Rabu, 06 Januari 2016

Terjemah Surah an-Naml versi Abdul Haris Booegies



27. an-Naml
(Semut)
Dengan Nama Allah, Pemilik Kasih Sayang yang Mahapemurah

Ayat 1 Surah an-Naml
     Thaa Siin.  Ini untaian ayat al-Qur’an.  Memuat penjelasan nan terang perihal persoalan hidup manusia.
[An-Naml tergolong surah at-Thawasin, yaitu surah yang diawali Tha Sin.  Surah ini dianggap pengganti Zabur.  An-Naml disebut kitab nan terang.  Sebab, al-Qur’an jelas faktanya.  Ini terkait penggalian artefak kuno.  Misalnya, puing-puing Kota al-Hijr bisa disaksikan hari ini]

Ayat 2 Surah an-Naml
     Surah ini petunjuk sekaligus berita gembira untuk insan saleh.

Ayat 3 Surah an-Naml
      Insan saleh yaitu orang yang mengerjakan shalat serta memberi zakat.  Mereka yakin pula ada Akhirat.

Ayat 4 Surah an-Naml
     Manusia yang tiada percaya Akhirat.  Kami perindah perbuatan buruknya dalam angan-angan.  Hingga, bergelimang kesesatan.

Ayat 5 Surah an-Naml
     Siksa buruk bagi mereka di dunia.  Di Akhirat mereka sangat rugi.

Ayat 6 Surah an-Naml
     Engkau wahai Maharasul Muhammad, menerima al-Qur’an dari Allah yang Mahabijaksana serta Mahatahu.

Ayat 7 Surah an-Naml
     Renungkan tatkala Nabi Musa bersabda kepada istrinya: “Saya melihat api.  Tinggallah di sini.  Nanti saya akan bawa kabar dari pemilik api untuk menunjukkan arah mana yang hendak dituju.  Saya juga bakal meminta secercah api supaya kamu bisa menghangatkan tubuh”.
[Ayat ini menandaskan kalau Nabi Musa tersesat saat berjalan dari Madyan ke Mesir.  Ketika melihat cahaya yang berasal dari api, semangat Nabi Musa melonjak.  Ini bisa ditelusuri dari penggunaan kata “anastu” yang berarti melihat sesuatu yang menggembirakan.  Nabi Musa tidak memakai kata “nazhartu” atau “ra’aitu” yang sama-sama bermakna melihat.
     Nabi Musa meminta istrinya agar menunggu.  Ia akan bertanya kepada pemilik api mengenai arah tepat menuju tujuan.  Ia juga berniat meminta sesuluh api untuk istri dan keluarganya yang diterpa angin malam.
     Ayat ini juga menjelaskan kalau perjalanan Nabi Musa terjadi di musim dingin]

Ayat 8 Surah an-Naml
     Saat tiba di Lembah Thuwa, tempat api menyala.  Terdengar suara berseru.  “Berkah berlimpah bagi Nabi Musa yang berada di dekat api ini.  Diberkahi pula para malaikat yang berada di sekeliling api ini.  Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam”.
[Ayat ini menunjukkan pelantikan Musa sebagai nabi.  Tugasnya mengingatkan Fir’aun tentang kedurhakaannya.  Jika Fir’aun bertobat, berarti umat Yahudi merdeka di Mesir.  Kalau Fir’aun tetap mengingkari risalah yang disampaikan Nabi Musa, maka, keturunan Israil harus dikeluarkan dari Mesir]

Ayat 9 Surah an-Naml
     “Hai Musa!  Saya ini Allah yang Mahaperkasa Mahabijaksana”.

Ayat 10 Surah an-Naml
     “Lemparkan tongkatmu!”  Ketika melihat tongkat tersebut menjelma naga yang bergerak gesit.  Nabi Musa berbalik lari tanpa menoleh.
     “Hai Musa!  Jangan takut!  Sebab, Rasul yang menghadapKu menerima wahyu tidak patut gentar”.
[“Tidak patut gentar” maksudnya para nabi tak boleh takut terhadap peristiwa-peristiwa ajaib yang diperlihatkan Allah.  Contohnya, tongkat yang berubah naga]

Ayat 11 Surah an-Naml
     “Orang yang zalim lalu berperilaku terpuji.  Ia dimaafkan karena Aku Mahapengampun.  Aku Mahapenyayang”.

Ayat 12 Surah an-Naml
     “Sentuh ketiakmu.  Tanganmu niscaya bersinar, bukan karena cacat.  Aku mengutusmu dengan membawa sembilan mujizat untuk dipertontonkan di hadapan Fir’aun serta kaumnya dari bangsa Qibtiah.  Mereka fasik”.
[Nabi Musa diberi sembilan mujizat untuk mengantisipasi ancaman Fir’aun.  Sembilan mujizat Nabi Musa yang disepakaiti ulama yakni tongkat yang menjelma naga, tangan yang memancarkan sinar, wabah belalang, wabah katak, wabah serangga yang menyerang tanaman, air minum berubah darah, musim kemarau panjang, mendatangkan badai dan membelah laut.
     Tangan yang bercahaya merupakan penerang jalan bagi Nabi Musa]

Ayat 13 Surah an-Naml
     Saat mujizat-mujizat Kami disaksikan Fir’aun dan antek-anteknya.  Mereka berceloteh; “ini sihir belaka!”
[Fir’aun bersama puak Qibtiah menuduh mujizat Nabi Musa hanya aksi tipu mata]

Ayat 14 Surah an-Naml
     Mereka mengingkari karena kezaliman dan keangkuhannya.  Padahal, hati mereka meyakini kebenarannya.  Perhatikan akhir riwayat para pembangkang.

Ayat 15 Surah an-Naml
     Kami anugerahkan ilmu kepada Nabi Daud bersama Nabi Sulaiman.  Keduanya mengucap syukur:  “Segala puji bagi Allah.  Ia mengutamakan kami dari mayoritas hambaNya yang beriman”.

Ayat 16 Surah an-Naml
     Nabi Sulaiman pewaris Nabi Daud.  Ia bersabda:  “Hai manusia!   Diajarkan kepada saya bahasa burung.  Saya diberi segala sesuatu.  Ini semua karunia sejati”.
[Nabi Sulaiman meneruskan risalah kenabian serta tampuk pemerintahan dari Nabi Daud, ayahnya]

Ayat 17 Surah an-Naml
     Para pasukan Raja Sulaiman.  Terdiri dari jin, manusia maupun burung.  Semua teratur tertib.
[Kata yuuzaun berasal dari al-waz’u dengan makna mencegah atau menahan.  Dalam perang, pengatur barisan dinamakan al-wazi’]

Ayat 18 Surah an-Naml
     Kala tiba di Lembah Ashqelon, dekat Gaza.  Berseru Ratu Semut:  “Hai para semut!  Berlindunglah di sarangmu agar tidak tergilas oleh Nabi Sulaiman bersama serdadunya.  Sebab, mereka tidak menyadari kehadiranmu”.
[Ketika sedang berada di luar sarang, ada informasi bahwa pasukan Raja Sulaiman akan melintas.  Ratu semut kemudian bertindak.  Memerintahkan rakyat semut bergegas masuk sarang.
     Dr Syauqi Abu Khalil berteori kalau koloni semut itu berada di Ashqelon, terletak di antara Ashdad dengan Gaza.
     Di ayat ini, al-Qur’an menggunakan kata qalat, yang berarti sang penutur berkelamin betina.  Di koloni semut, pemimpin tertinggi berkelamin betina.
     Kalau al-Qur’an buatan manusia, bagaimana mungkin ia tahu jenis kelamin peminpin semut.  Di Mekah yang gersang pada tahun 600-an, belum ada mikroskop]

Ayat 19 Surah an-Naml
     Nabi Sulaiman tersenyum.  Lantas tertawa mendengar titah semut.  Ia berdoa:  “Ya Tuhanku, beri daku keteguhan supaya tetap bersyukur atas nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku serta kepada orangtuaku.  Teguhkan saya mengerjakan perbuatan bajik yang Engkau suka.  Masukkan saya dengan kasih-sayangMu ke dalam golongan hamba saleh”.
[auzi’nii artinya ilhami diriku]

Ayat 20 Surah an-Naml
     Nabi Sulaiman menginspeksi gugusan burung.  Ia bersabda:  “Tiada terlihat hudhud.  Apakah ia memang tidak hadir”.
[Hudhud mangkir. pergi tanpa izin.  Di sini terlihat kejelian Raja Sulaiman.  Ia tahu anggota pasukannya tidak lengkap.  Padahal, hudhud tidak sebesar gajah.
     Panjang tubuh hudhud cuma 25-29 centimeter.  Lebar sayap 44-48 centimeter.  Ketika terancam, hudhud menyemprotkan kotorannya ke mata musuh.  Hudhud membalik tubuhnya seraya mengarahkan pantatnya ke musuh.  Jika gagal, ia mengeluarkan bau busuk sebagai pertahanan diri.  Bau ini berfungsi pula sebagai penolak parasit.
     Burung ini punya mahkota alias jambul.  Dalam literatur internasional, hudhud disebut noble hoopoe atau eurasian hoopoe (Upupa epops).  Penamaan hoopoe disesuaikan dengan kicaunya yang melengking.  Terdengar seperti “hud...hud…”
     Terdapat tujuh spesies hudhud di dunia.  Menyebar di Eropa, Asia serta Afrika Utara.  Pada 2008, Israel menetapkan hudhud sebagai burung nasional]






Ayat 21 Surah an-Naml
     “Saya pasti menghukumnya.  Disiksa pedih atau disembelih, kecuali punya alibi kuat”.
[Hudhud dicari.  Suasana tentu gaduh.  Sesama burung hilir-mudik terbang dengan suara panggilan kepada hudhud.  Orang-orang ikut menelisik tiap jengkal tanah.  Sebab, Raja Sulaiman mengeluarkan ancaman serius.  Hudhud akan dihukum berupa dikerangkeng dalam sangkar atau bulu-bulunya dicabut]

Ayat 22 Surah an-Naml
     Berselang beberapa waktu.  Hudhud datang.  “Saya paham sesuatu yang Sri Paduka tidak tahu.  Saya kabarkan kepada baginda informasi krusial dari Saba”.
[Saba beribukota Ma’rib]

Ayat 23 Surah an-Naml
     “Saya menemukan seorang ratu bernama Bulqis binti Syurahil.  Ia sarat kesenangan duniawi.  Singgasananya megah”.
[Bekas Kerajaan Saba kini terletak di Yaman.  Saba di era Nabi Sulaiman merupakan negeri makmur.  Ekonomi berkembang pesat.  Saba juga kuat secara militer.  Mereka punya dewan pertimbangan agung yang menandakan politik berjalan stabil.
     Kaum Muslim percaya bila Saba diperintah oleh Ratu Bulqis.  Sedangkan golongan yang tidak disunat menyebutnya Ratu Sheba.  Besar kemungkinan nama Sheba diambil dari Saba.
     Berita hudhud menukilkan jika Bulqis punya singgasana besar, indah atau hebat.  Singgasana ini pasti istimewa dibandingkan milik raja-raja yang sepadan dengan Bulqis]

Ayat 24 Surah an-Naml
     “Saya melihat sang ratu bersama rakyatnya menyembah matahari, bukan Allah.  Setan mengelabuinya.  Membuatnya memandang indah perbuatan buruk.  Menghalanginya dari agama Allah.  Akibatnya, tiada petunjuk mereka peroleh”.

Ayat 25 Surah an-Naml
     Setan merintangi mereka agar tidak menyembah Allah yang mengeluarkan benda terpendam di langit dan di bumi.  Tuhan tahu apa yang kamu rahasiakan atau utarakan.
[Mufassir kuno berkomentar bahwa benda terpendam di langit ialah hujan dan angin.  Bagi saya, ini bukan benda terpendam.  Benda terpendam adalah materi yang ada di planet atau bintang.  Materi-materi itu merupakan kebutuhan manusia dalam menjelajah angkasa.  Sedangkan benda terpendam di bumi ialah emas, permata dan minyak]

Ayat 26 Surah an-Naml
     Allah, tiada Tuhan yang patut disembah selain Ia.  Pemilik Arasy, tahta tiada tara.
[Orang yang dalam keadaan suci alias sudah berwudhu dianjurkan sujud tilawah ketika membaca atau mendengar al-Arsy al-Azhim di akhir ayat ini]

Ayat 27 Surah an-Naml
     Nabi Sulaiman bersabda:  “Ingin dibuktikan.  Apakah beritamu benar atau kamu pembohong”.

Ayat 28 Surah an-Naml
     “Antar surat ini.  Jatuhkan kepada sang maharani.  Kemudian bersembunyilah.  Perhatikan reaksi kalangan istana”.

Ayat 29 Surah an-Naml
     Ratu Bulqis bertutur:  “Hai segenap petinggi kerajaan.  Telah kuterima selempar surat agung”.

Ayat 30 Surah an-Naml
     “Berasal dari Raja Sulaiman.  Tertera di pesannya: Dengan nama Allah, Pemilik Kasih Sayang yang Mahapemurah”.

Ayat 31 Surah an-Naml
     “Jangan kalian meremehkan seruanku ini.  Datanglah kepadaku sebagai orang yang beriman kepada Allah”.

Ayat 32 Surah an-Naml
     Ratu Bulqis bertutur:  “Hai segenap petinggi kerajaan.  Beri saya pertimbangan dalam masalah ini.  Tiada pernah saya memutuskan perkara sebelum meminta kebijakanmu dalam musyawarah”.

Ayat 33 Surah an-Naml
     Mereka menyahut: “Kita memiliki kekuatan serta keberanian dari segi tempur.  Keputusan berada di tanganmu.  Terserah titah yang hendak Sri Ratu perintahkan”.

Ayat 34 Surah an-Naml
     Ratu Bulqis berujar:  “Jika raja menginvasi suatu negeri.  Ia pasti meluluhlantakkannya.  Penduduk terhormat dijadikan hina.  Begitu yang bakal mereka timpakan”.
[Azillatan artimya menumpahkan darah sekaligus menawan banyak penduduk.  “Dijadikan hina” maksudnya dibunuh atau diusir]

Ayat 35 Surah an-Naml
     “Saya akan mengirim duta dengan membawa hadiah.  Kita tunggu bagaimana hasilnya”.
[Ini ide gemilang.  Pejabat tinggi kerajaan langsung setuju.  Ratu Bulqis dengan armada perang kuat tidak langsung terprovokasi untuk melakukan inisiatif serangan.  Ia hendak berdiplomasi sebelum menyerang.
     Ada yang menduga bahwa hadiah dikirim Ratu Bulqis untuk menguji.  Jika menerima, berarti benar Sulaiman adalah raja.  Bila menolak, maka, ia nabi.
     Di sini ada persoalan genting.  Negeri Saba diserang atau penduduknya rela beriman.  Ratu Bulqis mengirim hadiah untuk menyelamatkan negaranya.  Bukan menguji Nabi Sulaiman di tengah kekhawatiran perang.  Intelijen Saba tahu siapa itu Raja Sulaiman yang bersemayam di negara super power.  Intelijen Saba tangguh mengorek informasi berkat ditopang kekuatan militer]

Ayat 36 Surah an-Naml
     Syahdan, diplomat Saba sampai di Yerusalem.  Nabi Sulaiman bersabda:  “Apakah kalian menyogokku dengan hadiah agar saya membiarkanmu menyembah matahari!  Anugerah Allah kepadaku lebih baik dibandingkan yang diberikan untukmu.  Jangan bangga dengan hadiah yang kau sodorkan ini”.
[Kita bisa membayangkan, Nabi Sulaiman tersenyum kecut melihat ragam hadiah yang dikirim Ratu Bulqis.  Ia disogok agar penduduk Saba tetap leluasa menyembah matahari.  Raja Sulaiman pun mengancam.  Segera mengerahkan pasukan yang terdiri dari manusia, jin dan hewan jika Saba tetap menyembah matahari.
     Sebagai raja, tidak diragukan Nabi Sulaiman memiliki berlimpah materi.  Walau punya harta, tetapi, pemberian terbesar Allah bagi Nabi Sulaiman ialah kenabian, polyglot alias multilingual (paham aneka bahasa), memerintah angin sekaligus andal berkolaborasi dengan makhluk halus.  Karunia inilah yang dimaksud Nabi Sulaiman di hadapan para diplomat Saba.  “Anugerah Allah kepadaku lebih baik dibandingkan yang diberikan untukmu”]

Ayat 37 Surah an-Naml
     “Kembalilah!  Kalau tetap tak beriman kepada Allah, saya bakal menyerang dengan balatentara yang tak sanggup dilawan.  Pasti diusir dari Saba secara terhina.  Menjadi tawanan nista”.

Ayat 38 Surah an-Naml
     Tatkala Raja Sulaiman tahu Ratu Bulqis menuju ke Palestina.  Ia bersabda:  “Hai para pejabat tinggi.  Siapa di antara kalian yang mampu membawa kiani Ratu Bulqis.  Sebelum ia datang kepadaku sebagai manusia beriman”.

Ayat 39 Surah an-Naml
     Ifrit dari umat jin berkata: “Saya andal mempersembahkan singgasana itu kepada Sri Baginda sebelum beranjak meninggalkan sidang ini.  Saya benar-benar bertenaga.  Terpercaya untuk tugas ini”.
[Kata-kata Ifrit terdengar bombastis.  Padahal, ada orang yang lebih hebat ilmunya ketimbang Ifrit]

Ayat 40 Surah an-Naml
     Seorang yang berilmu Kitab Allah berkata: “Saya mampu membawa takhta itu dalam sekejap mata”.  Ketika Nabi Sulaiman melihat kiani tersebut di hadapannya, ia bersabda: “Ini karunia Allah untuk mengujiku.  Apakah saya bersyukur atau ingkar terhadap nikmat yang dilimpahkan.  Siapa berterima kasih kepada Allah, berarti pahala bagi dirinya.  Siapa ingkar atas anugerah Allah, maka, Tuhanku Mahakaya.  Tiada butuh sesuatu.  Ia Mahamulia”.
[Al-Qur’an menggunakan istilah “sebelum matamu berkedip”.  Ini merupakan kiasan tentang kecepatan.  Dalam sekejap mata singgasana berpindah dari Saba ke Palestina.
     Mayoritas mufassir meyakini kitab yang dimaksud adalah Taurat serta Zabur.  Ini jelas hanya dugaan para mufassir.  Apakah Kitab Allah hanya Taurat dan Zabur.  Tidak adakah firman Allah yang berdiri sendiri semacam Hadis Qudsi.  Dugaan lain sejumlah mufassir ialah nama ulama Israil yang memindahkan singgasana Ratu Bulqis.  Mereka menamakannya Ashif bin Barkhaya]

Ayat 41 Surah an-Naml
     Nabi Sulaiman menyampaikan usul.  “Modifikasi sebagian model kianinya.  Ingin diketahui kecerdasan Ratu Bulqis.  Ia kenal atau tidak singgasananya”.

Ayat 42 Surah an-Naml
     Ratu Bulqis tiba.  “Serupa inikah kianimu?”  Ia menyahut:  “Ini seolah takhtaku.  Kami tahu mujizat Nabi Sulaiman sebelum ini.  Kami menyadarinya sekarang seraya percaya kepada Allah”.
[“Serupa inikah singgasanamu?” merupakan pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang pejabat tinggi di Kerajaan Nabi Sulaiman.
     Ayat ini juga menegaskan kalau Ratu Bulqis sudah mendengar desas-desus kehebatan Nabi Sulaiman.  Kini, mujizat itu terpampang di hadapannya berupa kianinya yang terkirim secepat kilat.
     Ibnu Katsir bersama asy-Syaukani berpendapat bahwa kalimat setelah “ini seolah tahtaku” adalah sabda Nabi Sulaiman.  Ia takjub dengan kecerdasan Ratu Bulqis yang mengetahui singgsananya.  “Sebelum ini saya diberitahu tentang pengetahuan Ratu Bulqis lewat Allah.  Ia akan menemuiku untuk menyatakan keislamannya]

Ayat 43 Surah an-Naml
     Apa yang disembah Sri Ratu selama ini.  Mencegahnya menemukan Islam, agama Allah.  Dulu ia kafir, bukan hamba Allah.

Ayat 44 Surah an-Naml
     Dikatakan kepada Ratu Bulqis:  “Silakan masuk ke puri”.  Saat tampak lantai istana, ia mengira kolam.  Sri Ratu menyinsingkan busana agar tidak basah.  Kedua betisnya pun tersingkap.  Nabi Sulaiman menerangkan.  “Ini bukan air.  Lantai ini berlapis kristal”.  Ratu Bulqis berujar.  ”Ya Tuhanku, saya telah menganiaya
diri.  Kini saya tegaskan untuk memeluk Islam.  Saya bersama Nabi Sulaiman berserah diri kepada Allah, Tuhan jagat raya”.
[Kafir berarti menganiaya diri atau zalim terhadap diri.  Hak jiwa-raga yakni mengabdi hanya kepada Allah.  Mengingkari kodrat dengan cara mengabdi matahari sama artinya menganiaya diri.
     Kisah Nabi Sulaiman dengan Ratu Bulqis teramat popular di kalangan Muslim.  Mereka percaya keduanya menikah.  Padahal, tidak ada informasi akurat dalam Islam yang menerangkan keduanya kawin.  Cerita pernikahan bersumber dari non-Islam yang sarat dusta!]

Ayat 45 Surah an-Naml
     Kami utus kepada penduduk Kota al-Hijr, saudara mereka bernama Shalih.  Ia berseru:  “Sembah Allah!”  Warga Samud spontan terpisah dalam dua kubu yang berseberangan.
[Suku Samud atau Ashab al-Hijr berdomisili di Kota al-Hijr.  Reruntuhan al-Hijr di kawasan al-Ahqaf yang sekarang disaksikan disebut Madain Shalih atau Kota Nabi Shalih.  Al-Hijr terletak di tenggara Madyan, sebelah timur Teluk Aqabah atau berada di antara Hijaz dengan Syam.  Al-Hijr merupakan kota termashur di antara beberapa kota kreasi Samud.
     Di al-Hijr dakwah Nabi Shalih bermula.  Risalahnya menimbulkan dua kelompok; Islam dan kafir.  Dalam imajinasi kita, terbayang dua kubu ini saling mengklaim diri paling benar.  Mereka bertengkar sengit dengan beragam dalih.
     Khayal kita tertuju ke ayat 24 yang disuarakan hudhud:  “Setan mengelabuinya (dengan kekafiran).  Membuatnya memandang indah perbuatan buruk.  Menghalanginya dari agama Allah”.  Kemudian ayat 44 yang mengabadikan tutur kata Ratu Bulqis: “Ya Tuhanku, saya telah menganiaya diri (dengan kekafiran)”]

Ayat 46 Surah an-Naml
     Nabi Shalih bersabda:  “Hai kaumku!  Mengapa kalian menginginkan kekafiran yang mendatangkan keburukan.  Tidak menghendaki iman yang membawa kebaikan?  Mohon ampunlah kepada Allah agar memperoleh kasih-sayang”.

Ayat 47 Surah an-Naml
     Mereka menyahut: “Kami sial gara-gara kamu dan pengikutmu!”  Nabi Shalih bersabda:  “Nasib baik atau buruk berada di sisi Allah, bukan saya!  Kalian ini sedang diuji!”
[Warga Samud diuji dengan kebaikan berupa iman kepada Allah serta keburukan berupa ingkar terhadap Allah.
     Itthayyarna artinya nasib malang.  Kata ini berasal dari tathayyarna yang bermakna terbang. Bangsa Arab punya tradisi melepas seekor burung ketika hendak bepergian atau melakukan suatu tugas.  Bila terbang ke arah kanan, pertanda baik.  Jika terbang ke arah kiri berarti alamat buruk.  Mereka pun mengurungkan niat]

Ayat 48 Surah an-Naml
     Di Kota al-Hijr bercokol sembilan preman.  Mereka pelakon maksiat yang bergentayangan di tengah warga Samud.  Tiada kebaikan mereka perbuat.

Ayat 49 Surah an-Naml
     Seorang di antara mereka berkata:  “Bersumpahlah dengan nama Allah.  Kita bakal membunuh Nabi Shalih bersama pengikutnya secara mendadak di malam hari.  Kemudian kabarkan kepada kerabatnya bahwa kita tidak terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut.  Kami bukan pelaku!  Kami berkata jujur!”

Ayat 50 Surah an-Naml
     Mereka menyusun rencana jahat secara jeli.  Kami merancang pula pembalasan paling buruk tanpa disadarinya.
[Makran artinya tipu daya.  Dalam konteks ayat ini bermakna pembunuhan berencana di malam hari]

Ayat 51 Surah an-Naml
     Perhatikan apa jadinya konspirasi mereka.  Kami membinasakan preman itu bersama warga Samud di Kota al-Hijr.

Ayat 52 Surah an-Naml
     Rumah-rumah mereka akhirnya roboh akibat kezalimannya.  Sungguh, peristiwa itu mengandung hikmah bagi orang mau memetik pelajaran.

Ayat 53 Surah an-Naml
     Kami selamatkan insan saleh pengikut Nabi Shalih.  Mereka senantiasa bertakwa.
[Umat Nabi Shalih menuju Ramalah, Palestina.  Sebab, daerah subur itu yang paling dekat dengan Kota al-Hijr yang telah porak-poranda]

Ayat 54 Surah an-Naml
     Kenang kisah Nabi Luth.  Ia berkata kepada kaumnya:  “Mengapa kamu mempraktekkan homoseks.  Padahal, kamu paham itu kelakuan nista”.
[Fahisyah artinya kelainan orientasi seksual, termasuk homoseks.  Masyarakat bermoral pasti menentang homoseks.  Sebab, perilaku bobrok itu sangat memalukan sekaligus menjijikkan]

Ayat 55 Surah an-Naml
     “Kalian melampiaskan nafsu seks bukan kepada wanita.  Kalian ini kumpulan manusia dungu yang tidak tahu efek homoseks”.

Ayat 56 Surah an-Naml
     Penduduk Sodom bersama Amurah melakukan perlawanan:  “Usir Nabi Luth bersama keluarganya dari kota ini!  Ia sok suci!”
[Mereka melecehkan Nabi Luth dengan celaan “sok suci”.  Sebab, Nabi Luth tak mau melakukan praktek homoseks]

Ayat 57 Surah an-Naml
     Kami selamatkan Nabi Luth bersama keluarganya, kecuali isterinya.  Kami takdirkan ia tetap tinggal untuk ditimpa siksa.
[Nabi Luth bersama dua putrinya selamat berkat mengungsi ke desa Shughar (Zoar).  Si istri yang merupakan kaki-tangan gerombolan homoseks lebih senang berada di kota bersama para pedosa]

Ayat 58 Surah an-Naml
     Kami curahkan hujan belerang.  Sangat buruk hujan belerang yang ditimpakan bagi manusia yang diberi peringatan, tetapi, tidak mengindahkan.

Ayat 59 Surah an-Naml
     Katakan wahai Maharasul Muhammad:  “Segala puji bagi Allah.  Sejahtera sentosa atas hamba yang dipilih sebagai Nabi oleh Allah.  Mana yang lebih baik, Allah atau berhala-berhala yang disembah komplotan kafir”.

Ayat 60 Surah an-Naml
     Siapa yang menciptakan langit dan bumi?  Menurunkan bagimu hujan dari langit.  Kami menumbuhkan kebun-kebun dengan panorama elok berkat hujan.  Sementara kalian mustahil menumbuhkan pohon.  Mungkinkah di samping Allah ada tuhan lain?  Tidak ada!  Kaum musyrik itu tiada lain manusia yang menyimpang dari kebenaran.
[Al-hadiqah artinya kebun berpagar]

Ayat 61 Surah an-Naml
     Siapa menjadikan bumi sebagai tempat berdomisili?   Menempatkan sungai-sungai di celah-celah bumi.  Memancangkan gunung-gunung demi mengokohkan bumi.  Menaruh sekat di antara dua jenis laut; asin dengan tawar.  Apakah di samping Allah ada sesembahan lain?  Tidak ada!  Mayoritas komplotan musyrik tidak tahu.
[Qararan artinya tenang, tidak bergetar.  Gunung dipancangkan agar bumi tidak oleng]

Ayat 62 Surah an-Naml
     Siapa yang mengabulkan doa orang kesulitan.  Bila ia berdoa kepada Allah agar deritanya sirna.  Siapa menjadikan kamu pengganti umat terdahulu guna mendiami sekaligus menata bumi?  Mungkinkah di samping Allah ada tuhan lain?  Begitu minim kalian mengingat Allah atas nikmat-nikmat ini.
[Pengganti umat terdahulu maksudnya kaum Muslim adalah penggati umat nabi-nabi terdahulu dalam menata bumi.
     Mengingat Allah artinya melakukan shalat.  Ini sering disalahpahami.  Sebagian beranggapan bahwa mengingat Allah maksudnya sekedar mengingat di mana saja dan kapan pun, tanpa perlu shalat.  Mengingat Allah harus dituntaskan lewat shalat]

Ayat 63 Surah an-Naml
     Siapa memandumu dalam kegelapan di dataran maupun di lautan?  Siapa mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum hujan?  Apakah selain Allah masih ada sesembahan?  Mahatinggi Allah dibandingkan berhala yang mereka sembah.

Ayat 64 Surah an-Naml
     Siapa yang memulai penciptaan segala makhluk?  Kemudian mengulanginya dengan mematikan dan menghidupkan.  Siapa memberimu rezeki dari langit serta bumi?  Mungkinkah disamping Allah ada tuhan lain?  Katakan wahai Maharasul Muhammad:  “Paparkan buktimu bila kalian merasa diri benar!”

Ayat 65 Surah an-Naml
     Katakan wahai Maharasul Muhammad: “Tiada seorang di langit dan di bumi yang tahu perkara gaib, kecuali Allah!  Mereka tak menyadari kapan dibangkitkan dari kubur”.

Ayat 66 Surah an-Naml
     Nihil pengetahuan cecunguk kafir perihal Akhirat.  Mereka justru bimbang.  Mata hatinya buta mengenai Akhirat.
[Dalam ayat ini tertera bal (bahkan) sebagai kata sambung.  Fungsinya mengubah sebuah tema ke tema lain.  Maksudnya, gerombolan kafir tidak punya dalil kuat tentang Kiamat]

Ayat 67 Surah an-Naml
     Berceloteh kawanan kafir: “Apakah setelah menjadi tanah, termasuk leluhur kami.  Benar-benar akan dibangkitkan dari kubur?”

Ayat 68 Surah an-Naml
     “Ini telah diungkapkan kepada kami, termasuk nenek moyang kami.  Padahal, ini dongeng kuno!”
[Kata-kata ini ditujukan kepada Maharasul Muhammad.  Cecunguk kafir jengkel diancam dengan Kiamat.  Mereka menilai Kiamat sekedar fiksi yang termaktub di kitab-kitab terdahulu]

Ayat 69 Surah an-Naml
     Katakan wahai Maharasul Muhammad: “Mengembaralah di bumi.  Perhatikan riwayat para pedosa yang berakhir buruk”.

Ayat 70 Surah an-Naml
     Jangan berduka oleh keingkaran gerombolan kafir.  Jangan gundah-gulana akibat tipu-daya mereka.

Ayat 71 Surah an-Naml
     Berandal kafir berceloteh:  ”Kapan azab itu datang?  Buktikan jika memang benar!”

Ayat 72 Surah an-Naml
     Katakan wahai Maharasul Muhammad: “Hampir tiba sebagian azab yang kalian minta disegerakan!  Sudah dekat menimpamu!”
[Radifa bermakna dekat.  Radif adalah orang yang dibonceng.  Dalam ayat ini disebutkan radifalakum artinya sudah sampai seraya mengejarmu]

Ayat 73 Surah an-Naml
     Tuhanmu, wahai Maharasul Muhammad.  Benar-benar punya karunia melimpah-ruah yang diberikan kepada manusia.  Mayoritas ternyata tidak berterima kasih kepada Allah.
[Manusia diperintahkan bersyukur atau berterima kasih kepada Allah.  Dalam shalat dianjurkan mengucap untaian kata syukur Nabi Sulaiman:  “Ya Tuhanku, beri daku keteguhan supaya tetap bersyukur atas nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku serta kepada orangtuaku.  Teguhkan saya mengerjakan perbuatan bajik yang Engkau suka.  Masukkan saya dengan kasih-sayangMu ke dalam golongan hamba saleh”.
     Ayat pertama surah ini menegaskan bahwa:  “Ini untaian ayat al-Qur’an.  Memuat penjelasan nan terang perihal persoalan hidup manusia”.
     Ayat ini benar karena mengarahkan manusia untuk bersyukur kepada Allah.  Doanya pun lengkap di surah ini]

Ayat 74 Surah an-Naml
     Tuhan tahu benar apa yang terbetik di hati mereka.  Apa yang diutarakan lewat lisan serta sikap.

Ayat 75 Surah an-Naml
     Tiada tersembunyi di langit maupun di bumi.  Semua tercantum di Lauh al-Mahfuz, kitab sejati.

Ayat 76 Surah an-Naml
     Al-Qur’an ini menerangkan kepada Yahudi sebagian besar perkara agama yang mereka pertikaikan.

Ayat 77 Surah an-Naml
     Al-Qur’an benar-benar petunjuk menuju hidup bahagia.  Kasih-sayang bagi insan saleh.

Ayat 78 Surah an-Naml
     Allah akan menghukum dengan keputusan adil.  Ia Mahaperkasa Mahatahu.

Ayat 79 Surah an-Naml
     Berserah dirilah kepada Allah.  Wahai Maharasul Muhammad, kamu berada di atas kebenaran hakiki.

Ayat 80 Surah an-Naml
     Kamu mustahil memperdengarkan petunjuk kepada orang yang mati hatinya.  Sebagaimana muskil memperdengarkan panggilan kepada orang tuli.  Terlebih bila menghadap ke belakang.

Ayat 81 Surah an-Naml
     Kamu mustahil berdakwah kepada orang buta hati agar jangan tersesat.  Orang yang mau beriman terhadap ayat-ayat Kami saja.  Kamu dapat jadikan ia mendengar seruan supaya berserah diri kepada Allah.

Ayat 82 Surah an-Naml
     Kalau Kiamat dekat.  Kami munculkan seekor makhluk melata dari bumi.  Ia mengumumkan bahwa dulu, manusia tidak percaya ayat-ayat Allah.

Ayat 83 Surah an-Naml
     Camkan hari kala dihimpun rombongan pendusta ayat-ayat Kami dari tiap umat.  Mereka ditahan per kelompok di Padang Mahsyar.
[Pedosa dikelompokkan sesuai kejahatannya.  Pencuri digiring ke barisan pencuri.  Penjudi diseret ke rombongan penjudi.  Setelah pengelompokan rampung, mereka pun berbaris rapi.  Diarahkan menuju ke Neraka]

Ayat 84 Surah an-Naml
     Ketika diseret ke Pengadilan Hakiki.  Allah berfirman: “Mengapa kalian menyangkal ayat-ayatKu?  Padahal kalian tidak punya otoritas untuk menentangnya!  Apa yang telah kamu kerjakan di dunia dengan menampik akibatnya?”

Ayat 85 Surah an-Naml
     Tiba masanya janji bagi mereka untuk disiksa lantaran ingkar.  Mereka diam-membisu.  Tak mampu menyampaikan alasan saat diazab.

Ayat 86 Surah an-Naml
     Apakah mereka tidak memperhatikan.  Kami menjadikan malam sebagai waktu beristirahat.  Siang untuk berusaha.  Ihwal tersebut mengandung tanda kekuasaan Allah bagi insan saleh.

Ayat 87 Surah an-Naml
     Ingat hari kala sangkakala dibunyikan.  Terkejut segenap yang di langit dan di bumi, kecuali yang direstui Allah.  Semua datang menghadap Allah.  Sadar tentang kehinaan dirinya.

Ayat 88 Surah an-Naml
     Tatap gunung-gunung itu.  Kamu kira tetap teguh tanpa gerak.  Padahal, bergerak sebagaimana awan.  Begitulah ketetapan Allah yang membuat tiap ihwal dalam susunan sempurna.  Allah teramat teliti pengetahuanNya perihal perbuatanmu.
[Gunung muskil bergerak.  Pasalnya, berfungsi sebagai paku agar daratan di sekitarnya tidak oleng.  Maksud “gunung bergerak” ialah bumi berputar.  Hingga, terjadi malam dan siang.  Pada ketinggian tertentu di luar bumi, gunung-gunung terlihat bergerak.  Berlari laksana mega berarak
     Dalam ayat ini terdapat kata as-Sahaab artinya gunung terbang laksana awan.  Sedangkan khabiir bermakna melihat segala yang gaib dan tampak]

Ayat 89 Surah an-Naml
     Pelaku kebaikan.  Ia memperoleh hasil yang baik.  Mereka aman dari huru-hara dahsyat di Padang Mahsyar.

Ayat 90 Surah an-Naml
     Pelakon jahat disodorkan wajahnya ke api berkobar.  Dipekikkan kepadanya:  “Kamu dibalas setimpal ulahmu!”
[Pelaku kejahatan digantung kakinya.  Kepalanya dijungkirkan ke nyala api.  Lalu ditanya, apakah balasan ini sepadan dengan kezaliman yang diperbuat dulu]

Ayat 91 Surah an-Naml
     Sampaikan wahai Maharasul Muhammad:  “Saya diperintah menyembah Tuhan pemelihara Mekah.  Ia menjadikannya Tanah Suci.  Milik Allah segala sesuatu.   Saya diimbau berserah diri guna mengabdi kepada Allah.

Ayat 92 Surah an-Naml
     Diperintahkan supaya saya membacakan Al-Qur’an kepada manusia.  Siapa memperoleh petunjuk, berarti kebaikan ia raih.  Siapa sesat, enggan menaati al-Qur’an.  Sampaikan kepadanya wahai Maharasul Muhammad: “Saya hanya pemberi peringatan”.

Ayat 93 Surah an-Naml

     Tuturkan wahai Maharasul Muhammad: “Puja-puji bagi Allah yang tiada terbilang nikmatNya.  Ia nanti memperlihatkan kepadamu bukti-bukti kekuasaanNya.  Hingga, kalian mengerti secara jelas bahwa Tuhan tidak lengah terhadap tindak-tandukmu”.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amazing People