Sabtu, 27 Desember 2025

Mimpi Kematian


Mimpi Kematian
Oleh Abdul Haris Booegies


     Ahad, 14 Desember 2025, saya bangun pada pukul 03.08.  Tadi mimpi bertemu Awaluddin Mustafa bersama empat rekan seangkatan dari Pesantren IMMIM.  Saya tak bisa merekonstruksi hikayat dalam mimpi tersebut.  Hanya satu adegan yang menancap kuat; ada kerusakan listrik.  Seolah sebuah sensasi ganjil yang mengakibatkan bunga tidur mendadak sirna.
     Ahad berikutnya pada 21 Desember 2025, saya terjebak dalam mimpi lain.  Mimpi berada di area parkir bioskop Paramount.  Saat hendak pulang ke rumah, saya ke Jalan Andalas menunggu bemo.  Ketika berada di bemo, kendaraan roda tiga ini mogok.  Akhirnya didorong.  Bemo singgah di persimpangan menunggu penumpang.  Ada bocah lelaki yang terbungkus kain karena sakit parah.  Dibopong naik ke bemo oleh pria yang merupakan dukun.  Seorang wanita berbisik bahwa dukun ini dulu kurus sekali.
     Saya bertanya dalam hati.  Di mana dulu dukun ini saya lihat?  Saya mau tahu alamatnya.  Pertanyaan ini menggantung, tak sudi disapa jawaban.
     Saat bangun, saya tak menggubris mimpi ini.  Tidak pula terkesan dengan anak yang dibungkus kain di sekujur tubuhnya serta dukun kurus.
     Kamis, 25 Desember 2025 pada pukul 07.53, saya buka Facebook.  Di beranda tertera postingan Arfandi Dulhaji tentang kematian Awaluddin Mustafa.  Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
     Saya periksa tanggal unggahan.  Ternyata sudah tiga hari.  Bagaimana bisa saya tidak menyadari kabar duka yang membuat kita membeku?  Akibatnya, warta yang menusuk hati ini telat direspons.  Saya menyalahkan diri gara-gara tak becus memantau garis waktu beranda media sosial.
     Pukul 08.39, bertemu Muhammad Ardis (Iapim 7985).  Kronologi kepergian Awaluddin pun terkonfirmasi.
     Awaluddin wafat pada Sabtu malam, 20 Desember 2025.  Selama beberapa hari, ia diopname di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo.  Awaluddin mengalami komplikasi ginjal.  Ia rutin cuci darah tiga kali sepekan.  Tubuhnya kurus sekali.  Sebuah perjuangan diam yang tak banyak orang tahu.
     Kepergian Awaluddin membuatku terkenang mimpi di malam kematiannya.  Mimpi mengenai bocah yang terbungkus kain karena sakit kritis serta dukun kurus.  Teringat pula mimpi sepekan lalu pada 14 Desember.  Ini mimpi ketiga yang berakhir kematian.  Mimpi ini seolah mengisyaratkan perpisahan, sebuah pertanda yang tak terucap.  Kasus ini menunjukkan korelasi yang mengerikan antara khayalan di malam hari dengan realitas pahit yang terjadi.
     Syahdan, satu bulan sebelum Muchlis Mochtar (Iapim 7682) meninggal, saya mimpi.  Saya berada di sebuah rumah.  Terlihat ramai oleh pemuda.  Saya bersua dengan seorang Iapim putri 7985.  Kami memilih masuk kamar tidur.  Mengobrol di atas ranjang.  Mendadak muncul S (Iapim 7682).  Saya heran, mengapa ia datang ke kediaman ini.  Selama ini, S berkarier di Jakarta.  Sepenting apa sebenarnya keramaian di rumah ini.
     "Acara apa ini?"  Saya bertanya.
     "Ada teman yang meninggal".
    Sekitar 30 hari berselang, di Facebook muncul postingan.  Muchlis Mochtar meninggal.  Saya tersentak.
     Selama beberapa menit, selalu terngiang ucapan S dalam mimpi; "ada teman yang meninggal".  Kiranya yang ia maksud adalah "ada seangkatanku yang wafat".  Astaga, ini semacam ramalan yang terlambat disadari.  Kalimat tersebut bukan sekadar informasi, melainkan sinyal yang kedaluwarsa saya pahami. Betapa dekat mimpiku dengan kenyataan.
     Selasa, 26 November 2024, saya terjaga selepas pukul 00.00.  Saya berusaha tidur kembali.  Upayaku sia-sia.  Mata terpejam, namun, pikiran berkelana bagai burung liar yang terbang tak menemukan dahan.
     Saya bangkit dari pembaringan.  Penanda waktu di dinding menunjukkan jam setengah dua.  Saya kembali ke ranjang.  Berdoa agar bisa tidur sembari bangun pada pukul 04.00.
     Setelah nyenyak beberapa menit, saya terbangun.  Membatin bahwa tadi saya tertidur sekitar jam dua.  Saya juga mimpi berada di Pesantren IMMIM.  Ini mungkin mimpi ke-60 tentang pesantren sejak tamat pada 1986.
     Dalam mimpi itu, saya baru tiba dari kota.  Saya tidak langsung ke kamarku di bilik I rayon Pangeran Diponegoro.  Saya ke depan asrama Sultan Hasanuddin.  Dari sana lantas ke bangsalku.  Suasana di bilik tampak sama seperti dulu.  Satu-satunya yang berubah, saya ditempatkan di kamar I.  Dulu di kamar II.
     N (Iapim 7985) yang ranjangnya di sudut Barat Daya, muncul sambil melantunkan al-Mulk.  Saya mengikuti melagukan surah tersebut sambil berjalan keluar.  Mimpi lantas lenyap, meninggalkan rasa penasaran yang menggantung.
     Pukul 09.42 pada 26 November 2024, saya mengucek-ucek mata memandang postingan Arfandi.  Apakah ini benar?  Wahyuddin Naro meninggal dunia pada pukul 02.00.
     Saya menapak tilas momen tengah malam yang tadi dilewati.  Selama dua jam saya tersiksa tidak dapat tidur sejak pukul 00.00.  Gelisah berada di pembaringan berkawan sepi serta sunyi.  Pukul 02.00 baru bisa terlelap.  Kala tidur, mimpi merapal al-Mulk bersama N.  Surah yang identik dengan kuburan ini, rutin saya lafalkan saat joging sejauh 4 km pada pukul 05.30.
     Bulu roma bergidik.  Rupanya saya dapat isyarat lewat mimpi jika seorang rekan seangkatan wafat.  Tidak terbayang bahwa mimpiku sesungguhnya kurir kabar duka.  Pantas dalam mimpi, saya ke depan asrama Sultan Hasanuddin berdiri bingung sejenak.  Di situ dulu Wahyuddin tinggal ketika kelas I.
    395 hari bakda kematian Wahyuddin, petaka kembali mengoyak Iapim 8086.  Awaluddin menyusul Wahyuddin.  Kematian Awaluddin niscaya menimbulkan luka mendalam di Angkatan 80.  Kepergiannya menimbulkan efek signifikan.
     Awaluddin merupakan figur yang disegani.  Dadanya berisi tumpukan empati.  Wataknya lembut, tidak agresif.  Lebih memilih diam ketimbang melukai perasaan.
     Empat tahun silam, Lukman Sanusi yang tinggal di Sudiang menyuruhku membeli rumah di sekitar Daya.  "Supaya kita bertiga dengan Awal saling berdekatan", ujar Lukman.  Kalimat itu sekarang terdengar sebagai rencana yang tak sempat selesai.  Kuncup hasrat layu sebelum mekar.
     Kini, mimpi pada 14 Desember 2025, menyisakan pertanyaan.  Mimpi tersebut masih membayang, laksana kabut pagi yang enggan menguap.  Pertama, listrik mengalami gangguan.  Apakah ini berarti jemaah 8086 bakal redup tanpa cahaya dalam kegiatan Iapim pascakematian Awaluddin?  Kedua, dalam mimpi itu ada lima anggota komunitas 8086.  Siapa keempat alumni itu?  Apakah mereka sekadar figuran dalam bunga tidur?  Apakah alam lain segera memanggilnya, satu per satu?
     Dalam pencarian makna di antara benang-benang mimpi serta kenyataan, saya merasa terperangkap.  Terjebak dalam jalinan takdir yang saling berhubungan.  Ini menandaskan bahwa di antara mimpi dan kenyataan, tampak kematian bekerja pelan.  Serupa listrik yang padam tanpa suara.  Hingga, membiarkan kita menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
     Di balik mimpi-mimpi ini, ada makna hakiki yang bergelora.  Ikatan persahabatan alumni Pesantren IMMIM tak pernah putus, sekalipun nyawa sudah sampai di tenggorokan.


Selasa, 23 Desember 2025

Menulis Ekonomi


Menulis Ekonomi
Oleh Abdul Haris Booegies


     Di gelombang akhir era 80-an, ada sekitar 10 mahasiswa penulis di Ujung Pandang yang didominasi Universitas Hasanuddin.  Di masa itu, saya memilih fokus menulis di koran terbitan Jawa.  Ingin menguji sayap di angkasa media populer Jawa.  Ada semacam gengsi personal di situ.
     Tiada sudi diri ini berkubu di kandang sendiri.  Saya tak berhasrat menjadi jago kandang.  Dipuji di halaman yang sama tiap pekan oleh lingkaran yang sama pula.
     Naskah-naskah saya pun berlayar jauh.  Hingga, bisa menembus harian Republika (Jakarta), Pelita (Jakarta), Jayakarta (Jakarta), Terbit (Jakarta), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta) dan Surya (Surabaya).  Bahkan, berkali-kali terpublikasi di harian Banjarmasin Post.
     Tiap pemuatan di media Jawa terasa bagai aksara paku di prasasti.  Bukti bahwa karya tulis bisa hidup di luar kampung halaman.  Dipuja-puji di iklim redaksi yang asing sekaligus sering dingin tanpa minat.
     Awalnya, puas merangkai kalimat di wilayah yang akrab bagi peminat humanisme.  Membahas agama dengan misteri iman, sosial dengan denyut masyarakat, sejarah yang menyimpan lapisan debu waktu, budaya yang kaya warna serta film yang sarat imajinasi.
     Lambat-laun, merasa jenuh cuma menyentuh masalah agama, sosial, sejarah, budaya serta film.  Apalagi, ini memang wilayah yang akrab bagi komunitas sastra.  Semua yang saya tulis merupakan tempat metafora dan narasi punya ruang bernapas.  Kini, membahana godaan lain yang mengintai.  Berkehendak menyusup ke ranah yang tak terpisahkan dari hitung-hitungan.  Saya kepincut menulis ekonomi.  Bidang yang terdengar kering, penuh grafik serta istilah yang terasa lebih dekat dengan papan tulis ketimbang mesin tik.  Tantangannya berlipat ganda lantaran latar belakang saya sebagai mahasiswa sastra.  Di Unhas, ini satu-satunya fakultas yang tidak belajar matematika.  Di sinilah ruwetnya.  Sebab, ekonomi terjalin erat dengan angka dan rumus.  Di titik ini keruwetan dimulai.
     Menulis ekonomi bukan sekadar memperluas topik.  Ini adalah pertaruhan identitas.  Sejujurnya, ini bukan hanya akan mengejutkan para pesaing, tetapi, juga menaikkan posisi saya sebagai penulis yang tak mudah ditebak.  Ini bakal menaikkan status sebagai penulis andal yang sanggup meramu apa saja dengan kata.
     Saya kemudian belajar laksana insan kelana yang masuk ke wilayah asing tanpa peta.  Membekali diri dengan berlangganan harian Bisnis Indonesia dan mingguan Kontan.  Membeli secara eceran harian Neraca serta mengoleksi majalah ekonomi.
     Tatkala menulis kolom di majalah Panji Masyarakat, saya mulai menyelipkan kalimat-kalimat bernuansa ekonomi.  Sekedar sisipan kecil berupa angka, istilah maupun logika pasar.  Ini serupa menyulam benang emas ekonomi ke kain sutra sastra.  Ini tahap coba-coba untuk uji nyali.  Rasanya seperti menanam benih di tanah yang belum pernah digarap.  Ini eksperimen sebagaimana cerpenis yang diam-diam belajar menulis laporan investigasi.
     Syahdan di suatu hari, kejutan datang.  Artikelku perihal ekonomi dimuat di sebuah harian.  Saya membaca nama sendiri dengan rasa tak percaya.  Bagaimana bisa?  Artikel tersebut dikirim sebagai spekulasi, tanpa keyakinan penuh serta harap besar.  Barangkali redaksi mengangkatnya berkat muatan sudut pandang.  Boleh jadi pula karena merasa aneh dengan bahasa jurnalisme sastrawi yang saya praktekkan.
     Sampai hari ini, saya masih sering termangu.  Bisa-bisanya saya menulis ekonomi.  Saya tercengang, bisa-bisanya persoalan pasar, kebijakan dan angka-angka dapat diramu dengan bahasa jurnalisme sastrawi.  Saya tercenung, bisa-bisanya anak sastra masuk ke wilayah yang hampir steril dari metafora.
     Barangkali di situlah pelajarannya.  Ekonomi bukan sekadar tabel serta persentase, melainkan cerita tentang hasrat, pemerataan rezeki dan pilihan manusia.  Pada akhirnya, di mana ada cerita, di situ sastra senantiasa menemukan jalannya.


Sabtu, 13 Desember 2025

Jumat, 12 Desember 2025

Kamis, 11 Desember 2025

Rabu, 10 Desember 2025

Amazing People