?"  Ucap hudhud sambil tersenyum seolah melihat mangga ranum yang disembunyikan semut rangrang.
     "Ia punya kisah cinta", celetuk gagak.  Suaranya mirip gergaji yang memotong kayu tebal.
     "Pasti indah", hudhud tersenyum seraya mengepakkan sayap satu kali.  Garis-garis hitam serta putih di sayap coklatnya terlihat bergetar.
     "Tidak, cintanya karam.  Retak berkeping-keping.  Terhempas badai realita", ujar gagak.
     "Apa penyebabnya?"  Senyum hudhud kontan lenyap diterpa kecewa.  Wajahnya layu seketika.
     "Gadis itu putri bangsawan.  Ia kembang paling indah di taman permai.  Cantiknya bagai pagi yang tak pernah bisa dimiliki malam".
     "Pemuda ini berparas rupawan", ujar hudhud.
     "Betul, tetapi, ia berasal dari kasta minus harta.  Ia tak punya harta sebentuk pun, kecuali paras yang bagai peta menuju Surga".
     "Cintanya tersisih karena miskin?"  Tutur hudhud menunduk, seperti merasakan denting kecewa di tulangnya sendiri.
     "Faktanya begitu.  Ditolak oleh dunia yang lebih percaya harta daripada semangat juang membara.  Pemuda itu pun melarikan diri dari takdir ke takdir.  Mencoba aneka peruntungan.  Dalam imajinasinya, dunia ini luas.  Dunia tidak selebar wajah manusia.  Pemuda itu akhirnya menjelma sebagai legenda.  Namanya semerbak, lebih harum dari bunga paling indah di taman permai".
     "Siapa nama pemuda ganteng itu?"  Hudhud tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.  Hudhud mendekat, penasaran.
     Gagak memiringkan kepala.  Paruhnya yang hitam nyaris menyentuh liang telinga hudhud.  Ia seolah hendak menanamkan kutukan atau doa yang terlalu rahasia untuk dibunyikan.
     "Ia penuh berkah ilahi", bisik gagak membenamkan kata-katanya dalam kabut.
     "Jadi siapa nama pemuda sarat berkah berbaju biru itu?"  Hudhud setengah menjerit meminta kejelasan.
     "Namanya mudah diingat, mudah dilantunkan", desis gagak sembari menjulurkan sayap hitamnya yang berkilau diterpa Mentari.
     "Siapa namanya?"  Suara hudhud bergetar ingin mengetahuinya.  Sementara gagak memandang sekilas sang Surya.  Suaranya tertahan tatkala mau menyebut nama agung tersebut.  Ia mengerti, di balik nama itu, ada masa silam, masa kini dan masa depan.
     "Siapa namanya?"  Ulang hudhud.
     "Fadeli Luran".


Minggu, 09 November 2025

Gelang Hitam


Gelang Hitam
Oleh Abdul Haris Booegies


Rabu. 21 Desember 1983
     Selama libur, saya bersama segelintir kelas IV (kelas I SMA), tetap tinggal di Pesantren IMMIM.  Beruntungnya karena Umar Syah punya motor.
     Pukul 21.00, saya membonceng Umar ke bioskop.  Sementara Ahmad Natser menyelinap di atas pete-pete (mikrolet).  Di perjalanan tatkala membelah malam, hujan deras mengguyur.  Kami nyaris tabrakan.
     Saya bersama Natser nonton Budak Nafsu di Paramount yang lampu-lampu neonnya memantulkan rindu terlarang.  Sedangkan Umar menyaksikan The California Dolls di New Artis Theater.
     Selepas pukul 00.00, kami pulang berboncengan tiga.  Maklum, tidak ada lagi polisi.  Kami menertawakan hukum yang lelap dalam tidurnya.  Kami bebas di jalan raya sambil belajar mencintai kebebasan seperti mencintai maksiat sebatas film.
     Pukul 01.00, tiba di pesantren dengan hati berdesing.  Begitu sampai, kami kepergok pimpinan kampus (pimkam).  Tatapannya dingin serupa ayat tanpa tafsir.  Matanya setajam belati.  Menguliti kami dalam diam.  Seolah kami tiga serangkai kriminal amatir.
     Saya sempat heran, membatin penuh misteri.  Bertanya pada takdir yang membisu.  Mengapa tiap kabur dari kampus secara berombongan, saya selalu ketahuan.  Jejakku selalu ditemukan.  Hingga, berujung hukuman.  Jika sendiri, ber-solo run, saya senantiasa sukses gemilang.
     Nasibku berpihak hanya pada kesunyian?  Saat sendiri, saya adalah bayangan, hantu tanpa nama.  Barangkali takdirku memang selaras lone wolf, beraksi seorang diri.  Saya andal menavigasi pelarianku secara mandiri.  Gelang hitam di tangan kananku yang merupakan jimat, seolah lumpuh bila ada rekan menjadi partner in crime.  Gelang hitam ini kehilangan tuah saat berbagi dosa dengan yang lain.  Mungkin kesialan datang dari kebersamaan yang terlalu manusiawi.
     Barangkali Dewi Malam menyukai pelanggar yang melangkah sendirian.  Ini mirip serigala malam yang cuma menyalak pada bintang-gemintang.
     Kesendirian mencerminkan keyakinan bahwa eksistensi sejati hanya dapat ditemukan lewat kesadaran diri yang terisolasi.  Bukan melalui identitas kolektif.
     Kala fajar merekah dalam rona kuning-kemuning, Mantang yang merupakan kepala konsumsi di aula, menghampiriku.  Ia menegaskan bahwa namaku dicatat oleh pimkam karena melakukan pelanggaran.  Tadi malam keluar kampus ke bioskop.
     "Astaga, ini libur!  Mestinya bebas tanpa aturan!  Mengapa pimkam menganggap itu pelanggaran!"  Saya mengumpat sambil mencak-mencak.

Rabu, 9 Januari 1984
     Pemilihan ketua Ikatan Santri Pesantren Modern (ISPM) alias ketua OSIS hari ini dimenangkan oleh Akmal Hasan.  Usai pesta demokrasi kecil tersebut, saya kabur ke rumah.
     Dengan mengendarai motor, saya ke New Artis nonton Blue Thunder.
     Saat senja, balik ke pesantren.  Saya memarkir motor di depan aula.  Beberapa sahabat heran menatapku seperti melihat nabi palsu.  Siapa yang mengizinkan membawa motor.  Mengapa nekat menyelundupkan motor.
     Malam ini, saya kabur dari pesantren dengan menunggang motor.  Berkeliling mencari film yang menarik untuk ditonton.  Tidak ada film bagus.  Besok Lone Wolf McQuade akan tayang di New Artis.
     Saya kembali ke pesantren.  Berkonsentrasi penuh merapal mantra supaya tidak ketahuan pimkam.  Bisa berabe kalau kepergok.  Soalnya, saya bawa motor.  Ini pelanggaran paling berbahaya.  Bisa menghapus namaku dari daftar santri.

Jumat, 17 Februari 1984
     Siang ini, saya minta izin ke ustaz Abdul Kadir Massoweang untuk pulang.  Apes, wakil pimpinan kampus ini menolak.  Saya akhirnya kabur.  Dikiranya saya takut.  Saya justru senang lompat pagar meninggalkan pesantren secara ilegal.  Lompat pagar merupakan ritual filosofis.  Ini zikir dalam bentuk gerakan memberontak terhadap moralitas yang ditentukan oleh otoritas eksternal alias pembina pesantren.
     Setelah membeli majalah, saya nonton Sahara di Mitra Theater pada pertunjukan pukul 15.00.  Sahara dibintangi oleh idolaku; Brooke Shields.
     Bakda Isya, namaku menggema lagi dari pengeras suara masjid.  Ada lagi pelanggaranku, tetapi, pelanggaran apa gerangan?  Rupanya tidak shalat Shubuh secara berjamaah.
     Alhamdulillah, pelanggaran beratku berupa kabur ke bioskop tidak terendus.  Azimat gelang hitamku betul-betul mujarab.  Qismul amni (seksi keamanan) tampak konyol kalau menghadapi pelanggaranku.  Mereka cuma bisa tahu pelanggaran kecilku.  Ini namanya dinosaurus di pelupuk mata diabaikan.  Sementara kuman di pulau seberang diributkan.
     Tunggu dulu, Haris!  Jangan dulu gembira.  Kali ini saya tidak diadili oleh kawanan qismul amni yang gampang kuperdaya, melainkan diserahkan ke ustaz Saifullah Mangun Suwito.  Ini pimpinan kampus!  Gawat!
     Dewi Fortuna kiranya tak membiarkanku sendiri dalam kemelut pengadilan santri badung.  Pasalnya, bukan cuma saya yang dihadapkan ke ruang penghakiman, namun, berjamaah.  Ada Natser, Saifullah Nurdin, Saiful Latief serta Rusdi Karim.
     Kami diadili dari pukul 21.00 sampai 23.00.  Saya sampai linglung, apa saja tadi nasehat atau ancaman pimkam?  Semua menguap gara-gara capek diceramahi di antara kantuk dengan rasa bersalah yang setengah matang.
     Wahai malam, wahai bioskop, tunggu episode berikutnya karena besok saya kabur lagi.


Rabu, 05 November 2025

Salah Bahasa


Salah Bahasa
Oleh Abdul Haris Booegies


     Dalam berinteraksi, bukan seberapa banyak informasi yang dimiliki.  Bukan seberapa besar data yang dipegang.  Interaksi butuh keselarasan dalam perkara bahasa, kode atau komunikasi.  Tanpa aplikasi interaksi yang tepat, niscaya ikhtiar berujung keruwetan.  Timbul kegagalan demi kegagalan.  Pasalnya, semua tidak jitu pada tempatnya.

Sabtu, 19 November 1983
     Hari ini, kegembiraan berbinar ceria di hati santri Pesantren IMMIM.  Sumber keriangan bukan wahyu dari langit, melainkan televisi baru di masjid, warna lagi.  Selama ini, kami cuma dihibur TV hitam putih yang menghamparkan mimpi-mimpi monokrom.  Ini serupa aktivitas santri yang hitam putih.  Kehidupan pesantren didominasi ustaz, kitab kuning, azan dan malam yang tak punya bayangan.
     Kemarin televisi hitam putih itu diangkut ustaz Abdul Kadir Massoweang ke kamarku di Wisma Guru, tempat kami tinggal bersama.  Ia mau memperbaikinya.  Saya heran campur geli, bagaimana bisa ustaz Kadir memperbaiki bangkai kristal.  Pengetahuannya cuma bahasa Arab, sementara ini alat elektronik dengan rumus matematika.  Buku panduannya saja berbahasa Inggris yang profan, bukan Arab.  Barangkali wakil pimpinan kampus ini berpikir dapat menambal semesta elektronik dengan jampi-jampi nahwu sharaf.
     Dugaanku jitu laksana firasat burung gagak yang tepat.  Ustaz Kadir bukan hanya gagal, malahan televisi hitam putih tersebut tambah rusak.  Suaranya redup, lebih bisu dari batu nisan.  Gambarnya tak ada lagi kecuali bintik-bintik hitam bak hantu mencari bentuk.

Senin, 11 Januari 1984
     Siang ini, takut mencengkeram jiwaku.  Semua gara-gara pelanggaranku selama kelas I SMA ini, makin banyak, kian beragam.  Ini mirip sungai hitam yang mengalir tak terkendali.  Kepala serasa dipentung memikirkannya.  Saya dihantui oleh pelanggaranku yang bercabang bagai dosa yang punya akar.
     Saya juga lupa Tuhan.  Jarang ke masjid berdoa atau mengaji.  Kini, doa yang kupanjatkan terasa seperti sinetron yang dialognya terlupa di kepala.
     Saya ingin memutus rantai kenakalan, tetapi, dimulai dari mana?  Repot mengurainya karena kusut sekali.  Saya terjebak dalam labirin pelanggaran sendiri.  Tak bisa bergerak, maju kena mundur kena.  Tiap simpul adalah keputusan yang salah.  Tiap ujung adalah jalan buntu.
     Pusing dengan pelanggaranku, pusing pula bagaimana mengakhirinya. Apakah niat insaf ini dimulai dengan tidak bolos dari kelas, atau tak kabur dari kampus, atau tidak malas ke masjid.
     Di hari-hari mendatang, pelanggaranku tentu makin membeludak.  Apalagi, tadi Mantang yang kepala koki aula mengenalkanku dengan cewek.  Entahlah, Mantang ini makelar cinta atau makelar dosa.
     Mantang membiarkanku mengobrol dengan gadis itu di aula yang sepi.  Berdua di antara kursi-kursi kosong yang berjajar bagai saksi bisu.  Kami berbual perihal hal-hal tak penting.  Berceloteh dalam ruang yang terlalu besar untuk dua orang yang terlalu kecil.  Di akhir perjumpaan, menyeruak simfoni merdu di kalbu.  Bukan kumandang azan, melainkan getar asmara.
     Paras dara ini memang bernilai rata-rata, namun, tidak masalah!  Ini cukup untuk menghidupkan aritmatika dosa.  Apalagi, kucing garong lapar yang terkurung di penjara suci tak pernah pilih-pilih.  Memangsa apa pun yang disodorkan.  Menjilat kesempatan seperti susu tumpah.  Jangan sisakan apa pun.  Tak boleh mubazir.  Sebab, orang mubazir mitra setan.
     Ustaz Kadir tak dapat memperbaiki televisi, begitu pula saya.  Tak bisa memperbaiki diri.  Pada esensinya, kami berdua menggunakan bahasa yang salah untuk masalah yang berbicara dalam bahasa lain.  Ketidaktepatan bahasa, kode maupun komunikasi yang sesungguhnya menimbulkan seluruh kemalangan ini.


Minggu, 02 November 2025

Mencari Masa Lalu


50 Tahun Pesantren IMMIM
Mencari Masa Lalu
Oleh Abdul Haris Booegies


     Tatkala terdengar kata "reuni", ada sesuatu yang berdegup keras.  Menggedor-gedor batin yang lusuh.  Menggoyang-goyangkan kalbu yang terkulai.  Mengguncang-guncang pikiran yang sudah lama berdebu.  Asa menggeliat bak cacing kepanasan membayangkan realitas reuni.  Harapan meronta-ronta mengimpikan bayang yang terus memudar, bayang yang tak pernah pulang.
     Gejolak perihal reuni seperti pintu besi yang memukul dinding ingatan.  Menggema di lorong jiwa yang tiada pernah benar-benar sunyi.  Selaksa rindu pun menggigit tulang.  Ada bisik pelan, mungkin kau ingin pulang, tetapi, ke mana?
     Reuni sesungguhnya bukan sekedar kumpul-kumpul norak atau ajang pamer, melainkan menyibak kabut kenangan.  Ada sesuatu yang ingin ditemui, ingin didatangi, ingin disapa.
     Kala berkumpul mengenang kisah- kisah, maka, yang ingin ditemui, yang ingin didatangi, yang ingin disapa, tetap gaib.  Kehadirannya absurd.  Abstrak laksana asap hitam yang menari di ujung jari, lantas lenyap saat disentuh.  Penantian cuma mendatangkan bayangan.  Sementara yang menjawab hanya gema.  Sebuah puncak hasrat yang sia-sia.
     Di sini pula letak ereksi reuni.  Bayang-bayang dulu yang membentuk rangkaian kejadian hanya bisa dirindukan.  Tiada satu pun yang bisa menjejakkan kaki di hari-hari lampau.  Reuni seolah menegaskan bahwa yang berlalu sudah lama mati, namun, belum dikuburkan oleh waktu.  Padahal, ada kerinduan untuk mengenal kembali diri sendiri yang dulu.  Sebab, di sana ternukil awal seluruh narasi.  Inilah misi utama reuni, mencari masa lalu.
     Reuni tidak tunggal kenangannya.  Seribu jiwa datang membawa seribu kenangan berisik yang saling berbisik.  Bahkan, membawa seribu semesta yang berdendang dengan nada sumbang.  Tiap kenangan adalah tubuh yang mencari tuannya kembali.  Ini yang memicu reuni penuh gairah.  Hingga, gairah-gairah ini menghubungkan denyut sekarang dengan masa lampau.
     Ada bisik pelan tentang yang ingin ditemui, ingin didatangi, ingin disapa.  Suara lirih tersebut tak bergema, hilang terbawa bayu.  "Mungkin kau ingin pulang, tetapi, ke mana?"

#50tahunpesantrenimmim
#immim
#iapim
#pesantrenimmim


Kamis, 30 Oktober 2025

Bayang-Bayang Masa Silam


50 Tahun Pesantren IMMIM
Bayang-Bayang Masa Silam
Oleh Abdul Haris Booegies


     Selama belajar di Pesantren IMMIM, ada beberapa momen-momen indah, berkesan atau merajam rasa.  Selama empat tahun sejak kelas III, saya mencatat peristiwa-peristiwa bersejarah atau mungkin memalukan.  Kini, kejadian sepele tersebut menjelma sebagai bayang-bayang masa lampau.  Bayang-bayang yang menorehkan jika santri hidup di antara yang sakral dan yang terlarang
     Di era 80-an, Pesantren IMMIM boleh jadi angker di mata remaja nonsantri.  Soalnya, mereka membayangkan santri cuma mengaji atau mengkaji kitab gundul.  Mereka lupa bahwa Pesantren IMMIM punya embel-embel sebagai "pesantren modern".  Hingga, santri memiliki dimamika dalam tradisi ketat pesantren.  Ini memicu segelintir santri leluasa membaca majalah semacam Vista, Ria Film, Team, Varianada atau Variasi.
     Pada hakikatnya, santri IMMIM andal membaca kitab kuning sekaligus koran kuning semisal Intijaya atau Sentana.  Dua surat kabar ini banyak mengulas perkosaan.  Lembaran-lembarannya menegaskan bahwa dosa punya seribu wajah.
     Bila ada senandung "madu di tangan kanan, racun di tangan kiri", maka, santri IMMIM layak berdendang: "Kitab kuning di tangan kanan, koran kuning di tangan kiri".  Santri fasih membaca yang suci serta yang cabul.  Tidak ada yang mustahil bagi santri IMMIM.  Pasalnya, bukan santri IMMIM kalau tidak sinting sedikit.
     Dalam hal film, santri IMMIM juga jago.  Ada santri yang kerjanya berkeliaran di midnite show di malam Ahad.  Nonton pertunjukan tengah malam ibarat zikir di madrasah kedua.  Andai ada lomba cerdas cermat tingkat SMP-SMA se-Indonesia Timur tentang film, bisa dipastikan santri IMMIM yang juara I.

Senin, 28 Maret 1983
     Bakda Zhuhur, ustaz Saifullah Mangun Suwito mewartakan bahwa besok ada tamu VIP.  Di kesempatan ini, ustaz Saifullah juga mengimbau agar santri tidak ke taman di depan pesantren.  Ada instruksi dari lingkungan agar santri tidak bergerombol di taman saat siang.  Bunga-bunga harus selamat dari pijakan liar santri.
     Sejak ada penjual pisang di seberang jalan di sudut Kavaleri, banyak santri ke sana sekitar pukul 13.00-15.00.  Pisang di seberang menggoda laksana khuldi, buah pemicu dosa pertama.  Pisang-pisang diedarkan, di makan bersama di taman.  Menyisakan kulit-kulit yang tak sempat dibungkus.

Sabtu, 13 Agustus 1983
     Ke dapur kakiku melangkah.  Mataku sekilas menatap sesosok siluet gadis belia.  Ada bibi (koki) baru.  Saya memperhatikannya, mendadak terguncang.  Dunia seolah terhenti sejenak.  Wajahnya yang cukup manis mengingatkanku dengan seseorang.  Beberapa detik saya kehilangan kendali, tidak bisa menguasai diri.  Merasa seperti lupa cara bernapas.
     Belakangan, kami akrab.  Kami sefrekuensi karena sebaya.  Ia merasa nyaman bergaul denganku.  Maklum, saya menganggap diri sebagai santri tersabar sekaligus calon santri teladan.

Rabu, 17 Agustus 1983
     Pesantren IMMIM terlihat bersih.  Apakah malaikat akan lewat sembari menilai siapa yang paling suci dari debu, siapa yang paling suci dari dosa?  Saya termangu campur bangga menyaksikan kampusku.  Baru kali ini tampak asri.
     Hari ini kami merayakan kemerdekaan Indonesia.  Kesibukan tampak di asrama serta majelis guru.  Untuk pertama kali, peringatan 17 Agustus dirayakan kolosal di Pesantren IMMIM.  Ini pertama kali ada pasukan Bhineka Tunggal Ika.  Sejumlah santri mengenakan pakaian adat persis mannequin di museum.
     Isu yang lebih panas ketimbang sinar Matahari pagi ialah santriwati segera tiba dari Minasa Te'ne.  Begitu pula jurnalis TVRI diundang untuk mengawetkan kenangan.  Sebelum santriwati serta wartawan datang, saya sudah kabur dari kampus.  Saya memilih berkeliling kota dengan motor.  Ini serupa mengejar kemerdekaan yang tidak diajarkan dalam fiqh.  Kenanglah kata-kata ini; kemerdekaan adalah ketika kau bisa melarikan diri dari perayaan kemerdekaanmu.

Ahad, 21 Agustus 1983
     Ada suasana baru di Pesantren IMMIM.  Mulai malam ini, kami tidak bebas lagi di kelas selama pukul 20.00-22.00.  Kebebasan kecil kami dipasung.
     Santri diperkenalkan dengan istilah "belajar terpimpin".  Tiap kelas diawasi oleh kakak kelas.  Bahkan, diabsen layaknya tahanan di penjara beratap jerami.  Ini untuk mengendus siapa yang bolos.
     Gerak-gerikku agak terganggu dengan ritus "belajar terpimpin".  Saya tidak merdeka, namun, tetap tegar di antara rasa patuh serta pasrah.  "Belajar terpimpin" tiada lain pembunuhan kecil terhadap kebebasan.  Sebab, merepotkanku ke kamar untuk berbaring-baring atau kongkow dengan santri badung.

Kamis, 29 September 1983
     Tatkala pelajaran olahraga, kami diajar main basket.  Maklum, lapangan basket sudah jadi.  Kami santri kelas III termasuk yang pertama mencobanya.
     Saya tidak paham permainan basket.  Kami diajar melempar bola, tetapi, yang kutangkap justru sunyi.  Kala bola memantul, saya berdiri bingung saja.  Tidak ada reaksi.
     Olahraga ini bukan bakatku sebagaimana aturan pesantren bukan bakatku untuk mematuhinya.  Saya lebih suka bebas laksana burung yang melayang di cakrawala.  Biarlah santri alim serta santri cerdas yang menaati peraturan atau perintah karena mereka sefrekuensi.


Minggu, 26 Oktober 2025

Kronik Santri Bolos


Kronik Santri Bolos
Oleh Abdul Haris Booegies


Sabtu, 12 Februari 1983
     Saya di rumah seharian penuh.  Bersetia pada kemalasan yang membuatku ogah ke pesantren.  Saya bersembunyi dari azan yang tak sempat kujawab.  Lebih memilih membaca majalah yang huruf-hurufnya lebih fasih dari khutbah.
     Menjelang Magrib, saya menyelinap menembus senja.  Kakiku mengarah ke bioskop untuk nonton Star Wars: The Empire Strikes Back.  Penonton dapat hadiah berupa Trillets Lozenges serta kalender mini.
     Film Star Wars menyala di imajinasiku.  Mempertontonkan takdir bertarung dengan takdir.  Layar perak seolah memuntahkan galaksi.  Saya suka sekali dongeng Hollywood bertabur kebohongan yang mahal ini.  Betul-betul memuaskan.  Dalam perjalanan pulang ke pesantren, kubiarkan fantasi berkelana.
     Sebelum pukul 23.00, tiba di kampus , Muhammad Thanthawi bersama Muhammad Yunus menyambutku dengan wajah tegang.  Roman mukanya mirip langit yang baru saja kehilangan bintang.
     "Kamu gawat sekali, Haris!  Qismul amni (seksi keamanan) mencarimu di mana-mana", ujar Thanthawi.
     "Bukan cuma qismul amni, pimpinan kampus (pimkam) juga marah.  Pergaulanmu dengan gadis itu terendus.  Mantang ikut ditegur keras karena doyan memberimu ransum enak.  Pimkam menunjukkan ke Mantang daftar pelanggaranmu yang bejibun.  Rawan sekali, kamu!"
     Malam ini, saya sulit tidur.  Tiga persoalan sekaligus menghimpit dada, mementung pikiran.  Daftar pelanggaranku yang terekam rapi, terurai.  Ini setebal dosa yang membayang.  Saya betul-betul terciduk oleh daftar dosa yang lebih panjang dari pelajaran al-Muthala'ah.  Pertama, saya buronan qismul amni.  Kedua, masalah asmara.  Bagaimana bisa ketahuan?  Angin malamkah yang menebar rahasia syahdu ini?  Ketiga, bagaimana jika Mantang tidak lagi memanjakanku dengan hidangan lezat?
     Mungkin ini hari-hari terakhirku sebagai santri.  Barangkali sudah takdirku cuma sampai kelas III di Pesantren IMMIM.
     Saya ingin berdoa agar terlepas dari belenggu sial ini.  Masalahnya, apakah doaku mustajab?  Soalnya, selama ini masjid jarang kukunjungi.  Sudah berhari-hari lantai masjid tak kujamah.  Apakah Tuhan masih mendengar, suara yang hanya datang saat genting?

Senin, 28 Maret 1983
     Saat pelajaran Ekonomi dan Koperasi (Ekop), saya jadi kejutan.  Guru tertegun bagai menatap statistik yang gagal dikalkulasi.  Ia baru pertama kali melihat orang yang namanya Haris Bugis.
     "Selama 12 kali mengajar, kamu baru kali ini datang".
     Saya cengengesan seperti bocah yang dijanjikan gula-gula.  Saya kemudian dinasihati supaya rajin.  Sebenarnya saya juga bingung.  Ke mana saya selama ini sampai gaib 11 kali di pelajaran Ekop.  Apakah saya hantu Tamalanrea yang tidak andal membuka pintu kelas atau lupa caranya hidup di pesantren.

Sabtu, 24 September 1983
     Malam ini, kami kelas IV belajar bahasa Inggris.  Ustaz Ahmad Thib Raya memanggilku.  Muhammad Bubu turut pula dipanggil.  Ada sedikit problem sepele.  Pasalnya, saya dengan Bubu baru dua kali masuk pelajaran bahasa Inggris.  Padahal, sudah sembilan kali pertemuan.
     Ustaz Thib Raya seolah heran.  Bisa-bisanya ada santri tidak terdeteksi pelanggarannya dalam hal kehadiran di kelas.  Saya heran juga, bisa-bisanya guru ini mau dipusingkan oleh ulahku.  Mengapa pula ia repot-repot memusingkan kami.  Dikiranya ini perkara suci.  Mengapa kelas ini begitu peduli pada kehadiran.  Padahal, yang hadir belum tentu hidup, yang absen belum tentu mati.

Sabtu, 14 September 1985
     Saya bermuka masam gara-gara dituding tidak rajin masuk kelas.  Menurut dugaanku, justru saya tekun sekali.  Setidaknya, begitulah perkiraanku.  Apalagi, saya menyusun kerajinan dalam bentuk yang mustahil dicatat.
     Ustaz Abdul Kadir Massoweang akhirnya menyodorkan fakta.  Bukti di tangannya menegaskan bahwa kehadiranku di kelas di bawah 50 persen.  Rupanya catatan hadirku tak pernah penuh.  Ini sungguh tiada terperikan.  Bagaimana bisa?  Ini membuatku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal?  Saya mencoba mencari logika di pusaran absennya diriku.
     Saya menjelajah untuk menemukan diriku di antara absen serta hadir.  Barangkali saya memang tak pernah benar-benar ada.  Mungkin saya sekedar bayangan yang terlupakan.
     Bolos dari kelas maupun kabur dari kampus merupakan keahlian khusus saya selama di Pesantren IMMIM.  Saya nyaris leluasa melanggar kapan pun mau.  Tidak ada rantai yang tak kupatah.  Ini berkat jeli memperhitungkan kesempatan.  Fokus, tebak langkah ustaz sebelum ia bergerak.  Kenanglah ini, yang jeli bertahan, yang beringas menang.  Kiat ini yang membuatku sukses tamat kendati belepotan dengan pelanggaran berat bagai badai, bak bah.  Ingat manifesto ini: "Jangan takut melanggar!"


Kamis, 23 Oktober 2025

Sinema Santri


50 Tahun Pesantren IMMIM
Sinema Santri
Oleh Abdul Haris Booegies


#50tahunpesantrenimmim
#immim
#iapim
#pesantrenimmim

Kamis 22 November 1984
     Usai bersantap siang, kami kelas V Angkatan 80 berkumpul di masjid ath-Thalabah, Pesantren IMMIM.  Ada ceramah khusus dari Haji Fadeli Luran untuk kami sebagai calon kelas VI.  Tentu kami bangga karena bakal di level tertinggi kelas.
     Wejangan Fadeli Luran mengudara.  Mengalir bagai sungai jernih.  Ceramahnya tajam, namun, hatiku melayang ke layar perak.  Pikiranku pergi lebih jauh, menuju New Artis.  Film memanggilku lebih keras daripada seruan sadar.  Akibatnya, pukul 15.00, sepasang kakiku diam-diam memilih kabur.  Menyelinap di antara terik dengan debu.  Tidak ada yang mengejar, tidak juga rasa bersalah yang merintih di hati.
     Malamnya menyusup ke New Artis untuk nonton Yor, the Hunter from the Future.  Ini film sains fiksi fantasi Italia yang disutradarai oleh Antonio Margheriti.  Bintangnya Reb Brown.  Film ini merupakan adaptasi dari komik Argentina berjudul "Yor the Hunter".
     Di keremangan gedung bioskop, kefanaan film Italia ini menyihirku dari tugas-tugas pesantren.

Sabtu, 29 Desember 1984
     Di pagi cerah ini, saya kabur ke rumah.  Arloji menunjukkan waktu mendekati jam sembilan saat tiba di rumah, di Jalan Veteran Selatan.  Ini jalan yang hafal langkah pelarianku dari pesantren.
     Pukul 14.00, balik lagi ke kampus.  Saya ke Puskesmas.  Memberi kado ke Ari atas kesuksesan pernikahannya.  Dulu ia bibi (koki), kini berstatus istri Pak Mantri.  Cinta mereka bersemi di dapur.  Sekarang cinta syahdunya dieksekusi dengan stetoskop dan surat nikah.
     Malam menyeruak, Makassar Theater yang penuh sorak memanggil.  Saya kembali kabur dari pesantren.  Di bioskop ini nonton Comin' at Ya! yang gila.  Kacamata 3D dibagikan seperti wahyu.  Efeknya mirip jendela ajaib, dunia melompat keluar layar.  Tiap adegan hanya serasa sejauh lensa.  Sebagai remaja dengan dosa kecil, saya untuk pertama kali melihat dunia dalam tiga dimensi.
     Kacamata 3D menjadi saksi pelarianku.  Semua karena dunia nyata terasa hambar.  Di kacamata tersebut, tampak peluru meluncur ke wajahku.  Ini efek inovatif, mirip ragaku yang meloncat dari satu bioskop ke bioskop lain.  Batinku bertanya-tanya, apakah itu metafora dari hidupku.  Apakah 3D adalah iman, kenakalan dan bioskop?

Ahad, 24 Maret 1985
     Pukul 14.00, kabur dari pesantren.  Tujuanku bioskop New Artis atau Mitra.  Sesungguhnya tak penting ke mana, yang penting jauh dari tembok pucat pesantren.
     Ada yang aneh dengan penampilanku.  Sebab, saya sekenanya berpakaian.  Biasanya memakai baju putih dengan jins dipadu sandal hitam.  Hari ini, baju yang kukenakan lusuh persis lap.  Celana juga kusam.  Sementara sandal jepit yang kupakai bukan pasangannya.  Seperti suami-istri yang tak pernah cocok, tetapi, tetap bersama.  Sekali-sekala tak apalah tampil bak gembel biar jiwa bernapas bebas.  Sebab, terkadang dunia perlu diguncang sedikit supaya waras.  Namanya juga elegi jenaka ala santri IMMIM.
     Di New Artis, karyawati bernama H (inisial), heran.  Ia seolah tak mengenalku.  Saat kami berdekatan, ia memperhatikan sandal jepitku yang berbeda warna laksana cerita tak selaras.  Sorot matanya yang bingung lebih menyakitkan daripada nasihat pedas seribu kyai.
     H mungkin merasa mimpi memandangku.  Terpana menatap sandal jepit tak berjodoh di kakiku.  Ia seolah berhadapan dengan alien dari Planet IMMIM atau makhluk halus dari belantara lobi-lobi di belakang pesantren.  Cewek ini tak tahu bahwa bukan anak IMMIM kalau tidak sinting sedikit.
     Tak ingin mempermalukan diri jadi tontonan rekan-rekan H yang staf New Artis, kualihkan langkah ke Mitra.  Di sini nonton Midah Perawan Buronan.  Film yang dibintangi oleh Eva Arnas serta George Rudy.  Dialog di film ini, terkesan monoton seperti sebagian khutbah Jumat.
     Di rentetan adegan yang menampilkan tubuh Eva Arnas yang ranum menawan, saya merasa bebas.  Bahkan, bebas dari diriku yang serba salah.

Senin, 1 April 1985
     Saya dikeluarkan dari Pesantren IMMIM.  Ini gara-gara pelanggaranku tidak bisa lagi ditolerir.  Saban hari ada saja yang membuatku berseteru dengan aturan.  Bukan cuma dipecat, majalah dinding Superpower juga disita.  Dicurigai corong Hollywood.  Ustaz khawatir gaya Hollywood bisa menular ke santri-santri lewat tulisanku.  Padahal, selaksa asa di sanubariku cuma ingin minta tanda tangan Madonna, syukur-syukur bila dikasih pakaian dalamnya yang wangi.  Saya pasrah ketika dikeluarkan dari pesantren.  Sudah takdirku.
     Astaga, cuma mimpi.  Beruntungnya nasibku.  Saya berusaha tak memikirkan mimpi sialan tersebut.  Tentu saja saya tak memungkiri jika ketakutan lantaran dibidik untuk dipecat.  Rasa gentar itu merayap pelan bagai ular dingin.  Siapa pula mau diusir!  Ini sekolahku.  Ini kampusku.  Saya tak sudi digusur dari sepetak masa kecilku di Tamalanrea.
     Pagi hari, terlihat kelas VI begitu khusyuk.  Hari ini mereka Ebtanas.  Saya menghitung detak detik, tahun depan giliranku tamat.  "Bertahanlah, Haris!  Tinggal setahun lagi kau bebas ke bioskop".  Cihuy.
     Bioskop merupakan tempat pelarian eksistensial.  Sementara pesantren sebagai labirin moral yang kadang mirip studio film.  Sayangnya, prosa liris ini khatam di sini karena sebagai figuran di sinema IMMIM, saya tak pernah hafal naskahnya.  Semua terjadi karena saya cuma anak pesantren yang tersesat di antara doa dengan film.


Senin, 20 Oktober 2025

Reuni Kupu-Kupu


50 Tahu Pesantren IMMIM
Reuni Kupu-Kupu
Oleh
Abdul Haris Booegies

 
     Syahdan di suatu siang nan cerah di depan asrama Aisyah, Pesantren IMMIM Putri, Minasa Te'ne, Pangkep.  Lima kupu-kupu betina cantik bersua di dahan pohon akasia yang rindang.
     "Besok kita bertemu lagi di sini", pinta Pieris Rapae, si putih mungil dengan sayap lembut berpola halus.
     "Setuju, kita merayakan pertemuan hari ini dengan reuni besok", ujar Danaus Plexippus, ratu migran yang anggun.
     "Kita isi acara dengan terbang ke sungai Leang Kassi", usul Papilio Spp, sang penari liar dengan ekor sayap yang panjang.
     "Terbang di atas sungai membuat gairahku membuncah", timpal Nymphalus Antiopa sambil menyeringai genit, mata hitamnya berkedip-kedip.
     "Mengapa tidak sekarang kita ke Leang Kassi?" Bertanya Vanessa Cardui dengan suara penuh semangat polos.  Ini kupu-kupu termuda.
     "Besok Jumat.  Banyak santriwati ke Leang Kassi untuk mandi sekaligus mencuci.  Kita bisa menguping senda-gurau mereka", tegas Danaus sambil mengibaskan sayap jingga-hitamnya.
     Vanessa menggeleng pelan.
     "Sesungguhnya, bukan bagaimana menyelinap untuk mengintip gerak-gerik atau mendegar senda-gurau.  Sebab, kita dapat menciptakan kenangan manis di mana saja dengan memberi sentuhan makna pada momen apa pun yang terjadi", gumam Vanessa lirih.  Suaranya hampir hilang di hembusan angin.
     Mendadak hening merayap.  Pieris, Danaus, Papilio maupun Nymphalis hanya saling pandang.
     "Tunggu saja kami besok", tandas Papilio yang paling senior.  Keempatnya lantas mengepakkan sayap secara pelan.  Mereka terbang pergi.  Meninggalkan Vanessa sendiri di dahan akasia.
     Fajar menyingsing.  Hari berganti.  Vanessa tiba di akasia.  Menanti keempat sahabatnya dengan harap yang menggelegak.
     Di atas akasia, Vanessa memperhatikan hiruk-pikuk aktivitas santriwati.  Vanessa sontak merindukan menjadi santriwati.  Mencuci pakaian dengan sabun colek berbusa tebal.  Mencicipi ikan kering goreng renyah, menu spesial santriwati.  Membeli kue-kue enak di warung Dg Raisa.
     Setelah seharian menunggu, terdengar azan Magrib.  Hati Vanessa gundah-gulana.  Empat rekannya belum menampakkan batang hidung.  Padahal, berjanji ke Leang Kassi sebelum Zhuhur.
     "Vanessa, sedang apa kau menyendiri di senja ini?"  Suara lembut dari belakang menyapa.  Kiranya Parnassius Apollo, yang leluhurnya berasal dari pegunungan di Eropa.  Sayapnya putih dengan bintik hitam dan merah.  Ia kerap dianggap simbol keindahan alam.
     "Saya menunggu Pieris, Danaus, Papilio serta Nymphalus", jawab Vanessa, suaranya lirih.
     "Ya ampun, mereka sudah mati".
     "Mati?"  Bisik Vanessa, hampir tak terdengar.  Ia ingin menangis, tetapi, tak punya air mata.
     "Ya, mati.  Kita harus bersyukur, Vanessa.  Usia kita rata-rata 40 hari.  Bandingkan dengan lalat capung yang cuma satu hari.  Nyamuk jantan sekitar satu pekan.  Lalat rumah sampai satu bulan".
     "Saya berusaha bersyukur, Apollo.  Saya sudah hidup di dunia ini selama 35 hari.  Saya mengalami getir-gelisah kehidupan.  Saya ingin sisa hidupku yang lima hari ini lebih indah.  Mau menciptakan kenangan manis di mana saja dengan memberi sentuhan makna pada momen apa pun yang terjadi", tutur Vanessa dengan nada sendu bercampur tekad.
     "Kamu betul Vanessa.  Kau bijak.  Kita merajut kenangan dengan mematuhi aturan.  Kau lihat santriwati yang sedang garuk-garuk punggung itu?"
     "Santriwati yang keluar dari asrama Khadijah itu?  Apakah ia sakit?"  Mata Vanessa berkilat ingin tahu.
     "Tidak, ia bandel.  Tadi malam disuruh tidur, justru mengendap-endap bersama komplotannya ke dapur untuk nonton serial Bionic Woman di TV.  Tatkala sejumlah ustaz menggerebek, ia lari bersembunyi di atas pohon.  Malang nian, di situ sudah siaga semut rangrang (gorella) seolah membantu ustaz.  Dengan tubuh merah jingga menyala yang dipadu rahang kuat dan tajam bak silet, ia menggigit santriwati sial itu sampai jatuh berdebam.  Ini membuat gengnya yang tercekam mendadak terpingkal-pingkal.  Soalnya, adegan jatuh tersebut lebih lucu ketimbang fragmen-fragmen di America's Funniest Home Videos.  Tahukah kau Vanessa, sebentar malam ia pasti ke dapur lagi nonton.  Sebab, bukan anak IMMIM kalau tidak sinting sedikit".
     "Mungkin Kiamat telah dekat".
     "Boleh jadi Kiamat sudah dekat lantaran perilaku kian susah diatur.  Perhatikan itu Dg Raisa yang berjalan di samping asrama Maryam.  Ia menggaruk-garuk kepala gara-gara dagangannya rugi lagi.  Artinya, ada santriwati nekat ambil kue tanpa membayar", ungkap Apollo sembari terkekeh, sayapnya bergetar riang.
     "Kalau begitu, saya tak mau jadi manusia", canda Vanessa seraya tertawa kecil.
     "Betul, jadi manusia itu ribet.  Sarat problem.  Mempersulit yang mudah, mempermudah yang sulit.  Siang-malam menggagas aturan, namun, tak mematuhinya kecuali makin meruwetkan kehidupan", sembur Apollo bersemangat.
     Vanessa mengatupkan sayapnya.  Memandang langit senja yang mulai memudar.
     "Saya mau menciptakan kenangan manis di mana saja dengan memberi sentuhan makna pada momen apa pun yang terjadi", tutur Vanessa seiring tubuhnya yang bergetar menjadi kupu-kupu rapuh.  Hidup bukan tentang menunggu, melainkan tentang memberi makna pada tiap kepakan sayap yang tersisa.


Sabtu, 18 Oktober 2025

Misteri Buku Harian Fadeli Luran



Misteri Buku Harian Fadeli Luran
Oleh Abdul Haris Booegies


     Nama Haji Fadeli Luran tidak asing bagiku saat masih SD.  Seorang putrinya menikah dengan keponakan istri paman saya.  Sementara Gedung IMMIM berhadapan dengan rumah kakek-nenek saya.
     Pada Juli 1980, saya pun melihat langsung sosok Fadeli Luran.  Kala itu, saya santri baru.  Perawakannya tinggi menjulang.  Sorot matanya sangat tajam.  Lawan bicara bisa lunglai jika nekat menatap matanya secara langsung, kecuali memakai kacamata hitam.
     Tatkala Fadeli Luran wafat pada 1992, saya ditugaskan oleh rekan alumni Pesantren IMMIM untuk menulis sekilas riwayatnya.  Saya lantas mewawancarai sejumlah tokoh masyarakat Ujung Pandang, termasuk HM Dg Patompo, eks Wali Kota.
     Di suatu malam, saya ke lantai dua Apotek Rahmah.  Di situ bertemu Ahmad Fathanah, putra Fadeli Luran.  Ia memperlihatkan sebuah buku tulis kusam.  Sampulnya tebal khas buku tahun 70-an.  Fathanah berniat menerbitkannya sebagai buku berseri.
     Kitab antik tersebut berisi khazanah pemikiran Fadeli Luran selama mengikuti perjalanan bersama Buya Hamka.  Ia rutin mencatat gejolak ide di bukunya, semacam buku harian.
     Malam itu, saya tak mau memegang buku tersebut.  Pasalnya, saya belum rampung mewawancarai tokoh-tokoh yang terkait Fadeli Luran.  Saya tidak ingin terlibat dalam penerbitan buku itu agar dapat berkonsentrasi di wawancara.
     Pada 2021, saya menghubungi seorang putri Fadeli Luran.  Meminta sebuah konfirmasi tentang data Fadeli Luran.  Dalam obrolan telepon tersebut, saya ungkap perihal buku bersampul tebal pada 1992.  Rupanya ia tak tahu-menahu soal buku itu.
     Buku tersebut ternyata raib.  Entah siapa sekarang menyimpannya.  Saya curhat ke sejumlah rekan mengenai buku itu.  Saya menyesal, mengapa dulu tidak mengambilnya sebagai bentuk antisipasi.
     Di momen 50 tahun Pesantren IMMIM (1975-2025), saya senantiasa berharap "buku harian" Fadeli Luran ditemukan.  Buku tersebut menyimpan aneka pemikiran mengenai keislaman.  Saya saksi atas buku itu, tetapi, sekedar melihatnya saja.  Tiada sedetik pun menyentuhnya.  Kini, setelah 33 tahun (1992-2025) berlalu, adakah keajaiban santri IMMIM untuk menyingkap misteri keberadaan kitab kuno tersebut?


Amazing People