Sabtu, 21 Juli 2012

Menyimak al-Qur'an Lewat Terjemah


Menyimak al-Qur’an
Lewat Terjemah

Oleh Abdul Haris Booegies

      Astagfirullah. Semua terperangah bin terperanjat. Ada pejabat Kementerian Agama bersama anggota Badan Anggaran DPR berstatus tersangka korupsi al-Qur’an. Ini baru berita. Bayangkan, al-Qur’an dikorupsi. Untung yang dikorupsi adalah lembaran-lembaran fulus. Bukan korupsi untuk memelencengkan arti al-Qur’an.
      Proyek pengadaan al-Qur’an di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama pada 2011-2012, yang bernoda korupsi begitu mengiris kalbu. Korupsi al-Qur’an tentu tak terkait dengan agama. Ini murni mental manusia Indonesia yang doyan korupsi.
      Anggaran al-Qur’an boleh jadi rawan dicoleng, tetapi, tidak bagi ayat-ayat Allah. Sekalipun al-Qur’an telah mengarungi kurun waktu 14 abad, namun, sampai sekarang belum ada satu titik dan aksara al-Qur’an yang terkorupsi. Ini tergolong ajaib.
      Al-Qur’an sulit dinodai karena berpuluh ribu orang menghafal al-Qur’an. Para hafiz (penghafal al-Qur’an) inilah yang menjaga ayat-ayat Allah dari distorsi. Sementara terjemahan al-Qur’an yang beragam dalam sebuah bahasa, juga mustahil melenceng. Sebab, seluruh terjemahan mutlak melampirkan teks asli. Kalau terjemahan tak menautkan naskah otentik, bermakna kitab suci bersangkutan rentan dari pemalsuan. Ini gara-gara ketiadaan sumber untuk mengecek keabsahannya.
      Terjemah al-Qur’an bukan al-Qur’an sesungguhnya. Bukan al-Qur’an sejati yang diwahyukan kepada Maha Rasul Muhammad. Al-Qur’an senantiasa berbahasa Arab klasik. Tidak dinamakan al-Qur’an jika firman-firman Allah tersebut disadur ke bahasa Bugis atau Perancis. Soalnya, terjemah muskil menampung seratus persen maksud al-Qur’an. Alih bahasa mustahil sepadan dengan arti hakiki yang dimaksud Allah. Apalagi, bahasa al-Qur’an bernas, ringkas, puitis sekaligus sarat makna. Sedangkan aneka bahasa yang digunakan dalam terjemah tak efektif serta efisien.

Puitis
      Terjemah al-Qur’an hanya deretan kata manusia, bukan untaian Kalam Ilahi dari Lauhul Mahfuz. Hingga, terjemah al-Qur’an tidak hidup, tak punya sukma yang bisa menggelorakan spirit. Terjemah al-Qur’an selalu kaku dan acap membingungkan. Dengan demikian, posisi terjemah sekedar “pengantar” untuk membaca al-Qur’an. Bukan “kunci” buat memahami al-Qur’an.
      Terjemah al-Qur’an tidak pernah serupa. Terjemah senantiasa tampil beda. Aspek itu menandaskan bahwa terjemah tak mungkin setara dengan al-Qur’an. Maklum, Kalam Ilahi tersebut memiliki irama dalam teks, kejelasan makna, sintaks kalimat serta penggunaan kata.
      Terjemah al-Qur’an secara harfiah (letterlejk) termasuk repot diaplikasikan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa terjemah harfiah rumit lantaran membutuhkan persyaratan yang berat direalisasikan. Terjemah harfiah susah karena ada mufradat (sinonim) per huruf antara bahasa penerjemah dengan bahasa al-Qur’an. Kemudian ada tanda baca yang sama pada bahasa penerjemah terhadap tanda baca pada bahasa al-Qur’an. Tanda baca tersebut minimal mirip. Selain itu, terjemahan secara harfiah menuntut kesamaan susunan kata antara bahasa penerjemah dengan bahasa al-Qur’an. Kesamaan tersebut mencakup kalimat, sifat atau tambahan-tambahannya. Terjemah harfiah diharamkan ulama akibat arti yang dikandungnya kurang sempurna. Hatta, jauh dari maksud al-Qur’an.
      Walau sukar, tetapi, ada terjemah yang benar-benar setia pada kata-kata dalam al-Qur’an. Mereka berusaha selaras dengan wahyu. Sebab, khawatir mengaburkan makna. Mereka menjaga interpolasi pikiran.
      Terjemah tidak lepas pula dari platform sastra. Terjemah berdimensi puitis itu diperkaya dengan nuansa keindahan bahasa si penerjemah. Dalam kasus ini, penerjemah dapat digolongkan sebagai figur liberal. Pasalnya, menyuntikkan semangat bahasa ibu si penerjemah ke dalam terjemah. Mereka tak menyukai kesetiaan pada tiap kata-kata Arab. Penerjemah semacam ini menggunakan kebebasan dengan kata-kata pilihan.
      Di berbagai bentala, ada terjemah yang benar-benar akademis. Ada juga sekedar informatif dengan bumbu bahasa jurnalistik sastrawi. Tiap kalimat tidak setia dengan kata per kata al-Qur’an. Spirit yang diemban ialah bagaimana al-Qur’an cepat diserap dan tak membosankan ditelaah.
      Pada akhirnya, seluruh terjemahan dilandasi vitalitas agar Kalam Ilahi tersebut membuncah di hati. Tiada seorang pun ingin menampilkan terjemahan ala kadarnya. Elemen itu pula yang membuat segenap terjemahan wajib dilengkapi di sisi kanan atau atasnya teks al-Qur’an tulen yang berbahasa Arab. Alhasil, bila ada yang salah atau keliru, maka, pembaca segera menengok al-Qur’an asli.
      Terjemah apa saja terasa sempurna kalau dilampiri al-Qur’an sejati. Pasalnya, al-Qur’an berbahasa Arab tersebut sanggup berpengaruh secara psikologis terhadap pembacanya, biarpun ia tidak mengerti bahasa Arab.

Ta’zim
      Di luar negara-negara Arab, istilah paling membingungkan dalam al-Qur’an yakni kata nahnu. Dhamir (kata ganti) nahnu berarti kita atau kami. Dalam ilmu Nahwu, nahnu bisa diterjemahkan kita, kami, saya atau yang lain tergantung konteks kalimat.
      Dalam bahasa Arab, istilah serta kata tak selalu bermakna zahir atau apa adanya. Sebagai contoh, kata antum (kalian). Antum sering dipakai untuk menyapa lawan bicara kendati cuma satu orang. Tidak digunakan kata anta (kamu). Pemakaian antum yang plural dianggap lebih sopan sembari menghargai lawan bicara.
      Di Indonesia, orang menyapa lawan bicara dengan kamu, Anda atau tuan. Kamu, Anda dan tuan punya rasa bahasa yang berbeda. Kamu biasa digunakan untuk lawan bicara yang lebih muda atau di kalangan sebaya. Anda dipakai kepada lawan bicara yang dituakan. Sementara tuan buat orang yang dimuliakan. Anda serta tuan dalam sosio-linguistik Arab berarti ta’zim alias kata beradab terhadap lawan bicara yang memiliki derajat tinggi atau kepada khalayak.
      “Kami” merupakan sebutan Allah untuk diri-Nya. Dalam bahasa Arab, ada jamak kuantitas dan jamak kualitas. Jamak kuantitas (al-mutakallim ma’a ghairihi) menunjukkan jumlah banyak atau kata ganti orang pertama plural. Sedangkan jamak kualitas (al-mutakallim al-muazzim li nafsih) menerangkan pola tunggal dengan banyak predikat atau bermakna keagungan atas dirinya.
      Allah menegaskan diri dengan “Kami” berkat predikat di sisi-Nya berjumlah banyak. Zat Esa itu tercantum sebagai pencipta, pengatur, pemelihara, pemaaf, penyayang serta Raja Diraja alam semesta. Allah tak tidur! Ia sibuk terus mencipta seraya mendengar doa insan saleh.
      “Semua makhluk di langit dan bumi senantiasa memohon kepada-Nya. Tiap waktu Ia sibuk (mencipta serta memelihara makhluk-makhluk-Nya)” (ar-Rahman: 29).
      Saat membaca al-Qur’an, maka, bertabur kata Allah dalam Kitab Suci. Harap dimafhumi bahwa nama asli penguasa langit dan bumi tiada lain Allah. “Aku ini Allah. Tiada Tuhan kecuali Aku!” (Thaha: 14).
      Allah sendiri memaklumatkan jika nama-Nya adalah Allah. Allah merupakan nama diri (proper name) dari Zat Maha Kuasa. Dalam kaidah bahasa Arab, kata Allah berwujud ism jamid. Kategori tersebut menjabarkan bila kata Allah bukan ism yang diambil dari kata kerja. Arkian, tidak boleh diubah dalam bentuk apa pun!

(Caktawala, Sabtu, 21 Juli 2012)






































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People